Senin, 26 Mei 2014

CATATAN PERJALANAN "UMROH KOSASIH" (8)



-Bagian Kedelapan-

 (Ditulis pada hari Sabtu, 8 Juni 2013)

 Menara Masjid NABAWI pada malam hari

Dari Aisyah RA, ia berkata: ketika kami masuk kekota Madinah,  Rasulullah SAW berdoa: “Ya Allah berikanlah kecintaan kami kepada Madinah, sebagaimana Engkau berikan kecintaan kepada Mekah, atau lebih dari itu. Dan bersihkanlah ia dan berkatilah kepada kami dalam makanan dan bekalnya, dan gantilah wabah penyakitnya dengan juhfah”
(Hadits Shahih Buchari dan Muslim)


Memasuki “kota yang bercahaya” .....

     Yatsrib adalah nama asli kota ini. Ketika masuk kekota yang (dulunya) kotor dan kumuh  serta penuh penyakit itu, Rasulullah SAW langsung memberikan nama baru, yaitu Madinah. Beliau masih menambahkan sebutan “al-Munawaroh” dibelakangnya. Arti harafiahnya adalah “yang bercahaya”. Padahal pada saat itu (tahun pertama Hijriyah)  listrik belum ditemukan. Bahkan Thomas Alfa Edison yang dianggap sebagai penemu listrikpun belum lahir.

     Lewat tengah malam ustad Syarif membangunkan anggota rombongan yang terlelap tidur kelelahan. Bis sudah mendekati masjid Bier Ali yang terletak dipinggir jalan raya menuju kota Madinah. Artinya tak berapa lama lagi kita akan memasuki kota dimana Masjid Nabi (Nabawi) berada. Kemudian semua dipimpin membaca doa memasuki kota suci Madinah al-Munawaroh. Sesuai dengan nama yang diberikan oleh Rasulullah SAW, kota Madinah diwaktu malam hari sekarang memang nampak bercahaya gemerlapan oleh sinar lampu. Subhanallah

     Pukul 01.20 dinihari bis berhenti tepat didepan Hotel Western Al-Haritthia-AlMadina. Hotel bintang empat ini terletak hanya satu blok dibelakang pertokoan Bin Dawood yang berhadapan langsung dengan Masjid Nabawi. Dari depan Lobby hotel sudah terlihat gerbang dan menara Masjid Nabi itu. Jaraknya mungkin sekitar 50 - 100an meter saja. Ditempuh dengan berjalan kaki tidak sampai tiga menit.

      Diujung fajar itu suhu udara dikota Madinah lumayan dingin. Angin bertiup cukup kencang. Saya merasa tubuh menjadi segar kembali. Apalagi di Lobby hotel disediakan welcome drink dan beberapa kudapan khas Arab. Kurma tentu tak ketinggalan. Setelah itu baru Ibu Hajjah Dewi turun tangan sendiri membagikan kunci hotel.

     Terbukti bahwa saya mendapat fasilitas tidur berdua dengan isteri (double room) seperti yang tertera dalam buku petunjuk. Kalau saya tidak salah yang mendapat fasilitas double room hanya tiga pasangan suami isteri, ditambah dua orang bapak yang masing-masing pergi dengan seorang anak perempuannya. Sedangkan dua orang gadis itu ternyata malah berada dalam satu kamar bertiga (triple) dengan Ibu Hajjah Dewi AN Baluki, yang notabene adalah Pimpinan Rombongan PT Bina Travel. Ini sangat mengejutkan saya. Ibu Hajjah Dewi Baluki ternyata orang yang sangat rendah hati, ramah tamah dan  tidak sombong (barangkali juga gemar menabung). Adapun anggota rombongan yang lain mendapat fasilitas triple-room atau quard-room (sekamar bertiga atau berempat). 

Lobby Hotel Western Al-Harithia

     Dihotel Western Al-Harithia itu saya mendapat kamar yang terletak dilantai 9.  Nomor kamarnya 918,  Alhamdulillah semua anggota rombongan bisa mendapat kamar dilantai yang sama. Kamar no 918 berisi sebuah ranjang dobel ukuran “raja” (King Size). Didekat jendela kaca lebar terletak sebuah meja bulat dengan dua kursi berlengan. Tepat dihadapan ranjang terletak sebuah meja rias panjang dengan kaca besar. Diatas meja ada sebuah TV LCD ukuran 32 inci.  

     Kamar mandi yang cukup lengkap berada disamping kanan tempat tidur. Berhadapan dengan sebuah lemari pakaian yang berada persis disamping pintu masuk kekamar. Ada lemari es kecil dan safe deposit box yang tersembunyi dalam lemari. 

     Ditengah malam yang sepi dan dingin itu, didalam kamar hotel saya langsung menjalankan sholat Isya yang di jamak qosor dengan sholat Magrib.  Hal tersebut terpaksa saya lakukan karena saat berada di terminal kedatangan tidak ada waktu lagi untuk mendirikan sholat. Demikian pula saya kira yang dilakukan oleh kebanyakan anggota rombongan yang lain. 

     Mengapa pada malam hari itu saya sholat didalam kamar hotel? Mungkin sudah banyak yang tahu. Berbeda dengan Masjidil Haram dikota Mekah yang terbuka 24 jam sehari 7 hari seminggu alias tidak pernah ditutup sepanjang tahun, Masjid Nabawi ditutup pintunya sesudah sholat Isya berjamaah, atau kira-kira pukul 11.30 malam. Konon hanya satu pintu Masjid Nabawi yang dibuka selama 24 jam, yaitu Babus Salam yang merupakan pintu masuk menuju Raudah dan makam Rasulullah SAW.

Masjid Nabawi yang sangat indah

     Seingat saya, malam itu saya dan isteri tidak sempat lagi tidur dikamar hotel. Sebab pada pukul 3 pagi sudah harus bergegas menuju Masjid Nabawi untuk sholat sunah  sambil menanti saat sholat Subuh berjamaah. 

     Sudah empat kali saya mengunjungi kota Madinah. Setiap kali pula saya selalu terpesona dengan cahayanya dimalam hari yang sangat memukau. Keluar dari Lobby hotel, mata saya langsung menatap salah satu menara Masjid Nabawi yang berkilau tertimpa sinar. Indah sekali. Hotel Western memang terletak tepat dimuka lorong menuju Masjid Nabawi. Dari lorong itulah pemandangan sebagian masjid sudah bisa dilihat. 

     Diwaktu dinihari, lorong tersebut masih sangat sepi. Hanya terlihat beberapa orang yang jalan bergegas menuju masjid. Laki-laki maupun perempuan. Ada yang jalan sendiri, banyak pula yang berombongan. Jalan besar didepan hotel tampak masih lengang. Ada beberapa mobil polisi diparkir dipinggir jalan. Suasana terasa sangat tenteram. 

     Kalau tidak saya tahan, air mata pasti menitik keluar. Rasa haru, penuh syukur dan seribu satu rasa bergejolak dalam dada. Terakhir saya datang kekota Nabi ini enam tahun lalu. Lingkungan sekitar hotel masih tidak berubah. Namun begitu memasuki pelataran Masjid Nabawi, mata saya terbeliak.  Walaupun sudah sering mendengar cerita dari kawan-kawan yang baru saja pergi ketanah suci, tetap saja saya terpesona berat. Perubahan besar telah  terjadi di Masjid Nabi yang sangat mengagumkan itu. 


bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar