Kamis, 19 Mei 2011

"TENTANG TANGGAL 20 MEI "

Tulisan lepas:

 

"20 MEI....HARKITNAS.....ATAU HARKRUTNAS...?"

(Sebuah renungan untuk para Pemuda harapan Bangsa Indonesia)



 dr. Soetomo (30 Juli 1888 - 30 Mei 1938)



released by mastonie on Wednesday, May 19, 2010 at 8:23pm


Bulan MEI bagi bangsa Indonesia adalah bulan yang penuh dengan peringatan.
Selain Hari Buruh (tanggal 1 Mei) yang milik internasional, ada yang asli milik kita sendiri yaitu HARDIKNAS (Hari Pendidikan Nasional, tanggal 2 Mei) dan yang terakhir adalah HARKITNAS (Hari Kebangkitan Nasional, tanggal 20 Mei).
Apa sebetulnya yang membuat kita harus selalu memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) itu?
Tak ada kata lain selain untuk lebih memupuk dan memperdalam jiwa kebangsaan kita.
Istilah 'keren' nya barangkali adalah nasionalisme.

(Sebuah pertanyaan klasik yang harus selalu kita ajukan: sedalam apakah sebetulnya jiwa atau semangat kebangsaan kita saat ini? Wahai para pemuda harapan bangsa, bertanya dan berkacalah pada dirimu sendiri. Seberapa besar dan dalamnya cintamu pada negeri dan bangsamu?)

Lalu mengapa tanggal 20 Mei harus disebut sebagai hari “KEBANGKITAN”? Apakah bangsa kita dalam keadaan “tertidur”, sehingga harus “bangkit”? Tidak, kata “kebangkitan” itu adalah sebuah kata yang kalau dirunut sejarahnya adalah cermin dari sebuah kesadaran anak bangsa yang berani tampil menunjukkan eksistensi dirinya. Walau saat itu bangsanya dalam keadaan dikuasai atau dijajah oleh bangsa asing. 
Gedung "Stovia"
Marilah kita renungkan bersama catatan sejarah masa lalu bangsa Indonesia: tanggal 20 Mei 1908. Pada saat itu bangsa kita masih dalam cengkeraman kolonialis Belanda. Sekelompok pemuda inlander (pribumi asli) tanpa tedeng aling-aling berani membentuk sebuah perkumpulan bernama "Boedi Oetomo". 
Sebuah nama yang sangat orisinil (pribumi banget gitu loh), bahkan terdengar sangat Njawani (ber’bau’ bahasa Jawa).
Kalian pasti tahu dong siapa pelopor nya?
Eeeiit jangan dijawab: “Sumpah bukan saya loh”, becanda aja sih ente bisanya!
Yak tul, beliaulah yang bernama Soetomo. Lahir pada tanggal 30 Juli 1888 didesa Loceret, Nganjuk Jawa Timur dari keturunan Kiai dan ulama serta pangreh praja. Ayahnya yang bernama R. Soewadji adalah pemangku Desa Ngapeh. Kakeknya yang bernama KH. Abdurrachman adalah tokoh ulama terkenal di Nganjuk.
Jangan salah ya, pemuda Soetomo ini adalah dokter pribumi asli lulusan Stovia (School tot Opleiding van Inlandse Artsen, Sekolah Kedokteran untuk pribumi/bumiputra) di Jakarta.

 dr. Soetomo
Bayangkan, pada masa penjajahan Belanda itu, Soetomo berhasil lulus sebagai dokter. Bahkan kemudian juga meneruskan pendidikan kedokterannya kenegeri Belanda selama 4 tahun. Semangat kebangsaan pemuda pribumi yang satu ini sungguh sangat berkobar-kobar. Dia yakin haqul yakin, bahwa harus ada seseorang yangb berani memelopori untuk membuat sebuah "wadah". Yaitu sebuah perkumpulan yang dapat dipakai untuk meningkatkan pendidikan rakyat sekaligus sambil mengobarkan semangat kebangsaan (untuk berjuang meraih kemerdekaan) melalui kebudayaan.
“Boedi Oetomo” (disingkat BO atau sekarang BU) adalah sebuah organisasi modern pertama (untuk jaman itu) di Hindia Belanda yang berani secara terang-terangan menyatakan mempunyai “misi dan visi” meningkatkan pendidikan dan kebudayaan bagi para inlander.
Tidak hanya itu, dokter pribumi ini juga mewujudkannya dengan kiprah nyata dalam membantu bangsanya. Ia seringkali menolak dibayar oleh pasien-pasiennya. Semangat itu menular pula kepada seluruh anggota “BO”. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau organisasi para inlander ini begitu besar perannya dalam  membangkitkan semangat inlanders. Utamanya dalam upaya merintis perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Itulah sebabnya tanggal lahir BO kemudian (setelah Indonesia merdeka) diputuskan oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk menjadi “Hari Kebangkitan Nasional”.

Namun sayangnya sebelum cita-cita kemerdekaan terwujud, dr. Soetomo wafat.
Hanya 10 hari setelah peringatan 30 tahun berdirinya Boedi Oetomo.
Beliau wafat dan dimakamkan di Surabaya pada tanggal 30 Mei 1938.
Nah,  di jaman penjajahan sudah ada seseorang yang berani menjadi pelopor kemajuan bangsanya (yang masih dalam keadaan terjajah). Kini di saat bangsa Indonesia sudah lebih dari 65 tahun merdeka, masih adakah orang yang (paling tidak) mempunyai etos kerja seperti pemuda Soetomo?
Cobalah kita renungkan: dijaman (yang katanya sudah) merdeka ini masih adakah seorang dokter yang MENOLAK dibayar oleh pasiennya? 
Kenyataan yang kita hadapi sekarang: mau masuk rumah sakit saja calon pasien sudah harus bayar Down Payment (DP, uang muka) dulu. Tidak mampu bayar? Ya jangan sakit (begitu olok-oloknya).
Itu baru satu hal tentang kerelaan atau kesediaan berkorban dari seorang pejuang.
Masih adakah kerelaan dan kesediaan berkorban (untuk orang lain) semacam itu pada jaman dimana justru kita telah bebas merdeka dan diperintah oleh bangsa sendiri?
Ini adalah beberapa contoh sederhana dan gampang kita jumpai dimana saja:
Kalau anda berada didalam kendaraan umum, masihkah anda lihat ada orang yang merelakan tempat duduknya untuk para wanita dan kaum lanjut usia? 
Para laki-laki yang ada didalam metromini, buskota, busway atau KRL/KRD pura-pura tidak melihat dan asyik dengan dirinya sendiri. Mungkin mereka berpikir: bukankah sekarang sudah jaman kesetaraan “jender”? Lagipula kan sama-sama bayar? 
Seandainyapun masih ada laki-laki yang punya sifat ‘jentelmen’, pasti jumlahnya hanya sedikit sekali.
Dijaman reformasi sekarang ini, gepeng (gelandangan dan pengemis) dan anak jalanan makin banyak.  Setiap hari kita bisa melihat mereka nyaris dimana saja. Tapi organisasi yang punya misi untuk menyantuni orang-orang yang kurang beruntung ini bisa dihitung dengan jari. 
Yang banyak kita temui sekarang malah organisasi yang (justru) mengorganisir “gepeng dan anjal” untuk keuntungan sendiri! Mereka menyediakan kendaraan untuk anak-anak asuhnya. Kemudian orang-orang yang kurang beruntung nasibnya itu di drop disuatu tempat untuk mulai beraksi mengais rejeki dari rasa iba orang. Hasilnya nanti harus disetor kepada sang induk semang. Mereka yang  susah payah berpanas ria itu paling banter hanya dapat 10 sampai 25 % saja. 
Apakah ini bukan exploitation de l’homme par l’homme (pemerasan manusia atas manusia) gaya Indonesia merdeka?
Menyedihkan sekali. Sepertinya jiwa kebangsaan kita makin jauh terpuruk.
Para founding fathers (Bapak Bangsa) kita yang telah berada dialam keabadian (termasuk dr. Soetomo, para pejuang kemerdekaan dan proklamator) mungkin hanya bisa menyesali kelakuan generasi penerusnya yang makin lama makin "aneh-aneh dan model-model". 
Banyak sekali (mereka yang mengaku) pemimpin atau pejabat  malah melakukan perbuatan yang sangat tidak terpuji. Berapa banyak tokoh yang sudah tertangkap tangan oleh KPK ataupun Polisi karena kasus korupsi? Tidak hanya eksekutif, sekarang legislatif dan yudikatif pun seolah berlomba-lomba untuk jadi calon penghuni hotel prodeo alias bui bin penjara! 
Padahal para pendiri bangsa (yang telah tiada) dahulu tak pernah terbersit keinginan setitikpun untuk memperkaya diri sendiri. Mereka hanya berjuang meningkatkan derajat kehidupan bangsanya menjadi setara dengan bangsa merdeka yang lain.
Semboyan (bahasa Jawa) seperti “Rumongso melu handarbeni” (merasa ikut memiliki) dan “Rumongso melu hangrungkebi” (merasa ikut mempertahankan) sepertinya sudah tidak ada gaungnya lagi saat ini. Siapa sih yang masih punya rasa ‘ikut memiliki’ saat ini? 
Semua kemudahan dan sarana yang disediakan (oleh yang berwajib) untuk kepentingan umum, hampir selalu tidak berumur panjang. Ambil contoh telepon umum. Meskipun kini sudah jaman hape atau ponsel, tapi telepon umum ini jelas masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat banyak. Tapi apa yang sering kita lihat? Banyak telepon umum yang sudah tidak berfungsi lagi, Entah karena tempat koinnya rusak (bekas dicongkel) atau bahkan gagang teleponnya raib! 
Di sarana transportasi keadaannya lebih menyedihkan lagi. Sering kita lihat di KA, KRL atau KRD,  bahkan busway (yang relatif masih baru beroperasi di Jakarta),  benda-benda yang seharusnya sangat berguna sudah tidak berada ditempatnya lagi. Pintu otomatispun tidak berfungsi gara-gara diganjal batu! Toilet umum yang ada di terminal bis ataupun stasiun KA, maupun di Bandara (yang katanya internasional) penuh dengan coretan kata-kata jorok si tangan jahil. Gerendelnya tak bisa dipergunakan. Belum lagi kebersihan dan semerbak baunya yang sangat tidak sedap itu. 
Padahal  untuk membuang hajat (kita sendiri) ditoilet umumpun kita sekarang harus membayar!
Itu tadi sekilas gambaran bahwa masyarakat kita masih banyak yang belum mempunyai ‘rasa ikut memiliki’ (“sense of belonging”). Atau mungkin punya, tapi kadarnya masih sangat rendah sekali.
Adapun tentang soal ‘merasa ikut mempertahankan’, rasanya kadarnya juga sudah sangat berkurang. Masyarakat kita sepertinya sudah dihinggapi rasa cuek dan apatis yang berlebihan terhadap keadaaan yang ada disekitarnya. 
Rasa kebersamaan sebagai sebuah bangsa yang besar, (yang mendapat kemerdekaan bukan dari hadiah penjajah tapi dengan perjuangan keringat dan darah), terkesan sudah luntur. Tergerus oleh rasa egoisme yang sangat tinggi. Baik pribadi, kelompok, partai ataupun golongan. 
Itu barangkali yang menyebabkan Negara jiran sampai berani mengambil pulau kita, batik kita, bahkan kesenian dan lagu daerah kita!
Apa reaksi kita sebagai anak bangsa? Nyaris tak terdengar…..
Wahai para pemuda, dimana posisimu kini? Apakah kakimu telah menapaki jalur yang benar seperti yang dicita-citakan para pendahulu kita, para pionir seperti dr. Soetomo?
Ataukah kau lebih memilih ‘jalan halus nan mulus’ menggiurkan, seperti yang dijalani oleh para Pemimpin dan Pejabat yang menjadikan korupsi sebagai “gaya hidup modern” saat ini?

Oleh karena itu wajar saja kalau muncul sebuah pertanyaan besar:
“Apakah peringatan HARKITNAS (Hari KeBANGKITan Nasional) akan menjadi  awal dari sebuah era yang jadi pertanda  HARKRUTNAS (Hari KeBANGKRUTan Nasional)?”

Pilihan ada DITANGANMU wahai para pemuda bunga bangsa.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar