Kamis, 31 Maret 2011

"DIPERINTAH MENCARI 'PARTNER' BUJANGAN"


     
(dari draft buku: "Catatan seorang mantan Ajudan" oleh mastonie)
Tulisan bersambung (37)
 
      

    Setelah menjalankan tugas sebagai Ajudan Mendagri yang single fighter, selama hampir empat bulan, pada suatu hari Pak Pardjo berkata:
“Ton, kalau terus bekerja sendirian begini, mungkin lama-lama jij bisa ambruk. Coba cari teman untuk menemani jadi Ajudan. Tapi jangan dari Depdagri. Cari saja dari salah seorang staf Protokol Jawa Tengah yang sudah hafal cara kerja saya. Jadi tidak perlu mendidik lagi” 
Belum sempat saya jawab, Pak Pardjo sudah menyambung:
“Tapi cari yang belum menikah ya, biar tidak repot”.
Saya langsung teringat ‘setori’  saya beberapa tahun silam di Puri Gedeh, ketika Pak Pardjo juga menanyakan status saya, sudah menikah apa belum.
“Kadosipun ingkang taksih single namung Dik Syaiful (sepertinya yang belum menikah hanya Dik Syaiful) Pak” saya menjawab hati-hati.
“Yang mana ya orangnya? Tapi coba saja besok kamu pulang ke Semarang dan tanya pada si . .  siapa tadi? Mau nggak dia diajak kerja di Jakarta”.

Mencari "partner" bujangan
 
Rindhik asu digitik (pepatah Jawa: selambat-lambatnya anjing lari kalau dipukul, maksudnya lari secepat kilat), saya segera ngibrit terbang ke Semarang. Tiba di Semarang sudah bakda Ashar. Saya langsung teringat pada kenangan dengan ‘Pak Kiai’ (demikian julukan yang diperoleh Dik Syaiful dari teman-teman) yang Insya Allah akan jadi partner kerja saya di Depdagri. Dia setahun lebih tua dari saya. Tapi karena dia belum menikah sedangkan saya sudah punya anak tiga, maka dia memanggil saya dengan sebutan Mas. Otomatis saya lalu memanggilnya dengan sebutan Dik. 
Dibagian Protokol Dik Syaiful termasuk staf yang paling yunior. Saya hanya sempat bergaul sebentar dengannya di Bagian Protokol, karena saya lalu ditugaskan menjadi Ajudan Gubernur. Pria asli Jawa Timur ini soleh luar biasa, karena lulusan pondok pesantren. Saking fanatiknya, dia tidak pernah mau diajak makan direstoran chinese food. Khawatir makanannya tercemar dengan limbah “B2”
Suatu saat ketika sedang ramai-ramai bertugas di Surakarta, Dik Syaiful dikerjain oleh teman-teman staf Protokol yang lain. Dipaksa ikut makan direstoran chinese food yang terkenal paling enak di jalan Slamet Riyadi. Tapi dia bergeming, tidak mau ikut makan masakan yang disajikan seperti fuyung hay, cap cay dan lain-lain. Dia memilih untuk memesan telor mata sapi, dengan catatan harus digoreng pakai mentega (khawatir minyak yang dipakai minyak B2). Jadi akhirnya dia hanya makan nasi putih, telor mata sapi dan kecap saja. Melihat ‘Pak Kiai’ makan dengan menunya sendiri, kita semua tertawa ngakak.

     Sore hari itu saya menuju ke rumah kontrakan Dik Syaiful didaerah Kauman. Orang yang mau dapat promosi itu ternyata malah sedang nglepus tidur siang.  Sambil mengusap matanya yang masih tampak kemerahan Dik Syaiful bertanya:
“Wah bikin kaget saja njenengan ini. Sudah enak-enak jadi priyayi Jakarta, kok ujug-ujug gumrojog tanpa larapan (mendadak sekali) datang kegubug saya. Ada perlu apa ini Mas?”.
Saya langsung berpikir, yang namanya keberuntungan itu memang selalu datang tak terduga.
“Dik, njenengan digoleki (anda dicari) Pak Pardjo lho” jawab saya serius. Dia masih tidak percaya pada pendengarannya, barangkali.
“Sing bener, salahku apa (yang benar, salah saya apa)?”
“Begini lho Pak Kiai, njenengan kan tahu selama ini saya tugas sendirian jadi Ajudan Mendagri. Jadi Pak Pardjo minta saya untuk cari pendamping dari staf Protokol Jateng yang masih ‘thing-thing’ (belum menikah). Lha yang masih bujangan kan tinggal njenengan sendiri, ya nggak?” saya berusaha menjelaskan.
Matanya yang merah langsung terbelalak. Mulutnya ternganga.
“Huss, aja mlompong kaya sapi ompong ngono. Ini serius” kata saya.
Sing beneerr” jawabnya lagi.
Sing benar sing bener wae bisane njenengan ki” sergah saya.
“Ini serius us us us. Pokoknya sekarang Dik Syaiful siap-siap. Bawa pakaian seadanya saja dulu, besok ikut terbang ke Jakarta bersama saya. Jadi Ajudan Mendagri. Lho apa ora penak?”
“Aja guyon lho Mas, pangkatku ki apa kok dikon dadi Ajudan Menteri (jangan bercanda, pangkat saya apa, disuruh jadi Ajudan Menteri)” jawabnya masih tidak yakin.
“Wis tah, percaya karo aku, ora-ora nek tak bujuki (sudahlah, percaya sama saya, saya tidak akan menipu)”
“Lha saya kan harus lapor Pak Rasiman barang to”
“Itu urusan saya. Pak Pardjo malah sudah telepon Pak Wahyudi” . Saya berkata tegas.
Mendapat serbuan perintah mendadak begitu, Dik Syaiful tampak sekali ‘shock’. Mulutnya terlihat komat-kamit, entah membaca mantra entah doa, saya kurang tahu persis. Yang saya tahu persis, keesokan harinya Dik Syaiful sudah saya gondhol (bawa) terbang ke Jakarta.  

Berdua menangkal gosip dan kasak kusuk
 
     Mulailah episode baru penugasan saya di Jakarta. Kini Ajudan Mendagri secara resmi jadi dua orang. Dua-duanya (orang Jawa) berasal dari Staf Protokol Pemda Jawa Tengah.
Saya bisa sedikit istirahat, kini ada partner kerja yang bisa bergantian menjalankan tugas. Kamar yang saya tempati sendirian di Kantor Perwakilan, sekarang bertambah penghuninya.
Ketika mengetahui ada Ajudan Mendagri yang baru dan berasal dari Pemda Jawa Tengah juga, kantor Depdagri langsung heboh. Kasak kusuk dan sas-sus marak lagi. Ada yang tega menuduh Pak Pardjo menganut faham kesukuan dan lain-lain. Padahal mereka tidak tahu keadaan yang sesungguhnya. 
Pak Pardjo adalah pejabat yang mempunyai style (gaya) yang gampang-gampang angel (susah-susah mudah atau mudah-mudah susah) diikuti. Apalagi oleh orang yang sama sekali belum pernah mengenal gaya dan irama kerjanya. Jadi sebetulnya beliau hanya mengambil praktisnya saja. Dengan mengambil orang (untuk jadi Ajudan) yang sedikit banyak telah mengenal gayanya, maka tanpa perlu mendidik orang baru lagi, Pak Pardjo bisa langsung ‘tancap gas’ bekerja dengan gaya speed and power gamenya. Gaya kerja yang terkenal bisa membuat stafnya jadi kalang-kabut  dan keponthal-ponthal (terbirit-birit).
Maka walaupun saya dan Dik Syaiful bagai diterpa badai gosip, bahkan dikemudian hari ternyata ada yang tega melakukan “konspirasi” jahat disertai intrik untuk “menggusur” kita berdua, namun saya dan Dik Syaiful tetap tenang-tenang saja.  
Kita hanya berpegang pada pepatah: anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.



bersambung.....

"DEPDAGRI, GUDANG 'TEMAN BARU TAPI LAMA'..."




(dari draft buku: "Catatan seorang mantan Ajudan" oleh mastonie)
Tulisan bersambung (36)


       Beretemu dengan teman-teman lama

    Departemen Dalam Negeri memang kantor yang baru saya kenal, tapi tidak demikian dengan beberapa Pejabat dan karyawannya. Sejak masih menjadi Staf Protokol di Pemda Jawa Tengah, saya sudah mengenal dengan baik beberapa Pejabat Depdagri yang sering berkunjung (dalam rangka dinas) ke Pemda Jawa Tengah. Saya juga berteman baik dengan beberapa rekan dari Bagian Protokol Depdagri yang sering bertugas ke Jawa Tengah menyertai kunjungan Mendagri Amir Machmud.   
Apalagi saya juga sering berkunjung ke Kantor Depdagri pada saat saya harus mengikuti Pak Pardjo menghadiri Raker Gubernur di Jakarta. Sebagai 'Pandu kalung kacu', saya memang punya kecenderungan cepat akrab dengan orang lain. Sifat yang selayaknya dipunyai oleh seorang petugas Protokol dan Ajudan. Jadi ketika akhirnya saya masuk sebagai karyawan ‘wajah baru’ di Kantor Depdagri, saya menemukan beberapa teman ‘baru’ yang -sebetulnya- sudah lama saya kenal. Beberapa diantaranya malah sudah sangat akrab. Oleh sebab itu saya merasa tidak asing lagi meski harus bekerja di kantor yang sama sekali baru buat saya ini. Bayangkan dari pegawai tingkat regional, sekarang saya jadi pegawai tingkat nasional!
     Pak Pardjo adalah mantan Diplomat senior. Beliau sangat memerhatikan dan bahkan  sangat menguasai aturan Protokoler. Semenjak beliau menjabat Menteri Dalam Negeri, maka beliau langsung memberikan petunjuk kepada Kepala Sub Bagian Protokol untuk membuat acara harian Menteri Dalam Negeri selama seminggu kedepan.(dalam Struktur Organisasi Depdagri saat itu, Protokol  masih berada dibawah Biro Humas dan hanya merupakan Sub Bagian, setingkat eselon IV). 
Ini merupakan sebuah pekerjaan baru bagi Protokol Depdagri, tetapi bukan sesuatu yang asing lagi bagi saya, karena saya dulu -sejak masih jadi Staf Protokol Gubernur- juga sudah biasa membuat “Atur Cara Gubernur”. Jadi mau tak mau saya harus menularkan ‘ilmu’ tentang cara membuat “Atur Cara” itu kepada staf Protokol Depdagri.

(Pak Pardjo memang memiliki beberapa istilah yang ‘khas’, terutama untuk kata ‘acara’ yang beliau ganti menjadi ‘atur cara’. Ada sebuah kata lagi, yaitu ‘hening cipta’ untuk menggantikan kata ‘mengheningkan cipta’ yang biasa dilakukan dalam upacara bendera. Saya tidak tahu persis apa alasan beliau mengganti dua buah kata itu dan juga tidak tahu apakah kata ‘atur cara’ ada dalam kosakata Bahasa Indonesia).
 
Yang pasti sejak saat itu semua acara Mendagri harus dibuat dan dikonfirmasi oleh Protokol. Sebuah tugas yang merupakan ‘hal baru’ bagi Protokol Depdagri waktu itu, karena Mendagri Amir Machmud dulu tidak terlalu memberdayakan Protokol sebagaimana Mendagri Soepardjo Roestam. Oleh sebab itu Kasubag Protokol terpaksa harus menugaskan seorang stafnya untuk selalu stand by  diruang Staf Pribadi Mendagri. 
Ruang Staf Pribadi ini hanya berisi 3 meja kerja, satu meja untuk Sekpri Mendagri (untuk sementara dijabat oleh Pak Supriyo, mantan Sekpri Pak Amir Machmud), satu untuk Ajudan (saya sendiri) dan satu meja lagi untuk staf TU Menteri yang mengurus administrasi surat keluar masuk untuk Mendagri. Dengan hadirnya staf Protokol, maka harus dimasukkan sebuah meja kerja baru.
    Sewaktu Pak Pardjo masuk sebagai orang nomor satu di Depdagri, Kasubag Protokol dijabat oleh Pak Heru Harsoyo, seorang pria berperawakan kecil tapi gesit dan supel. Saya sudah lama mengenal beliau -sejak saya masih tugas di Protokol Jateng-, jadi tak ada masalah ketika harus bekerja dalam sebuah ‘team work’ baru dengannya. Salah seorang staf Protokol yang ditugaskan untuk stand by diruang Spri, (juga kemudian jadi sangat akrab dengan saya) adalah Mas Gatot Suharto. Pria asli Jawa Tengah ini berbadan gempal dan berwajah mirip Pak Bustanil Arifin (mantan Ka Bulog), terutama karena -maaf- kepalanya yang MBA (Makin Botak Aja). Disamping supel, dia juga terkenal pandai melawak. Dengan kehadirannya, ruangan Spri yang tadinya terkesan ‘angker’ jadi cair. Setiap hari ada-ada saja bahan gurauan yang dilontarkannya. 
Entah punya ‘ilmu’ apa dia, Pak Pardjo kelihatan sangat sayang sekali padanya. Mas Gatot ini pula yang nantinya jadi sahabat saya -selain beberapa orang yang lain-, yang sangat setia sampai akhir hayatnya kelak.
Seperti yang sudah saya tuliskan, saya telah menjalin pertemanan dengan rekan-rekan sesama Ajudan -dari Ajudan Bupati, Gubernur sampai Ajudan Menteri dan Pejabat Tinggi Pusat lain- sejak masih jadi Ajudan Gubernur dulu. Jadi ketika bertugas sebagai Ajudan Mendagri di Jakarta, saya tidak menjumpai kesulitan untuk masuk ‘Ring 2’, yang berarti masuk kedalam kawasan lingkaran kerja para Menteri dan Pejabat Tinggi setingkat Menteri  di Kabinet Pembangunan IV.
Sewaktu jadi Presiden, Pak Harto selalu konsisten mengatur waktu. Hari Senin pertama setiap bulan dipakai untuk Sidang Kabinet Terbatas, hari Rabu dipakai untuk Sidang Kabinet lengkap. Sedangkan untuk menerima Surat Kepercayaan para Duta Besar Negara Sahabat biasanya dilakukan pada hari Jum’at. Jadi paling kurang dua kali dalam sebulan ada Sidang Kabinet di Bina Graha, dimana kalau para Anggota Kabinet berkumpul, otomatis para Anggota A-ngkat D-junjung C-lub (olok-olok untuk ADC/Ajudan) juga berkumpul. Suasananya selalu regeng dan gayeng (meriah dan hangat).  
Waktu itu Kepala Rumah Tangga Istana (Pak Sampurno, SH) berkenan menyediakan tempat khusus untuk para Ajudan diluar ruangan Sidang Kabinet yang terletak dilantai dua gedung Bina Graha. Kalau ‘angin’ sedang bagus, untuk para ‘Ajudan Kabinet’ ini juga disediakan minuman dan snack secukupnya. Tapi sering kali juga tidak tersedia apapun. Entah ‘angin’ sedang buruk, atau anggaran Rumah Tangga Istana sedang mepet. Jadi untuk mengisi waktu dan mengisi perut, para Ajudan berebut menyerbu kantin dibelakang Bina Graha yang makanan dan (terutama) tahu gorengnya terkenal mak nyuuus. Harap maklum, meskipun kantin itu terletak di (belakang) Bina Graha yang Kantor seorang Presiden, tetapi ukurannya tidak lebih dari 4 x 4 meter saja. Nyelempit (terselip) dan sumpek. 
Sekalipun ruangannya termasuk sangat sederhana, namun karena makanannya cukup lumayan dan ringan dikantong, maka pengunjungnya bejibun (banyak sekali). Apalagi kalau pas jam makan siang. Harus antri sampai berebut dengan karyawan Sekretariat Negara yang juga jadi langganan kantin ini. Disinilah justru kekompakan para Ajudan terjalin. Bercengkerama, makan bersama sambil bercanda. Salah seorang Ajudan yang hari itu sedang banyak rejeki yang -biasanya- mentraktir rekan-rekannya. Seingat saya yang paling sering mbayari adalah Ajudan Menko Ekuin. Mungkin karena pada dasarnya beliau memang royal (murah hati), ditambah lingkungan kerja yang -barangkali- basah kuyup (kantor pusat ekonomi, keuangan dan industri jee), jadi tenang-tenang dan senang-senang saja setiap kali jadi bandar. 
Konon karena keakraban dan kekompakan para Ajudan ini, maka sejak Kabinet Pembangunan IV dilantik, terbentuklah Perkumpulan Para Ajudan  yang disepakati jadi forum kekeluargaan antar Ajudan. Saya tidak tahu apakah Perkumpulan itu masih ada sekarang.
    Disamping bergaul dan berteman akrab dengan sesama Ajudan Menteri, saya juga berkawan baik dengan para Ajudan Gubernur dan Bupati se Indonesia. Persahabatan itu sudah terjalin sejak saya jadi Ajudan Gubernur Jawa Tengah. Jadi ketika saya kemudian ada di “Pusat” alias jadi Ajudan Mendagri, saya tinggal menjalin lebih erat lagi tali silaturahimnya. Yang membuat saya agak tidak enak hati adalah, sikap beberapa teman -walaupun hanya bercanda- yang lalu memanggil saya dengan sebutan bos. Alasannya karena secara hirarki Gubernur adalah bawahan Mendagri, maka otomatis Ajudan Gubernur juga (harus) jadi ‘bawahan’ Ajudan Mendagri.
Ada-ada saja, ini pasti salah satu bagian dari ilmu ‘kelirumologi’. He he he.

(Saya akui memang ada yang unik dengan kisah persahabatan saya dengan para Ajudan Gubernur ini. Secara kebetulan sejak masih jadi Ajudan Gubernur saya secara pribadi berteman baik dengan Ajudan Gubernur Jawa Barat Aang Kunaefi (Mas Bambang Budiharto) dan Ajudan Gubernur Sumatera Barat Azwar Anas (Pak Syafrijal). Bisa dikatakan saya dan kedua orang ajudan itu  adalah kolega yang setingkat -horisontal-. Sewaktu saya jadi Ajudan Menteri, mereka menganggap saya (seolah-olah) sebagai teman atau kolega yang naik setingkat -berada- diatas, dari hubungan horisontal berubah jadi vertikal. Tapi kelak kemudian hari (dalam Kabinet Pembangunan V), Gubernur Sumatera Barat Azwar Anas dipromosikan oleh Presiden menjadi Menteri Perhubungan. Pak Pardjo naik jadi Menko Kesra. Maka hubungan saya dengan Ajudan Pak Azwar (kini -tahun 2009- Pak Syafrijal menjabat Bupati Solok Selatan), seolah-olah jadi setingkat -horisontal- lagi. Sementara itu Gubernur Jawa Barat (Yogi S.M) dilantik jadi Mendagri pada Kabinet Pembangunan VI, dan Pak Azwar juga naik jadi Menko Kesra menggantikan Pak Pardjo yang pensiun. Maka saya  juga ikut lengser, kembali jadi ‘pegawai biasa’ di Depdagri. Tapi hubungan saya dengan Mas Bambang, Ajudan Pak Aang yang kemudian juga jadi Ajudan Pak Yogi (kemudian jadi Sekpri Mendagri), dan Pak Syaf, Ajudan Pak Azwar,  tetap terjaga dengan baik, hanya saja sekarang saya (seolah-olah) jadi setingkat dibawah mereka berdua -vertikal-. Kalau boleh digambar dengan grafik,  hubungan pertemanan kita jadi seperti ini: Horisontal-Vertikal-Horisontal- dan Vertikal lagi.
Saya pikir itulah sejatinya kehidupan dialam fana. Orang Jawa percaya pada adanya ‘Cakra manggilingan’ , roda kehidupan yang terus berputar. Terkadang seseorang berada diatas dan suatu waktu bisa berada dibawah. Begitu seterusnya. Tapi sejak awal bekerja saya sudah belajar untuk ‘committed’. Apapun yang saya kerjakan Lillahi Ta’ala -semuanya karena Allah- Jadi apapun yang terjadi, saya ikhlas. Semuanya saya pasrahkan kepada Sang Penentu Kehidupan, Allah SWT).  



bersambung.....


"MENDAGRI SOEPARDJO MULAI BEKERJA"



(dari draft buku: "Catatan seorang mantan Ajudan" oleh mastonie)
Tulisan bersambung (35)


Masuk kerja kepagian, buka pintu ruangan sendiri.

    Sewaktu berada di Jakarta untuk menjalankan tugas sebagai Mendagri, Pak Pardjo langsung menerapkan jurus ‘speed and power game’ nya lagi. Seperti kebiasaan pada waktu jadi Gubernur Jawa Tengah, setiap hari beliau akan berangkat ke Kantor pada pukul 06.30 pagi. Jarak antara Jalan Dharmawangsa ke Jalan Medan Merdeka Utara (lokasi kantor Depdagri) sekitar 20 kilometer yang bisa ditempuh dengan bermobil dalam waktu sekitar 20 sampai 35 menit. 
Pada tahun 1983 Jakarta belum terlalu padat dan ‘crowded’ lalu lintasnya. Sistem ‘three in one’ malah belum terpikirkan. Apalagi jalan tol dalam kota seperti JORR. Jadi hampir pasti sekitar pukul 07.00 – 07.15 pagi Pak Pardjo sudah berada dilobi Gedung Utama Kantor Depdagri. Waktu pertama kali tiba dikantor, beliau (termasuk saya) agak kaget karena kantor Depdagri terlihat masih sunyi sepi. Petugas Polisi Pamong Praja yang bertugas di gardu jaga dipintu gerbang berloncatan keluar dari ‘sarang’nya ketika tahu bahwa Pak Menteri sudah berada dikantor. Padahal saat itu petugas yang menyimpan kunci pintu ruang kerja Menteri pun belum datang. Suasana sontak geger seketika. Mereka berlarian mencari kunci duplikat atau master yang disimpan dikamar komandan Polisi PP. 
Saya lihat ‘mendung’ menggantung diwajah Pak Pardjo. Sebuah pertanda hari akan jadi ‘hujan badai’. Pak Dar (Mayjen Daryono, SH, Sekjen Depdagri saat itu) baru tiba setengah jam kemudian. Dengan tergopoh beliau langsung minta waktu untuk menghadap Menteri. Barangkali beliau mau minta maaf atau menjelaskan keadaan. Tapi tetap saja Pak Parjo kukuh dengan pendiriannya. Berangkat dari kediaman (dikantor Perwakilan) setiap hari seperti biasa, pukul 06.30 pagi. Maka para ‘bala kurawa’ (pesuruh dan pemegang kunci) lah yang harus mengalah. Datang lebih pagi. Mau tak mau. Sampai suatu hari saya dipanggil masuk keruang kerja Pak Sekjen. 
Pak Dar adalah seorang tentara yang sangat tenang dan tampak lemah lembut dibalik kacamata tebalnya.
“Ini begini ya, Pak Tony, tolonglah dijelaskan kepada Pak Pardjo, sekarang ini beliau sudah jadi Menteri dan berada di Jakarta. Bukan di Semarang. Jam kerja di Depdagri sejak dulu kala ya dimulai pada jam 08.00 pagi, pulang jam 16.00 sore. Bus jemputan -pegawai- baru sampai di kantor paling cepat jam 07.30 dan sudah bergerak pulang mulai pukul 15.30”. Beliau menjelaskan sambil tersenyum-senyum.
“Soalnya, di Jakarta ini jarak antara perumahan pegawai dan kantor rata-rata sangat jauh. Tidak seperti di Semarang, yang kemana-mana dekat. Jadi ya, mohon beliaulah yang berkenan menyesuaikan. Atau kalau tidak ya harus ada aturan baru, mengubah jam kerja pegawai. Tapi itu artinya para pegawai sudah harus berangkat dari rumah sebelum salat subuh. Apa ndak kasihan?” Tanya beliau.
Mendengar penjelasan Pak Dar, saya tertegun agak lama. Lalu saya putuskan menjawab dengan agak hati-hati. Bagaimanapun beliau adalah Sekjen Depdagri yang boleh dikata baru saja saya kenal.
“Mohon maaf Pak, mengapa bukan Pak Sekjen sendiri saja yang menjelaskan kepada beliau?”. Saya balik bertanya. Pak Dar tersenyum lebar.
Lho diseluruh Depdagri ini orang yang paling dekat dengan Pak Menteri, kan hanya satu orang saja. Namanya Pak Tony. Ndak ada orang lain lagi. Kalau tidak, buat apa Pak Tony dibawa jauh-jauh dari Semarang. Ya kan?”.
Jawab Pak Daryono masih sambil tersenyum.
Saya merasa disanjung sekaligus disindir, dipojokkan lalu dibanting!
“Sebagai Sekjen, saya bisa saja matur (bicara) pada beliau, tapi terus terang saya kan belum tahu persis ‘sratenan’ (cara melayani) nya Pak Menteri”. Lanjutnya,
“Sudahlah, jangan khawatir, saya jamin kalau Pak Tony yang menjelaskan pasti beliau mau mengerti”. Sambil berkata yang terakhir ini, Mayor Jenderal yang kacamata bacanya tampak tebal itu menepuk-nepuk bahu saya dengan ramah.
“Saya, Daryono, mewakili seluruh pegawai Depdagri mengucapkan terima kasih kepada Pak Tony atas budi baik ini”. Kali ini beliau tertawa lebar. Kali ini juga saya benar-benar KO. Menyerah kalah. Memang benar kata para sesepuh, “Wong Jowo iku yen dipangku, mati” (Orang Jawa itu kalahnya kalau disanjung-puji).
Sore harinya dimobil dalam perjalanan kembali ke Perwakilan saya laporkan masalah jam kerja itu kepada Pak Pardjo. Lengkap dengan penjelasan dan alasannya seperti yang disampaikan Pak Daryono tadi. Pak Pardjo tampak diam menyimak, tapi tak berkomentar. Sama sekali. Saya merasa bahwa tugas saya (yang diberikan oleh Pak Sekjen) telah saya laksanakan.  Namun keputusan tetap ada ditangan Pak Pardjo. Kan beliau yang jadi Menterinya. Saya tinggal ‘wait and see’ saja. Judulnya: Pasrah.

    Keesokan harinya -seperti biasa- saya dan sopir sudah siap sedia didekat mobil pada pukul 06.15 pagi. Cuaca diatas kota Jakarta cukup cerah. Pukul 06.30 sudah lewat, tapi Pak Menteri belum turun. Pak Tarto (Kepala Perwakilan) mendekati saya seraya bertanya:
Tumben Pak Menteri belum tindak (berangkat) dik, ada acara diluar kantor?” Saya jelaskan masalahnya pada Pak Tarto yang mendengarkan sambil manthuk-manthuk (mengangguk-angguk).
“Saya sudah matur (bilang) beliau sejak awal dulu, saya kan sudah lama di Jakarta dan tahu persis jam kerja Depdagri. Tapi yaaa situ tahu sendiri kan,  Pak Pardjo itu bagaimana”  katanya sambil terkekeh.
Pukul 07.15 Pak Pardjo baru kelihatan menuruni tangga. Diam-diam saya merasa agak lega. Penjelasan saya didalam mobil kemarin rupanya dapat beliau terima. Itu berarti tugas dari Pak Sekjen berhasil saya laksanakan dengan baik. Kelak kemudian hari Pak Daryono ternyata tidak lupa pada tugas yang diberikannya pada saya dan berkenan memberi semacam ‘imbal-jasa’ atas tugas  yang telah saya lakukan. Berupa apakah itu? 
Akan saya kisahkan pada saatnya nanti.



bersambung.....


"MANTAN GUBERNUR MELANTIK GUBERNUR":




(dari draft buku: "Catatan seorang mantan Ajudan" oleh mastonie)
Tulisan bersambung (34)

    
     Jawa Tengah mempunyai Gubernur baru

    Akhirnya tiba juga saatnya serah terima Jabatan dan Pelantikan Gubernur Jawa Tengah yang baru. DPRD Tingkat I Jawa Tengah dalam Sidang Paripurnanya telah menetapkan untuk memilih Letnan Jenderal Ismail sebagai Gubernur Jawa Tengah yang baru. Maka surat permohonan persetujuanpun dikirim ke Presiden lewat Mendagri. Tak berapa lama kemudian surat persetujuan dari Pemerintah Pusat telah turun. 
Mendagri atas nama Presiden mengeluarkan SK Penetapan Letjen Ismail sebagai Gubernur Kepala Daerah Jawa Tengah untuk masa jabatan lima tahun (1983-1988). 
Waktu pelaksanaan Serah Terima Jabatan dan Pelantikan segera ditetapkan pula. Ini adalah sejarah baru yang membanggakan bagi Provinsi Jawa Tengah. Gubernur Jawa Tengah (baru) akan dilantik oleh Mendagri yang juga masih merangkap sebagai Gubernur Jawa Tengah (lama) sampai dilaksanakannya upacara serah terima jabatan itu. Sebuah peristiwa unik dan langka yang belum tentu akan dapat terulang lagi.

foto: dok. suara merdeka



Saya merasa ikut bangga dapat hadir menyaksikan peristiwa langka itu. Bahkan saya sekarang bertindak sebagai Ajudan Mendagri dalam Upacara Serah Terima Jabatan dan Pelantikan itu. Sayalah yang membawa naskah Pelantikan yang nantinya akan dibacakan oleh Mendagri dan harus ditirukan oleh Pejabat yang akan dilantik. Sekali lagi Gedung Olah Raga Jawa Tengah yang megah dan terletak didaerah Simpang Lima yang merupakan pusat kota Semarang, menjadi saksi bisu atas terjadinya peristiwa bersejarah itu. 
   
Upacara Pengambilan Sumpah terganggu 'sound system'

    Gedung Olah Raga Jawa Tengah adalah sebuah gedung yang didalamnya didisain seperti sebuah stadion, tapi dengan atap tertutup. Ditengah gedung terdapat fasilitas untuk lapangan olahraga, seperti basket, voli dan bulutangkis atau olahraga lain. Bahkan pernah pula dipakai untuk lomba marching-band. Disekeliling gedung itu terdapat tribun untuk tempat duduk penonton dengan barisan kursi (seperti yang biasa ada di tribun stadion) yang diatur letaknya semakin kebelakang semakin tinggi. Tribun itu terdapat dikeempat sisi gedung, dengan sebuah balkon untuk tribun VVIP. Sebetulnya gedung olah raga ini kurang sesuai untuk sebuah upacara seremonial. Karena sistem tata suara atau akustik nya didisain hanya untuk acara olah-raga, bukan untuk acara seremonial seperti Pelantikan Gubernur. Dindingnya jelas bukan tipe dinding yang kedap suara. Malah cenderung memantulkan gema. Satu-satunya pertimbangan memilih GOR menjadi tempat untuk sebuah event seperti Upacara Pelantikan Gubernur adalah karena kapasitas ruangannya yang dapat menampung ribuan orang sekaligus. Juga tempat parkir mobilnya yang cukup luas. Tapi masalah akustik sebenarnya dapat diatasi dengan sistem tata suara yang baik. Terbukti pada tahun 1974, sewaktu Upacara Serah Terima Jabatan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Pejabat Gubernur Jawa Tengah  dari Mayor Jenderal Munadi kepada Mayor Jenderal Soepardjo, dapat terselenggara dengan cukup baik dan lancar. Akan tetapi entah mengapa hal itu tidak terjadi pada tahun 1983, saat berlangsung acara yang persis sama, Upacara Serah Terima Jabatan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Gubernur Jawa Tengah.
    Pada waktu Mendagri Soepardjo Roestam sedang mengambil Sumpah Jabatan Letnan Jenderal Ismail sebagai Gubernur, terjadi hal yang sangat mengganggu jalannya upacara. Tata suara di GOR Jateng sangat buruk, sehingga menimbulkan gema. Disamping itu gemuruh suara audience entah mengapa ikut pula menambah ‘rusak’nya suasana. Seperti biasa sebagai seorang Ajudan saya harus berdiri tepat disebelah kiri belakang Mendagri Soepardjo sebagai Pejabat Pengambil Sumpah. Hanya beberapa meter didepan Mendagri (mungkin tidak sampai dua meter) berdiri Letnan Jenderal Ismail sebagai Pejabat yang mengangkat sumpah dan akan dilantik sebagai Gubernur Jawa Tengah yang baru. Pak Pardjo membaca naskah sumpah sebagaimana biasa, dengan kalimat per kalimat yang diucapkan secara tegas dan jelas. Saya yang berdiri dibelakang Pak Pardjo masih dapat mendengar semua kalimat dengan jelas, walaupun memang sedikit terganggu dengan tata suara yang bergema. Sayang tidak demikian dengan Pak Ismail.  Entah karena gugup atau entah karena tidak jelas mendengar (akibat suara yang bergema), beliau jadi agak kesulitan menirukan kalimat yang diucapkan Pak Pardjo. Beberapa kali Pak Pardjo mengulang kalimatnya karena terlihat Pak Ismail agak mengalami kesulitan menirukan kalimat sumpah. Pak Ismail sampai harus mencondongkan diri agak kedepan untuk menyimak lebih jelas, sambil matanya menatap kepada saya seolah memberi ‘kode’ agar saya ikut mengulang kalimat demi kalimat. Saya segera tanggap dengan situasi kritis ini. Repotnya para tamu justru seperti gelisah dengan mengeluarkan suara-suara yang tidak perlu. Suasana jadi sedikit gaduh. Saya berusaha ikut mengulang kalimat yang diucapkan Pak Pardjo, tapi dengan gerakan bibir yang saya buat lebih jelas, dengan maksud agar Pak Ismail bisa membaca gerak bibir saya. Rupanya ‘taktik’ saya cukup berhasil. Walaupun terkesan agak lebih lambat mengikuti, tapi Pak Ismail bisa mengulangi kalimat demi kalimat sumpah jabatan dengan lebih lancar. Dalam hati saya agak merasa geli juga karena Pak Ismail malah jadi seperti menirukan kalimat yang saya ucapkan hanya beberapa detik sesudah diucapkan oleh Pak Pardjo. Walau bagaimana, akhirnya Pengambilan Sumpah Jabatan pun dapat terselesaikan dengan cukup lancar.  Alhamdulillah.
Diruang tunggu VIP beberapa saat setelah Upacara usai, Pak Ismail berjalan menghampiri saya seraya berbisik pelan:
“Terima kasih telah membantu saya tadi”.
“Sama-sama Pak Gubernur, saya sekedar melaksanakan tugas” jawab saya.
Kini saya merasa lega, bukan karena dapat membantu Pak Ismail, tapi karena sekarang Pak Pardjo sudah tidak merangkap jabatan lagi. Jadi pola kerja yang ‘pontang-panting’ antara Semarang-Jakarta-Semarang pasti akan segera berakhir.

(Tidak seorangpun akan pernah mengira, bahwa kelak kemudian hari Gedung Olah Raga yang bersejarah dan megah itu -dimana Pak Pardjo dan Pak Ismail diambil sumpahnya dan dilantik sebagai Gubernur Jawa Tengah-, secara ironis harus dirobohkan justru karena kebijakan Pak Gubernur Ismail sendiri, dengan alasan GOR Jawa Tengah itu dianggap sudah tidak tepat lagi lokasinya. GOR yang malang itu oleh Gubernur Ismail kemudian dipindahkan kearah selatan kota -yaitu disekitar daerah yang bernama Jatingaleh-, dimana dibangun sebuah komplek GOR baru yang dinamakan GOR “Jati Diri”. Disekitar Simpang Lima itu dahulu juga berdiri sebuah Gedung Pertemuan yang -untuk ukuran jaman itu- termasuk cukup besar dan megah. Namanya “Wisma Pandanaran”. Wisma ini dikelola oleh Dinas Pariwisata Kota Semarang dan biasa dipakai untuk Rapat-rapat Dinas dan Resepsi Pernikahan. Sayang Wisma inipun dianggap tidak cocok juga berada disekitar Simpang Lima, sehingga akhirnya malah diputuskan untuk dirobohkan!  Sekarang  lokasi bekas GOR Jawa Tengah dan Wisma Pandanaran yang ‘tergusur’ oleh Penguasa pada jaman itu sudah dibangun menjadi Pusat Perbelanjaan dan Hotel Bintang Lima. Generasi muda yang lahir di Semarang sesudah tahun 1984, dapat dipastikan tak akan tahu, benda apakah yang bernama GOR Jawa Tengah dan Wisma Pandanaran itu).



bersambung.....

"JADI AJUDAN MENDAGRI"




(dari draft buku: "Catatan seorang mantan Ajudan" oleh mastonie)
Tulisan bersambung (33)


     “Jij ikut saya ke Jakarta”.

    Pak Pardjo masih ngantor seperti biasa pada pagi harinya, hari Kamis, 17 Maret 1983. 
Beliau sekaligus menjadi IRUP pada Upacara Bendera 17an dihalaman Kantor Pemda Provinsi Jawa Tengah di Jalan Taman Menteri Soepeno. Kesempatan itu beliau pakai untuk memberikan amanat dan ucapan terima kasih atas dukungan segenap pejabat dan karyawan-karyawati Kantor Pemda Provinsi. Upacara diakhiri dengan pemberian ucapan selamat kepada calon Menteri Dalam Negeri yang pada saat itu masih menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah.  Sesudah itu saya sibuk memersiapkan keberangkatan Pak Pardjo beserta keluarga yang harus segera berangkat ke Jakarta untuk mengikuti Upacara Pengambilan Sumpah Jabatan Kabinet. 
Dalam perjalanan pulang kembali ke Puri Gedeh, sewaktu mobil melewati RS Mata “William Booth”, Pak Pardjo mendadak bertanya:
“Ton, jij punya keluarga di Jakarta?”
Inggih (ya) pak, Mertua saya tinggal didaerah Pasarminggu” jawab saya ragu-ragu. Terus terang saya tidak mengerti arah pertanyaan beliau.
“Kalau begitu setelah saya dilantik, jij ikut saya ke Jakarta”. Itu saja kalimat yang saya dengar dari Pak Pardjo. Sebenarnya saya masih belum ngeh dengan maksud kalimat Jij ikut saya ke Jakarta” yang dikatakan oleh Pak Pardjo. Tapi mau tidak mau saya jawab singkat saja: “Inggih Pak”. 
Soalnya dalam kalimat Pak Pardjo tadi juga tidak diawali dengan pertanyaan “mau atau tidak”. Sifatnya hanya seperti  ‘pemberitahuan’ saja. Tapi bernada setengah perintah, dengan tanpa minta pendapat atau persetujuan saya.
Keesokan paginya, Jum’at 18 Maret 1983, Bapak dan Ibu Soepardjo beserta putra-putranya bertolak ke Jakarta dengan pesawat Garuda. Saya tidak ikut karena turun dinas. Yang bertugas sebagai Ajudan Gubernur pada hari Jum’at ini adalah Pak Tris. Jadi Pak Trislah yang mengikuti Pak Pardjo sekeluarga ke Jakarta. Saya (bersama para Pejabat Pemda) hanya mengantar keberangkatan beliau sampai di Bandara Ahmad Yani saja. 

"Diperintahkan ikut ke Jakarta  sebagai Ajudan Mendagri.."
 
    Hari Senin 21 Maret 1983 Pak Gub (sekarang resmi merangkap jadi Mendagri) mengadakan rapat Staf dengan Pejabat teras Pemda. Situasinya memang terasa ‘tidak biasa’ karena kedudukan Pak Pardjo yang mau tidak mau harus merangkap jabatan. Sebagai Gubernur (karena masa jabatan Gubernur Jawa Tengah seharusnya baru berakhir pada tanggal 2 Juni 1985) dan sekaligus Mendagri (karena sudah dilantik pada tanggal 19 Maret 1983). Rapat itu diantaranya adalah untuk segera mengusulkan kepada DPRD Tingkat I Jawa Tengah untuk mengadakan penjaringan Bakal Calon Gubernur yang akan menggantikan Pak Pardjo. Tentu setelah Gubernur Soepardjo membuat surat pernyataan mengundurkan diri dari Jabatan. 
Yang unik adalah bahwa nantinya surat pernyataan pengunduran diri Gubernur Soepardjo Roestam akan diteruskan oleh DPRD untuk disetujui oleh Mendagri yang tak lain dan tak bukan adalah juga Pak Pardjo sendiri.
Siang hari setelah rapat selesai, Pak Wahyudi mendekati saya:
“Dik Tony, Pak Gub eh Pak Menteri sudah memberikan petunjuk kepada saya, bahwa Dik Tony diperintahkan untuk ikut ke Jakarta sebagai Ajudan Mendagri. Saya akan segera buatkan SK nya. Untuk sementara hanya Dik Tony lho yang akan dibawa Pak Pardjo. Selamat ya? Tapi nanti kalau sudah di Jakarta jangan lupa sama ‘orang daerah’”.
Demikian penjelasan Pak Wahyudi kepada saya. 
Sekarang saya baru menyadari arti kalimat Pak Pardjo “jij ikut saya ke Jakarta” dulu itu.
“Matur sembah nuwun sanget (terimaksih sekali) Pak” kata saya kepada Pak Wahyudi.
“Selama ini bapaklah yang telah membimbing dan meng’orbit’kan saya sebagai pegawai hingga jadi seperti ini” lanjut saya lagi.
“Ya nanti kalau di Jakarta ada lowongan pesuruh, saya juga siap diajak koq dik”. Seloroh Pak Wahyudi.
Saya betul-betul merasa berhutang budi pada Pak Wahyudi. Bayangan perjalanan karir saya sebagai pegawai negeri saling berkelebat. Bayangan pada saat saya menghadap beliau dan ditawari jadi pegawai, lalu kemarahan beliau ketika saya minta pindah kerja sampai perjuangan beliau untuk mengusulkan saya jadi ajudan Gubernur dan lain-lainnya. 
Siang hari itu saya termenung. Perasaan saya campur aduk antara terharu, senang, bangga sekaligus sedih karena harus meninggalkan teman-teman lama di Pemda yang selama hampir sembilan tahun jadi kawan senasib sepenanggungan.
Kini saya harus bersiap untuk ‘hijrah’ ke Ibukota, yang konon katanya lebih kejam dari ibu tiri itu. Tapi rupanya memang itulah ‘suratan tangan’ yang saya miliki. Mungkin seperti kata pepatah “Malang tak dapat ditolak, mujur tak bisa diraih” itu. Bagaimanapun saya harus siap menghadapi tugas baru yang harus saya pikul.
Kalau mau bicara sejujurnya, sebetulnya kan tidak beda-beda jauh tugas saya.
Lha wong saya juga tidak naik pangkat dan tetap saja jadi Ajudan gitu lho ya.
Bedanya kan hanya tipis saja, dulu Ajudan Gubernur, sekarang Ajudan Menteri.
Gaji juga pasti tidak berubah, sebab saya tetap PNS yang digaji dengan aturan PGPS yang berlaku dimanapun diseluruh bagian di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sama-sama kita cintai.
Ndak tahu ya, kalau di Depdagri nanti ada tambahan tunjangan jabatan dan honor ini itu. Kata orang yang namanya rejeki kan bisa datang dari mana saja yang tidak bisa kita duga sebelumnya.



bersambung.....