Senin, 26 September 2011

"ANEKA BOGA PENGGUGAH SELERA" (11)

(Catatan tentang kuliner dari yang biasa sampai yang “aeng-aeng”)
-Bahan dan foto dari berbagai sumber-

Bagian Kesebelas

Ikan Hiu Raksasa ( Lat: Cetorhinus Maximus)


Hewan laut yang masih jarang dikonsumsi masyarakat Indonesia.

     Sesungguhnya perairan Indonesia lebih luas dibanding dengan daratannya. Sekitar lebih dari 70 %  keseluruhan wilayah Indonesia terdiri dari lautan dan atau perairan.
Itu sebabnya Indonesia disebut sebagai Negeri Maritim.
Lautan yang luas itu mengandung kekayaan alam yang sangat luar biasa. Tentu yang terbanyak adalah jenis ikannya disamping biota laut lainnya.
Begitu kayanya, sehingga laut Indonesia mengundang nelayan-nelayan dari negeri jiran untuk ikut menikmati keuntungan dari kekayaan lautnya. Pasti secara illegal, karena mereka menangkap ikan diluar wilayahnya.

     Namun sayang melimpahnya kekayaan hasil laut itu belum dimanfaatkan secara maksimal oleh sebagian besar penduduk Indonesia.
Kecuali hanya dijadikan mata pencaharian utama bagi para nelayan.
Data dari ahli pangan IPB menyatakan bahwa tingkat konsumsi masyarakat Indonesia yang gemar makan ikan per kapita per tahun masih tergolong rendah. Yang paling tinggi adalah orang Maluku (72 kg/orang/tahun). Sedangkan penduduk Yogyakarta menjadi yang paling rendah konsumsinya terhadap ikan (hanya 5kg/orang/tahun).
Mungkin letak geografis daerahnya ikut mempengaruhi animo masyarakat makan ikan.
Karena semakin jauh letak kotanya dari laut, semakin jarang ikan laut dan dengan demikian semakin mahal harganya. Sehingga tidak mengherankan jika ikan dianggap termasuk kedalam golongan makanan enak tapi ‘mewah’, dibanding dengan tahu dan tempe, misalnya.
     Bahwa ikan termasuk bahan makanan yang mengandung asam lemak omega 3 yang baik untuk melindungi kesehatan jantung, adalah sesuatu hal yang mungkin saja belum diketahui atau disadari oleh masyarakat luas.
Bagaimana mengubah animo masyarakat untuk gemar makan ikan? Pertanyaan yang sangat mudah, tapi sangat sukar dicari jawabannya. Karena masalahnya sangat komplek.
Sangat ironis bahwa keluarga nelayan sendiri mungkin lebih suka makanan instan (siap saji) daripada makan ikan, yang setiap hari tampak didepan mata. Alasannya sederhana saja: bosan tauk?

Laut Indonesia surganya ‘seafood’

     Perairan laut Indonesia sangat terkenal mempunyai begitu banyak jenis dan macam ikan. Hal itu juga diketahui oleh orang luar negeri, terutama para nelayan asing yang gemar main “selonong boy”, maling ikan diperairan kita.
Laut Indonesia memang penghasil bermacam ikan yang punya potensi ekonomi tinggi.
Yang paling mudah didapat dipasar dan relatip murah harganya biasanya adalah: Bandeng (lat: chanos-chanos), yang tidak akan saya bahas lagi disini karena sudah saya kupas habis dalam tulisan saya terdahulu.
Di pasar tradisional juga mudah didapat ikan Tuna sirip biru, Tongkol (lat: Thunnus Maccoyii) atau Cakalang  (lat: Katsuwonus Pelamis). Ketiga jenis ikan itu banyak terdapat diperairan sekitar pulau Sulawesi.

Tuna sirip biru yang berkualitas super biasanya diekspor ke Jepang.
Tuna, tongkol atau cakalang mempunyai tekstur daging sangat padat. Duri hanya terdapat dibagian tengah saja. Di Manado cakalang biasa dibikin rica-rica yang rasanya pedas. Di Jawa tongkol dibuat gulai, demikian juga di Sumatra Barat.


     Kemudian ada Kakap (lat: Lates Calcalifer) baik merah ataupun putih.
Menu paling hot direstoran Padang biasanya adalah gulai kepala ikan (kakap). Walaupun orang Betawi juga ternyata sangat suka makan masakan pedas berlemak dan bersantan ini. Mungkin karena bumbu rempah-rempahnya yang sangat terasa dan asyiknya mencari daging disela-sela tulang kepala ikan itu.
Tetapi jangan salah, gulai kepala ikan (Kakap) itu konon aslinya adalah masakan dari India yang dinamakan Curry (Kari atau Kare). Serdadu Portugis, Inggris bahkan Belanda yang pernah ‘meraja-lela’ di tanah air kita punya banyak sekali anggota pasukan yang berasal dari India. Merekalah yang membawa resep masakan dengan rempah-rempah pekat yang menimbulkan aroma sangat menggoda dan membangkitkan selera itu.

Ingat Kakap tentu ingat Teri. Karena didunia kriminal biasanya ada istilah penjahat kelas Kakap (besar) dan kelas Teri (kecil).
Teri (lat: Stolephorus Commersonii) atau Bilis Eha, adalah ikan yang ukurannya sangat kecil dan hidup berkelompok. Mustahil bisa menangkap ikan ini sendirian. Karena selama ini sudah umum diketahui tidak ada teri yang besar nyali nya sehingga berani kelayapan sendiri dilautan. Namanya juga teri gitu loh!
Jadi ikan itu pasti akan selalu tertangkap bersama ‘geng’ nya dalam setiap razia penangkapan ikan yang dilakukan oleh para nelayan dengan memakai jaring.
Selain dijual sebagai teri basah, teri kebanyakan dijual sebagai ikan yang sudah diasinkan. Walau bentuknya kecil, jangan tanya soal rasanya. Gurih dan kemripik (renyah) kalau digoreng atau dibikin rempeyek. Yang tersohor namanya adalah Teri Medan yang berwarna putih bersih seperti nasi. Oleh sebab itu yang ditemukan diluar daerah seputar Medan lalu disebut sebagai ‘teri nasi’. Harganya juga lumayan mahal.
Kalau di Jawa Tengah (khususnya daerah sekitar Pantura) selain dibuat ikan asin ada yang menjual teri basah dalam kedaan sudah dibuat semacam bulatan sebesar kelereng. Namanya “Blenyik”.

     Dilautan bebas ternyata ada sejenis ikan buas menakutkan yang sejak dulu kala sudah menjadi buruan manusia.
Namanya Hiu atau Cucut (Ingg: Shark, lat: Sphyrnidae).
Padahal ikan ini termasuk jenis karnivora buas yang memakan nyaris semua hewan isi lautan. Kecuali beberapa jenis cucut yang hanya memakan plankton.
Sejak lama hiu diburu untuk tidak saja diambil dagingnya, tetapi yang terutama adalah hati dan siripnya. Daging ikan hiu atau cucut sendiri tidak terlalu disukai, kecuali dibeberapa wilayah yang termasuk daerah penghasil ikan cucut.
Minyak ikan yang terkenal sebagai “Cod Liver” yang kaya asam lemak Omega 3 dan DHA selain berasal dari ikan laut yang lain, juga berasal dari bagian tubuh ikan cucut ini.
Sudah sejak jaman dulu kala, koki bangsa Cina mempunyai resep masakan yang terbuat dari sirip hiu (cina: Hisit). Masakan itu terkenal diseluruh dunia sebagai “Sup sirip ikan hiu” (shark fin soup) yang disajikan di resto internasional ternama dengan banderol harga sangat mahal. Apalagi kalau ditambah dengan sarang burung (dari burung walet, burung layang-layang, Jw: Sriti, Lat: Collacalia Fuciphaga).
                                                                                   
“Kwartet” yang paling banyak dipajang diwarung kaki lima.

     Ada hewan penghuni laut yang bukan termasuk keluarga ikan, tapi sangat disukai oleh manusia (terutama yang tinggal dikota besar) untuk dijadikan santapan.
Antara lain yang sangat terkenal kelezatan dagingnya diseantero dunia adalah Udang.
Termasuk dalam kelas Crustaceae, hewan yang disebut sebagai golongan sefalotoraks (karena kepalanya menyatu dengan dada) ini terdapat nyaris diseluruh bagian dunia dan mempunyai sekitar lebih dari 30.500 jenis.  
Udang selain mempunyai potensi ekonomi sangat tinggi juga terkenal sebagai hewan yang berprotein tinggi. Oleh karena itu mereka yang cenderung punya bakat penyakit hyper cholesterol (kolesterol tinggi), harap hati-hati memakan hewan lezat ini.

Yang terkenal sangat mahal harganya adalah Udang Barong atau Udang Karang (Ingg: Lobster). Adapun yang banyak dijual dipasar dengan harga lumayan tinggi adalah Udang Putih, Udang Api-Api dan Udang Windu serta Udang Galah (dua yang terakhir itu berasal dari perairan tawar, payau, tambak dan kali atau sungai).
Selain itu laut juga menghasilkan Cumi-cumi, atau Gurita (Jw: Nus. Btw; Sotong, Juhi, Ingg: Squid, Lat: Loliginidae). Hewan ber’tangan’ banyak yang pernah sangat kondang karena jadi ‘monster’ dalam film “The Pirates of the Caribbean” ini mempunyai senjata andalan berupa kantong tinta hitam yang siap disemprotkan kapan saja, dimana saja dan kepada siapa saja yang dianggap musuhnya.
Tapi dengan atau tanpa tintapun, cumi-cumi tetap lezat kalau dimasak. Apalagi kalau sudah disajikan direstoran kelas atas dan diberi label nama“Calamari”.

     Ada hewan laut berkaki sepuluh yang termasuk jenis udang-udangan (Lat: Crustaceae)  yang disebut sebagai Rajungan.
Mahluk yang sulit dicari dimana gerangan kepalanya berada ini (hayo siapa yang bisa menemukan kepala rajungan atau Kepiting?) hidup diperairan laut bebas dan tentu saja halal dimakan.

     Namun pernah ada yang memperdebatkan tentang halal atau tidaknya memakan hewan sejenis Rajungan ini. Namanya Kepiting (Ingg: Crab, Lat: Scylla Serrata), yang  hidup diperairan dekat pantai, hutan bakau berair payau dan tambak. Hewan ini sejenis dengan Ketam yang hidup dipematang sawah dan pinggir kali (Jw: Yuyu). Oleh sebab itu dia dicurigai sebagai binatang amfibi yang mampu hidup didua dunia (darat dan laut).
Sekarang sudah ada fatwa ulama yang jelas menyatakan bahwa kepiting termasuk makanan yang halal, karena kebanyakan hidupnya berada diair (laut).
     Hewan laut lain yang populer dan disukai dagingnya adalah Kerang (Ingg: Shell, Oyster, Lat: Ostreidae). Binatang dari kelompok hewan bertubuh lunak (Lat: Mollusca) tapi berlindung dibalik cangkang yang keras ini kerapkali menjadi ‘mitos’, karena dianggap mempunyai semacam zat afrodisiak (perangsang) yang bisa meningkatkan libido (hasrat seks) kaum lelaki.

     Selain ikan laut, kwartet (empat) hewan laut yang saya sebutkan terakhir adalah primadona restoran ataupun warung tenda kaki lima yang menjual sea food (makanan yang berasal dari laut). Nyaris tak ada resto ataupun  warung tenda kaki lima yang berani memasang tanda “Disini tersedia macam-macam sea food”, jikalau tidak menyediakan empat jenis hewan laut yang menjadi hidangan favorit khalayak ramai itu.

     Cumi biasa dimasak dengan cara digoreng, dibakar atau dibumbui asam manis, saos tirem atau saos Padang yang pedas rasanya. Demikian pula dengan Udang ataupun Kepiting. Sedangkan kerang (baik kerang darah atau kerang hijau) yang dijual diwarung tenda kaki lima, biasanya hanya direbus lengkap dengan cangkangnya dengan bumbu seadanya seperti bawang putih dan rimpang (temu) kunci yang diiris tipis. Kerang rebus ini disajikan panas panas dengan ditemani sambal kacang yang diberi campuran nanas parut.  
Kerang juga biasa dibuat menjadi sate (setelah ditumis dengan bumbu kecap) untuk menemani makan soto ayam atau soto Kudus.

     Jangan bertanya dulu tentang resep memasak ikan dan teman-temannya ya?
Akan saya sajikan resepnya tersendiri dalam tulisan berikutnya.
Harap sabar menanti.


bersambung…..

Kamis, 22 September 2011

MISTERI MAKAM "ASTA TINGGI", SUMENEP


Tulisan lepas: 

"Robohnya Sopir Kami"

 Gerbang Makam "Asta Tinggi" Sumenep

Released by mastonie on Thursday, September 22, at 09.41 pm


Rencana merayakan Lebaran ditanah leluhur

Setidaknya sejak akhir tahun 90an saya sudah bukan termasuk pecinta “Mudik”. Saya merasa bahwa ritual "Mudik Bersama" itu lebih banyak mudaratnya daripada manfaaatnya. Padahal sesungguhnya tradisi itu adalah tradisi yang baik. Menjaga tali silaturahim adalah suatu hal yang dianjurkan pula dalam agama. Tapi ternyata tradisi yang baik itu berkembang menjadi sesuatu yang menimbulkan banyak persoalan yang seharusnya tidak boleh terjadi. Kemacetan jalan raya yang sangat parah adalah salah satu dampaknya. Dan itulah yang saya hindari.
Tapi awal bulan puasa tahun 2002 ternyata ada usul dari keluarga besar isteri saya untuk ramai-ramai berlebaran ditanah leluhur ayah mertua di Pulau Madura. Isteri saya adalah sulung dari 7 bersaudara. Menghadapi 6 suara (dari adik2nya) plus suara paling berpengaruh (dari ibu mertua), saya menyerah. Akhirnya diputuskan berangkat dengan mengendarai mobil masing-masing. Waktu keberangkatan bebas, tapi sudah harus berkumpul di kota Surabaya paling lambat hari H+2 sesudah sholat Ied. Dari Surabaya (dimana masih ada ipar ayah dan sesepuh asli Madura lainnya) baru ramai-ramai konvoi ke kota Sumenep di pulau garam. Jembatan Suramadu belum dibangun, mungkin baru sebatas wacana. Jadi konvoi 4 buah mobil (terdiri dari 2 Toyota Kijang, 1 Nissan Serena dan 1 Opel Blazer) menyeberang menggunakan ferry dari Tanjung Perak ke Bangkalan. Sebagai anak (menantu) yang tertua, saya otomatis didaulat sebagai pimpinan rombongan. Komunikasi antar mobil memakai HT 2 meteran. Karena kalau memakai HP kemungkinan ada blank spot. Selain itu juga mahal membayar pulsanya.

‘Perang mulut’ demi buah jambu….
Ini perjalanan saya yang kedua ke tanah leluhur ayah mertua. Madura masih seperti yang dulu. Panas dan kering kerontang. Setidaknya itu yang terasa sepanjang perjalanan. Walaupun makanan khas yang terkenal sampai ibukota adalah sate ayam dan soto Madura, tapi yang tampak banyak dijajakan dipinggir jalan adalah buah jambu air (lat: Syzygium Aqueum) yang berwarna hijau. Sangat eye catching (menarik mata) dan menerbitkan selera. Semua sepakat untuk membeli dan menikmati buah jambu itu. Akhirnya empat mobil berhenti dipinggir jalan. Para sesepuh yang memang asli Madura didaulat untuk maju menawar. Dalam pikiran awam, harga pasti bisa jadi miring kalau pembeli dan penjual berasal dari satu daerah dan berkomunikasi dengan bahasa yang sama.  Tapi yang terjadi kemudian sangat diluar dugaan. Barangkali karena melihat mobil yang dipakai semua ber plat nomor “B” (Jakarta), maka harga yang ditawarkan sungguh gila-gilaan. Mungkin para pedagang itu punya prinsip: ”Saudara tetap saudara, duit tetap duit”. Pada siang terik itu kemudian terjadi ‘perang mulut’ yang seru dan seram. Menggunakan bahasa dan dialek Madura yang sangat kental, terjadi perdebatan dalam suara tinggi dihiasi dengan tangan yang serabutan. Generasi penerus yang menunggu dalam mobil (dan tidak faham bahasa leluhurnya) hanya bisa bengong melihat adegan seru tapi semi kocak itu. Isteri saya yang ikut dalam ‘pertempuran’ itu rupanya sudah berhasil mencicipi beberapa biji jambu, lalu balik kemobil sambil tak kuasa menahan tawa. 
Dek remaaaah sampiyan diiiiik......
Yang lebih menggelikan, para sesepuh akhirnya juga kembali ke mobil masih dengan mengomel dan merepet panjang pendek. Tapi dengan tangan hampa. Alias gagal membeli jambu meski hanya satu bijipun. Akhirnya bisa juga kita menemukan pedagang jambu yang masih ‘normal’, beberapa kilometer dari lokasi perang mulut tadi. Maka jadilah kita makan jambu me-rame didalam mobil sambil tertawa ngakak sepanjang jalan.

Kisah nasi rawon

Kota Sampang terlewati, mobil melaju menuju Pamekasan. Matahari sudah tergelincir, panas masih menyengat dan perut mulai keroncongan. Tujuan berikutnya tentu saja mengisi perut. Maka dicarilah rumah makan dipinggir jalan yang penampilannya cukup meyakinkan. Benak saya sudah membayangkan makan sate ayam dan soto Madura yang ‘nyemooot’ (nikmat). Sambil nyender dan nyelonjorin kaki saya buka daftar menu. Alamaaaak…..ternyata yang tertera adalah masakan cina (Chinese food).  Masakan Jawa yang tersedia hanya “nasi rawon” thok thil (saja). Rupanya semua setuju. Maka kita rame rame makan nasi rawon. Beberapa anak minta bakmi goreng. Alamaaaak…(yang kedua), ternyata nasi rawon yang warnanya kehitaman itu rasanya ‘ora ngalor ora ngidul’ alias tidak karu-karuan. Berhubung perut lapar, ya terpaksa dihabiskan juga. Kemudian hari ternyata bahwa setiap rumah makan yang kita singgahi selama berada dipulau garam, menu utamanya adalah nasi rawon! Kemana itu kaburnya sate ayam dan soto yang katanya khas Madura? Kabur ke pulau Jawa? Yang kita temukan dikota Pamekasan malah cuma “sate lalat”.

“Tragedi” Pantai Lombang, pengemudi satu persatu ‘tumbang’….

Sumenep adalah ibukota Kabupaten yang terletak paling timur dipulau Madura. Waktu itu hanya ada satu penginapan yang bisa menampung satu keluarga besar. Terletak dipertigaan jalan, penginapan itu konon biasa dipakai oleh keluarga Bung Karno kalau sedang ziarah ke Sumenep. Sesudah istirahat semalam, keesokan harinya sesudah makan pagi, empat mobil langsung tancap gas menuju Pantai Lombang. Mobil pertama saya kemudikan sendiri, mobil kedua dikemudikan oleh Tacok, adik laki-laki tertua isteri saya, mobil ketiga dikemudikan oleh Itok, adik laki-laki nomer 6 dan mobil terakhir dikemudikan oleh Kilik, adik laki-laki nomer 4. Semua tidak mengandalkan ‘co-pilot’. Identitas para pengemudi ini perlu saya jelaskan, karena nanti akan terjadi sebuah peristiwa ‘misterius’ yang nyaris tak masuk akal. 

Terletak sejauh 30 kilometer lebih dari kota, Pantai Lombang adalah pesisir laut Jawa di pulau Madura. Tempat rekreasi yang mulai digarap untuk wisata pantai dan laut. Ternyata memang cukup diminati oleh wisatawan domestik. Disitu sudah tersedia perahu layar dan perahu motor untuk disewa mengelilingi pantai. Ada panggung kesenian untuk menampilkan atraksi pada setiap hari libur. Kios cindera mata dan makanan juga tersedia lengkap. Dipantai ini terdapat banyak sekali tanaman hias jenis ‘cemara udang’. Tanaman yang mahal harganya ini tampak dibudidayakan dan dijual disepanjang jalan menuju pantai.
Kurang lebih baru sekitar satu jam lamanya kita menikmati keindahan pantai Lombang, ketika tiba-tiba terdengar suara gaduh. Ternyata Tacok terserang diare sangat berat. Di siang hari yang panas terik itu dia sudah berulang kali keluar masuk jamban yang ada dipantai. Akhirnya dia pingsan kena dehidrasi.  SATU sopir robohBuyar semua rencana wisata. Saya putuskan untuk segera balik kekota Sumenep. Posisi Tacok sebagai driver diambil alih oleh istri Kilik yang pandai menyopir. Empat mobil segera ngebut pulang. Baru kurang lebih setengah perjalanan ketika Kilik teriak-teriak lewat HT minta konvoi berhenti. Perasaan hati saya mulai tidak enak. Saya memutuskan berhenti didekat sebuah masjid dipinggir jalan. Sekarang giliran Kilik yang terkena sakit perut akut. Sudah DUA sopir tumbang. Bahaya nih. Selesai menuntaskan hajatnya,  Kilik berkeras tak mau digantikan. Konvoipun melanjutkan perjalanan. Beberapa kilo menjelang masuk kota, saya merasa perut saya mulai berontak. Gawat. Masak sakit perut mendadak ini hanya menyerang para pengemudi? Para penumpang semuanya baik-baik saja! Pikiran saya melayang ke nasi rawon kemaren. Akan tetapi andaikan salah makan, atau keracunan makanan, pasti semua akan terkena. Giliran saya yang teriak minta mampir kerumah saudara yang terdekat dari jalan raya yang dilalui. Saya sudah tak tahan lagi. Belum sempat memarkir mobil, saya sudah ‘terbang’ menuju kamar kecil. Perut rasanya seperti diaduk-aduk. Perih dan melilit. Tetapi yang keluar hanya cairan. Sekarang TIGA sopir sudah jadi korban. Tinggal Itok yang masih segar bugar. Tapi belum selesai saya menuntaskan hajat, saya dengar Itok minta ijin mendahului pulang ke penginapan. Katanya perutnya juga sudah mulai terasa tidak karuan. Astagfirullah….kini lengkap sudah EMPAT sopir roboh terkena serangan penyakit misterius dan ‘aneh’ itu. Saya putuskan bergegas kembali ke penginapan. Isteri saya berkeras agar anak laki-laki saya yang ganti mengemudi. Selama ini saya tidak mengijinkan anak laki-laki saya mengemudi mobil selama masih ada saya. Walaupun dia ahli menyetir pesawat terbang, tidak berarti dia juga ahli menyetir mobil. Jelas saya jauh lebih pengalaman karena sudah menyetir mobil ketika dia masih ingusan. Siang itu saya menyerah. Posisi pengemudi diambil alih anak laki-laki saya. Sampai di penginapan empat orang pengemudi terkapar dikamar masing-masing. Masih terus pulang pergi kekamar kecil. Adik ipar saya yang dokter gigi sibuk perintah sana sini untuk mengendalikan situasi. Seluruh toko di Sumenep di-ubek untuk mencari minuman ‘pocari’ guna mencegah dehidrasi yang lebih parah.

Gara-gara melupakan “Asta Tengki” ?


Prasasti Makam Asta Tinggi

Acara pada malam hari itu sebetulnya adalah malam silaturahim. Pertemuan dengan seluruh keluarga besar ayah mertua dan para sesepuh yang masih ada dikota Sumenep. Bahkan ada yang datang dari kota Pamekasan dan Sampang. 
Sewaktu mendengar kisah tentang “robohnya (empat) sopir kami”, salah seorang paman yang paling sepuh mendekati saya yang masih dalam kondisi badan lemah, lesu, lemas. 
Beliau bertanya dengan wajah serius:
”Sudah sowan (datang menghadap) ke ‘Asta Tengki’ nak?” Saya terperangah. Tak kuasa menjawab, karena kenyataannya memang kita satu rombongan belum melakukan ziarah kemakam para leluhur itu. Tak sengaja saya teringat pesan almarhum ayah mertua. Apabila anak cucu keturunan para bangsawan Keraton Sumenep datang ke kota Sumenep, maka yang pertama kali harus dilakukan adalah ziarah kemakam Asta Tinggi atau Asta Tengki. Sesudah itu mereka baru boleh pergi kemana saja sesuka hati.
Masya Allah, padahal yang kita lakukan pertama kali sewaktu datang ke Sumenep tadi pagi justru berwisata ke Pantai Lombang! Apakah robohnya para sopir alias pengemudi adalah karena melanggar 'wewaler' (aturan berupa pantangan) yang tak tertulis itu? 
Wallahu a’lam.

“Asta Tinggi” makam para bangsawan Sumenep.

Terletak diketinggian sebuah bukit dikelurahan Kebon Agung, Kecamatan Kota Sumenep, makam para bangsawan dan leluhur Keraton Sumenep ini konon dibangun pada tahun 1750 M. Letaknya ditanah yang tinggi itulah yang barangkali lalu menjadikan makam itu dinamakan “Asta Tinggi” atau “Asta Tengki” (bahasa Madura). Lokasi makam ini terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama dinamakan Kubah “Bindoro Saud”, yang kedua komplek makam “Panjang Jimad” dan yang paling belakang dinamakan Pemakaman “Pangeran Panji Pulang Jiwo”.
Ada tata tertib khusus apabila ingin berziarah di makam Asta Tinggi. Selain harus mengisi buku tamu disetiap komplek makam, para peziarah harus mulai kunjungan dari komplek paling belakang yaitu komplek pemakaman “Pangeran Panji Pulang Jiwo”. Kemudian baru melangkah ke makam “Panjang Jimad” dan terakhir ke Kubah “Bindoro Saud”.
Konon menurut kisah penduduk sekitar makam, masih sering terjadi hal-hal misterius dan aneh disekitar makam Asta Tinggi ini. Diantaranya adalah sinar yang keluar dari salah satu batu nisan yang ada di dalam komplek makam itu dan meledaknya sebuah makam yang sampai kini tidak diketahui pasti apa penyebabnya.
Makam Asta Tinggi dan Keraton Sumenep menjadi bukti sejarah adanya bangsawan keturunan Raja Jawa yang pernah berkuasa di pulau Madura. Tidak heran bahwa penduduk Sumenep rata-rata lebih halus tutur kata dan perilakunya dibanding penduduk kota lain dipulau garam yang kering dan panas itu.
Wallahu a’lam bissawab.


Catatan:
(Believe it or not. Boleh percaya boleh tidak, ketika mencoba mengunggah tulisan ini kedalam blog, kebetulan tepat pada hari malam Jum'at, mendadak komputer pribadi (PC) saya ngadat. Mati dengan sendirinya sambil meninggalkan pesan dilayar "No signal detected". Kemudian mendadak restart (hidup kembali) sendiri. Sewaktu sudah berhasil masuk ke blog, PC sekali lagi mati sendiri. Begitu berulang-ulang, sampai pagi hari!. Akhirnya saya terpaksa mengunggah lewat laptop, tapi tanpa dokumentasi foto. Tukang service komputer yang saya panggil tidak berhasil menemukan virus atau kerusakan apapun dalam CPU komputer saya. Sampai saat anda baca tulisan saya ini)

NB: Dua Minggu kemudian kerusakan baru terdeteksi. Setelah diganti beberapa part dan software system nya baru CPU bisa bekerja normal kembali. Ternyata kerusakan memang ada pada CPU.

Rabu, 21 September 2011

"ANEKA BOGA PENGGUGAH SELERA" ( 10 )

(Catatan tentang kuliner dari yang biasa sampai yang “aeng-aeng”)
-Bahan dan foto dari berbagai sumber-

Bagian Kesepuluh

 Cabe merah (Lat: capsicum annuum)


Released by mastonie on Wednesday, September 21, 2011 at 06.56 pm



Bumbu yang membuat ‘hot’ ……

     Entah bagaimana sejarahnya dulu, banyak orang yang begitu suka dengan masakan yang mengandung  rasa pedas.
Di Indonesia ada beberapa sukubangsa yang identik dengan masakan yang rasanya pedas. Beberapa suku malah menyukai masakan dengan rasa ekstra pedas.
Yang menonjol diantaranya adalah masakan spesial orang Minang (Padang, Sumatra Barat) dan orang Manado (Sulawesi Utara).
Misalnya kari dan rendang serta balado (Minang), dan masakan bernama rica-rica (Manado).

     Diantara bumbu utama yang bisa membuat masakan menjadi pedas itu antara lain adalah:
Cabai, atau cabe (Jw: Lombok) yang terdiri dari cabe merah/hijau (Latin: capsicum annuum) dan cabe rawit (Latin: capsicum fruteescens).
Yang menyebabkan rasa pedasnya adalah minyak atsiri yang terdapat dalam buah dari pohon perdu semusim yang termasuk suku Solanaceae itu.  
Cabe juga mengandung fruktosa, protein dan vitamin C.
Lada atau merica (Lat: piper nigrum) yang merupakan buah berbentuk butiran kecil dengan biji yang keras. Biji inilah yang disebut sebagai lada. Tetapi sekarang sudah banyak dijual lada yang berbentuk bubuk.
Lada terdiri dari dua macam: lada putih dan lada hitam.
Jahe (Lat: zingiber officinale rocs) adalah rimpang (umbi) tumbuhan berbentuk perdu.
Ketiga jenis bumbu atau rempah-rempah itu secara sendiri-sendiri bisa menyebabkan masakan menjadi pedas. Apalagi kalau ketiganya digabung menjadi satu dalam satu masakan. Ditanggung bisa ‘membakar’ lidah, mulut dan perut.

     Rasa pedas memang merupakan rasa yang bisa merangsang nafsu makan. Rasa itu juga bisa memacu keluarnya keringat secara berlebihan dari dalam tubuh. Tidak heran kalau ada yang membuat bahan bumbu itu menjadi campuran obat.
Para maniak (pecinta berat) rasa pedas belum puas kalau belum makan ditemani lauk masakan yang amat sangat pedas sekali, yang seolah-olah mampu membakar lidah, mulut, perut bahkan badan.
Alih-alih kepedasan, para maniak ini bahkan merasa terpuaskan, ditandai dengan muka merah, keringat bercucuran diseantero badan serta mulut ‘nganga’ sembari mengeluarkan suara: ”Hoo haaah, hoo haaah..”!!
Itu sebabnya ada pepatah Jawa yang mengatakan :”Kapok Lombok”.
Maksudnya tidak akan menjadi jera, seperti orang yang tak akan jera makan cabe.


Sambal (yang di) goreng, masakan favorit yang tahan lama.

     Di belantara boga atau kuliner Indonesia, siapa yang tidak kenal ‘sambal’?
Terdiri dari bahan-bahan yang diantaranya adalah cabe yang mengandung sedikit khasiat ‘antiseptik’ karena pedasnya, maka sambal biasanya tahan lama. Apalagi kalau sebelum disajikan masih digoreng lebih dulu, seperti sambel bajak, misalnya.
Sewaktu saya belajar hidup sendiri dan mandiri, saya selalu membuat sendiri sambal bajak yang bisa tahan berhari-hari tanpa harus disimpan dilemari es. Bahkan tanpa harus dipanasi. Disamping itu saya juga suka membuat sendiri sambal lain yang pokoknya mudah membuatnya tapi enak rasanya. Dibawah ini ada tiga resep sambal yang (dahulu) pernah menjadi teman lauk makan saya sehari-hari.

Sambal Bajak (khas Jawa Tengah):


Bahan: udang segar (orang Jawa Barat/Sunda lebih suka memakai ebi, udang kering), cabe merah, bawang merah dan putih, kemiri, terasi, gula pasir, garam secukupnya, minyak goreng untuk menumis dan santan kental.
Cara membuatnya mudah saja:
Siangi udang sampai bersih. Buang kulitnya. Kalau memakai ebi, maka ebi harus dicuci bersih, kemudian dimasak sampai lunak dahulu.
Haluskan semua bumbu berikut udang atau ebinya sekalian. Tumis dengan minyak sampai harum baunya. Tuangkan santan kental dan aduk-aduk sampai rata. Masak dengan api kecil sampai santan mengental sampai seperti keluar minyaknya. 
Angin-anginkan sampai panasnya hilang, baru masukkan dalam botol yang sudah dicuci bersih. Usahakan selalu botol dalam keadaan tertutup rapat. Buka botol hanya pada waktu mengambil sambalnya saja.
Sambal bajak ini bisa dijadikan lauk makan  tanpa ‘teman’ lauk yang lain (jika dalam keadaan terpaksa, dompet sedang kosong, misalnya).
Nasi putih dimakan dengan sambal bajak thok (doang, saja), sudah terasa seperti makan direstoran (walau kadangkala sambil ‘mbrebes mili’ -keluar air mata- karena merasa sangat  nelangsa -terharu sedih-).
Inilah lauk paling nikmat,  yang pernah saya andalkan semasa bujangan.

Sambal Goreng Petis (khas Jawa Timur):

     Bahan: petis udang, daun salam, lengkuas/laos, daun jeruk, air asem Jawa, santan kental.
Bumbu: cabe rawit (iris halus), cabe merah dan hijau, bawang merah dan putih, kunyit dan garam serta minyak goreng secukupnya.
Cara membuat:
Haluskan semua bumbu (kecuali cabe rawit yang diiris halus). Tumis semua bumbu, ditambah daun salam, lengkuas dan daun jeruk. Setelah harum masukkan petis udang, irisan cabe rawit dan air asem Jawa. Aduk-aduk sampai rata. Masukkan santan dan masak sampai menjadi kental dan keluar minyaknya.
Sambal petis ini memang hitam rupanya, tapi nyemoot (nikmat) rasanya, tak iyeeeee….

Sambal Bawang (khas bujangan  dan anak kos-kosan):

     Inilah sambal paling sederhana, paling mudah dan paling murah.
Cocok dibuat oleh kaum jomblowan-jomblowati (mereka yang masih bujangan) dan para siswa/mahasiswa serta orang kantoran penghuni rumah kos.
Sebenarnya ada dua macam sambal bawang. Yang digoreng dan yang mentah. Tapi semuanya mudah dibuat dan murah.

Sambal bawang yang digoreng:
Bahan: Bawang merah dan bawang putih, cabe merah dan garam.
Cara membuat: haluskan semua bahan, tumis dengan minyak goreng secukupnya. Angkat setelah tampak berminyak.
Ada satu rahasia yang hendak saya bocorkan. Sambal bawang goreng ini bisa jadi bumbu dasar nasi goreng yang tak kalah lezatnya. Jika bosan makan nasi putih dan sambal ini, bikin saja nasi goreng. Caranya mudah: tambahkan sedikit terasi yang sudah dihaluskan pada sambal, tambah dengan sedikit irisan bawang merah, tumis lagi dengan sedikit minyak (kalau ada minyak jelantah lebih enak), kalau punya cadangan telur ayam, bisa dicampurkan juga. Kalau sudah berbau harum masukkan nasi putihnya. Aduk sampai rata, kalau suka bisa ditambah dengan kecap manis. Jadi deh nasi goreng dadakan.
Untuk sambal bawang mentah, bahannya hanya bawang putih, cabe merah dan garam saja. Haluskan semua bahan dan segera sajikan. Sambal bawang mentah yang rasanya segar ini tidak bisa disimpan lama.
Dan menurut pengalaman saya inilah sambal paling hemat yang bisa dibuat.

     Ketiga sambal diatas adalah teman lauk, yang  bahan dan bumbunya hanyalah  cabe. 
Baik cabe merah, cabe hijau dan atau cabe rawit.
Lauk ‘hot’ lain yang berbumbu lada atau merica, jahe dan cabe, atau gabungan dari ketiga bumbu ‘panas dan pedas’ itu,  akan saya sajikan segera.
Tunggu tanggal mainnya……



bersambung……

Sabtu, 17 September 2011

"ANEKA BOGA PENGGUGAH SELERA" ( 9 )


(Catatan tentang kuliner dari yang biasa sampai yang “aeng-aeng”)
-Bahan dan foto dari berbagai sumber-

Bagian Kesembilan

 Brongkos


released by mastonie on Saturday, September, 17, 2011 at 12.15 pm



Rupa menyeramkan, rasa menggairahkan...


     Namanya pendek saja. Keluak atau keluwak (Jw: Kluwek).
Buah yang berasal dari pohon Kepayang (latin: Pangium  edule) ini berkulit keras. Warnanya bisa coklat muda, coklat tua atau abu-abu.
Isi buahnya kalau sudah tua sekali berwarna cokelat kehitaman dan agak lembek. Kalau belum tua bisa mempunyai rasa yang agak pahit.
Tapi jangan under estimate ya? Walaupun rupanya tidak menarik bahkan cenderung hitam dan jelek, kalau sudah dijadikan bumbu untuk masakan bisa membuat lidah bergoyang disko. 
Tak heran kalau sampai banyak orang yang ‘kepranan’ (suka sekali). 
Isi buah keluwak ini mengingatkan kita pada  pemeo tentang lokomotip jaman baheula.
Biar (warnanya) hitam tapi banyak yang suka (menunggu)
.
     Berbagai macam masakan bisa dibuat dengan bumbu dari buah ‘aneh’ ini.
Salah satunya yang paling digandrungi orang adalah yang bernama Rawon.
Terbuat dari daging sapi di bagian sandung lamur (daging bagian dada, atau brisket), masakan berkuah tak bersantan ini punya bermacam versi. Ada versi yang tidak pedas, ada versi yang pedas. Bahkan pedas sekali sampai dijuluki sebagai “rawon setan”.  Saking pedasnya.
Rawon versi pedas dijuluki rawon gaya Jawa Timuran. Karena biasanya ‘arek’ Jawa Timur memang suka masakan yang pedas.
     Apabila anda suka dengan masakan yang bersantan, maka ada juga resep masakan berbumbu buah keluwak yang memakai santan. Namanya Brongkos.
Dibawah ini kutipan resep Rawon dan Brongkos versi ‘nyonya rumah’ alias isteri saya yang diadaptasi dari resep peninggalan Ibu.
Untuk mengenang jasa almarhumah Ibu, akan saya kutipkan lirik lagu jaman doeloe:  
“Semogaaaa…kau tak ‘kan kecewaaaa…trimalah ini resep…persembahankuuuu…”

Resep rawon daging sapi:


Bahan: daging sapi dari bagian sandung lamur.

Bahan penyerta: sambal terasi, tauge, telur asin dan kerupuk udang.
Bumbu: Keluak, cabe merah besar, bawang merah dan putih, ketumbar, kunyit, terasi. Garam dan gula secukupnya. Khusus untuk keluak pilih yang sudah tua, ambil isinya, cicipi sebelumnya, yakinkan kalau rasanya tidak pahit. Kalau pahit? Ya buang saja, ganti lagi dengan keluak yang tidak pahit. Lalu semua bumbu ini dihaluskan.
Sedangkan bumbu yang tidak dihaluskan adalah, asam Jawa, sereh, lengkuas/laos, daun bawang, daun jeruk, daun salam dan minyak goreng untuk menumis secukupnya.

Cara memasak:
     Rebus daging sandung lamur dan potong sesuai selera. Saat ini di supermarket sudah tersedia daging sandung lamur yang sudah dipotong-potong. Jadi tinggal merebus saja. Kalau yakin dagingnya dari sapi muda yang empuk, rebus setengah matang saja. Kalau tidak, atau ingin dagingnya empuk sekali, bisa dimasak dengan alat bertekanan (presto). Ini malah bisa menghemat waktu dan bahan bakar. Sisakan kaldunya.
Tumis bumbu yang sudah dihaluskan dengan ditambah daun jeruk sampai harum baunya. Masukkan  daging, asam Jawa, sereh, lengkuas, daun salam dan irisan daun bawang. Aduk-aduk sebentar agar bumbu meresap kedalam daging. Setelah itu baru tuang kaldu yang disisakan. 
Masak dengan api kecil, tunggu beberapa saat sampai kuah kaldu agak berkurang.  
Kuah rawon yang “baik dan benar” biasanya berwarna hitam mengkilat.
Sajikan dengan tambahan tauge (mentah), telur asin dan kerupuk udang serta sambal terasi.
O ya, kalau anda suka sekali makan buntut (ekor) sapi, maka bahan daging sandung lamur tadi bisa diganti dengan buntut sapi. Hanya waktu memasaknya mungkin agak lebih lama, walaupun memakai panci presto. Bumbunya sama persis, tapi perlu ditambah lada atau merica bubuk sedikit saja. Begitupun cara memasaknya.
Namanya lalu jadi “Rawon Buntut”.

     Resep Rawon Ibu saya diatas termasuk versi rawon yang tidak terlalu pedas.
Jika ingin rawon Jawa Timuran yang lebih pedas lagi bisa ditambahkan cabe merah atau cabe keriting yang lebih banyak pada bumbu yang dihaluskan.
“Rawon setan” (super pedas) biasanya ditambah lagi dengan cabe rawit merah/jingga yang sebagian ikut bumbu yang dihaluskan dan sebagian lagi dibiarkan utuh.
Nah cabe rawit utuh ini bisa dijadikan mercon yang siap ‘diledakkan’ (dalam mulut) bagi mereka yang maniak (sangat doyan) pedas.
Dijamin setelah menyantap rawon setan anda akan keringatan.
Kalau tidak keringatan jangan-jangan anda memang termasuk keluarga ….setan.
Ha ha ha …ini hanya guyon parikeno lhoo..

Resep brongkos daging:


     Bahan untuk memasak brongkos sama dengan bahan untuk rawon, yaitu daging sapi sandung lamur. Isteri saya biasanya suka menambahkan tahu goreng (seperti tahu Sumedang) dan buncis yang dipotong kecil-kecil. 
Tapi ini tergantung selera masing-masing. Bukan suatu keharusan.
Bumbunyapun sangat mirip. Yang membedakannya adalah  cabe merah besar diganti dengan cabe hijau besar. Cabe hijau ini tidak ikut dihaluskan tapi cukup dipotong kecil-kecil saja. Lalu tambahkan juga petai atau pete. Bagi yang suka rasa agak pedas, bisa menambahkan sedikit cabe merah dalam bumbu yang dihaluskan atau cukup masukkan saja beberapa cabe rawit utuh. Kemudian siapkan pula santan kental secukupnya.
Oleh karena bumbunya nyaris sama, maka brongkos boleh dikata adalah rawon yang bersantan. 

Cara memasak:
     Rebus daging sampai empuk. Bisa juga dengan alat bertekanan (panci presto). Sisakan kuahnya.
Tumis bumbu yang dihaluskan, masukkan potongan cabe hijau, pete yang diiris tipis atau setengah utuh (sesuai selera) dan irisan buncis (bagi yang suka).  Tunggu sampai harum baunya. Tahap berikutnya sama saja. Masukkan daging, tahu goreng (kalau suka) tambah dengan asam Jawa, sereh, lengkuas, daun salam dan irisan daun bawang. Tuang kaldu, aduk sampai  merata, masukkan cabe rawit utuh lalu masak lagi sebentar. Terakhir masukkan santan kentalnya. Masak lagi dengan api kecil.
Brongkos juga disajikan dengan pelengkap tauge mentah, telor asin, kerupuk udang dan sambal terasi.
Jika anda suka dengan bawang merah goreng, taburkan bawang merah goreng diatasnya (sesuai selera).

     Jadi silakan pilih dua masakan bertampang "seram", namun rasanya menggairahkan ini.
Mau rawon yang non santan atau brongkos yang  full santan.
Pilihan ada ditangan anda saudara-saudara.......




bersambung.......


Kamis, 15 September 2011

ANDA "NARSIS"? JANGAN TAKUT: ANDA TIDAK SENDIRI!

Tulisan lepas:




Lukisan "Narcissus" karya Michael Angelo


released by mastonie on Thursday, September 15, 2011 at 11:33am


(Tulisan ini sengaja saya buat karena mendengar banyak sekali keluhan sahabat dan teman –termasuk diri saya sendiri- yang sering dituduh sebagai seorang yang “narsis”. Tentu ini bukan semacam pembenaran. Tapi setidaknya bisa membuat anda tidak terlalu khawatir akan tuduhan tak berdasar itu)

Alkisah dijaman baheula, ada seorang Pejabat atau tokoh penting di kerajaan  Yunani Kuno bernama Narkissos (bhs Yunani: Narcissus).
Dia adalah seorang yang sangat mencintai dirinya sendiri. Sebegitu rupa sehingga pekerjaannya hanya termenung ditepi kolam sambil menikmati ketampanan wajahnya yang membayang dikolam. Mungkin pada saat itu kaca cermin belum diketemukan.
Karena si Narkissos ini kemudian lalu menjadi lupa kepada tugas dan kewajibannya (selain menikmati ketampanan wajahnya) maka dia dikutuk oleh Dewa. Ketika tangannya mencoba mengusap wajah eloknya yang terpantul dikolam, tiba-tiba dia jatuh tenggelam.
Dari dalam kolam tersebut kemudian muncullah tanaman yang berbunga putih -atau kuning- yang kini disebut sebagai bunga Narsis (Latin: Amarylidaceae).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kita temukan kata narsisisme (dari bhs Inggris: Narcissism) yang disebutkan sebagai:
“1 hal (keadaan) mencintai diri sendiri secara berlebihan, 2 hal atau (keadaan) mempunyai kecenderungan (keinginan) seksual dengan diri sendiri”.

Ketika jejaring sosial seperti Facebook (FB) dan Twitter, ‘melanda’ Indonesia, kata “narsis” (potongan dari kata narsisisme) kemudian jadi sangat populer. Hal itu dihubungkan dengan seseorang yang sangat gemar memamerkan gambar atau foto dirinya dalam akun yang ada (terutama) di Facebook  yang sering dipelesetkan dengan kata ‘pesbuk’ oleh para ‘pesbuker’ itu.
Anda punya akun di pesbuk? Bisa jadi anda termasuk orang yang narsis juga.
Tapi tidak usahlah resah dan gelisah. Anda ternyata tidak sendiri.

Pakar psikologi (psikoanalis) Sigmund Freud dan Andrew Morrison juga mengakui bahwa sifat narsisisme secara alamiah ada pada setiap manusia sejak dia dilahirkan.
Hanya kadarnya saja yang berbeda pada setiap orang.
Besar atau kecilnya dipengaruhi oleh lingkungan dan keadaan dimana dia dibesarkan.
Narsisisme dalam kadar yang cukup justru sangat dibutuhkan dalam pergaulan seseorang dengan orang lainnya. Selain akan membentuk self confidence (kepercayaan diri) yang kuat, narsisisme dalam batas normal akan menimbulkan persepsi yang seimbang antara dirinya dengan orang lain. Sifat itu juga akan membentuk ambisi seseorang menjadi lebih baik. Dan itu masih (atau malah) sehat.
Oleh sebab itu apabila anda masih termasuk orang yang punya kadar narsisisme yang normal, anda tak perlu khawatir.
Sesungguhnya manusia secara alamiah dan naluriah memang mempunyai bakat narsis. Bakat untuk mencintai diri sendiri termasuk keluarga dan kerabat terdekatnya.
Bukti bahwa manusia sangat mencintai diri sendiri adalah seperti yang dilakukan oleh si Narkissos. Oleh sebab itu akhirnya namanya yang diabadikan sebagai julukan bagi orang yang suka memuja diri sendiri.
Sebelum cermin ditemukan, manusia memang melihat dirinya dari bayangan yang terpantul dalam air. Setelah itu manusia terus berusaha menemukan alat yang bisa untuk melihat bayangan dirinya sendiri.
Manusia Purba ternyata sudah berusaha membuat alat yang kini disebut sebagai cermin.
Cermin paling kuno ditemukan berasal dari tahun 6000 SM didaerah Anatolia (Turki). Terbuat dari kepingan batu kaca volkanik yg disebut obsidian. Cermin kuno juga sudah ditemukan di Mesopotamia dan Mesir. Semua berasal dari  sekitar tahun 6000 - 4000 SM.Orang Cina pada sekitar tahun 2000 SM menggosok logam sampai sangat mengkilat untuk dijadikan cermin.
Diketahui baru pada sekitar abad ke 9, seorang ilmuwan Muslim bernama Abu Sa'd al-Ala' Ibnu Sahl menulis buku berjudul al-Durra al-Maknuna (Book of hidden pearl, Kitab mutiara yang tersembunyi) yang bisa dianggap sebagai pelopor pembuatan cermin modern.
Bukti lain bahwa manusia sangat mencintai dirinya adalah kenyataan bahwa hampir semua Raja/Ratu yang berkuasa pada jaman dahulu mempunyai pelukis pribadi yang bertugas melukis semua anggota keluarga kerajaan. Tidak heran disemua Istana Raja dimana saja dapat kita temukan lukisan wajah keluarga Istana yang selalu lebih indah dari aslinya.
Beberapa pelukis kerajaan di Eropa yang terkenal diantaranya adalah Michael Angelo dan Leonardo Da Vinci. Indonesia juga pernah mempunyai seorang pelukis naturalis besar yang dipercaya jadi pelukis kerajaan. Nama pelukis tersohor yang bekas rumahnya di jalan Cikini Jakarta kemudian dijadikan RS Cikini itu adalah Raden Saleh.

Menurut sejarahnya, cikal bakal alat foto (kamera) dan fotografi (dari bahasa Yunani: Phos: cahaya dan graphein: tulisan atau gambar) sudah ditemukan sekitar abad 9 - 10 Masehi. Waktu itu seorang ilmuwan Muslim bernama Abu Ali al-Hasan Ibnu al-Haitham (965 - 1039 M) telah menulis buku berjudul  Kitab al-Manazir (Buku Optik). Al-Haithamlah yang disebut telah menemukan sebuah alat yang bisa mengambil gambar yang disebut sebagai camera obscura (camera = kamar, obscura = gelap).
Baru sekitar abad 16 M kamera foto disempurnakan oleh Giovani Battista Della Porta (1534-1615 M). Penemuan alat optik dan fotografi ini jelas menunjukkan usaha manusia untuk menemukan sebuah alat yang bisa untuk mengabadikan (terutama adalah) dirinya sendiri.
Walaupun kelak kemudian hari juga terbukti berguna untuk memotret obyek yang lain.
Bakat mencintai diri sendiri (yang kemudian disebut sebagai narsis) itu memerlukan ‘keran pelepasan’ atau pelampiasan yang baik dan benar, sepanjang itu tidak berlebihan sehingga sampai mengganggu orang lain.
Melampiaskan bakat narsis seseorang melalui jejaring sosial seperti facebook dan twitter atau didalam blog maupun website pribadi adalah sesuatu yang wajar dan tidak perlu dipersoalkan.
Jadi, silakan saja meng upload  foto diri atau keluarga anda sepuasnya di akun jejaring sosial yang anda miliki.  Yang perlu anda khawatirkan adalah jika anda malah cenderung berkembang menjadi sosok pribadi yang tidak suka menonjolkan diri, tertutup (introvert) dan menutup pergaulan dengan orang lain. Bahkan jika mempunyai akun jejaring sosialpun, orang yang 'tertutup' akan menyembunyikan data dirinya atau bahkan foto dirinya.
Itu artinya secara sengaja dia ‘membunuh’ sendiri sifat narsisisme yang ada pada dirinya dengan cara yang tidak normal. Entah dengan alasan apa.
Mudah-mudahan bukan karena dia merasa sebagai sang “itik buruk rupa”.

Satu hal lagi yang perlu diketahui, apabila sifat narsisisme tumbuh secara berlebihan, maka hal tersebut sudah merupakan sesuatu yang tidak sehat atau bahkan cenderung merusak.
Narsisisme yang berlebihan dapat berubah menjadi kelainan kepribadian yang bersifat patologis.
Kelainan kepribadian yang biasa juga disebut sebagai deviasi atau penyimpangan kepribadian adalah istilah umum untuk jenis penyakit mental yang diderita oleh seorang manusia.
Cirinya adalah, pola berpikir (mindset) dan cara memahami situasi serta kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain yang tidak berfungsi secara normal.
Kondisi itu membuat seseorang memiliki sifat negatip, seperti selalu merasa paling pandai, paling jago, paling tampan atau cantik dan merasa paling mampu mendapatkan perhatian dari orang lain.
Dia juga sangat mencintai diri sendiri sehingga bisa  cenderung menjadi seorang yang tidak pernah menghargai orang lain. Merasa paling super. Itu kata tepatnya.
Padahal Superman sendiri konon dalam kisahnya malah tidak pernah merasa sebagai seorang yang super.
Entah kalau Suparman. Hehehe...yang namanya Mas Parman jangan tersinggung ya? Just joke man!
Yang terparah, hal tersebut akan membentuk seseorang menjadi manusia “megalomania”. Yaitu seseorang yang mempunyai penyimpangan atau kelainan jiwa  dengan ditandai oleh sifatnya yang suka membayangkan atau bahkan mengekspresikan diri seolah dia adalah orang yang paling “besar” dan paling berkuasa.
Celakanya, sifat narsisisme dalam takaran berlebih yang cenderung negatip itu sekarang justru banyak kita temui dalam diri para Pejabat dan atau Pemimpin dinegeri ini.
Dimanapun tampil, dia akan selalu menjaga 'image'  (istilah abegenya "ja'im") sekaligus sembari melakukan “tebar pesona”.
Sering ‘curhat’ untuk mendapatkan belas kasihan dan rasa iba dari orang lain termasuk dalam narsisisme yang menyimpang itu.
Perilaku yang dia anggap ‘biasa dan wajar saja’ itu justru merupakan perilaku menyedihkan, karena sesungguhnya dia tidak mampu menjalankan perannya dalam menjalin hubungan dengan orang lain.
Dimana-mana si penderita narsisis negatip ini akan selalu menyombongkan kehebatan pribadinya.
Penderita penyimpangan perilaku ini biasanya juga "soliter" (menyendiri). Nyaris tak punya teman,  karena sungguh tidak mudah berteman dengan orang yang selalu mengagungkan diri sendiri itu.
Menurut perasaannya, tak ada seorangpun manusia dibumi ini yang mampu melebihi kehebatan dirinya.
Dia tidak akan bisa menjadi seorang pendengar atau pemerhati yang baik. Karena akan terus saja mengkritik orang lain sambil berusaha meminta perhatian  agar mengelu-elukan kehadirannya sebagai orang yang paling "TOP" disegala bidang. Dimanapun dia berada!
Nah. Dengan tanpa bermaksud merendahkan martabat seseorang, sesungguhnyalah  orang-orang (yang mengidap narsisisme negatip) seperti itulah yang berhak dicap sebagai kaum “NARSIS SEJATI”.  
Wallahu a’lam.

Walaupun apa yang saya tulis serba dangkal karena saya jelas bukan seorang pakar psikoanalisa, saya tetap berharap semoga dengan materi yang saya ambil dari beberapa sumber ini tidak lagi menjadikan anda khawatir berlebihan apabila ada orang lain yang tega menuduh anda sebagai seorang yang “narsis”.
Biarkan saja. Anda masih normal koq. Dan masih banyak temannya.

So what geeetu lhoooooh……

Sabtu, 03 September 2011

"MENGANTAR KETURUNAN 'WONG JOWO' KELILING TANAH JAWA..."


Tulisan lepas:



Pak Ardjosemito dan saya di Tanah Lot


 released by mastonie on Saturday, September 3, 2011 at 2.55pm


Tamu dari Suriname mulai berdatangan…

Dua tahun setelah kunjungan Menko Kesra Soepardjo Roestam ke Suriname (pada tahun 1990), mulailah berdatangan tamu-tamu dari negeri “wong Jowo” yang terbuang itu.
Memang sebelum kembali ke tanah air,  Pak Pardjo berkenan mengundang siapa saja (warga Suriname) yang berminat pergi ke Indonesia. Terutama bagi mereka yang ingin mencari sanak saudaranya yang sudah terpisah nyaris satu abad. Juga bagi para pekerja seni yang ingin lebih memperdalam kesenian Jawa yang sangat populer di Suriname.
Pak Pardjo sangat tersentuh dengan sikap warga Negara Suriname keturunan Jawa yang begitu teguh memegang adat istiadat. Mereka juga terlihat sangat teguh “nguri-uri” (memelihara) budaya nenek moyang mereka yang berasal dari Jawa.
Secara pribadi, Pak Pardjo pasti masih ingat kemampuan saya sebagai petugas Protokol Gubernur yang dulu sangat sering mengatur acara kunjungan tamu Gubernur dari luar negeri. Atau mungkin juga karena saya termasuk dalam rombongan Delegasi Indonesia yang ikut pergi ke Suriname,   maka ketika para tamu pribadi Menko Kesra datang silih berganti ke Indonesia, beliau memberikan tugas khusus kepada saya untuk mendampingi dan melayani tak kurang dari tiga orang diantara tamu-tamu tersebut.


Dolar Amerika terselip dalam surat .....

Tamu yang pertama kali datang adalah seorang wiraswasta atau pengusaha Suriname, yang berdarah campuran Jawa dan Cina. Namanya Michael Liem. Dia sangat tertarik untuk bisa menjalin kerjasama dagang dengan pengusaha Indonesia. Utamanya dibidang agrobisnis.
Karena Pak Pardjo pernah menjabat Gubernur Jawa Tengah dua periode, maka beliau jelas sangat menguasai situasi perekonomian dan perdagangan di Jawa Tengah. Tidak heran beliau secara khusus meminta saya untuk membawa Pak Michael keliling ke beberapa kota di Provinsi yang pernah menjadi daerah ‘kekuasaannya’ itu.
Beberapa Kabupaten yang memiliki perkebunan dipilih oleh Pak Pardjo, antara lain Banyumas, Wonosobo dan Magelang. Setelah itu baru Solo dan Yogyakarta yang merupakan pusat kebudayaan dan kesenian Jawa.
Seperti kebanyakan Warga Negara Suriname, Pak Michael hanya menguasai bahasa Inggris, Belanda dan sedikit bahasa Jawa kasar. Oleh sebab itu saya harus bekerja rangkap. Sebagai pengatur acara, guide sekaligus sebagai penerjemah. Kecuali apabila disuatu daerah sudah ada petugas penerjemahnya.
Kebun Karet, Teh, Tembakau yang terletak di Banyumas dan Wonosobo menjadi sasaran utama kunjungannya. Bahkan perkebunan Anggrek di Magelang serta peternakan sapi dan kambing maupun kolam budi daya ikan air tawar termasuk yang dilihatnya secara detil dan teliti. Sehabis itu baru minta diantar ke kota Solo dan Yogyakarta.
Pak Pardjo sangat memperhatikan tamunya. Semua biaya transportasi dan akomodasi ditanggung oleh kantor Menko Kesra. Hanya biaya makan dan minum diluar hotel yang dibayar sendiri oleh Pak Michael. Termasuk tip dan honor para pengemudi mobil dinas milik Pemda Jawa Tengah yang kita pakai untuk keliling. Sebagai seorang pengusaha besar (di Suriname dan Belanda) tentu biaya yang harus dikeluarkannya selama berada di Indonesia jadi tidak terlalu besar.
Oleh karena itu tidak heran kalau Pak Michael senang sekali selama berkunjung ketanah kelahiran nenek moyangnya.
Mungkin karena dia bisa berhemat sangat banyak, sebelum pulang ke Suriname Pak Michael mengajak saya ke Blok M Plaza untuk berbelanja perhiasan sebagai oleh-oleh buat isteri dan keluarganya.
Beberapa bulan kemudian dengan suka cita  dia mengirimkan surat tercatat lewat pos kepada saya. Yang mengagetkan, didalam surat tersebut diselipkannya beberapa lembar dolar Amerika sebagai ucapan terima kasih. Ini jelas bukan 'sogokan', apalagi upeti.......

Bertemunya sebuah keluarga yang terpisah nyaris seabad lamanya…..

Tamu kedua adalah seorang mantan Ketua Parlemen Suriname yang asli keturunan Jawa. Namanya saja sangat khas nama ‘wong ndeso’, pendek tapi bermakna: “Kaiman”. Nama yang mengingatkan saya pada nama orang kebanyakan di Jawa, Paiman. Tapi ternyata Kaiman mempunyai arti ‘buaya’ (dari bahasa Inggris: Cayman).
Pak Kaiman seorang pria setengah umur yang sangat kekar, berkulit gelap, ramah dan sungguh masih berwajah sangat “nJawani”.
Seperti Pak Michael, dia juga pandai bicara bahasa Belanda dan Inggris. Tapi penguasaan bahasa Jawa nya sangat bagus. Walaupun bahasa Jawa ‘ngoko’ (kasar).
Saya terpaksa menyesuaikan diri ikut ‘ngoko’, walaupun merasa risih, karena usia Pak Kaiman jauh lebih tua dari saya. Saya biasa bicara bahasa Jawa ‘Krama’ (halus) kalau berhadapan dengan para pinisepuh. Apa boleh buat, karena kalau saya pakai bahasa ‘krama’, Pak Kaiman malah tidak ‘mudheng’ (faham).
Berbeda dari Pak Michael yang bertujuan dagang, Pak Kaiman secara khusus datang ke Jawa untuk menelusuri dan mencari sanak saudaranya yang ada di tanah Jawa. Salah satunya konon berada dikota Semarang. Selama ini ternyata telah terjalin korespondensi antara dia dan saudaranya itu. Tidak heran pak Kaiman bisa menyebutkan alamat saudaranya dengan jelas. Kebetulan saya juga lama hidup dikota Semarang, sehingga tak terlalu susah menemukan alamat tersebut.
Menyaksikan pertemuan sebuah keluarga yang terpisah jarak dan waktu sedemikian jauh membuat saya sangat trenyuh. Puluhan tahun bahkan nyaris seabad keluarga itu telah terpisah atau dipisahkan dengan paksa. Kini mereka juga terpisah jarak yang terentang ratusan ribu kilometer. Bahkan sekalipun ditempuh dengan pesawat terbang, jarak sejauh itu tetap butuh waktu tempuh sekitar 30 jam!
Tak terasa air mata saya menetes dipelupuk mata. Sungguh sebuah peristiwa yang sangat mengharukan sekaligus membahagiakan.

Mantan Menteri yang sederhana dan merakyat

Pak Pardjo & Pak Ardjosemito
Pak Ardjosemito adalah Mantan Menteri Pertanian Suriname. Pria gagah berkulit gelap dan berkumis tipis yang terkesan masih muda ini menjadi tamu ketiga Pak Pardjo. Datang dibulan September, dua tahun tepat setelah kunjungan Pak Pardjo beserta rombongan ke Suriname pada bulan September tahun 1990 silam.
Kali ini saya mengajak isteri saya ikut mendampingi tamu kehormatan Menko Kesra itu.
Selain studi banding masalah pertanian di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Pak Ardjo juga minta diantar bertamasya ke Pulau Dewata.
Sisa keramah tamahan khas ‘wong Jowo’ masih tampak jelas pada diri Pak Ardjo. Banyak senyum dan tertawa lepas. Sekalipun fasih berbahasa Belanda dan Inggris, dia selalu bicara bahasa Jawa ngoko dengan saya dan isteri. Demikian pula dengan orang-orang yang dijumpainya dimana saja. Walaupun orang kadang heran ada orang yang enak saja bicara ngoko kepada orang yang lebih tua. Maklum Pak Ardjo juga tidak faham bahasa Jawa ‘krama’. Hanya dengan Pak Pardjo dia “Holland spreken” (bicara dengan bahasa Belanda).
Warga Suriname memang rata-rata tidak faham bahasa Jawa ‘krama’ (halus). Apalagi bahasa Indonesia. Oleh sebab itu yang mereka sukai hanya lagu-lagu dan penyanyi yang senang menyanyikan lagu berbahasa Jawa. Waljinah, Mus Mulyadi, Eddy Silitonga (saat ini juga kondang si Didi Kempot) adalah para penyanyi pujaan ‘wong Jowo’ di Suriname.
Ada sebuah peristiwa yang unik. Sewaktu Pak Ardjo saya dampingi berkunjung ke Yogyakarta, TVRI Stasiun Yogya sempat meminta waktu untuk mengadakan siaran langsung wawancara dengan beliau.
Sangat menarik ada seorang ‘turis asing’ yang berasal dari luar negeri diwawancarai dengan memakai bahasa Jawa. Ngoko lagi. Tapi pemirsa tidak heran karena wajah Pak Ardjo memang tipe wajah orang Jawa kebanyakan. Bahkan tipe wajah petani atau buruh kasar. Dengan tenang, sambil tersenyum-senyum penuh percaya diri, Pak Ardjo menjawab semua pertanyaan dengan bahasa Jawa ngoko. Tanpa ragu sedikitpun!

Sebagai tamu resmi Menko Kesra, di Bali Pak Ardjo disambut secara resmi pula.
Gubernur Bali khusus memberi perintah kepada Bapak I Gede Ardhika, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali untuk menyambut dan mendampingi Pak Ardjosemito selama berada di Pulau Dewata.
Tentu saja saya beserta isteri turut menikmati ‘penghormatan’ sebagai tamu resmi Pemerintah Bali. Saat itu tak pernah sekalipun saya mengira, kelak kemudian hari Pak I Gede Ardhika akan naik jabatan menjadi Menteri Pariwisata di Kabinetnya Presiden Megawati!
Hampir semua ‘point of interest’ di Pulau Kahyangan masuk dalam acara kunjungan Pak Ardjo. Dari Tanah Lot, Sangeh, Ubud, Sukawati, Besakih, sampai ke danau Bedugul dan danau Batur serta desa Trunyan dimana terletak makam yang tulang belulangnya dibiarkan berserakan. Kelihatan sekali bahwa Pak Ardjo sangat terkesan.

Tapi yang sangat mengggembirakan dan mungkin tak terlupakan bagi Pak Ardjo (tentu juga bagi saya dan isteri saya) adalah jamuan makan malam resmi yang dilengkapi sajian tarian Kecak dengan lakon “Calon Arang” yang sangat mengagumkan itu.

Setelah kedatangan Pak Ardjosemito, masih ada beberapa lagi tamu resmi Menko Kesra yang datang dari Suriname. Akan tetapi tak perlu saya antar karena mereka bermaksud (diantaranya) memperdalam ‘ilmu’ memainkan gamelan dan mendalang.

Keturunan ‘Wong Jowo’ di Suriname memang sangat memegang teguh dan kukuh ‘nguri-uri’ kesenian dan kebudayaan leluhurnya yang berasal dari tanah Jawa.