Selasa, 12 Juni 2012

"DARI PAGILARAN SAMPAI GARAHAN" ( 9 )


TIGA LANSIA MENYERBU..... WARUNG MAKAN!

(KISAH PETUALANGAN KULINER TIGA LANSIA PANGSIYUNAN)

Warung Nasi  "Tanpa Nama" di Garahan


-Bagian Kesembilan-

Kursi “buto” dibukit Gumitir

     Kabupaten nJember sebagian besar merupakan daerah yang berbukit-bukit. Sepanjang perjalanan dari Kalibaru menuju kota Jember yang jaraknya sekitar 40-an kilometer penuh dengan tanjakan dan turunan. Lepas dari gerbang batas kota dimana Pak Nur Widodo bernostalgia saat jadi penari ‘tayub’, terdapat semacam rest area (tempat rehat) disebelah kiri jalan. Terdiri dari beberapa saung atau pondok, letaknya saling berjauhan dengan kontur dataran yang naik turun. Kelihatannya masih baru saja direhab atau direnovasi. Konon tempat rehat ini dikelola oleh salah sebuah PTP. Oleh sebab itu lumrah kalau tampak terawat. Lapangan parkir cukup luas dan bersih.

 Kursi "buto" di bukit Gumitir
       Hawa sejuk langsung terasa dikulit. Segar terasa sampai kesungsum tulang. Seandainya saja udara Jakarta bisa sesejuk dan sesegar ini. Mimpi kali yeeee.... Boro-boro hawa segar, pengap dan macet iya. Melihat pemandangan sekitar sungguh menyejukkan mata. Sejauh mata memandang adalah hijau perbukitan. Tapi nanti dulu. Ada yang aneh disini. Bercokol dengan jumawa diujung pelataran parkir, sosoknya seperti sedang mengawasi perbukitan sekitarnya.  Ukurannya jelas bukan untuk ukuran mahluk biasa. Terbuat dari kayu entah jenis apa, sosok yang berdiri kokoh itu adalah sebuah kursi! 

       Untuk siapa dan untuk apa kursi sak hohah (sebesar) itu, saya tak butuh tahu. Pakde Bagio saja tidak bisa menjelaskan hal tersebut. Pasti hanya seorang ‘buto’ (eh, apakah buto termasuk golongan orang sih?) yang bisa duduk bercengkerama dikursi itu. Ukurannya yang jelas ekstra amat sangat besar sekali langsung jadi point of view dilapangan terbuka itu. Barangkali tingginya sekitar 3 sampai 4 meter. Luas tempat duduknya mungkin lebih dari 3 x 3 meter. Jadi kalau ada orang yang nekat naik keatas kursi ‘buto’ itu, mungkin bisa bergerombol sampai satu regu sekaligus.

      Sekitar setengah jam lebih berada dikawasan yang semilir sejuk menenangkan itu,  sambil mendengarkan cerita pak sopir yang tak lain adalah mas Didit. Mantan peragawan kondang di Jember,  yang putra sulung Pakde Bagio itu ternyata mewarisi bakat bercerita sang ayah. Padahal sebelumnya Pakde bilang mas Didit seorang pendiam. Mungkin dengan Pakde ia pendiam, soalnya ‘sang Kumendan’  sangar banget siiih. Buktinya mas Didit malah ngobrol ngalor ngidul dengan tamu-tamu lansia ini.  Wajahnya yang ganteng sangat santai bercerita.

       Bukit-bukit sekitar  Gumitir ini dari jauh kelihatannya masih sangat rimbun dan hijau menghutan. Begitu cerita mas Didit. Tapi jangan kaget, kalau bukit itu didaki maka yang ada  dipedalaman  adalah tanah yang gundul dan gersang. Pohon-pohonnya sudah bablas ditebang pembalak liar. Apalagi sewaktu jaman reformasi baru bergulir. Semua merasa punya hak untuk menebang pohon. Sesuka hati. Reformasi geeetu lhooooh.... Euforia reformasi tampaknya malah membuat masyarakat pedalaman jadi ‘repot nasi’. Artinya kurang pangan. Tak heran rakyat jadi semakin nekat.

Warung nasi 'tanpa nama' yang swalayan

      Hari semakin siang. Niat Pakde untuk memamerkan obyek wisata di Bukit Gumitir yang harus ditempuh dengan jalan kaki terpaksa tak bisa dipenuhi. Saya dan Pak Nur (juga isteri saya) merasa sudah tak mampu lagi jalan kaki jauh. Apalagi kalau harus naik turun bukit. Bisa-bisa malah pulang dalam kondisi di dabyang-dabyang (digotong). Maka perjalananpun diteruskan. Mobil melaju kencang menyusuri jalanan yang naik turun berkelak kelok. Suasananya mirip daerah Alas Roban, Jawa Tengah. Tapi turunan dan tikungan disini lebih banyak serta panjang sekali. 

     Tepat beberapa saat sesudah adzan dhuhur, mobil menepi kesebuah warung. Masih disekitar daerah Garahan. Ini adalah ‘obyek’ yang akan dipamerkan oleh Pakde kepada tamu-tamunya. Warungnya sih biasa saja. Dindingnya terbuat dari setengah batu campur tahu, weh anu, salah nding,  campur anyaman bambu. Sangat sederhana. Tapi isinya ternyata ruaarrr biasaaa. Begitu masuk kedalam, yang tampak hanya hamparan bermacam lauk pauk. Kebanyakan aneka gorengan. Didinding terdapat rak-rak gantung berisi aneka kudapan kemasan plastik nan mengundang selera.

Aneka ikan goreng di Warung tanpa nama Garahan
    Digelar diatas nampan plastik, tampak bermacam ikan goreng, baik ikan laut atau ikan air tawar. Potongannya lumayan besar. Ada telur dadar, telur ceplok, hati dan ampela serta ayam goreng. Tak ketinggalan lauk favorit banyak orang, Tempe dan tahu goreng. Ada pula bermacam lauk yang dibungkus daun pisang. Nyaris komplit plit.

     Angan saya langsung melayang ke Warung Bebas di Rambipuji. Tapi disini jangan mencari jangan (sayur). Yang ada hanya dedaunan mentah untuk lalapan.  Seperti di Warung Bebas, disini para pelanggan juga harus swalayan. Nasi dan lauk ambil sendiri. Nasi dan teh tawar gratis. Mau ambil berapa piring. Itu juga masih biasa. Yang istimewa adalah, sambal cobeknya. Pengunjung harus memesan khusus sambalnya kepada seorang ibu yang berada didapur. Si ibu ini tugasnya memang hanya khusus mengulek sambal. 

     Memakai cobek tanah liat ukuran cukup besar, sambal akan langsung diulek didepan mata anda. Soal tingkat kepedasannya, anda bisa menentukan sendiri jumlah cabe sesuai kehandalan lidah masing-masing. Jadi kalau nanti mulut anda berbunyi huh hah huh hah kepedasan, itu sepenuhnya adalah tanggung jawab anda sendiri. Secara moril, materiil maupun onderdil. Sambal ulek disini berwarna merah ‘manyala bob’. Murni hanya campuran cabe, garam, terasi dan tomat. Hebatnya, sambal itu gratis tis, alias cuma-cuma. Karena diwarung ini yang harus dibayar hanya seberapa banyak anda mengambil lauk pauknya. Mungkin kalau anda mau sangat berhemat, makan saja nasi putih dengan sambal dan minum air teh tawar. Ditanggung anda keluar tanpa bayar. Tapi masa’ anda tega sih? Boleh saja anda coba kalau memang benar-benar sedang bokek bin bangkrut. 

Sambel ulek Garahan
    Saya lihat Pakde Bagio dan Pak Nur Widodo langsung mengambil lauk pilihan hatinya. Sepertinya yang dipilih ikan laut goreng. Tidak jelas ikan apa namanya. Tapi bisa saya pastikan bukan ikan paus goreng. Dipiring kaleng ada setekruk dedauan dan sambal secobek penuh. Warnanya merah bibir gadis merekah, menandakan tingkat rasa pedas yang tinggi. Heran juga Pakde bisa makan dengan begitu lahabnya. Padahal yang dimakan bukan menu idealnya: nasi goreng.  Hanya mas Didit yang nampak malu-malu. Cah Bagus yang peragawan itu makan dengan tenang, sama sekali tidak mirip cara makan sang kumendan.

      Ternyata ada satu minuman yang sangat kondang disini. Dikemas dalam sebuah botol mirip botol bir. Namanya juga pakai embel-embel bir, "Bir Temulawak". Kata Pakde asli bikinan pabrik rumahan di sekitar daerah Jember.  Karena penasaran, saya mencoba minum sebotol, tapi tanpa es batu. 
Rasanya? Wuidiiiiih.. suueeeger tenan reeek.....Angaaaak hooooo...

     Seketika ingatan saya melayang ke jaman tahun 60-an ketika Kris Biantoro menyanyikan lagu yang populer pada waktu itu:
“Biiiiiiiiiir..... temulawaaaak.... lambemu njedhiiiirrrr.... eits salah nding...... yen dipikiiiiir ngrusakke awaaaak.......!!!”

       Yang jelas saya minum sebotol bir temulawak tapi  gak pakai mikir, takut kalau kantong saya yang malah tambah rusak.  
Opo hubunganeeee???



bersambung........

Minggu, 10 Juni 2012

"DARI PAGILARAN SAMPAI GARAHAN" ( 8 )


TIGA LANSIA MENJARAH GARAHAN....

 (KISAH PETUALANGAN KULINER TIGA LANSIA PANGSIYUNAN)

 Tiga turis domestik nampang di Stasiun Kalibaru

-Bagian Keempat-

     Tape dan pisang bakar sudah nyaris habis tadi malam. Dibabat ludes sambil berbincang seru dan saru ditambah tawa cekakakan diteras kamar hotel. Beberapa kali isteri saya sampai mengingatkan bahwa hotel ini bukan punya simbah kita. Tapi siapa peduli? Sama-sama menginap, sama-sama membayar, begitu alasan para pokrol bambu. Maka isteri sayapun menyerah sambil geleng kepala tapi akhirnya ikut cekakakan juga. Malam itu juga saya langsung pesan ke front office agar disiapkan makan pagi dikamar untuk empat orang sebelum jam enam pagi. Soalnya Pakde Bagio berjanji akan menjemput pagi sekali.

Hari Kamis, 10 Mei 2012

     Sehabis sholat subuh saya sudah siap menanti kedatangan ‘tour leader’. Saya nongkrong diteras menikmati semilirnya udara pagi sambil baca koran komplimen. Saya tidak berani mengganggu kamar sebelah, karena tidak yakin apa Pak Nur biasa bangun pagi. Sebelum jam enam sarapan pagi sudah diantar. Masing-masing kamar mendapat kiriman untuk dua orang. Menunya lumayan menggugah selera, soto ayam ala nJember plus kerupuk udang Puger (barangkali). Ternyata masih ada tambahan dua sisir roti tawar dan dua gelas teh manis hangat. 

      Pak Nur akhirnya muncul diteras kamar. Segar bugar seperti habis keluar dari sauna. Rupanya Pak Nur malah sudah sempat jalan kaki sampai ke alun-alun kota. Asem tenan. Tidak ajak-ajak, karena katanya tidak mau mengganggu saya yang sedang bulan madu. Bulan madu? Enak saja. Kan madunya sudah saya titipkan Bu Ruminah untuk dibawa pulang duluan ke Jakarta?

      Usai sarapan pagi Kijang Kencana melesat kerumah mas Didit, putra pertama Pakde Bagio.  Ia jadi korban ‘komando’ sang kumendan, karena harus mengantar kita ke setapsiyun nJember. Dari situ kemudian harus ngebut keluar kota untuk  stand by menjemput di stasiun Kalibaru yang sudah masuk wilayah Kabupaten Banyuwangi. Jaraknya sekitar 40-an kilometer! Benar-benar anak yang berbakti kepada orang tua.

Naik “sepur kluthuk” 

      Stasiun Jember dipagi hari masih tampak lengang. Saya langsung teringat insiden diskon kemarin sore ketika melewati loket penjualan tiket. Pakde buru-buru membeli tiket KA ekonomi Probowangi yang harganya konon hanya 7 rebu perak per orang.  Saya dan Pak Nur cuma mlongo. Mana ada tour leader yang mau mbayari seperti Pakde Bagio ini. Pasti segera bangkrut saknalika.
 Naik 'sepur kluthuk' Probowangi
    Sensasi menaiki kereta api klas ekonomi jurusan Probolinggo-Banyuwangi seakan langsung melontarkan saya ke ‘time-tunnel’. Ingatan saya terlempar jauh ketahun 60-an, ketika saya sering diajak simbah kakung naik ‘sepur kluthuk’ dari Semarang ke Surakarta lewat Kedungjati dan Gundih. Gerbong kereta masih terbuat dari kayu, begitupun tempat duduknya. Lokomotif yang menarik rangkaian juga masih berwarna hitam pekat dengan uap yang menyembur-nyembur. Sesekali dari dapur pacunya melenting bara api. Sering baju saya yang terbuat dari tetoron sintetis sampai berlubang-lubang terkena percikan apinya yang kabur kanginan kemana-mana. Suaranya menderu tak terlupakan. Jeesss jeesss jeessss...ojo jajan ojo jajan........ngooooooook.....!!!!

     KA ekonomi jaman sekarang jauh dari bayangan seperti itu. Semua bahan dari kayu sudah diganti dengan bahan lain. Loko nya juga sudah bertenaga diesel. Namun atmosfer yang diciptakannya tak berbeda jauh. Penumpangnya berasal dari strata kebanyakan, bahkan mungkin banyak kaum marjinal. Benar-benar kelas ekonomi. Walaupun tempat duduk juga bernomor, banyak penumpang yang seolah tak mengerti arti nomor kursi itu. Mungkin karena masih ada yang tuna aksara.

     Pakde Bagio sengaja mengajak tamunya naik KA Probowangi karena dua hal. Pertama karena KA akan melewati dua buah terowongan kereta api peninggalan penjajah Belanda. Terowongan berusia lebih satu abad itu adalah terowongan Garahan, yang panjangnya kurang dari 100 meter (dibuat pada sekitar tahun 1902). Satu lagi yang konon termasuk salah satu yang terpanjang di Indonesia adalah terowongan Mrawan. Nyaris hampir 1 kilometer panjangnya dan dibuat pada tahun 1910. 

"Osama bin Laden" jualan kue di KA 
Yang kedua, sudah lama Pakde Bagio ingin memamerkan ‘heboh’nya para mbok bakul Pecel pincuk Garahan. Mereka dengan sigap melayani para penumpang KA yang berhenti di stasiun Garahan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Konon pecelnya huenaaak dan murah harganya. Ini sudah beberapa kali diposting dalam status pesbuk Pakde.


     Begitulah, namanya saja KA kelas ekonomi, maka hampir disetiap setapsiyun KA ini akan menclok. Barangkali lebih dari 15 kali. Yang juga unik adalah banyaknya pedagang asongan yang berseliweran dengan bebas merdeka didalam gerbong. Salah dua diantara pedagang yang saya jumpai sangat mirip dengan Osama bin Laden dan maestro keroncong kita yang sudah almarhum, mbah Gesang.


Pecel pincuk Garahan yang ‘mbledhos’ rasanya....
Mbok Bakul pecel Garahan in action.
     Ketika kereta api berhenti distasiun Garahan, terjadilah situasi menarik yang memang sengaja akan dipamerkan oleh Pakde Bagio. Begitu kereta berhenti, sontak dari segala penjuru menyerbu para pedagang nasi pecel. Kebanyakan tentu wanita. Mbok-mbok pecel ini tergolong gagah berani. Mereka berebut penumpang, ada yang hanya menawarkan dari luar jendela, ada yang berani menerobos kedalam gerbong. Hanya seharga 3.500 rupiah, sepincuk nasi pecel plus kerupuk akan bisa dinikmati. Pakde Bagio langsung menyambar salah satunya. Saya hanya bengong menyaksikan betapa dahsyat warna sambal pecelnya. Pasti rasanya vuueedaasss sekali. Ternyata dugaan saya betul. Pecel pincuk garahan rata-rata ‘mbledhos’ rasanya. Pakde yang katanya jago lombok saja sampai merah padam wajahnya demi demo makan pecel itu. Untung isteri saya membawa bekal gelas air minum mineral dari hotel. Juga masih ada sisa tape bakar semalam untuk mengusir rasa lombok yang membakar bibir Pakde Bagio.  “Korban demo pecel garahan” kata batin saya, tapi tidak berani tertawa melihat wajah Pakde yang seperti udang bakar. Dan untungnya lagi saya tidak terbius bujukan Pakde untuk ikut membeli. 

Menginjak tanah tarian ‘Gandrung’....

     Sekitar pukul sepuluh pagi KA Probowangi berhenti distasiun Kalibaru. Ini sudah masuk daerah Kabupaten Banyuwangi, daerah paling timur dari Jawa Timur. Turun di stasiun Kalibaru, mas Didit ternyata sudah menunggu. Kasiaaan deh luuuuu....

      Sepanjang jalan sang ‘tour leader’ mulai pidato lagi. Sebentar lagi para tamu akan dibawa melintasi gerbang perbatasan kota antara dua Kabupaten Banyuwangi dan Jember. Letaknya didaerah Gumitir. Ini adalah adalah nama sebuah bukit (ada yang menyebutnya Kumitir), dimana sekarang dibangun semacam ‘rest area’. Tidak lama kemudian memang sampailah para pesbukers lansia itu disebuah gerbang.  

Mantan penari 'Ledhek' beraksi
Terletak dipinggir sebelah kanan (dari arah Banyuwangi), bertepatan dengan sebuah tikungan jalan, ada semacam monumen artistik. Monumen atau gerbang perbatasan itu dihiasi dengan patung seorang wanita yang sedang gemulai menari. Itulah yang disebut sebagai penari Gandrung. Tarian tradisional daerah Banyuwangi yang sangat terkenal. Konon adalah perwujudan rasa syukur para petani sehabis panen (menuai padi). Barangkali bisa disamakan dengan tari Tayub dan Lengger di Jawa Tengah atau tari Ketuk Tilu di daerah Pasundan.

     Tentu saja para wisdom (wisatawan domestik) tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk narsis disini.  Saya dan isteri (juga Pakde Bagio) berfoto dengan gaya biasa saja. Akan tetapi Pak Nur Widodo berpose seolah sedang menari Gandrung dengan luwesnya. Melihat gayanya, siapa sangka Pak Nur ternyata pernah jadi penari ‘Ledhek’. Mudah-mudahan bukan mantan penari  ‘ledhek kethek’ (topeng monyet).
Hua hua hua hua.....mangaaap...sori kecap bos.


bersambung.......

Jumat, 08 Juni 2012

"DARI PAGILARAN SAMPAI GARAHAN" ( 7 )


TIGA LANSIA MENCARI BAHAN BAKAR......

 Tamu dari mBetawi didepan Kampus Universitas Negeri Jember

(KISAH PETUALANGAN KULINER TIGA LANSIA PANGSIYUNAN)

-Bagian Ketujuh-

Masuk kota nJember.....

     Terminal Tawang Alun  terlewati, udara sedikit terasa panas, walau tak sepanas Jakarta. Sepanjang jalan sang ‘tour leader’ tak berhenti bicara. Semua diceritakan selengkapnya. Pakde Bagio persis plek seperti kamus berjalannya Jember. Kota Jember adalah ibukota Kabupaten Jember. Secara historis, Kabupaten Jember dibentuk dengan Staatsbland Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928. Walaupun hari lahirnya baru ditentukan bertepatan dengan tanggal 1 Januari 1929. Terletak diantara Gunung Bromo dan Dataran Tinggi (Kawah) Ijen, daerah seluas sekitar 3.293, 24 km persegi itu hanya berpenduduk tidak lebih dari 2,4 juta jiwa saja. Didominasi oleh suku Jawa dan Madura, yang terakhir ini termasuk si “pemandu wisata”.

    Kota Jember terlihat resik. Maklum slogannya berbunyi “Jember TERBINA”. Maksudnya Jember yang Tertib, Bersih, Indah dan Aman. Terletak pada ketinggian sekitar 3.300 an meter dari permukaan laut, maka suhu udaranya termasuk sejuk. Paling tinggi disiang hari hanya mencapai sekitar 32 derajat Celcius. Kalau malam suhu bisa melorot sampai sekitar 20 an derajat Celcius. Kontur dataran kotanya juga tampak berbukit-bukit, sehingga jalanan didalam kota naik turun lumayan tinggi. Saya yakin kalau ada becak dikota ini, tukang becaknya akan sengsara sekali.
     Mobil yang dikemudikan oleh mas Anto dibawa memasuki wilayah Universitas Negeri Jember (UNEJ). Pakde Bagio kentara sekali sangat bangga pada alma maternya. Hampir sepanjang masa aktifnya sebagai PNS, beliau berkarya disini. Kalau tidak boleh disebut sebagai “sing mbahurekso” (yang berkuasa) kampus. 

     Sejarah Universitas Negeri terfavorit dikota itu bermula ketika ‘triumvirat’ (tiga sekawan) yang merupakan cikal bakal” Universitas Jember bermaksud mendirikan perguruan tinggi. Mereka adalah dr. R. Achmad, R. Th. Soengedi dan R.M. Soerachman. Pada tanggal 5 Oktober 1957 mereka membentuk yayasan bernama Yayasan Universitas Tawang Alun. Yayasan ini kemudian mendirikan universitas swasta di Jember dengan nama Universitas Tawang Alun (disingkat UNITA). Pada tanggal 9 November 1964, terbitlah SK Menteri PTIP No. 151 Tahun 1964, perihal pembentukan Universitas Negeri Djember (Uned). Rektor pertamanya tentu saja salah seorang ‘cikal bakal’ nya, yakni dr. R. Achmad. Untuk mengenang jasa ‘triumvirat’, kini patung ketiga orang itu berdiri dengan megah digerbang masuk Universitas Negeri Jember. Walau awalnya hanya punya 5 fakultas saja (termasuk cabangnya di Banyuwangi), kini Unej telah memiliki 13 Fakultas dengan 2 kelompok Program Studi yang setara Fakultas (Program Diploma, S1, S2 dan S3).

     Saya terhanyut membayangkan cerita itu. Areal kampus universitas Jember cukup luas dan kini tampaknya berada ditengah kota. Suasana hijau pepohonan hampir mendominasi kampus perkuliahan itu. Mirip sebuah hutan kota. Kelihatan bahwa Unej telah ‘well-planned’ (dirancang dengan baik). Konon putra/putri Pakde Bagio adalah juga alumni Unej. Mas Anto bahkan kini termasuk salah seorang staf di PT negeri itu. Tapi siang ini kesetiaan seorang anak kepada bapaknya telah membuatnya berani meninggalkan ‘pos’. Itu semua demi mentaati perintah sang “kumendan” yang kedatangan tamu dari jauh. Siapa duluuuu, Pak Kumendan Semeru jeeee......pantang dilawan.

      Hari menjelang asar ketika pengembaraan keliling kota jilid pertama berakhir, atau harus diakhiri. Soalnya waktu bolos mas Anto sudah habis. Jadi harus kembali ke kampus untuk absen saat jam pulang tiba. Tamu dari Jakarta diantar ke sebuah hotel yang tak terlalu besar tapi asri dan cekli. Terletak diujung pertigaan jalan Riau, hotel yang termasuk masih baru itu bernama “Seven Dreams”. Mungkin maksud Pakde mengisyaratkan supaya nanti malam tamunya mimpi indah sampai langit ke tujuh. Saya sangat mungkin mimpi indah. Soalnya saya menginap bersama istri. Lhaa kalau priyagung dari Larangan yang ‘sorangan wae’, mau mimpi apaaaa? Sangat mungkin Pak Nur Widodo malah cuma kadhemen (kedinginan). Sori kecap bos.....
 
     Pakde dan putranya pamit pulang untuk datang lagi menjelang sore nanti. Pakde harus mengantar mas Anto balik kekantornya. Setelah itu kembali ke hotel lagi. Persis seperti setrikaan.
 
      Kamar saya dan kamar Pak Nur terletak berdampingan. Walaupun hanya ‘standard room’, kamar berukuran sekitar 5 x 5 meter itu tampak rapi. Sebuah ranjang ‘double’ terletak ditengah-tengah. Headboard nya mepet kesalah satu dinding yang berwarna cerah. Sebuah TV LCD ukuran 24 inci merk terkenal berada didinding depan ranjang. Sayangnya alat pendingin ruangan dipasang tepat memancar kearah ranjang. Kamar mandi berada diujung ruangan. Kecil saja, lengkap dengan kloset monoblok, tapi tanpa shower. Dipojok terletak wastafel, bak mandi kecil lengkap dengan gayungnya. 

     Wah, bakalan mandi dengan cara ‘gebyar gebyur’ nih. Saya sudah jarang mandi ‘gaya gayung’, apalagi gaya ‘bebek adus kali’. Soalnya dirumah saya semua kamar mandi sengaja hanya disediakan shower. Bukannya sombong, ini justru kiat pengiritan air tanah bung! Mandi setengah jam memakai shower, hanya menghabiskan air sekitar satu setengah ember saja. Bandingkan kalau mandi memakai gayung. Setelah mandi saya meluruskan kaki sejenak. Baru mulai terasa capainya. 

Kisah lansia berjuang mencari diskon

     Jam 3 siang ini Pakde akan menjemput lagi. Soalnya dua orang lansia mBetawi sudah harus antri beli tiket kereta untuk kembali ke Jakarta. Sebelum berangkat menuju setapsiyun nJember kita mampir kios fotocopy langganan Pakde Bagio. Tidak tanggung-tanggung masing-masing lansia meng kopi KTP nya sampai sepuluh lembar. Buat persediaan. Toh KTP sudah berlaku untuk seumur hidup.

      Bagi para “railway frequent travellers” pasti sudah mafhum aturan baru PT KAI. Harga tiket KA bersifat dinamis dan fluktuatif. Artinya pada akhir pekan dan hari-hari libur  tiket KA bisa mencapai harga maksimal dibanding harga pada hari biasa. Selain itu ada kebijaksanaan untuk memberikan diskon untuk para lansia yang berumur diatas 60 tahun. Mereka ini biasanya sudah mendapatkan KTP untuk seumur hidup. Karena itu, untuk mendapatkan diskon tiket, penumpang harus menunjukkan KTP asli plus kopinya. 

     Lain ladang lain belalang, lain stasiun lain aturannya. Sore itu ketika antri diloket stasiun Jember, ternyata menemui aturan baru. Bagi lansia yang butuh potongan (reduksi) harga tiket KA,  harus menyiapkan 4 (empat) lembar kopi KTP. Tidak tanggung tanggung saudara, EMPAT lembar! Padahal di stasiun Gambir dan Pekalongan cukup SATU kopi saja. Petugas loket bergeming. Intinya pembeli harus mentaati aturan yang ada. Tentu yang kalah yang beli tiket. Untung kita sudah sedia payung sebelum dipentung.  Urusan kopi KTP beres. Sekarang tinggal membayar tiketnya. 

     Diruang pembelian tiket itu jelas terpampang logo beberapa bank. Itu menandakan bahwa tiket KA bisa dibayar kontan atau pakai kartu kredit maupun debit. Saat tiket diulurkan dan saya acungkan kartu debit saya, petugas yang (sebetulnya) berwajah manis tapi mahal senyum itu menolak. Ia berkata ketus:
“Wah, kalau bapak bayar pakai kartu debit, harus bilang lebih dulu..!!”
“Kata siapa?” tak kalah ketus saya menjawab.
“Aturannya memang begitu”
“Mana aturannya? Kalau aturannya seperti itu seharusnya Saudara yang tanya dulu, saya bayar kontan apa pakai kartu. Jangan mau menang sendiri” saya mulai naik darah.
“Dimana saja merchant yang pasang logo menerima kartu kredit atau debit tak pernah pasang aturan kalau yang membayar pake kartu harus ngomong dulu. Pernah belanja di supermarket atau mal nggak? Kalau disini ada aturan lain, saya minta lihat dimana itu aturan! Tempel aturan itu dikaca sini, biar semua orang tahu!” Saya mulai bicara keras. Mangkel aku. Semua orang melongo, memperhatikan debat kusir yang terjadi diloket.
“Saya minta bertemu atasan saudara. Mana dia?” Saya tantang petugas loket itu. Wajahnya mulai memucat. Saya pikir gak level kalau saya berdebat dengan petugas yang hanya menjalankan perintah. 

    Mendengar keributan itu, Pakde Bagio ikut mendekati loket. Wajah sangarnya menambah suasana semakin tegang. Seorang laki-laki paruh baya berseragam PT KAI datang mendekat.
“Saudara pimpinan disini?” langsung saya berondong dia.
“Memang benar ada aturan siapa yang mau membayar pakai kartu debit harus memberi tahu sebelumnya? Mana aturan itu, saya pengin tahu” saya terus nyerocos saja.
Laki-laki itu diam saja, tapi dia berbisik-bisik dengan si penjual tiket. Tampak si petugas mencorat coret tiket yang sudah tercetak dan mulai mengetik lagi.
“Mohon tunggu sebentar pak, sedang diproses. Silakan bapak nanti kedalam saja” akhirnya dia bicara juga.
Selama perdebatan itu, kegiatan diloket pembelian tiket nyaris berhenti. Padahal sudah banyak orang yang antri. Saya tak peduli. Birokrasi macam apa ini. Membuat aturan seenak perut sendiri. Pakde Bagio komentar:
Wong ayu ayu koq ora biso ngguyu...(orang cantik tidak bisa tersenyum)”. Si petugas penjual tiket memang manis. Cuma wajahnya sangat tidak ramah.
Akhirnya urusan tiket beres juga. Saya masuk kedalam dikawal Pakde Bagio. Disitu saya harus memasukkan nomor PIN kartu debit saya. 

     Sambil mengumpat panjang kali lebar, tiga lansia meninggalkan setapsiyun nJember. Bahkan Pakde Bagio yang terkenal di seantero Jember ikut kesal melihat perlakuan seperti itu. Bahna jengkel, Pakde akhirnya hanya mengajak tamunya keliling kota lagi. Sampai hari menjelang petang, rombongan kembali kehotel lagi. Ada sedikit waktu untuk istirahat sebentar (lagi).

Keliling kota nJember mencari bahan bakar dapatnya...... tape bakar

     “Ku ‘kan kembali saat usai magrib nanti...” begitu kata Pakde Bagio berjanji. Kita bertiga hanya mengamini. Kalau Pakde tak kembali, pasti kita yang kojur (susah). Sebab inilah pertama kalinya kita masuk kota Jember. Bisa “hilang” kalau tak ada yang mengantar. Kan tidak lucu ada lansia Jakarta hilang dikota nJember, terus besok paginya jadi ‘headline’ di Jember Pos. Hallaaah. Tapi saya yakin Pakde pasti kembali. Pertama, karena beliau tak ada tongkrongan ‘tukang mbujuki’ (penipu). Kedua, karena Pakde sekarang hanya sendirian dirumah. Bude Bagio dan mas Andi, putra bungsunya masih ‘terdampar’ di mBandung. Jadi pasti Pakde bosen dirumah sendirian. 

     Sesuai janjinya, sehabis magrib Pakde sudah menunggu diteras. Mentari telah hilang dari wajah kota Jember. Suhu udara kini agak sejuk. Angin sepoi-sepoi tidak basah. Pakde masih bersikeras menyopir sendiri. Padahal saya dan Pak Nur sebetulnya juga sudah siap menggantikan. Tapi ada saja alasan untuk menolak, kuatir kalau kita salah jalan. Barangkali. Tujuan pertama ternyata pompa bensin alias SPBU. Sang kijang butuh minum rupanya. Baru saja mau masuk, sudah tertera tulisan: “BENSIN HABIS”. Saya terkesiap. Bisa gawat nih, kalau tidak dapat bensin. Pakde berusaha menghibur:
“Tenang sajaaaa, masih banyak pom bensiiiin brooo....” katanya sambil putar balik.
“Pom bensin sih banyaaak, kalau bensinnya kosong?” jawab saya. Semua terbahak-bahak. Tapi ternyata benar. Ada dua atau tiga SPBU yang kita datangi. Kondisinya semua sama. Bensin habis! Diam-diam saya menggerutu. Rupanya begini permainan tengkulak. Semakin jauh dari Ibukota, semakin runyam rakyat dipermainkan. Ini pasti ulah para spekulan. Ditambah oleh sikap pemerintah yang tidak jelas. Bubrah semuanya. 

     Saya agak khawatir. Kalau malam ini kijang tak diberi minum, bisa runyam keadaan. Kita masih harus keliling keliling kota jeee. Kalau sampai mogok, siapa yang mau mendorong? Walaupun badan gede-gede begini tapi kan sudah ....uzur bin tuwir? Hanya Pakde yang berusaha stay cool, mungkin biar penumpangnya tidak tambah panik. Untuk membunuh waktu, Pakde menyopir keliling kota Jember diwaktu malam. Sempat pula berhenti di alun-alun kota Jember. Saya terpana. Tanah lapang ditengah kota ini begitu bersih, terawat dan asri. Beberapa kelompok manusia tampak menghibur diri disekeliling alun-alun. Tapi sangat tertib. Tak tampak ada pedagang kaki lima. Rupanya tenda kaki lima dipusatkan hanya disatu bagian saja dari alun-alun. Sangat teratur. Seandainya Jakarta bisa seperti ini.....saya berkhayal.

 Makan malam di Jember
      Kijang bergerak lagi, saya tetap was-was. Hari sudah makin malam, jadi orangnya yang harus diisi ‘bensin’. Rupanya Pakde punya langganan resto andalan. Gabungan antara resto Jawa dan Sunda. Soalnya ada tempat untuk lesehannya. Ternyata menunya dominan Jawa. Malam itu yang dipesan ayam bakar kremes, urab, sea food bakar dan...tahu tempe goreng! Tidak butuh waktu lama untuk menghabis ludaskan semua yang terhidang. Gusis siiis. Itu sudah jelas. Jelas semua menderita ‘honger oedem’, sakit lapar maksudnya.

     Sehabis makan keliling kota lagi. Santai sekali ‘nJember diwaktu malam’. Tak ada kemacetan, sebagian daerah malah nyaris lengang. Beberapa kali mata saya bersirobok menatap gerobak dipingir jalan. Tulisannya “Tape Bakar”. Wah, ini dia. Saya jadi ingin tahu. Tepatnya, saya jadi ingin beli. Yang saya tahu, tape biasanya digoreng. Dapat nama kehormatan “Rondho Royal”, entah apa maksudnya. Kalau tape bakar, jangan-jangan diberi nama “Rondho Pelit”.
“Pir, tolong minggir sebentar kalau ada yang jual tape bakar. Saya mau beli..” Seisi kijang tertawa ngakak mendengar 'komando' saya.
“Siap pak kumendan!” Pakde menjawab sambil ngakak juga. Saya dicubit oleh isteri sambil bisik-bisik: “Karo priyayi sepuh ojo kurang ajar (jangan kurang ajar kepada orang tua).... ”. 
Saya tambah ngakak. Isteri saya tambah mbesengut (cemberut).

Mampir membeli tape bakar
   Sambil menunggu tape dan pisang dibakar, kita terus bercanda. Siapa yang akan  menyangka, malam ini sebenarnya tujuan kita mencari BAHAN BAKAR, koq dapatnya malah TAPE BAKAR........ untung tidak bertemu dengan wan ABU BAKAR.... Haiyaaaaa.....

      Biar saja laaah, kalau kijangnya mogok ya ditinggal saja dipinggir jalan. Siapa yang sudi mendorong, perut sudah kekenyangan begini. Paling-paling juga kijangnya hilang......eh, tapi gak mungkin lah yaaauuuuu, kijangnya Pakde Bagio, mana bisa ilang......



bersambung.......
    

"DARI PAGILARAN SAMPAI GARAHAN" ( 6 )


TIGA LANSIA BINGUNG DI GUBENG...

 Sarapan di Stasiun Gubeng

(KISAH PETUALANGAN KULINER TIGA LANSIA PANGSIYUNAN)


-Bagian Keenam-

Hari Rabu dinihari, 9 Mei 2012
Stasiun Tawang yang penuh kenangan

     KA Sembrani terlambat sekitar setengah jam ketika meninggalkan stasiun Pekalongan. Hawa dingin dalam gerbong membuai angan kealam ‘panglipuran’ alias mimpi. Saya terperangah bangun ketika kereta berhenti di stasiun Tawang Semarang. Hampir pukul 3 pagi dan saya terloncat bangun mengira sudah sampai di tujuan. Selama hampir 30 tahun kota Semarang sudah saya tinggalkan. Kota yang meninggalkan kenangan masa bersekolah yang penuh haru biru. Kota dimana anak-anak saya lahir. Kota dimana saya merintis karir kepegawaian dari nol besar. Kota yang sekarang mungkin akan jarang lagi saya singgahi, semenjak ibu berpulang. Ada rasa nyeri menusuki hati. Terkenang saat berdiri bersama almarhumah ibu diperon stasiun ini. Waktu itu saya berhasil membujuk beliau pindah sementara waktu ke Jakarta untuk berobat.
Meski akhirnya dua hari sebelum Lebaran tahun 2011, Ibu ngotot (berkeras) minta kembali ke Semarang lagi. Hanya beberapa bulan setelah itu beliau wafat.

      Stasiun Tawang yang kerap terlanda rob, tapi menggoreskan kenangan tak terlupakan. Kini saya hanya bisa memandang lewat jendela kereta. Entah kapan saya akan turun lagi di stasiun ini. Ketika Sembrani kembali bergerak, meluncur digelap ujung pagi, anganpun pudar. Meninggalkan rasa sentimentil yang tak bisa saya hindari. Saya melihat dua sohib masih terlena dengan gaya sing-masing. Yang dari nJember terlelap dengan gaya ‘kumbokarno-an’. Yang dari Tangerang lelap masih dengan mencengkeram BB nya yang setia. Saya pikir yang dirumah pasti akan iri, tidur saja yang dipegang malah hape.

Pertama kali ‘mendarat’ di stasiun Gubeng

      Seumur hidup saya selalu menginjak kota Surabaya lewat stasiun Pasar Turi, kalau melalui jalan darat (kereta api). Atau lewat Bandara Juanda kalau datang dengan pesawat terbang. Waktu menunjukkan pukul 7.30 pagi saat Sembrani merapat di stasiun Pasar Turi. Tepat dengan jadwal waktu yang tercantum di tiket. Itu berarti sang masinis sukses ‘ngebut’ menebus keterlambatan waktu tiba di Pekalongan.

     Angin pagi berhembus segar. Udara seputar stasiun sangat cerah. Sebagai ‘tour leader’ merangkap tuan rumah, Pakde Bagio bertindak cepat. Langsung nego dengan sopir taksi gelap untuk ‘rokade’ (lukir kata orang Jawa) ke stasiun Gubeng. Karena KA Mutiara Timur bertolak dari stasiun Gubeng, maka calon penumpang jurusan nJember dan mBanyuwangi yang turun di Pasar Turi harus segera menuju Gubeng. Jam keberangkatan KA masih pukul 09.00 pagi, jadi masih ada sedikit waktu untuk pindah stasiun sekaligus mencari sesuatu untuk mengganjal perut. Maklum semalam hanya sempat mengunyah sepotong roti (yang didalamnya tak ada ‘cinta’, seperti judul film). Ini saat bersejarah bagi saya, pertama kali menginjak stasiun Gubeng Surabaya yang ternyata ada dua, Gubeng Lama dan Gubeng Baru. Stasiun nya sih cuma satu, hanya letaknya saling bertolak belakang menghadap dua jalan yang berbeda.

     Pakde langsung menggiring tamunya kesemacam ruko yang berderet disamping stasiun. Isinya adalah warung yang menjual cam-macam makanan. Begitu kondangnya Pakde, belum sempat duduk dikursi sudah ketemu kenalan lama. Saya teringat sewaktu di stasiun Gambir, Pakde juga ketemu sobat lamanya. Ruaaar biasa, terbukti Pakde Bagio memang benar-benar bukan orang ‘biasa’. Kenalan dan relasinya ada dimana-mana.

     Menu diwarung ini memang cem-macem. Sayangnya cuma satu, disini tidak tersedia nasi goreng! Yang ada hanya aneka soto (babat, daging atau ayam) dan beberapa menu Jawa Timuran (rawon dan konco-konco nya). Anehnya menu soto Gubeng yang terkenal itu malah tidak ada. Konon warung soto Gubeng bukan distasiun Gubeng tempatnya. Lucu. Saya terpana melihat kedua sohib saya bingung membaca menu. Padahal dua-duanya sudah memakai kacamata. Pakde jelas kuciwa karena menu favoritnya tidak ada. Lha priyayi yang satu itu cari menu apa lagi? Saya dan isteri sudah langsung menentukan pilihan: soto ayam. Ini satu-satunya menu yang (saya anggap) paling cocok dipagi hari. Mungkin rikuh terlalu lama memilih dan melihat saya sudah menentukan pilihan, akhirnya Pak Nur ikut pilihan kita. Kini tinggal Pakde yang masih bimbang dan ragu. Ma-lama pasti juga malu. Maka akhirnya Pakde memilih menu nasi gudeg buat tombo judeg (pengobat bingung). Sayangnya lagi soda gumbira juga tidak ada! Lha masa’ sih, pagi-pagi sudah mau minum yang serba gumbira? Neh-aneh saja sampiyan Pakde. Tapi tampaknya hari ini memang bukan hari baik kita. Yang dipesan soto ayam yang keluar soto daging. Entah Pak Nur yang salah tulis atau kokinya yang salah baca. Sampai sekarang tetap gelap, TIDAK JELAS. Berhubung perut memang glondangan, walaupun salah menu tetap saja sikat bleeeeh.....

      Sehabis sarapan kita berempat masuk ke stasiun Gubeng. Kesan pertama saya, stasiun Gubeng bersih dan terawat. Aturan PT KAI yang melarang non penumpang masuk peron sangat membantu terjaganya kebersihan. Antara Gubeng Lama dan Gubeng Baru ternyata hanya dipisahkan beberapa lajur rel kereta saja. Karena waktu menunggu cukup lama, maka kita masuk keruang tunggu eksekutif yang tidak terlalu luas. Disitu ada kamar kecil dan kafe didalam (yang ternyata harganya selangit) serta full berpendingin udara. Cukup nyemoot (nyaman) pokoknya.

Melewati daerah korban “Lumpur Lapindo”

      KA Mutiara Timur adalah kereta api yang rangkaiannya mengandung gerbong eksekutif dan gerbong ekonomi. Gerbong eksekutif justru ada dibagian belakang rangkaian (arah ke nJember). Nanti sesampai di mBanyuwangi, gerbong eksekutif akan jadi yang terdepan (arah ke Surabaya). Ini terjadi karena rangkaian KA tidak bisa ‘diputar’ se-enaknya. Susah kan mutar rangkaian kereta yang seperti ular naga panjangnya?

      Tepat pukul 09.00 pagi KA Mutiara Timur bergerak meninggalkan stasiun Gubeng. Rombongan lansia mendapat tempat duduk digerbong eksekutif nomer 3, kursi nomer 7 ABCD. PT KAI membuktikan dirinya betul-betul sudah ‘on line’. Empat tiket itu sudah kita beli sejak dari stasiun Pekalongan. Jadi tempat duduk ‘dobel’ memang seharusnya tidak akan terjadi lagi. Kecuali ada yang SALAH BACA tiket!

      Begitu kereta api bergerak Pakde sudah mengumumkan, bahwa kereta akan melewati daerah yang terkena imbas lumpur Lapindo disekitar Sidoarjo. Letaknya disebelah kiri dari gerbong. Saya dan isteri beruntung mendapat kursi yang berada disebelah kiri. Ini juga akan jadi momen bersejarah bagi saya, karena baru untuk pertama kali akan melihat dahsyatnya lumpur Lapindo. Tentu juga korban yang diakibatkan oleh ‘amukan’ lumpurnya. 

 Rumah korban lumpur Lapindo
     Jarak Surabaya – Sidoarjo ditempuh tidak sampai 20 menit. Pakde langsung memberi aba-aba untuk mempersiapkan kamera. Karena mengambil gambar dari jendela kurang leluasa, saya dan Pak Nur lari ke bordes (sambungan antara satu gerbong ke gerbong lain). Disini agak sedikit longgar untuk beraksi.  Saya agak kecewa karena yang dapat terlihat hanya hamparan dinding tanggul yang membendung luapan lumpur saja. Namun agak terhibur juga karena beberapa rumah dan bangunan yang menjadi korban masih ada juga teronggok dipinggir-pinggir rel kereta. Hati saya tercekat pilu membayangkan  kini penghuni perkampungan dan bangunan yang tergusur paksa itu hidup terlunta-lunta. Bahkan sampai kini nasibnya tidak jelas. Gara-gara tak perbah ada ketegasan pemerintah dalam melaksanakan sendiri keputusannya. Saya lebih muak lagi tatkala melihat hamparan spanduk berwarna kuning  milik salah satu partai, yang tega-teganya berkampanye tentang kehebatan partainya! Dasar muka badak. Mengurus korban lumpur Lapindo saja tidak becus, masih nekat mau maju jadi pemimpin negara.

Makan siang diwarung ‘bas-bebas’ 

      Pakde sudah mengumumkan lagi, bahwa nanti kita tidak akan turun distasiun nJember tapi di stasiun Rambipuji. Sebuah stasiun kecil beberapa kilo sebelum masuk kota nJember. Saya masih belum begitu jelas alasannya. Sekilas saya dengar alasannya karena kita akan makan disebuah warung makan yang sangat istimewa. Entah apanya yang istimewa. 

      Jadwal masuk stasiun Jember sesuai tiket adalah pukul 13.04 siang. Namun beberapa puluh menit sebelum pukul 13.00 kereta sudah berhenti di stasiun Rambipuji. Berempat kita bergegas turun. Dipagar ruang tunggu tampak seorang pemuda yang sudah menunggu. Rupanya itulah mas Anto, putra kedua Pakde Bagio yang rupanya sampai harus membolos (beberapa jam) dari kantor untuk menjemput ke stasiun. Ini semua demi menaati perintah sang ayah yang setengah mati berusaha menyenangkan hati tetamunya. Alamaaak, sampai anak sendiri tega di ”korban” kan.

     Bukan Pakde Bagio kalau mau kehilangan momen bernarsis ria. Baru saja kereta berlalu, Pakde sudah memerintahkan kita semua untuk berfoto dengan latar belakang stasiun Rambipuji. Orangnya tidak penting. Yang penting adalah tulisan nama stasiunnya! Mas Anto segera mendapat perintah untuk mengambil foto. Bahkan PPKA yang baru saja ‘menyemprit’ KA ikut diperintah Pakde Bagio untuk ikut berfoto ria. Siapa berani menolak perintah orang segede Pakde? Coba? Sambil berwajah bingung, sang PPKA pun akhirnya masuk ‘frame’, ikut kefoto juga.

      Rombongan segera menuju kendaraan yang sudah siaga satu didepan stasiun. Sebuah “Kijang Kencana” (merk karoseri mobil Kijang paling terkenal di masa jayanya) bernomor polisi B-2030-DZ. Waduh, Pakde sampai harus menyiapkan mobil jauh-jauh dari Jakarta, saya membatin ngungun (takjub dalam hati). Ternyata itulah mobil pribadi Pakde yang memang sengaja tak pernah diganti plat nomornya sejak dibeli. Tapi jangan heran, tak satu orangpun Polisi nJember yang berani menangkap Kijang sakti ini.
Siapa dulu yang punya. Mobil Pakde Bagio dilawaaaan......

Didepan "Warung Bebas" Jember
  Tak lama kemudian mobil yang dikemudikan mas Anto berhenti disebuah warung makan dipinggir jalan besar Rambipuji - nJember. Tidak usah tanya juga langsung maklum. Ada sebuah baliho besar (mana ada baliho kecil sih?) bertulisan serba besar: WARUNG BEBAS. Sejak 1979. Sekali lagi sebelum masuk warung WAJIB hukumnya untuk foto dulu. Pakde Bagio gitu lhooooo....

     Memasuki warung saya tertegun melihat pemandangan yang ada. Nyaris disemua meja terhidang barisan terik tempe lidong dele bodong, eiitsss keliru, barisan lauk dan pauk yang cem-macem ujudnya. Ada iwak peyek udang, tahu tempe goreng, telor ceplok, ayam goreng, sambal dan aneka sayur versi beberapa daerah. Pokoknya lengkap-kap, mirip menu yang biasanya dihidangkan direstoran Padang. Tapi nanti dulu, ada perbedaan sangat pokok. Diwarung bebas ini nasi dan lauk boleh bebas makan seberapa saja sekuat perut anda. Nasinya ada dua macam, nasi jagung atau nasi putih yang semuanya masih hangat. Fresh from the Cosmos! Dan yang lebih menghebohkan lagi adalah harganya. Satu orang cukup membayar sepuluh rebu perak saja, sudah lengkap dengan teh manis berapa gelaspun anda mampu minum. Jika anda makan telor ceplok, cukup tambah dua ribu. Kalau makan ayam goreng, tambah empat ribu. Apabila makan dua-duanya ya hitung sendiri. Masak menghitung segitu saja minta bantuan saya.
Aneka lauk pauk Warung Bebas
     Isteri saya dan saya sendiri makan sangat lahab tapi dengan terus tercengang. Masih tidak masuk dalam hitungan saya makan sebanyak ini cukup dengan selembar ‘cebanan’ saja. Bagaimana si empunya warung bisa dapat untung? Kalau lihat yang datang untuk makan pada siang hari itu memang luar biasa. Semuanya pasti tergolong jago makan. Itu bisa dilihat dari penuh sesak nya piring masing-masing. Tidak ada yang makan sedikit disini, sebab itu artinya rugi. Tapi koq ya masih mendatangkan untung buat yang punya warung. Heran saya. 

      Saya lirik Pakde dan Pak Nur juga ikut ‘ngiwut’ makannya. Jatah gratisan sambel plus tempe goreng satu lepek (masing-masing) sudah sampai bersih licin bak dicuci sabun deterjen. Belum lagi lauk dan sayur lainnya. Didepan beliau masih tersedia satu botol bir temulawak dan segelas es batu. Angaaaak hooooo.... Hanya mas Anto putra Pakde yang cuma minum temulawak. Tampaknya dia lebih mementingkan jadi ahli hisap, daripada ikut makan. Barangkali juga sudah bosen, tiap kali Pakde terima tamu mas Anto harus ikut mengantar kewarung ini. Kasihan deeeh looo...

     Untuk menebus dan menyembuhkan penyakit heran-heran saya, sehabis makan saya minta ijin untuk bertemu dengan pemilik warung. Kebetulan siang itu sedang ada diwarung. Namanya Muhammad Nur Widodo, eh salah nding...Muhammad Baridi al Hajj. Isterinya juga ada, namanya bu Hajjah Naniek. Sumpah tanpa pocong!, nama itu sama persis dengan panggilan isteri saya yang nama lengkapnya Ratna Hernani.

      Keduanya tampak sangat serasi, rukun, ramah tamah, baik hati, tidak sombong dan gemar menabung (barangkali). Pak Haji Baridi menjelaskan bahwa warung ini semula milik mertuanya. Berdiri sejak tahun 1979. Tidak pernah menjadi sangat besar tapi juga tidak pernah bangkrut. Ketika saya tanya bagaimana mempraktekkan subdsidi silang akibat keseragaman harga yang dipatok sangat murah itu, beliau hanya tersenyum.
“Niat saya berdagang meneruskan milik mertua adalah dengan selalu bersyukur dan lillahi ta’ala. Semua saya serahkan kepada yang membuat hidup dan memberi rejeki. Sekeras apapun saya berdagang, kalau bukan rejeki saya pasti tak akan saya terima. Jadi saya niatkan dan  saya ikhlaskan membantu orang dengan makan sepuasnya disini, dengan harga yang wajar saja. Insya Allah, saya akan mendapat ganti yang sepadan dariNya..”
Subhanallah. Saya tertegun mendapat jawaban lugu dari pak Haji Baridi dan isteri. Tidak perlu kiat dan teori cem-macem, tapi hanya haqul yaqin akan pertolongan Allah Swt. Tidak mengherankan, dari hasilnya membuka warung, beliau berdua bisa menunaikan ibadah haji.

     Sepanjang perjalanan menuju kota nJember saya masih termenung, seandainya lebih banyak pengusaha (terutama) pribumi yang mampu berpikir sederhana dan semudah itu...... Udara yang panas menjadi tak begitu terasa. Mungkin juga karena jendela mobil terbuka semuanya....



bersambung.....