Sabtu, 02 April 2011

"BERTEMU PASANGAN 'BILL & MARTHA' MORRISON LAGI"




(dari draft buku: "Catatan seorang mantan Ajudan" oleh mastonie)
Tulisan bersambung (50)

Pak Pardo dan YM Bill Morrison, Dubes Australia (1987)

(Untuk sekedar mengingatkan anda, saya pernah menuliskan kisah pertemuan saya -yang pertama sekaligus yang terakhir- dengan pasangan  Bill dan Martha Morrison, yang terjadi pada tahun 1977, sewaktu saya masih bertugas sebagai petugas Protokol Pemda Jateng. Pada waktu itu  saya  ditugaskan  untuk mengantar mantan Menteri Pertahanan Australia itu beserta istri dan anak-anaknya, berkeliling kebeberapa kota di Jawa Tengah. Sejak saat itu memang tak ada kontak lagi) .


Saya bahkan sudah mulai melupakannya, ketika pada suatu saat Mendagri Soepardjo Roestam berkenan mengadakan jamuan makan malam untuk menghormat para Duta Besar Negara sahabat yang selama ini telah menjalin kerjasama sangat erat dengan Departemen Dalam Negeri. 
Salah satu yang diundang  adalah   Duta Besar Australia untuk Republik Indonesia.
Seperti biasa, untuk menjamu para tamunya yang VVIP,  Pak Pardjo selalu memilih sebuah tempat pertemuan yang sangat eksklusif bernama “Mercantile Club Jakarta”.
Terletak di Jalan Jenderal Soedirman, berseberangan dengan Hotel “Sahid Jaya”, Jakarta, “Mercantile Club”  adalah sebuah klub eksklusif yang beranggotakan kaum Top Executive. 
Club para hartawan itu mempunyai sebuah tempat pertemuan khusus Anggota dilantai 17 -18 disalah satu Gedung Bank Swasta Nasional yang cukup terkenal.   
Hanya orang-orang pilihan yang punya jabatan tinggi, para diplomat dan atau orang ‘sugih mblegedhu’ (kaya raya) saja yang bisa menjadi anggota klub ini. Hal tersebut bisa dilihat dari besarnya  membership annual fee (iuran keanggotaan tahunan) dalam mata uang dolar AS yang cukup tinggi.
Dari daftar undangan yang dibuat oleh Protokol Depdagri saya sudah tahu bahwa Duta Besar Australia untuk Indonesia yang bertugas sekarang bernama Bill Morrison. Saya yakin bahwa beliau pasti mantan Menteri Pertahanan Australia yang pernah berkunjung ke Jawa Tengah pada tahun 1977, sewaktu Pak Pardjo masih menjabat Gubernur. Kebetulan  pada saat itu saya adalah salah satu Protokol Gubernur yang ditugaskan mendampingi kunjungan beliau. Saya punya foto dokumentasinya, jadi saya  yakin pasti masih bisa mengenal  wajah mereka seandainya bertemu lagi.
Tapi saya tidak yakin apakah “Bill” atau Mr. Morrison masih ingat atau masih mengenal saya, karena pertemuan di Jawa Tengah itu sudah terjadi 10 tahun yang lalu. 
Ternyata benar dugaan saya. Pria bertubuh tinggi besar berwajah ramah dengan rambut ikal keperakan itu tampak masih seperti dulu. Memakai kemeja Batik lengan panjang, serasi benar dengan warna kulitnya yang putih bersemu kemerahan. Semuanya masih tampak sama. 
Saya sama sekali tidak “pangling” kepadanya. Saya justru mengira beliaulah yang pasti sudah lupa kepada saya. Apalagi penampilan saya sekarang sudah jauh berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu. Dahulu (tahun 1977) berat badan saya tidak sampai 50 kilo, kurus dengan kulit hitam dan rambut agak sedikit gondrong (model yang sedang tren saat itu). Sekarang (tahun 1987) badan saya sudah sedikit lebih berisi dengan kulit yang sedikit lebih terang dan potongan rambut belah tengah yang saya sisir rapi. 
Oleh karena itu saya juga tidak berharap beliau akan mengenali saya.
Ketika jamuan makan malam sudah berakhir, seperti biasa saya berdiri di lobby untuk menunggu Pak Pardjo mengantar tamu-tamunya pulang. Tamu terakhir yang turun dari lift adalah Mr. & Mrs. Morrison. Dengan wajah ceria mereka tampak akrab berbicara dengan Pak Pardjo sambil berjalan menuju keteras dimana mobil sedan bernomor polisi CD 18-01, mobil resmi Duta Besar Australia sudah menunggu. Ketika melewati tempat dimana saya berdiri, pandangan matanya sejenak berkelebat menatap saya. Langkahnya terhenti. Merasa salah tingkah saya tersenyum kearahnya sambil sedikit membungkukkan badan. Saya lihat Mr. Morisson membisikkan sesuatu kepada istrinya. Tiba-tiba Mrs. Morrison berhenti melangkah, memandang kearah saya, matanya sedikit mengerinyit. Pak Pardjo dan Bu Pardjo yang agak heran ikut berhenti sejenak.   
Saya merasa kurang sopan kalau tidak menyapa. Jadi saya berjalan mendekat sambil berkata takzim:
“Good afternoon, Your Excellency”
Mereka berdua tersenyum lebar seraya melangkah kearah saya.
“Good afternoon. Yes, I think I remember you….” seru Mr. Morissson sambil mengulurkan tangannya. Kata-katanya terhenti. Mungkin sedang mengingat nama saya. Saya jabat erat tangannya:
“My name is Tonny, Your Excellency” jawab saya mencoba mengingatkan.
Wajah keduanya tampak begitu sumringah (cerah ceria) sekarang.
“Ya, of course I remember you Tonny, nice to see you  again. Apa kabar?”
Suaranya ramah sekali. Selipan kata ‘Apa kabar’ jelas menyiratkan keinginannya untuk menunjukkan keakraban. Saya ganti menjabat tangan Mrs. Morrison.
“I’m fine, glad to see you again in Jakarta Ma’am. How are you?”
“I’m fine too, you’re living in Jakarta now? Still work to Pak Pardjo?”
“Yes Ma’am”
“No, no..please call us Bill and Martha”, sergah Mr. Morisson eh ‘Bill’.
Hmmm…tampaknya mereka masih seperti yang dulu. Selalu minta dipanggil sebagai “Bill dan Martha” saja. Mr. Morrison lalu berbicara kepada Pak Pardjo. Pak Pardjo tampak tertawa lebar sambil mengangguk-anggukkan kepala.
“It’s surprise to meet you again in Jakarta Tonny, my best regard to your family”
“Thank you Your Excellency” saya menjawab dengan tetap memanggilnya “Yang Mulia”. 
Saya tidak mau dinilai ‘tidak tahu diri’ oleh Pak Pardjo.
Didalam mobil Pak Pardjo berkomentar pendek saja:
“Bagus Ton. Mereka berdua rupanya sangat terkesan pada pelayananmu ketika mengantar perjalanan mereka ke Jawa Tengah dulu”
Saya tak berani menjawab. Dalam hati saya hanya mengucapkan puji syukur.  
Alhamdulillah. Ada orang asing yang sangat menghargai orang lain, dan tetap mengingatnya walaupun waktu telah berlalu sekian lama.
Dan itulah perjumpaan saya kembali dengan “Bill dan Martha” Morrison. 


Sekarang “Bill” telah menjadi orang nomor satu di Kedutaan Australia di Jakarta. Tapi keramah tamahan pasangan suami istri itu tidak berkurang sedikitpun juga. 
YM. Bill Morrison menjadi Duta Besar Australia untuk Republik Indonesia terhitung sejak tanggal 28 April 1985 sampai dengan tanggal 2 Februari 1989. Beberapa kali lagi saya masih berjumpa dengan “Bill dan Martha” dibeberapa kesempatan acara kenegaraan di Istana Negara maupun Istana Merdeka Jakarta. Mereka selalu menyempatkan ‘say hello’ dan berbicara basa-basi sekedarnya dengan saya. 

Suatu ketika dipertengahan tahun 1989, sewaktu Bill dan Martha sudah kembali kenegerinya karena tugas Bill sebagai Duta Besar Australia untuk Indonesia telah berakhir, secara tak terduga, saya mendapat kiriman langsung dari Benua Kanguru. Kiriman kejutan itu berwujud sebuah buku tebal dan lux berjudul “This is AUSTRALIA” versi hard cover (sampul tebal). 
Dihalaman dalam tertulis sebuah catatan dengan tulisan tangan yang rapi: 

“ To Tony, With memory of our trips together in 1977 and 1987, and best wishes to you and your family”.

Bill and Martha Morrison. 

Selain itu masih ada lagi secarik surat yang sangat menyentuh perasaaan, mengingatkan perjalanan mereka ke Jawa Tengah tahun 1977 dahulu. Saya terharu. Mereka ternyata tetap ingat pada saya, mantan petugas Protokol rendahan dari Pemda Provinsi Jawa Tengah yang pernah menemani mereka sekeluarga keliling Jawa Tengah dan juga pertemuan kita kembali di Jakarta sepuluh tahun sesudahnya.
“Bill dan Martha”, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa melimpahkan karunia dan  perlindungan Nya kepada anda berdua beserta anak-anak dan keluarga. Aamiiin.



bersambung.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar