Sabtu, 02 April 2011

"MAMPIR KE MOSKOW, (SOVIET) MENENGOK LENIN"

(dari draft buku: "Catatan seorang mantan Ajudan" oleh mastonie)
Tulisan bersambung (55)

Nampang di tempat kedatangan Airport Moskow



Released by mastonie, Monday, May 31, 2010 at 01.44 pm


     ‘Mampir’ kenegeri “Beruang Merah”

Hari Senin tanggal 5  September 1988 sore hari,  pesawat Airbus Lufthansa yang ditumpangi Delegasi RI dari Frankfurt mendarat di Bandara Internasional Sheremetyevo, yang terletak 29 kilometer arah barat laut dari kota Moskow (Moskwa), ibukota Republik Uni Soviet Sosialis (Kini Rusia).  Kota kuno ini terletak ditepian sungai Moskow yang mengalir sejauh 500 kilometer sampai ke Eropa Timur. 
Nama sungai inilah yang kemudian dipakai sebagai nama kotanya. Sejarah mencatat, nama Moskow dikenal sejak tahun 1156. Pernah dibumi hanguskan pada tahun 1237 dan baru pada tanggal 12 Maret 1918 dijadikan sebagai ibukota Republik Uni Soviet Sosialis. 
Kunjungan Pak Pardjo ke ibukota Uni Soviet ini sebetulnya hanya untuk sekedar singgah saja, sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke Pyongyang, ibukota Republik Rakyat Demokrasi Korea (Korea Utara). 

(Sekedar untuk diketahui, sejak  hubungan diplomatik RI-Uni Soviet dibuka kembali, kedatangan Menko Kesra yang resmi mewakili Pemerintah RI ke Uni Soviet ini malah lebih dahulu daripada kunjungan resmi Presiden Soeharto ke Negara “Beruang Merah” itu.)  

Sambil menunggu jadwal keberangkatan pesawat ‘Aeroflot’ ke Pyongyang, maka waktu luang itu dipergunakan oleh Pak Pardjo untuk mengunjungi beberapa obyek pariwisata penting yang ada di Moskow. Salah satunya adalah Lapangan Merah yang bersejarah.

      Ikut antri masuk ke Mausoleum Lenin di Lapangan Merah.

Yang disebut sebagai “Lapangan Merah” (Krasnaya Ploshchad) adalah lapangan seluas hampir 7,5 hektar yang berada dipusat kota Moskow. Ini adalah lapangan yang biasa dipergunakan untuk Upacara, Parade Pasukan Angkatan Bersenjata dan Acara Kenegaraan atau Acara Polit Biro Partai Komunis. Lantai lapangan yang konon telah ada sejak jaman pemerintahan Tsar Ivan III diakhir abad 14 itu terbuat dari batu (semacam bata blok). Nama ‘merah’ sendiri berasal dari kata “Krasnaya” yang artinya indah. Di Rusia, kata indah identik dengan warna merah. Oleh karena itu (barangkali) lapangan itu disebut sebagai lapangan merah. Walaupun nama merah itu (katanya) tidak ada hubungan sama sekali dengan “warna komunisme” dan banyaknya bangunan disekitar kawasan itu yang berwarna merah.
Disekeliling Lapangan Merah terdapat bangunan-bangunan besar dengan ciri arsitektur ‘tempo doeloe’ yang beraneka ragam. Akan tetapi yang paling mencolok adalah Gereja Santo Basilius (Saint Basil), dengan kubah warna warninya. 

Gereja St. Basil, Moskow.                dok: mastonie
Gereja dengan sembilan menara ini dirancang oleh arsitek Postnik Yakovlev dan berada disebelah tenggara Lapangan Merah berseberangan dengan Menara Spasskaya, Kremlin. Lalu ada Toko Serba Ada milik Negara (GUM) yang berseberangan langsung dengan sebuah bangunan yang dikelilingi dinding tembok tinggi. Bangunan yang terletak dipinggir lapangan (tapi menjadi sentral) itu ternyata adalah “Mausoleum Lenin”, (dibangun secara permanen pada tahun 1929, berselang 5 tahun setelah Lenin meninggal). Mausoleum rancangan arsitek Aleksei Shchusev inilah yang ‘menyimpan’ jenazah Pemimpin Revolusi Soviet itu. Dibelakang Mausoleum ada semacam dinding tinggi yang ternyata dipakai sebagai Taman Makam Pahlawan! Jangan membayangkan Taman Makam Pahlawan (TMP) seperti di Indonesia. Di Soviet jenasah para pahlawannya dikremasi (dibakar) dan abunya ditempatkan dalam sebuah kotak khusus. Kotak itulah yang dimasukkan kedalam semacam laci-laci yang disusun di dinding secara vertikal. Di laci inilah tertera nama pahlawan, tanggal dan tahun kematiannya. Salah satu nama pahlawan yang saya lihat ada didinding itu tidak asing bagi saya. Dia adalah “Yuri Gagarin”, Kosmonot (istilah Soviet untuk Astronot) Soviet pertama yang berhasil mengorbit dengan kapal ruang angkasa Sputnik. Didinding itu pulalah anggota keluarga para pahlawan biasanya berziarah dengan meletakkan bunga di laci-laci tersebut. Kalau dilihat sekilas dari jauh tampak seolah-olah hamparan taman bunga yang merayapi dinding. Sungguh indah sekali.
Namun agaknya Pemerintah Uni Soviet (atau Pimpinan Pusat Partai Komunisnya?) membuat perlakuan khusus untuk Sang Pemimpin Revolusi Oktober  yang sangat legendaris sekaligus pendiri Partai Komunis dan Negara Uni Soviet, Vladimir Ilyich Ulyanov Lenin (22 April 1870 – 21 Januari 1924). Diktator yang lebih terkenal didunia dengan nama panggilan “Lenin”.  
Lukisan "Lenin"                            foto: google
Jenazah mantan orang yang paling berkuasa dan ditakuti itu  sengaja diawetkan (konon dengan dibalsem) dan disemayamkan di Mausoleum Lenin. Rakyat Soviet (kini Rusia) ternyata sangat mencintai Pemimpin Besar Revolusinya itu. Hal itu bisa dilihat dari panjangnya antrian orang yang akan masuk ke Mausoleum, sekedar untuk ber”tatap muka” dengan pahlawannya itu. Menurut cerita staf KBRI  Moskow, antrian panjang itu tetap terjadi disegala musim, disegala cuaca. Negeri sosialis-komunis (tampaknya) tidak mengenal ‘prioritas’. Mereka sama sekali tidak ambil peduli, karena bahkan tamu negarapun harus ikut antri. Tidak mau antri? Ya, jangan masuk Mausoleum! 

      Ber’tatap muka’ dengan ‘Kamerad Lenin’.

Maka begitulah, pada siang hari diawal bulan September 1988 yang udaranya kering tapi sejuk dan berangin, Pak Pardjo didampingi Pak Koesoemodigdo (Dubes RI), Pak Andi Syamsu, saya dan beberapa staf Protokol KBRI terpaksa rela ikut antri karena ingin ber “tatap muka” dengan Yang Terhormat Almarhum Kamerad Lenin. 
Pengamanan di Mausoleum sangat ketat. Tak peduli siapapun akan digeledah. Benda-benda yang dianggap membahayakan, semacam korek api, benda tajam dan barang yang dianggap eksplosif akan dirampas. Kamera foto dan video harus ditinggalkan ditempat penitipan yang disediakan. Pakaian harus rapi. Tidak boleh memakai sandal. Tidak boleh pakai kacamata hitam. Dan yang lebih hebat lagi, yang memakai Jas atau mantel (overcoat) harus dalam keadaan terkancing rapat! 
Saya yang ‘orang baru’ dan tidak faham benar aturan yang “njlimet” itu, terkaget-kaget ketika tiba-tiba (setelah saya mendekati pintu masuk Mausoleum), seorang ‘kamerad prajurit’ Soviet menarik setengah paksa jas yang  saya pakai dan dengan cekatan mengancingkan semua kancing-kancingnya. Tanpa berkata sepatahpun! Karena berbicara di area Mausoleumpun agaknya dilarang keras. Luar biasa. Disiplin, kaku, dingin, tapi teratur dan semua orang terlihat patuh. Tidak aneh kalau antrian panjang sejak dari luar tadi tetap dalam posisi berbaris rapi.  Antrian berjalan sangat perlahan. Disamping karena adanya pemeriksaan ketat, orang-orang yang sudah berada didalam Mausoleum memang diharuskan berjalan pelan-pelan, karena berhenti walaupun sejenak (saja) ternyata juga “verboden” alias dilarang keras! Jadi kalau bermaksud  menghormat kepada jenazah Kamerad Lenin,  ya silakan dilakukan sambil terus berjalan. Dan tetap tak boleh ada suara, walaupun cuma berbisik-bisik.
Eh, apa barangkali mereka takut kalau dalam tidurnya yang abadi Lenin akan terbangun jika mendengar suara bising ya?   Wooo…seraaaam….
Akhirnya tiba juga giliran rombongan Delegasi RI memasuki Mausoleum. Suasana begitu hening mencekam. Temaram melingkupi seluruh ruangan karena lampu-lampu tidak dinyalakan. Entah mengapa saya merasa bergidik. Merinding semua bulu roma saya. Lampu yang mendapat ‘ijin’  menyala hanya beberapa lampu sorot berkekuatan rendah yang diarahkan ketengah ruangan dimana jenazah Kamerad Lenin terbaring. Rupanya para pengunjung diatur berjalan perlahan mengitari peti jenazah Kamerad Lenin. Masuk dari arah kepala Lenin sebelah kanan, berjalan menyusuri tepian peti (yang jaraknya dari pengunjung sekitar satu setengah sampai dua meter) terus menuju pintu keluar yang berada disebelah kiri kepala Lenin. Seluruh prosesi ini dilakukan dalam senyap. 
Posisi peti berada ditengah dan dibuat sedikit agak lebih rendah. Namun karena pengaturan cahayanya begitu ‘pas’, membuat tubuh Kamerad Lenin tampak sangat menonjol dalam ruangan sebagai “point of view”. Seluruh pengunjung yang berjalan melingkari peti dapat melihat dengan jelas jasad mantan orang paling berkuasa di Uni Soviet itu. Sambil terus berjalan dengan perlahan, saya mulai mencoba mengamati keadaan sekitar. Terbaring tenang disebuah peti kaca, jenazah Almarhum Kamerad Lenin tampak seperti laiknya orang yang sedang tidur. Mengenakan setelan Jas hitam lengkap, wajah Lenin tampak bersih bak habis di make up, dengan kumis tipis dan janggutnya yang khas itu. Lancip. Karena “tersihir” oleh pesona wajah Lenin, saya agak lupa apakah kepalanya yang nyaris botak itu memakai topi bulu (topi khas untuk Negara beriklim dingin) atau dibiarkan terbuka. Raut mukanya datar tanpa ekspresi. Senyum tidak, tapi merengut juga tidak. Yang sangat mengherankan saya adalah kondisi kulit wajahnya. Tampak sangat alami. Termasuk guratan-guratan otot yang ada diwajahnya. Sungguh sangat luar biasa sempurna teknik yang dipergunakan oleh para ahli pembalseman mayat dari Soviet ini. Bagaimana sosok yang telah meninggal dunia pada tahun 1924 itu (jadi saat saya menjenguknya pada tahun 1988, ia sudah diawetkan selama 66 tahun!) masih bisa kelihatan “segar bugar” seolah tiada kurang suatu apapun? Ada pertanyaan yang menggelitik didalam hati saya (mungkin juga dihati orang lain yang bukan warganegara Soviet) betulkah itu jenazah Lenin yang asli? Ataukah itu hanya sebuah boneka terbuat dari lilin (atau dari apapun) yang dibuat sedemikian rupa sehingga mirip dengan jasad Lenin?
Saya telah beberapa kali masuk Museum “Madame Tussaud” (di Belanda maupun di tempat lain) yang memamerkan boneka lilin yang dibentuk menjadi tokoh-tokoh terkenal didunia. Dimuseum “Nyonya Tussaud” saja masih kelihatan bahwa sosok yang ada dihadapan kita adalah sebuah boneka lilin. Walaupun bonekanya telah diusahakan dibuat semirip mungkin dengan tokoh ‘asli’nya.
Tapi “Boneka Lenin” yang terbaring di Mausoleum ini tampak sangat sempurna! Sungguh sangat luar biasa. Ini pasti bukan pekerjaan yang mudah. Saya masih terus bertanya dalam hati, sampai kapankah jenazah Lenin ini bisa dipertahankan awet seperti aslinya ini? Saya pernah mendengar kabar burung bahwa (katanya) para dokter ahli pengawetan jenazah di Soviet selain membalsem seluruh tubuh juga menyuntikkan semacam cairan pengawet keseluruh urat nadi Lenin. Benarkah begitu? Wallahu’alam bissawab.

Keluar dari Mausoleum Lenin saya hembuskan nafas kuat-kuat. Ada semacam kelegaan akibat rasa tertekan dan tercekam saat berada didalam Mausoleum tadi. Padahal saya berada didalam Mausoleum tidak lebih dari 15 menit saja!. Saya mencoba melihat sekeliling, ah sepertinya bukan hanya saya yang mempunyai perasaan seperti itu…….

Selamat tinggal Kamerad Lenin, selamat menikmati tidur panjang anda. Semoga Tuhan (meski saya tak begitu yakin Lenin percaya kepada Tuhan), berkenan mengampuni segala dosa dan kekhilafanmu, sekaligus memberikan pahala sesuai dengan amal dan jasamu kepada bangsa dan Negaramu.





bersambung.....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar