Kamis, 11 Agustus 2011

"ANEKA BOGA PENGGUGAH SELERA" ( 4 )

Tulisan bersambung: 


(Catatan tentang kuliner dari yang biasa sampai yang “aeng-aeng”)
-Bahan dan foto dari berbagai sumber-


Bagian Keempat


 Pecel Pincuk


Yang sehat bergizi belum tentu disukai…….

     Kalau tidak salah ingat, pelajaran tentang makanan “Empat sehat Lima sempurna” sudah saya dapatkan sejak kelas 3 SR (Sekolah Rakyat, kini SD).

Waktu itu setiap hari para murid sekolah rakyat mendapat jatah minum susu bantuan dari Unicef. Dibagikan oleh para guru dengan memakai cangkir yang ada logo dua tangan bersalaman.
Konon itu untuk mendukung program “Lima Sempurna”.
Saya selalu minum susu jatah itu dengan amat sangat terpaksa. Soalnya sejak kecil saya sangat tidak suka minum susu. Makan sayurpun saya sangat jarang.
Seperti sudah saya ceritakan (pada kisah tentang nasi goreng), sejak kecil saya pecinta berat nasi goreng.

     Kedua orang tua saya sama sama bekerja, jadi sehari-hari saya hanya dilayani oleh pembantu. Permintaan saya untuk makan nasi goreng selalu dituruti, daripada saya tidak mau makan. Saya makan sayur hanya pada hari Minggu, kalau Ibu sedang ada dirumah. Itupun hanya sayur bening atau sayur lodeh yang disajikan pada waktu makan siang atau malam. Untuk makan pagi saya tetap minta dibuatkan nasi goreng.
Oleh sebab itu saya tumbuh sebagai anak yang berbadan kurus.
Mungkin (atau barangkali malah pasti) saya kurang gizi.
     Saya yakin tidak semua orang tua bisa dengan mudah mendidik anaknya makan sayuran sejak dini. Apalagi kalau keduanya sama-sama sibuk bekerja, sehingga anak ditinggal dalam asuhan para pembantu.
Makanan yang disajikan oleh pembantu tentu yang bisa disiapkan dalam waktu singkat. Mi instan, misalnya. Walaupun tentu ada juga pengecualiannya.
Itu sebabnya banyak generasi muda sekarang yang tidak suka makan sayuran.

     Mari kita tengok sebentar kebelakang. Mengapa generasi kakek nenek kita dahulu lebih tahan serangan penyakit dan rata-rata lebih panjang usianya? Salah satu alasan diantaranya adalah karena mereka selalu menyantap makanan berserat, yaitu sayuran. Waktu itu jelas belum ada atau masih jarang makanan siap saji (instan) seperti sekarang.

     Sayuran apa yang memenuhi kriteria untuk mewujudkan menu “4 Sehat? Banyak sekali.
Daftar dibawah ini adalah contoh beberapa sayuran yang pada umumnya sangat murah dan mudah didapat, baik ditukang sayur maupun dipasar tradisional apalagi di pasar super dan pasar ‘hyper’:  
-Bayam (amaranthus tricolor), daunnya mengandung protein tinggi, zat besi, kalsium dan karoten serta asam amino metionina dan lisina.
-Kacang panjang (vigna sinensis), yang mengandung tepung sampai 58% dan protein 24% serta 1% lemak.
-Kacang tolo (Vigna unguiculata), mengandung protein dan minyak.
-Kacang merah (vicia faba), banyak mengandung folat (vitB9), vitamin B1, K, fosfor, mangan,protein, magnesium, potasium dan tembaga.
-Jagung (zea mays), yang mengandung kalium, gula, alkalida dan vitamin E.
-Kangkung (ipomoca aquatica) yang merupakan sumber mineral dan zat besi.
-Kol atau kubis (brassica oleracea) mengandung vitamin A,B dan C serta lemak.
-Tomat (lycopersicon esculentum), kaya vitamin A, B dan C selain zat solanin dan saponin (khususnya tomat hijau).  
-Tauge atau kecambah yang dibuat dari biji kacang hijau (phaseolus radiatus) konon bisa menunjang kesuburan.
-Lobak (raphanus sativus) yang daun dan buahnya mengandung glikosida.
-Kentang (sonalum tuberasum), umbinya mengandung vitamin C, tiamin dan riboflavin serta mineral seperti besi, kalsium, magnesium, fosfat, kalium dan belerang. Disamping itu kentang juga mengandung banyak air, karbohidrat dan protein.

     Sesungguhnya nenek moyang kita dulu faham betul dengan manfaat yang diperoleh dari mengkonsumsi sayuran.
Buktinya hampir setiap daerah di Indonesia mempunyai masakan khusus yang terbuat dari paduan beberapa macam sayuran.
Di Jawa Tengah dan Jawa Timur ada pecel dan urap.
Di Jawa Barat ada karedok dan di Jakarta ada Gado-gado.
Di daerah lain pasti ada juga makanan yang unsur utamanya sayuran.
Pecel, karedok dan gado-gado memakai bumbu terbuat dari kacang tanah (arachis hypogea) yang mengandung 59% minyak dan 34% protein. Urap memakai bumbu parutan kelapa (cocos nucifera) yang kaya lemak.

Pecel sudah terkenal namanya dimana-mana.
Tapi entah mengapa yang paling terkenal adalah “Pecel Madiun”. Nama ini sudah nyaris menyamai legenda “GudegYogya”.
Pada dasarnya sayuran untuk bahan pecel hampir sama: Kangkung, bayam, kacang panjang, tauge. Ada yang menambah dengan mlandingan (lamtoro), bunga turi, daun singkong dan atau daun papaya. Tergantung selera.
Semua sayuran direbus, kemudian dihidangkan dengan diberi bumbu pecel.
Bahan dari bumbu pecel adalah: kacang tanah yang digoreng atau disangrai, cabe merah dan cabe rawit (sesuai selera), daun jeruk, bawang putih, kencur, asem jawa, gula merah, terasi, garam dan perasan air jeruk limau. Semua bahan tersebut diuleg jadi satu (atau ditumbuk kalau jumlahnya banyak, atau dengan memakai blender).
Setelah bahan tercampur rata baru dituangi air hangat secukupnya.
Ada pula yang memakai cara dengan dimasak sampai keluar minyaknya.
Kini terbentuklah adonan setengah encer yang nyooooossssss…rasanya.
Pecel Madiun terkenal memakai bumbu yang sangat enak tapi…..juga sangat pedas!!!
     Di Jakarta ada warung Pecel Pincuk Madiun yang sangat enak. Tempatnya di area parkir depan Taman Pahlawan Nasional Kalibata.Disitu tersedia pecel, urap,  sambel tumpang dan 'teman-teman' nya yang semua berbahan dasar sayuran.
 
     Bahan sayuran untuk membuat ‘Urap” sama dengan pecel. Yang membedakan hanya bumbunya.
Bumbu urap terdiri dari: parutan kelapa muda yang sudah dikukus,  cabai merah dan rawit, gula merah, terasi, garam, bawang merah dan putih. Cabai dan kawan kawannya dihaluskan, kemudian campur dengan parutan kelapa. Disajikan dengan cara mencampur rata sayuran dan bumbunya.
Masyarakat kita terkenal sangat pandai ber improvisasi dalam hal memasak, oleh karena itu masih banyak menu pecel dan urap dibeberapa daerah yang  terkena 'modifikasi'.
     Ditanah Pasundan (Jawa Barat) lain lagi ceritanya. Orang Sunda terkenal suka sekali makan lalap yang terdiri dari daun-daunan. Konon hanya daun jendela, daun pintu dan daun telinga saja yang tidak dijadikan lalapan.
Mereka juga suka sayuran yang ‘fresh from the garden’.
Artinya lebih suka makan sayuran tanpa dimasak lebih dahulu.
Oleh sebab itu orang Sunda punya “Karedok”.
Sayuran untuk membuat karedok hampir sama saja dengan yang untuk membuat pecel.
Bedanya, sayuran untuk karedok dibiarkan mentah tanpa dimasak lebih dahulu.
Adapun bumbu karedok nyaris sama benar dengan bumbu pecel.
Entah siapa meniru siapa.
Sama sulitnya dengan teka teki kuno: lebih dahulu mana telur dengan ayam.
Yang jelas rasa karedok memang lebih segar, karena kencur yang dipakai untuk bahan bumbu lebih banyak dan masih ditambah pula dengan daun kemangi yang dari namanya saja sudah jelas bikin wangi.

Nah, orang Betawi lain lagi ceritenye.
Mereka juga punya menu sayuran yang mirip dengan pecel, tapi ditambah dengan tahu atau tempe plus telur rebus. Mungkin karena sayuran ditambah bukan sayuran, maka menu itu mereka namakan “Gado-gado”. Barangkali lho. Namanya juga cuma nebak.
Bahan sayuran untuk gado-gado juga mirip dengan bahan untuk pecel. Tapi orang Betawi rupanya sangat suka buah paria (Jw: Pare, Lat: momordica charantial).
Jadi selain kangkung, bayam, tauge dan daun singkong atau daun papaya, hampir pasti selalu ada paria, yang menurut sebagian orang rasanya pahit itu. Semua bahan direbus.
Telur ayam (bebek)nya juga direbus. Hanya tempe atau tahu saja yang digoreng.
Bumbu gado-gado juga sangat mirip bumbu pecel tapi ada yang ditambah dengan santan kental, lalu dimasak sampai keluar minyaknya.
Gado-gado disajikan dengan tambahan kerupuk udang atau kerupuk warna warni khas Betawi atau emping melinjo.

     Di Jakarta ada sebuah warung gado-gado yang namanya sangat melegenda, yaitu “Gado-gado Boplo”. Saking terkenalnya, kini warung kecil diujung jalan didaerah Boplo itu sudah berkembang pesat menjadi beberapa buah restoran megah.
Menu yang dihidangkan pun sudah makin bervariasi. Tidak melulu menjual gado-gado.


bersambung….

Selasa, 09 Agustus 2011

"ANEKA BOGA PENGGUGAH SELERA" ( 3 )

Tulisan bersambung:

(Catatan tentang kuliner dari yang biasa sampai yang “aeng-aeng”)
-Bahan dan foto dari berbagai sumber-


Bagian Ketiga

Bubur Kacang Hijau


Kisah “Panji Klanthung” dan bubur kacang hijau di ibukota…..

     Awal tahun 70-an ketika belum mendapat seorangpun ‘sponsor’ yang mau membayar uang kuliah saya di Perguruan Tinggi, maka saya sering ‘lari’ ke ibukota.
Ada seorang paman saya yang sudah lama tinggal di Jakarta dan menjadi guru SMA.
Sebagai seorang “Panji Klanthung” (lontang lantung, pengangguran), tak banyak yang saya kerjakan di Ibukota Republik yang konon lebih kejam dari Ibu Tiri itu. Paling-paling jalan-jalan melihat keindahan kota (yang waktu itu) terbesar dan termegah se Indonesia. Saya betul-betul jalan dalam arti yang sesungguhnya. Karena cekak nya uang yang ada dalam saku saya. Jadi jangan heran kalau saya pernah berjalan kaki dari Lapangan Monumen Nasional sampai Jalan Radio Dalam, dimana paman saya mengontrak rumah. Waktu itu Jalan Soedirman-Thamrin masih berupa jalan besar dua jalur yang kiri kanannya rindang dengan pepohonan besar. Cukup teduh bagi para pejalan kaki.
Sesampai di bundaran CSW dekat kantor Kejaksaan Agung saya menuju pasar Mayestik untuk beristirahat sejenak sebelum jalan lagi melewati Jl. KH. Ahmad Dahlan terus ke Radio Dalam. Di Pasar Mayestik inilah saya punya langganan penjual bubur kacang hijau dan ketan hitam

Semangkok bubur kacang hijau campur ketan hitam itu sudah cukup membuat perut saya kenyang. Biasanya dapat ekstra segelas air teh tawar gratis.
Seingat saya pada tahun 70-an itu, yang dominan ‘menghias’ pasar Mayestik dan nyaris disemua pinggir jalan (kaki lima) adalah para pedagang bubur kacang hijau dan ketan hitam. Saya tidak melihat ada seorangpun penjual bubur ayam. Tidak ada juga penjual bubur ayam yang keliling keluar masuk kampung.



Makan Sabu (Nyabu) siapa takuuut……?

     Awal tahun 1983 saya alih tugas mengikuti seorang Pejabat Tinggi Negara ke sebuah Departemen di Jakarta. Untuk sementara saya mondok di Jl. Dharmawangsa yang dekat dengan Pasar Blok A dan juga Blok M. Kalau sedang tidak berdinas, saya suka jalan-jalan (kini dengan naik Bajaj) ke Blok M. Disitu saya melihat masih banyak juga penjual bubur kacang hijau dan ketan hitam. Sekarang menunya bertambah dengan roti bakar. Tentu saja kenangan nostalgia makan bubur kacang hijau membersit dalam relung hati.
     Saya sudah tidak ingat dengan pasti dimana letaknya, waktu tiba-tiba saya menemukan sebuah warung yang menjual bubur ayam. Tapi masih dikawasan Blok M itulah adanya. Bubur ayam? Itulah pertanyaan yang menggelayuti pikiran saya. Makanan macam apa pula itu. Terus terang tapi tidak terang terus, saya masih merasa asing dengan nama bubur yang satu ini.
Waktu masih tinggal di Semarang saya hanya mengenal bubur merah putih, bubur sumsum atau bubur candil. Tentu juga bubur kacang hijau dan ketan hitam.
Tapi yang paling terkenal di Semarang pastilah Soto Ayam, bukan bubur ayam.

     Rasa penasaran itulah yang membuat saya ingin mencoba merasakan sendiri apa dan bagaimana si bubur ayam itu gerangan. Barangkali bubur yang dimasak dengan kaldu dan daging ayam, begitu perkiraan saya.
Memakai mangkuk yang lebih besar dari mangkuk Soto Kudus, bubur yang disodorkan kemuka saya itu masih mengepul uapnya. Buburnya sendiri hanya tampak samar-samar karena permukaannya dipenuhi dengan sayatan daging ayam, cakwe, potongan daun seledri dan krupuk warna warni. Dimeja tersedia kecap dan sambal botol tanpa merek.
Ternyata buburnya memang masih panas sekali. Jadi untuk mengurangi rasa panas, alih-alih meniup dengan mulut, saya putuskan saja ‘mengublak’ (mengaduk jadi satu) semua yang ada dalam mangkuk itu. Hmmmm…aromanya lumayan juga…dan setelah mengambil satu suapan, wooooo…it’s not bad man!!
Lumayan juga nih bubur. Rasa gurih bubur dan sayatan daging ayam bercampur dengan rasa asin cakwenya serta rasa pedas sambal membuat sensasi rasa yang seperti iklan permen Nano-nano. Cuma tidak ada rasa asemnya saja.
     Sejak itu saya sering jajan bubur ayam. Tidak hanya di satu tempat.
Entah bagaimana dari tahun ketahun kedai bubur ayam makin menjamur diseantero Ibukota. Bahkan ada yang berkeliling dari kampung kekampung. Rupanya Jakarta sudah terkena wabah bubur ayam. Saya sampai hafal beberapa tempat yang bubur ayamnya recommended dari mulut kemulut. 

Salah satu diantaranya yang mangkal pagi hari di dekat TPU Karet. Penjualnya seorang laki-laki asal Puerto Rico, eh, maksud saya, Purwokerto. Sayangnya dia hanya buka pagi hari saat orang-orang berangkat ke kantor saja. Kadang-kadang saking banyaknya pembeli, jam 8 pagi saja gerobaknya sudah bersih. Rasa buburnya sendiri memang nyooossss.... Dia hanya mengandalkan rasa bubur asli tanpa tambahan kuah apapun. Paling-paling hanya ditambah kecap saja.
Tapi justru itu yang membuat orang balik dan balik lagi. 

Ada satu lagi warung bubur ayam istimewa yang mangkal di Jalan Tanjung. Mentang-mentang jualan didaerah elite yang dekat dengan rumah Klan Soeharto di Jalan Cendana, maka hampir semua pembelinya naik mobil. Yang naik sepeda motor bisa dihitung dengan jari. Yang naik sepeda onthel atau berjalan kaki pasti hanya para pembantu sekitar daerah itu yang diutus majikannya untuk cari sarapan.
Bubur ayam sekarang sudah jadi makanan para elite.
Apalagi ketika penyanyi dangdut rock Alam (yang adiknya Vetty Vera) mempopulerkan lagu “Nyabu”.
Orang sudah tidak takut lagi Nyabu alias NYArap BUbur.


Belum ke Manado kalau belum nyoba 3 (tiga) B…….

     Sekitar pertengahan tahun 1984, saya berkesempatan ikut kunjungan kerja ke ibukota Provinsi Sulawesi Utara. Ini untuk pertama kalinya saya datang ke Menado atau Manado. Kotanya bersih dan asri. Penduduknya selalu tampil perlente. Baik laki-laki apalagi kaum hawa nya. Mereka semua senang tampil dengan pakaian bagus berikut perhiasan yang bagus pula. Pria Menado biasanya memakai jam tangan merk terkenal yang berwarna emas. Saya tidak tahu pasti apakah jam tangan itu asli atau aspal.
Satu lagi yang menjadi catatan saya, orang Menado rata-rata suka menyanyi dan pandai 'ajojing' (berdansa). Budaya peninggalan kolonial tampak jelas masih membekas. Terlihat dari banyaknya penduduk yang masih fasih berbahasa Belanda.
     Ada pemeo miring tentang Menado. Anda belum dianggap pernah berkunjung ke Menado kalau belum melakukan 3  (tiga) B. Apakah gerangan itu?
B yang pertama Bunaken. Ini adalah taman bawah laut yang sangat indah. Setara dengan the Great Barierre Reef di perairan Australia. Di Bunaken ini anda bisa melakukan Scuba Diving, menyelam dengan peralatan selam (scuba) untuk melihat keindahan taman bawah lautnya. Atau bagi yang tidak pandai berenang, anda bisa menyewa perahu Catamaran (perahu yang punya dek ganda). Dek bawahnya terbuat dari kaca tembus pandang untuk melihat pemandangan bawah laut cukup dari atas perahu saja.

B yang kedua adalah Bubur Menado, ini jelas nama makanan yang oleh orang setempat disebut dengan Tinutu’an. Bubur Menado sangat khas, sangat lezat dan sehat.
Terbuat dari campuran beberapa sayuran, diantaranya jagung manis, kemangi, daun katuk, bayam atau kangkung ditambah dengan ubi jalar, labu kuning atau kentang. Memakai bumbu jahe, sereh dan daun kunyit yang dipotong-potong, membuat aromanya sangat khas. Belum lagi ditambah aroma wangi dari daun kemangi. Setelah masak disajikan dengan ikan Roa (ikan khas Menado) yang diasinkan dan sambel terasi yang rasanya biasanya sangat pedas.
B yang terakhir mungkin hanya guyonan orang saja. 
Tapi kalau kebetulan anda bisa merasakannya juga tidak ada salahnya, mungkin malah beruntung karena B yang ini adalah Bibir Menado.  
Hahahaha…just joke bung.


bersambung…..

"ANEKA BOGA PENGGUGAH SELERA" ( 2 )

Tulisan bersambung:


(Catatan tentang kuliner dari yang biasa sampai yang “aeng-aeng”)
-Bahan dan foto dari berbagai sumber-


Bagian Kedua

Nasi Goreng

"Geef mij maar Nasi Goreng................"
("Beri saya nasi goreng", cuplikan lagu berbahasa Belanda oleh Anneke G)


Dari nasgor rumahan, nasgor kelas dunia sampai nasi campur apa saja……

     Almarhumah nenek dan ibu saya punya resep nasi goreng yang (menurut lidah saya) paling uenak sedunia. Itu sebabnya saya tumbuh menjadi seorang ‘pecinta nasgor sejati’. Padahal setahu saya rahasianya sederhana, yaitu bumbu nasi goreng  seperti biasa: cabe, tomat, bawang putih dan bawang merah ditambah dengan terasi (belacan) dan garam atau kecap (jika anda suka) secukupnya.
Konon terasi inilah yang membuat rasa nasi goreng menjadi semakin sedap.
     Satu hal lagi yang saya perhatikan, nasinya harus ‘pera’ (tidak lembek) dan tidak boleh nasi yang baru matang. Lebih bagus nasi yang sudah ‘menginap’ setidaknya semalam, asal belum sampai basi. Setelah itu nasi plus bumbunya harus digoreng dengan memakai minyak ‘jelantah’ (minyak kelapa yang sudah bekas pakai). Itu saja.
Tapi barangkali faktor tangan yang ‘mengulek’ bumbu ikut berpengaruh juga. Siapa tahu?

     Semenjak kelas 2 SMP saya hidup ‘ngenger’ dirumah Simbah Kakung dan Putri. Nasi goreng (tanpa telor) pun sudah merupakan hidangan paling mewah yang bisa saya nikmati. Sayapun sudah mulai belajar membuat nasi goreng sendiri. Kadang saya harus main improvisasi, menyesuaikan dengan bumbu yang bisa saya dapatkan di dapur.

Nasgor Kampung
Oleh sebab itu ketika saya sudah bisa mencari uang sendiri, kalau masuk ke warung atau restoran, yang saya pesan pasti nasi goreng.
Saya seperti tak pernah bosan dengan menu yang satu itu.
Dikota Semarang ada penjual "Nasi Goreng Babat" yang membuat saya 'kedanan' (tergila-gila). Warungnya terletak didekat Jembatan Kali Mberok, disebelah 'Gedung Papak'. Disitulah anda bisa memesan nasi goreng yang dicampur jerohan sapi sesuka anda. Ada Babat, usus, paru, limpa dan lain-lain. Telurnya bisa dicampur, diceplok atau dibuat dadar. Tergantung pesanan. Rasanya? Wah, jangan tanya deh, lebih baik kalau anda berkesempatan pergi ke Semarang, coba saja anda pergi kesana. Pasti anda akan ketagihan.
Rupanya pecinta nasgor bukan saya sendiri. Buktinya orang-orang Belanda (dan orang asing lainnya) yang pernah hidup atau tinggal lama di Indonesia juga sangat ‘gandrung’ pada nasi goreng.

     Sewaktu sempat berkunjung kenegeri Belanda, saya sering mendengar lagu yang kalau tidak salah ingat, dinyanyikan oleh Anneke Gronlog, yang berkisah tentang nasi goreng dan kerupuk udang. Ternyata orang Belanda (dinegeri Belanda) memang sangat suka dengan nasi goreng. Terutama nasi goreng a la Indonesia. Harap maklum direstoran internasional biasanya tersedia berbagai macam menu nasi goreng atau ‘fried rice’, dengan berbagai istilah pula. Ada “Thai Fried Rice” ada “Chinese Fried Rice”, “European Fried Rice” dan lain sebagainya.
Oleh karena itu sampai sekarang saya masih tidak mengerti apakah nasi goreng itu sebetulnya menu asli Indonesia atau menu adaptasi dari mancanegara.

Sego Gurih (Nasi Uduk)
     Yang jelas saya tahu pasti resep asli Indonesia adalah “sego gurih” (nasi -yang rasanya- gurih). Orang Betawi menyebutnya dengan nama “Nasi Uduk”. Jika anda kebetulan berdomisili disekitar ‘Jabedetabog’ (Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang dan Bogor) maka pasti anda tak asing dengan menu yang bisa kita temukan sehari-hari dimana saja. Nasi yang dimasak dengan bumbu santan dan (kadang-kadang diberi) daun pandan ini biasa dimakan dengan lauk yang digoreng. Bisa tempe, tahu, ayam, daging, jerohan sapi (paru, babat, usus, limpa dan teman-temannya) serta telor. Lalapannya daun kemangi dan timun ditaburi dengan bawang goreng.
Nasi uduk bisa kita temukan nyaris dimana saja dan bisa dimakan kapan saja, pagi, siang, sore, malam bahkan tengah malam.

 Nasi Kuning
Kalau sego gurih (nasi uduk) berwarna putih, maka ada menu lain lagi yang sesuai dengan  namanya yaitu “sego kuning” (nasi kuning) yang memang berwarna kuning.
Dalam adat tradisional Jawa, nasi kuning biasa dipakai untuk ‘selamatan’ (kenduri) guna memperingati sesuatu. Misalnya untuk ulang tahun dan sebagainya. Nasi ini dimasak dengan ditambahi air kunyit sehingga berwarna kuning. Tapi tidak jarang ada yang menambah dengan santan sehingga rasanyapun jadi gurih.
     Nasi kuning biasa disajikan dengan lauk opor atau ingkung ayam, sambal goreng hati dan ampela, udang atau tahu, oseng tempe, perkedel kentang dan telur dadar yang diiris tipis. Tidak lupa kerupuk udang atau kadang ada yang menambah dengan ‘gereh’ (ikan asin). Pokoknya tergantung selera. Agar tampak lebih serasi, dihias juga dengan kemangi dan timun yang bisa dimakan sebagai lalapan.
Nasi kuning juga sering dijadikan nasi “Tumpeng” (nasi yang dibentuk seperti kerucut), untuk peringatan atau peresmian suatu proyek yang dihadiri oleh Pejabat dan banyak tamu undangan.

Nasi Rames
      Ada lagi menu nasi yang tidak kalah populernya, yang juga disenangi oleh banyak orang. Namanya “Nasi Rames”. Rames berasal dari bahasa Jawa yang artinya kurang lebih: ‘dicampur segala macam’. Jadi nasi rames ini adalah nasi putih yang diberi lauk pauk segala macam. Lauk yang ‘segala macam’ itu hampir mirip dengan yang dipakai untuk nasi kuning, ada kering/oseng tempe, sambel goreng, telor pindang atau telor dadar ditambah dengan ‘serundeng’ (kelapa parut yang disangrai dengan bumbu dan gula merah atau gula Jawa). Tak ketinggalan biasanya ada kerupuk udang, tapi tanpa lalapan.
Pokoknya nasi rames ini boleh disebut juga ‘nasi campur’. Tentu karena lauknya yang campur-campur itu.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya. Begitu kata pepatah.
Maka kalau di Jawa dikenal sebagai ‘nasi rames’, dipulau Bali juga dikenal adanya menu nasi yang berlauk pauk segala macam. Namanya “Nasi Campur Bali”.

Sama dengan nasi rames Jawa, nasi campur Bali juga diberi laup pauk aneka rupa.
Yang biasa dijual di  restoran dan warung sebagai nasi campur Bali terdiri dari nasi putih, kacang goreng, sate tusuk, sate lilit, urab, lawar, tum ayam, pepes ikan, ayam sisit, udang bumbu bali, telur, ares, dan sambal matah. Yang disebut sebagai “sate lilit’ adalah sate yang menjadi kebanggan masyarakat Bali. Proses pembuatan sate ini termasuk cukup rumit dan butuh seorang yang ahli untuk mengerjakannya. Bahannya adalah daging ayam giling (sebetulnya bisa daging apa saja) yang diberi bumbu kelapa parut, lada hitam dan gula merah serta daun jeruk. Setelah semua bahan dicampur, maka bahan tersebut akan dililitkan pada sebuah tusuk sate atau yang lebih eksklusif lagi dililitkan pada sebuah batang sereh, kemudian baru dibakar. Adapun yang disebut sambal matah adalah sambal khas Bali yang dibuat dari cabe rawit yang dipotong-potong, kemudian digoreng dalam minyak kelapa sampai setengah layu. Karena dibuat dari cabe rawit, tidak heran kalau sambal ini rasanya sangat pedas dan bisa  menimbulkan selera makan.
     Tidak hanya di Bali, Di Jakartapun sekarang banyak restoran yang menyajikan menu nasi campur Bali ini. Bahkan terkadang kita dapati menu spesial ini disajikan dalam gubug khusus di perjamuan pesta perkawinan. Biasanya nasi campur Bali ini disajikan dalam piring yang terbuat dari anyaman bambu dengan diberi alas daun pisang.
Sangat menarik sekaligus menggugah selera.




bersambung…..

Senin, 08 Agustus 2011

"ANEKA BOGA PENGGUGAH SELERA" (1)


Tulisan bersambung:

(Catatan tentang kuliner dari yang biasa sampai yang “aeng-aeng”)
-Bahan dan foto dari berbagai sumber-


Bagian Pertama


 Seporsi Gudeg komplit

“Didunia ini hanya diisi oleh dua tipe manusia saja: yang pertama tipe manusia yang makan untuk hidup dan yang kedua tipe manusia yang hidup untuk makan.”
(Bon Bon Saribon, tukang wisata kuliner)


Dari yang tak bergizi sampai yang diburu kaum lelaki.......

     Sepanjang hidup manusia, makanan akan selalu menjadi sesuatu yang penting dan utama untuk dicari. Kalau perlu bahkan untuk diperebutkan. Tapi itu duluuuuuuuuuuuuu….., sekarang dijaman modern, dimana manusia sudah sangat pandai ber inovasi, makanan telah berubah jadi komoditi yang sangat menguntungkan.
Tak pelak, makanan (apa saja, dari makanan ringan sampai berat) bisa mendapatkan  tempat yang sangat layak, sekiranya bisa memenuhi hajat dan selera orang banyak. Uniknya. Daerah dimana makanan itu pertama kali diperkenalkan bisa menjadi sebuah ‘trade mark’ yang abadi.
    Tak pernah ada penjual gudeg yang tidak menyertakan kata “Yogya” dibelakangnya, kalau tidak ingin gudegnya tak diminati pembeli.
Anda pasti malah akan heran kalau menemukan resto atau warung makan yang menjual “Gudeg Merauke”, misalnya. Kecuali anda seorang petualang kuliner yang justru ingin mencoba makanan-makanan  yang aneh bin ajaib. Tapi orang seperti itu sekarang pasti sangat langka.
Alhasil nama “Gudeg Yogya” seolah sudah jadi merek dagang yang tak tergoyahkan. Saya bahkan pernah menemukan menu itu di sebuah resto (yang menyajikan aneka menu Indonesia) dikota Amsterdam dan New York. Tidak jelas kokinya dapat nangka darimana. Sampai saat ini tak pernah ada yang meng’klaim’ nama ‘Gudeg Yogya’ sebagai miliknya, walaupun dipakai oleh siapa saja, dimana saja, kapan saja.
     Begitulah ‘nasib baik’ yang menimpa gudeg Yogya.
Bahan utama pembuat gudeg adalah buah nangka yang dimasak sangat lama sampai berubah warna jadi kecoklatan. Menurut pakar gizi, karena waktu masaknya yang sangat lama itu, gudeg termasuk makanan yang  sudah hilang nilai gizinya.
Tapi entah mengapa gudeg malah terbukti bisa membuat "judeg" (pusing). Penggemar gudeg akan pusing kalau lama tidak menyantap makanan yang bisa membikin lidah kebanyakan orang bergoyang itu.
Bahkan ada orang yang sampai ketagihan.Istilah kerennya "Gudeg addicted". Hehehehe....


Kalau anda bukan wong Yogya asli yang sedang berwisata kekota Yogyakarta, anda pasti akan bingung melihat begitu banyak resto atau warung yang menjual gudeg Yogya. Itu karena banyak macamnya nama yang bikin bingung.
Dari “Gudeg Yu Siyem” , “Gudeg Yu Djum” sampai Yu Yu yang lain. (“Yu” adalah potongan dari kata bahasa Jawa “mbakYU”, artinya kakak perempuan. Selain untuk memanggil kakak perempuan, juga biasa dipakai untuk memanggil para wanita yang profesinya berjualan apa saja).
Lalu, manakah resto atau warung yang gudegnya paling mak joossss? Ah, kalau soal selera (makan dan apa saja) sih jangan diperdebatkan. Yang pasti hampir semua warung gudeg Yogya (di kota Yogya) laris manis tanjung kimpul. Lauk yang rasanya agak manis dan sangat khas itu didaerah asalnya sendiri konon telah menghidupi banyak sekali keluarga.

 Soto Kudus
     Demikian pula dengan “Soto”. Makanan sejenis sup berisi (sedikit) tauge dan daging (sapi, ayam atau kambing) ini sangat terkenal. Yang paling umum dan banyak dicari adalah yang bernama “Soto Kudus” dan atau “Soto Madura”.
Walaupun koki atau warungnya ada dikota mana saja.
Namun ternyata di Jawa masih banyak terdapat jenis soto-soto lain yang tak kalah lezat dan populernya. Sebut saja “Soto Betawi” (Jakarta) yang kuahnya penuh santan atau susu dengan daging (atau kaki) kambing atau sapi.

     Ada juga soto asli Pekalongan yang kuahnya pekat karena dicampur “tauco” sehingga namanya terpeleset jadi “Tauto”, (padahal konon tauco yang terbuat dari kedelai dan dibuat jadi seperti pasta itu yang paling enak berasal dari daerah Cianjur). Seperti soto Kudus, tauto Pekalongan didaerah asalnya selalu memakai daging kerbau. Didaerah lain disesuaikan dengan selera masyarakat setempat.
Mungkin biar terdengar agak lain, orang Banyumas menyebut sotonya dengan “Sroto”. Yang paling terkenal berlabel “Sroto Sokaraja” (kota kecil didaerah Banyumas yang juga beken dengan makanan “gethuk goreng”nya).
     Untuk membedakan siapa koki atau yang menjual soto, maka biasanya dibelakangnya akan ditambahkan nama daerah, nama koki atau si empunya resto dan warung.
Yang lucu, di Semarang paling banyak ditemukan “Soto Kudus Pak No”, walaupun satu sama lain tidak bersaudara. Bahkan tidak saling mengenal. Tak perlu ribut dan bertikai, karena nama orang Jawa memang banyak yang berakhiran dengan kata “NO”.  
Jadi No Problem lah.
Tapi yang paling melegenda di ibukota Provinsi Jawa Tengah itu adalah soto yang berlabel: “Soto Bangkong”, karena warungnya (yang pertama) terletak di jalan Bangkong, Semarang.
Soto yang resep aslinya juga berasal dari soto kudus ini sekarang sudah membuka puluhan cabang diberbagai kota di Indonesia.

Soto Madura
Kalau soto Kudus biasanya memakai daging ayam sebagai bahan dasarnya, maka Soto Madura justru kebanyakan memakai bahan dasar daging sapi. Disajikan dengan nasi ditambah beberapa iris telor rebus (bagi yang suka), soto Madura terasa sangat sedap dengan kuahnya yang berwarna kuning keemasan itu.
Demikian pula soto Padang, soto Medan dan coto Makasar (mungkin orang Makasar lebih suka huruf "C" daripada huruf "S"?) yang memakai bahan daging ‘sandung lamur’ (sapi). Masing-masing punya ciri khas sendiri.
Jadi mana yang lebih sedap? Sekali lagi, kalau soal selera jangan dipertentangkan, bah!
Agaknya melihat selera rata-rata masyarakat Indonesia terhadap soto yang tak pernah surut, maka bermunculanlah nama soto-soto gaya baru, seperti Soto Lamongan, Soto Ambengan, dan lain lain. 
Rasanya hampir semua kota besar di Indonesia merasa punya resep soto khas yang dijadikan “unggulan” kota masing-masing.

Sate Ayam

     Makanan lain yang juga sangat digemari sebagian besar masyarakat dari Sabang sampai Merauke (bahkan sampai luar negeri) adalah “sate”.
Menu berupa daging (ayam, kambing atau sapi) yang dimasak dengan cara dibakar diatas bara arang ini begitu ‘meraja-lela’.
Anehnya yang konon terkenal paling disukai (karena rasanya cocok hampir disemua lidah orang Indonesia) adalah “Sate Madura”, “Sate Ponorogo”, “Sate Cirebon” serta “Sate Tegal”.
Kecuali sate Tegal yang bahannya dari daging kambing, sate lainnya berbahan dasar daging ayam.
     Sate Madura berpeluang paling kondang dan jadi juara karena biasa dijajakan keliling kampung oleh para ‘pejuang’ berkaos loreng bercelana komprang hitam dengan teriakan khasnya: “Teeee…. sateeeee…”.  
Dek remah sampiyaaaan cak.
Nyatanya selama ini saya belum pernah bertemu penjual sate Ponorogo atau sate Cirebon dan sate Tegal yang jualan berkeliling, baik memakai gerobak ataupun dengan cara dipikul.
     Satu lagi sate yang sangat disukai masyarakat, utamanya orang Minang (Sumatera Barat),  adalah “Sate Padang”. Sate dengan bumbu penuh rempah-rempah dan (biasanya) sangat pedas rasanya ini terbuat dari bahan ‘jerohan’ (bagian dalam) sapi, antara lain paru, usus, limpa, hati dan lain-lain. Oleh sebab itu walaupun dibeberapa daerah ada juga tukang sate Padang yang berjualan keliling, tapi karena  ada sebagian orang yang menganggap sate ini “full cholesterol” , maka mereka memilih untuk lebih baik tidak membelinya. 

Sate Kambing
     Adapun sate  (yang berbahan dasar daging) kambing, yang paling kondang adalah “Sate Tegal” yang katanya selalu memakai daging kambing muda. Didaerah asalnya (Tegal, Slawi dan sekitarnya), sate kambing muda tidak dijual per sepuluh tusuk seperti lazimnya ditempat lain, tapi dijual per‘kodi’. Satu kodi jumlahnya 20 tusuk. Konon sate kambing muda ini sangat disukai, sampai diburu para lelaki karena menurut  'kabar burung' bisa mendongkrak libido pria yang loyo.
Sate Tegal disajikan dengan nasi atau lontong dan teh melati asli yang diseduh dalam poci plus gula batu. 
Benar-benar bisa bikin lelaki jadi terbayang-bayang wajah isteri, tapi malah lupa dengan mertua.
Alamaaak....


bersambung....

Rabu, 03 Agustus 2011

"TENTANG HEWAN YANG SETIA"


Tulisan lepas:

(secuil kenangan pada hewan peliharaan dimasa kecilku)


Patung "Hachiko"

 
 released by mastonie, on Wednesday, August 3, 2011, at 9.15 am


Saya beruntung sekali mempunyai seorang Ibu yang pandai menyanyi dan mendongeng. Masa kecil saya penuh dengan “dongeng sebelum bobo”, yang selalu diceritakan ibu dengan penuh penghayatan. Saya (dan kakak perempuan saya satu-satunya) sering begitu terkesimanya sampai kadang terharu hingga menitikkan airmata mendengar dongeng Ibu, sebelum akhirnya jatuh terlelap ke alam mimpi. 

Kisah tentang kesetiaan seekor anjing.

     Ada beberapa dongeng yang betul-betul membekas sangat dalam disanubari saya sebagai balita, yang bahkan terpateri dalam ingatan sampai saat ini. Secara kebetulan saja dua diantara dongeng  mencekam itu mengisahkan tentang kesetiaan seekor anjing kepada majikannya.
    Dongeng pertama adalah tentang seorang wanita petani yang mempunyai seekor anjing kampung yang sangat setia. Ketika suatu waktu wanita tersebut melahirkan bayi perempuan yang sangat jelita, si anjing rupanya juga sangat suka kepada bayi tersebut. Hampir setiap hari anjing tersebut dengan setia berbaring disamping si bayi yang diletakkan diatas tikar dilantai rumah, seolah ingin menjaganya dari siapapun yang berniat jahat.

     Pada suatu hari wanita tersebut berniat pergi kepasar untuk membeli keperluan sehari-hari dan untuk keperluan bayinya. Dengan kepercayaan penuh kepada sang anjing, ditinggalkannya rumahnya untuk beberapa waktu. Alangkah kaget dan terkesiapnya wanita itu sewaktu pulang dari pasar  mendapati sang anjing sedang asyik mengunyah daging merah dengan mulut penuh dengan darah segar didepan pintu rumah. Dengan kalap sambil berteriak-teriak histeris wanita tersebut menghajar anjingnya yang sama sekali tidak melawan, dengan sebilah kayu sampai akhirnya si anjing tewas seketika.

     Penuh dengan perasaan cemas iapun berlari kekamar bayinya. Didalam kamar ia dapati bayinya tidur pulas dengan menyunggingkan senyum. Sehat wal afiat tak kurang suatu apapun. Disamping bayi itu  tergeletak bangkai seekor ular sanca sebesar lengan yang telah hilang kepalanya!
Kini wanita itu menjerit untuk yang kedua kalinya. Ia telah membunuh anjingnya yang setia, anjing yang telah menyelamatkan nyawa anaknya dari serangan seekor ular sanca. Wanita itu telah salah sangka terhadap anjing yang begitu setia dan perwira. Tapi penyesalan selalu datang terlambat dan tak ada gunanya.
Hachiko
     Dongeng kedua barangkali anda telah pernah mendengar atau bahkan menontonnya digedung bioskop. Yaitu kisah seekor anjing sangat setia bernama “Hachiko” yang bertahan bertahun-tahun duduk didepan sebuah stasiun kereta api menunggu kedatangan majikannya,  yang tidak akan pernah datang karena sang majikan telah meninggal dunia. Hachiko, anjing yang setia itupun akhirnya menemui ajalnya dalam sebuah badai salju, ia tewas ditempat sehari-hari ia duduk bersetia menunggu sang majikan.
     Untuk memperingati kesetiaan Hachiko (‘Hachi’ dalam bahasa Jepang artinya delapan, sebuah angka lambang keberuntungan), kini didirikan sebuah patung disebuah taman yang menggambarkan Hachiko yang sedang duduk setia menanti majikannya yang tak akan pernah tiba.

Anjing koq sebesar 'belo' (anak kuda)........



     Sewaktu berusia sekitar lima atau enam tahun, saya mendapat hadiah seekor anak anjing dari Pakde saya yang menjadi Wedana didaerah Demak. Umur anak anjing jantan itu barangkali baru beberapa minggu dan terpaksa dibuang karena induknya melahirkan anak terlalu banyak.
Berbulu warna cokelat terang, anak anjing ‘buangan’ itu tampak sehat dan lucu menggemaskan. Ekornya tak pernah berhenti dikibaskan jika ada yang mendekatinya. Gonggongannya kecil melengking dan sangat suka menggigit apa saja yang ditemuinya.  Nyaris semua bantalan kursi, kaos kaki, sandal dan sepatu kain (kets) serta ‘welcome’ (keset) dirumah kami jadi dedel duel, hancur berantakan.

Entah mendapat ide darimana, Bapak saya memberikan nama ‘Soni’ kepada anak anjing jantan itu. Padahal nama saya (satu-satunya anak laki-laki Bapak pada saat itu) adalah Tony!
Perkembangan tubuh dan keterampilan Soni ternyata sangat luar biasa. Walaupun induknya adalah seekor anjing ‘Gladaker’ atau anjing kampung biasa, tapi dengan  melihat bentuk dan ciri tubuhnya bisa saya pastikan bapaknya adalah seekor Herder. Jadi Soni adalah anjing “indo” (peranakan).
Ayah saya mendidik dan melatih Soni dengan keras, kalau tidak boleh saya katakan agak kejam. Namun hasilnya memang sangat menakjubkan. Anjing keturunan Herder yang aslinya merupakan anjing penjaga itu nyaris mengerti semua percakapan dan perintah orang kepadanya.
Kalau hanya perintah ‘duduk’, ‘berdiri’ atau ‘tidur’, itu masalah kecil baginya. Soni bahkan bisa mengacungkan kaki depan kanannya kalau dia diminta untuk memperkenalkan diri, tabik (menghormat sekaligus bersalaman) atau kalau dia mau meminta sesuatu. Soni juga mampu berdiri dengan  dua kaki belakangnya serta menguasai hampir semua kode yang diajarkan oleh Bapak saya.

     Umur satu tahun, badan Soni sudah setinggi anak kuda, dengan perawakan tegap, telinga mendongak keatas dan ekor berbulu tebal yang selalu dikibaskannya kalau ‘mood’nya sedang ceria. Kalau kami sekeluarga jalan-jalan keliling kampung Soni akan mengikuti dengan lari-lari kecil dibelakang atau didepan. Banyak orang yang ketakutan melihat postur tubuhnya begitu besar, seperti 'belo' (anak kuda). Padahal Soni sangat jinak. Kecuali jika instingnya mencium sesuatu yang ‘tidak beres’, ia akan menggonggong dengan keras. Gonggongannya dijamin akan membuat orang yang berniat jahat lari tunggang langgang.

     Kami keluarga yang sangat sederhana, jadi makanan untuk Soni juga tidak istimewa. Apa yang kami makan, itulah yang juga dimakan Soni. Yang sangat mengherankan, Soni sangat suka sekali makan ‘pohung’ (singkong) rebus. Kalau kebetulan Mbok Yem (nama pembantu ibu saya) sedang merebus singkong, dimanapun Soni sedang berada, dia akan langsung lari pulang kerumah. Dia akan duduk dan tak mau beranjak dari dapur sebelum diberi satu atau dua potong singkong rebus. Bahkan kadang dia meminta lebih. Soni akan duduk sambil mengacungkan kaki kanannya keatas, dengan mengeluarkan suara seolah merengek, sampai mendapat tambahan jatah ekstra lagi. 

Beberapa kali mengalami percobaan pembunuhan.

     Rumah (sewa/kontrakan) keluarga saya pada saat Soni dihadiahkan kepada kami, adalah di kampung Bulu Setalan (bukan selatan) didaerah Lemah Gempal, dekat dengan pinggir Kali (sungai) Banjir Kanal Semarang. Setiap ada waktu luang, Bapak mengajar Soni untuk berenang dikali yang pada waktu itu airnya belum sekeruh dan sedangkal sekarang. Semua tetangga tahu kalau ada anjing yang pandai berenang dikali, itulah Soni anjing kami.

     Tetapi entah karena iri atau ada yang sakit hati karena niat jahatnya (mungkin) pernah digagalkan oleh Soni, maka dalam sejarah hidupnya, Soni pernah beberapa kali mengalami percobaan pembunuhan.
Pada suatu pagi Bapak bangun tidur dan tidak menemukan sosok anjing setia itu dikandangnya. Tidak ada yang tahu kemana dia pergi, karena biasanya Soni tak pernah beranjak dari kandang pada malam hari. Selama ini kalau Soni tak berada dikandang, Bapak hanya berdiri diluar pagar dan berteriak: ”Soniiii!!”, maka tak butuh waktu lama Soni akan terlihat berlari pulang dan langsung menubruk dengan mengangkat kedua kaki depannya kebahu Bapak. Kalau tidak dilarang, dia akan menciumi wajah Bapak. Soni tak pernah berbuat begitu kepada saya, karena agaknya dia maklum, kalau dia berdiri mengangkat dua kaki depannya, maka dia jauh lebih tinggi dari tubuh saya yang belum genap berumur tujuh tahun.
Tiba-tiba ada beberapa tetangga datang memberitahu, bahwa mereka melihat Soni dengan tubuh penuh darah berlarian dari kali Banjir Kanal. Sontak kami sekeluarga panik dan mencari sambil meneriakkan namanya berulang kali. Ternyata kami dapati Soni tergeletak dipinggir rumah dengan tubuh bersimbah darah. Tak terdapat tanda kehidupan karena lehernya nyaris putus dengan luka menganga lebar. Pagi itu kami semua bertangisan. Tidak membuang waktu Bapak melarikan Soni dengan naik becak ke RST (Rumah Sakit Tentara) yang terletak tidak terlalu jauh dari rumah.
Alhamdulillah, Soni bisa melewati masa kritisnya dan akhirnya bisa pulih kembali.
Bekas jahitan dilehernya akhirnya ditutup Bapak dengan sebuah kalung terbuat dari kulit dengan hiasan kenop logam berwarna putih mengkilat. Soni malah tampak jauh lebih gagah sekarang.

Jadi kurir dan bertahan tak mau pindah rumah.

     Sebelum saya beranjak besar, hubungan antara Soni dengan Bapak memang lebih akrab. Mungkin karena selama ini Bapaklah yang mengajar hampir semua keahlian yang dia miliki. Kemana saja Bapak pergi, Soni akan mengikuti. Bahkan kalau tidak dilarang, dia akan mengikuti sepeda Bapak sampai kekantornya di ”Lawang sewu” dekat Tugu Muda.
Suatu ketika Bapak jatuh sakit yang mengharuskannya di rawat di RST. Soni ikut kerumah sakit dan bertahan tidur dibawah ranjang dimana Bapak berbaring. Tak seorangpun bisa mengusirnya pergi. Dokter dan perawat di RST tidak ada yang berani menghadapi anjing yang sebesar 'belo”  itu.

     Pada jaman itu (pertengahan tahun 50 - 60 an) belum banyak sambungan telepon rumah. Apalagi telepon genggam. Tapi Bapak punya “kurir” khusus yang setia. Setiap membutuhkan sesuatu dari rumah, Bapak akan menulis surat, kemudian surat itu diletakkan dikalung yang ada dileher Soni. Dengan membisikkan perintah ketelinga Soni dan sedikit tepukan, maka anjing pandai itu akan melesat lari pulang kerumah dan langsung menemui Ibu sambil menggosok-gosokkan lehernya. Ibu tahu ada sesuatu dan kemudian akan menemukan surat Bapak. Itulah Soni, kurir sekaligus penjaga setia Bapak selama sakit.
     Menjelang masuk kekelas dua Sekolah Rakyat (SR), Bapak dan Ibu memutuskan pindah rumah kedaerah Tegal Wareng (kini Jalan Sriwijaya), didekat Kebun Binatang. Namanya kampung Genuk Krajan.
Kami pindah rumah secara berangsur-angsur dengan mengangkat perabotan memakai mobil dinas Bapak dan sebagian dengan becak. Jarak dari rumah lama di Bulu Setalan ke Genuk Krajan lumayan jauh. Mungkin sekitar 15 kilometer lebih. Semua berjalan dengan lancar sesuai rencana kecuali satu hal: Soni tidak mau beranjak dari rumah lama kami.

     Anjing setia itu bersikukuh kembali lagi kerumah lama walaupun sudah diangkut dengan becak kerumah baru. Dia menerobos keluar dari rumah baru dan lari kembali pulang kerumah lama. Hebatnya, dia bisa menemukan rumah lama kami walaupun jaraknya begitu jauh.
Dirumah lama itu Soni memilih tidur didepan pintu dan mengancam dengan menggeram siapa saja yang mendekati rumah yang sekarang sudah kosong itu! Dia mampu bertahan berhari-hari walaupun tak ada yang memberinya makan. Butuh kesabaran untuk bisa membujuk Soni pindah kerumah baru.
Ada beberapa kali dia terus saja ‘menghilang’ karena lari kembali kerumah lama. Setelah bekas rumah kami mendapatkan penghuni baru, akhirnya Soni baru mau menetap dirumah kami di Genuk Krajan. 

Soni diracun orang dan menghilang.

     Di kampung Genuk Krajan Soni menjadi anjing paling populer karena tubuhnya yang besar dan bukan anjing yang galak. Hanya jika insting binatangnya merasa ada orang jahat, Soni bisa berubah menjadi bengis sekali. Ia akan menggonggong berkepanjangan sampai salah satu dari kami (Bapak, Ibu, saya atau kakak saya) turun tangan menenangkannya.

     Dan di kampung Genuk Krajan  ini pula  terjadi usaha pembunuhan terhadap Soni untuk yang kedua kalinya. Saya sudah kelas 4 SR waktu pada suatu sore hari Soni pulang dari ‘ngeluyur’ dengan moncong berbusa. Tubuhnya basah kuyup dan ekornya melipat kedalam diantara dua kaki belakangnya. Dia seperti melolong pelan seakan minta pertolongan. Kami sekeluarga menjadi sangat bingung. Soni muntah-muntah disembarang tempat. Busa putih keruh terus saja keluar dari moncongnya. Matanya kuyu dan telinganya yang biasanya tegak berdiri, kini layu menggelayut.
Tetangga terdekat mulai berdatangan mendengar kegemparan yang terjadi dirumah kami. Mereka berkesimpulan bahwa pasti ada orang yang memberikan racun kepada Soni. Padahal Soni bukan jenis anjing yang mudah makan disembarang tempat. Secara teratur dia makan dirumah sehari tiga kali pada waktu yang selalu sama. Tentu kami heran ada orang yang berniat jahat kepadanya.
Ada tetangga yang akhirnya memberi saran untuk mencari air kelapa hijau guna menetralkan racun ditubuh Soni. Tapi Soni terus saja gelisah. Dia merangkak-rangkak disepanjang sisi rumah kami dan akhirnya tersungkur dan tergeletak dibelakang rumah. Beberapa orang tetangga membantu memasukkan air kelapa hijau kemoncongnya yang terkatup rapat tapi masih terus mengeluarkan busa.

     Malam itu kami sekeluarga tidur dengan gelisah. Saya mulai menangis karena sedih membayangkan akhir hidup Soni, anjing kami yang sangat setia dan luar biasa itu mengalami hal yang sangat menyedihkan.
Pagi harinya kami terbangun mendengar kegaduhan diluar rumah. Terdengar suara Mbok Yem, pembantu kami yang berulang kali memanggil nama Soni. Saya meloncat turun dari tempat tidur dan lari keluar menemui Mbok Yem yang tampak panik.  Soni sudah tidak ada ditempatnya lagi. Saya menangis sambil ikut meneriakkan nama Soni berulang-ulang.
Bapak langsung mengambil sepeda dan berusaha mencari keliling kampung sampai ke Genuk Karanglo dan sepanjang jalan Tegalwareng. Tapi Soni seperti raib ditelan bumi. Sepanjang hari itu saya terus menangis sampai mogok tidak mau berangkat ke sekolah. Hati saya sedih sekali. Bertahun-tahun Soni menjadi binatang yang selalu setia menemani kami, kini ada orang yang berniat jahat yang menyebabkan Soni menghilang dari rumah.
Bayangan jelek menghantui saya. Saya membayangkan Soni tertabrak mobil yang lalu lalang disepanjang jalan Tegalwareng, atau barangkali Soni tewas hanyut dikali karena tubuhnya sangat lemah akibat racun yang masuk ketubuhnya.

     Akhirnya Soni betul-betul tidak kembali lagi kerumah. Bapak berusaha sekuat tenaga untuk mencarinya dengan membuat pengumunan diradio dan memasang iklan kehilangan binatang peliharaan di Koran (sesuatu yang belum lazim dimasa itu). Tapi Soni tetap tak berhasil diketemukan.
Saya betul-betul merasa kehilangan dan terus meratapi kepergian Soni. Pupus sudah harapan saya bisa menemukan Soni kembali. 

Kejutan dipagi hari …..

     Beberapa bulan kemudian disuatu subuh yang udaranya dingin karena musim penghujan, terdengar suara garukan dipintu depan rumah kami. Garukan berulang dipintu depan itu berirama sangat khas.
Kami serumah hafal betul, itu adalah suara garukan kuku kaki Soni kalau dia minta dibukakan pintu. Tapi kali ini tanpa suara menggeram pelan seperti biasanya. Mbok Yem yang selalu bangun paling awal segera bergegas kepintu depan.
Dipagi yang masih gelap itu kami semua tersentak bangun dan meloncat turun dari tempat tidur ketika mendengar suara Mbok Yem berteriak-teriak nyaris histeris: “Ya Allah..Soni….Soni kamu pulang kembalii..!!!” Disusul suara ringikan anjing yang sudah sangat kami kenali.

     Kami berebut lari kepintu depan dan mendapati Mbok Yem sedang bergumul dilantai dengan Soni! Astagfirullah!! Saya seperti mimpi. Soni betul-betul kembali. Anjing peranakan Herder itu menghambur kearah kami sambil mengibaskan ekornya kekanan kiri. Tubuhnya kurus dan kulitnya kusam seperti anjing kampung yang tak terawat. Kami semua bertangisan bahna gembira.
Hari itu Soni dimandikan Ibu dengan air kembang setaman, sebagai bentuk ucapan syukur atas kepulangan Soni, anjing kami yang setia itu.

Siapa bilang anjing selalu jadi musuh kucing?

Kampung Genuk Krajan berada dilereng bawah daerah Candi, kota Semarang bagian atas (highland) yang kebanyakan dihuni orang-orang kaya, termasuk sisa-sisa warga Belanda yang akhirnya diusir oleh Pemerintah RI agar pulang kembali kenegerinya.
Saya mendapat ‘berkah’ dari kepulangan mereka. Suatu pagi saya mendapati seekor anak kucing terbaring lemah didepan pintu rumah kami. Berwarna abu-abu keperakan, bayi kucing berjenis kelamin jantan itu terlihat lain daripada kucing biasa. Ekornya berbulu lebat dan tampak mengembang kalau dia terusik.
Pada dasarnya sejak kecil saya suka merawat dan memelihara binatang. Jadi saya putuskan untuk merawat anak kucing malang itu. Saya tahu dirumah kami sudah ada Soni, anjing kami yang setia itu tentu akan merasa cemburu. Tapi pasti bisa diatur nanti.

     Walaupun dalam keadaan sangat tidak terawat, kucing jantan kecil ini berwajah manis sekali. Saya langsung memberikan nama untuknya: “Manis”. Secara naluri alamiah, konon anjing dan kucing tidak akan pernah bisa akur. Pada awal kedatangan si Manis, Soni juga sudah memperlihatkan rasa permusuhannya dengan menggeram ketika melihat saya sedang membersihkan tubuh bayi kucing itu sambil memberinya secawan susu hangat. Saya perintahkan Soni untuk duduk dan diam. Dia menurut dengan agak malas-malasan. Tapi sepanjang saya memberi minum Manis, Soni bisa diam meskipun matanya ‘ketap-ketip’ mengikuti semua gerakan saya. Untuk beberapa waktu Soni masih menggeram jika bertemu dengan Manis.

     Saya tak mengira Manis tumbuh dengan pesat. Kucing kecil itu sekarang bahkan berani menantang Soni dengan raungan meong kecilnya.  Mungkin dia merasa saya akan selalu melindunginya.
Akhirnya tampak bahwa Manis memang bukan kucing biasa. Jelas dia keturunan kucing Anggora. Bulu tubuhnya sangat lebat berwarna abu-abu putih keperakan. Ekornya mengembang sangat besar, terutama jika dia sedang marah atau senang. Mukanya imut dan manis sekali.

     Saya terus mencoba menjadi juru damai antara Soni dan Manis. Saya meniru gaya Bapak sewaktu mendidik Soni dahulu, yaitu dengan sedikit memakai kekerasan. Saya mulai dengan pendekatan perut. Kalau saat memberi makan tiba, saya paksa Soni dan Manis makan dari satu piring. Awalnya terjadi keributan. Tapi saya tahu kalau Soni selalu terlihat ‘ngeper’ jika melihat gagang (tangkai) kemoceng yang biasa dipakai Bapak untuk menghukum saat dia nakal. Oleh sebab itu saya intimidasi Soni dengan alat itu.

     Akhirnya usaha saya berhasil juga. Soni dan Manis bisa akur saat makan bersama. Kini bahkan terlihat kalau Soni berusaha mengalah. Dia akan menunggu sampai Manis (yang jatah makannya hanya sedikit) selesai makan. Kemudian Soni akan menghabiskan sisa makanan dalam piring yang sudah ditinggalkan Manis. Lucu dan terharu juga melihatnya.
Lama-lama keakraban mereka sampai juga ketempat tidur. Manis akan tidur menggelendot ketubuh Soni yang sesekali bahkan berbaik hati menjilati tubuh Manis. Mereka jadi sangat rukun akhirnya.
Harus saya akui bahwa Soni adalah anjing jantan yang setia dan ternyata juga punya rasa setia kawan yang sangat besar.
     Disamping Soni dan Manis, saya juga punya Bagong, ayam jantan (jago) Bangkok bertubuh bongsor dan kekar. Bagong saya pelihara sejak masih piyik (bayi) jauh sebelum saya menemukan Manis. Ketiga binatang berlainan jenis tapi sama-sama jantan itu bisa menjadi teman akrab.
Bahkan Soni akan selalu bertindak sebagai “the Godfather”.
Jika Manis atau Bagong berkelahi dengan kucing atau ayam jago tetangga, maka Soni akan langsung ‘turun tangan’ melabrak musuh sampai lari terbirit-birit.


Tragedi mengiringi akhir kisah hidup Soni……

     Pada saat saya sedang menghadapi ujian akhir kelas 6 SR, tanpa tahu asal muasal dan sebab yang pasti, Bapak dan Ibu memutuskan untuk berpisah. Seperti biasa yang sangat terpukul adalah anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Saya merasa paling terpukul karena saya sedang akan mengikuti ujian akhir Sekolah Rakyat. Sementara itu kakak perempuan saya sudah berada dikelas 2 SMP.
Tapi perpisahan itu juga tampaknya menghancurkan nasib hewan-hewan kesayangan kami.

     Sejak Ibu meninggalkan rumah untuk bergabung bersama Simbah kakung, kami hidup bertiga dirumah sewa itu tanpa semangat lagi. Mbok Yem pun minta berhenti dan Soni, Manis serta Bagong jadi tak terawat lagi. Bagong mati tak lama kemudian. Manis hilang entah kemana rimbanya.
Kesedihan akibat perceraian orang tua adalah teman hidup saya sehari-hari. Semangat saya nyaris terbang dan tak sempat bersedih lagi kehilangan hewan peliharaan tercinta.

     Ketika akhirnya Bapak memutuskan pindah kerumah Eyang putri di Pandean Lamper, kisah yang lalu terulang kembali. Soni, anjing setia kami bersikukuh tak mau meninggalkan bekas rumah kami di Genuk Krajan. Berulang kali dia dibawa ke Pandean Lamper, tapi berulang kali pula dia melarikan diri pulang ke Genuk Krajan lagi. Kali ini Bapak seperti tak peduli.
Dan dalam keadaan putus asa, saya hanya merasa tak berdaya.
Saya mendengar dari tetangga di Genuk Krajan,  Soni jadi anjing kampung yang berkeliaran untuk mencari makan dari satu tempat ketempat lain.
Hati saya seperti teriris-iris mendengar akhir kisah hidup Soni yang mati dalam penderitaan karena tak punya induk semang lagi.