Jumat, 15 April 2011

"SUBHANALLAH...SAYA PERGI NAIK HAJI (LAGI)......"



 (cuplikan dari: "kisah2 spiritual" mastonie)

( 5 )


Saya didepan Baitullah

Released by mastonie on Friday, April 15, 2011 at 09.46 pm


Rejeki menjelang 'pangsiyun'…

Bukan dengan maksud riya’ kalau saya tuliskan pengalaman saya pergi haji untuk yang kedua kalinya. Kisah ini hanya untuk menggambarkan betapa sangat berbeda nya seorang yang pergi menunaikan ibadah haji sewaktu masih muda dibandingkan dengan ketika orang berangkat  pergi ketanah suci pada usia menjelang senja.
Pengalaman ini saya harapkan bisa menjadi semacam “kaca benggala” (cermin) bagi mereka (umat muslim) yang sudah "mampu" tapi masih saja belum tergerak hatinya untuk pergi menunaikan rukun Islam yang kelima. Walaupun semua syarat -moril dan materiil- seharusnya sudah terpenuhi.
Dan inilah kisah saya.
Setelah menjalani MPP (masa persiapan pensiun) selama 8 bulan (dari waktu MPP maksimal yang lamanya setahun), isteri saya mengatakan bahwa tabungannya sudah mencukupi untuk pergi berhaji ketanah suci.
Sejak pergi umroh pada bulan Mei 2006, isteri saya yang sangat ‘excited’ dengan pengalaman spritualnya ditanah suci, langsung memantapkan niat untuk pergi haji pada tahun berikutnya (tahun 2007). 
Oleh sebab itu mustahil untuk berangkat dengan cara reguler (ONH biasa). Karena ‘waiting list’ (daftar tunggu) jamaah calon haji reguler (untuk daerah Jakarta dan sekitarnya)  harus menunggu paling cepat  selama dua tahun. Itupun kalau sedang bernasib baik.
Awal bulan Maret 2007 saya menghubungi seorang teman baik  yang mempunyai PT. Anubi Travel (biro penyelenggara haji dan umrah). Namanya (Mas) Afief.
Pada waktu pergi umroh tahun 2006 saya dan isteri juga ikut rombongan PT. Anubi Travel ini.
“Yen pancen wis mantep tenan arep tindak haji taun iki, melu aku maneh wae mas (kalau memang sudah mantap mau pergi haji tahun ini, ikut saya lagi saja)” demikian Mas Afief menyarankan, sewaktu saya minta informasi sambil menyetir mobil dijalan.
“Dijamin mesti entuk kuota ya? (Dijamin pasti dapat kuota ya)” saya bertanya harap-harap cemas mengingat bulan haji yang tinggal beberapa bulan lagi.
“Tak jamin sewu persen mesti mangkat (saya jamin seribu persen pasti berangkat). Nanging Mas Tony ya kudu enggal maringi ‘depe’ telung puluh persen dhisik (Tapi Mas Tony harus memberikan uang muka 30 persen dulu). Iku aturan saka Depag lho ya? (Itu peraturan dari Departemen Agama). Wis pokoke nek njenengan niat tenan bisa  tak atur lah, angger  maringi tanda jadi pira wae ndisik (Sudah pokoknya kalau niat betul bisa saya atur, asal memberi tanda jadi berapa saja dulu)” begitu Mas Afief menjelaskan panjang lebar lewat telepon genggamnya.
Akhirnya saya mendapatkan harga sangat miring. Dengan membayar harga ONH Plus yang berlaku untuk sekamar empat orang, tapi saya mendapat fasilitas sekamar untuk berdua saja.
Itu gunanya teman.
Saya tahu persis Mas Afief tidak akan bohong. Soalnya saya tahu, saat ini (tahun 2007) dia punya hubungan sangat dekat dengan Pejabat tertinggi di Depag karena berasal dari satu perguruan.
Esok harinya saya dan isteri pergi ke bank untuk mentransfer sebagian kecil biaya ONH Plus untuk kami berdua. Yang pasti belum sampai 30 persen. Bukti transfernya siang itu juga saya kirim kekantor PT Anubi Travel lewat mesin faksimili. Sisanya akan saya bayar secara mengangsur sampai batas waktu sebulan sebelum bulan haji tiba (bulan Desember 2007)
Beberapa hari kemudian saya sudah mendapat kiriman balasan dari kantor PT Anubi (lewat faksimili juga) berisi pemberitahuan dari Bank Pemerintah yang resmi ditunjuk oleh Depag, bahwa saya dan isteri sudah dapat “NOMOR PORSI” (istilah bagi calon jemaah haji yang sudah masuk kuota dan pasti berangkat haji pada tahun yang sama saat nomor itu dikeluarkan).
Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar.
Tak henti-hentinya saya bersyukur kepada Allah Swt, karena akhirnya tahun ini juga  setelah  resmi jadi “pangsiyunan”, saya beserta isteri bisa pergi menunaikan ibadah haji.
Ini adalah ibadah haji saya yang kedua sesudah saya pergi haji sendirian sebagai petugas TPOH Departemen Agama pada tahun 1992.
Saya sungguh bahagia karena kali ini saya bisa pergi haji bersama isteri saya.
Masih terus terngiang doa saya didepan ‘multazam’  (yang konon merupakan tempat dimana semua doa Insya Allah akan terkabul) sewaktu pergi Umroh Ramadhan bersama Bapak dan Ibu Soepardjo tahun 1992 dulu:

(“Ya Allah ijinkanlah saya datang kembali memenuhi panggilan Mu baik untuk ber haji maupun ber umroh, baik sendiri maupun bersama keluarga. Dan dengan kebesaran kuasa Mu mohon ijinkan  kami sekeluarga untuk dapat mengunjungi tanah suci Mu bukan hanya untuk sekali saja. Amien Ya Rabbal Alamin”).

Dan saya merasa bahwa Allah Swt yang Maha Pengasih dan Pemurah telah berkenan mengabulkan doa saya itu.
Saya juga merasa bahwa Allah Swt telah memberikan banyak sekali berkah kemudahan dalam hidup saya, khususnya yang bersangkutan dengan kepergian ketanah suciNya.
Saya tidak pernah menyangka bahwa pada bulan Ramadhan tahun 1992 saya akan bisa pergi Umroh ketanah suci. Tak ada persiapan sama sekali, baik moril maupun onderdil, eh materiil. Ketika sedang berada di Paris dalam rangka mengikuti kunjungan dinas Pak Pardjo, tiba-tiba saja rombongan diberi tahu mendapat undangan Umroh Ramadhan dihari pertama puasa diluar negeri!    
Boleh dikata waktu itu saya pergi Umroh dengan modal ‘bonek’ (bondho nekat, asal berani). Beruntung perlengkapan umroh dengan segala fasilitasnya diberi dengan cuma-cuma oleh Yang Mulia Raja Arab Saudi. Maka pergi umrohlah saya! Dibulan Ramadhan lagi. Apa tidak huuueeebaaat?
Tidak sampai dua bulan kemudian, karena saya merasa sangat rindu kembali ketanah suci untuk beribadah lagi di Baitullah  (rumah Allah), saya nekat (lagi) minta ijin untuk pergi haji (kali ini haji “beneran”).
Alhamdulillah atas budi baik Menko Kesra, almarhum Bapak H. Soepardjo Roestam (tentu sebagai kepanjangan tangan dari ijin Allah Swt), saya bisa pergi menunaikan ibadah haji yang pertama, Bahkan dengan gratis, tis, tis, tis. Alias HAJI ABIDIN, karena saya mendapat mandat dari Pemerintah (d.h.i. Menteri Agama) untuk menjalankan tugas sebagai salah satu anggota TPOH (Tim Pemantau Operasional Haji) tahun 1992. Pada waktu itu usia saya masih 42 tahun. Relatif masih muda.
Oleh karena itu saya merasa semua tugas kewajiban sebagai TPOH maupun rukun dan wajib haji bisa saya kerjakan dengan sangat mudah.
Pada tahun 1992 itu, praktis dalam satu tahun saya pergi ketanah suci sebanyak DUA kali.


Merindukan tanah suci (lagi) setelah jatuh sakit....

Empatbelas tahun kemudian, tepatnya pada bulan Mei 2006, Alhamdulillah saya bisa pergi Umroh beserta isteri dan anak bungsu saya.
Kisahnya sudah saya tulis (dalam kisah2 spiritual) sebelumnya.
Sesudah pulang Umroh, tepat pada hari Natal tahun 2006 saya terkena gejala serangan jantung ringan yang menyebabkan saya harus menjalani perawatan katerisasi (CAT) di RS Jantung Harapan Kita. 

Bulan Desember 2006 kebetulan bertepatan dengan bulan haji. Saya  menjalani perawatan sangat intensif di RS. Alhamdulillah bertepatan dengan Sholat Idul Adha, sesudah ikut melaksanakan sholat Ied di RS (walau harus sholat diatas kursi roda) saya diijinkan dokter untuk pulang kerumah.  
Dalam proses penyembuhan dari sakit itulah,  tiba-tiba saja kerinduan saya pada tanah suci meruyak lagi. Sangat parah. Barangkali ada rasa ketakutan tidak bisa pergi ketanah suci lagi. 
Ternyata isteri saya (diam-diam) juga merasakan hal yang sama.
Oleh sebab itu saya sangat rajin menjalani proses rehabilitasi di RS Jantung Harapan Kita. Saya sungguh berharap bisa pergi ketanah suci lagi sesegera mungkin (dan itu berarti pada tahun 2007), karena merasa tidak tahu sampai kapan Allah Swt memberikan karunia umur kepada hambaNya.
Ternyata Allah Yang Maha Penyayang masih memberikan ijinNya.
Seperti yang saya tuliskan diatas, dalam waktu singkat saya beserta isteri dengan mudahnya berhasil mendapat jatah kuota untuk pergi ketanah suci melaksanakan ibadah haji pada tahun 2007.
Itu berarti limabelas tahun sesudah saya pergi haji untuk yang pertama kali!
Subhanallah, akhirnya saya pergi naik haji (lagi)..........



bersambung….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar