Selasa, 27 Mei 2014

CATATAN PERJALANAN "UMROH KOSASIH" (13)



-Bagian Ketigabelas-

Lampu robyong dilangit-langit Masjid Nabawi


(Sejak pertama kali menginjakkan kaki ditanah suci (tahun 1992), saya sudah tahu ada larangan dari fihak berwenang untuk tidak membuat foto, apalagi video masjid-masjid yang ada ditanah suci. Askar penjaga masjid sangat “rajin” mengadakan penggeledahan pada para jemaah yang ‘dicurigai’, untuk “mengamankan” kamera yang mereka bawa. Tapi saya tidak pernah melihat larangan tertulis tentang hal itu. Entah kalau ditulis memakai huruf Arab dan dalam bahasa Arab pula. Sampai awal tahun 2008 pun larangan untuk tidak memotret itu masih sangat ketat. Namun “believe it or not” entah bagaimana, saya selalu bisa mendapat peluang untuk mengabadikan obyek ataupun momen-momen penting. Terutama yang ada di kedua masjid suci di Mekah dan Madinah. Saya hanya bisa bersyukur seraya meyakini bahwa tak ada kekuatan dan daya upaya apapun bagi seorang manusia tanpa pertolongan Allah SWT).


Mengabadikan keindahan Masjid –masjid ditanah suci

     Kekecewaan tidak dapat berziarah ke Pemakaman Baqi’ terhibur dengan i’tikaf  (berdiam diri) didalam Masjid Nabawi yang suhunya selalu sejuk. Sambil menunggu tibanya waktu sholat Dhuhur, saya mendirikan beberapa raka’at sholat sunah. Setelah itu berdzikir sambil berdoa kepada Allah, Dzat yang Maha Agung, memohon keselamatan dunia akhirat bagi Baginda Rasulullah, para sahabat dan pengikutnya. Tak lupa seraya meminta ampun atas segala khilaf dan dosa, sayapun  takzim berdoa  untuk memohon  keselamatan dan karuniaNya bagi sanak saudara dan isteri serta anak cucu saya.

     Diantara dzikir itulah saya sempatkan untuk mengabadikan interior Masjid Nabawi yang sangat indah. Didalam tas pinggang saya memang selalu tersedia sebuah handycam kecil serta sebuah ponsel Android berkamera 8 megapiksel. 

          Sejak pertama kali pergi ketanah suci, saya memang selalu berusaha mengabadikan semua obyek yang menarik. Bukan dengan maksud “riya”, namun lebih banyak untuk menjadi dokumentasi pribadi. Saya bermaksud menggunakan dokumentasi itu agar bisa disaksikan oleh anak cucu dan sanak saudara untuk  menggugah minat mereka pergi ketanah suci. Syukur-syukur bisa menggugah minat handai taulan yang ikut menyaksikannya. 

     Sampai akhir tahun 2007 ketika saya pergi haji yang kedua, larangan memotret masih ketat diberlakukan. Walaupun begitu toh saya masih berhasil membuat dokumentasi foto dan video yang sangat lengkap tentang perjalanan haji saya itu, Banyak teman yang terheran-heran bagaimana saya bisa melakukan hal terlarang didaerah “verboden” itu. Satu hal yang saya yakini, kalau bukan karena ijin Allah SWT, tak akan mungkin saya berbuat apapun. Sayapun selalu meyakini arti kalimat hauqolah: “Laa haula walaa quwwata illaa billaah”  (Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).

Lampu robyong di "Raudah"

     Barangkali menyadari kemajuan teknologi komunikasi yang sangat canggih, mulai beberapa tahun belakangan ini pengelola masjid-masjid ditanah suci sudah mencabut larangan untuk memotret. Termasuk larangan membuat dokumentasi video. Sesuatu yang sangat wajar dan logis atau masuk akal. Kenyataannya memang susah kalau harus mengawasi ribuan jemaah yang hampir semuanya sekarang mempunyai ponsel berkamera yang sekaligus bisa merekam video.
Dengan tidak adanya larangan memotret itu membuat saya sekarang lebih leluasa lagi membuat dokumentasi video dan foto obyek-obyek bersejarah ditanah suci. Alhamdulillah.

     Ada satu hal yang sampai sekarang menjadi “ganjalan” dalam hati saya. Kalau ditanah suci, fihak yang berwenang telah mencabut larangan memotret obyek-obyek  yang disucikan oleh seluruh umat Islam sedunia. Termasuk dua masjid paling suci yaitu Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Tetapi apa yang terjadi ditanah air kita, saudara-saudara sebangsa dan setanah air? Saya mengalami sendiri betapa naif dan masih sempitnya pola pikir pengurus masjid (tidak semua) dibeberapa kota besar di Indonesia. 

     Para pengurus masjid “kolot” ini tanpa dasar dan alasan jelas masih ngotot melarang jemaah (yang notabene adalah sesama muslim) untuk mengambil gambar atau memotret masjid yang berada dalam “kekuasaannya”nya. Masih lumayan kalau masjidnya bersejarah ataupun di”keramat”kan (walau ini pasti tindakan kurang benar). Tapi ada beberapa masjid yang tidak punya catatan sejarah apapun, (bahkan ada sebuah masjid yang cuma milik sebuah instansi pemerintah dibidang intel) yang pengurusnya berkeras melarang pengunjung untuk mengambil gambar. 

     Semoga beliau para pengurus masjid yang merasa “punya kuasa” itu mendapat pencerahan dari Allah Swt dan segera menyadarinya. Kalau istilah abege jaman sekarang :” Hareeee geneeee melarang jemaah memotret masjid?”
Yang “mboten-mboten” saja sampiyan reeeek..........

Menu Indonesia yang selalu habis diserbu

     Sesudah usai sholat Dhuhur berjamaah,  siang itu saya segera bergegas kembali kehotel. Maklum panggilan perut yang sudah mulai membuat aransemen musik keroncong. Tentu dengan satu tujuan: masuk ke restoran hotel.

     Seperti sudah saya kisahkan dimuka, khusus bagi jemaah yang berasal dari Asia Tenggara, khususnya dari Indonesia dan Malaysia disiapkan sebuah resoran khusus oleh Hotel Western al-Harithia. Namanyanya restoran ‘Al-Rawdah’ yang terletak dilantai M1. 

     Jadwal buka restoran memang sengaja diseuaikan dengan jadwal ibadah sholat wajib. Pagi hari dibuka sesudah sholat Subuh antara pukul 06.30 sampai pukul 08.00. Siang dibuka sesudah sholat Dhuhur,sekitar pukul 13.00.  Demikian pula pada malam hari dibuka setelah sholat Isya.

    Suhu udara dikota Madinah diakhir bulan April tidak terlalu menyengat. Mungkin paling tinggi hanya sekitar 35 derajat Celcius saja. Apalagi pelataran Masjid Nabawi sekarang sudah terlindung dengan puluhan payung raksasa yang terkadang menyemprotkan uap air. Tapi entah mengapa rasa lapar masih mudah menerjang juga. Mungkin karena aktifitas yang sangat intens.

    Rupanya ‘wabah’ lapar itu juga menyerang hampir semua jemaah yang bermalam dihotel Western. Oleh sebab itu kalau datang ke restoran agak terlambat sebentar saja, ruangan sudah penuh sesak. Antrian pun mengular dimeja prasmanan. Bagi mereka yang datang terlambat, terkadang hanya bisa menyaksikan sisa-sisa hidangan yang sudah “menipis” dan tidak lengkap lagi. 

Salah satu menu makan siang di 'Al-Rawdah'
   Menu hidangan Indonesian food  di “Al-Rawdah” termasuk cukup bervariasi. Siang hari itu dihidangkan nasi putih, sup wortel kentang, ayam goreng mentega dan daging rendang ala resto “Saiyo Sakato”. Yang cukup membuat heran, selalu ada lalapan segar berupa irisan ketimun dan dedaunan mentah yang entah apa namanya. Tapi sumpiiiiiih deh iiih....rasanya segar sekali. Tidak ketinggalan sambal merah manyala bob dan kerupuk. Betul-betul “salero bagindo” ..eh, maksud saya selera Indonesia.

    Dimeja makan selalu tersedia botol air mineral besar untuk setiap empat orang. Namun minuman lain juga disediakan berupa teh, kopi dan jus buah. Semuanya bebas mengambil sendiri sesuka hati. Buah-buahan juga selalu ada. Biasanya pisang, jeruk, pir hijau atau buah plum. Tapi saya perhatikan, persediaan buah ini selalu habis lebih dahulu. Kalau saya pikir-pikir, karena persediaan buah pasti sudah diperhitungkan jumlahnya dengan jemaah, tentu banyak yang mengambil lebih dari satu.
Namanya juga makan bebas merdeka......prasmanan geeetuuuuu lhoooooh......


Bersambung.

CATATAN PERJALANAN "UMROH KOSASIH" (12)



-Bagian Keduabelas-

(Ditulis pada hari Minggu, 16 Juni 2013)


Pintu Utama Masjid Nabawi,  Madinah


Rasulullah SAW keluar diakhir malam menuju Baqi’ dan bersabda: “Keselamatan atas kalian, wahai para penghuni Baqi’.Akan datang kepada kalian apa yang dijanjikan dan esok kami akan menyusul kalian. Ya Allah, ampunilah para penghuni Baqi’ al-Gharqad ini”
(Diriwayatkan oleh A’isyah RA)


Baqi’, makam keluarga dan sahabat Rasulullah

     Nama lengkapnya “Baqi’ al-Gharqad”. Secara harafiah Baqi’ berarti tempat dimana terdapat akar bermacam pepohonan. Adapun Gharqad adalah nama semacam pohon berduri yang banyak tumbuh disekitar Baqi’. Setelah tanahnya dijadikan pekuburan, maka tanaman Gharqad itu ditebang. (“Sejarah Masjid Nabawi” karangan Dr. Muhammad Ilyas Abdul Ghani).

Makam Baqi' dilihat dari atas (foto: wikipedia)    
     Terletak persis disamping Masjid Nabawi (berada disayap kiri, apabila dipandang dari arah depan Masjid), inilah pekuburan besar yang menjadi makam keluarga dan sahabat Nabi. Pada tahun 1992, saat pertama saya berkunjung ke Masjid Nabawi, pemakaman Baqi’ masih terbuka tanpa pagar. Nyaris menyatu dengan pelataran Masjid Nabawi. Para jemaah setelah berziarah kemakam Rasulullah bisa langsung menuju Baqi’ untuk berziarah disana. Oleh karena itu pintu dimana jemaah keluar dari masjid menuju pemakaman ini disebut sebagai Pintu Baqi’. 

     Dipekuburan besar inilah para isteri Nabi (kecuali Khadijah dan Maimunah yang dimakamkan di Mekah), anak-anak perempuan Nabi dan para tabi’in serta ribuan sahabat dimakamkan. Sesudah renovasi Masjid Nabawi (yang dilakukan pada tahun 1984 – 1994 M), dijaman pemerintahan Raja Fahd ibn Abdul Azis, makam Baqi’ juga mendapat giliran renovasi, diperluas dan dipagar. 

     Kini luas areal pemakaman Baqi’ diperkirakan sekitar 174,962 meter persegi. Seluruhnya diberi pagar pembatas setinggi 4 meter dengan panjang keseluruhan  mencapai 1724 meter. Ada beberapa pintu masuk yang dijaga Askar untuk melayani para peziarah. 

     Dulu hampir setiap peziarah bisa bebas masuk setiap waktu kemakam Baqi’ karena tidak berpagar. Namun ternyata pada saat saya berkunjung di akhir bulan April 2913, ada pengaturan waktu untuk berziarah kemakam paling besar dan terkenal dikota Madinah ini. Pintu-pintu makam tertutup rapat dan hanya dibuka sesuai jadwal ziarah saja.

     Sayang sekali pada siang hari yang tidak terlalu terik itu rombongan jemaah laki-laki PT Bina Travel yang dipimpin ustad Syarif tidak berhasil masuk kemakam Baqi’. 

     Saya bersyukur telah beberapa kali berziarah kemakam Baqi’. Akan tetapi bagi jemaah yang baru pertama kali datang ke Madinah, tentu sangat kecewa. Namun masih ada kesempatan untuk berziarah dilain hari seusai sholat di Masjid Nabawi, dengan catatan bila waktunya sesuai dengan jadwal ziarah.


“Komsah real.....komsah real”

     Bagi para jemaah yang selesai beribadah maupun berziarah dan keluar dari Masjid Nabawi,  teriakan “komsah real” yang artinya “LIMA real” itu sangat akrab ditelinga. Begitu menginjakkan kaki keluar dari halaman atau pelataran Masjid yang sangat luas itu, para jemaah akan langsung disambut dengan teriakan  dari puluhan pedagang dengan gegap gempita. 

     Pagi, siang, sore sampai larut malam suasananya sama saja. Saya pikir hal itu termasuk salah satu hal yang disukai para jemaah. Khususnya jemaah wanita yang suka berbelanja. Bagi mereka yang pernah mengalami ‘atmosfernya’, terkadang timbul juga kerinduan untuk menyaksikannya lagi. 

     Disepanjang lorong yang berada diluar pintu pagar masjid, banyak sekali PKL (pedagang kaki lima) yang menjual aneka macam barang. Mereka menggelar barang dagangan disetiap jengkal pinggir jalan tanpa sungkan. Terkadang malah sampai menutup jalan. Barang dagangan cukup ditebarkan saja dijalanan, meski ada juga yang memakai lapak sederhana. 

     Disitulah dijajakan mulai dari barang kecil remeh temeh, kudapan dan buah sampai sajadah, abaya, dan gamis. Ada pula peralatan elektronik kecil dan cindera mata lainnya. Mengingatkan saya pada “Sogo Jongkok” disekitar Pasar Tanah Abang. Namun jangan lupa, ditanah haram ini pembelinya datang dari seluruh penjuru dunia dengan berbagai macam bahasa. Para penjualnyapun tampaknya juga berasal dari beberapa negara.

'Spasmina' dan kerudung dijual dijalanan

     Saya sendiri selalu menderita penyakit ‘heran-heran’, mengapa yang diteriakkan selalu si “komsah real” itu. Dari saat pertama saya datang lebih dari duapuluh tahun yang silam sampai sekarang tidak pernah berubah. LIMA real itu adalah harga yang nyaris mempesona semua orang. Barangnya bisa berupa apa saja. Yang sangat populer (terutama bagi jemaah wanita) tentu kain sebangsa spasmina (sleyer atawa selendang) dan pernak pernik hiasan, barang souvenir kecil serta sajadah. 

     Tidak ketinggalan ditawarkan juga berbagai jenis mainan anak-anak yang sekaligus dipertontonkan aksinya untuk memikat pembeli.
“Sayang anak....sayang cucu....” barangkali itu yang diteriakkan penjualnya.
Siapa tahu? Lha wong dia teriak-teriak pakai bahasa Arab jeee......Coba dia teriak pakai “Coro Jowo” (bahasa Jawa), pasti saya langsung tahu maksudnya.......

     Disini  jangan bicara soal mutu dulu. Yang penting lima real itu sangat terjangkau oleh segala lapisan. Bahkan banyak barang dijual seharga lima real untuk tiga buah. Yang ini termasuk kopiah haji, alat penghitung dzikir digital dan sajadah ukuran kecil. Sebenarnya kurs Real Saudi (RS) terhadap Rupiah (IDR) sudah banyak berubah. Tahun 1992 dulu seingat saya satu RS sama dengan 500 IDR (rupiah), Jadi komsah real itu nilainya sama dengan Rp. 2.500,- saja. 

     Sekarang (tahun 2013) kursnya sudah mencapai sekitar Rp. 2.700,- sampai Rp. 2.800,- per satu real. Untuk memudahkan hitungan (maklum nilai matematika saya dulu jeblog), saya selalu menghitung dengan mengkalikan 3000 rupiah sekalian. Jadi komsah real sekarang saya hitung sama dengan Rp. 15.000,-.saja. Beres kan?  Bagaimanapun bagi ukuran kantong saya, masih termasuk kategori “tidak mahal mahal amat”. Amat saja tidak mahal koq.

     Yang juga selalu membuat saya tercengang,  harga buah-buahan juga  dipatok dengan ‘komsah real’ itu satu kilonya. Tanah Arab yang tandus ternyata tidak identik dengan hanya buah kurma, buah ‘tin’ dan zaitun saja. Doa Nabi Ibrahim AS dahulu kala ternyata dikabulkan oleh Allah SWT. Sekarang nyaris buah apapun yang ada didunia, bisa kita temukan dijual ditanah haram. Bahkan dengan harga yang relatif murah. Subhanallah.

 Pedagang Buah dijalanan menuju Masjid Nabawi
       Buah yang diobral disepanjang lorong diluar masjid itu dijajakan diatas meja kayu sederhana. Biasanya buah yang tersedia melimpah adalah papaya, mangga, pisang, jambu.....eh, koq malah nyanyi? Maksud saya pisang, apel, jeruk  dan anggur. Semuanya dengan harga sama: komsah real sekilo. 

     Kalau ingin membeli buah yang lebih eksklusif seperti buah kiwi, buah naga, semangka, melon dan sebagainya, tinggal masuk ke supermarket semacam “Bin Dawood”. Ini pasar super yang menjual aneka barang dan makanan yang sangat terkenal lengkap jenis dagangannya. Bin Dawood ada dimana-mana, baik dikota Madinah, Mekah dan Jeddah. 

      Tetapi rupanya nasib para PKL dimanapun nyaris selalu sama. Ditanah air dikejar Satpol PP atau petugas Tramtib. Ditanah haram, terkadang para PKL ini juga dikejar-kejar Askar. Itu kalau dia nekat menggelar lapaknya ditengah jalan, atau berteriak-teriak kelewat semangat. Bisa juga kalau dia masih nekat berjualan pada saat jam sholat fardhu.
Maklum saingannya banyak sekali. Ya nasiiiiib.....ya nasiiiiib......



Bersambung.

CATATAN PERJALANAN "UMROH KOSASIH" (11)



-Bagian Kesebelas-

(Ditulis pada hari Sabtu, 15 Juni 2013)

 Bagian kiri dari "Raudah", dibelakang Makam Rasulullah SAW


“Sesungguhnya Allah dan para MalaikatNya bershalawat atas Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah atasnya (Nabi) dan berilah salam (kepadanya) dengan sesungguhnya”
(QS. al-Ahzaab, 31 : 56)


“Pintu (untuk mengucap) Salam” yang dibuka 24 jam

     Sesudah puas ’narsis’ (maksudnya: foto-foto) bersama dibawah lindungan “payung fantasi” dihalaman Masjid, ustad Syarif mengajak rombongan kecil untuk memasuki Masjid Nabawi melalui pintu  ”Babus Salam”. Disebut demikian karena letak pintu ini sejajar dengan tempat untuk mengucapkan salam kepada jasad Rasulullah SAW.  Inilah satu-satunya pintu di Masjid Nabawi yang menurut ustad Syarif dibuka selama 24. 

 'Mejeng' dibawah lindungan payung Masjid Nabawi

     Setiap muslim mengetahui ada adab (aturan) untuk memasuki masjid. Namun untuk memasuki Masjid Nabi yang satu ini ada hal-hal sangat khusus yang perlu ditambahkan. Artinya aturannya agak berbeda dengan apabila kita akan memasuki masjid lain. 

     Aturan memasuki masjid tentu termasuk bersiwak (sekarang disebut sikat gigi), bersuci atau berwudhu dan memakai pakaian yang pantas serta bersih. Ketika masuk masjid harus mendahulukan kaki kanan, mengucap basmalah serta berjalan dengan tenang, tidak boleh tergopoh-gopoh. 

     Khusus untuk memasuki Masjid Nabawi ditambah dengan anjuran kepada para jemaah agar mengucapkan salam kepada Rasulullah (sebagai pemilik masjid) dan membaca doa:
“Allahumma iftah li abwaaba rahmatika”
(Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu) 

    Hal pertama yang harus dilakukan setelah berada didalam Masjid Nabawi  adalah melakukan sholat Tahiyatul Masjid. Dan apabila tujuannya adalah untuk berziarah kemakam Rasulullah SAW, maka segera setelah sholat dua raka’at, hendaknya kita segera menuju ke makam Rasulullah dan dua orang sahabatnya (Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA).

Sholat diantara Mimbar dan rumah Nabi

     Jalan menuju makam Nabi harus melewati Raudah. Oleh sebab itu dianjurkan juga untuk mendirikan sholat sunah didaerah Raudah ini. Yang paling afdol apabila bisa sholat didepan Mihrab Nabi, atau paling tidak didaerah antara Mimbar dan rumah Nabi (sesungguhnya rumah ini milik Siti Aisyah RA yang kemudian dijadikan makam Nabi dan kedua sahabatnya).     

     Konon segala doa yang kita panjatkan disekitar Raudah ini akan dikabulkan Allah SWT. Itu sebabnya sangat susah sholat disini, karena selalu penuh dengan jemaah yang semuanya bertujuan sama, minimal bisa sholat dua raka’at. 


Mihrab Rasulullah SAW di Masjid Nabawi
      Saya sudah beberapa kali mendapat kesempatan sholat sunah dua raka’at tepat didepan mihrab Nabi. Siang itu karena antrian jemaah berjubel didepan Mihrab, saya putuskan untuk shalat disebelah makam Rasulullah. Masih termasuk daerah antara Mimbar dan rumah (yang sekarang menjadi makam) Nabi. 

     Terlihat banyak sekali Askar yang mengawasi orang-orang yang sedang sholat. Jika terlihat ada yang mencoba sholat berlama-lama (lebih dari dua raka’at),  maka orang tersebut pasti akan segera “diusir” dari tempatnya untuk digantikan orang lain yang sudah menunggu. Disinilah ujian kesabaran terjadi lagi. Termasuk didalamnya ujian untuk bertenggang rasa dan sifat mau menang sendiri.

     Saya mempunyai ‘resep’untuk bisa berlama-lama berada di dalam Raudah, yaitu dengan memanjangkan doa ketika bersujud. Baik sujud diraka’at pertama, terlebih lagi diraka’at kedua. Diwaktu itulah selain membaca shalawat untuk Nabi, saya baca juga segala macam doa yang saya anggap perlu untuk saya mohonkan kepada Allah SWT.

    Alhamdulillah pada hari itu saya bahkan bisa sholat lebih dari dua raka’at hanya dengan cara bergeser beberapa langkah saja. Saya tahu diawasi dengan ketat oleh beberapa Askar, namun saya tetap berusaha untuk sholat lagi. Ketika akan mencoba untuk yang ketiga kali, barulah bahu saya ditarik oleh Askar sambil diberitahu: “Halas, haji, halas” (sudah, sudah). Sayapun patuh karena menyadari masih banyak pula jemaah lain yang ingin sholat ditempat paling makbul itu.

Mengucapkan salam  didepan makam Rasulullah

     Ustad Syarif menunggu ‘anak asuh’nya dijalan yang menuju makam Rasulullah. Setelah terkumpul semua, maka diajaknya kita berjalan perlahan menuju makam sambil terus membaca shalawat untuk Nabi dan mengucapkan salam kita kepada beliau. Walaupun ada larangan berhenti didepan makam Nabi, namun ustad Syraif bisa menemukan tempat dipinggir jalan didepan  makam, dimana kita bisa sejenak berhenti, menghadap kemakam untuk (sekali lagi) mengucapkan salam.

     Pada saat itulah semua “titipan” salam dari sanak saudara, kerabat dan handai tolan saya sampaikan kepada Rasulullah. Saya teringat kepada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak seorangpun yang memberikan salam kepadaku, melainkan Allah akan mengembalikan ruhku, agar aku bisa membalas salamnya”.


Usai ziarah kemakam Rasulullah (atap Hijau)
      Usai mengucapkan salam kepada Baginda Rasulullah,  kita kemudian berjalan bergeser beberapa langkah untuk mengucap salam kepada dua sahabat Rasulullah, yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Baru setelah semua salam kita sampaikan, ustad Syarif mengajak kita keluar lewat pintu Baqi. 

     Sesudah berada diluar masjid, namun masih berada dipelatarannya,  kitapun diajak berdoa dengan menghadap ke arah kiblat. Banyak jemaah yang rupanya masih tidak faham atau kurang mengerti, bahwa ada larangan membaca doa dengan menghadap ke makam Rasulullah. Karena sesungguhnya doa yang afdol harus dibaca dengan menengadahkan kedua tangan seraya menghadap ke arah kiblat (yaitu Ka’bah di Masjidil Haram).
    


Bersambung