Senin, 18 April 2011

"KISAH 'TAHALUL DINI' DAN SA'I GAYA POLISI......."



 (cuplikan dari: "kisah2 spiritual" mastonie)

( 8 )

- sambungan dari ..Subhanallah...saya pergi naik haji (lagi) -

 diruang tunggu Terminal Haji Jeddah  


Released by mastonie on Monday, April 18, 2011 at 04.46 pm    


Berangkat haji dengan rasa cemas…

Rentang waktu antara ibadah haji saya yang pertama (Mei 1992) sampai kepergian saya ketanah suci menunaikan rukun Islam kelima untuk yang kedua kali (Desember 2007) adalah lebih dari limabelas tahun.
Demikian pula dengan selisih umur saya, tentu saja.
Pertama kali pergi ketanah suci saya masih merasa muda belia. Nyaris tak ada yang terasa berat dilaksanakan. Bahkan saya merasa semua tugas sebagai TPOH maupun kewajiban rukun dan wajib haji bisa saya laksanakan dengan sangat ringan. Tidak ada kesulitan berarti termasuk dalam urusan kesehatan badan. Kalau hanya masuk angin dan  batuk itu masih wajar saja. Saya kan bukan termasuk species ‘Camelus’ (unta).
Siapa menyangka sehabis melaksanakan ibadah umroh pada bulan Mei 2006, beberapa bulan kemudian (Desember 2006) saya mengalami sedikit gangguan di jantung yang mengharuskan saya dirawat di RS Jantung Harapan Kita (kini Pusat Jantung Nasional).
Beberapa saat sesudah mengikuti sholat Idul Adha di Aula RS (walaupun masih dengan memakai kursi roda), saya mendapat ijin dari dokter untuk pulang kerumah. Alhamdulillah.
Justru dengan jatuh sakit itu keinginan saya untuk kembali ketanah suci semakin kuat. Ada rasa takut tidak punya ‘waktu’ lagi. Sebagai insan yang takwa kepada Allah Swt, saya yakin bahwa rahasia umur manusia hanya Sang Penciptalah yang mengetahui.
Istri saya juga sudah ingin sekali pergi menunaikan ibadah haji. Dengan syarat harus saya temani. Maka bulat sudah niat saya. Saya serahkan semuanya kepada kebesaran dan kehendak Allah Swt.
Proses sampai saya mendapatkan nomor porsi jemaah calon haji sudah saya tuliskan sebelum kisah ini.

Singkat kata pada suatu pagi yang indah di hari Jum’at Kliwon tanggal 14 Desember 2007, sekitar pukul 08.00 pagi   WIB, saya beserta istri termasuk dalam rombongan  jemaah calon haji PT. Anubi Travel terbang meninggalkan ibukota menuju Jeddah dengan memakai pesawat Boeing 747-300 milik Air Canada yang disewa oleh Garuda Indonesia.
Ini adalah perjalanan saya yang keempat menuju tanah suci.
Perasaan syukur bercampur cemas menyelimuti hati.
Bersyukur kepada Allah Swt yang telah berkenan mengundang saya ketanahnya yang suci lebih dari sekali. Bahkan kali ini saya bisa pergi naik haji bersama istri tercinta.
Akan tetapi saya juga mencemaskan kondisi kesehatan saya diusia yang semakin renta. Apalagi setahun lalu saya dirawat di RS karena ada gangguan jantung.
Namun saya pasrahkan saja semuanya kepada kehendakNya.


Dikejar wanita bercadar ….

Terminal Haji Jeddah          foto: google
Hari menjelang petang ketika pesawat mendarat di Terminal Haji Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Cuaca masih terang benderang, angin gurun yang panas terasa menerpa kulit.
Saya tidak merasa pangling (tak kenal lagi) dengan Bandara yang paling dirindukan umat muslim sedunia ini. Suasana Terminal Haji yang berbentuk replika tenda-tenda dipadang Arafah dan Mina tetapi dalam ukuran sangat besar ini pada musim haji sangat ramai, seluruh gate (pintu) kedatangan yang dibuka penuh sesak dengan jemaah calon haji yang datang dari seluruh penjuru dunia. 
Dan tibalah saatnya proses pemeriksaan imigrasi dan pabean Arab Saudi yang selalu membikin jemaah calon haji “sutris”. Apalagi bagi jemaah calon haji yang baru pertama kali pergi ketanah suci.
Petugas Pabean Kerajaan Arab Saudi terkenal paling ‘semau gue’ kerjanya. Konon inilah ujian kesabaran pertama bagi para jemaah calon haji.  Faktor ini pula yang membikin proses pemeriksaan berlarut-larut menjadi sangat lama.
Kurang lebih dua jam kemudian rombongan jemaah calon haji yang dikelola oleh PT. Anubi Travel telah selesai melalui pemeriksaan petugas Imigrasi.
Kini rombongan berkumpul diruang tunggu untuk menunggu keluarnya bagasi.
Setidaknya sampai tahun 2007, jemaah calon haji Indonesia sangat mudah dikenali dari seragam yang dipakai. Baik jemaah wanita maupun pria memakai jaket berwarna biru telur asin dengan logo bendera Indonesia didada. Ditambah dengan sebuah bendera merah putih yang dikibarkan sebagai tanda tempat berkumpulnya jemaah calon haji Indonesia. Jemaah calon haji dari Negara lain demikian pula, memasang bendera Negaranya. Oleh sebab itu dari jauh tampak kelompok-kelompok jemaah calon haji dari beberapa Negara dengan seragam masing-masing pula.
Entah mengapa sore itu pengeluaran bagasi jemaah calon haji Indonesia agak lambat.
Jadi daripada bengong menunggu saya putuskan untuk berjalan berkeliling sambil membuat dokumentasi video dan foto.
Saya membawa sebuah handycam dan sebuah kamera digital kecil yang gampang masuk saku. Dengan santai saya berkeliling mengabadikan gambar rekan-rekan serombongan yang menghabiskan waktu menunggu dengan seribu satu tingkahnya. 

Tiba-tiba mata saya menatap segerombolan wanita memakai seragam ‘abaya’ (rok panjang) berwarna hitam. Mereka juga mengenakan cadar berwarna hitam yang nyaris menutup seluruh wajah, yang tampak hanya kedua matanya saja. Dari jauh tampak bagus sekali, seolah kawanan burung gagak yang sedang istirahat bergerombol. Saya mendekat dan mulai mengambil gambar video setiap gerak langkah mereka. Setelah merasa cukup saya beranjak pergi untuk mengambil gambar ketempat lain.
Baru sekitar dua langkah saya berjalan, sekonyong terdengar teriakan seorang wanita. Suaranya melengking mengisyaratkan kekesalan. Karena merasa tidak ada urusan dengan wanita itu saya terus saja berjalan. Mendadak jaket seragam saya ditarik. Waktu saya berbalik saya lihat seorang wanita Arab berabaya hitam dan bercadar berteriak-teriak memakai bahasa Arab yang (tentu saja) tidak saya pahami maksudnya.
Tampaknya dia sangat marah karena muka saya ditunjuk-tunjuk sambil berusaha merebut tali kamera yang saya pegang. Tentu saja saya pertahankan kamera saya mati-matian.  Terjadi tarik menarik yang disaksikan oleh nyaris semua jemaah calon haji yang ada disekitar tempat itu. Seorang laki-laki Arab datang mendekat, barangkali suami wanita itu. Dia juga berbicara dengan bahasa Arab. Cepat sekali omongannya. Tapi sambil bicara dia juga memakai bahasa isyarat. Saya jadi agak sedikit faham maksudnya. Dia minta kamera saya karena saya telah mengambil gambar para wanita bercadar itu. Saya jelas mengelak.
“No, I DID NOT take your picture”  saya berteriak membalas tak kalah nyaring.
“Look!” Saya ambil kamera digital saya, kemudian saya tunjukkan padanya foto-foto yang ada didalamnya. Jelas saja tidak ada FOTO wanita-wanita itu didalam kamera saya, karena yang saya ambil tadi adalah gambar VIDEO dengan handycam yang sekarang saya simpan dalam saku saya. Tertipu dia! Tapi entah bagaimana si wanita Arab itu masih berteriak-teriak terus. Beruntung salah seorang staf Perwakilan Anubi yang fasih berbahasa Arab datang untuk menengahi. 
Saya tinggalkan tempat itu dengan wajah kecut, diiringi senyum rekan-rekan yang sempat melihat ‘drama satu babak’ yang nyaris membuat saya babak belur.
Kali ini saya benar-benar “kena batunya”.
Belakangan baru saya tahu dari Pak Afief, bahwa banyak wanita Arab bercadar yang mengharamkan dirinya difoto. Apalagi oleh orang yang tak dikenal. Pak Afief juga heran bagaimana saya bisa selamat dari Askar Bandara, karena nekat ‘beraksi’ didaerah yang seharusnya ‘verboden’  (terlarang) untuk diambil gambarnya itu.

“Tahalul dini” dan Sa’i gaya perwira polisi….

Setelah menginap semalam di Jeddah (ini sebuah perkecualian yang jarang diperoleh oleh Jemaah lain), maka pada suatu tengah malam berangkatlah rombongan menuju kota Mekah. Sudah dengan mengenakan pakaian ‘ihram’, rombongan berangkat mengendarai 4 buah bus yang full AC untuk melaksanakan Umroh sunah. Setiap bus berisi sekitar 30 orang jemaah calon haji, dengan 2 orang mutawwif  (pemandu tawaf), jadi seorang mutawwif  memimpin sekitar 15 orang. 
Jalan raya antara Jeddah – Mekah pada tengah malam itu sudah sangat padat. Beberapa kali bus berhenti di pos pemeriksaan untuk mencocokkan jumlah paspor dan penumpang bus. Sangat ketat.
Kota Mekah-al-Mukarromah sudah terlihat. Jalanan bertambah macet. Berkali-kali sopir bus menyumpah-nyumpah mencari jalan terdekat menuju Masjidil Haram, karena banyak jalan yang ditutup oleh Askar. Empat bus rombongan tercerai berai mencari jalan sendiri-sendiri.
Alhamdulillah, akhirnya bis nomor empat (yang saya naiki) justru menjadi bus pertama yang bisa mendekat ke Masjidil Haram. Tapi nanti dulu, yang disebut “dekat” itu masih sekitar satu kilometer lebih jaraknya dari Masjidil Haram. Dan itu harus ditempuh dengan jalan kaki dimalam yang anginnya bertiup kencang sekali. Saya berjalan terseok-seok sambil menenteng tas kecil berisi perlengkapan pribadi, termasuk obat-obatan. Istri saya tampak khawatir sekali dengan kondisi kesehatan saya. Saya memang sudah tidak bisa berjalan cepat lagi seperti dulu. Jadi selalu tertinggal dari rombongan. Tapi kekuatan tekad mengalahkan segalanya. Walau lelah menerpa tapi saya merasa baik-baik saja. Apalagi ketika sudah saya lihat menara-menara Masjidil Haram yang gemerlapan dengan sinar dimalam buta itu.
Kerinduan saya untuk menatap Baitullah semakin keras.  
Labbaik allahuma labbaik……..

usai Tawaf Qudum
Akhirnya malam itu terselesaikan sudah ibadah tawaf Qudum (tawaf pembukaan) dan sa’i. Selanjutnya tinggal menunggu datangnya shalat subuh berjamaah di Masjidil Haram. Ketika itulah baru ketahuan ada beberapa orang jemaah yang ‘tercecer’. Entah bagaimana mereka bisa terlepas dari rombongan. Tidak jelas apakah lepasnya pada waktu tawaf atau pada saat sa’i.
Kini rombongan yang masih ‘kompak’ hanya menunggu saja. Mudah-mudahan ditempat pertemuan yang ditentukan (yaitu didepan pintu Raja Fahd), bisa bertemu dengan mereka yang tercecer lagi. 

Area tempat pertemuan yang ditentukan itu berupa lapangan atau plasa didepan pintu nomor “69” yang dinamakan “King Fahd Gate” (Pintu Raja Fahd). Terbuat dari marmer putih bersih, plasa yang luas itu selalu terjaga kebersihannya karena ada mobil penyapu lantai yang secara rutin beroperasi. Saat itu banyak sekali jemaah calon haji dari berbagai Negara yang berkumpul diplasa. Sampai penuh sesak. Bahkan sebagian ada yang bertelekan tidur disitu. 
didepan pintu 'Raja Fahd'
Saya memilih untuk duduk santai diteras hotel “Intercontinental” yang menghadap langsung kearah Masjidil Haram.
Asyik juga membunuh waktu sambil  melihat ‘tingkah-polah’ ribuan jemaah yang lalu lalang diplasa. Termasuk juga menyaksikan ratusan burung merpati yang betul-betul ‘jinak-jinak merpati’, menunggu pemberian makanan dari para jemaah. Makanan burung (berupa butiran jagung) bisa dibeli disekitar masjid dengan harga 5 sampai 10 real sekantong.
Disaat itulah terjadi kegemparan. 
Tiga orang jemaah yang ‘tercecer’ tadi telah ditemukan kembali. Mereka kembali kerombongan dengan wajah cerah ceria tapi dalam keadaan “gundul plonthos” (kepala botak tanpa rambut)!
Astagfirullah, tentu saja kita semua terheran-heran. Padahal saat ini belum tiba waktunya untuk ber tahalul (mencukur rambut sebagian/seluruhnya sebagai tanda selesainya ibadah umroh/haji).
Merasa ‘tidak berdosa’, mereka langsung menceriterakan pengalamannya.
Setelah melakukan sa’i bersama rombongan, entah bagimana mereka bertiga kemudian terpisah pada saat membaca doa selesai sa’i dibukit Marwah. Tiba-tiba mereka ditarik oleh tiga orang pria (Arab tentu saja) yang menawarkan untuk memotong rambut. Bahkan dengan setengah memaksa mereka minta dibayar seorang 50 real untuk jasa memotong rambut itu! Padahal ongkos tahalul di ‘barber shop’ biasanya paling mahal hanya 5 sampai 10 real. Bahkan gratis kalau dilakukan dengan sesama teman.
Walaupun peristiwa ini jadi bahan ‘guyonan’, namun karena menyangkut masalah ibadah, akhirnya ustad pembimbing ibadah jemaah haji terpaksa turun tangan untuk mendudukkan persoalan sesuai rukun dan wajib haji. Mereka dianggap tidak tahu, tapi karena bagaimanapun itu melanggar rukun haji (larangan memotong rambut), jadi mereka dikenakan sanksi membayar denda yang disebut "dam takhyir takdir" Yaitu dengan masing-masing memotong seekor kambing.. 

jalur Sa'i di Masjidil Haram  
foto2: mastonie

Ternyata yang tercecer pada waktu sa’i  tidak hanya tiga orang. Ada seorang perwira menengah Polri yang juga terpisah bahkan sejak sebelum sa’i dimulai, yaitu pada saat selesai shalat sunah dua raka’at selesai tawaf.  Alhasil dia harus menjalankan ibadah sa’i seorang diri. Merasa sudah ikut manasik haji dengan lengkap maka dengan gagah berani (Polisi gituu lhooooh) diapun langsung melaksanakan sa’i seorang diri.
Yang dinamakan ibadah Sa’i adalah berjalan kaki dari bukit Safa ke bukit Marwah sebanyak 7 (tujuh) kali PP. Disinilah terjadi kerancuan penafsiran. Seharusnya perjalanan dari Safa ke Marwah dihitung satu kali, demikian juga dari Marwah ke Safa dihitung satu kali juga. Sehingga pada hitungan ke tujuh  Sa'i akan berakhir dibukit Marwah. Akan tetapi Pak Polisi melakukan Sa’i dengan versi nya sendiri: dia menghitung satu kali itu dari Safa sampai ke Safa lagi (jadi bolak balik Safa-Marwah-Safa). Akhirnya setelah tujuh kali, dia bingung sendiri, kenapa Sa’i yang seharusnya berakhir dibukit Marwah, koq ini berakhir dibukit Safa lagi? Tanpa pikir panjang maka dia berjalan lagi menuju bukit Marwah untuk mengakhiri Sa’i versi dirinya sendiri. 
Ya hitrung-hitung bonus, katanya sambil tertawa ngakak,sewaktu menceriterakan kisah 'heroik' nya itu.
Jadi ibadah Sa'i yang seharusnya hanya 7 kali,  telah dia laksanakan (dengan versi sendiri) sebanyak  15 kali dari Safa sampai ke Marwah.
Benar-benar Pak Polisi yang gagah berani……


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar