Kamis, 23 Juni 2011

"TIRANI" SEPEDA MOTOR......


Tulisan lepas:

(sebuah catatan tentang perilaku pengendara sepeda motor dikota besar)


Fotos:  google image

released by mastonie on Thursday, June 23, 2011 at 12,15 pm.

 
Lebih dari tigapuluh tahun yang lalu saya sudah malang melintang naik sepeda motor. Hampir seluruh jalan raya di Pantura Jawa Tengah sudah pernah saya jelajahi dengan sepeda motor berbagai merk yang (terus terang) merupakan pinjaman dari teman. Memang pada kurun waktu tahun 70 – 80 an  itu jumlah pemilik sepeda motor (yang masih menjadi ‘barang mewah’ dan mahal) belum sebanyak sekarang ini. Sepeda ‘onthel’ masih lebih dominan karena sepeda motor masih merupakan ‘tunggangan’ orang-orang yang berkantong tebal.  
Tahun 1979 mimpi saya untuk bisa naik sepeda motor bukan pinjaman baru terwujud setelah saya mendapat sepeda motor inventaris kantor (dinas, plat merah) yang akhirnya bisa saya beli dengan cara mencicil. Oleh karena itu boleh dikata saya sudah kenyang makan asam garam naik sepeda motor sekaligus bisa merasakan bahwa pada saat itu para pengendara sepeda motor masih bersikap 'wajar tanpa syarat’, baik hati dan tidak sombong. 
Waktu itu penggunaan helm pelindung kepala (yang idenya dicetuskan oleh pihak kepolisian) bahkan masih berupa himbauan yang kontroversial dan jadi bahan perdebatan cukup lama. Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor juga masih jarang. Mungkin karena jumlahnya yang belum banyak.
Ketika pindah tugas ke Jakarta diawal tahun 1983, saya masih bisa menikmati lalu lintas Jakarta yang belum semrawut dengan pengendara sepeda motor. Namun sejalan dengan beranjaknya waktu, sepeda motor tampaknya menjadi alat transportasi perorangan yang sangat diminati. Selain karena kepraktisannya, harga sebuah sepeda motor  juga relatif masih bisa terjangkau masyarakat golongan menengah atas. Apalagi kemudian cara pembelian dengan sistem kredit makin menjamur dengan  persyaratan yang sangat mudah. Kini dengan berbekal uang limaratus ribu rupiah saja (sebagai DP/uang muka) dan fotokopi KTP dan KK, anda sudah bisa membawa sepeda motor idaman pulang kerumah. Belum punya SIM? Tidak masalah, karena punya SIM  BUKAN termasuk syarat untuk membeli atau mengkredit sepeda motor. 
SIM bisa diurus belakangan, mau lewat jalur resmi bisa,  mau main ‘tembak’ juga sangat bisa.
Begitu mudah dan murahnya harga (kredit) sebuah sepeda motor,  sehingga kini nyaris semua anggota masyarakat yang berpenghasilan tetap bisa memiliki sepeda motor  aneka merk dan jenis dengan sangat gampang. Dilingkungan komplek perumahan saya yang terletak didaerah pinggiran kota Jakarta, bahkan tukang becak dan tukang sayurpun bisa memiliki sepeda motor. Entah untuk anak, istri, a’ak, teteh, uwak atau untuk dipakai sendiri.
Kondisi semakin merebaknya penjualan sepeda motor  (baik tunai maupun kredit) juga ditunjang oleh Produsen kendaraan bermotor roda dua beragam merk yang sangat ‘bernafsu’ berlomba memasarkan produknya dengan iklan besar-besaran disemua media masa elektronik maupun cetak. 
Alhasil tidak mengherankan kalau pemilik dan pemakai kendaraan bermotor beroda dua ini dari hari ke hari semakin banyak jumlahnya.

Sekitar akhir tahun 1984 saya menyatakan diri berhenti total naik sepeda motor, gara-gara adik perempuan saya menjadi korban kecelakaan lalu lintas hingga menemui akhir hidupnya. Bersama suami dan anak semata wayangnya, mereka berboncengan sepeda motor (tanpa memakai helm karena peraturan wajib pakai helm belum terbit) dijalan Siliwangi Semarang. Tidak jauh dari jembatan Kali Banger sepeda motornya disenggol truk gandeng yang ngebut pada pagi hari naas itu. Adik perempuan saya terpelanting masuk kekolong truk dan terlindas. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Suami dan anaknya terpelanting kebahu jalan sehingga hanya menderita luka-luka ringan. Peristiwa tragis itu membuat saya trauma naik sepeda motor. Dan dengan susah payah saya akhirnya berhasil membeli mobil minibus (walau) secara kredit. Menurut jalan pikiran saya, bagaimanapun mobil (yang beroda empat) jauh lebih aman dikendarai daripada sepeda motor yang bisa membuat pengendaranya jatuh meskipun hanya tersenggol sesama motor. Apalagi kalau sampai diserempet truk gandeng!
Saat saya menulis catatan ini -medio tahun 2011- keadaan lalu lintas (khususnya) di Jakarta semakin ‘wat-menggawat’. Nyaris semua jalan umum (baik raya maupun arteri) didominasi oleh kendaraan beroda dua yang disebut sebagai sepeda motor itu. Kecuali dijalan tol tentu saja. Yang paling ‘mengerikan’ adalah pada jam-jam orang berangkat atau pulang bekerja. Diwaktu pagi, baru mau keluar dari jalan kompleks menuju jalan besar saja para pengguna jalan sudah harus sabar mengantri karena jalanan sudah penuh sesak dengan sepeda motor yang mengambil sebagian besar badan jalan. Bahkan sampai terselip diantara mobil dan berhimpitan di bahu jalan. Kemacetanpun tak terhindarkan.
Sebetulnya yang menjadi keprihatinan kita bersama bukan karena kuantitas atau banyaknya sepeda motor itu, akan tetapi karena kualitas perilaku dari para pengendaranya. Saya sendiri adalah mantan pengguna kendaraan beroda dua yang memang sangat praktis itu. Namun dengan permohonan maaf yang sebesar-besarnya terpaksa saya sampaikan bahwa perilaku dan kebiasaan buruk dari sebagian besar pengendara sepeda motor  itulah sejatinya yang membuat jalanan semakin ruwet. Apalagi masih ditambah dengan perilaku (yang tak kalah buruknya) dari sopir kendaraan pribadi dan angkutan umum. Barangkali karena sepeda motor adalah kendaraan lincah ‘anti macet’ yang bisa melakukan manuver dengan aksi serobot kanan serobot kiri, maka para pengendara sepeda motor itu merasa bebas berbuat hal-hal yang sesungguhnya bisa membahayakan dirinya sendiri dan orang lain. Sebagai mantan pengendara sepeda motor tempo doeloe, yang berkendara dengan gaya safety first (mengutamakan keselamatan), saya merasa betul-betul miris melihat aksi para pengendara sepeda motor jaman sekarang. Mereka terlihat begitu ‘gagah berani’ berkendara sampai terkadang harus melanggar segala rambu dan aturan lalu lintas. Yang lebih parah, perilaku menyimpang seperti itu tidak direspon dengan sewajarnya oleh pihak yang berwajib, dalam hal ini tentu saja pak Polisi Lalu Lintas. Bagaimana pengendara sepeda motor bisa jera kalau pelanggaran lalu lintas dijalan raya bisa diselesaikan dengan ‘jalan damai’? Kelemahan dibidang law enforcement itulah yang agaknya ikut menunjang makin tak terkendalikannya perilaku buruk para pengemudi kendaraan bermotor (beroda berapa saja).

Betapa memprihatinkannya perilaku para pengendara sepeda motor, bisa saya ilustrasikan dengan beberapa contoh berikut: 

·        * Sering kita lihat sebuah sepeda motor ditunggangi oleh lebih dari DUA orang sekaligus, bahkan terkadang nekat tanpa memakai helm (kebanyakan pelakunya adalah anak-anak berseragam sekolah). Motor dipacu dalam kecepatan tinggi menerobos disela-sela mobil dan angkutan umum lainnya. Pada bulan ramadhan menjelang hari raya, kebiasaan buruk yang tidak memedulikan keselamatan (diri sendiri dan orang lain) itu malahan dilakukan secara ‘berjamaah’. Dengan kedok “mudik bersama”, banyak diantara pemudik itu yang dengan alasan murah dan praktis, menaiki satu sepeda motor untuk satu keluarga (kadang sampai empat orang sekaligus) yang jelas melanggar ketentuan yang diperbolehkan. Mereka sama sekali tak terlihat merasa bersalah melakukan aksi berbahaya seperti itu. Sangat mengerikan.

·        * Disetiap lampu traffic light sering terlihat hal seperti ini: para pengendara sepeda motor berhenti bergerombol jauh didepan garis batas yang ditentukan, bahkan sering jauh didepan lampu lalu lintas itu sendiri. Sebelum lampu menyala hijau, mereka (secara bersama-sama) sudah  langsung tancap gas melaju menerobos perempatan. Karena hal seperti itu tampaknya dibiarkan saja oleh Petugas Polantas, maka perilaku yang sebetulnya merupakan pelanggaran (dan sangat berbahaya) itu sekarang dianggap wajar saja sehingga semakin menjadi-jadi. 

·        * Di Jakarta, konon pihak yang berwajib telah mengeluarkan peraturan yang mengharuskan pengendara sepeda motor berjalan disebelah KIRI (di beberapa tempat bahkan sudah dibuat jalur khusus untuk sepeda motor). Selain itu tak peduli siang atau malam pengendara sepeda motor wajib menyalakan lampu kendaraannya. Namun masih saja banyak para pengendara motor memacu kendaraannya dijalur sebelah KANAN yang sesungguhnya diperuntukkan bagi kendaraan beroda empat atau lebih. Pokoknya para pengendara motor akan mengambil semua celah yang memungkinkan dimasuki oleh sepeda motor, walaupun harus menyenggol spion atau bahkan menggores spakbor atau badan mobil yang dilewatinya. Anehnya mereka juga seperti tak merasa bersalah, karena tak pernah ada ucapan minta maaf untuk kejadian seperti itu. Alih-alih menyalakan lampu disiang hari, dimalam hari saja masih banyak pengendara sepeda motor yang dengan santainya melaju kencang dijalanan tanpa menyalakan lampu apapun.

·         * Pada waktu turun hujan, para pengendara sepeda motor (yang tidak membawa jas hujan) cenderung memilih halte bus atau terowongan (underpass) untuk berteduh. Sayangnya mereka memarkir sepeda motornya dengan semaunya, sehingga memakan tempat sampai lebih dari separuh badan jalan. Hal ini menyebabkan kemacetan berkepanjangan.

·        * Dibeberapa jalan yang diberlakukan satu arah (one way traffic) sering terlihat pengendara sepeda motor dengan santainya melawan arah, tanpa merasa bersalah dan tak menyadari bahwa perbuatannya tersebut sangat berbahaya. Hebatnya lagi, seperti tak ada petugas Polantas yang peduli. 

·        * Di Jakarta juga sering terlihat para pengendara sepeda motor nekat memasuki jalur busway, yang sesungguhnya terlarang bagi kendaraan selain busway (walaupun ada juga beberapa mobil pribadi dan terutama angkutan umum yang juga ikut berpartisipasi melanggar). Padahal sudah sangat sering terjadi kecelakaan yang menimpa pengendara sepeda motor akibat tertabrak busway yang berakibat fatal.

·         * Dan masih banyak perilaku tak terpuji para pengendara sepeda motor yang intinya adalah tidak tertib, tidak disiplin dan sering melanggar peraturan lalu lintas.

Secara umum perilaku yang tidak patut dicontoh itu memang tidak hanya dilakukan oleh para pengendara sepeda motor saja. Pengendara mobil pribadi dan (yang paling sering) sopir kendaraan angkutan umum juga banyak yang melakukan perbuatan yang sama (konyolnya). Namun karena sepeda motor (terutama di Jakarta dan kota-kota besar lain) yang beroperasi dijalanan sangat besar JUMLAH nya, maka perilaku buruk para pengendaranya menjadi terlihat sangat menonjol dan cenderung menyusahkan para pengguna jalan yang lain. Perilaku tidak tertib, tidak disiplin dan cenderung semau gue itu nyaris berubah menjadi sebuah TIRANI. Kalau jaman dahulu ada sebuah kendaraan yang diiklankan sebagai raja jalanan, maka tampaknya jaman sekarang sepeda motor telah benar-benar menjelma menjadi Raja Jalanan, dalam arti kiasan maupun yang sesungguhnya. Mereka (para pengendara sepeda motor itu) jelas tampak selalu ingin menang sendiri. Sangat ironis.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa hal seperti itu bisa terjadi? Menurut hemat saya, ada beberapa faktor pendukung yang menyebabkan terjadinya keadaan tersebut, antara lain:

·        * Produsen (pabrik maupun importir) sepeda motor -dengan berbagai merk dan jenis- yang dari tahun ketahun semakin meningkatkan  produksinya dan 'menggelontor' pasar sepeda motor tanpa perhitungan kecuali untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Sedangkan Regulator (pemerintah) tampaknya tidak pernah mengeluarkan pembatasan produksi kendaraan bermotor (apa saja) secara jelas dan  pasti. Oleh sebab itu rasio antara jumlah kendaraan bermotor dengan ketersediaan (pembangunan) jalan menjadi tidak seimbang. Hal itu menjadi pemicu terjadinya kemacetan. Dan kemacetan (dimana saja) cenderung memicu pengendara kendaraan bermotor untuk melakukan pelanggaran peraturan lalu lintas.

·         * Harga jual sepeda motor yang walaupun sebenarnya tidak murah namun ditawarkan dalam paket penjualan secara kredit dengan persyaratan yang sangat mudah sehingga terkesan menjadi sangat murah dan terjangkau oleh segala lapisan masyarakat. Oleh sebab itu jangan heran kalau sepeda motor menjadi moda transportasi yang paling diminati oleh khalayak ramai, sehingga menyebabkan membengkaknya jumlah  kendaraan roda dua yang lalu lalang dijalan raya.

·         * Sudah menjadi 'rahasia umum' bahwa masyarakat bisa dengan sangat mudah memperoleh SIM lewat permainan ‘orang dalam’ maupun calo dengan cara membayar sejumlah uang. Dengan  cara siluman ini orang bisa memperoleh SIM tanpa melalui ujian baik tertulis maupun praktik lapangan. Akibatnya banyak pengendara (motor dan mobil) yang lebih senang main ‘tembak’ untuk mendapatkan SIM, sehingga sesungguhnya kemampuannya mengemudi (walau sudah memiliki SIM) belum tentu memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku. Sebagai contoh, banyak pelajar sekolah yang sebetulnya belum memenuhi syarat usia untuk mendapatkan SIM, namun karena orang tuanya bisa main ‘pat-gulipat’, maka dia berhasil memiliki SIM tanpa melalui ujian apapun. Tentu saja apabila pembuatan "SIM tembak" ini dilakukan oleh seorang pengendara kendaraan umum yang membawa nyawa banyak penumpang (seperti bus atau angkutan kota lainnya) bisa berakibat fatal dan membahayakan keselamatan umum.

·        * Juga sudah bukan rahasia lagi bahwa “semua urusan bisa diselesaikan secara damai” apabila hal tersebut menyangkut pelanggaran lalu lintas di jalan umum. Pengendara dan Petugas Polantas telah dengan rela dan suka hati saling melakukan tindakan TST, ‘tahu sama tempe’, sehingga surat tilang nyaris tak diperlukan lagi. Lemahnya tindakan hukum (law enforcement) yang dilakukan para petugas dilapangan (walau tidak semua petugas Polantas berbuat seperti itu) sejatinya membuat merosotnya kesadaran dan kepastian hukum dinegeri ini. Betapa mudahnya seorang pelanggar lalu lintas lepas dari jerat hukum, dengan hanya membayar ‘denda damai’ ala kadarnya, yang mengakibatkan pengendara (motor ataupun mobil dan angkutan umum) tidak merasa takut  atau jera  melakukan pelanggaran lagi dan lagi.

Melihat kenyataan pahit seperti itu, apa daya kita? Apakah masih ada solusi untuk mengurangi tingkat kerawanan yang diakibatkan oleh perilaku para pengendara mobil pada umumnya dan pengendara sepeda motor pada khususnya? Ibarat penyakit, sebetulnya jalan yang terbaik adalah mencegah agar tidak terkena virus, dengan jalan imunisasi, misalnya. Tapi bagaimana kalau penyakitnya sudah terlanjur kronis?  Pemberian obat seringkali tak ada artinya, sehingga dokter harus memutuskan untuk melakukan tindakan operasi.
Lha kalau menyangkut masalah perilaku buruk, tidak tertib, tidak disiplin dan senang melanggar aturan, serta suka memilih ‘jalan damai’, lalu apa tindakan ‘medis’ nya?

Itulah sejatinya PR (pekerjaan rumah) kita semua. 
Karena siapa tahu anda juga termasuk salah seorang yang memakai sepeda motor sebagai moda transportasi sehari-hari. Jika memang demikian, saya berharap anda tidak termasuk dalam golongan para “TIRAN Jalanan” itu dan justru bisa memberikan sumbangan pemikiran mencari solusi yang terbaik untuk mengurangi akibat perilaku tidak terpuji itu.

Semoga. 



Senin, 30 Mei 2011

"KISAH UNIK DISEPUTAR MASJID NABAWI..."



Tulisan lepas:


KISAH TENTANG USAHA PENCURIAN 
JASAD NABI MUHAMMAD SAW



‘Kubah Hijau’ di Masjid Nabawi, dibawah kubah inilah terletak makam Rasulullah.

Released by mastonie on Monday, May 30, 2011 at  3.54 pm

Pernahkah terbersit pada pikiran kita, umat Muslim khususnya, bahwa ternyata pernah terjadi usaha untuk mencuri jasad Nabi Muhammad SAW dari Masjid Nabawi?  Usaha yang dilakukan oleh orang-orang jahat ini bahkan terjadi sampai 5 (lima) kali! Astagfirullah hal adzim…
Dibawah ini rangkuman dari usaha jahat yang tercatat dalam Sejarah Masjid Nabawi.

Usaha pertama:
Niat jahat untuk memindahkan jasad Rasulullah SAW dari kota Medinah (Masjid Nabawi) untuk dipindahkan ke Mesir adalah ide al-Hakim al-‘Ubaidi, yang mengutus Abu al-Futuh untuk melaksanakan tugas mencuri jasad Nabi SAW dan dua orang sahabat yang dimakamkan di areal Masjid Nabawi. Usaha pencurian ini gagal karena Abu al-Futuh kemudian insyaf setelah penduduk kota Madinah membacakan Surah At-Taubah ayat 12 – 13 kepadanya.
 Pintu 'Makam Rasulullah'
Usaha kedua:
Niat jahat al-Hakim ternyata tidak surut. Ia kembali mengutus orang-orangnya untuk berusaha mencoba lagi membongkar makam Nabi SAW dan mencuri jasadnya untuk dibawa ke Mesir. Ketika para utusan itu sedang menggali di bawah tanah, penduduk Madinah melihat banyak cahaya dan terdengar suara gaib: “Wahai manusia, Nabi kalian sedang digali”.
Maka penduduk kota Madinah secara beramai-ramai menangkap utusan al-Hakim, lalu mereka semua dihukum mati. Menurut sahibul hikayat, peristiwa usaha jahat (yang pertama dan kedua) untuk melakukan pencurian jasad Nabi ini terjadi sekitar tahun 386 – 411 H.

 Sehabis ziarah ke Makam Rasulullah......
Usaha ketiga:
Pada tahun 557 H, raja-raja Nasrani menyuruh orang-orang Nasrani dari Maroko untuk membongkar makam Rasulullah SAW, dan mencuri jasad beliau. Pada waktu itu yang berkuasa di Mesir adalah Sultan Nuruddin al-Syahid. Alkisah saat Sultan tidur setelah selesai shalat tahajud dan membaca wirid, beliau bermimpi melihat Rasulullah SAW menunjuk dua orang berambut pirang sambil berkata: “Selamatkan aku dari orang-orang jahat ini”.
Sultan terbangun kaget. Ketika tidur lagi ia bermimpi hal yang sama lagi. Mimpi buruk itu berlangsung terus sampai tiga kali dalam satu malam.
Merasa ada kejadian yang tidak beres, Sultan kemudian memutuskan untuk pergi ke Madinah. Perjalanan dari Mesir ke Madinah pada waktu itu memakan waktu kurang lebih 16 hari. Setiba di Madinah Sultan mengumpulkan seluruh penduduk  kota Madinah dan  membagi-bagikan  harta yang dibawanya. Setelah seluruh penduduk Madinah mendapat bagian, Sultan masih belum menemukan dua orang berambut pirang seperti yang dilihatnya dalam mimpi. Ia bertanya apakah masih ada yang belum kebagian. Penduduk Madinah mengaku sudah menerima semua kecuali dua orang kaya raya yang berasal dari Maroko, karena mereka memang tidak butuh menerima bantuan dari orang lain. Maka dipanggillah kedua orang itu untuk menghadap Sultan Nuruddin. Kedua orang Maroko itu ternyata mirip dengan yang dilihat Sultan dalam mimpinya. Tapi keduanya tetap bersikeras tidak mau mengaku akan mencuri jasad Nabi SAW. Akhirnya Sultan memutuskan untuk melihat penginapan mereka yang ternyata berada dekat dengan makam Rasulullah SAW. Setelah diperiksa dengan seksama, terbukti bahwa di balik tikar tidur mereka terdapat galian yang menuju makam Rasulullah SAW. Sultan Nuruddin al-Syahid akhirnya menghukum mati kedua orang Maroko yang berniat jahat itu.

Usaha keempat:
Kisah tentang usaha yang keempat kalinya untuk mencuri jasad Rasulullah ini diceritakan oleh ibn Jubair yang pada saat itu sedang mengembara ke Iskandarsyah pada tahun 678 H. Di kota itu ia menyaksikan ada tawanan orang-orang Nasrani dari Romawi yang sedang dipekerjakan untuk membuat kapal.
Ternyata setelah kapal yang dibuatnya jadi,  para tawanan itu membawa lari kapal tersebut untuk dibawa kekota Jeddah dimana mereka melakukan beberapa tindak kejahatan dan perampokan. Sesudah itu mereka kemudian menuju kota Madinah dengan maksud mencuri jasad Nabi SAW. Atas ijin Allah SWT mereka dapat tersusul meskipun waktu itu rombongan pengejar sudah tertinggal sekitar satu setengah bulan. Mereka semua kemudian berhasil ditangkap dan dibunuh sebelum niatnya untuk mencuri jasad Nabi SAW terlaksana.

Usaha kelima:
Usaha kali ini (Insya Allah adalah usaha jahat yang terakhir) adalah hasil persekongkolan antara Gubernur Madinah saat itu, dengan beberapa orang yang berasal dari Halab. Mereka memberikan harta yang berlimpah kepada Gubernur agar dapat diijinkan memasuki Masjid Nabawi dan membongkar makam Rasulullah SAW dan kedua sahabatnya. Kalau istilah jaman sekarang barangkali orang-orang Halab berhati jahat itu berusaha melakukan KKN sekaligus melakukan penyuapan kepada Pejabat Negara. 
Entah bagaimana ternyata Gubernur Madinah setuju. Dia kemudian memanggil penjaga masjid Nabawi, Syeikh Syamsu al-Dien al-Showab al-Lamthy dan memberitahukan padanya bahwa pada waktu tengah malam nanti akan ada orang-orang yang mengetuk pintu masjid. Dengan tegas Gubernur memerintahkan agar penjaga pintu masjid membukakan pintu untuk orang-orang dari Halab itu. Sang penjaga masjid tentu saja tak kuasa menolak perintah seorang Gubernur.
Benar saja. Pada waktu tengah malam terdengar ketukan di pintu Al-Amir (pintu  Babu al-Salam). Ketika pintu dibuka masuklah sekitar 40 orang dari Halab yang membawa perlengkapan untuk menggali dan alat penerangan. Mereka langsung menuju ke makam Rasulullah SAW. Tapi baru saja mereka berjalan sampai mimbar masjid, sekonyong-konyong bumi terbelah dan menelan 40 orang Halab berikut semua perlengkapannya  tanpa tersisa dan tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Subhanallah, Allahu Akbar. Ketika esok paginya Gubernur memanggil penjaga lagi untuk menanyakan kejadian semalam, maka penjaga masjid menceritakan apa yang dilihatnya  semalam sejelas-jelasnya. Begitulah akhirnya. Usaha jahat yang kelima inipun gagal atas kehendak Allah SWT. Sayang sekali kapan terjadinya peristiwa ini tidak disebut. 

Wallahu’alam bissawab.



(Disarikan dari buku ‘Sejarah Masjid Nabawi’ karangan Dr. Muhammad Ilyas Abdul Ghani).


Kamis, 26 Mei 2011

"NABAWI.......MASJID NABI YANG RUUUUARRRRR....BIASAAAA.."



(cuplikan dari: “kisah2 spiritual” mastonie)

( 19 )

 Masjid Nabawi

Released by mastonie on Tuesday, May 26 , 2011 at  1.14 pm


Keindahan sebuah masjid buatan manusia….

Ketika Rasulullah SAW melakukan perjalanan hijrah dari kota Mekah ke kota Yatsrib (kemudian diganti jadi Madinah), beliau sempat singgah sejenak disebuah tempat bernama Quba. Disinilah Rasulullah membangun masjidnya yang pertama, yang kemudian terkenal dengan nama Masjid Quba. 
Begitu memasuki kota Madinah, Rasulullah juga langsung membangun sebuah masjid. Inilah masjid yang kemudian sangat terkenal dengan nama Masjid Nabawi.  
Masjid yang dibangun Rasulullah ditahun pertama Hijrah ini (tahun 621 M) masih sangat sederhana, atapnya yang terbuat dari pelepah kurma hanya setinggi 2,5 meter dengan luas tanah sekitar 35 x 30 meter (1.050 meter persegi) saja. Kiblatnya juga masih mengarah ke Baitul Maqdis. 
Baru setelah kurang lebih 16 bulan kemudian, turun wahyu berisi ayat yang bunyinya:
“Wa min haisu kharajta fa walli wajhaka syatral masjidil-haraam, wa innahuulal-haqqumir rabbik, wa mallaahu bi gaafilin’ammaa ta’maluun”
(dan dari manapun engkau -Muhammad- keluar, hadapkanlah wajahmu kearah Masjidil Haram, sesungguhnya itu benar-benar ketentuan dari Tuhanmu. Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan. surah Al-Baqarah, QS 2:149).
Maka sejak itulah Kiblat Masjid Nabawi lalu diubah oleh Rasulullah, diarahkan ke Ka’bah.  
Sampai saat ini Ka'bah (Baitullah) adalah kiblat bagi  umat muslim  diseluruh penjuru dunia. 
Begitu mulianya Masjid Nabawi sehingga untuk Masjid yang dibuatnya dikota Madinah ini, Rasulullah pernah bersabda:
“Sholat dimasjidku ini lebih utama (afdhol) 1000 kali dibanding sholat ditempat lain, kecuali di Masjidil Haram” (HR. Bukhari). 

Tiang2 Masjid Nabawi                     fotos: mastonie
Dalam perjalanan waktu selanjutnya, tidak kurang dari 8 kali Masjid Nabawi di Madinah mengalami perbaikan ataupun renovasi, bahkan restorasi besar-besaran. Yang terakhir dilakukan restorasi (perbaikan dan penambahan) nyaris total atas perintah Raja Fahd Abd Al-Aziz yang memakan waktu sepuluh tahun (1405 – 1414 H atau 1984 – 1994 M) dan menghabiskan biaya sampai 72 Milyar Real Saudi. 
Setelah restorasi itu, kini Masjid Nabawi mempunyai 27 kubah raksasa yang masing-masing beratnya 30 ton (!) dan 12 payung raksasa yang dipasang di plaza terbuka ditengah masjid. 
Kubah-kubah  raksasa itu bisa digeser, demikian pula dengan payung raksasa yang bisa dibuka dan ditutup sesuai kebutuhan. Semua pergerakan itu dikendalikan oleh operator  secara elektris.
Ketika saya berziarah pada tahun 2007,  Masjid Nabawi  sudah mempunyai lantai dasar seluas kurang lebih 98.326 meter persegi yang bisa menampung 178.000 jemaah. 
Lantai atasnya seluas 67.000 meter persegi, terbagi untuk area shalat seluas 58.250 meter persegi yang dapat menampung 90.000 jemaah. Sisanya yang 8.750 meter persegi dipakai untuk 27 kubah raksasa yang dapat bergeser itu.  
Secara keseluruhan luas area yang bisa dipergunakan untuk sholat adalah 156.576 meter persegi dan bisa menampung 268.000 orang jemaah. Disamping itu masih ada halaman masjid seluas 235.000 meter persegi, dimana area seluas 135.000 meter persegi bisa dipergunakan sebagai tempat sholat bagi 43.000 orang jemaah. Sisanya untuk toilet dan lain-lain.
Jadi anda bisa membandingkan dengan luas awal Masjid pada saat dibangun oleh Rasulullah yang luasnya hanya sekitar 1.050 meter persegi saja. 
(Menurut penuturan teman yang pergi umroh pada tahun 2011, kini seluruh halaman Masjid Nabawi juga sudah dipasangi Payung-payung raksasa seperti yang ada didalam, sehingga pelataran Masjidpun kini sudah ternaungi dari sengatan panas matahari. Subhanallah).
Raja Fahd Abd Al-Azis pastilah seorang yang memiliki selera seni yang tinggi. Interior Masjid Nabawi terbuat dari marmer bermutu tinggi yang didatangkan dari berbagai Negara penghasil marmer berkualitas dunia. Oleh sebab itu interior Masjid Nabawi kini tampak sangat indah dan mengagumkan. 

 "Raudah"

Salah satu tempat didalam Masjid Nabawi yang sungguh sangat indah bergemerlapan adalah  Raudah (arti harafiahnya adalah Taman Surga). Disinilah  terdapat (bekas) Mihrab/Mimbar dimana dahulu Rasulullah dan para Khalifah sesudahnya berkhotbah. 
Di Raudah inilah biasanya para jemaah rela berdesakan antri untuk bisa mendekat guna melakukan sholat sunah didepan bekas mihrab atau mimbar Nabi. Konon doa yang dipanjatkan di Raudah ini akan dikabulkan oleh Allah SWT. Wallahu a'lam.
Untuk menghindari penuh sesaknya Raudah, kini pengurus Masjid Nabawi memberi batas dengan semacam sketsel berwarna putih setinggi pinggang orang dewasa. 
Raudah juga dijaga oleh Askar guna menghindari jemaah yang kadang bertindak diluar batas yang diijinkan oleh syariat agama.

Mihrab Rasulullah
Dibatasi oleh dinding tinggi dan berpintu ukiran sangat indah terdapat bekas rumah ‘Aisyah RA yang kini jadi makam Rasulullah beserta dua sahabatnya:  Abu Bakar, RA dan Umar ibn Khattab RA
Para jemaah kini hanya boleh berdoa sambil melewati pintu makam Rasulullah saja.  
Pada tahun 1992 ketika saya menunaikan ibadah haji yang pertama, saya masih sempat menyaksikan jemaah berdesakan menempel dipintu makam Rasulullah sambil menangis. Bahkan sampai ada yang meratap dan menangis meraung-raung. Kini suasana sudah agak tertib karena Askar bertindak sangat tegas. 
Jemaah harus berjalan antri dengan tertib dan rapi. 
Apalagi kini jemaah wanita disediakan waktu khusus oleh pengurus masjid. Jadi mereka tidak setiap saat  bisa mengunjungi Raudah dan makam Rasulullah.  Waktu itu istri saya hanya mendapat kesempatan mengunjungi Raudah sekitar pukul 10 sampai 11 pagi saja. 
Entah dibuka pada hari apa saja yang khusus untuk ziarah jemaah wanita.

 "Kubah Hijau" diatas makam Rasulullah
Diatas makam Rasulullah itulah dibangun sebuah kubah yang dicat warna hijau. Apabila dilihat dari luar, maka kubah hijau itu akan nampak dengan jelas berada diantara tiang-tiang Masjid Nabawi. Sebuah penanda yang mudah dikenali sebagai hasil pemikiran yang cerdas.
Memang ada perbedaan yang cangat mencolok antara Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Di Masjidil Haram jemaah pria dan wanita bisa bercampur bebas tanpa batasan pada saat melakukan ibadah Tawaf maupun Sa’i. Kecuali pada saat melakukan sholat wajib, jemaah wanita diatur ditempat tersendiri agar tidak berada didepan jemaah pria. Tetapi jika melakukan sholat sunah, jemaah wanita bisa saja bercampur dengan jemaah pria. Bahkan kadang-kadang ada wanita yang sholat didepan laki-laki.  Inilah yang sering menimbulkan keributan kecil. 
Di Masjid Nabawi hal itu tidak akan pernah terjadi, karena adanya aturan yang tegas memisahkan jemaah wanita dengan jemaah pria. Untuk itu ada pintu masuk yang disediakan khusus bagi jemaah wanita. 
Jadi pada waktu mau masuk ke Masjid, jemaah wanita sudah mulai dipisah dari jemaah pria. 
Oleh karena itu tempat sholat jemaah wanita juga terpisah dari jemaah pria.
Selain itu Masjid Nabawi juga tidak dibuka selama 24 jam. Ada waktu tertentu setelah sholat Isya (menjelang tengah malam) pintu Masjid Nabawi akan ditutup dan baru dibuka lagi menjelang sholat Subuh. 
Sedangkan Masjidil Haram terbuka selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu alias terbuka hampir setiap waktu. Sehingga baik jemaah pria maupun wanita bebas keluar masuk untuk beribadah tanpa kendala waktu. 
Banyak jemaah haji ‘backpacker’ (jemaah yang berangkat haji sendiri dengan biaya sangat minim) dari beberapa Negara yang bahkan menginap di Masjidil Haram dengan bebasnya.
Oleh sebab itu tidak heran kalau suasana Masjid Nabawi terasa lebih tertib dibanding dengan suasana di Masjidil Haram. Sebuah hal yang tak bisa dielakkan mengingat hampir semua kegiatan ritual wajib dan rukun haji terpusat di Masjidil Haram. Sedangkan ritual di Masjid Nabawi hanya bersifat ziarah saja. 
Kegiatan di Masjid Nabawi yang disebut sebagai Sholat Arbain (Sholat wajib  lima waktu yang harus dilakukan berjamaah berturutan tanpa terputus selama 8 hari, sehingga berjumlah 40 raka’at), tampaknya hanya dikenal oleh jemaah haji asal Indonesia dan beberapa Negara Asia Tenggara saja.
Walaupun demikian setiap musim haji Masjid Nabawi juga selalu penuh sesak dengan jemaah. Namun suasana dan serba tertib teraturnya  itu membuat jemaah bisa sangat khusyuk beribadah. 
Masyarakat Madinah terkenal sebagai orang yang santun dan halus budi pekertinya. Konon mereka sangat terinspirasi oleh perilaku Rasulullah SAW. Oleh sebab itu jika anda berlaku kurang senonoh didalam masjid, mereka akan memperingatkan dengan tutur kata halus atau hanya isyarat tangan saja. Selama ini saya nyaris tak pernah menemui keributan di Masjid Nabawi seperti apa yang pernah saya saksikan di Masjidil Haram. Kalau di Masjid Nabawi anda ditegur orang secara kasar, dapat dipastikan yang menegur tadi bukan orang Madinah, mungkin jemaah yang berasal dari Negara Timur Tengah lain yang kadang memang berlaku keras dan kasar tingkahnya. 

Saya diantara tiang Masjid Nabawi
Suasana khusyuk beribadah itu juga didukung oleh peralatan modern yang dipunyai oleh Masjid Nabawi. Alat pendingin udaranya dipasang dihampir setiap tiang yang ada didalam masjid. Dimusim panas, alat ini sangat menolong para jemaah yang diluar masjid telah terkena sengatan panas matahari yang kadang suhunya bisa mendekati 45 derajat Celcius. Bahkan bisa lebih. Namun dimusim dingin, jangan coba-coba bersandar didekat tiang, karena semburan hawa dinginnya bisa membuat badan menggigil dan bisa membikin tubuh meriang saknalika



Terjebak suhu dingin.....

Selain daripada itu, amplitudo (perbedaan suhu udara antara siang dan malam) dikota Madinah juga sering kali sangat besar. Saya pernah mengalami ‘terjebak’ fenomena ini. 
Pada suatu siang saya berangkat untuk melaksanakan sholat Dhuhur di Masjid Nabawi. Cuaca diluar cukup panas sehingga saya hanya mengenakan celana panjang biasa (bukan jeans) dengan baju Koko putih tipis yang saya beli di pasar Tanah Abang. Selesai sholat saya lari pulang kehotel yang hanya dua blok jauhnya, untuk makan siang bersama istri yang sudah menunggu. Maklum selama beribadah di Masjid Nabawi kita seringkali berangkat sendiri-sendiri karena pintu masuknya juga berbeda. 
Selesai makan, masih dengan pakaian yang sama saya kembali ke Masjid untuk menunggu sholat Ashar. Sesudah Ashar saya memutuskan untuk I’tikaf (berdiam) di Masjid menunggu sholat Magrib dan Isya berjamaah. Satu dan lain hal karena saya juga termasuk yang akan mencoba mendapatkan Arbain. Daripada wira-wiri dari masjid kehotel PP, mending menunggu saat sholat didalam masjid yang sejuk dingin. Begitu perhitungan saya. 
Ketika sholat Isya berjamaah telah selesai, saya bergegas kembali kehotel. Keluar dari pintu Umar ibn Khattab saya mendadak sontak terkejut luar biasa. Astagfirullah!! Sekonyong hawa dingin menyergap yang terasa langsung menusuk tulang. Saya seperti masuk kedalam cold storage! Baru tersadar bahwa dari tadi siang saya hanya mengenakan celana dan baju yang sangat tipis. Sama sekali tak pernah terpikir bahwa suhu udara  malam hari di Madinah bisa drop sedemikian rendah. Disertai dengan angin yang bertiup kencang, menambah ‘gigitan’ dinginnya kebadan.  
Saya perkirakan suhu dibawah 10 derajat Celcius, karena saya juga pernah mengalami  sergapan hawa dingin dan hujan salju di Washington, DC tahun1992, tapi saat itu saya berpakaian lengkap plus overcoat. Jadi udara dingin tak jadi masalah. 
Kini saya boleh dikata under dressed! Tapi saya kan harus pulang ke hotel, istri saya pasti sudah menunggu direstoran hotel bersama teman-teman yang lain untuk makan malam. Badan saya sudah menggigil, bahkan gigi sudah mulai bergemeretukan menahan dingin. 
Hotel Sofra Al-Huda yang saya tempati terletak hanya dua blok saja. Kalau saya berlari pulang barangkali tidak sampai lima menit. Maka dengan mengatupkan mulut erat-erat, sayapun bersegera lari-lari kecil kembali ke hotel. Sialnya, saya juga tidak memakai tutup kepala, jadi hawa  dingin yang menyergap terasa semakin menyakitkan. Tubuh saya terasa seperti dibungkus dengan es. Mungkin seperti ini rasanya berada di kutub. Perjalanan yang tidak sampai sepuluh menit itu rasanya sudah seperti merontokkan tulang belulang saya. Sewaktu memasuki restoran hotel, semua tercengang melihat bibir saya yang berwarna kebiruan dengan kondisi badan yang menggigil. Beberapa teman menyarankan agar saya masuk kekamar dulu untuk berganti pakaian yang lebih hangat. Istri saya tampak cemas sekali memikirkan kondisi kesehatan saya yang memang agak terganggu sejak saat mabit di Mina.
Sebuah pengalaman berharga baru saja saya pelajari dikota Nabi. 
Barangkali ini juga sebuah peringatan dari Allah SWT agar saya tidak terlalu percaya diri. 
Subhanallah.



bersambung…..

Rabu, 25 Mei 2011

"MADINAH.....KOTA YANG BERCAHAYA...."



(cuplikan dari: “kisah2 spiritual” mastonie)

( 18 )

 Masjid Nabawi


Released by mastonie on Tuesday, May 25 , 2011 at  4.13 pm


Jadi jemaah terakhir yang pulang dari Masjidil Haram…..


Berjalan pulang kembali kehotel saya merasakan gejolak perasaan yang berkecamuk penuh ‘warna’. Hari ini harus saya tinggalkan kota Mekah. Tidak lagi bisa ditunda karena saya sudah menjalankan Tawaf Wada’ (tawaf perpisahan). 
Ketika berdoa sesudah shalat sunah dua raka’at didepan Multazam, saya memohon belas kasih Allah SWT agar kesempatan ini bukanlah kesempatan yang terakhir bagi saya dan istri untuk pergi ketanahNya yang suci, tanah haram. Saya juga mohon berkah keselamatan dan keteguhan iman bagi seluruh keluarga besar saya serta mohon hidayah agar mereka tergugah hatinya untuk bersegera datang ketanah suci ketika telah mampu. Ini yang membuat saya tak kuasa menahan menitiknya air mata.  
Sesampainya dipelataran hotel saya mendapati rekan-rekan jemaah yang sudah ‘siap tempur’ hijrah ke kota Madinah. Sebagian besar bahkan sudah berada didalam bus. Empat buah bus yang disediakan pun sudah menghidupkan mesinnya! Rupanya saya dan istri adalah pasangan jemaah terakhir yang ditunggu-tunggu kedatangannya dari Masjidil Haram. 
Tak terhindarkan olok-olok dan celotehpun bermunculan:
”Kesiangan nih yeeeee…” 
Ooooo….korban tahalul qubro…” dan lain-lain dan sebagainya. 
Meski wajah merah tersipu-sipu, tapi saya berusaha santai dan tenang saja. Mereka toh tidak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi tadi pagi, ketika saya dan istri nyaris tak dapat mengendalikan diri buang angin sehingga harus kembali dulu kehotel.
Saya pandangi Hotel “Grand Saraya” dan Masjid Kucing bergantian. Ada rasa getun (sedih dan kecewa) membayangkan perluasan Masjidil Haram yang akan ‘memakan korban’ seluruh bangunan dalam radius sekitar 300 meter dari Masjidil Haram. Termasuk dua bangunan besar ini. Bahkan Pasar Seng (konon katanya) juga akan diratakan dengan tanah.  Jadi seandainya pada suatu hari nanti saya mendapat ijin dari Allah Swt untuk kembali mengunjungi tanah haram ini,  maka kemungkinan besar saya sudah tidak dapat menyaksikan bangunan hotel, pertokoan dan hiruk pikuknya Pasar Seng yang dimulai dari ujung Masjid Kucing ini.


Hijrah ke  Madinah lewat jalan tol bernama “Hijrah”….

Sekitar pukul setengah sepuluh pagi waktu Mekah, empat buah bus yang berisi sekitar seratus dua puluhan jemaah haji Anubi bertolak ‘hijrah’ menuju kota Madinah al-Munawaroh.  Saya dan istri tetap menjadi penumpang di bus nomor empat. 
Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah membangun jalan raya tol yang menghubungkan kedua kota suci di Arab Saudi. Diberi nama Jalan Tol “Hijrah”, jalan raya lebar dan mulus dengan lapisan aspal hot mix yang melewati padang bebatuan tandus itu membentang nyaris sepanjang sekitar lebih dari 442 kilometer.  
Secara teori, dengan kecepatan rata-rata 80 – 90 km/jam saja, jalan tol sepanjang itu bisa ditempuh selama 5 atau 6 jam. Tapi pada prakteknya waktu tempuh itu ternyata susah dicapai. Apalagi pada saat musim haji dimana terdapat beberapa check point yang harus disinggahi. Askar yang bertugas di pos check point akan memeriksa dengan teliti semua kelengkapan administrasi jemaah yang berada dalam bus. Oleh sebab itu pemeriksaan bisa berjalan sangat lama, karena ratusan bus-bus besar berisi ribuan jemaah yang sama-sama menuju kota Madinah harus antri menunggu giliran diperiksa.
Begitu telitinya pemeriksaan dari Askar itu, sehingga apabila terdapat ‘penumpang gelap’ yang tidak jelas kelengkapan adiministrasinya, atau jumlahnya tidak sesuai dengan yang tercantum dalam daftar penumpang, maka penumpang tersebut akan langsung dipaksa turun dari bus. 
Alkisah, kejadian naas dialami (lagi) oleh penumpang bus nomor 3, dua orang penumpangnya (kebetulan mereka adalah pembimbing ibadah) dipaksa turun dari bus. Entah kenapa nama mereka tidak tercantum dalam daftar penumpang. Sebetulnya sopir bus yang ditugaskan oleh Maktab biasanya sangat teliti. Dialah orang yang harus bertanggung jawab terhadap nasib para penumpangnya. Termasuk menyimpan semua dokumen perjalanan dan ijin yang dikeluarkan oleh Maktab. 
Sebelum berangkat biasanya si sopir akan menghitung jumlah penumpang dengan teliti sekaligus dicocokkan dengan daftar nama yang dia pegang. Dia tidak akan mau memberangkatkan bus jika masih ada penumpang yang belum naik bus. Dia juga tidak akan mau memberangkatkan kalau ada penumpang yang namanya tidak tercantum dalam daftar yang dia pegang. Tapi entah kenapa bisa terjadi kasus ‘penumpang gelap’ di bus nomor 3. 
Ternyata nasib sial masih dialami lagi oleh penumpang bus nomor 3. Radiator bus bocor. Jadi setiap beberapa puluh kilometer bus harus berhenti untuk mengisi air radiator. Bisa dibayangkan ditanah Arab yang gersang dan tandus seperti itu harus mencari air setiap saat. Memang ada pemberhentian semacam rest area di jalan tol Hijrah, dimana biasanya terdapat kantin, toilet umum dan mushola, tapi jaraknya sangat berjauhan.
Kisah memprihatinkan itu baru saya dengar dari dokter Naryo (salah seorang penumpang tetap di bus nomor 3) sewaktu sudah berada dikota Madinah. Saya menanggapinya dengan gurauan yang sangat populer ditanah suci:
“Ya semua itu memang tergantung ‘amal ibadah’ kita dok”. Maka dokter Naryo cuma bisa menanggapi komentar miring saya dengan tersenyum kecut……


Madinah kota yang bersih

Yatsrib adalah kota yang dipilih oleh Rasulullah SAW ketika harus meninggalkan kota Mekah. Setelah hijrah kekota ini, beliau mengganti nama kotanya menjadi Madinah al-Munawwaroh. Artinya Madinah yang bercahaya. Rasulullah sendirilah yang membuat batas atas kota ini, seperti yang telah beliau sabdakan:
“Batas Madinah adalah antara ‘Ayr dan Tsur, barangsiapa mengadakan hal yang baru, atau menempatkan sesuatu yang baru, maka atasnya laknat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya. Allah tidak akan menerimanya di Hari Kiamat” (HR. Muslim)

 Pemandangan kota Madinah al-Munawwaroh

‘Ayr dan Tsur adalah nama Jabbal (bukit) yang jaraknya satu sama lain sekitar 15 kilometer. Keduanya merupakan batas tanah suci kota Madinah disebelah selatan dan utara.
Dikisahkan pula bahwa ketika memasuki kota Yatsrib, saat itu sedang terjadi wabah penyakit.  Rasulullah kemudian berdoa untuk kota suci ini:  
“Ya Allah berikanlah kecintaan kami kepada Madinah, sebagaimana Engkau berikan kecintaan kepada Mekah, atau lebih besar dari itu. Bersihkanlah ia dan berkatilah kami dengan makanan dan bekalnya serta gantilah wabah penyakitnya dengan juhfah” (HR. Bukhari dari ‘Aisyah RA)

Rest area di jalan Tol 'Hijrah'
Alhamdulillah bus nomor 4 yang saya tumpangi bersama istri aman-aman saja meluncur di jalan bebas hambatan yang kinclong itu. Kemacetan hanya terjadi pada saat mendekati check point, setelah itu bus bisa melaju kencang. Pemandangan diluar jendela bus full AC itu memang harus saya akui agak membosankan. Dimana-mana yang terlihat hanya tanah tandus, bebatuan dan tanah yang kering gersang. Lebih menyenangkan melihat pemandangan di Tol Purbaleunyi (Cipularang). Apalagi jarak yang ditempuh menuju Madinah hampir 500 kilometer. Bersyukur bus berhenti disetiap rest area yang ada, jadi bisa beristirahat sejenak untuk melonjorkan kaki dan pergi ke toilet serta menunaikan sholat (walaupun diperbolehkan juga untuk menjamak atau mengqodo’ sholat karena termasuk sedang menjalani safar atau pergi jarak jauh).
Tabir senja sudah mulai turun ketika bus nomor 4 memasuki kawasan check point terakhir sebelum masuk kota Madinah. Berupa sebuah lapangan parkir yang sangat luas, disini terlihat ratusan bus besar yang sedang menanti sopirnya menyelesaikan urusan administrasi dengan  petugas. Memakan waktu hampir setengah jam lebih sebelum akhirnya bus menuju kota dimana Rasulullah SAW dimakamkan. 

Subhanallah, sungguh arif dan bijaksana Rasulullah memberikan julukan kota Madinah dengan sebutan “Al-Munawwaroh”, yang artinya kota yang bercahaya. Pada sore hari menjelang petang itu, kota Madinah tampak gemerlapan dengan cahaya. Apalagi ketika Masjid Nabawi tampak samar-samar dikejauhan. Menaranya yang menjulang tinggi terlihat anggun dan indah sekali. 
Berbeda dengan kota Mekah, Madinah sudah terlihat sebagai kota yang  ‘well-planned’. Terencana dengan baik, bangunan teratur rapi dengan jalan raya yang lebar dan mulus. 
Masjid Nabawi yang didirikan oleh Rasulullah nampak seperti sebuah ‘center point’ yang memukau. Dikelilingi oleh hotel-hotel ternama dan pertokoan yang diatur menjadi blok-blok seperti lazimnya kota modern. 
Kota Madinah agaknya juga menerapkan motto: ”Kebersihan adalah bagian dari iman”. Walaupun penuh sesak dengan jemaah yang berdatangan dari seluruh pelosok bumi, kota Madinah tetap tampak bersih. Bahkan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum dan taksi yang lalu lalang dijalanan tampak bersih berkilat. Secara teratur dan rutin mobil penyapu jalan beroperasi dengan jadwal yang tetap. 
Penduduk kota Madinah juga terlihat lebih santun dan lemah lembut tutur bahasanya. Situasi itu membuat pikiran  saya lalu  membandingkan dengan situasi kota Mekah yang (menurut pendapat saya pribadi) terlihat kurang teratur, kurang bersih dengan kendaraan pribadi maupun umum yang kotor dan kadang terlihat penyok-penyok di body nya. Setidaknya itulah yang saya lihat pada tahun 2007. (Konon setelah perluasan Masjidil Haram, kota Mekah al-Mukaromah kini sudah tampak lebih teratur dan bersih, semoga benar demikian adanya).


Masjid Nabawi
Turun didepan hotel persis ketika adzan Magrib bergema dari Menara Masjid Nabawi, saya terpana. 
Meski kali ini untuk yang ketiga kalinya saya datang ke Madinah, saya masih tetap ternganga……jadi inilah “kota yang bercahaya” itu. 
Padahal ketika Baginda Rasulullah SAW memberi julukan nama sekian abad lalu, listrik belum diketemukan.
.

bersambung……

Selasa, 24 Mei 2011

"TENTANG NURANI"

Tulisan lepas:

 

 Fotos courtessy Google

released by mastonie on Tuesday, April 27, 2010 at 9:39pm

Ni’mah bin Basyir RA pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:
“Bahwa sesungguhnya dalam diri setiap manusia itu ada segumpal daging. Apabila daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Namun apabila daging itu busuk, maka seluruh tubuh (manusia) itu akan menjadi busuk pula. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah HATI” (HR. Bukhori dan Muslim).

Sejatinya sabda Rasulullah SAW itu adalah sebuah peringatan bagi setiap muslim untuk berusaha agar dapat senantiasa “menjaga hati” nya. Hati atau kalbu   adalah sebuah benda yang bisa dikategorikan sebagai benda nyata maupun benda abstrak. (Saya bukan ahli tata bahasa Arab, tapi menurut seorang Ustadz, Qalb arti harfiahnya adalah jantung. Dalam hadits diatas banyak yang mengartikan Qalb/kalbu itu dengan hati. Dan yang saya pakai dalam konteks tulisan ini memang hati)
Hati sebagai benda yang nyata bagi seorang manusia adalah sebuah organ sangat penting yang berfungsi menyaring darah yang akan beredar keseluruh tubuh. Dalam ilmu kesehatan disebutkan bahwa apabila fungsi hati terganggu, maka kesehatan manusia juga akan terganggu. Apalagi kalau hati sampai rusak (terkena kanker hati atau sirosis misalnya), maka jiwa si manusia bisa terancam ‘rusak’ pula. Bahkan bisa menyebabkan ‘game over’ alias tamat riwayatnya (sebagai manusia). 
Dengan demikian menjaga -kesehatan- hati (sebagai benda nyata) berarti menjaga tubuh kita agar tetap dalam kondisi prima alias sehat wal afiat.
Hati sebagai benda abstrak adalah nurani yang dimiliki setiap insan manusia, mahluk yang sempurna dan mulia ciptaan Allah SWT. Didalam hati nurani manusia itu pulalah sesungguhnya Sang Maha Pencipta berkenan menitipkan (walau hanya setitik saja) dari sifat rohman dan rohim Nya. 
Namun apakah setiap manusia mampu menerjemahkan titipan sifat ‘pengasih dan penyayang’ dari Sang Khalik itu? Ternyata tidak. Dalam kehidupan sehari-hari pasti akan kita temui orang-orang yang bersikap welas asih terhadap sesama. Orang yang begitu peduli kepada nasib orang lain. Orang yang tidak mementingkan keperluan diri pribadinya. Pendek kata ia adalah orang yang didalam sabda Rasulullah SAW diatas termasuk yang mempunyai “segumpal daging yang baik”.
Akan tetapi tidak jarang pula kita temukan orang-orang yang mempunyai “segumpal daging yang rusak” dalam tubuhnya. Dan sebagaimana “rumus” sifat-sifat buruk lainnya, (yang lebih mudah menular kepada orang lain), maka ternyata lebih banyak orang yang hidup dengan “segumpal daging yang rusak” dibanding dengan orang yang mempunyai “segumpal daging yang baik”.
Jaman memang telah berubah. Tentu saja kehidupan umat manusia juga ikut berubah seiring dengan kemajuan jaman yang sangat pesat. Jaman modernpun telah berkembang menjadi jaman globalisasi. Ini mengakibatkan tata kehidupan manusia berubah mengikuti ‘tren’ atau pola yang tersebar merata kesegala penjuru dunia. 
Tren kehidupan manusia modern cenderung berkiblat kepada kehidupan duniawi. Kehidupan yang membuat manusia mudah sekali terperangkap dalam pola hidup yang bukan saja tidak Islami, tetapi juga sudah menafikan semua ajaran moral agama. Agama apapun juga.
Manusia mulai lupa pada kaidah dan akidah ajaran agama. Ditandai dengan makin menipis atau bahkan menghilangnya apa yang sering kita sebut sebagai hati nurani tadi. 
Di negeri yang kita cintai ini, makin nyata tanda-tanda semakin banyaknya orang yang memiliki “segumpal daging yang rusak” itu. Akhir-akhir ini tak dapat kita pungkiri adanya kenyataan, bahwa semakin banyak manusia dinegeri ini yang telah menjadikan uang, kekuasaan, materi ataupun harta sebagai panglima dalam kehidupannya. Mulai dari para pemimpin, penguasa, pengusaha, politikus bahkan tak terkecuali (maaf) kaum ulama. Alih-alih menyadari bahwa jabatan yang diemban adalah sebuah amanah, para empunya jabatan itu justru memakai dan mendaya-gunakan jabatannya untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya bagi diri pribadi dan golongannya.
Padahal selama ini sering kita dengar ceramah dari para Da’i dan Ustad, bahwa dalam salah satu hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Apabila sebuah amanah (pekerjaan, jabatan, kekuasaan) diberikan kepada orang yang bukan AHLINYA, maka tunggu saja saat kehancurannya”. 

Senyatanya, pemimpin yang mendapat amanah untuk memerintah negeri ini, justru memilih para “pembantu” dekatnya yang sebagian besar diambil dari “konco-konco” dan dari partai koalisi yang menjadi pendukungnya. Hanya sedikit saja pejabat yang menduduki kursinya karena profesi  atau keahlian yang dipunyainya. Ini memperlihatkan sang pemimpin telah nyata-nyata melupakan hakikat sebuah amanah seperti yang telah disabdakan Rasulullah SAW diatas. 
Artinya, walau merupakan sebuah hak prerogatif, namun yang berlaku disini agaknya bukan lagi nurani dan nalar sehat yang berbicara. Yang jadi pertimbangan utama justru hanya sebuah alasan yang “praktis, pragmatis” dan penuh dengan “nuansa politis”. Untuk apa?
Tentu saja keputusan memilih para pembantu itu dibuat untuk memperkuat, memperkokoh dan (kalau bisa) melanggengkan kekuasaan semata.
Lalu apa jadinya? Jadinya ya sebuah lakon bak drama reality show di televisi yang bertema utama: ABS, (Asal Bos Senang). Disinilah tujuan menghalalkan segala cara dipertontonkan.
Anda ingin bukti? Beberapa waktu yang lalu, hampir setiap hari kita disuguhi berita di media cetak dan elektronik tentang kisah perseteruan antara “Cecak dan Buaya”. Sebuah kisah penuh intrik dan rekayasa, dimana para penguasa dibidang hukum saling tangkap dan baku tuduh.
Lalu hiruk pikuk tentang partai yang terbelah pendapatnya, antara koalisi atau oposisi. Juga berita hangat lain: debat antar pejabat tentang perlu tidaknya 'remunerasi' dan menaikkan gaji (mereka sendiri). 
Astagfirullah. Naik Gaji? Padahal baru beberapa hari para pejabat itu dilantik dan (tentu saja) belum tampak bekerja dengan sepenuhnya. Alangkah TEGA. Apapun alasannya.
Berita-berita itu bagi rakyat menjadi kisah yang sungguh aneh tapi nyata, karena seolah para petinggi negeri ini sama sekali tak punya sense of crisis.
Tak punya rasa keadilan. Tak ada lagi rasa malu dan sungkan pada rakyat yang notabene telah rela memilih mereka. Rakyat yang masih berkutat dengan bencana, rakyat yang makin melarat. Rakyat yang makin menderita karena harga-harga kebutuhan pokok (dengan seribu satu alasan) dinaikkan secara tidak semena-mena. Rakyat miskin yang (bahkan) nyaris tak bergaji!
Kemudian kita juga dibuat terpana dengan hingar bingar kasus sebuah Bank yang ‘sukses’ memaksa para penguasa dibidang moneter di Republik ini untuk menggelontorkan uang Negara sampai 6,7 trilyun!
Jumlah uang yang sampai saat ini tidak diketahui dimana gerangan rimbanya berada. Walau sebuah Pansus di DPR telah dibentuk dan telah berhasil menyodorkan sebuah kesimpulan, namun sampai detik ini tak pernah ada putusan dan ‘kata akhir’. Kalaupun ada hanyalah merupakan sebuah kesimpulan yang mengambang. Atau sengaja diambangkan. Agaknya kasus inipun lambat laun akan melemah dan lenyap ditelan angin seiring berjalannya waktu.
Dan berita seru yang terbaru selain perburuan (yang dituduh) para teroris adalah kisah perseteruan para bintang ‘buaya’ gara-gara “MARKUS” (MAkelaR KasUS) yang diduga mampu menyulap bin menilep uang setoran pajak dalam jumlah milyaran rupiah.  
Astagfirullah (sekali lagi).APA KATA DUNIA? 
Selagi penguasa getol menyerukan agar rakyat (dari para petani, pegawai, bahkan pensiunan sampai pengusaha dan para cukong) tak terkecuali harus membayar pajak, ternyata disisi lain oknum petugas pajaknya justru getol menggerogoti dan menilep uang setoran pajak. Ironis sekali.
Tentu wajar saja kalau rakyat dan masyarakat ramai kemudian bertanya dimana gerangan sesungguhnya hati nurani mereka: para pejabat dan penguasa negeri ini.

Ah, QUO VADIS , akan dibawa kemanakah kau, wahai negeriku tercinta?
Atau mari kita ajak  rakyat jelata berdoa:

“Ya Allah, Ya Rabb, Sang Maha Penguasa atas segala, kembalikanlah nurani para pemimpin kami ketempatnya semula, sehingga mereka punya mata hati lagi, sehingga mereka bisa mendengar tangisan dan melihat penderitaan rakyatnya. Sesungguhnyalah kami yakin azab Mu sangatlah pedih, azab yang akan Kau timpakan pada sebuah negeri yang para pemimpinnya berbuat durhaka kepada rakyatnya”

 
(Cuplikan dari sajak “doa rakyat yang tertindas” oleh mastonie)