Senin, 26 Mei 2014

CATATAN PERJALANAN "UMROH KOSASIH" (3)



-Bagian Ketiga-

(Ditulis pada hari Rabu, 29 Mei 2013)


 Lorong Masjid Bier Ali yang bikin bingung


Firman Allah SWT: “Aku adalah apa yang disangkakan oleh hambaKu”
(Firman Allah inilah yang barangkali saya lupakan. Walaupun sudah berdoa sampai ‘munthuk’ -berbusa- mulut saya, tapi ternyata saya masih saja RAGU akan doa saya sendiri....Astagfirullaaah..)


“Lost in Bier Ali”

     Mungkin pada saat itu wajah saya jadi pucat pasi. Yang jelas saya lemas sekali. Lebih dari sepuluh menit darah terus mengucur. Selama itu pula saya nekat berdoa. Sambil mengguyur dengan air panas, saya rapatkan kedua kaki untuk mencoba menghentikan perdarahan. Saya merasa sungguh tak berdaya karena tidak membawa obat flamboyan didalam tas pinggang. 

     Masih dengan perasaan galau dan gundah gulana saya rapikan kembali kain ihrom dengan hati-hati. Hampir seperempat jam lebih saya berkutat dikamar kecil dalam kondisi kalut. Sayapun sadar pasti sudah ditinggalkan kawan-kawan memasuki bis. Gontai saya berjalan perlahan masuk kedalam masjid. Saya langsung melaksanakan sholat tobat dua raka’at. Tak sempat lagi melaksanakan sholat tahiyatul masjid karena masih harus sholat ihrom dua raka’at lagi.

     Sholat tobat saya kerjakan sekhusyuk yang mampu saya lakukan. Siang itu didalam Masjid Bier Ali saya menangis  lahir batin mohon pengampunan atas segala khilaf dan dosa. Seraya tiada henti memohon agar penyakit ‘flamboyan’ saya disembuhkan oleh Allah Sang Maha Penyembuh. Setelah itu baru saya laksanakan sholat sunah ihrom dua raka’at. 

     Sambil terus beristighfar dengan memakai alat ‘tally counter’ digital (sebagai pengganti tasbih) yang bisa dipasang dijari telunjuk, saya keluar dari masjid. Taman yang rapi terbentang luas didepan saya. Rasa galau dihati masih belum reda. Saya berusaha semampu mungkin menutupi kain ihrom bagian belakang dengan selembar kain ihrom yang (semestinya) untuk menutup bagian atas tubuh. Saya bayangkan bercak darah memenuhi kain ihrom, karena saya masih terus merasakan ada sesuatu yang merembes keluar dari “pintu belakang”. 

     Belum pernah saya mengalami rasa galau, panik, dan bingung seperti saat itu. Saya berusaha menengok kanan kiri, barangkali masih ada teman yang tertinggal. Yang saya dapati hanya wajah-wajah asing yang tak saya kenal. Saya benar-benar kehilangan orientasi. Satu hal yang belum pernah saya alami sebelumnya. Bahkan ketika dilepas sendirian dikota Paris (awal tahun 1992) pun saya tidak tersesat. Kini saya seperti orang linglung. Melihat kekanan kiri seperti ‘kethek ditulup’.

     Seingat saya tadi masuk masjid dari sebelah kiri. Bersamaan dengan rombongan jemaah umroh dari grup lain yang ustad pemandunya memakai bendera biru. Ustad pemandu grup saya sendiri tidak membawa tanda apa-apa, jadi agak susah mengenali dari kejauhan. Saya lihat jauh disebelah kanan ada bendera biru dikibar-kibarkan. Saya ikuti saja tanda itu, siapa tahu memang itulah jalan keluar dari masjid. Sambil berjalan saya mencoba menelpon istri saya. Rupanya dia juga sedang bingung mencari keberadaan saya. 

     Namun isteri saya (karena sama-sama baru pertama kali masuk Masjid Bier Ali) rupanya juga salah memberikan arah. Jadilah saya makin tersesat kearah yang salah. Pada saat itu turun hujan rintik-rintik, yang menambah kepanikan saya. Di Masjid Bier Ali terdapat lorong-lorong yang terlindung dimana terdapat banyak sekali toko atau warung yang menjual beraneka ragam barang dan makanan. Itulah yang akhirnya saya pakai sebagai check point. Saya putuskan berdiri saja ditengah lorong agar tidak kehujanan dan agar mudah terlihat baik dari ujung kanan maupun kiri. Rasanya persis seperti Kabayan saba kota, yang hilang ditengah kerumunan orang. 

     Akhirnya dikejauhan saya lihat Ustad Syarif yang jadi Pembimbing Jemaah melambaikan tangannya. Saya berjalan mendekatinya dengan tak bersemangat lagi. Teman-teman yang sudah berada dalam bis  melihat kedatangan saya dengan beragam ekspresi. Ada yang nampak prihatin, tapi barangkali yang banyak adalah ekspresi jengkel, karena saya datang terlambat. 

     Saya juga merasa bersalah dan malu kepada Ibu Dewi Anggraeni Baluki yang menjadi Pemimpin Rombongan Umroh PT Bina Travel. Sudah diberi jatah umroh gratis masih menyusahkan orang. Tapi pada saat itu saya tak peduli lagi. Saya naik kedalam bus dan langsung meluncur kekursi paling belakang. Tanpa berkata sepatahpun saya berusaha berbaring. Itu semua untuk menutupi rasa malu dan kesal (kepada diri sendiri) yang bercampur aduk jadi satu.

Menuju kota Mekkah al-Mukaromah disambut hujan deras

    Bis meluncur meninggalkan Masjid Bier Ali. Entah kenapa saya menjadi “sensi”, saya merasa sang sopir jadi agak ngebut menjalankan bisnya. Mungkin karena  kehilangan waktu gara-gara keterlambatan  saya tadi. Ah, dia atau siapapun dalam rombongan  tidak atau belum tahu apa alasan saya sih. Bahkan isteri sayapun tidak saya beritahu. Saya lakukan GTM selama saya bisa. Saya berniat baru akan membuka rahasia dalam tulisan ini.

     Mungkin baru beberapa kilometer  jauhnya bis meninggalkan Bier Ali, hujan turun sangat deras. Ustad Syarif langsung meminta kita semua untuk bersyukur, karena hujan di tanah suci adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi. Apalagi sampai deras sekali seperti saat ini. Cuaca menjadi gelap dan pemandangan diluar tidak bisa terlihat dari dalam bis terhalang derasnya air yang turun. Dan itu pasti BERKAH dari Allah SWT. Aamiiiin

     Beberapa hari kemudian di Mekkah saya membaca koran “Arab News” yang memberitakan bahwa hujan yang sangat deras telah membuat beberapa bagian kota Madinah kebanjiran. Juga beberapa kota lain di Arab Saudi mengalami banjir yang bahkan diberitakan sampai memakan korban jiwa. Innalillahi.... 

     Adzan Isya berkumandang saat bis melaju melewati Masjid Tan’im. Masjid ini tidak sebesar Masjid Bier Ali, namun juga dipergunakan sebagai Miqat bagi yang tinggal didaerah sekitar Mekkah. Saya pernah beberapa kali bermiqat di Masjid Tan’im pada saat umroh ditahun 2006 dan pada saat pergi haji ditahun 2007.

Bermalam di Hotel yang hanya beberapa langkah dari Masjidil Haram

     Sekitar pukul 9 malam waktu Arab Saudi ketika bis merapat .dikawasan Hilton Tower Hotel & Apartment. Dihotel yang hanya berjarak sektar 50 meter dari Masjidil Haram inilah kita menginap selama berada dikota Mekkah. Alhamdulillah.

Hilton Tower Hotel & Apartment, Makkah

      Semua anggota rombongan umroh Bina Travel langsung dibawa ke Restoran Al-Ethlalah yang terletak dilantai 3 untuk menikmati santap malam. Kunci kamar dibagikan untuk masing-masing anggota rombongan sebelum makan dimulai.  Saya dan isteri mendapat kamar nomor 62124. Saya agak heran dengan nomor kamar yang panjang ini. Saya pikir saya mendapat kamar dilantai 62! Ternyata Hilton Tower Hotel memiliki 6 Tower. Jadi saya mendapat kamar di Tower ke 6 lantai 21 kamar no 24. Untuk menuju ke kamar atau sebaliknya ke restoran yang terletak di Tower 3 harus pindah lift dahulu. Sedikit merepotkan, karena lift terdekat sering ngambek, jadi harus pindah ke lift lain di tower lain.

      Menurut Ustad Syarif, Al-Ethlalah berarti (tempat) untuk bersenang-senang. Barangkali bahasa Indonesia (atau Jawa?) yang setara adalah “Sasana Suka” atau “Sasana Andrawina”. Makan memang termasuk bersenang-senang bukan? Masa iya ada orang makan sambil sesenggukan menangis karena sedih? 

     Tapi jangan salah, malam itu sebelum makan saya masih sangat gelisah nding. Soalnya saya masih kepikiran terus dengan kain ihrom yang saya bayangkan belepotan dengan darah. Oleh sebab itu saya buru-buru mencari toilet untuk memastikan seberapa parah darah mengotori kain ihrom saya. Didalam restoran ternyata tidak tersedia toilet. Jadi harus keluar dulu dari restoran.     

     Akhirnya ada seorang petugas yang bersedia membantu saya untuk menunjukkan letak toilet yang berada diluar restoran Al-Ethlalah. Ternyata terdapat banyak sekali pedagang yang membuka toko atau sekedar lapak yang menempel dilorong-lorong gedung. Walau sudah hampir pukul 10 malam, para pedagang masih sibuk menawarkan dagangannya. Sekilas saya teringat pada “Pasar Seng” yang kini telah raib.

     Entah kenapa toilet yang ada dilantai 3 tersebut dikunci. Baru dibuka ketika saya akan masuk kedalam, seolah saya adalah tamu kehormatan. Rasanya legaaaaaaaa sekali, walaupun harus saya akui kondisi toilet tidak terlalu bersih. Dengan menahan perasaan tegang, buru-buru saya lepaskan semua kain ihrom. Dan saya terkejut setengah hidup. Lemas kedua lutut saya seolah tak bertulang. Mata saya terbelalak melihat apa yang terjadi........



Bersambung.

CATATAN PERJALANAN "UMROH KOSASIH" (2)



-Bagian Kedua-
(Ditulis pada hari Selasa, 28 Mei 2013)

Masjid  "BIER ALI", Dzul Hulaifah, Madinah



Wa azzin fin-naasi bil-hajji ya’tuuka rijaalaw wa ‘alaa kulli daamiriy ya’tiina min kulli fajjin ‘amiiq” (QS Al-Hajj 022 : 27)
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, maka niscaya akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari seluruh penjuru yang jauh....”

(Konon pada saat Nabi Ibrahim AS -atas perintah Allah Swt- menyerukan ajakan haji tersebut, maka sahut menyahutlah umat manusia -meski belum terlahir kedunia-. Dan barangsiapa yang menyahut seruan itu, maka -dikelak kemudian hari-  ialah yang akan mendapat ‘panggilan’ untuk datang ketanah suci)


Masjid “Pohon” yang punya banyak nama

     Ada yang mengatakan jaraknya tepat persis 11 (sebelas) kilometer -tidak lebih tidak kurang- dari kota Madinah al-Munawaroh. Terletak didaerah yang bernama Dzul Hulaifah, ada sebuah masjid yang sangat terkenal dan juga bersejarah (selain Masjid Nabawi). Seluruh jamaah haji ataupun umroh pasti mengenal masjid yang satu ini. Diluar musim haji jarak tersebut dapat ditempuh hanya sekitar 10 – 15 menit saja dengan berkendaraan mobil dari kota Madinah. Namun pada saat puncak musim haji, membutuhkan waktu sampai berjam-jam, karena banyaknya kendaraan (terutama bus besar). Itulah masjid yang terkenal dengan sebutan “Masjid Bier Ali” yang bangunannya (kini) berdiri sangat megah. 

     Nama masjid ini memang bermacam-macam. Ada yang menyebutnya dengan nama masjid “As-Syajaroh” (artinya pohon). Konon sebelum didirikan sebuah masjid ditempat ini ada sebuah pohon yang selalu disinggahi Rasulullah SAW sebelum berangkat umroh atau haji. Dari sinilah beliau mulai memakai ihrom (pakaian yang terdiri dari dua lembar kain tak berjahit) untuk melaksanakan umroh. Karena letaknya didaerah Dzul Hulaifah, maka masjid ini disebut juga dengan nama masjid “Dzul Hulaifah”. 

     Namun yang tersohor dikalangan jamaah haji atau umroh dari seluruh penjuru dunia adalah nama “Masjid Bier Ali”. Mengapa sangat terkenal? Tidak lain karena seluruh jamaah haji atau umroh yang berangkat dari (atau melewati) Kota Madinah menuju Kota Mekkah harus mulai memakai ihrom dari masjid ini. Sehingga masjid Bier Ali ini disebut sebagai MIQAT. Oleh sebab itu masjid ini juga dinamakan masjid “Al Miqat” atau “Al Ihrom”. 

     Semula Masjid Bier Ali hanya kecil saja. Namun menurut Dr. Muhammad Ilyas Abdul Ghani dalam bukunya “Sejarah Madinah” (cetakan pertama, 2005) dikisahkan bahwa pada masa pemerintahan Raja Fahd diadakan renovasi besar-besaran yang memakan biaya sampai lebih dari 170 juta Real Saudi. Raja Fahd ini pula yang merenovasi Masjid Nabawi selama hampir satu dasawarsa dengan biaya yang sangat luar biasa besar pula. Saat ini Masjid Bier Ali mempunyai areal seluas 90 ribu meter persegi. Adapun bangunan masjidnya sendiri mencapai 26 ribu meter persegi. Subhanallah.  

     Bangunan masjid seluas itu kini dapat menampung sekaligus sekitar 5000 jemaah  Oleh sebab itu dibutuhkan pula toilet dan kamar mandi yang cukup banyak. Konon jumlahnya mencapai 512 kamar kecil (toilet) dan 566 kamar mandi. Keseluruhan bangunan kompleks Masjid berbentuk empat persegi panjang. Arsitektur bangunan sekitarnya dibuat seperti benteng yang mengelilingi masjid yang terletak pada salah satu ujung dindingnya. 

     Masjid Bier Ali mempunyai kubah bulat setinggi 28 meter dan menara yang menjulang setinggi 64 meter. Ada banyak taman di areal masjid yang ditata sangat indah. Juga banyak lorong yang (pada saat saya berkunjung bulan April 2013) diisi oleh warung atau toko yang menjual aneka cindera mata. Areal parkirnya juga sangat luas sehingga mampu menampung ribuan kendaraan besar dan kecil.

Masuk Masjid Bier Ali untuk yang pertama kali

     Saya sudah beberapa kali pergi ketanah suci untuk berhaji atau umroh. Tapi belum pernah sekalipun saya mengambil miqat dari Masjid Bier Ali. Itu karena saya selalu datang dari arah Jeddah, sehingga mengambil miqat dari daerah yang disebut Qarnul Manazil. Sebenarnya ini adalah nama sebuah bukit yang terletak sekitar 95 kilometer disebelah timur kota Mekkah. Namun Jemaah haji atau umroh yang datang dari arah Asia, termasuk Indonesia disepakati (oleh para ulama) untuk mengambil miqat ini. Konsekwensinya, jemaah haji atau umroh harus mengenakan ihrom saat masih berada diatas pesawat terbang. Yaitu pada saat diperkirakan berada didaerah Qarnul Manazil ini. Biasanya Pilot pesawat akan mengumumkan kepada penumpang saat akan melintasi daerah ini. 

     Selama ini beberapa kali saya hanya melihat masjid Bier Ali sekilas pintas saja dari dalam bus yang melaju kencang melewatinya. Belum pernah satu kalipun saya memasukinya. Tahun 1992 ketika saya menjalankan ibadah umroh Romadhon, saya bahkan belum sampai kota Madinah. Sehingga tidak sempat melihat Masjid Bier Ali. Maklum saya ikut rombongan umroh tamu negara. Jadi rutenya sudah ditetapkan oleh protokol negara. 

     Sewaktu naik haji pertama kali tahun 1992 itu juga, saya mengambil miqat dari Masjid Tan’im, karena sudah berdiam dikota Mekkah beberapa lama. Meskipun saya juga pergi berziarah ke Masjid Nabawi dikota Madinah, namun saya  tidak sempat mampir di Bier Ali. Kali ini karena saya bertugas sebagai anggota TPOH (Tim Pemantau Operasional Haji) 1992 yang hanya bertugas didalam kota Madinah saja. 

     Baru pada saat saya melakukan umroh di akhir bulan April tahun 2013 inilah, saya datang dari arah kota Madinah. Dengan demikian saya harus mengambil miqat di Masjid Bier Ali. Inilah untuk pertama kali dalam hidup saya memasuki areal Masjid Bier Ali. Tapi justru kedatangan saya yang pertama kali ke masjid Bier Ali inilah saya mendapatkan cobaan  yang sangat berat dari Allah Swt.

Galau dihantui bayangan “si flamboyan”

     Sebenarnya ini rahasia pribadi. Tapi terpaksa harus saya ungkapkan, karena saya ingat lagu Koes Plus yang liriknya “mari mari berterus terang” itu.. Sudah beberapa waktu lamanya saya menderita sakit “flamboyan”, eh, maksud saya sakit wasir nding. Tapi memang tidak terlalu berat. Hanya kalau saya lengah memakan masakan yang terlalu pedas saja, si “flamboyan” yang resek itu kambuh (biar agak sopan sedikit saya sebut flamboyan, padahal maksud saya adalah ambeien). Inilah yang menjadi beban pikiran saya sejak sebelum berangkat ke tanah suci dibulan April 2013.

     Saya bayangkan ketika memakai pakaian ihrom, tiba-tiba penyakit itu kambuh! Alangkah malunya apabila dikain ihrom yang putih bersih itu ternoda dengan “darah flamboyan”. Mungkin saja orang-orang yang melihat lalu mencibir:
Eh itu koq ada laki-laki menstruasi?”. Betapa maluku eh malu saya dong deh.

     Oleh sebab itu sejak dari Jakarta saya persiapkan obat khusus ‘flamboyan’ yang biasa diselipkan dilubang ‘pelepasan’. Sebenarnya saya punya resep ampuh untuk mencegah wasir, yaitu daun binahong. Sayang daun binahong tidak tahan dibawa pergi untuk waktu yang lama. Jadi terpaksa memakai obat resep dokter. Tapi hati saya tetap tidak bisa tenang. Belum pernah saya segelisah ini saat akan pergi ketanah suci. Padahal inilah kepergian saya yang kelima kalinya ketanah yang didambakan nyaris oleh seluruh umat muslim didunia.

     Pikiran saya sangat kalut sejak pagi hari pada saat mandi dihotel “Western Al Harithia” Madinah. Ini adalah mandi  sebagai syarat memakai kain ihrom. Berkali-kali saya melihat kekloset untuk meyakinkan diri tidak ada tetesan darah. Saya ndremimil (terus menerus) berdoa kepada Allah Sang Maha Kuasa agar penyakit njelehi (menyebalkan) itu tidak datang. Entah kenapa saya tidak bisa yakin. Saya juga heran. Akibat pikiran galau itu, kemudian muncul rasa tidak enak (tapi bukan sakit) diperut dan didaerah pelepasan. Pasti ini gejala ‘sakit’ psikosomatis

     Didalam bus saya sengaja mengambil tempat duduk dikursi yang paling belakang. Ada rasa risih kalau-kalau ada orang memandangi bagian belakang tubuh saya. Semacam rasa ge er begitu. Tapi bukaaaan! Benar-benar senewen saya! Saya duduk meringkuk sendirian. Bahkan saya suruh isteri saya agar duduk agak jauh dari tempat duduk saya. Tentu saja dia protes keras. Tapi saya beralasan mau istirahat menyelonjorkan kaki sembari tiduran.

Mendapat cobaan berat di Masjid Bier Ali

     Tiba di Masjid Bier Ali saya turun dari bis seperti orang linglung. Masjid ini sangat indah, tapi saya sungguh-sungguh baru pertama kali  ini memasukinya. Ada rasa kagum bercampur rasa galau dan sedikit bingung. Kebiasaan saya memotret apapun yang baru saya lihat serentak lenyap pula. Apalagi mendadak saya merasa sakit perut. Tanpa tanya kanan kiri saya langsung mencari tulisan “toilet”. 

     Terus terang saya lebih hafal seluk beluk Masjid Nabawi dan Masjidil Haram yang jauh lebih luas dari Masjid Bier Ali. Itu karena saya sudah sangat sering blusak-blusuk memasuki kedua masjid suci itu. Tapi ketika pertama kali masuk Masjid Bier Ali situasi kejiwaan saya lain sekali. Karena bingung saya jadi kehilangan orientasi. Sesuatu yang sangat jarang sekali saya alami. Selama ini saya tidak pernah tersesat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi  yang pintunya sangat banyak.

      Ustad Pembimbing hanya memberikan waktu paling lama sekitar setengah jam untuk melakukan sholat sunah tahiyatul masjid dan sholat sunah (memakai) ihrom. Jadi saya bergegas masuk kamar kecil. Hanya ada lobang kakus sederhana saja (seperti kloset jongkok) dan sebuah shower (selang air). Saya nilai secara umum toilet dimasjid ini termasuk cukup bersih.  Saya tuntaskan hajat besar dengan tergesa-gesa. Lega rasanya. Ketika selesai, saya berniat membersihkan diri dengan shower yang ada. Seperti biasa ditanah Arab, disiang hari (bahkan kadang sampai malam hari) air toilet dimana saja rasanya hangat. Bahkan terkadang cukup panas. Mungkin tandon airnya dari logam. 

     Diluar dugaan air shower ternyata panas sekali. Saya agak kaget dan ketika itulah saya menyadari ada darah yang mengucur deras! Saya terkesiap. Bingung campur panik. Sambil meminta ampun dan berdoa kepada Allah SWT (padahal seharusnya tidak boleh berdoa dikamar kecil, kecuali ketika mau masuk atau keluar) saya semprotkan air panas itu untuk mencoba menghentikan perdarahan. Saya singkapkan keatas kain ihrom agar tidak terkena darah yang mengucur deras.



bersambung

CATATAN PERJALANAN "UMROH KOSASIH" (1)



 -Bagian Pertama-

(Ditulis pada hari Senin, 27 Mei 2013)

 Di Bandara Soekarno-Hatta sebelum boarding

 
(Ada seorang teman menulis status dijejaring sosial pesbuk, bunyinya kira-2 begini: “Jikalau anda sering  pergi umroh atau haji, pasti anda ORANG KAYA”. Logikanya memang seperti itu. Tapi pergi umroh atau haji ternyata tidak selalu menganut logika manusia. Campur tangan dari “The Invisible Hands of God” jauh lebih kuat. Tidak percaya? Lihat saja buktinya. Berapa banyak kita jumpai seseorang -muslim- yang secara kasat mata KAYA RAYA dan sering berwisata keluar negeri tapi belum pernah sekalipun pergi ketanah suci. Sementara itu bukan kabar burung kalau ada tukang becak, tukang bubur atau sopir angkot yang mendadak MAMPU pergi ke tanah suci, entah mendapat bantuan biaya darimana)

Umroh “Kosasih” (ongkos dikasih) dari kerabat

     Kepergian saya yang terakhir ketanah suci adalah pada saat saya menunaikan ibadah haji bersama isteri saya pada bulan Desember 2007. Sekarang sudah tahun 2013,  berarti sudah  berlalu hampir enam tahun silam. Selama enam tahun itu pula memang saya tak putus berdoa kepada Allah Swt untuk dapat dimampukan kembali mengunjungi tanah suciNya. Menurut pandangan pribadi saya, hanya Allah Swt yang dapat memampukan hambaNya dengan caraNya sendiri. Cara yang terkadang nyaris tidak masuk akal bagi seorang manusia. 

     Ibadah haji atau umroh memang termasuk sesuatu yang “unik”. Sekalipun merupakan kewajiban bagi seluruh umat muslim untuk menjalankan rukun Islam yang kelima, namun seakan ada ‘sebuah tangan tak terlihat’ yang mengatur kepergian seseorang ketanah suci. Haji hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu. Itu ketentuan Allah Swt sendiri. Namun kenyataannya banyak orang yang telah mampu secara moril dan materiil yang tak pernah bisa pergi ketanah suci. Dengan alasan apa saja. Akan tetapi tak kurang orang yang secara ekonomi sangat tidak mampu, ternyata malah bisa pergi ketanah suci. Dengan cara apa saja yang hanya Allah Swt yang tahu rahasianya. 

     Itu sebabnya banyak orang yang mengatakan bahwa untuk dapat pergi ketanah suci diperlukan ‘undangan’ atau ‘panggilan’ dari Allah Swt. Seperti mau menghadiri resepsi atau masuk kerja saja! Namun demikianlah kenyataannya. 

     Alhamdulillah, saya termasuk golongan orang yang secara ekonomi bukan “orang kaya” namun mendapat karunia dimampukan oleh Allah Swt dengan cara cara yang tak terduga.

     Hari Sabtu Kliwon, tanggal 2 Maret 2013. Saya hadir dalam acara mengenang setahun wafatnya almarhumah ibu Hj. Kardinah Soepardjo Roestam. Tempatnya dikediaman Mas Eko Santoso Soepardjo (Mas Koko, putra pertama Pak Pardjo) yang berada didaerah Pejaten. Dikeluarga besar Alm. Bapak Soepardjo saya sudah dianggap seperti kerabat sendiri. Ini akibat saya terlalu lama mengikuti Pak Pardjo sejak masih jadi Gubernur Jawa Tengah sampai menjadi Menteri Kabinet selama dua periode.
     Seusai pengajian saya berbincang-bincang dengan Mas Koko. Saat itu saya menyerahkan buku kedua saya yang berjudul “Dari (mahluk penghuni) Lawang Sewu sampai ke Kota Yang Bercahaya”. Isinya tentang kisah spiritual saya ketika beberapa kali pergi ketanah suci.

     Tiba-tiba saja Mas Koko bertanya:
“Pak Tonny kemarin ikut umroh dengan teman teman dari Bina ya?”
Yang dimaksud Mas Koko dengan “Bina” adalah PT. Bina Kreasi Pesona Selaras, Biro perjalanan haji dan umroh yang didirikan atas gagasan  almarhum Bapak Soepardjo Roestam dan dikelola oleh teman teman dekat Mas Koko.
Lho, kapan itu Mas? Saya malah tidak tahu tuh..” Jawab saya polos.
“Ah masa? Jadi Pak Tonny belum pernah pergi umroh dengan fasilitas Bina?”
“Belum Mas. Dulu memang pernah dijanjikan oleh Pak Fahmi, tapi sampai sekarang belum terlaksana”.
Pak Fahmi Cornain adalah pengelola pertama sekaligus pemegang saham PT Bina Kreasi Pesona Selaras.
“O ya? Kalau begitu  saya akan bicarakan dengan Fahmi jika dia datang nanti. Pak Tonny mau berangkat dengan siapa?”
Saya tersipu mendengar pertanyaan ‘tembak langsung’ itu. .
Waduh. Bener nih Mas? Ya paling saya berangkat berdua dengan isteri” jawab saya hati-hati, khawatir kecewa.
“Oke, nanti saya bilang ke Fahmi”.

Urusan beres hanya dengan ‘angkat telepon’

     Alhamdulillah siang hari itu Pak Fahmi Cornain datang bersama isterinya. Mas Koko lalu meminta saya dan Pak Fahmi untuk berbicara bertiga.
“Begini Mi, Pak Tonny ini ternyata belum pernah berangkat umroh atas biaya Bina ya? Kalau bulan-bulan ini ada yang berangkat tolong Pak Tonny diikutkan dalam rombongan Bina deh”. Mas Koko langsung menuju pokok masalah. Saya lihat Pak Fahmi diam mendengarkan sambil manggut-manggut.
“Kira-kira bisa kan?” Mas Koko bertanya lagi.
“O, bisa....bisa nanti saya atur dengan Baluki. Mau pergi dengan siapa Pak?” tanya Pak Fahmi
“Dengan isteri saya tentu saja Pak Fahmi” saya jawab sambil senyum-senyum’
“Jadi cuma berdua ya? Oke, sebentar saya kontak Baluki”  Pak Fahmi bicara sambil memencet nomor di perangkat Blackberry nya.
Yang disebut sebagai (Pak) Baluki adalah Direktur PT Bina sekarang. Samar-samar saya dengar Pak Fahmi menitipkan saya berdua untuk ikut dalam rombongan umroh PT Bina dalam bulan-bulan Maret-April ini.
“Beres Ko. Ada rombongan umroh akhir bulan April ini. Pak Tonny siapkan saja syarat-syaratnya. Hubungi Pak Baluki secepatnya ya?”

     Subhanallah,  Allahu Akbar. Sesederhana itu prosesnya. Saya yakin Mas Koko, Pak Fahmi dan pak Baluki mendapatkan kelapangan hati dari Allah Swt. Sehingga dengan begitu mudahnya bersedia memberangkatkan umroh saya beserta isteri.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Mas Koko dan Pak Fahmi. Tapi untuk meyakinkan diri, saya memberanikan bertanya lagi:
Ehm...anu...ini berangkat umroh gratis ya mas?”
“Oh iya....yaaaa....gratis atas tanggungan Bina pokoknya. Jangan Khawatir..” jawab Pak Fahmi meyakinkan.

     Saya mengemudikan mobil pulang kerumah dengan badan yang rasanya seperti melayang. Saya sempatkan telepon untuk mengkonfirmasi langsung dengan Pak Baluki.
“Ya Pak Tonny, saya sudah ditelepon Pak Fahmi. Siapkan saja syarat-syaratnya. Paspor, KTP dan surat nikah. Insha Allah akhir bulan April besok ada rombongan yang berangkat umroh”. Begitu penegasan yang diberikan oleh Pak Baluki Ahmad.

     Tak hentinya saya mengucap syukur atas karunia yang diberikan oleh Allah SWT ini. Saya akan pergi bersama isteri ketanah suci lagi untuk menjalankan ibadah umroh tanpa perlu mengeluarkan biaya sendiri. Inilah mungkin yang dikatakan orang-orang (untuk meledek): “Umroh Kosasih” itu. Bisa pergi beribadah Umroh karena ongKOSnya dikASIH.  


Bersambung