Selasa, 24 Mei 2011

"sajak biru laut"


released by mastonie on Sunday, April 4, 2010 at 8:49pm
 
 
-sajak jiwa yang kusut-

gunung
laut
hujan
badai
kilat
yang bersabung
itulah sesungguhnya
yang menghadang
perjalanan ku menuju
ke arasy
Mu

sementara
perahu layarku
seperti tak akan kuat
menempuh pusaran
angin yang mencabik
satu demi satu
layar yang rapuh
terkulai dan jatuh
larut dan karam
kedasar samudra
Mu yang entah
seberapa dalam seberapa jauh

sementara ujung
malam selalu menghadirkan
wajah aslinya kepada
ku yang bersimpuh
terpana dalam
sejuta
tanda seru
titik
koma
dan
tanda tanya
!

lalu
apalagi kini
yang harus kurangkai
agar jiwaku tak goyah dan tetap tertaut
pada keagungan mantra
Mu?


awal bulan tua
saat mendung menyaput Jakarta

"AYAT-AYAT SAJDAH"

 

Tulisan lepas:

 


by mastonie on Friday, May 7, 2010 at 11:25pm
 
 
Didalam Kitab Suci Al-Qur’anul Karim, terdapat beberapa ayat yang disebut sebagai “AYAT SAJDAH”. Bagi anda yang belum mafhum, apakah ‘Ayat Sajdah’ itu, dibawah ini kami coba rangkumkan selengkapnya:

‘Ayat Sajdah’ (baca: sajadah) adalah ayat yang terdapat pada -beberapa- Surah didalam Al-Qur’an, yang apabila kita membaca/mendengar ayat tersebut (baik sewaktu shalat atau pada saat membaca Al-Qur’an/mengaji), maka disunahkan bagi kita untuk melakukan ‘Sujud Tilawah’, tepat setelah kita membaca/mendengar ayat itu. 
Ayat Sajdah biasanya ditandai dengan tulisan kecil atau gambar sajadah, tapi sayang tidak semua kitab Al-Qur’an (terutama cetakan dalam negeri) mencantumkan tanda ini.

Ada 15 (limabelas) ‘Ayat Sajdah’ yang dapat kita temukan didalam 14 (empatbelas) surah dalam Al-Qur’an. Khusus didalam surah Al Hajj (QS. 22) terdapat sekaligus 2 ayat sajdah yaitu pada ayat 18 dan 77.

Berikut ini adalah nama-nama surah yang ada di Al-Qur’an dimana didalamnya terdapat ‘Ayat Sajdah’:

1. Surah Al A’raaf (Tempat Tertinggi, Makkiyyah, Surah ke 7, 206 ayat)) ayat 206 (QS. 7: 206)
2. Surah Ar Ra’d (Petir, Makkiyyah, Surah ke 13, 43 ayat)) ayat 15 (QS. 13: 15)
3. Surah An Nahl (Lebah, Makkiyyah, Surah ke 16, 128 ayat) ayat 50 (QS. 16: 50)
4. Surah Al Israa’ (Perjalanan Malam, Makkiyah, Surah ke 17, 111 ayat) ayat 109 (QS. 17: 109)
5. Surah Maryam (Makkiyyah, Surah ke 19, 98 ayat) ayat 58 (QS. 19: 58)
6. Surah Al Hajj (Haji, Madaniyyah, Surah ke 22, 78 ayat) ayat 18 dan 77 (QS. 22: 18, 77)
7. Surah Al Furqaan (Pembeda, Makkiyyah, Surah ke 25, 77 ayat) ayat 60 (QS. 25: 60)
8. Surah An Naml (Semut, Makkiyyah, Surah ke 27, 93 ayat) ayat 26 (QS. 27: 26)
9. Surah As Sajdah (Sujud, Makkiyyah, Surah ke 32, 30 ayat) ayat 15 (QS. 32: 15)
10. Surah (As) Shaad (Makkiyyah, Surah ke 38, 88 ayat) ayat 24 (QS. 38: 24)
11. Surah Fushshilat (Yang Dijelaskan, Makkiyyah, Surah ke 41, 54 ayat) ayat 38 (QS.41: 38)
12. Surah An Najm (Bintang, Makkiyyah, Surah ke 53, 62 ayat) ayat 62 (QS. 53: 62)
13. Surah Al Insyiqaaq (Terbelah, Makkiyyah, Surah ke 84, 25 ayat) ayat 21 (QS. 84: 21)
14. Surah Al ‘Alaq (Segumpal Darah, Makkiyyah, Surah ke 96, 19 ayat) ayat 19 (QS. 96: 19)

Adapun do’a yang dibaca pada saat kita melakukan ‘Sujud Tilawah’ itu (menurut Riwayat Tirmidzi) adalah sebagai berikut:
“Sajada wajhiiya lilladzii khalaqahu wasyaqqa sam’ahu wabasharahu bihaulihi waquw-watihi”
(-Telah- Saya sujudkan wajahku kehadapan Allah, dzat yang menciptakannya, yang membuka pendengaran dan penglihatannya dengan segala daya dan kekuatan Nya)

Rincian selengkapnya ‘Ayat-ayat Sajdah’ (dalam bentuk transliterasi) adalah sebagai berikut:

1. QS. 7: 206 : ”Innalladziina ‘inda rabbika laa yastakbiruuna ‘an ‘ibaadatihii wa yusabbihuunahuu wa lahuu yasjuduun”
(Sesungguhnya orang-orang yang ada disisi Tuhanmu tidak merasa enggan untuk menyembah Allah dan mereka menyucikan-Nya dan hanya kepada-Nya mereka bersujud)

2. QS. 13: 15 : “Wa lillaahi yasjudu man fis-samaawaati wal ardhi thau’aw wa karhaw wa zhilaaluhum bil ghuduwwi wal aashaal”
(Dan semua sujud kepada Allah baik yang dilangit maupun dibumi, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa –dan sujud pula- bayang-bayang mereka diwaktu pagi dan petang hari)

3. QS. 16: 50 : “Yakhaafuuna rabbahum min fauqihim wa yaf ‘aluuna maa yu’maruun”
(Mereka takut kepada Tuhan yang –berkuasa- diatas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan –kepada mereka-)

4. QS. 17: 109 : “Wa ya khirruuna lil adzqaani yabkuuna wa yaziiduhum khusyuu’aa”
(Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’)

5. QS. 19: 58 : “Ulaa-ikalladziina an’amallaahu ‘alaihim minan nabiyyiina min dzurriyyati aadama, wa mimman hamalnaa ma’anuuhi wamin dzurriyyatti ibraahiima wa israa’iila wa mimman hadainaa wajtabainaa idzaa tutla ‘alaihim aayaaturrahmaani kharruu sujjadaw wa bukiyyaa”
(Mereka itulah orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu dari –golongan- para nabi dan keturunan Adam dan dari orang yang kami bawa –dalam kapal- bersama Nuh dan dari keturunan Ibrahim dan Israil dan dari orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih kepada mereka, maka mereka tunduk sujud dan menangis)

6.1. QS. 22: 18 : “Alam tara annallaaha yasjudu lahuu man fis-samaawaati waman fil ardhi wasy-syamsu wal qamaru wan-nujuumu wal jibaalu wasy-syajaru wad-dawaabbu wa katsiirum minan naas, wa katsiirun haqqa ‘alaihil ‘adzaab, wamay yuhinillaahu famaa lahu mim mukrim, innallaaha yaf’alu maa yasyaa’”
(Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada dilangit dan siapa yang ada dibumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata dan banyak diantara manusia? Tetapi banyak -manusia- yang pantas mendapatkan azab. Barangsiapa dihinakan Allah, tidak seorangpun yang akan memuliakannya. Sungguh Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki)
6.2. QS. 22: 77 : “Yaa ayyuhal ladziina aamanur ka’uu wasjuduu wa’buduu rabbakum waf’alul khaira la’allakum tuflihuun”
(Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung)

7. QS. 25: 60 : “Wa idzaa qiila lahumus-juduu lirrahmaani qaalu wamar-rahmaan anasjudu lima ta’murunaa wa zaadahum nufuuraa”
(Dan apabila dikatakan kepada mereka “Sujudlah kepada Yang Maha Pengasih”, mereka menjawab:”Siapakah yang Maha Pengasih itu? Apakah kami harus sujud kepada Allah yang engkau –Muhammad- perintahkan kepada kami? Dan mereka makin jauh lari-dari kebenaran-)

8. QS. 27: 26 : “Allaahu laa-ilaaha illaa huwa rabbul ‘arsyil ‘azhiim”
(Allah, tidak ada tuhan melainkan Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang agung)

9. QS. 32: 15 : “Innamaa yu’minu bi-aayaatinalladziina idzaa dzukkiruu bihaa kharruu sujjadaw wa sabbahuu bihamdi rabbihim wahum laa yastakbiruun”
(Orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat kami, hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya –ayat-ayat Kami-, mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya serta tidak menyombongkan diri)

10. QS. 38: 24 : “Qaala laqad zhalamaka bisuaali na’jatika ilaa ni’aajah, wa-inna katsiiram minal khulathaa-I layabghii ba’dhuhum ‘alaa ba’dhin illal ladziina aamanuu wa’amilush shaalihati wa qaliilum maa-hum wa zhanna daawuudu annamaa fatannaahu fastaghfara rabbahuu wa kharra raaki’aw wa anaab”
(Dia –Dawud- berkata:”Sungguh dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk –ditambahkan- kepada kambingnya. Memang banyak diantara orang-orang yang bersekutu itu berbuat zalim kepada yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan hanya sedikitlah yang begitu”. Dan Dawud menduga bahwa Kami mengujinya, maka dia memohon ampunan kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat)

11. QS. 41: 38 : “Fa-inistakbaruu falladziina ‘inda rabbika yusabbihuuna lahuu billaili wannahaari wahum laa yas-amuun”
(Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka -malaikat- yang disisi Tuhanmu bertasbih kepada Nya pada malam dan siang hari sedang mereka tidak pernah jemu)

12. QS. 53: 62 : “Fasjuduu lillahi wa’buduu”
(Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah Dia)

13. QS. 84: 21 : “Wa-idzaa quri-a ‘alaihimul qur-aanu laa yastuduun”
(Dan apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak –mau- bersujud)

14. QS. 96: 19 : “Kallaa laa tu thi’hu wasjud waqtarib”
(Sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah serta dekatkanlah dirimu kepada Allah-)

Demikian sekilas uraian tentang ‘Ayat-ayat Sajdah’ semoga bermanfaat bagi kita semua. 
Amin
 
 
 
*) Dari berbagai Sumber: 
1. “Al-Huda” Tafsir Qur’an Bahasa Jawa, karangan
Kol. Drs. H. Bakri Syahid, Mantan Rektor IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Penerbit Bagus Arafah, Cet.1, 1979
2. The Noble Qur’an, Transliteration in Roman Script, Penerbit Darussalam Riyadh, Cet.1, 2002

Senin, 23 Mei 2011

"SHOLAT PINDAH TEMPAT DAN JALAN 'ATRET' DI MASJIDIL HARAM"



(cuplikan dari: “kisah2 spiritual” mastonie)

( 17 )

 Ka'bah dimalam hari


Released by mastonie on Monday, May 23, 2011 at 09.10 pm


Tawaf dan sholat a’la jemaah Timur Tengah..

Bagi anda yang baru pertama kali pergi ketanah suci (entah dalam rangka Umroh ataupun menunaikan ibadah haji), pasti akan terheran-heran bin tersongong-songong menyaksikan aneka tingkah laku para jemaah yang berasal dari segenap penjuru dunia itu. Terutama kalau sedang beribadah di Masjidil Haram.
Jemaah calon haji dari Indonesia terkenal paling banyak jumlahnya. Begitu juga terkenal adab sopan santunnya. Namun demikian jumlahnya masih kalah banyak oleh jemaah calon haji dari Negara-negara Timur Tengah (bila digabung). Mungkin  karena kesamaaan bahasa (Arab), dan jarak yang tak terlalu jauh dicapai dari Negara mereka. Selain itu mereka juga mudah terlihat dari postur tubuhnya yang tinggi besar. Bahkan sampai ke jemaah wanitanya juga punya body yang size nya rata-rata lebih besar dari ukuran badan jemaah Indonesia.
Tapi yang lebih mencengangkan adalah perilaku mereka dalam melakukan ibadah. Banyak hal aneh dan lucu yang saya jumpai. Setidaknya menurut pola pikir dan keyakinan orang Indonesia. Misalnya orang yang sholat tanpa bersidekap. Atau yang sholat dengan wajah menengadah. Ada pula yang melakukan tawaf dengan ‘gegap gempita’ dipimpin oleh seorang mutawif yang membawa tongkat dengan atribut dan bendera Negara masing-masing. Sang mutawif ini biasanya memimpin tawaf sambil membaca doa dengan suara sangat keras. Barangkali untuk mengalahkan suara ribuan jemaah lain yang memang bergemuruh suaranya. Jemaah haji dari Iran atau Irak lebih ‘heboh’ lagi. Sepanjang jalan menuju ke Masjidil Haram mereka berbondong berjalan beriringan sambil mengibarkan bendera Negara maupun lambang lain atau bahkan ‘mengibarkan’ sandal diatas sebatang tongkat seraya berteriak-teriak (dalam bahasa Arab tentu saja). Persis seperti orang sedang unjuk rasa.  Konon hal seperti itu sekarang sudah dilarang oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

Pada suatu siang ketika sedang melaksanakan tawaf sunah, saya menyaksikan seorang jemaah haji yang sedang sholat didepan “Maqom Ibrahim”. Banyak yang salah menafsirkan tempat ini sebagai makam Nabi Ibrahim AS. Padahal bukan. Berbentuk mirip sebuah sangkar burung berwarna emas, didalamnya terdapat sebuah batu dimana terdapat bekas telapak kaki Nabi Ibrahim. Batu bekas telapak kaki Ibrahim, itulah sejatinya arti “Maqom Ibrahim”. Konon inilah sebuah batu ajaib yang dikirim oleh Allah SWT untuk membantu Nabi Ibrahim membangun Ka’bah. Batu (yang disebutkan oleh Ibnu Abbas, RA sebagai batu dari surga) itu berlaku seperti sebuah lift yang membawa Nabi Ibrahim naik turun pada saat membangun dinding Ka’bah. Konon dengan menaiki batu itu pula, Nabi Ibrahim AS melayang keatas bukit untuk menyerukan panggilan berhaji bagi umat manusia, baik yang sudah lahir maupun belum. Barangsiapa pada saat itu menjawab panggilannya, maka kelak (entah kapan) suatu ketika dia akan bisa pergi haji.   Wallahu’alam.
Selain Hajar Aswad, Multazam dan Hijir Ismail, “Batu dalam sangkar” ini termasuk tempat yang paling diminati oleh ribuan jemaah haji maupun umroh untuk didekati. Banyak yang berusaha untuk menjamah, bahkan berusaha memegang batu yang terkurung rapat itu. Ada Askar yang menjaga tempat itu, yang akan melarang jemaah menjamah, apalagi sholat (sunah) didepan tempat yang terletak hanya beberapa meter saja disamping kiri depan pintu Ka’bah. Larangan itu diberlakukan karena apabila banyak jemaah yang berkerumun di Maqom Ibrahim, maka akan mengganggu jalannya jemaah yang sedang tawaf. Tapi larangan tinggal larangan. Buktinya siang itu saya melihat seorang jemaah pria lanjut usia berpakaian gamis putih dengan kopiah haji dikepalanya memaksakan diri sholat didekat Maqom Ibrahim. Entah bagaimana tak ada Askar yang melihat orang yang sholat ditempat ‘verboden’ itu. Tapi tentu saja dia terganggu sholatnya dengan banyaknya orang yang sedang melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah.
Disinilah terjadi kelucuan. Pria lanjut usia berjenggot putih itu meletakkan barang bawaannya dihadapannya untuk menandai batas tempat dia sholat. Dia berdiri dengan mengacungkan tangan kirinya lurus kedepan, maksudnya untuk melarang orang lewat didepannya. Sedangkan tangan kanannya bersidekap seperti layaknya orang sholat. Tapi mana ada orang yang peduli dengan ‘larangan’nya itu. Tetap saja orang lewat dihadapannya, karena begitu banyaknya jemaah yang sedang melakukan tawaf. Maka sambil tetap sholat dia sibuk mengibaskan tangan kirinya untuk mencegah orang lewat.  Suatu saat barang bawaan yang ada dihadapannya tertendang oleh jemaah lain yang lewat ditempat itu. Benda semacam tas itu kemudian terus tertendang oleh kaki kaki jemaah lain sehingga makin menjauh dari tempat asalnya. Yang membuat saya geli sehingga hampir tertawa ‘ngakak’ adalah ulah pria nekat itu yang kemudian melakukan tindakan yang (bagi saya) sangat menggelikan. Sambil terus mengacungkan tangan kirinya kedepan dan tetap dalam posisi sedang sholat, dia berjalan miring mengejar barang bawaannya yang makin menjauh. Kaki kanannya berusaha menggapai-gapai miliknya itu, tapi dia bersikukuh tetap tidak membatalkan sholatnya! Akhirnya kaki kanannya berhasil juga menginjak benda miliknya itu, maka berhentilah pengembaraan barang itu. Dan posisi akhir dari lelaki itu meledakkan tawa saya. Pria lanjut usia itu sholat dalam posisi masih mengacungkan tangan kirinya kedepan, sementara kaki kanannya terentang kearah samping depan menginjak barang bawaannya. Dia sudah bergerak sekitar dua meter lebih dari tempat awalnya, tapi dia tetap keukeuh sholat!
Saya tidak tahu apakah sholat (sambil bergerak) seperti itu syah atau tidak. Entah kalau dimasukkan sebagai kategori darurat!


“Atret” (jalan mundur) sambil melambaikan tangan kearah Ka’bah…..

 Tawaf,    foto2 by mastonie
Tawaf Wada’ adalah salah satu wajib haji. Tawaf perpisahan ini harus dilakukan oleh jemaah haji  beberapa saat sebelum meninggalkan kota Mekah al-Mukaromah. Kalau tidak dilakukan maka jemaah haji itu harus membayar Dam. Setelah melaksanakan tawaf wada' para jemaah harus segera meninggalkan Masjidil Haram dan kota Mekah. Tidak boleh lagi tinggal di Masjid apalagi masih bermalam dikota Mekah.
Bersama dengan istri, saya berniat melakukan tawaf wada’ pada hari menjelang keberangkatan menuju kota Madinah al-Munawaroh. Saya sengaja berdiam di Masjidil Haram sesudah sholat subuh, agar setelah hari agak terang bisa melaksanakan wajib haji yang terakhir itu. Kurang lebih pukul enam pagi waktu setempat, saya bersama istri mengambil air wudhu dan bersiap-siap menjalankan tawaf wada’. Cuaca kota Mekah pada pagi hari yang cerah itu cukup dingin. Tapi baru beberapa langkah memasuki pelataran didalam Masjidil haram dimana Ka’bah berdiri dengan megah, saya (maaf) buang angin. Lucunya istri saya juga mengalami hal yang sama. Maka dengan segera saya balik lagi mencari tempat wudhu terdekat. Tapi kejadian yang sama terulang lagi, bahkan sampai tiga kali! Astagfirullah, saya beristigfar memohon ampun atas segala dosa. Saya putuskan untuk kembali saja kehotel (yang hanya sekitar 200 meter jauhnya dari Masjidil Haram) untuk minum obat. Siapa tahu bisa mencegah buang angin yang terus-terusan itu.
Sudah sekitar pukul setengah delapan pagi ketika akhirnya saya bersama istri kembali ke Masjidil Haram untuk memulai kembali tawaf wada’.  Jadwal keberangkatan ke kota Madinah adalah pukul sembilan. Masih ada waktu tersisa sekitar satu setengah jam. Selama ini saya catat waktu untuk tawaf (tujuh putaran) ditambah sholat sunah dua raka’at, kurang lebih satu sampai satu setengah jam. Tergantung keadaan penuh atau tidaknya jemaah yang melakukan tawaf. Jadi saya yakin bisa menepati jadwal waktu. Beruntung pada saat itu saya tidak tahu bahwa kami berdua adalah  jemaah yang paling akhir melakukan tawaf wada’ dalam rombongan kami. Jadi saya tidak merasa terbebani. Berdua dengan istri saya menjalankan tawaf wada’ dengan panduan alat pemutar doa tawaf yang bisa kita dengarkan bersama sambil sekaligus menirukan  lewat stereo earphones. Kemajuan alat elektronika buatan manusia yang sangat memudahkan umat untuk beribadah.
Subhanallah, sekitar pukul setengah sembilan pagi saya sudah selesai melaksanakan shalat sunah dua raka’at sesudah tawaf. Saya selalu berusaha mengambil tempat sholat (wajib ataupun sunah) yang lurus dengan arah multazam. Saya senantiasa meyakini sabda Rasulullah SAW:  
“ Antara Rukun Aswad (sudut dimana terletak Hajar Aswad) dan Pintu Ka’bah, disebut Multazam. Tidak ada orang yang berdoa memohon sesuatu (kepada Allah) di Multazam, melainkan akan dikabulkan permohonannya itu oleh Allah SWT” (HR. Baihaqi dan Ibnu Abbas)
Sebelum meninggalkan Masjidil Haram saya sempat melihat pemandangan yang bagi saya terlihat unik dan menarik. Serombongan jemaah haji (entah dari Negara mana) tampak berbaris rapi meninggalkan Masjidil Haram melalui salah satu pintunya. Kalau hanya berbaris begitu saja tentu tidak aneh. Tapi rombongan ini berbaris sambil ‘atret’ (berjalan mundur)! Semua wajah tampak tak berkedip menatap Ka’bah sambil mulutnya tak berhenti  melantunkan doa. Sesekali mereka melambaikan tangan kearah Baitullah. Saya melihat beberapa orang diantara mereka tampak meneteskan airmata. Pasti airmata haru karena harus berpisah dengan Rumah Allah. Perasaan saya campur aduk. Antara takjub, geli dan tersentuh. 
Beberapa waktu kemudian ketika saya bertanya kepada pembimbing haji Anubi tentang perilaku aneh itu, saya baru mendengar cerita bahwa memang ada ‘ritual’ Tawaf Wada’ semacam itu (harus meninggalkan Masjidil Haram dengan berjalan mundur, karena harus tetap dapat melihat Ka’bah sampai keluar dari masjid) yang dilakukan oleh jemaah haji dari beberapa Negara. 
Tapi ritual itu tidak jelas bersumber darimana dan entah dari aliran apa.  


bersambung…..

Kamis, 19 Mei 2011

"TENTANG TANGGAL 20 MEI "

Tulisan lepas:

 

"20 MEI....HARKITNAS.....ATAU HARKRUTNAS...?"

(Sebuah renungan untuk para Pemuda harapan Bangsa Indonesia)



 dr. Soetomo (30 Juli 1888 - 30 Mei 1938)



released by mastonie on Wednesday, May 19, 2010 at 8:23pm


Bulan MEI bagi bangsa Indonesia adalah bulan yang penuh dengan peringatan.
Selain Hari Buruh (tanggal 1 Mei) yang milik internasional, ada yang asli milik kita sendiri yaitu HARDIKNAS (Hari Pendidikan Nasional, tanggal 2 Mei) dan yang terakhir adalah HARKITNAS (Hari Kebangkitan Nasional, tanggal 20 Mei).
Apa sebetulnya yang membuat kita harus selalu memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) itu?
Tak ada kata lain selain untuk lebih memupuk dan memperdalam jiwa kebangsaan kita.
Istilah 'keren' nya barangkali adalah nasionalisme.

(Sebuah pertanyaan klasik yang harus selalu kita ajukan: sedalam apakah sebetulnya jiwa atau semangat kebangsaan kita saat ini? Wahai para pemuda harapan bangsa, bertanya dan berkacalah pada dirimu sendiri. Seberapa besar dan dalamnya cintamu pada negeri dan bangsamu?)

Lalu mengapa tanggal 20 Mei harus disebut sebagai hari “KEBANGKITAN”? Apakah bangsa kita dalam keadaan “tertidur”, sehingga harus “bangkit”? Tidak, kata “kebangkitan” itu adalah sebuah kata yang kalau dirunut sejarahnya adalah cermin dari sebuah kesadaran anak bangsa yang berani tampil menunjukkan eksistensi dirinya. Walau saat itu bangsanya dalam keadaan dikuasai atau dijajah oleh bangsa asing. 
Gedung "Stovia"
Marilah kita renungkan bersama catatan sejarah masa lalu bangsa Indonesia: tanggal 20 Mei 1908. Pada saat itu bangsa kita masih dalam cengkeraman kolonialis Belanda. Sekelompok pemuda inlander (pribumi asli) tanpa tedeng aling-aling berani membentuk sebuah perkumpulan bernama "Boedi Oetomo". 
Sebuah nama yang sangat orisinil (pribumi banget gitu loh), bahkan terdengar sangat Njawani (ber’bau’ bahasa Jawa).
Kalian pasti tahu dong siapa pelopor nya?
Eeeiit jangan dijawab: “Sumpah bukan saya loh”, becanda aja sih ente bisanya!
Yak tul, beliaulah yang bernama Soetomo. Lahir pada tanggal 30 Juli 1888 didesa Loceret, Nganjuk Jawa Timur dari keturunan Kiai dan ulama serta pangreh praja. Ayahnya yang bernama R. Soewadji adalah pemangku Desa Ngapeh. Kakeknya yang bernama KH. Abdurrachman adalah tokoh ulama terkenal di Nganjuk.
Jangan salah ya, pemuda Soetomo ini adalah dokter pribumi asli lulusan Stovia (School tot Opleiding van Inlandse Artsen, Sekolah Kedokteran untuk pribumi/bumiputra) di Jakarta.

 dr. Soetomo
Bayangkan, pada masa penjajahan Belanda itu, Soetomo berhasil lulus sebagai dokter. Bahkan kemudian juga meneruskan pendidikan kedokterannya kenegeri Belanda selama 4 tahun. Semangat kebangsaan pemuda pribumi yang satu ini sungguh sangat berkobar-kobar. Dia yakin haqul yakin, bahwa harus ada seseorang yangb berani memelopori untuk membuat sebuah "wadah". Yaitu sebuah perkumpulan yang dapat dipakai untuk meningkatkan pendidikan rakyat sekaligus sambil mengobarkan semangat kebangsaan (untuk berjuang meraih kemerdekaan) melalui kebudayaan.
“Boedi Oetomo” (disingkat BO atau sekarang BU) adalah sebuah organisasi modern pertama (untuk jaman itu) di Hindia Belanda yang berani secara terang-terangan menyatakan mempunyai “misi dan visi” meningkatkan pendidikan dan kebudayaan bagi para inlander.
Tidak hanya itu, dokter pribumi ini juga mewujudkannya dengan kiprah nyata dalam membantu bangsanya. Ia seringkali menolak dibayar oleh pasien-pasiennya. Semangat itu menular pula kepada seluruh anggota “BO”. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau organisasi para inlander ini begitu besar perannya dalam  membangkitkan semangat inlanders. Utamanya dalam upaya merintis perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Itulah sebabnya tanggal lahir BO kemudian (setelah Indonesia merdeka) diputuskan oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk menjadi “Hari Kebangkitan Nasional”.

Namun sayangnya sebelum cita-cita kemerdekaan terwujud, dr. Soetomo wafat.
Hanya 10 hari setelah peringatan 30 tahun berdirinya Boedi Oetomo.
Beliau wafat dan dimakamkan di Surabaya pada tanggal 30 Mei 1938.
Nah,  di jaman penjajahan sudah ada seseorang yang berani menjadi pelopor kemajuan bangsanya (yang masih dalam keadaan terjajah). Kini di saat bangsa Indonesia sudah lebih dari 65 tahun merdeka, masih adakah orang yang (paling tidak) mempunyai etos kerja seperti pemuda Soetomo?
Cobalah kita renungkan: dijaman (yang katanya sudah) merdeka ini masih adakah seorang dokter yang MENOLAK dibayar oleh pasiennya? 
Kenyataan yang kita hadapi sekarang: mau masuk rumah sakit saja calon pasien sudah harus bayar Down Payment (DP, uang muka) dulu. Tidak mampu bayar? Ya jangan sakit (begitu olok-oloknya).
Itu baru satu hal tentang kerelaan atau kesediaan berkorban dari seorang pejuang.
Masih adakah kerelaan dan kesediaan berkorban (untuk orang lain) semacam itu pada jaman dimana justru kita telah bebas merdeka dan diperintah oleh bangsa sendiri?
Ini adalah beberapa contoh sederhana dan gampang kita jumpai dimana saja:
Kalau anda berada didalam kendaraan umum, masihkah anda lihat ada orang yang merelakan tempat duduknya untuk para wanita dan kaum lanjut usia? 
Para laki-laki yang ada didalam metromini, buskota, busway atau KRL/KRD pura-pura tidak melihat dan asyik dengan dirinya sendiri. Mungkin mereka berpikir: bukankah sekarang sudah jaman kesetaraan “jender”? Lagipula kan sama-sama bayar? 
Seandainyapun masih ada laki-laki yang punya sifat ‘jentelmen’, pasti jumlahnya hanya sedikit sekali.
Dijaman reformasi sekarang ini, gepeng (gelandangan dan pengemis) dan anak jalanan makin banyak.  Setiap hari kita bisa melihat mereka nyaris dimana saja. Tapi organisasi yang punya misi untuk menyantuni orang-orang yang kurang beruntung ini bisa dihitung dengan jari. 
Yang banyak kita temui sekarang malah organisasi yang (justru) mengorganisir “gepeng dan anjal” untuk keuntungan sendiri! Mereka menyediakan kendaraan untuk anak-anak asuhnya. Kemudian orang-orang yang kurang beruntung nasibnya itu di drop disuatu tempat untuk mulai beraksi mengais rejeki dari rasa iba orang. Hasilnya nanti harus disetor kepada sang induk semang. Mereka yang  susah payah berpanas ria itu paling banter hanya dapat 10 sampai 25 % saja. 
Apakah ini bukan exploitation de l’homme par l’homme (pemerasan manusia atas manusia) gaya Indonesia merdeka?
Menyedihkan sekali. Sepertinya jiwa kebangsaan kita makin jauh terpuruk.
Para founding fathers (Bapak Bangsa) kita yang telah berada dialam keabadian (termasuk dr. Soetomo, para pejuang kemerdekaan dan proklamator) mungkin hanya bisa menyesali kelakuan generasi penerusnya yang makin lama makin "aneh-aneh dan model-model". 
Banyak sekali (mereka yang mengaku) pemimpin atau pejabat  malah melakukan perbuatan yang sangat tidak terpuji. Berapa banyak tokoh yang sudah tertangkap tangan oleh KPK ataupun Polisi karena kasus korupsi? Tidak hanya eksekutif, sekarang legislatif dan yudikatif pun seolah berlomba-lomba untuk jadi calon penghuni hotel prodeo alias bui bin penjara! 
Padahal para pendiri bangsa (yang telah tiada) dahulu tak pernah terbersit keinginan setitikpun untuk memperkaya diri sendiri. Mereka hanya berjuang meningkatkan derajat kehidupan bangsanya menjadi setara dengan bangsa merdeka yang lain.
Semboyan (bahasa Jawa) seperti “Rumongso melu handarbeni” (merasa ikut memiliki) dan “Rumongso melu hangrungkebi” (merasa ikut mempertahankan) sepertinya sudah tidak ada gaungnya lagi saat ini. Siapa sih yang masih punya rasa ‘ikut memiliki’ saat ini? 
Semua kemudahan dan sarana yang disediakan (oleh yang berwajib) untuk kepentingan umum, hampir selalu tidak berumur panjang. Ambil contoh telepon umum. Meskipun kini sudah jaman hape atau ponsel, tapi telepon umum ini jelas masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat banyak. Tapi apa yang sering kita lihat? Banyak telepon umum yang sudah tidak berfungsi lagi, Entah karena tempat koinnya rusak (bekas dicongkel) atau bahkan gagang teleponnya raib! 
Di sarana transportasi keadaannya lebih menyedihkan lagi. Sering kita lihat di KA, KRL atau KRD,  bahkan busway (yang relatif masih baru beroperasi di Jakarta),  benda-benda yang seharusnya sangat berguna sudah tidak berada ditempatnya lagi. Pintu otomatispun tidak berfungsi gara-gara diganjal batu! Toilet umum yang ada di terminal bis ataupun stasiun KA, maupun di Bandara (yang katanya internasional) penuh dengan coretan kata-kata jorok si tangan jahil. Gerendelnya tak bisa dipergunakan. Belum lagi kebersihan dan semerbak baunya yang sangat tidak sedap itu. 
Padahal  untuk membuang hajat (kita sendiri) ditoilet umumpun kita sekarang harus membayar!
Itu tadi sekilas gambaran bahwa masyarakat kita masih banyak yang belum mempunyai ‘rasa ikut memiliki’ (“sense of belonging”). Atau mungkin punya, tapi kadarnya masih sangat rendah sekali.
Adapun tentang soal ‘merasa ikut mempertahankan’, rasanya kadarnya juga sudah sangat berkurang. Masyarakat kita sepertinya sudah dihinggapi rasa cuek dan apatis yang berlebihan terhadap keadaaan yang ada disekitarnya. 
Rasa kebersamaan sebagai sebuah bangsa yang besar, (yang mendapat kemerdekaan bukan dari hadiah penjajah tapi dengan perjuangan keringat dan darah), terkesan sudah luntur. Tergerus oleh rasa egoisme yang sangat tinggi. Baik pribadi, kelompok, partai ataupun golongan. 
Itu barangkali yang menyebabkan Negara jiran sampai berani mengambil pulau kita, batik kita, bahkan kesenian dan lagu daerah kita!
Apa reaksi kita sebagai anak bangsa? Nyaris tak terdengar…..
Wahai para pemuda, dimana posisimu kini? Apakah kakimu telah menapaki jalur yang benar seperti yang dicita-citakan para pendahulu kita, para pionir seperti dr. Soetomo?
Ataukah kau lebih memilih ‘jalan halus nan mulus’ menggiurkan, seperti yang dijalani oleh para Pemimpin dan Pejabat yang menjadikan korupsi sebagai “gaya hidup modern” saat ini?

Oleh karena itu wajar saja kalau muncul sebuah pertanyaan besar:
“Apakah peringatan HARKITNAS (Hari KeBANGKITan Nasional) akan menjadi  awal dari sebuah era yang jadi pertanda  HARKRUTNAS (Hari KeBANGKRUTan Nasional)?”

Pilihan ada DITANGANMU wahai para pemuda bunga bangsa.



Rabu, 11 Mei 2011

"KISAH WANITA LATAH DAN TERKABULNYA DOA........."


(cuplikan dari: "kisah2 spiritual" mastonie)

( 16 )

Masjidil Haram diwaktu malam

Released by mastonie on Wednesday, May 11, 2011 at 07.43 pm


"Obat" latah yang tak terduga……

Wanita ‘Betawi’ setengah baya itu berwajah sangat sederhana. Boleh dikata sangat lugu. (Demi menjaga nama baik dan martabatnya, saya lebih suka tak menyebutkan identitasnya). Hanya satu hal yang membuatnya “beda” dari wanita lain, ialah kebiasaan latah yang mungkin sudah sangat kronis dideritanya. Setiap ada sesuatu yang membikin dia terkejut, maka secara spontan dari mulutnya keluar rentetan sumpah serapah yang semuanya mengacu kepada (maaf) alat vital lelaki. 
Hal itulah yang sering menjadi bahan tertawaan dan olok-olok temannya. Tak jarang mereka dengan sengaja mengagetkannya, hanya untuk mendengar ia menyerocos menyebut kata jorok yang tak pantas didengar itu.
Tentu dia sangat merasa bersalah pada kebiasaan buruknya itu. Tapi sungguh sangat sulit bagi dia untuk menghentikan kebiasaan latah itu.

(Menurut ilmu psikologi, latah merupakan sebuah gangguan kejiwaan dimana penderitanya cenderung meniru atau mengikuti perkataan atau perbuatan orang lain, terutama pada saat dia terkejut. Hanya terdapat didaerah benua Asia dan Afrika saja, penyakit ini diduga erat  berhubungan dengan pola sosial budaya tertentu. Secara umum penderita latah biasanya berasal dari golongan masyarakat yang rendah strata sosial ataupun kecerdasannya. Namun entah mengapa,  ‘penyakit latah’ juga diderita oleh beberapa selebritis Indonesia yang top saat ini. Lucunya -atau konyolnya?- mereka malah tampak bangga dengan latahnya).

Dari kegigihannya menabung sedikit demi sedikit, wanita Betawi itu akhirnya bisa menunaikan kewajibannya untuk pergi berhaji ketanah suci. Hanya satu hal saja (latah) yang sangat dikhawatirkannya. Seluruh keluarga besarnya juga ikut merasa prihatin. Dia sudah membayangkan alangkah memalukannya apabila tak bisa menjaga mulutnya dari kebiasaan latah itu sewaktu sedang berada ditanah suci. 
Meskipun barangkali yang tahu arti kata-kata joroknya (yang menyembur begitu saja saat dia latah) hanya sesama jemaah asal Indonesia saja.
Dia juga menyadari bahwa selama berada di tanah suci, para jemaah calon haji (apalagi pada saat mengenakan kain ihram) diharuskan untuk dapat menjaga  perkataan dan perbuatan dari hal-hal yang kotor atau tidak baik. Tapi dengan kerendahan hati yang tulus dari seorang hamba, ia menyerahkan nasibnya kepada Allah Sang Maha Pencipta.
Oleh sebab itu tak hentinya ia berdoa agar Allah Swt berkenan memberikan kesembuhan pada dirinya dari 'penyakit ringan' tapi sangat memalukan itu.
Peringatan dan bukti kekuasaan Allah Swt kepada hambaNya ternyata datang dengan cara-cara yang tak terduga.
Menurut penuturannya sendiri, pada saat ia melaksanakan tawaf qudum (tawaf pertama kali saat masuk kota Mekah atau masuk Masjidil Haram), disitulah terjadi peristiwa yang sungguh sangat menggetarkan hati dan jiwanya. 
Ditengah kekhusyukannya melaksanakan tawaf, tiba-tiba ada seorang pria Arab yang tinggi besar memepetnya. Belum sepenuhnya sadar apa yang terjadi, sekonyong pria Arab itu menyibakkan ihramnya sehingga terlihatlah (maaf) “senjata rahasia” nya yang extra large dalam posisi ‘terkokang’ tegak berdiri. Tentu saja dia panik dan menjerit, dan dengan serta merta kambuhlah penyakit latahnya yang membuat seluruh anggota rombongannya (tentu juga jemaah lain disekitarnya) heran melihat tingkah lakunya. Dengan perasaan malu dan takut yang luar biasa ia segera berusaha menghindarkan diri dari pepetan laki-laki ‘parno’ itu. 
Seluruh tubuhnya lemas gemetar bahna kaget dan syok melihat ‘pemandangan’ jorok luar biasa itu.
Dia maklum bahwa rangkaian ibadah tawafnya belum selesai, sehingga walaupun dengan perasan kalut dan badan gemetaran dia berusaha tetap berada dalam rombongannya untuk melanjutkan tawaf. 
Namun kejadian yang sama terulang lagi pada putaran berikutnya. Anehnya sekarang yang unjuk aksi ‘pamer senjata’ berukuran XXL adalah laki-laki Arab yang lain lagi. Dan kejadian ‘pornoaksi’ itu berulang sampai lebih dari tiga kali dengan pemeran utama laki-laki Arab yang berbeda lagi!
Ajaib, karena begitu syok dan traumanya melihat pemandangan beruntun yang bahkan tak pernah diduganya itu, mendadak mulut wanita malang itu bagai terkunci rapat dan  tiba-tiba penyakit latahnya seakan lenyap ditelan rasa panik dan ketakutan yang amat sangat.
Selesai tawaf dia menangis ‘ngglolo’  (tersedu-sedu hebat) pada saat melaksanakan shalat sunah dua rakaat dipelataran Ka’bah, seraya mohon ampun kepada Allah Swt atas semua dosanya selama hidup. Sekaligus ungkapan perasaan bersyukur bahwa Allah Yang Maha Penyembuh telah berkenan menyembuhkan penyakit latahnya walau dengan melalui kejadian traumatis yang sangat menjijikkan sekaligus menakutkan.
Wallahu a'lam bissawab.


Tempat maqbulnya doa….

Rasulullah Saw pernah bersabda:
“Antara Rukun Aswad (sudut dimana terletak Hajar Aswad) dan pintu Ka’bah disebut Multazam, tidak ada orang yang meminta sesuatu (kepada Allah) di Multazam, melainkan Allah Swt akan mengabulkan permintaannya itu” (HR. Baihaqi dan Ibnu Abbas).

Saya didepan "pintu Ka'bah"
Konon sejak Nabi Adam a.s, tempat diantara pintu Ka’bah dan Hajar Aswad ini selalu menjadi tempat untuk berdoa para Nabi, jauh sebelum jaman Baginda Nabi Muhammad Saw menyebarkan agama Islam.
Dijaman sekarang justru sulit sekali berdoa di daerah ‘rawan’ ini. Ribuan jemaah yang berdesakan untuk mencium Hajar Aswad, menjadi salah satu penghalang untuk berdiam khusyuk ditempat yang tidak terlalu lebar itu.  Belum lagi terjangan jemaah yang sedang melaksanakan tawaf yang seperti air bah. Oleh sebab itu saya selalu melakukannya (berdoa) ditempat yang agak jauh, namun berada persis dalam satu garis lurus dengan Multazam. Saya yakin bahwa Allah Swt tetap akan menerima doa hambaNya, asalkan hamba tersebut ikhlas, tawakal dan pasrah atas segala kehendakNya.
Pada saat shalat sunah dan shalat wajib berjamaah pun saya selalu berusaha mencari tempat yang berada dalam garis lurus yang menghadap Multazam ataupun kearah pintu Ka’bah itu. Setelah shalat saya biasakan untuk memanjatkan doa dengan sangat khusyuk ditempat yang disebutkan Rasulullah sebagai tempat yang maqbul  itu.
Boleh percaya boleh tidak, Allah Swt ternyata berbelas kasihan dan mengabulkan doa-doa  saya. Walaupun tentu tidak seluruh keinginan saya terpenuhi. Saya meyakini sepenuh hati bahwa apa yang baik bagi seorang mahluk (manusia), belum tentu baik bagi Allah Swt. Begitu pula sebaliknya. Jadi saya tawakal, sabar dan ikhlas saja.
Yang terbaik bagi Allah Swt pasti yang terbaik pula bagi hambaNya.
Sejatinyalah Allah Swt adalah pemilik segala rahasia, karena itu Ia senantiasa mengabulkan  doa seorang hambaNya dengan cara-cara yang tak dapat diduga.
Demikian pula dengan terkabulnya doa saya.
Yang jelas terkabul adalah doa saya untuk tidak hanya sekali datang ketanah haram. Sampai saat ini saya telah empat kali diijinkan Allah Swt berkunjung ketanahNYa yang suci.
Demikian pula dengan permohonan saya agar bisa pergi ketanah suci bersama anak isteri saya. Walaupun baru seorang saja diantara tiga anak saya yang sudah pergi ketanah suci. Alhamdulillah.
Namun yang terus menerus saya syukuri dalam hidup adalah kenyataan bahwa Allah Swt telah memudahkan segala urusan saya didunia.
Insya Allah demikian pula hendaknya diakhirat nanti.
Amin Ya Robbal ‘alamin.


bersambung…..




Selasa, 10 Mei 2011

"KISAH SEDIH, SARU, SERU DAN SERAM DISEPUTAR TANAH HARAM..."


(cuplikan dari: "kisah2 spiritual" mastonie)

( 15 )

Jemaah tawaf mengelilingi Ka'bah  


(Released by mastonie on Tuesday, May 10, 2011 at 03.55 pm)


Kisah-kisah unik diseputar Masjidil Haram dan tanah haram…..

Lama sebelum menginjakkan kaki yang pertama kali ke tanah suci,  saya sudah mendengar cerita, kisah, gosip atau kabar burung tentang hal-hal yang aneh, lucu, unik bahkan kadang menakutkan dan seperti tidak masuk akal, yang terjadi atau menimpa para jemaah haji. 
Khususnya yang sering terjadi di Masjidil Haram maupun yang secara umum sering terjadi di tanah suci.
Semula saya hanya menanggapi cerita itu dengan adem ayem saja. Saya anggap sebagai bumbu cerita mereka yang baru pulang berhaji, agar yang mendengar bisa terpesona dan terkesima.
Bahwa pergi menunaikan ibadah haji ketanah suci adalah sesuatu yang sakral, itu tak dapat saya pungkiri. Jadi wajar saja kalau kadang orang lalu menghubungkannya dengan sesuatu yang (kadang) diluar nalar atau akal sehat.
Bahkan sebelum saya berangkat menunaikan ibadah haji yang pertama pada tahun 1992, ada yang tega  membisikkan bahwa semua kejadian yang akan saya alami selama berada ditanah suci seratus persen akan sangat tergantung kepada “amal ibadah” saya selama ini. .
Waduuuuh…lha koq jadi sereeem amat yaaaa? Padahal  bang Amat saja tidak serem.
Apakah hal tersebut yang menjadi salah satu alasan mengapa banyak orang kaya yang sudah mampu secara materiil tapi tetap belum mau pergi haji (atau umroh)?
Wallahu a'lam.
Sebelum pergi haji pada tahun 1992 itu, saya kebetulan mendapat kesempatan pergi umroh Ramadhan (ditahun yang sama) bersama Pejabat Tinggi Negara dengan status undangan raja. Jadi prosesi ibadah umrohnya lancar-lancar saja. 
Bagaimana tidak lancar kalau selama berada ditanah suci pergi kemana-mana selalu dikawal oleh Askar.
Jadi pada saat menjalankan umroh dibulan Ramadhan itu saya tidak sempat mengalami hal-hal yang ‘neko-neko’ (aneh-aneh).
Agar supaya anda tidak penasaran, kisah atau cerita seru dan seram seperti apa yang pernah saya dengar dan alami sendiri, berikut ini kisah-kisahnya. Semoga tidak membuat anda kecil hati dan ciut nyali untuk melaksanakan ibadah umroh atau haji.


Jangan pernah takabur, sombong atau tinggi hati

Jemaah ‘hilang’ atau tersesat bin tersasar adalah hal yang sangat sering terjadi pada jemaah calon haji Indonesia. Petugas Daker (Daerah Kerja) di Mekah dan Medinah selalu dibuat pusing dengan jumlah “jemaah sesat” (maksudnya tersesat) ini. Dari tahun ketahun jumlahnya malah terus bertambah seiring dengan makin banyaknya jumlah jemaah (calon) haji dari tanah air. 
Tapi rekor jumlah jemaah yang tersesat masih  tetap terbanyak di Daker Mekah.
Masjidil Haram yang mempunyai banyak sekali pintu dan situasi jalan di kota Mekah al-Mukaromah yang selalu padat adalah salah satu faktor yang membuat jemaah kehilangan orientasi tempat. Terutama sangat sering menimpa jemaah yang sudah lanjut usia dan yang buta aksara latin maupun arab. 
Gabungan dari keduanya (tua dan buta aksara) bisa menjadi sangat rawan apabila yang bersangkutan terlepas dari rombongannya. Itu sebabnya jemaah Calon Haji Indonesia selain diberi jaket seragam juga diberi semacam gelang pengenal bertulisan jati diri memakai huruf latin dan Arab, agar mudah dikenali kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap jemaah yang bersangkutan.
Akan tetapi ada faktor lain yang barangkali dapat disebut sebagai “tergantung amal ibadah” yang sering jadi bahan olok-olok sesama jemaah itu.
Kepercayaan diri yang terlalu besar (over confident), atau sering disebut ‘over pede’ adalah suatu hal yang acapkali terjadi. Merasa sudah sangat sering datang ketanah suci, merasa hafal jalanan dikota Mekah dan rasa-rasa takabur yang lain, akhirnya seperti mendapat ‘balasan langsung’ dari Allah Swt: menjadikan seseorang disorientasi,  lupa ingatan dan tersesat.
Ini bukan cerita isapan jempol. Seorang teman yang anggota TNI penyandang ‘melati’ tiga biji dipundaknya (Kolonel), termasuk yang pernah ‘diwelehke’ (ditunjukkan kesalahannya) oleh  Allah Swt, Sang Maha Tahu.
(Barangkali) karena merasa ia seorang Perwira Menengah yang sudah kenyang makan asam garam dan tahu seluk beluk kota Mekah dan Masjidil Haram, ia menjadi jumawa (tinggi hati). Namun pada akhirnya toh menyerah juga. Ia merasa seperti hanya berputar-putar saja didalam Masjidil Haram sehingga iapun kesulitan mencari jalan untuk keluar dari Masjid! Dari waktu sholat Isya berjamaah sampai hari terang benderang, ia tidak dapat menemukan ‘meeting point’, titik pertemuan yang sudah kita sepakati bersama, yaitu lampu neon HIJAU yang digunakan sebagai tanda awal dimulainya ibadah tawaf. 
Terletak disalah satu dinding masjid,  lurus kearah Hajar Aswad, lampu neon berwarna hijau ini menyala 24 jam untuk menjadi pegangan bagi para jemaah guna memulai tawaf. 
Dahulu bahkan ada garis coklat yang ditorehkan dilantai marmer dari arah Hajar Aswad sampai dibawah lampu neon itu. Kini garis itu sudah dihilangkan oleh sebab (katanya) malah membahayakan jemaah karena harus menatap kebawah mencari garis itu. Tapi lampu neon hijau itu tetap ada ditempatnya.
Dari lima orang yang membuat janji pertemuan dibawah lampu neon itu, hanya empat orang yang dapat berkumpul, sedangkan yang seorang lagi  (yaitu sang Kolonel yang tidak perlu saya sebut namanya) tidak kunjung tiba walau sudah ditunggu sampai sholat Subuh selesai. 
Mau tidak mau sang Pamen harus kita tinggal pulang kembali kepondokan karena sudah waktunya untuk bersih diri dan makan pagi.
Tahu-tahu dalam kondisi kuyu dan pakaian lusuh, beliau muncul diruang makan sambil marah-marah (walau dengan nada bercanda). Katanya teman-teman tidak setia karena tidak mau menunggunya. Ia bahkan kesulitan mencari tempat yang sudah disepakati sehingga  menjadi tersesat tak dapat menemukan jalan untuk pulang.
Akhirnya beliau bertemu petugas dari Daker Mekah yang menunjukkannya “jalan yang lurus dan benar”.
Lho koq? Malah orang lain yang dipersalahkan….
Oleh karena itu jangan sampai punya perasaan takabur apabila sedang menjalankan ibadah di tanah suci. Bukankah takabur juga merupakan sebuah sifat yang tak disukai orang dimana saja?


“Tanya pada diri anda sendiri, dari mana anda mendapat uang sebanyak itu?”

Ini adalah kisah lain lagi tentang seorang Pejabat Tinggi (jemaah calon haji dari Indonesia juga), yang mendapat ‘musibah’ sewaktu menjalankan ibadah tawaf.
Sejak dari tanah air sewaktu menjalani manasik haji, para jemaah calon haji biasanya sudah diingatkan untuk tidak membawa barang-barang berharga termasuk uang dalam jumlah yang  banyak sewaktu menjalankan ibadah tawaf. Sebaiknya barang berharga atau uang dititipkan di “safe deposit box” yang biasanya selalu ada di setiap hotel.

Pada setiap musim haji, halaman Masjidil Haram dimana terletak Baitullah (Ka’bah) selalu penuh dengan ribuan jemaah yang menjalankan ibadah tawaf. Tidak pagi, siang, sore atau malam, gelombang ribuan jemaah tampak tak henti mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran melawan arah jarum jam. Suasana riuh rendah, penuh sesak saling berdesakan, berhimpitan, berdorongan itu seperti begitu saja terjadi. Semua orang berebut mencari tempat sedekat-dekatnya dengan dinding Ka’bah. Siapa tahu bisa menyentuh dinding atau bahkan bisa berhenti mencium Hajar Aswad. 
Walaupun Masjidil Haram adalah (jelas) tempat suci untuk beribadah, tapi nampaknya masih tetap saja ada orang yang berpikiran jahat untuk mempergunakan ‘kesempatan dalam kesempitan’. Sudah tak terhitung banyaknya jemaah (berasal dari seluruh penjuru dunia) yang menjadi korban ‘tangan jahil’, kehilangan barang berharga maupun uang tunai sewaktu sedang menjalankan ibadah tawaf.
Konon demikian pula dengan nasib sang Pejabat Tinggi dari Indonesia itu. Alangkah kagetnya ketika setelah melakukan ibadah tawaf ternyata tas pinggangnya telah sobek. Maka raiblah uang tunai yang disimpan dalam tas tersebut. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, hampir mendekati tigapuluh ribu dolar Amerika Serikat! Sang Pejabat pun berang bukan kepalang. Dengan segera dia mencari lokasi dimana Komandan Askar penjaga Masjidil Haram berada.
Disitu dia meluapkan amarah dan kekesalannya, bagaimana mungkin tempat sesuci Masjidil Haram bisa dikotori oleh tangan-tangan jahil dan jahat. Ia mempertanyakan pula sejauh mana tugas pengamanan yang dilakukan oleh Askar terhadap keamanan para jemaah. Bagaimana bisa dia kehilangan uang dalam jumlah sangat banyak yang sudah tersimpan rapi dalam tas pinggangnya.
Tak melayani debat kusir, konon Komandan Askar hanya bertanya dengan tenangnya:
“Coba anda bertanya pada diri sendiri, dari mana anda mendapat uang sebanyak itu?”
Astagfirullah, terkuncilah mulut sang Pejabat Tinggi mendapat jawaban telak itu.
Sesungguhnyalah Allah Swt telah memberikan keringanan syarat kepada hambaNya untuk dapat melaksanakan rukun Islam yang kelima: yaitu apabila telah baligh dan MAMPU.
Mampu disini berarti secara rohani dan jasmani serta materi. 
Tentu saja materi yang dimaksud adalah yang didapat dengan cara HALALAN dan TOYIBAN.
Bahkan dalam salah satu hadits,  Rasulullah Saw melarang seseorang pergi haji dengan cara BERHUTANG.
Jikalau berhutang (masih masuk kategori halal) untuk ongkos naik haji saja dilarang, apalagi kalau ongkos naik haji yang didapat secara tidak halal.



bersambung…..

Kamis, 05 Mei 2011

"MASJID KUCING DAN TAWAF IFADAH 'SILENT OPERATION'...."


(cuplikan dari: "kisah2 spiritual" mastonie)

( 14 )
 

Kota Mekah dilihat dari atas


Released by mastonie on  Thursday, May 5, 2011 at 11.05 pm



Masuk kota Mekah lagi

Semalaman tidur saya tidak nyenyak. Ketika bangun untuk shalat Subuh berjamaah, saya mendapati wajah yang sembab terbayang dikaca wastafel kamar mandi. Persis seperti mahluk yang berasal dari planet lain. Tapi badan rasanya sudah agak lumayan. Ini pasti khasiat dari ‘kerokan’ tadi malam. Jadi sehabis shalat Subuh saya paksakan diri untuk mandi. Tak usah khawatir, di daerah manapun di Arab Saudi, air panas tersedia cuma-cuma. Tak perlu repot pasang water heater, ditanah Arab semua tandon air  otomatis akan memanaskan air dengan tenaga matahari. yang bersinar sangat terik 
Jadi tinggal putar kran, air panas atau hangat langsung ngocor.
Sambil menanti saatnya masuk kota Mekah (lagi), istri saya rupanya menyempatkan diri keluyuran disekitar pemondokan transit didaerah Aziziah itu bersama teman-temannya dari bus 3 dan bus 4. Sepanjang jalan katanya banyak kios dan lapak pedagang yang berjualan segala macam barang keperluan sehari-hari. Termasuk makanan dan buah-buahan.
Rupanya Allah Swt telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim a.s. yang bunyinya:
"Rabbij'al haadzaa baladan aaminan warzuq ahlahu minatstsamaraati man aamana minhum billaahi wal yaumil'aakhiri"  QS 2:126.
(Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa dan berikanlah rejeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian).
Ditanah Arab yang nyaris tak sebatang pohon buahpun bisa tumbuh (kecuali kurma), kini hampir semua jenis buah dari mulai jeruk, pisang, anggur sampai buah kiwi dan lain-lain dapat dijumpai dijajakan dimana-mana dengan harga sangat murah. Rata-rata hanya sekitar 5 real sekilonya  (kecuali buah kurma yang justru harganya malah sangat mahal).
Sesudah shalat Ashar, rombongan bus 3 dan 4 diberangkatkan menuju kota Mekah al-Mukaromah. Senja turun dengan cepat sekali. Jalanan kota Mekah tampak macet dimana-mana. Suasananya mirip ketika pertama kali rombongan masuk dari kota Jeddah beberapa hari yang lalu. Beberapa ruas jalan ditutup oleh Askar. Jadi bus harus berputar-putar mencari jalan yang terdekat kelokasi hotel. Untung sopir bus nomer 4 adalah seorang mukimin (orang yang sudah lama menetap di Arab) asal Indonesia. Jadi dia terpaksa menahan diri tidak marah-marah, karena para penumpangnya mengerti sumpah serapahnya (barangkali).
Saya merasa tidak asing dengan kota Mekah dan arus lalu lintasnya. Bagaimanapun ini adalah untuk ke empat kalinya saya berkunjung kekota haram ini. Tapi kota Mekah tetap saja membuat saya pangling. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi tampaknya tidak pernah berhenti membangun kota. Termasuk Masjidil Haram yang semakin besar dan indah.
Akhirnya bus terpaksa berhenti juga. Karena sudah tak ada akses jalan lagi yang terbuka untuk lebih mendekat kearah Masjidil Haram. Waktu sudah mendekati Magrib.
Dengan sempoyongan saya turun dari bus lalu berusaha mencari hotel yang kata pendamping dari Anubi, terletak tidak jauh lagi. Menurut buku petunjuk, penumpang bus 3 bermalam di hotel Sheraton, sedangkan penumpang bus 4 mendapat jatah bermalam dihotel Grand Saraya. Letak kedua hotel ini berdekatan, hanya terpisah satu blok saja. Diantara keduanya terdapat pertokoan semacam plaza yang berjualan segala macam barang.
Sambil berjalan perlahan hati saya berdebaran. Dikejauhan sudah tampak menara Masjidil Haram yang berkilauan ditimpa sinar lampu sorot terang benderang.
Subhanallah, Alhamdulillah.
Ini berarti lokasi hotel tidak terlalu jauh dari Masjidil Haram.


Masjid Meong eh Kucing dan Pasar Seng….

Tiba-tiba adzan magrib berkumandang. Terdengar sangat dekat sekali ketelinga saya.
Saya tersentak. Rupanya ada sebuah masjid disekitar tempat saya berdiri. Tidak terlalu besar bangunannya, tapi lumayan bagus bentuknya. Saya heran, bagaimana mungkin dalam radius begitu dekat dari Masjidil Haram ternyata masih ada sebuah masjid (kecil) juga?

Masjid Kucing
Menurut penduduk setempat, masjid itu disebut dengan nama “Ar-Royah” atau ada juga yang menyebutnya sebagai masjid “Abu Hurairoh”, karena konon disitulah dulu terletak rumah sahabat Nabi yang paling banyak menghafal Qur’an dan hadits itu. Dan konon karena sahabat itu sangat menyukai kucing, Rasulullah Saw memanggilnya dengan sebutan “Abu Hurairoh” (artinya Bapaknya Kucing). Itu sebabnya konon (hanya khusus) jemaah haji Indonesia  lalu menyebut masjid itu dengan nama “Masjid Kucing”. 
Walau kini tak ada seekor kucingpun yang tinggal indekos di masjid itu.
Namun menurut kabar burung ada cerita versi lain lagi mengenai sejarah Masjid Meong eh, Kucing ini. Wallahu ‘alam bissawab.
Terletak sekitar 200 meter, dari Pintu Marwah Masjidil Haram (karena pintu Babussalam sudah ditutup dengan tembok), Masjid Kucing berada persis diujung “Pasar Seng”, pasar yang namanya juga sangat akrab dan melegenda dikalangan jemaah haji Indonesia.
(Menurut perasaan saya jaraknya malah kurang dari 200 meter, karena tak sampai dua menit berjalan kaki dengan cepat dari hotel).

 Hotel Grand Saraya berada dibelakang Masjid kucing
Hotel Grand Saraya persis berhadapan dengan bagian belakang Masjid Kucing. Dipisahkan sebuah jalan yang seperti lorong kecil saja. Saya berdua dengan istri mendapat kamar  dilantai 3. Jadi bisa dengan bebas menikmati pemandangan Pasar Seng dari jendela kamar.
Siapa yang akan menyangka, bahwa pada musim haji tahun inilah rupanya (tahun 2007) saat saat terakhir jemaah haji bisa memasuki, melakukan transaksi tawar menawar dan merasakan hingar bingarnya Pasar Seng yang legendaris itu.
Dalam rangka perbaikan pelayanan kepada jemaah haji, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah berencana untuk memperluas radius pelataran Masjidil Haram hingga sejauh 300 meter. Oleh sebab Pasar Seng (termasuk hotel-hotel berbintang disekitarnya) berada kurang dari 300 meter jauhnya dari Masjidil Haram, maka semua bangunan itu tak terkecuali, mau tidak mau harus dirobohkan! Tidak ada yang bisa berkelit dari titah Sang Raja.
Itu berarti saya juga tak akan dapat melihat Pasar Seng dan hotel Grand Saraya lagi seandainya Allah Swt masih berkenan mengundang saya kembali ketanah suci.
Saya merasa sangat sedih dan juga kehilangan, setidaknya telah tiga kali saya datang dan menjelajahi Pasar yang menjual segala macam pernak pernik yang sangat khas itu. Seingat saya, nyaris lebih dari sepertiga  cinderamata dan oleh-oleh untuk kerabat dan handai taulan, saya beli di Pasar Seng. Beberapa barang diantaranya saya beli melalui tawar menawar yang super seru. 
Itu sebabnya limabelas tahun yang lalu (tahun 1992) saya pernah mendapat julukan dari teman-teman sesama haji sebagai “Boss Shopping”. Tidak lain karena saya dianggap bagai “the Negosiator” (ahli negosiasi) alias jagonya menawar.
Mungkin kelak kemudian hari saya hanya bisa menceriterakan saja kepada anak cucu, bahwa dahulu pernah ada sebuah pasar di kota Mekah yang berada didekat dipelataran Masjidil Haram dan bernama “Pasar Seng”.

Menjalankan tawaf ifadah dengan diam….

Rukun haji yang harus dilaksanakan sesudah melempar Jumroh adalah melakukan Tawaf Ifadah. Biasa disebut juga sebagai Tawaf Rukun. Karena apabila tawaf ini ditinggalkan bisa mengakibatkan batalnya haji.
Sesudah check in, sholat Magrib (terpaksa dilakukan dalam kamar masing-masing) dan makan malam, maka seluruh jemaah haji Anubi segera dipersilakan untuk melakukan Tawaf Ifadah pada malam hari itu juga. Dengan kondisi kesehatan yang belum pulih benar, saya harus berangkat melaksanakan tawaf rukun ini.
Saya dan istri memutuskan untuk ikut dalam rombongan yang dipimpin seorang pendamping ibadah haji Anubi yang berasal dari Madura. Beliau adalah seorang Kiai yang mempunyai pondok pesantren cukup terkenal didaerahnya.
Lebih dari sepuluh pasang (suami istri) jemaah haji yang ikut dalam rombongan itu.
Sesudah melakukan shalat Isya berjamaah yang diimami oleh Pak Kiai  (karena waktu shalat Isya berjamaah dengan Imam Masjidil Haram sudah terlewati), maka mulailah rombongan berjalan beriringan menuju Ka’bah untuk melakukan tawaf.
Setiap jemaah haji dilengkapi dengan buku panduan bacaan doa yang harus dibaca pada setiap rukun dan wajib haji yang dikerjakan. Itu semua karena hampir tidak mungkin dapat menghafalkan seluruh doa yang harus dibaca. Bahkan para mutawwif (pemimpin/pembimbing tawaf) saja juga masih tetap membaca doa dari buku. Kecuali barangkali beberapa orang mutawwif yang memang sudah sangat ahli dan hafal karena sering melaksanakan ibadah haji.

Suasana Tawaf disekeliling Ka'bah
Selain buku panduan, saya sendiri melengkapi diri dengan sebuah alat pemutar khusus doa Umroh dan Haji yang berupa kotak kecil bertenaga baterai dengan alat pendengar (headset) stereo yang sangat praktis. Karena stereo, maka ujung alat pendengar terbagi dua (kiri kanan), sehingga saya dan istri bisa mempergunakannya bersama-sama. Sayangnya pada saat melaksanakan tawaf ifadah malam itu, karena desakan waktu dan tergesa-gesa, saya lupa membawa peralatan tersebut. Untung buku panduan selalu ada dalam tas pinggang saya.
Selama ini (sesuai dengan latihan pada saat manasik haji) apabila jemaah melakukan tawaf berombongan yang dipimpin oleh seorang mutawwif, maka jemaah tinggal menirukan saja setiap doa yang dibaca oleh sang mutawwif. Saya lihat hampir semua jemaah yang tawaf berombongan dari berbagai Negara juga melakukan hal yang sama. Bahkan tak jarang ada yang mutawwif nya membaca doa dengan suara sangat keras, sehingga mudah diikuti oleh jemaahnya. Itulah yang membikin suasana tawaf seolah bergemuruh dengan bacaan doa.
Sewaktu rombongan memulai tawaf dari arah Hajar Aswad dengan meneriakkan kalimat: “Bismillahi Allahu Akbar” 3 kali sambil mengangkat tangan melambai kearah batu hitam itu, saya terkejut. Pak Kiai yang bertindak sebagai mutawwif ternyata tidak memimpin membaca doa seperti yang biasa dilakukan para mutawwif yang lain. Beliau hanya diam saja sambil terus berjalan.
Saya saling berpandangan dengan istri dan teman-teman lain yang ada dibelakang. Semua heran.
Tapi tidak ada seorangpun yang berani mengingatkan. Jadi semua juga hanya diam saja sambil terus berjalan mengekor dibelakang Pak Kiai. Lalu saya putuskan untuk membaca sendiri semua doa di buku panduan. Dengan suara lirih sekali tentu saja. Kalau saya membaca doa dengan suara keras, jangan-jangan malah saya yang disangka mutawwifnya! Saya bukan Kiai jeeee..... Kan tidak lucu.
Maka jadilah malam itu kita melakukan tawaf ifadah dengan gaya ‘silent operation’.
Masing-masing membaca doa sendiri dengan suara lirih atau bahkan hanya dalam hati.
Lha Pak Kiainya juga memberi contoh seperti itu……


bersambung……