Minggu, 21 Oktober 2012

"TENTANG KEMATIAN"




 Makam Letjen TNI (Purn) H. Soepardjo Roestam

“Wa maa kanaa li nafsinan tamuuta illaa bi idznillaahi kitaabam mu-ajjalaw…….”
(QS. 3 : 145)
(Dan tidak akan mati sesuatu yang bernyawa melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan…..).
“Kullu nafsin dzaa-iqatul mauti….”  (QS. 3 : 185)
(Tiap-tiap jiwa akan merasakan mati………)

Itulah cuplikan dua ayat didalam kitab suci Al-Qur’an yang merupakan  firman Allah SWT tentang kematian.

     Orang Jawa mengenal tembang Kinanti yang antara lain pupuhnya berbunyi:

Ana tangis layu-layu
Tangise wong wedi mati
Tangise alara-lara
Maras atine yen mati
Gedhomgana kencengana
Yen pesthi tan wurung mati

(Serat Centhini, Jilid VI: 367)

Makna secara keseluruhan adalah bahwa meskipun ditangisi, walaupun disimpan dalam gedung rapat-rapat, kalau ajal seseorang sudah tiba, maka kematian  tetap tak akan dapat dihindari.

 
     Sejatinyalah segala sesuatu yang hidup pasti akan mati. Itulah kodrat Illahi Rabbi. Sebagai hamba Allah yang tawakal, kita tentu tak akan khilaf bahwa mati hidupnya seorang manusia sepenuhnya adalah hak dan  rahasia yang hanya dimiliki Allah SWT. Kitapun harus senantiasa bersikap ikhlas. Tak dimanapun, tak kapanpun, tak siapapun, malaikat maut pasti akan datang menjemput.

     Dalam tulisan ini, saya hanya ingin berbagi cerita tentang manusia yang pada suatu saat pasti akan berjumpa dengan kematian. Kadang datangnya sang malaikat maut begitu mendadak. Tanpa tanda apapun.
Dalam rentang waktu tak sampai dua bulan, teman dekat, kolega, sahabat saya telah ‘bertumbangan’.

     Dibulan suci Ramadhan, seorang teman mendadak wafat. Almarhum adalah teman sekantor, bahkan pernah satu ruangan. Tetangga satu komplek (dalam satu Blok tapi lain RT). Orang -asli- Lampung yang santun dan lemah lembut tutur sapanya (walaupun bagi yang tidak terlalu akrab ia seperti sosok yang sinis). Saya mengenalnya sebagai orang yang tekun dalam bekerja. Tak banyak bicara. Kalau istilah iklannya: “Talk less do more”. Ia juga tak suka ghibah ngerumpi” membicarakan kejelekan orang. Perjumpaan saya terakhir dengannya adalah ketika terjadi gerhana bulan total dan kita bersama-sama melaksanakan sholat sunah Gerhana di masjid kompleks.

     Entah mendapat firasat apa, pada tengah malam hari  itu (selain memotret gerhana bulan) saya juga sempat mengambil foto close-up wajahnya. Teman saya itu tampak renta, rapuh dan letih. Diujung pagi hari berikutnya sesudah makan sahur dan bersiap mengambil air wudhu untuk sholat subuh, ia terjatuh di kamar mandi. (Selama ini meskipun jalannya tertatih-tatih, ia selalu memaksakan diri pergi ke masjid untuk melakukan sholat wajib lima waktu). Tubuhnya yang lemah langsung dilarikan ke RS Haji Pondokgede. Tak sampai sehari dirawat langsung wafat. Menurut hadits yang pernah saya baca, konon siapapun yang berpulang dibulan suci Ramadhan, sedang ia dalam keadaan berpuasa, maka baginya akan langsung dibukakan pintu surga,
Insya Allah. Aamiiin.

    Memasuki bulan Oktober, dokter keluarga yang telah mengenal dan ‘mengobati’ keluarga saya selama hampir 23 tahun lebih, juga mendadak wafat. Selasa pagi hari dibulan Oktober, ia tiba-tiba pingsan dikamar mandi. Gula darahnya naik sampai lebih dari 600. Sempat dibawa ke RS Polri Kramatjati. Tapi malaikat maut menjemputnya pada hari Rabu pukul 15.00 sore.

     Dokter H, adalah seorang wanita Nasrani sederhana yang ramah, lemah lembut tutur katanya dan sangat santun. Ia adalah dokter umum yang bertangan ‘dingin’. Senantiasa membesarkan hati pasien, dan melayani dengan hati. Ia juga tak pernah mempersoalkan perbedaan agama dan keyakinan para pasiennya.
Itulah yang membuat saya terkesan sejak pertama kali mengenalnya.

     Akan tetapi (ini yang membuat saya selalu heran) sekalipun beliau adalah  seorang dokter senior, ternyata ia sendiri menderita banyak sekali penyakit. Bagaikan ‘the Bionic Woman’, dokter H sudah pernah mengalami berbagai macam operasi. Yang paling ‘sederhana’ adalah operasi pengangkatan usus buntu. Lalu operasi by pass jantung yang ‘mereparasi’ nyaris semua (!) arteri jantungnya, karena terkena aterosklerosis. Konon arterinya sudah tertutup plak hampir 90 persen. Kemudian juga transplantasi ginjalnya.

     Menakjubkan sekali beliau bisa menerima semua kenyataan itu dengan pasrah. Bahkan setiap menceriterakan ‘kisah’ operasinya, beliau selalu berbicara dari sisi positifnya. Dan selalu dengan gaya yang jenaka. Operasi terakhir yang dikisahkannya dengan berapi-api adalah pemasangan pen baja dipaha kirinya, gara-gara jatuh dari kendaraan umum yang ditumpanginya. Walaupun dokter H adalah seorang yang hidup berkecukupan dan mempunyai mobil pribadi, tapi kalau bepergian kemana-mana ia selalu memilih naik kendaraan umum.
Kepada saya dan istri dengan ‘bangga’ dipamerkannya foto rontgen tulang paha kirinya yang kini disambung dengan sebuah pen baja. Betul-betul wanita “berkaki baja” dan memang berhati baja. Luar biasa.

    Beberapa minggu sebelum ia berpulang, saya dan istri masih sempat membawa anak bungsu saya berobat kepadanya. Anak saya  menderita demam tinggi sampai hampir pingsan. Seperti biasa diagnosenya selalu ‘pas’. Anak saya menderita radang di tenggorokan dan gangguan disaluran kencing. Beberapa jenis obat diberikannya dan ia berkeras hati tak mau dibayar! Beberapa hari setelah itu giliran istri saya yang jatuh sakit. Tidak bisa buang air kecil. Malam-malam saya telpon dokter H. Saya konsultasikan keadaan istri saya kepadanya. Iapun memberikan beberapa saran. Dan manjur!
Tenyata itu adalah pembicaraan saya yang terakhir dengannya.

     Oleh karena itu ketika salah seorang perawatnya (yang juga mengenal keluarga saya dengan baik) memberitahu isteri saya lewat telepon tentang kabar duka cita itu, saya terpana nyaris tak percaya. Allah SWT ternyata lebih menyukai ‘memanggil’ lebih dahulu keharibaan Nya, orang-orang yang baik dan luhur budinya.
Saya teringat sebuah pepatah bangsa Cina :
“Bambu yang lurus akan ditebang lebih dahulu”.

    Walaupun saya setuju dengan pepatah dari Cina itu, (yang artinya orang-orang yang baik budi pekertinya cenderung akan meninggal  lebih dahulu) tapi saya juga tetap ingat akan sabda Rasulullah SAW:
“Sebaik-baik manusia adalah mereka yang panjang umurnya dan baik juga amal perbuatannya”  (HR. Tirmidzi).

     Alhamdulillah, Menurut pendapat saya pribadi, dua orang kolega saya itu (meskipun seorang diantaranya adalah non muslim), memenuhi syarat sebagai “sebaik-baik manusia” seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW.
Mudah-mudahan beliau-beliau termasuk dalam golongan manusia yang panjang usianya serta baik amal perbuatannya. Insya Allah.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.
Semoga Allah SWT mengampuni segala kekhilafan almarhum dan almarhumah, serta memberikan tempat yang baik sesuai amal ibadah masing-masing.
Aamiiin.




Pondok Gede, suatu hari ketika hujan tak juga datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar