Minggu, 21 Oktober 2012

APAKAH PATUT KITA TAKUT PADA MAUT?



Sebuah renungan untuk kita semua


Ziarah kubur mengingatkan kita pada kematian

Suka hati saat bel berbunyi.

      Ada satu kenangan yang tentu membekas dalam ingatan mereka yang pernah bersekolah. Rasanya tidak berlebihan jikalau dikatakan, bahwa setiap murid selalu akan merasa riang gembira jika bel tanda pelajaran terakhir sudah usai. Itu tandanya mereka akan segera pulang kerumah. 

     Saya masih ingat, ketika bel berbunyi, serentak wajah teman-teman sekelas langsung berubah. Dari wajah tegang, lelah, bosan (bahkan tak jarang wajah ‘sutris’), menjadi wajah cerah ceria. Saat untuk pulang kerumah akhirnya tiba. 

      Mengapa semua anak selalu merasa rindu pulang kerumah dan selalu menyambut saat itu dengan riang gembira?  Ketulusan hati ibu, rasa lapar dan rindu akan mendapat masakan lezatnya, barangkali alasan utamanya. 

      Bayangan ibu yang menyambut dengan senyum manis, dan bayangan masakan lezat dimeja makan, memang merupakan salah satu sebab murid rindu pulang kerumah.  Tidak heran mengapa waktu sekolah dulu kita sangat menantikan terdengarnya bunyi bel tanda sekolah usai. 
Apakah pernah ada cerita seorang anak yang tidak mau pulang kerumah sesudah bubaran sekolah? Rasanya hampir tidak pernah ada.

      Mari bandingkan masa sekolah itu dengan kehidupan kita dialam fana. Sesungguhnyalah kehidupan manusia didunia ini bersifat sementara saja. Orang Jawa mengenal istilah: “Urip iku sak derma mampir ngombe” . Artinya, hidup hanya sekedar menumpang minum. Hidup itu tidak akan lama. Tak ada manusia atau mahluk lain yang akan hidup untuk selamanya. Sebab keabadian hanyalah milik Allah, Tuhan sang Maha Pencipta.

     Hidup ibarat “sekolah” bagi manusia, mahluk paling mulia yang diciptakan oleh Nya. Di alam fana inilah manusia terus belajar menimba ilmu apa saja. Nyaris sepanjang hayatnya. Namun perjalanan itu akan berakhir pada suatu ketika yang tidak satupun mahluk tahu kapan waktu itu akan tiba. 

     Kematian, itulah “bel terakhir” bagi manusia yang pasti akan datang. Kapan saja dimana saja. Tak satupun mahluk tahu kapan saat itu datang. Karena bel kematian sepenuhnya merupakan hak prerogatif Allah Swt. 

Siapkah kita ‘pulang’ kerumah Sang Maha Pencipta?

    Tak bisa dipungkiri, banyak orang yang merasa takut menghadapi kematian. Mungkin kita termasuk salah satu diantaranya. Oleh sebab itu sejak dulu sudah banyak kisah dan legenda yang bercerita tentang bagaimana manusia mencari ‘rahasia’ agar bisa hidup abadi. Bagaimana manusia berusaha sedapat mungkin menghindar dari kematian. Dengan cara-cara yang terkadang tidak masuk akal, bahkan menggelikan. 

    Padahal sebagai manusia yang percaya terhadap adanya Allah, Tuhan Sang Maha Pencipta, seharusnya kita juga yakin akan adanya Malaikat Izroil. Malaikat maut inilah yang diutus oleh Allah Swt untuk mencabut ‘mandat’ siapa saja yang sudah tiba saat “akhir tugas” nya didunia. Tak satupun mahluk bisa mengelak dan menghindari kematian. Allah Swt telah menegaskan dalam salah satu ayat didalam kitab suci Al-Qur’an: “Semua yang bernyawa akan merasakan mati...” (QS. 3 : 185).

    Jadi, sebagai manusia yang beriman dan taqwa kepada Allah Swt, patutkah kita takut menghadapi datangnya sakaratul maut? Seharusnya tidak. Sangat naif kalau kita percaya kepada Allah dan takdirNya, tapi kita takut menghadapi kematian.

    Saya ingatkan sekali lagi, saat mendengar bel tanda pelajaran sekolah berakhir, kita bersuka cita menyambutnya. Karena kita yakin akan pulang kerumah bertemu ibu yang sangat menyayangi dan pasti menyiapkan makanan lezat untuk anak-anaknya. 

    Lalu mengapa ketika “bel kematian” berdentang, kita takut mendengarnya? Kita sering sekali mengucap lafadz “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un” ketika ada orang meninggal dunia. Terjemah bebasnya adalah “sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Nya”. Oleh sebab itu, mati dapat diartikan bahwa kita akan kembali ketempat asal dan bertemu dengan Allah sang Maha Pencipta. Sudah pasti Allah Swt akan menyambut hamba Nya dengan kasih sayang dan siap pula memberikan tempat yang terbaik disisi Nya. Namun dengan "syarat dan ketentuan" yang berlaku.
Yakinlah, bahwa kasih sayang  Allah Swt kepada mahlukNya pasti jauh lebih besar dibandingkan dengan cinta kasih seorang ibu.

    Masih terbayang dalam kenangan, kalau kita nakal di sekolah dan mendapat rapor yang “kebakaran” karena lebih banyak nilai merahnya, maka Ibu akan marah besar!  Oleh karena itu kita akan berusaha sedapat mungkin tidak nakal dan mendapat nilai bagus disekolah. Itu adalah cara untuk menghindari kemarahan Ibu atau orang tua kita.

     Demikian pula seharusnya kita berpikir: mungkin kita takut menghadap kepada Nya karena merasa banyak dosa. Sehingga takut menghadapi maut yang akan datang tanpa permisi. Kita merasa selama ini banyak melanggar aturan Nya dan belum siap menebusnya dengan amal baik yang cukup.

     Lalu apa yang harus kita lakukan? Sederhana saja sebenarnya. Siapkan diri anda untuk menghadapi saat kematian tiba. Bagaimana caranya? Apakah jangan nakal dan berusaha dapat nilai bagus disekolah? 

     Ya! Kira-kira seperti itu, tapi bukaaaaan. 
Kalimat "jangan nakal" semestinya kita artikan  sebagai hidup yang harus sesuai dengan aturan yang dibuat oleh Nya. Nilai bagus dirapor sekolah itu artinya semasa hidup didunia kita harus berusaha berbuat baik dan tidak neko-neko. Dengan demikian maka malaikat  akan mencatat amal baik kita lebih banyak dibandingkan dengan dosa kita. 
Itu saja.

    Jadi sudah siapkah kita “dijemput” kapan saja tanpa rasa takut? 

   Insya Allah. Jika anda selalu ingat, betapa senangnya bel berbunyi tanda sekolah usai, seperti itu pulalah rasanya jika bel kematian anda nantinya berdentang. Suka ria karena akan bertemu Allah Swt yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, melebihi kasih sayang dari ibu siapapun juga.



Jakarta, medio Oktober 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar