Sabtu, 14 Januari 2012

"KERANI"

Tulisan lepas:  

(kisah tentang -jabatan- Sekretaris abadi.....)


 Edited and released by mastonie on Saturday, January 14, 2012 at 9:25am

      Pernahkah anda mendengar atau mengenal kata ini?  
Kerani adalah padan kata dari carik,  juru tulis atau sekarang lebih populer disebut sebagai sekretaris.
Saya mengenal kata kerani  sejak masih duduk dibangku sekolah menengah. Yaitu sewaktu saya aktif dikegiatan kepramukaan.
Kata ini sangat membekas dibenak saya setidaknya karena dua hal:
Pertama, kata ini -waktu itu- terasa sangat asing ditelinga saya. Bahkan semula tidak saya mengerti artinya.
Saya baru ‘ngeh’ (maklum) makna katanya setelah aktif di Kepramukaan.  
Kedua, selama berkecimpung di kegiatan Pramuka itulah justru  saya selalu ditunjuk jadi kerani! Saya heran dan tidak mengerti mengapa selalu saya yang didaulat jadi kerani.

      Awal mula saya jadi kerani dimulai dari kepanitian persamiperkemahan sabtu minggu- ditingkat gugus depan. Kemudian ‘naik’ sampai kegiatan Penegak/Pandega ditingkat Kwartir Cabang bahkan kemudian sampai ke Kwartir Daerah.

Dalam forum pemilihan sebuah kepanitiaan/kepengurusan, biasanya secara aklamasi saya selalu dipilih jadi kerani. Sangat jarang sekali dipilih jadi Ketua ataupun Bendahara.
Entah mengapa. Mungkin saya memang tampak tidak ada 'potongan' jadi Ketua, -apalagi 'jahitan' saya- atau karena hal lain. Manapula terpilih jadi Bendahara, karena saya memang tidak pintar pegang uang.
Tapi harus saya akui bahwa dari 'sono'nya mungkin  saya memang mempunyai ‘aura’  untuk jadi seorang juru tulis bin klerk alias sekretaris -cia elah-
Soalnya pengalaman pribadi saya -yang selalu dipercaya menjadi kerani- menunjukkan hal tersebut.
Saya adalah pendatang baru -sebagai pramuka penegak - di gugus depan, ketika ada pemilihan kepanitiaan persami untuk persiapan LT (Lomba Tingkat).
Yang terpilih sebagai Ketua adalah seorang Penegak/Pandega senior yang memang sudah berpengalaman. Ketika tiba pada giliran pemilihan kerani, Kakak Pembina langsung menyodorkan nama saya, yang anehnya langsung disetujui secara aklamasi! Padahal saya belum punya pengalaman satu kalipun ikut dalam kegiatan persami.
Saya pikir ini pasti cuma sebuah uji coba bagi keberadaan  saya yang masih ‘pupuk bawang’  (pemula) di gugus depan.
Saya tidak tahu, apakah uji coba tersebut bisa saya lalui dengan baik atau tidak.
Kenyataannya kemudian saya selalu didaulat jadi kerani sampai ke tingkat Kwartir Cabang dan Daerah.


      Pada saat saya berhasil terpilih masuk menjadi anggota Paduan Suara milik sebuah Kodam di Jawa, pengalaman itu berulang.
Waktu itu Paduan Suara diminta oleh Kodam untuk membentuk sebuah kepengurusan sebagai layaknya organisasi. Saya adalah anggota Paduan Suara yang masih ‘kinyis-kinyis’  (masih sangat baru).
Terpilih sebagai Ketua dan Wakil Ketua adalah anggota paling senior. Yang dipilih untuk menjabat Bendahara tidak lain adalah istri sang Ketua.
Mereka  notabene adalah orang yang memang diserahi oleh Kodam untuk membentuk Paduan Suara tersebut. Ketiganya adalah jebolan Paduan Suara terkenal (milik Kodam juga)  di Yogyakarta.
Lalu tiba saatnya untuk memilih seorang Sekretaris.
Tanpa aba-aba seluruh peserta rapat pemilihan menyebut nama saya! Saya hanya terpana saja ketika (sekali lagi) saya terpilih secara aklamasi sebagai juru tulis alias carik alias kerani alias  sekretaris!
Darimana mereka tahu dan yakin kalau saya mampu jadi sekretaris, wong anggota lain yang lebih senior masih banyak? Saya malah terpilih menjadi sekretaris selama dua periode kepengurusan sampai tiba saatnya saya mengundurkan diri. Itupun karena saya harus pindah tugas keluar kota.
Itu tadi adalah pengalaman saya ketika masih jomblo.

      Pada waktu saya sudah berkeluarga pengalaman itu terulang lagi.
Saya tinggal disebuah komplek pemukiman yang baru saja dibangun oleh Perumnas. 
Perumnas mengeluarkan aturan bahwa setiap 10 kopel (rumah yang saling berhimpit dinding),  -berarti 20 rumah atau 20 KK-,  diharapkan membentuk kepengurusan RT sendiri.
Saya termasuk warga yang paling awal menempati rumah di komplek Perumnas  itu. 
Pada waktu pemilihan pengurus RT lagi-lagi saya didaulat oleh sesama warga yang juga sama-sama penghuni baru dan baru saling kenal, sebagai Sekretaris RT.
Dan seperti yang sudah sudah, saya selalu tidak bisa mengelak.
Yang mengherankan lagi, pada setiap kegiatan warga yang memerlukan pembentukan kepanitiaan (misalnya Agustusan), lagi-lagi sayalah yang ditunjuk jadi sekretaris.
Teman teman  sampai tega memberi julukan ‘sang sekretaris abadi’.
Weleh weleh, ya meski sebenarnya saya sudah jeleh (bosan) tapi toh tetap saja harus saya jalani. Bagaimanapun itu adalah sebuah amanah yang harus saya junjung tinggi.

     Begitulah, ‘sejarah’ hidup saya agaknya masih belum terhenti didaulat sebagai klerk,  kerani atau ‘pak Carik’.
Sepulang dari tanah suci tahun 2007. Beberapa teman berinisiatif mendirikan sebuah perkumpulan. Tujuannya untuk tetap menjaga tali silaturahim antar sesama jemaah sesudah kembali dari berhaji.
Diluar kebiasaan, beberapa teman mengusulkan nama saya sebagai Ketua. Hampir saja terjadi ‘kecelakaan’ penunjukan. Saya jelas menolak mentah-mentah. Pertama karena saya merasa kurang pengetahuan dalam ilmu agama. Yang kedua karena masih banyak jemaah lain yang lebih sepuh usianya dari saya. Bahkan juga lebih tinggi jabatannya dalam masyarakat.  Penolakan saya didukung mati-matian oleh istri saya. Tampaknya dia juga segan kalau suaminya dijadikan ketua. Semua jadi ribut saling adu argumentasi.
Akhirnya terjadi kesepakatan untuk kebaikan. Kalau pinjam istilah para politikus sekarang mungkin disebut win-win solution. Maka saya (lagi-lagi) ditunjuk menjadi Sekretaris saja.
Yang jadi pak Ketua adalah seorang Notaris yang sangat faham ilmu agama.
Mau tidak mau saya harus mau. Namanya juga kesepakatan. Apalagi saya merasa sudah tidak asing jadi seorang kerani atau sekretaris di perkumpulan apa saja.Tugasnya juga paling-paling sama saja.
Sampai saat ini (hampir 5 tahun lamanya) jabatan 'abadi'  itu masih saya pegang.

       Usia mungkin mengubah penampilan seseorang. Ya, siapa tahu.
Merasa senang menulis, tapi belum tersalur maksimal, saya memutuskan ikut Lokakarya Indonesia Menulis.

Didalam Lokakarya ini saya mengira akan jadi peserta paling uzur. Ternyata dugaan saya keliru. Masih ada dua atau tiga orang lain yang lebih tua usianya dari saya.
Namun ada kejutan. Justru diakhir acara panitia penyelenggara Lokakarya memilih Ketua Kelas secara mendadak.
Belum sempat saya unjuk suara mengusulkan teman yang tertua, mendadak sudah ada yang meneriakkan nama saya. Sontak seluruh peserta berteriak menyebut nama saya. Bengong karena kalah cepat dan tak menyangka, akhirnya saya terdaulat menjadi Ketua Kelas! 
Kali ini saya tak bisa mengelak lagi, karena tak ada jabatan Sekretaris Kelas.
Baru sekali ini saya terpilih jadi Ketua.
Barangkali karena penampilan saya sekarang memang sudah tampak ketua-an.....

Rabu, 11 Januari 2012

"TENTANG PESTA TAHUN BARU (M)"

Tulisan lepas:

"Apakah Tahun Baru harus  disambut dengan PESTA?"

(Sebuah opini atas dasar keprihatinan, sekaligus otokritik seorang anak bangsa)

 Pesta Kembang Api

 Released by mastonie on Tuesday, January 10, 2012 at 10:52am



Antara Desember ceria dan kelabu

Akhir bulan Desember  hampir selalu adalah musim hujan. Orang Jawa menyebutnya dengan istilah: ‘Desember....gede-gedene sumber”. Artinya bulan Desember mempunyai sumber air yang besar (dari hujan).

Menjelang habisnya sebuah tahun, dijalanan tampak mulai banyak penjual terompet kertas. Pemandangan ini nyaris terlihat disemua kota besar di Indonesia. Saya selalu memandang mereka dengan hati miris. Sebab kalau hujan tak juga mereda, harapan para penjual terompet untuk mendapatkan penghasillan semakin tipis. 
Itulah nasib rakyat kecil. Rakyat jelata. Para akar rumput.


Alih-alih mempertontonkan pemerataan, perayaan pergantian tahun selalu lebih menonjolkan kemewahan milik para ‘the haves’. Para konglomerat, pebisnis kaya raya, politisi, pejabat negara, koruptor, semua berlomba memesan tempat di hotel-hotel mewah. Mereka inilah yang barangkali dijaman Bung Karno dulu disebut sebagai Kapitalis Birokrat.
Mereka benar-benar mencoba membuat bulan Desember yang ceria.

 Perumahan kumuh di Jakarta
Sementara itu dipinggir rel kereta, bantaran sungai atau dibawah jembatan layang, kehidupan harus terus berjalan. Tak ada kecerian diwajah para penghuni gubuk-gubuk kumuh itu. Mereka mungkin malah sedang berpikir keras, bagaimana mencari makan untuk esok hari. Jangankan membeli terompet kertas, untuk membeli nasi buat mengganjal perut anak-anak saja mereka harus membanting tulang. Kerja keras seharian sebagai apa saja. Kuli, buruh bangunan, pemulung, penyapu jalan dan entah apa lagi.
Merekalah yang biasa disebut kaum papa, fakir miskin atau kaum duafa.
Bagi mereka bukan hanya Desember, setiap bulan bahkan selalu jadi bulan kelabu.

Jangan salah sangka. Kaum duafa  ini jumlahnya jauh lebih banyak dari mereka yang pesta dihotel mewah. Ditambah dengan mereka yang pergi ke tempat rekreasi umum sekalipun. Kaum duafa ini tak sempat berpikir tentang tahun baru, apalagi untuk merayakannya dengan gegap gempita.
Lalu kenapa masih ada juga yang tega bermewah-mewah disetiap pergantian tahun?
Kenyataannya,  itulah yang terjadi setiap tahun. Bahkan sudah seperti tradisi.

Memang, sesuatu yang “salah kaprah” (terlanjur sudah biasa dilakukan) biasanya susah meluruskannya.
Dibutuhkan tidak hanya niat. Tapi juga perubahan cara pandang dan pola pikir banyak orang.
Sesuatu yang nampak gemerlapan, tidak selamanya menggambarkan situasi atau keadaan yang sebenarnya. Dalam kosakata bahasa Jawa ada pepatah yang sangat pas: “Kencono katon wingko” (Emas tampak seperti puing) demikian juga sebaliknya, ”Wingko katon kencono”.


Munculnya peringatan hari besar Islam

Sejarah bangsa ini mencatat, bermacam ragam budaya, keyakinan, kepercayaan dan agama datang silih berganti. Jauh sebelum bumi Nusantara dijajah oleh bangsa asing. Namun agama yang tampak paling menonjol perkembangannya adalah Islam. Itu berkat perjuangan para wali yang sangat gigih menyebarkan agama Islam. Semua daya upaya dilakukan dengan merangkul budaya dan adat kebiasaan (animisme dll) yang sudah lama ada. Termasuk agama lain (Hindu dan Budha yang sudah lebih dulu eksis) akhirnya harus mengakui superioritas para Wali. Dan terbukti agama Islam mempunyai penganut terbesar di Indonesia sampai saat ini. (Lebih dari 87%, menurut data statistik BPS tahun 2010).

Sebenarnya Islam tidak mengajarkan adanya peringatan untuk hari–hari tertentu. Kecuali hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.
Namun para Wali (tentu dengan persetujuan penguasa/Raja) membuat peringatan untuk menyambut tahun baru 1 Muharam. Bahkan peringatan Maulid (hari lahir) Nabi Muhammad Saw. 
Padahal salah satu yang tidak dikenal (karena tak ada ajarannya) dalam agama Islam adalah peringatan Hari Ulang Tahun (Belanda: Jarig). Junjungan kita Nabi Muhammad Saw  tidak berkenan merayakan hari lahirnya. Apalagi seorang manusia biasa. Demikian pula dengan memperingati hari wafatnya seseorang yang biasa disebut dengan haul.
Tetapi Sultan Agung dan para Wali dahulu memutuskan membuat acara peringatan tahun baru 1 Muharam dan Maulid Nabi bukan tanpa alasan. Semuanya dilakukan dengan satu alasan: dakwah sekaligus menarik minat masyarakat untuk masuk agama Islam.
Diharapkan dengan peringatan itu masyarakat tertarik masuk agama Islam. Acara juga cukup diselenggarakan secara sederhana. Tidak berlebihan. Penuh dengan perlambang dan simbol keagamaan. Itu sebuah kiat saja ditengah masyarakat yang sangat heterogen. Walaupun mungkin tetap ada yang menamakannya sebagai bid’ah.
Sejak itulah diadakan peringatan menyambut tahun baru 1 Muharam (1 Suro) yang biasa dilakukan oleh keraton Yogya dan Solo. Peringatan dilakukan dengan kirab (perjalalanan keliling) ditengah malam sambil mengarak senjata pusaka yang akan disucikan tepat pada tanggal 1 Muharam. Tampak disini bahwa para Wali masih mau mengadopsi acara adat yang di'bungkus' dengan balutan ajaran agama (Islam). Semuanya demi mencegah resistensi (penolakan) masyarakat terhadap ajaran agama yang relatif masih baru,

(Peringatan tahun baru Islam 1 Muharam secara internasional juga baru dimulai sejak  sekitar tahun 1970-an. Awalnya dari ide pertemuan cendekiawan Islam di Amerika Serikat. Pada saat itu terjadi fenomena maraknya dakwah Islam. Masjid-masjid dipenuhi jemaah, dan para muslimah mulai berani tampil mengenakan jilbab. Sampai kemudian dikatakan sebagai kebangkitan Islam, Islamic Revival. Bahkan majalah Times pun memuat disampul depannya tulisan Islamic Revival.  Untuk lebih menggelorakan kebangkitan Islam, akhirnya disepakati perlunya peringatan tahun baru Islam 1 Muharam menyebar ke umat Muslim diseluruh penjuru dunia)

Demikian pula perayaan setiap tanggal 12 Rabi’ul awal (Maulud) memperingati hari lahir Nabi Muhammad Saw.  Perayaan di bulan Maulud (Maulid, Milad) itu disebut dengan “Sekaten” (konon berasal dari kata ‘syahadatain’ = dua kalimat syahadat). Sekaten biasa dimulai dengan membawa dua perangkat gamelan dan beberapa ‘Gunungan’ dari dalam Keraton. Benda-benda itu diarak dihadapan khalayak ramai yang biasanya sudah menunggu di alun-alun (lapangan luas didepan keraton). Dua perangkat gamelan akan dikembalikan ketempat masing-masing. Akan tetapi gunungan habis ‘dijarah’ rakyat yang akan ‘ngalap berkah’. Sebuah simbol pengharapan rakyat kecil kepada sang penguasa.

Bumi Nusantara terjajah semua berubah

Setelah bumi Nusantara menjadi negeri jajahan negara Barat (Portugis, Inggris dan Belanda), maka pengaruh negeri barat itu juga sangat terasakan. Agama yang mereka bawa (Nasrani) memang tidak cukup kuat menggeser keyakinan sebagian besar masyarakat. Akan tetapi pengaruh budaya barat yang turut dibawa ternyata sangat dalam membekas.
Bagaimana tidak? Bumi Nusantara berada dalam genggaman penjajah Belanda nyaris tiga setengah abad lamanya.

Salah satunya adalah pemakaian kalender Masehi untuk menggantikan kalender Jawa atau Islam. Seluruh kegiatan pemerintah dan rakyat Hindia Belanda harus memakai penanggalan (kalender) Gregorian/Masehi.
Memang kalender inilah yang akhirnya menjadi kalender internasional.
Walaupun almanak Jawa dan kalender Islam masih juga dipakai oleh golongan tertentu, tapi sehari-hari kalender yang dipakai adalah kalender Masehi.
Jangan heran apabila saat ini anda hanya mengenal hari ulang tahun anda dengan tanggal Masehi, bukan tanggal Jawa atau Islam. Sudah banyak pula orang Jawa yang tak tahu weton (neptu hari) nya sendiri. Penentuan hari pernikahanpun memakai kalender Masehi. Karena kalender berbasis surya itu  ditetapkan pula menjadi kalender nasional. Otomatis demikian pula dengan perayaan hari besar semua agama yang diakui pemerintah.

Salah satu hari yang dirayakan secara besar-besaran selain hari kelahiran Nabi Isa (disebut sebagai hari Natal) adalah hari pergantian tahun Masehi.
Orang ‘barat’ memang terbiasa merayakan kedua hari  besar itu dalam satu paket. Mungkin karena waktunya sangat berdekatan. Didukung pula dengan datangnya musim dingin dan cuti akhir tahun. Kalau Natal dirayakan dalam suasana penuh nuansa keagamaan, maka pergantian tahun dirayakan dalam suasana pesta besar.
Bahkan nyaris berupa pesta masal yang penuh hura-hura.

Diakui atau tidak, globalisasi telah menyebar keseluruh penjuru dunia. Demikian pula dengan ‘neolib’. 
Faham neo liberalisme yang dibantah mati-matian oleh penguasa ini jelas telah merambah luas di Indonesia. Terutama dalam hal budaya berbelanja.
Budaya berbelanja ini sangat ditentukan oleh para kapitalis. Mungkin dari segi politik dan ekonomi ada yang menolak karena hal tersebut merupakan ancaman nyata terhadap perekonomian atau politik. Tetapi dari segi budaya, penyusupan ‘gemar belanja’ ini bersifat halus, tak terasa. Susahnya lagi, juga tak mudah diidentifikasi.
Oleh sebab itu mendapat resistensi (penampikan) paling kecil dari masyarakat luas.

‘Budaya’ itu pula yang tampaknya menyebabkan kaum borjuis dan elite negeri ini selalu gila pesta mewah dalam menyambut pergantian tahun.
Sesungguhnya golongan menengah kebawah tertular juga ‘virus’ itu. Namun karena situasi dan kondisi ekonomi, mereka cukup membeli terompet kertas dan merayakannya dirumah. Atau pergi ketempat rekreasi dan tempat umum lain yang menyuguhkan aneka atraksi. Ada yang gratis ada yang berbayar. Tapi biasanya cukup terjangkau oleh rakyat kebanyakan.
Itulah dampak langsung maupun tak langsung dari neo liberalisme tadi.
Mereka berlindung pada alasan: kebiasaan, jaga gengsi dan yang lebih parah, tebar pesona.  Orang sugih mblegedhu seperti tak tahu lagi kemana menghamburkan uang yang berlimpah dikantongnya. Semua terpukau pada gemerlapnya pesta ‘old and new’ dengan suguhan hiburan artis ternama.
Sayang sekali, ‘hura-hura’ mubazir itu dibantu dengan gencarnya iklan dimedia masa.

Para pejabat dan orang kaya berpesta didalam gedung atau hotel mewah. Rakyat jelata cukup dihibur dan diajak berpesta ditempat terbuka. Disinilah terompet kertas dan terompet beneran dibunyikan. Udara meledak dalam semburan aneka kembang api. Aroma petasan tercium dimana-mana. Suaranya seolah memecahkan gendang telinga. Mirip arena pertempuran, minus suara bom. Sepanjang malam suasananya memang sangat meriah.
Rakyat yang ikut merayakan seakan terbius dan lupa keadaan kesehariannya yang terlunta-lunta. Sedangkan rakyat yang lain tak punya modal dan kesempatan ikut merayakannya. Mereka hanya pasrah semalaman terganggu suara yang memekakkan telinga. Sementara anak-anaknya menangis merengek tak bisa ikut meniup terompet.

Kebiasaan ini terbawa nyaris sepanjang sejarah bumi Nusantara dicengkeram penjajah. Apalagi ketika Indonesia merdeka banyak pemimpin dan penguasa yang memperoleh pendidikan dinegara barat. Mereka juga terbiasa menjalankan pesta rutin setahun sekali itu. Walau mereka mengaku sebagai seorang muslim sekalipun (meski tak semuanya).

Sejatinya ajaran Islam mengutamakan manfaat daripada mudarat.
Itulah seharusnya yang menjadi pegangan orang yang beriman. Kalau para Wali dan Raja pada jaman dahulu menyelenggarakan peringatan pergantian tahun Islam (sekaligus tahun Jawa), itu dalam rangka menarik minat masyarakat masuk agama Islam. Jelas lebih banyak diperoleh manfaat daripada mudaratnya. Juga untuk perayaan hari besar Islam lainnya.
Itupun bagi ulama yang kukuh berpegang pada ajaran Islam murni, tetap saja dinilai sebagai sesuatu yang bid’ah. Apalagi kalau merayakan tahun baru yang bukan merupakan tahun baru (orang) Islam. Dinegeri yang 85% lebih penduduknya menganut agama Islam, pesta seperti itu sungguh bukan perbuatan yang dianjurkan.

Ini sekedar ilustrasi. Akhir tahun 2007 saya kebetulan sedang menunaikan ibadah haji ditanah suci. Tepat pada tanggal 31 Desember tengah malam, saya mengikuti tausiah dipenginapan dikota Madinah. Semua jemaah haji dikota Madinah tak merasakan adanya nuansa pergantian tahun. Saluran televisi kabel dihotel tetap menyiarkan langsung perayaan pergantian tahun diseluruh dunia. Tapi  di tanah suci Arab hal itu tak tampak gaungnya. Penduduk setempat ‘adem ayem’ saja. Mereka justru heran kalau ada orang (non Arab) yang mengucapkan ‘selamat tahun baru’ kepada orang lain. Jemaah haji Indonesia ternyata juga tidak ada yang merayakan pergantian tahun internasional itu. Begitupun dengan jemaah haji dari negara-negara lain. Sayang saya tak punya pengalaman menikmati pergantian tahun baru Hijriyah ditanah suci.

Menyaksikan pertunjukan musik, makan besar ditengah malam,  membakar petasan dan kembang api, tampaknya wajar saja. Tapi hal itu bukanlah sesuatu yang bijaksana dilakukan. Sementara banyak anggota masyarakat lain yang hidupnya masih menderita. Semua itu pada hakekatnya hanya membuang-buang dan membakar uang. Mengapa uang yang begitu banyak jumlahnya (bisa mencapai puluhan milyar rupiah) tidak untuk membantu saudara kita kaum dhuafa
Kenapa tidak untuk membantu pendidikan anak-anak jalanan dan gelandangan?


Kegembiraan menghadapi tahun baru  dengan berpesta pora itu sebenarnya adalah sebuah kesenangan semu. Bak menari-nari dihadapan tetangga yang sedang kelaparan. Apakah yang mereka dapatkan dari ‘hura-hura’ menjelang pergantian tahun itu?
Apakah mereka mengerti apa yang mereka lakukan, kecuali mengumbar syahwat memburu kesenangan?
Sebab makna hakiki tentang peringatan tahun baru itu sendiri tak banyak orang yang tahu. Tidak juga para penguasa dan pemimpin yang ikut pesta pora  itu. Kecuali satu hal: merekalah sesungguhnya korban neo liberalisme yang selalu mereka sanggah sendiri keberadaannya.

Lalu mengapa tak ada satupun pemimpin muslim yang tergugah hatinya untuk menyerukan ”amar ma’ruf nahi munkar”?
Disebutkan dalam salah satu hadits: “jika engkau tak berdaya memerangi kemungkaran dengan tanganmu, maka cukup ucapkan dengan lisanmu saja”.
Sayang sayapun hanya mempunyai daya dengan sebuah opini berbentuk tulisan.

Seperti uraian saya diawal tulisan, sangat susah meluruskan sesuatu yang sudah ‘salah kaprah’.
Apalagi salah kaprah itu sudah berjalan nyaris ratusan tahun alias berabad-abad. Ditambah dengan datangnya jaman globalisasi dan faham neolib. Lengkap sudah. Selama ini juga tampaknya tidak ada yang keberatan.
Tapi betapapun keadaannya dan dengan dalih apapun, kebenaran harus selalu dikemukakan. Walau hanya dengan satu ayat. Dan selain keberanian juga butuh waktu. Tidak pendek,  pasti. Karena dibutuhkan niat dan tekad yang sangat kuat. Juga harus mengubah kebiasaan, faham, sudut pandang dan pola pikir banyak orang.

Tak ada sesuatu yang tak mungkin bukan?
Jika Allah berkenan membuka jalan, tak ada sesuatu apapun yang sulit bagiNya.

Insya Allah.

Jumat, 06 Januari 2012

"TENTANG (AGAMA) ISLAM DI INDONESIA" ( 2 )

Tulisan bersambung: (Bagian Kedua, selesai)

Apakah umat Islam (masih) terbanyak (jumlahnya) di Indonesia? 

 Pengajian Majelis Taklim

Kita juga maklum para pengkhotbah (ada yang menyebut dengan penginjil) lebih banyak memberi daripada meminta. Karena mereka memang mempunyai dukungan dana sangat kuat. Termasuk bantuan keuangan dari luar negeri. Baik yang secara terang-terangan ataupun yang (lebih banyak) tersembunyi.
Betapa kuat atau besarnya dukungan dana bisa terlihat dalam contoh berikut:
Untuk sebuah pertemuan kecil dihari Minggu (Zondag school, sekolah Minggu) misalnya, mereka sanggup memberikan bermacam barang yang menarik. Terutama bagi anak-anak, generasi muda dan manula.
Bagaimana dengan para ulama kita? Apakah di TPA (Tempat Pendidikan Agama) yang ada dia kampung-kampung, atau tempat belajar mengaji yang lain bisa meniru hal tersebut?
Jawabannya hampir pasti: TIDAK. Bahkan banyak TPA yang muridnya harus membayar. Karena apa? Ya karena pendakwah kita tak punya cukup dana untuk bisa ber’promosi’ dengan gaya para penginjil, pendeta, pastur atau misionaris itu.
Ada ceritera kurang mengenakkan yang berasal dari beberapa pengurus yayasan ataupun ormas yang berlandaskan agama Islam. Konon apabila mereka mendapat bantuan dana dari luar negeri, maka dana ini akan diusut oleh pihak berwajib. Alasannya? Dikhawatirkan dana tersebut akan dipakai untuk kegiatan mendukung terorisme. Sebuah indikasi bahwa di Indonesia terorisme masih selalu diidentikkan dengan (orang) Islam.
Sedangkan dana yang mengalir dari luar negeri untuk agama non Islam seolah tak terdeteksi.
Ini jelas perlakuan tidak adil yang dilakukan oleh pihak berwenang.

      Faktor kedua: pelayanan. Tentang kata “pelayanan” ini marilah kita iri pada para pengkhotbah dan penginjil. Mereka secara nyata menyebut dirinya sebagai pelayan atau gembala umat. Mereka betul-betul menempatkan diri sebagai orang yang melayani, bukan sebaliknya.
Mereka jadi penggembala dalam arti kiasan dan sesungguhnya. Terbukti mereka siap menuntun dan menunjukkan jalan sehingga umatnya tidak salah arah.
Para Pendeta atau Pastur tahu dengan persis jumlah jemaat yang ada di ‘wilayah gembala’nya. Mereka juga tahu siapa anggota jemaat paling miskin dan paling kaya diantaranya, sehingga bisa mengatur pemberian bantuan.
Begitu seriusnya mereka melayani. Apabila ada anggota jemaat mereka yang sakit, mereka selalu akan datang berkunjung kerumah atau kerumah sakit. Walaupun hanya untuk berdoa bersama bagi kesembuhannya. Secara psikologis, perhatian yang diberikan itu bisa sangat membantu kesembuhan orang yang sedang sakit.

Nah, tentang hal ini, apakah para alim ulama Islam berkenan untuk introspeksi?
Ada berapa banyak pemimpin majelis taklim sebuah masjid yang TAHU berapa jumlah jemaah yang tergabung didalam majelisnya?  Mengapa saya pilih seorang pemimpin majelis taklim? Karena biasanya seorang pemimpin majelis taklim dianggap sebagai seorang Kiai, tokoh panutan, Ustad alias guru agama, bahkan da’i sekaligus!
Tahukah pak Kiai siapa anggota majelisnya yang kaya sehingga bisa diminta sedekah atau infaknya?
Tahukah ia siapa anggota yang termasuk fakir miskin dan hidup kekurangan sehingga perlu diberi sedekah?
Walau tidak semua, yang justru sering kita jumpai adalah sikap acuh tak acuh dari para pimpinan majelis taklim.
Yang penting pengajian dan dakwah dimasjidnya berjalan lancar. Itu saja.
Kadang bahkan (mohon maaf beribu maaf) ada oknum pengurus majelis taklim yang malah menggantungkan hidupnya dari ‘penghasilan’ masjid. Dimana uang yang didapat (justru) dari sumbangan para jemaah.
Meskipun hal ini juga terjadi pada beberapa pendeta (Kristen) yang juga digaji dari hasil donatur umatnya.
Kalau ada jemaah majelis yang sakit atau tertimpa musibah, apakah pak Kiai dan para anggota majelis taklim berkenan menengoknya? Atau (setidaknya) membacakan doa bagi kesembuhannya atau bahkan memberikan sekedar bantuan?
Hal-hal kecil yang tampak remeh dan  sederhana seperti itu mempunyai dampak psikologis yang sangat besar bagi umat atau jemaahnya.
Ia merasa dilindungi dan diperhatikan. Ini bisa mempertebal iman.
Oleh karena itu jangan heran kalau kemudian muncul Kiai yang berani mengaku sebagai Nabi atau Rasul baru. Tidak lain karena mereka secara finansial cukup kaya dan mau memberi bantuan kepada umatnya yang membutuhkan. Lalu umat yang merasa kebutuhannya tercukupi dan merasa terlindungi kemudian memuja pak Kiai seperti seorang Rasul atau Nabi.
Intinya sederhana saja. Pelayanan yang dituntut oleh umat sebenarnya bukan hanya pelayanan rohani dan jasmani saja, tapi juga (kalau bisa) pelayanan ‘moril dan materiil’.
Secara umum gambaran tentang kekurangan dana yang selalu menimpa umat Islam sebetulnya mudah diatasi. Dengan catatan apabila ajaran agama Islam dipatuhi secara konsekwen. Disamping zakat yang memang salah satu rukun Islam, ajaran yang menyatakan bahwa 2,5 %  dari pendapatan adalah hak kaum duafa, adalah sunatullah. Keduanya merupakan kewajiban bagi semua pemeluk agama Islam, utamanya bagi mereka yang berlebih hartanya. Apabila kedua ajaran agama tersebut dijalankan dengan baik dan benar, Insya Allah tak ada kesulitan menggalang dana.

    Faktor ketiga: penampilan atau penyajian. Kalau diibaratkan sebuah toko, maka ‘showroom’ dan lay out tokonya harus bisa menarik pelanggan.
Bukankah ada pepatah “cinta itu datang dari mata turun kehati”. Itu menyangkut penampilan.
Para Ustad  dan da’i diharapkan untuk tampil modis, agar menarik minat jemaah untuk melihat dan mendengar tausiahnya. Para da’i muda kelihatannya sudah faham trik itu.
Mereka selalu tampil dengan busana muslim yang sangat menarik.
Lalu bagaimana dengan penyajian? Sejauh ini apakah para ulama Islam sudah merasa yakin bahwa Islam secara teori dan praktek sudah disajikan secara “baik dan benar”? Apakah Islam dinegeri yang mengakui beragam agama dan keyakinan ini sudah disajikan dengan mengikuti arus perkembangan jaman? Sebab penyajian yang ‘itu-itu’ saja akan membosankan umat. Padahal  kita tahu bahwa sejak jaman Rasulullah SAW hingga saat ini, jaman sudah berubah entah berapa ratus derajad.
Saya berpendapat Rasulullah Saw tidak akan berkeberatan dengan sajian Islam yang mengikuti perkembangan jaman. Kemajuan teknologi informasi bisa mendukung hal ini.
Misalnya dakwah yang menggunakan layar proyeksi dengan sound system yang modern. Atau dakwah melalui siaran media elektronika (televisi) yang dikemas menjadi tontonan yang menghibur. Jangan sampai kalah dengan siaran sinetron 'kacangan' yang justru mewabah.
Pengajaran materi agama (termasuk belajar membaca kitab suci Al-Qur’an) dengan sistem audio visual yang bagus biasanya lebih menarik minat para jemaah.
Pengajian pun mungkin bisa diselenggarakan secara lebih modern. Misalnya dikemas bersama dengan pentas seni yang tidak berlawanan dengan ajaran agama.
Semua itu dengan tujuan menarik minat, yang bisa mendatangkan lebih banyak jemaah.

Seperti ayat yang saya kutip diawal tulisan ini, Allah SWT sendiri telah menjamin bahwa agama disisiNya adalah Islam. Dan bahwa (agama) Islam adalah “rohmatan lil alamin”, agama yang merupakan rahmat bagi segenap (penghuni) alam semesta.

Teror bom mobil
Nah, saat ini bukan hanya di Indonesia, bahkan negara-negara lain didunia banyak yang menyangsikan bahwa Islam adalah rahmat bagi alam semesta. Tentu berkaitan dengan tuduhan terorisme yang selalu dikaitkan dengan (agama) Islam. Walaupun sesungguhnya siapa yang dikategorikan sebagai teroris itu juga bisa diperdebatkan. Tergantung dari sudut pandang mana kita berpijak. Mengapa hanya Islam (dan negara Islam) yang selalu dikaitkan dengan “teror”? Kenapa bukan Israel atau Amerika Serikat yang jelas sering sekali ikut campur tangan urusan negara lain? Isu tentang terorisme itu memang sengaja ditiupkan oleh kedua negara  Adikuasa itu dibantu oleh negara-negara sekutu (antek?) nya.
Memang benar, para teroris (seperti yang dituduhkan oleh AS dan Israel)  mengaku menjalankan  misinya sebagai perwujudan dari ajaran agama Islam. Namun sesungguhnya itu adalah pernyataan yang tidak selalu benar. Bahkan lebih banyak merusak citra atau penampilan Islam dimata umat maupun masyarakat non muslim lainnya.
Dan memang itulah sebenarnya tujuan utamanya: mencegah Islam berkembang luas, maju dan menguasai dunia.
Teroris versi Amerika
Sejatinya itulah hal paling mengganggu yang perlu dibetulkan. Setidaknya dikembalikan secara proporsional sesuai akidah agama Islam yang murni dan sebenar-benarnya. Maklum kadangkala umat Islam sendiri justru sangat susah bersatu. Contoh paling aktual adalah antara Irak dan Iran, dua negara Islam yang tidak pernah akur.  Hanya gara-gara kedua negara menganut Islam dengan mazhab yang berbeda. Di Indonesia pun aliran Sunni (Ahklus sunnah wal jama’ah) dan Syi’ah tidak pernah akur, apalagi dengan mazhab baru yang menyebut dirinya Ahmadiyah.
Harus kita akui pula bahwa yang dituduh sebagai teroris di Indonesia ternyata adalah pengikut Islam garis keras (radikal).
Mereka konon rata-rata belajar ‘terorisme’ dari pakarnya di Afghanistan.

Jadi apa yang perlu dilakukan?
Sekaranglah  saatnya para ulama dan da’i (khususnya di Indonesia) harus bertindak.
Kini waktunya mengembalikan citra (agama) Islam kepenampilan aslinya: Islam sebagai agama yang penuh rahmat. Islam sebagai agama terbaik disisi Allah dan agama yang tak pernah ketinggalan jaman. Selama jaman yang dimaksud bisa dijaga agar tidak melenceng dari ajaran agama Islam.
Agama (apa saja) memang harus bisa beradaptasi dengan lingkungan dan jaman.

Jurus adaptasi itulah  yang dahulu kala dipraktekkan para wali yang tenar dengan nama “Wali Songo”. Mereka tidak segan meleburkan ajaran Islam kedalam adat istiadat masyarakat yang sudah lebih dahulu ada (animisme, agama Hindu dan Budha).  Contohnya wayang kulit yang dipakai sebagai dakwah. Kisah wayang adalah gabungan dari berbagai macam pengaruh/aliran agama. Maksudnya jelas, agar mereka mudah menyebarkan agama Islam di seluruh tanah Jawa. Sesudah itu tentu mudah pula merambah kesegenap penjuru Nusantara.

Jejak para Wali itulah yang perlu kita teladani dalam menyebarkan Islam dijaman globalisasi ini.
Intinya adalah, (agama) Islam harus disajikan dalam ‘kemasan’ atau penampilan yang menarik. Islam harus disajikan dengan kandungan atau isi yang relevan atau sejalan dengan kemajuan jaman. Selama ini masih beredar anggapan bahwa Islam adalah agama yang ‘ortodoks’.
Dan yang penting, (agama) Islam harus ditampilkan dengan cara yang lebih memikat lagi.
Para Ulama Islam harus bisa memberikan keyakinan pada umatnya bahwa Islam adalah agama bagi semua. Agama yang tak lekang oleh kemajuan jaman. Agama yang ajarannya tidak kuno dan ‘kolot’. Agama yang menjamin kebahagiaan dunia akhirat dan berlaku secara universal.
Itulah ketiga faktor yang menurut nalar saya yang cupet, bisa menaikkan ‘daya saing’ dan ‘daya tawar’ (bargaining power) cukup tinggi.
Sehingga apabila diibaratkan dengan toko, maka “toko kita” tidak akan kalah bersaing dengan “toko sebelah”.
Dalam ajang pertandingan olahraga sering ada pemeo: ”Mempertahankan kemenangan lebih susah daripada saat merebut kemenangan”. Memang benar, mungkin karena umat Islam merasa dirinya sudah “besar”, maka menjadi lengah. Sehingga ‘kebesaran’ nyapun bisa jadi sebagian direbut oleh ‘orang lain’.

Maka saudaraku seiman, sebangsa dan setanah air, inilah saatnya para da’i dan ulama untuk membuktikannya.
Membuktikan bahwa Islam adalah agama terbaik disisi Allah SWT. Bahwa Islam adalah agama yang penuh rahmat bagi alam semesta. Sehingga kita bisa melihat Islam berjaya kembali di negeri tercinta ini, baik secara statistik maupun fakta apa adanya.
Mari kita buktikan bahwa umat Islam (masih)  terbanyak (jumlahnya) di Indonesia.
Bahwa umat Islam  di Indonesia juga terus tumbuh berkembang seiring dengan tumbuh berkembangnya penduduk  Indonesia.

Amin ya Robbal ‘alamin.

Kamis, 05 Januari 2012

"TENTANG (AGAMA) ISLAM DI INDONESIA" ( 1 )

Tulisan bersambung: (Bagian pertama)


Apakah umat Islam (masih) terbanyak (jumlahnya) di Indonesia? 


 Tawaf di Baitullah


(Sebelum meneruskan membaca tulisan ini, ada baiknya saya ingatkan. Tulisan ini hanya sebuah opini. Bukan kajian ilmiah seorang yang sangat faham tentang agama. Ini adalah pendapat pribadi seorang awam, yang risau melihat perkembangan agama yang dicintainya. Tidak lebih, mungkin malah banyak yang kurang. Itu saja. Semoga tidak membuat pembaca salah faham)

“Innad diina ‘indallaahil islaamu…………”  (Surah Ali Imran, QS. 3 : 19)
(Sesungguhnya agama disisi Allah -hanyalah- Islam…….) 

Itulah ayat Al-Qur’an yang paling berkesan buat saya. Ayat itu disampaikan oleh Pak guru agama sewaktu saya masih duduk dibangku sekolah rakyat (SR, kini SD).
Sebagai anak ingusan (usia sekitar 6-7 tahun), ayat tersebut seperti menghipnotis diri saya.
Sejak saat itu saya mantap mengaku sebagai “orang (yang beragama) Islam”.

Harap maklum, saya berasal dari percampuran dua keluarga besar yang berbeda latar belakangnya. Meskipun masih satu suku: Jawa asli. Dari fihak ayah mengalir darah feodal, sedangkan dari fihak ibu mengalir darah santri. Percampuran dua latar belakang itu membuat saya masuk dalam lingkungan yang biasa disebut sebagai “Islam Abangan”.

(‘Priyayi’, ‘Islam Abangan’ dan ‘Santri’ itu adalah istilah yang dipakai oleh Clifford Geertz dalam bukunya “The Religion of Java”, yang diterbitkan oleh The Free Press of Glencoe, London, 1960).  

Saya juga masih ingat bahwa pada saat itu Pak Guru Agama selalu membanggakan umat Islam yang merupakan pemeluk agama mayoritas di Indonesia. Katanya pemeluk agama Islam di Indonesia berjumlah hampir lebih dari 90 (sembilanpuluh) persen dari seluruh penduduk warganegara Indonesia. Harap maklum, itu adalah data pada tahun 1960-an.  Terus terang (meski tidak tahu persis kebenaran data itu) saya sangat bangga mendengar cerita tersebut. Oleh sebab itu saya juga sangat bangga menjadi “orang (yang beragama) Islam”.

     Tahun demi tahun berganti. Indonesia tumbuh berkembang menjadi sebuah Negara dengan jumlah penduduk yang juga semakin ‘membengkak’. Saya tetap bangga kalau melihat jumlah jemaah haji Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Kuota jemaah haji selalu terlewati. Konon calon jemaah haji Indonesia dikota manapun sampai harus menunggu beberapa tahun agar bisa berangkat ketanah suci. Belum lagi yang berangkat Umroh tiap tahun berjubel.
Namun dari tahun ketahun hati saya juga selalu risau.
Menurut BPS, pada akhir tahun 2010,  konon penduduk Indonesia sudah lebih dari 230 juta orang. Tepatnya mencapai 237.641.326 orang.
Apakah jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia juga ikut ‘membengkak’? Tampaknya belum tentu.
Jangan gusar dulu. Ini semata-mata kalau dilihat dari persentase secara statistik.
Dimasa lalu, Indonesia pernah tercatat mempunyai lebih dari  90% warganegara yang menganut agama Islam. Berarti warganegara yang memeluk agama selain Islam hanya sekitar 10% saja.
Tapi sekarang, menurut data statistik BPS (akhir 2010),  jumlah pemeluk agama Islam menjadi sekitar 87.18 % persen. Tampak persentasenya turun lebih kurang 3 persen. Dengan demikian pemeluk agama selain Islam (tentu saja) naik sekitar 3 persen juga. Adapun perincian persentase tiap agama yang diakui pemerintah Indonesia (selain Islam) adalah, Kristen (6.96%), Katolik (2.9%), Hindu (1.69%) Budha (0.72%), Kong Hu Cu (0.05%), Lain-lain (0.13%).
Walau hanya kurang lebih 3%, tapi tetap saja itu berarti penurunan persentase.
Apakah ditahun-tahun yang akan datang bisa kembali naik atau bahkan lebih turun lagi?
Tabligh Akbar
Apakah artinya popularitas agama Islam di Indonesia juga menurun? Juga belum tentu.
Perlu kajian lebih mendalam untuk menentukan turun naiknya popularitas. Sebab banyak sekali indikatornya.
Sejauh ini, popularitas agama tidak berbanding lurus dengan populasi penduduk.
Akan tetapi memang banyak faktor yang bisa mempengaruhi penurunan itu. Diantaranya adalah perbandingan antara umat Islam yang ‘pindah agama’ (murtadin) dan pemeluk agama Islam yang baru masuk (mualaf). Menurunnya popularitas juga bisa terjadi karena faktor teknologi informasi yang berkembang sangat pesat.
Umat Islam yang belum teguh imannya dipaksa untuk menyaksikan tayangan-tayangan yang datang dari mana saja (karena adanya antena parabola dan TV kabel). Bahkan setiap hari dicekoki  tayangan berbau propaganda agama (selain Islam). Tayangan terselubung begini biasanya susah sekali disaring. Maklum jaman globalisasi.

Sebagai orang awam dan bukan ahli agama (dan dengan demikian maka sungguh dangkal pemahaman saya mengenai agama), saya lalu berpikir:
Daripada menyalahkan pihak lain, mengapa kita (umat Islam) tidak mawas diri saja?
Apakah mungkin  ada yang salah dalam konsep teori maupun praktek ‘penyebaran’ agama Islam di negeri kita tercinta, Indonesia?
Saya mencoba mencermati dengan kepala dingin dan pikiran sejernih yang saya mampu. Namun tentu saja dengan memakai logika serta analogi orang yang sangat awam terhadap agama.

Begini, kita ambil contoh dengan analogi yang juga sangat sederhana saja:
Ada dua buah toko yang terletak dalam satu lokasi yang sama. Sebut saja toko A dan toko B. Kedua toko menjual komoditi atau barang dagangan yang nyaris sama. Kalau toko A omzetnya terus naik sedangkan toko B omzetnya statis atau cenderung menurun, maka pasti ada yang salah dengan ‘manajemen’ toko B. Betul?
Kalau analogi itu tidak keliru, maka kita bisa menarik kesimpulan tentang bagaimana hal itu bisa terjadi.

Menurut hemat saya, “turunnya omset toko”  itu mencakup 3 (tiga) faktor utama:

    Faktor pertama: dana dan promosi. Ini hal yang sangat erat berkaitan. Untuk dapat berpromosi tentu dibutuhkan ‘dana’ atau biaya, disamping juga harus menguasai cara atau kiat berpromosi.

Yang akan saya uraikan dibawah ini adalah penggalangan dana DILUAR yang telah dilakukan oleh Ormas-ormas dan Partai-partai Politik berbasis Islam di Indonesia. Karena banyak Ormas dan Partai Politik Islam yang sudah sejak berdiri mempunyai sumber pendapatan sendiri. Sumber dana tersebut berasal dari hasil usaha maupun dari iuran anggota serta sumbangan atau infaq dari pihak ketiga.
Ada beberapa Ormas dan Parpol Islam yang mempunyai Lembaga Pendidikan dari tingkat TK sampai Universitas. Lembaga Pendidikan ini dikelola dengan sangat profesional. Ada beberapa yang mempunyai nama sangat terkenal sebagai lembaga pendidikan terbaik. Bahkan ada yang mempunyai Rumah Sakit dan Badan Usaha serta Yayasan atau Panti Asuhan Yatim piatu,  yang tersebar hampir diseluruh wilayah Indonesia. Akan tetapi sebagai ormas atau Parpol, tentu dananya sebagian besar diperuntukkan bagi warga atau anggota masing-masing.
Selain Ormas dan Parpol, harus kita akui bahwa dalam menggalang dana, umat Islam Indonesia (walau faktanya mempunyai jumlah terbanyak) selalu ketinggalan dari umat lain (non muslim, terutama nasrani).
Baik dari segi mutu (kualitas) maupun dari segi jumlah (kuantitas).

Setahu saya, sejak dahulu kala penggalangan dana umat Islam di Indonesia selalu dilakukan dengan cara tradisional. Baru akhir-akhir ini saja ada cara lain yang lebih modern dan terorganisir. Yaitu dengan adanya institusi semacam BAZIS (Badan Zakat dan Infaq Islam). Islam sesungguhnya telah mempunyai ajaran tentang penggalangan dana ini. Yaitu dengan pengumpulan zakat dan atau infaq.

Kita tahu bahwa zakat termasuk salah satu RUKUN Islam, yang seharusnya WAJIB dilaksanakan.
Tapi pada prakteknya zakat seolah menjadi hal yang suka rela.
Fakta membuktikan, bahwa pengumpulan zakat secara terkoordinir malah tidak berjalan baik.  Banyak orang Islam kaya raya yang lebih senang memberikan sedekah atau infaqnya secara langsung. Mereka seolah enggan menyerahkan lewat badan yang dibentuk oleh pemerintah. Entah karena mereka tidak yakin atau memang ada bibit suudzon.
Sesungguhnya kurangnya dana yang dialami banyak komunitas Islam tak perlu terjadi. Yaitu apabila Pemerintah lebih peduli, demikian juga dengan para ulamanya. Karena apabila dikelola dengan baik,  zakat akan bisa mengatasi semua kesulitan yang menyangkut dana.
Penduduk Indonesia yang beragama Islam jumlahnya 207.176.162 orang. Katakanlah 75% saja yang mau membayar zakat. Maka akan terkumpul dana yang tidak kecil nilai rupiahnya.

Namun cara tradisional tampaknya tetap menjadi andalan. Yang sangat sering kita jumpai adalah dengan mengedarkan kantong atau kotak atau kaleng di masjid, surau ataupun langgar. Biasanya dilakukan dalam acara ritual keagamaan. Terutama yang rutin adalah dalam penyelenggaraan sholat Jum’at, sholat Ied atau pengajian.
Terkadang kita jumpai pula penggalangan dana dengan cara menyodorkan kotak sumbangan di tengah jalan. Sebuah cara yang kadang membuat orang risau, bahkan jengkel. Maklum karena ‘aksi’ tersebut membuat kendaraan yang lalu lalang terpaksa harus mengurangi kecepatan.
Akibatnya seringkali menimbulkan kemacetan, kalau sedang jam sibuk.

Dan ‘aksi’ seperti itu tidak hanya terjadi pada saat menjelang hari besar keagamaan. Kebanyakan malah terjadi setiap ada yang akan mendirikan atau memperbaiki masjid atau mushola. Dengan tidak bermaksud mengurangi rasa hormat, saya simpulkan bahwa penggalangan dana model ini bisa disebut sebagai “TANGAN DIBAWAH”.
Padahal Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda bahwa “tangan diatas lebih mulia daripada tangan dibawah”.
Maksudnya jelas, bahwa memberi lebih mulia daripada meminta-minta.

Namun ada juga yang beranggapan bahwa lebih baik berbuat begitu (minta sumbangan ditepi jalan) daripada tidak berbuat apapun.  Yang berarti untuk membangun atau memperbaiki masjid, cara ‘tangan dibawah’ itu dianggap punya andil ‘membesarkan’ agama juga.
Secara jujur harus kita akui, bahwa agak susah menemukan cara penggalangan dana model ‘tangan dibawah’ itu pada para penganut agama lain (non Islam). Meskipun bukan berarti tidak ada. Beberapa daerah diluar Jawa yang merupakan ‘kantong’ pemeluk agama non Islam, ada juga yang melakukan pengumpulan dana seperti itu.
Tapi entah dengan cara apa dan bagaimana, mereka (yang non Islam) toh bisa melakukan dakwah secara agresif tapi efektif. Bahkan mampu mendirikan bangunan untuk tempat beribadah yang megah tanpa harus merepotkan para pengikut (umat) nya. Ternyata diketahui  bahwa memang banyak terjadi ‘dropping’ dana dari luar negeri. Dana ini khusus untuk penyebaran agama (non Islam) di Indonesia.

Itu tadi dilihat dari cara penggalangan dana.
Sekarang mari kita lihat dari cara ber”promosi”.
Promosi dalam bidang agama artinya dakwah. Itu berarti merupakan tanggung jawab para ulama (secara harfiah, ulama berarti “orang yang mempunyai ilmu”. Sedangkan yang biasa berdakwah disebut sebagai da’i).
Didaerah terpencil di Indonesia bagian timur, para da’i kita nyaris selalu ‘ketinggalan kereta’. Yaitu apabila dibandingkan para misionaris yang kaya logistik (bahkan kadang punya pesawat terbang).
Walaupun  (katanya) mereka bekerja secara ‘sukarela’. Tapi kehidupan para misionaris ini sehari-hari jelas lebih dari cukup.
Memang kita akui bahwa akhir-akhir ini banyak bermunculan da’i muda berpotensi yang sangat populer di media cetak maupun elektronik. Termasuk da’i bocah dan da’i remaja. Kita juga bangga bahwa media elektronik sekarang sudah banyak menayangkan program dakwah termasuk lomba untuk jadi da’i.
Tapi mengapa gaung dakwahnya seperti lenyap begitu saja? Dimanakah letak kekurangannya? Apakah materi dakwah yang disampaikan kurang menyentuh akar persoalan yang dihadapi umat Islam sehari-hari? Atau adakah kecenderungan sikap para da’i yang malah menimbulkan rasa ‘kurang dekat’ dengan umatnya?
Ini adalah gejala yang bisa kita rasakan mulai dari kalangan ‘akar rumput’.
Anda pasti pernah mendengar keluhan umat yang tak berani mengundang kiai atau da’i untuk berdakwah dirumahnya karena merasa tak mampu membayar ‘honorarium’ sang da’i. Masyarakat dari golongan yang lebih ‘bawah’ lagi bahkan kadang merasa rikuh untuk mengundang  pak Kiai guna memimpin selamatan dirumah. Apa sebab?  Karena ia merasa tak mampu memberi ‘amplop’ yang jumlahnya cukup memadai bagi pak Kiai! (Kiai ini nama julukan bagi ulama, khususnya di tanah Jawa. Julukan itu kemudian bisa menjadi ‘gelar’ yang selalu harus dicantumkan didepan namanya).
Selain memasuki jaman globalisasi, kapitalisme ternyata juga sudah merambah kesemua arah. Termasuk kooptasi kedalam agama, dimana dakwah lalu menjadi semacam mata pencaharian.
Terjadi semacam ‘komersialisasi jabatan’, yang ternyata juga menimpa para pendakwah agama lain.
Ini fakta, bukan isapan jempol belaka.
Apalagi ternyata banyak pula da’i yang sudah mulai berani (maaf) “pasang tarif”.
Dijaman modern ini bahkan ada da’i yang merasa wajib memakai manajer guna mengatur jadwal dakwahnya. Sehingga untuk mengundang beliau berdakwah, umat harus ‘pesan tempat’ jauh hari sebelumnya. Itupun  dengan tarif  yang ‘aduhai’ jumlahnya. “Tarif naik panggung” itu biasanya ditentukan oleh sang manajer.
Astagfirullah. Mohon seribu maaf, ini da’i atau ‘selebriti profesional’ sih?  Atau Da’i Selebriti?
Alih-alih berpromosi (kata lain dari dakwah), sejatinya para ulama atau da’i itu malah seakan-akan mendapatkan ‘kesejahteraan’ dari umat. Sekaligus juga mendapatkan popularitas, menjadi seorang da’i kondang.
Bukankah seharusnya ulama yang membuat hidup umat menjadi sejahtera?
Paling sedikit dalam hal sejahtera (kekayaan) rohaniahnya.
Atau kalau mau berkata lebih kasar, para ulama dan da’i profesional itu bisa saja disebut sebagai (maaf) “menjual diri” kepada umat.

Dari sini kita sudah bisa ‘mencium’ ada sesuatu yang tidak beres dalam hubungan antara ulama dan umatnya.
Marilah kita renungkan bersama.
Kalau umat tidak merasa dekat dengan umara, mungkin  itu hal yang masih wajar.
Karena masih banyak umara (birokrat) kita yang merasa dirinya sebagai Pangreh Praja (pangreh = tukang perintah) bukan Pamong Praja (pamong = pengayom /pelindung).
Akan tetapi kalau umat merasa jauh dari ulama? Nah ini bisa jadi tanda bahaya.
Oleh karena itu jangan menyalahkan fihak luar (selain Islam) apabila akhirnya umat Islam bisa “tergelincir”. Mereka hanya tergiur pada iming-iming pengkhotbah dari agama lain yang lebih terasa ‘dekat’, komunikatif, dan penuh perhatian.
Juga jangan menebarkan isu adanya  (maaf) “Kristenisasi” atau “Injilisasi” atau yang lain-lain. Walaupun secara nyata memang kasus itu benar-benar ada.
Baik “Islamisasi” maupun “Kristenisasi” itu memang benar terjadi dibeberapa daerah. Terutama pada saat ada daerah yang terkena bencana alam. Disitulah ajang dakwah terbaik bagi segala macam agama untuk 'menjaring' jemaat atau jemaah baru.
Lha, kan persis dengan tingkah partai politik yang suka tebar pesona ditengah para korban bencana.
Mereka (tokoh partai) juga mencari ‘konstituen’ dengan menebar bantuan dan janji.




bersambung.......

   

Minggu, 01 Januari 2012

"TENTANG KIAMAT" ( 3)


Tulisan bersambung: (bagian 3, tamat)

“KIAMAT  TIBA TAHUN  2012?”

 Poster Film "2012"


Film yang dibuat berdasar sebuah Ramalan 

Sewaktu film “2012” sedang ramai dibicarakan oleh penikmat film layar lebar diseluruh dunia, Indonesia sontak geger.
Para ulama (Islam) bahkan sempat menyerukan agar film tersebut ditolak masuk ke Indonesia. 
Demikian pula kabarnya ulama di Malaysia dan beberapa negara Islam lain. 
Mengapa gerangan sampai seheboh itu reaksinya?
Ada yang berpendapat, bagi negara yang mayoritas penduduknya muslim, membuat film tentang akan terjadinya kiamat pada tahun tertentu adalah tabu. 
Sebab hal itu menyangkut rahasia dan hak prerogatif  Allah, Sang Maha Pencipta. 

Didalam kitab suci Al-Qur’an, Allah Swt telah berfirman:.
“Innas saa’ata aatiyatun akaadu ukhfiihaa li tujzaa kullu nafsim bi maa tas’aa”
 
(Sesungguhnya kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan -terjadi- nya supaya tiap-tiap diri -manusia- itu dibalas dengan apa-apa yang diusahakannya). Surah Thaahaa, QS. 20:15.
Jelas sekali bahwa hanya Allah Swt yang tahu kapan akan terjadi kiamat. 
Ketika film kolosal itu akhirnya bisa ‘mampir’ diputar di Indonesia, pro dan kontra terus berlangsung.
Sebagian ulama dibeberapa daerah sempat mengeluarkan fatwa 'haram' menonton film '2012'.
Kehebohan itu sebenarnya tidak perlu terjadi.  
Menurut pendapat saya pribadi, film berbiaya sekitar 200 juta dolar Amerika itu hanya penafsiran bebas tentang sebuah 'kalender'. Dan film itu ternyata hanya mengisahkan usaha manusia menyelamatkan diri dari bencana alam dan air bah besar.  
Itu jelas hanya tiruan kisah banjir besar dijaman Nabi Nuh. Atau kisah yang diilhami oleh kitab suci dengan setting waktu dan tempat masa kini. Itu saja. Kisah tentang Nabi Nuh jelas diriwayatkan dalam kirab suci Al-Qur’an  maupun Injil.  
Seperti kisah aslinya, alat yang digunakan dalam film '2012' juga sebuah bahtera (kapal) sangat besar. Bahtera  yang bisa dinaiki puluhan (atau ratusan?) ribu orang itu konon dibangun dikaki gunung Himalaya.
Tetapi banjir besar dan bencana dahsyat yang disajikan sangat realistis dalam film itu toh bukan kiamat. 

Sutradara Roland Emerich (yang juga membesut The day After Tomorrow dan Independence Day) memang mendasarkan kisahnya dari kalender Suku Maya. 
Kalender itu konon berakhir pada tanggal 21 Desember 2012 (21-12-12 atau 21/12/12). 
Tanggal yang merupakan titik balik matahari musim dingin dibelahan bumi bagian Utara. 
Pada tanggal itulah diperkirakan dunia juga akan berakhir, alias kiamat.
Tak tanggung-tanggung, Emerich juga merekrut bintang-bintang  sinema kondang. Antara lain, John Cusack (sebagai Jackson Curtis, penulis buku ilmiah), Amanda Peet (sebagai Kate, mantan istri Curtis), Danny Glover (sebagai Thomas Wilson, Presiden AS), dan Oliver Platt (sebagai Kepala Staf AB AS). Tak ketinggalan Woody Harelson.  Ia memerankan tokoh yang dianggap gila karena memprediksikan terjadinya bencana besar itu.
Alur cerita film ini memang menggambarkan secara nyata sebuah bencana alam yang sangat dahsyat. 
Tentu kecanggihan teknologi perfilman, special effect dan sound effect nya patut dipuji. 
Akan tetapi sayang kisahnya  dibuat agak berlebihan, sehingga membuat penonton susah percaya. Walaupun adegan dilayar lebar tetap saja mencekam dan membuat bulu kuduk merinding.
Seperti dapat diduga, film berakhir happy ending
Manusia yang terselamatkan (dalam film itu) akhirnya bisa menyaksikan kembali dunia 'baru'. Yaitu munculnya matahari pada tanggal 1 Januari tahun 2013.
Jadi menurut saya,  film “2012” memang hanya mengisahkan sebuah bencana alam yang sangat hebat. Tapi jelas bukan kiamat
Kalau kiamat pasti tak ada seorang manusia atau mahlukpun yang bisa selamat.
Oleh sebab itu, sebuah film berlatar belakang science fiction, (meski sedikit berbau kisah dalam kitab suci), sebaiknya tidak dinilai terlalu serius. 
Apalagi dipertentangkan dengan akidah dan ajaran agama. 
Siapa tahu sang Sutradara dan produsernya hanya ingin memberikan tambahan wawasan. Tentu  sambil mencari keuntungan (sebesar-besarnya), namanya juga bisnis.

Patung  Yesus roboh
Bagaimanapun, sejatinya kita malah harus mengangkat jempol. Jarang ada yang berani menafsirkan kisah yang menyerempet ajaran agama yang sangat sensitif dengan mengangkatnya ke layar lebar. Bayangkan, Sutradara film ini berani menampilkan Patung "Kristus Raja" di Rio de Janeiro yang tumbang. Demikian juga hancurnya kediaman Paus di Vatikan. Akan tetapi dia tidak berani menggambarkan Ka'bah terkena bencana. Umat Islam harus memberikan apresiasi dan menghargai keputusan sutradara yang memberikan 'penghormatan' kepada Ka'bah itu.

Sesungguhnya "2012" memang cuma berkisah tentang bencana alam dahsyat yang nyaris membuat dunia luluh lantak. Sekaligus menggambarkan perjuangan sekelompok manusia dalam upaya menyelamatkan diri.
Pasti hanya produser film besar yang punya nyali untuk membuatnya. Karena menyangkut biaya, properti dan teknologi.   
Dan ternyata Columbia Pictures berani menanggung resiko untuk memproduksinya. 
Untuk saat sekarang jangan bermimpi sineas Indonesia bisa membuat film seperti itu. 
Oleh karena itu tak perlu kita menolak film seperti “2012” agar tidak masuk ke Indonesia. Dengan alasan apapun,  karena malah akan merugikan para seniman film Indonesia sendiri.

Kalender Bangsa Maya yang membuat gara-gara

Film “2012” diawali dengan kisah bunuh diri massal suku Maya dikota Tikal, Guatemala. Yang menjadi sebab adalah kalender bangsa Maya sendiri.
Astronomi sukubangsa Maya kuno memang bukan isapan jempol. Para astronom jaman sekarang menilai bahwa astronomi Maya adalah bukti intelektual sangat tinggi dari sebuah sukubangsa. Mungkin dapat disejajarkan dengan bangsa Mesir kuno penemu geometri. Juga tak lebih rendah dari filosofi bangsa Yunani kuno. 
Walaupun belum mengenal teleskop, para astronom Maya sudah bisa menghitung lamanya hari dalam satu bulan. Saat itu mereka mampu menetapkan bahwa satu bulan adalah 29, 53020 hari. Perhitungan  'njelimet' itu dibuat berdasarkan hitungan yang berbasis lunar. Hebatnya, perhitungan mereka hanya berbeda 39 detik saja dari hitungan hari yang sekarang kita pakai, yaitu 29, 53059!
Berusia lebih  dari 2000 tahun, kalender bangsa Maya itu bahkan dipercaya lebih akurat dari kalender Gregorian yang ‘baru’ berusia sekitar 500 tahun. Padahal kalender Gregorian itulah yang dipakai secara internasional sekarang. Itulah yang biasa disebut sebagai kalender Masehi.
Sukubangsa Maya memang diakui sangat hebat untuk urusan waktu. Mereka  seakan terobsesi oleh waktu. Selama ratusan tahun, para astronom Maya (kalau boleh disebut begitu) telah menciptakan tidak kurang dari 20 (duapuluh) kalender.
Mereka terus berimpovisasi membuat kalender. Mulai dari yang dibuat berdasarkan bermacam siklus sampai yang dihitung berdasar kehamilan (!) dan masa panen mereka. Juga yang berdasarkan peredaran planet, seperti bulan dan Venus. Sungguh mereka telah menguasai ilmu astronomi dengan sangat hebat. Bayangkan, pada saat itu mereka sudah bisa menghitung kalender dengan selisih hanya 1 hari dalam 1000 tahun (10 abad). Sangat akurat.
Begitulah, setelah melewati proses observasi ratusan tahun, maka jadilah kalender suku bangsa Maya. Itulah kalender yang ternyata membuat ahli astronomi masa kini merasa takjub. Bahkan akhirnya membikin heboh karena  adanya ramalan kiamat pada tahun 2012 itu.
Ramalan itu menyatakan, pada titik balik musim dingin tahun 2012 akan berlangsung perubahan besar. Diperkirakan akan terjadi pada tengah malam tanggal 21-12-2012 atau 21/12/12 (disebut 13.0.0.0.0 dalam hitungan jangka panjang mereka). Seperti biasa saat itu bumi mengakhiri orbitnya di matahari. 
Sukubangsa Maya kuno meyakini bahwa tanggal 21-12-2012 atau 21/12/12 mempunyai arti sangat penting. Pada saat tengah malam ditanggal itulah akan lahir  era baru sejarah kehidupan umat manusia. 
Konon peristiwa itu akan diiringi dengan darah dan penderitaan. Akan tetapi juga memberikan harapan serta janji baru. Pokoknya mirip dengan proses kelahiran seorang anak manusia.

Apabila kalender Maya kuno itu dihubungkan dengan fakta ilmiah, inilah hasilnya:
Sejak tahun 1940, terutama sejak 2003, matahari mulai menampakkan gejolak berlebihan. Itu bila dibandingkan dengan tahun sebelum dan sesudahnya. Terutama setelah pemanasan global yang meningkat pesat seiring mencairnya zaman es terakhir sekitar 11 ribu tahun lalu. 
Para ahli fisika (yang mengamati) matahari memprediksi gejolak itu akan memuncak pada akhir tahun 2012.

Gejolak badai di matahari itu diperkirakan mempunyai hubungan dengan badai di bumi. Termasuk gelombang badai topan besar seperti Katrina, Rita dan Wilma pada tahun 2005.
Sementara itu medan magnet bumi juga sudah mulai menipis. Kita tahu medan magnet bumi itu berfungsi melindungi bumi dari radiasi sinar matahari yang berbahaya.
Para ahli geofisika Rusia juga mendapati fakta bahwa Tata Surya telah memasuki masa awan energi antarbintang. Dikhawatirkan awan itu akan merusak keseimbangan Tata Surya kita. Awan itu juga berpeluang ‘bertemu’ dengan bumi yang jelas akan menjadi maha bencana. 
Itu akan terjadi sekitar tahun  2010 sampai 2020. 
Sejarah mencatat bahwa  dinosaurus dan hewan purba lain punah karena terjadinya bencana akibat tumbukan antara komet dan bumi. Itu terjadi sekitar 65 juta tahun yang lalu. Kini para ahli fisika di Universitas Berkeley Amerika Serikat memperkirakan,  kejadian tersebut seharusnya sudah terulang kembali. 
Mereka bahkan menjamin kepastian terjadinya tumbukan itu sampai 95%.

Kini gunung berapi Yellowstone di Amerika Serikat (juga digambarkan meletus dalam film ‘2012’) sedang bersiap meletus. Diperkirakan setiap 600.000 sampai 700.00 tahun gunung ini meletus. Erupsi Yellowstone yang terakhir setara dengan letusan gunung berapi dahsyat yang menciptakan Danau Toba di Sumatera Utara. 
Terjadi pada sekitar 74.000 tahun lalu, letusan itu menewaskan lebih dari 90% populasi manusia didunia.
Dalam buku yang berjudul “The Chinese Book of Changes”, Filsuf Cina bernama I Ching  mengeluarkan buah pikiran yang sangat masuk akal tentang 'akhir dunia'. Demikian pula beberapa teolog beragama Hindu dari Asia Timur.
Intinya mereka sependapat dengan perkiraan bahwa dunia akan kiamat sekitar tahun 2012.
Selain itu beberapa agama besar seperti Islam dan Nasrani mempunyai beberapa sekte yang menganut faham 'ekstrim'. Sekte ini percaya bahwa dunia memang akan segera musnah. 
Oleh sebab itu mereka mencari ‘gara-gara’ agar terjadi perang besar akhir jaman. 
Perang besar  tersebut memang tertulis dalam kitab suci sebagai salah satu pertanda akan terjadinya kiamat.
Dengan menganalisa fakta ilmiah diatas, tidak mmengherankan banyak fihak yang meyakini bahwa kalender Maya Kuno itu layak dipercaya.
Namun sebagai manusia yang bertaqwa kepada Allah Swt, Tuhan Maha Pencipta  (juga bagi mereka yang beragama lainnya), kita semua tentu tidak boleh khilaf.
Seperti firman yang sudah saya kutip diatas, sesungguhnya hanya Allah Swt yang tahu kepastian datangnya hari kiamat itu.

Wallahu a’lam bissawab.
                                           

(Data dan gambar diambil dari beberapa sumber penerbitan)