Kamis, 31 Maret 2011

"PAK PARDJO JADI MENDAGRI!!!....."



(dari draft buku: "Catatan seorang mantan Ajudan" oleh mastonie)
Tulisan bersambung (32)

 Kabinet Pembangunan IV

       Merebaknya isu dan desas desus......

    Entah dapat “bocoran” darimana, berita bahwa Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Roestam akan dipromosikan jadi Menteri, tiba-tiba sudah ramai dibicarakan orang. 
Ada desas-desus yang menyebut Pak Pardjo akan jadi Mensesneg. Ada lagi yang bilang akan jadi salah satu Menko atau Mendagri. Malah yang lebih hebat lagi ada isu yang menyebutkan kalau Pak Pardjo akan jadi RI 2 alias Wakil Presiden. 
Memang kondisi pada waktu itu -sesuai dengan amanat Undang-Undang-, menyebutkan bahwa sebagai Presiden RI terpilih, Pak Harto berhak menentukan sendiri siapa yang akan dipilihnya menjadi Wakil Presiden. Dengan alasan agar supaya dalam menjalankan roda pemerintahan, Presiden dapat bekerja-sama dengan baik dan kompak bersama Wakil Presiden, yang notabene adalah pilihannya sendiri.
Ternyata -pada tahun 1983 itu- Presiden Soeharto memilih Jenderal Oemar Wirahadikoesoemah (terakhir menjabat sebagai Kepala BPK) untuk menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia. 
    Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia diambil sumpahnya dalam Sidang Umum MPR-RI,  pada suatu pagi  dihari Jum’at Legi tanggal 11 Maret 1983. 

(Tanggal 11 -sebelas- Maret tampaknya sengaja di”keramatkan” oleh Pak Harto, sejak ia mendapatkan Surat Perintah dari Presiden Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966 untuk mengambil alih wewenang pengamanan dan komando guna mengusut dan menyelesaikan masalah percobaan Kudeta yang gagal oleh kelompok “Gerakan Tigapuluh September/PKI” atau G-30-S/PKI. Surat Perintah itu kemudian disebutnya sebagai “Super Semar”, akronim dari SU-rat PER-intah SE-belas MAR-et. Sebagai orang Jawa, agaknya Pak Harto sangat terpengaruh dan terinspirasi dengan cerita pewayangan. Ia seakan ingin mempersonifikasikan dirinya menjadi seorang SEMAR yang SUPER.
Semar adalah panakawan atau abdi para satria Pandawa. Bentuk badannya gemuk berwajah jelek tapi sakti mandraguna, karena sesungguhnya ia titisan dewa Ismaya. Semenjak saat itulah tanggal 11 Maret -atas kemauan Pak Harto- selalu dipakai untuk melaksanakan upacara atau acara kenegaraan yang penting, termasuk Upacara Pengambilan Sumpah Jabatan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia).

Setelah acara Pelantikan Presiden dan Wapres itu, ternyata gosip, isu, sas-sus dan kabar burung tentang susunan Kabinet yang baru semakin bertambah ramai. Suratkabar (terutama Koran yang terbit secara nasional) menurunkan ‘prakiraan’, bahkan ‘ramalan’ susunan “Kabinet Pembangunan IV” a la koran, tentu menurut versi masing-masing. Entah dapat info dari mana. Mungkin salah satunya dengan cara menugaskan para wartawan untuk memerhatikan pejabat yang dipanggil Pak Harto (ke Cendana atau Bina Graha) dalam waktu beberapa hari terakhir. Memang ada juga koran yang bisa menebak dengan tepat beberapa Menteri, tapi selebihnya banyak yang meleset. Namanya saja prakiraan.

Pak Pardjo jadi Mendagri!!
 
    Pengumuman susunan Kabinet yang selalu dibacakan sendiri oleh Presiden Soeharto akhirnya tiba. Hari itu adalah hari Rabu Legi tanggal 16 Maret 1983. Semenjak pagi hari suasana dikantor Pemda Provinsi Jawa Tengah (dimana Pak Gubernur berkantor) sudah ‘hangat’. Semua Pejabat dan karyawan Pemda sibuk membicarakan isu Pak Pardjo akan jadi Menteri. Isu itu memang sudah merebak beberapa hari lamanya. Yang jelas memang surat-surat kabar harian (baik lokal maupun nasional)  yang berperan menyebar-luaskan kabar burung itu. Hari itu seperti biasa Pak Pardjo melakukan kegiatan menerima tamu dan memanggil beberapa Pejabat dilingkungan Kantor Gubernur. Semua berlangsung ‘normal’ saja. Tapi beberapa Pejabat Pemda malah sudah ada yang berani main ‘tebak-tebak buah manggis’, menyinggung-nyinggung kemungkinan Pak Gubernur Soepardjo Roestam dipromosikan jadi Menteri. 
Hal itu tidak lain karena hampir semua media cetak yang terbit pada pagi hari sudah mengupas tuntas profil para calon Menteri yang diperkirakan akan duduk di Kabinet. Termasuk profil Pak Pardjo yang diperkirakan akan menduduki jabatan sebagai Mensesneg atau Mendagri. Tapi lucunya tidak ada seorangpun yang berani meminta konfirmasi langsung kepada Pak Pardjo. 
Pak Wahyudi saja hanya berani menelepon saya:
“Dik Tony, kayaknya Pak Gub jadi Mendagri ya?”
“Wah duka dalem (saya tidak tahu) ya Pak. Saya mohon maaf. Sebaiknya Bapak langsung saja sowan (menghadap) beliau untuk konfirmasi” jawab saya.
Lho bukannya pada waktu itu Dik Tony yang ikut ke Jakarta?” tanya beliau lagi. Saya agak terperanjat. Tahu darimana Pak Wahyudi kalau kepergian saya ke Jakarta tempo hari bersama Pak Pardjo, berkaitan dengan masalah promosi ini.
Mboten (tidak) Pak, dulu itu kan Pak Gub ada acara dengan Pak Yusuf” saya mencoba berkelit mencari alasan.
“Jangan begitu, saya dengar ceritanya dari Pak Tarto lho” jawab Pak Wah.
Wadhuh, jangan-jangan Bejo di interogasi Pak Tarto, dan terpaksa mengaku tapi ceritanya ‘kebablasen’. Pikir saya. 
Biar saja, yang penting bukan saya yang membocorkan cerita ‘malam misterius’ itu.
Pukul 16.00 sore Pak Gub meninggalkan kantor untuk kembali kekediaman di Puri Gedeh. 
Sebelum turun dari mobil beliau cuma berpesan:
“Ton, nanti malam jangan lupa nonton TV, barangkali ada pengumuman dari Presiden”. Hanya begitu saja.
Inggih (ya) Pak” jawab saya.

    Habis magrib seluruh jajaran Staf Pribadi di Puri Gedeh sudah ‘siap tempur’ memelototi kotak kaca 17 inci yang ada diruang kerja Spri. Pak Dahlan Noor sebagai Sekpri sengaja pulang lambat untuk bisa menyaksikan peristiwa yang bersejarah itu. Mungkin juga dia mendapat perintah dari Pak Pardjo, saya tidak tahu. Selain itu ada Pak Paino dan Pak Kirman (juru ketik di Puri Gedeh) serta Mas Haryadi (Bagian Keuangan Rumga Gubernur). Jadi suasana agak ramai. Padahal kalau hari biasa pada jam yang sama, paling-paling yang masih berada di ruang Spri tinggal seorang ajudan dinas (Pak Tris atau saya) dan Pak Paino saja.     
Menurut rencana acara penting itu akan dilaksanakan pada pukul 19.00 WIB, bertempat di Ruang Credential (Ruang Penerimaan Duta Besar Negara Sahabat) Istana Merdeka Jakarta.  TVRI (sebagai satu-satunya saluran Televisi yang ada di Indonesia pada waktu itu) menyiarkan secara ‘live’ (langsung) acara yang sudah ditunggu-tunggu oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia itu. Pengumuman penting itu memang secara lengkap diliput oleh media cetak dan elektronik dari dalam dan luar negeri.  Tampak dilayar TV puluhan wartawan dalam dan luar negeri lengkap dengan ‘persenjataannya’ mengelilingi podium berlogo Garuda Pancasila dalam lingkaran, dimana Presiden Soeharto nanti akan membacakan susunan Kabinet Pembangunan IV. 
Entah bagaimana, suasana malam itu seperti dilingkupi oleh ketegangan dan harap-harap cemas. Semua yang berada didalam ruang kerja Spri memang mengharapkan Pak Pardjo dipromosikan jadi anggota Kabinet alias Menteri. Tapi tak ada seorangpun yang dapat memastikannya. Bahkan saya yang mengikuti Pak Pardjo menghadap Pak Harto di Cendana saja juga belum terlalu yakin dan malah masih merasa was-was.
    Tepat pukul 19.00 WIB Pak Harto tampak memasuki ruangan. Mengenakan PSH (pakaian sipil harian) berwarna gelap, Presiden RI yang baru lima hari yang lalu dilantik (kembali) itu, seperti biasa melangkah dengan tenang. Senyumnya -yang menyebabkan beliau dijuluki sebagai “The Smiling General”- tipis mengembang menyapu para wartawan yang berkerumun disekeliling podium.
Setelah mengenakan kacamata bacanya, Pak Harto berdehem kecil, lalu  dengan suara mantap mulai membacakan sendiri pengumuman yang diawalinya dengan semacam kata pengantar tentang latar belakang dan alasan beliau menetapkan orang-orang yang dipilihnya untuk menduduki jabatan menteri di Kabinet yang dinamakannya “Kabinet Pembangunan IV”. 
Ini juga sebuah contoh konsistensi Pak Harto yang patut dikagumi. Kabinet saja dibikin ‘bernomor seri’. Maksud beliau pasti agar tampak adanya kesinambungan -dengan kabinet sebelumnya-.
Lalu tibalah saat-saat yang sangat menegangkan itu. Mengambil jeda sejenak (saya pikir Pak Harto sangat ahli membuat orang menunggu dalam ketegangan), Pak Harto lalu mulai membaca lembaran kertas yang berada ditangannya. Suara bariton nya yang khas terdengar mantap dan penuh keyakinan. Saya menyiapkan bolpoin untuk mencatat. Rasanya tangan saya sudah mulai berkeringat dipermainkan perasaan. Seisi ruangan mendadak senyap. Semua mata terpusat pada ‘kotak ajaib’ yang mampu menguras emosi orang itu. Pak Harto membaca kata demi kata dengan tekanan suara dan intonasi yang sangat diperhitungkan. 
Seketika ruang kerja Spri ‘meledak’ dengan teriakan riuh dan tepuk tangan, sewaktu Pak Harto mengucapkan kata-kata ini:
“Menteri Dalam Negeri : Saudara Soepardjo Roestam”. Seperti ada yang terlepas dari himpitan didada saya bahna lega mendengar kata-kata Pak Harto itu. Saya ikut berteriak riuh dan bertepuk tangan sampai lupa kalau harus mencatat. Semua orang yang berada didalam ruangan saling berjabat tangan, bahkan berpelukan saking senangnya. Kata-kata Pak Harto yang selanjutnya seolah tidak penting lagi. Yang paling penting adalah: PAK PARDJO JADI MENTERI DALAM NEGERI!
Pak Harto belum lagi usai membaca pengumuman personil Kabinet seluruhnya ketika tiga buah telepon yang ada diruang Spri serentak berdering bersamaan. Suasana berubah hiruk pikuk. Saya, Pak Noor dan Pak Paino masing-masing mengangkat telepon yang ada dimeja kerja. Keluarga, para Pejabat Pemda dan Pejabat dari Pusat bergantian mengucapkan selamat lewat telepon. Beberapa menit kemudian datang kiriman karangan bunga dari mana-mana. Mengherankan. Sepertinya yang mengirim bunga sudah bersiap siap sebelumnya. 
Malam hari itu Puri Gedeh berubah jadi ‘kapal pecah’. Para pejabat teras Pemda (dari Wagub, Sekwilda sampai para Asisten) bergiliran datang meskipun tanpa pemberitahuan atau perjanjian sebelumnya. Padahal kalau dalam kondisi ‘biasa’, mana mungkin beliau-beliau berani datang begitu saja. Malam malam lagi. Dalam keadaan riuh itu saya masih sempat mendengar Pak Harto menyatakan akan mengambil sumpah para anggota Kabinet Pembangunan IV pada hari Sabtu Wage, tanggal 19 Maret 1983 pagi hari di Istana Negara Jakarta. 
Itu berarti hanya kurang tiga hari lagi. 



bersambung.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar