Jumat, 15 April 2011

"DIWELEHKE GUSTI ALLAH DI MASJID NABAWI"



(cuplikan dari "Kisah2 spiritual" mastonie)

( 3 )


Kubah Hijau Masjid Nabawi

Released by mastonie on Wednesday, April 14, 2010 at 8:54pm


“La qad kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun hasanatul li man kaana yarjullaaha wal yaumal aakhira wa dzakarallaaha katsiiiraa” (Al-Ahzaab, QS 33:21)
(Sungguh pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagi kamu, bagi orang yang mengharap -rahmat- Allah dan hari kemudian -kiamat- dan banyak mengingat Allah)

Peristiwa ‘tidak biasa’ yang saya alami pada saat menunaikan rukun Islam yang kelima ini terjadi ketika saya mendapat kesempatan untuk pergi ketanah suci untuk berhaji (yang kedua kali) pada bulan Dzulhijah 1428 H (Desember 2007 M ).
Dibanding dengan ibadah haji saya yang pertama, 15 tahun lalu (tahun 1992 M) -yang memakan waktu hampir 40 hari-, ibadah haji saya yang kedua ini, hanya memakan waktu sekitar 27 hari saja.
Kondisi cuaca di tanah suci juga sangat jauh berbeda. Bulan Dzulhijah 1428 H (Desember 2007 - Januari 2008) jatuh diawal musim dingin di Arab Saudi.
Jadi baik di kota Jeddah, Mekah maupun Madinah suhu udaranya rata-rata sangat bersahabat untuk orang yang berasal dari negeri tropis. Kira-kira seperti suhu udara di Bandung, atau yang paling dingin (waktu di Madinah) mungkin seperti suhu di Puncak pada malam hari.

Alhamdulillah, semua rukun dan wajib haji akhirnya bisa saya selesaikan dengan baik. Mungkin karena saya bisa mengambil pelajaran dari saat pertama berhaji dahulu. Selanjutnya saya tinggal melakukan ziarah ke makam Rasulullah SAW sekaligus melaksanakan salat ‘arbain’ (salat wajib lima waktu secara berjamaah selama delapan hari berturutan) di Masjid Nabawi dikota Madinah Al-Munawarah.

 interior Masjid Nabawi
Apabila dibandingkan dengan kedatangan saya ke Masjid Nabawi 15 tahun lalu, maka Masjid Nabawi saat ini (tahun 2007 M) tampak menjadi lebih megah, memukau dan mengagumkan. Restorasi atau pemugaran yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah membuat Masjid Nabawi menjadi sebuah masjid yang sangat menonjol keindahannya dibidang arsitektur.
Di Masjid Nabi ini juga telah digunakan teknologi modern berbasis teknologi komputer yang sangat canggih.
Masjid yang dibangun oleh Rasulullah SAW dikota Madinah ini memang telah beberapa kali mengalami perbaikan dan penyempurnaan, bahkan perluasan.
Terakhir kali Masjid Nabawi mengalami restorasi besar-besaran pada jaman pemerintahan Raja Fahd Abd Al-Aziz. Perbaikan (sekaligus penyempurnaan) yang berjalan hampir 10 tahun ini (1984 M -1994 M) diantaranya juga termasuk membuat ‘kubah geser’ sebanyak 27 buah yang beratnya masing2 80 ton!

Payung raksasa Masjid Nabawi
Di plaza (halaman terbuka) yang terletak ditengah-tengah masjid juga dibuat 12 buah ‘payung raksasa’ yang bisa dibuka-tutup
Benda benda berukuran ‘raksasa’ tersebut semuanya bisa bergerak secara otomatis dengan dikendalikan oleh sistem komputer yang sangat canggih
Rasa keingintahuan saya yang mendalam mendorong saya berkeinginan untuk melihat bagaimana kubah seberat 80 ton (!) itu bisa bergeser dengan mulus, bahkan hampir tanpa suara.
Jadi sayapun memutuskan untuk pada suatu hari jika memungkinkan, saya akan mengikuti salat wajib ber-jama’ah dilantai atas masjid.
Sebab hanya dari lantai atas masjid Nabawi itulah ‘pergeseran’ kubah dan ‘dibuka tutup’nya payung raksasa bisa dilihat dari dekat.
Sayangnya lantai atas masjid Nabawi ini tidak setiap hari dibuka.
Jadi pada suatu siang ketika hendak masuk ke masjid untuk salat duhur berjamaah, saya lihat tangga menuju lantai atas terbuka. Pucuk dicita pintu terbuka! Langsung saya memutuskan untuk naik kelantai atas. Subhanallah. Tadinya saya pikir -karena hanya dua lantai- tangga naiknya tidak banyak. Ternyata dugaan saya keliru. Kalau tidak salah saya naik tangga yang berliku-liku sampai lebih dari 6 kali! Napas saya sampai ‘ngos-ngosan’. Tapi berhubung saya kelewat semangat, semua menjadi seperti tak terasakan. Wah, pokoknya naik tangga ini lebih berat dari tes berjalan diatas mesin treadmill!
Apa boleh buat, keputusan saya sudah bulat. Sampai dilantai atas -yang sejauh mata memandang hanya terlihat kubah saja-, saya langsung ber ‘teler ria’. Masya Allah.
Kubah geser Masjid Nabawi
Selesai melaksanakan salat duhur berjama’ah, saya langsung melakukan sidak (inspeksi mendadak, ups!!??) pada kubah geser dan payung raksasa yang membuat saya penasaran itu. Memang luar biasa. Kubah sebesar itu dengan berat masing-masing 80 ton bisa bergeser mulus nyaris tanpa suara. Begitupun dengan 12 buah payung raksasa yang bisa dibuka-tutup secara elektronis dengan bantuan komputer. Kubah dan payung payung raksasa ini dibuka atau ditutup hanya pada saat tertentu saja. Diantaranya pada waktu cuaca sangat panas dan jemaah yang berziarah di masjid Nabi berjumlah sangat banyak, sehingga dibutuhkan tempat untuk beribadah yang teduh dan lebih luas.
Pada siang hari itu kesempatan emas tersebut (karena bisa naik kelantai dua masjid Nabawi) tidak saya sia-siakan. Saya langsung saja beraksi mengabadikannya dengan handycam mini yang selalu saya bawa di tas pinggang saya. Tak lupa sambil ‘lirak-lirik’ kanan kiri, siapa tahu ada askar!
Setelah puas mengambil gambar, baru saya memutuskan untuk turun.
Seperti biasa saya juga selalu menyempatkan diri untuk minum 1 - 2 gelas air zam-zam yang selalu tersedia gratis disemua sudut masjid. Subhanallah, air zam-zam memang disediakan secara berlimpah di Masjidil Haram dan di Masjid Nabawi, termasuk gelas plastik disposable (sekali pakai) nya!
Konon Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sampai harus membikin sebuah tempat penampungan air zam-zam yang sangat besar diluar kota Madinah, khusus untuk menyalurkan air zam-zam ke Masjid Nabawi.
pemandangan dari lantai 2 Masjid Nabawi                   foto2: mastonie

Sambil membawa segelas penuh air zam-zam dingin ditangan kiri, tangan kanan saya terus beraksi mengambil gambar dari tangga turun yang terbuka dilantai atas. Pemandangan lantai bawah masjid Nabawi yang penuh jemaah yang sedang antri keluar masjid sungguh merupakan ‘momen’ yang tidak boleh terlewatkan.
Karena haus, sambil shooting saya beberapa kali mereguk air zam-zam yang saya pegang ditangan kiri. Sekonyong-konyong sebuah tangan memegang tangan kiri saya. Seorang lelaki setengah baya ber ‘kafiyeh’ (sorban yang diikat dengan semacam tali) dan memakai ‘gamis’ (pakaian pria Arab yang panjangnya sampai ke mata kaki) berwarna putih bersih berada persis disebelah saya. Dia menggoyang-goyangkan jari tangan kanannya persis dimuka saya. Tapi aneh, bukan wajah sangar penuh amarah yang saya lihat, tapi sebuah wajah yang memancarkan sinar begitu lembut dan penuh senyum
‘Matik aku’. Saya tertangkap basah  oleh Askar sedang mengambil gambar dengan video nih, pikir saya. Ternyata tidak. Lelaki Arab itu dengan sopan -masih dengan tersenyum- meminta gelas yang ada ditangan kiri saya. Seperti terkena hipnotis saya tak kuasa menolak. Gelas air zam-zam itu kini berpindah ketangannya.
Dia bertanya lembut dengan bahasa Inggris yang fasih:
“Where do you come from?”.
“Indonesia” jawab saya pendek.
“And you?” saya balik bertanya. Hati saya berdebar. Senyum lelaki itu melebar:
“I am Madinesse”, lalu dengan tetap bersuara lembut ia berkata:
“Let’s do Rasulullah way, use your right hand to drink, please”.
Lalu tangan kanannya menyodorkan gelas air zam-zam tadi ke tangan kanan saya.
Astaghfirullah. Saya tersentak, baru saya sadar bahwa karena keasyikan mengambil gambar dengan handycam -yang memang asli dari pabriknya harus dioperasikan dengan tangan kanan-, saya tadi ‘nyambi’ minum air zam-zam dengan tangan kiri! Saya terima kembali gelas air zam-zam dengan tangan gemetaran. Muka saya tertunduk bahna malu!. Mungkin wajah saya merah padam atau malah pucat pasi. Mulut saya tercekat. Perasaan hati saya saat itu sungguh campur aduk. Antara terkejut, malu, merasa bersalah dan lain-lain.
“Syuk.... syuk… syukron” terbata-bata saya menjawab dalam bahasa Arab (salah satu kata yang saya tahu artinya!) masih sambil terus tertunduk saking malunya!
Ketika tak mendengar jawabannya, saya memberanikan diri menengadah. Laki-laki setengah baya tadi sudah tidak ada didepan saya! Ia seperti raib begitu saja.
Saya pelototi kerumunan orang-orang yang sedang berdesakan turun tangga. Juga yang masih berada di tangga atas. Ia tetap tak dapat saya temukan. Keringat dingin mengucur deras disekujur tubuh saya. Padahal suhu didalam Masjid dan udara kota Medinah pada waktu itu sangat sejuk.
Saya seperti diingatkan pada sabda Rasulullah SAW dalam salah satu hadist:
“Apabila salah seorang diantara kalian makan, maka makanlah dengan –memakai- tangan kanannya, apabila dia minum maka pakai jugalah tangan kanannya. Sebab sesungguhnya setan itu makan dan minum dengan –memakai- tangan kirinya” (HR. Muslim)

Saya benar-benar ‘shock’. Merasadiwelehke’ Gusti Allah.
Ditegur dan diingatkan oleh Allah SWT melalui seorang lelaki Arab yang lembut hati, wajah dan tutur sapanya. Yang entah datang dari mana dan yang entah siapa dia.
Wallahu a'lam bissawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar