Jumat, 23 Desember 2011

"TENTANG KIAMAT" ( 1 )


Tulisan bersambung: (bagian pertama)

APAKAH  KIAMAT SUDAH DEKAT?

Imajinasi tentang Kiamat, Fotos: google

Released by mastonie on Wednesday, June 1, 2011 at 7:55pm


“Wa annas saa’ata aatiyatul laa raiba fiiha wa annallaaha yah’atsu man fil qubuur”
(dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya, dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang yang didalam kubur). Al-Hajj, QS. 22:07

    Itulah firman Allah tentang kepastian datangnya hari kiamat. Dalam surah yang lain (An-Naml), dijelaskan bahwa kedatangan kiamat itu akan ditandai dengan ditiupnya terompet atau sangkakala oleh Malaikat Isrofil.
 
(Barangkali masih segar dalam ingatan kita bencana alam gempa bumi yang melanda wilayah Provinsi Sumatra Barat pada tanggal 30 September 2009. Gempa bumi yang meluluh lantakkan beberapa kota di Sumbar itu menelan korban harta benda dan nyawa ribuan jumlahnya. Menarik untuk disimak bahwa pada tanggal yang sama 44 (empatpuluh empat) tahun yang silam (tahun 1965) juga pernah terjadi ‘malapetaka’ yang  juga menelan ribuan korban karena peristiwa G-30-S/PKI). 

Adapun gempa bumi di pulau Sumatera yang berkekuatan 7,6 SR itu juga seolah mengingatkan kita pada hari dimana kelak akan terjadi bencana yang amat sangat dahsyat. Bencana itu pasti jauh lebih hebat dan menghancurkan dibanding gempa bumi dimanapun. Dan bahkan pasti jauh lebih kuat dibanding gempa dengan kekuatan yang hanya 7,6 SR.
Bencana sangat dahsyat itu tak akan dapat dihindari oleh segenap umat manusia. 
Itulah bencana yang disebut sebagai Hari Kiamat

Foto fiksi meteor raksasa menghantam bumi

    Didalam kitab suci Al-Qur’an, hari kiamat setidaknya disebut dengan 32 nama yang tersebar dalam beberapa surah. Dibawah ini antara lain 5 (lima) sebutan atau nama yang paling sering ditemukan:

  1. Yaum al Qiamah, (hari kiamat). Paling banyak disebut (71 kali). Tersebar dalam ayat dibeberapa surah. Antara lain Al-Baqarah, Ali Imron dan An-Nisa’.
  2. Yaum al akhir, (hari kemudian/akhir). Disebut demikian karena memang itulah akhir kehidupan mahlukNya sebelum kembali kealam barzah. Terdapat antara lain dalam surah Al Ankabut, Al Ahzab dan Al Mumtahanah.
  3. Yaum al hisab, (hari perhitungan amal). Hari kiamat adalah hari pengadilan bagi semua umat manusia oleh Allah SWT. Terdapat disurah Ibrahim dan Shod.
  4. Yaum az zalzalah, (hari kegoncangan dan keruntuhan). Pada hari inilah bumi akan berguncang dengan sangat dahsyat. Surah al Hajj dan Az Zalzalah.
  5. Yaum al ghoosyiyah, berarti hari kejadian yang dahyat. Surah Al Ghoosyiyah.

    Lalu apakah kiamat memang sudah dekat? Menurut Anas RA, Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Jarak waktu (antara) aku diutus (oleh Allah) sampai dengan (kedatangan) hari kiamat adalah seperti ini”  dan Rasulullah merapatkan telunjuk dan jari tengahnya. (HR. Muslim).

Dalam  surah Asy-Syuuraa (QS. 42:17) Allah berfirman:

“……..wa maa yudriika la’allas saa’ata qariib”  (…dan tahukah engkau, boleh jadi kiamat itu -sudah- dekat?).

Maka masihkah kita sangsi akan hari kiamat yang (mungkin memang) sudah dekat itu?
Setidaknya kita sudah harus bersiap diri. Dan oleh karena itu mungkin kita perlu mengetahui beberapa tanda akan terjadinya kiamat.
Dibawah ini beberapa tanda-tanda kecil maupun tanda-tanda besar hari kiamat (tidak disebut semua) yang bersumber dari beberapa riwayat dan hadits Rasulullah SAW:
  1. Terjadi banyak pembunuhan.
  2. Kejahatan dan kedurhakaan meraja lela.
  3. Dua golongan besar saling berperang dengan menelan korban sangat besar.
  4. Orang-orang kembali menyembah berhala (Lata dan ‘Uzza), seperti pada masa Jahiliyah dahulu. 
  5. Muncul Dajjal yang jumlahnya hampir 30 orang. Mereka semua mengaku sebagai Rasulullah (utusan Allah).
  6. Matahari akan terbit dari sebelah barat dan tenggelam disebelah timur.
  7. Ka’bah atau Baitullah akan roboh.
  8. Muncul Ya’juj dan Ma’juj. Mereka ini adalah segolongan besar umat manusia yang berkuasa tapi berpikiran sesat.
  9. Turunnya Nabi Isa AS yang bersama Imam Mahdi akan memperjuangkan  kebenaran. Dialah yang akan menumpas Dajjal, menghancurkan salib dan mengajak umat manusia untuk menyembah Allah yang Maha Esa.
  10. Lenyapnya tulisan dari kitab suci Al-Qur’an, dan tak ada seorangpun yang masih dapat menghafal ayat-ayatnya.
  11. Umat manusia menjadi kafir. Inilah tanda paling akhir Kiamat semakin dekat.
Kalau melihat sebelas tanda tersebut, maka bencana alam memang bukan termasuk salah satu tanda akan terjadinya kiamat. Akan tetapi tanda-tanda ke 1 (pembunuhan) dan ke 2 (kejahatan dan durhaka meraja-lela) sudah sangat sering terjadi pada saat ini. Dan justru karena kejahatan dan kedurhakaan manusia pula yang antara lain bisa menyebabkan bencana alam. 

Hampir setiap hari dapat kita baca dan lihat di media cetak dan elektronik kasus pembunuhan. Betapa mudahnya dijaman sekarang orang ‘menghilangkan’ nyawa orang lain. Bahkan nyawa keluarga sendiri, tak terkecuali anak, isteri bahkan orang tua! Naudzubillahi min dzalik!
Kasus pembunuhan ini mempunyai begitu banyak motif dan latar belakangnya. Ada yang berlatar belakang sangat rumit, tapi tak kurang pula terjadi pembunuhan hanya gara-gara masalah yang sepele saja. Pelaku pembunuhan juga sangat beragam. Ada yang memang dari ‘sono’ nya asli penjahat. Tapi banyak pula pembunuh dari kalangan terhormat.
Lihat saja kasus yang menimpa seorang (mantan) Pimpinan Lembaga Negara yang lucunya adalah penegak hukum. Sekarang terdakwa sudah diganjar hukuman penjara 19 tahun karena terbukti mendalangi pembunuhan seseorang. Konon pembunuhan ini  berlatar belakang pemerasan dan cinta segitiga. Meskipun banyak pihak yang sangsi dan bahkan menganggap dakwaan itu sebagai rekayasa. Diduga karena motif cinta “segibanyak” ini pula seorang pejabat teras PSSI tega membunuh istrinya sendiri! Terbukti bahwa pembunuh tak selalu berasal dari kalangan “tidak terhormat” bukan?

Ada lagi yang membunuh karena masalah sangat pribadi. Misalnya karena dendam (?) seperti telah dilakukan oleh seorang anak berusia belasan tahun yang tega membunuh ibu angkatnya. Akhir-akhir ini juga tersiar kabar tentang orang yang tega membunuh temannya hanya gara-gara sangat sepele. Konon hanya karena korban kurang membayar hutang.
Selain itu banyak juga orang yang membunuh karena alasan ingin menguasai harta korban. Juga membunuh karena ingin melampiaskan nafsu syahwat. Betapa sering kita jumpai korban perkosaan yang dibunuh secara keji dan tak berperi kemanusiaan.  Termasuk rangkaian pembunuhan keji dan mutilasi beberapa anak laki-laki korban sodomi. Pembunuhnya ternyata adalah seorang kakek yang berwajah ‘tak berdosa’.

Adapun tentang kejahatan dan kedurhakaan, agaknya kita harus mengakui bahwa .jumlah dan ‘kualitas’ kejahatan semakin meningkat. Kejahatan makin lama semakin marak dan semakin canggih. Rasa tidak aman yang menjangkiti masyarakat sekarang sudah semakin tebal. Kini banyak orang yang takut bepergian sendiri pada malam hari.  Karena pada siang hari saja banyak yang jadi korban penjambretan, penodongan dan perampokan. Kawanan garong bersenjata api bahkan berani menyerbu bank pada siang hari bolong.  
Para pemegang amanah juga banyak yang berlaku durhaka. Termasuk mereka yang seharusnya adalah penegak hukum. Para pemimpin dan pejabat bertindak ‘semau gue’. Mereka lupa bahwa sejatinya jabatan adalah sebuah amanah. 
Seperti tak lagi punya rasa malu, korupsi meraja lela. Perbuatan tercela itu terjadi dikalangan eksekutif, legislatif dan yudikatif.  Banyak terjadi pencurian uang negara yang dilakukan secara “berjamaah”.  
Masya Allah.

Moral para pemimpin semakin meragukan. Itu semua adalah fakta yang tidak dapat kita pungkiri.
Banyak pemimpin yang lupa pada rakyat. Politisi membohongi konstituennya. Lupa pada janji-janjinya ketika kampanye, meminta rakyat untuk memilih dirinya. Setelah terpilih mereka ‘kembali’ ke sifat asalnya. Tamak, congkak, tak peduli lagi pada penderitaan rakyat.  Merekapun lebih mementingkan diri sendiri dan partai atau golongannya. Belum lama bekerja (untuk negara) sudah sibuk memperjuangkan kenaikan gaji. 
Belum lagi ulah para Anggota Dewan yang terhormat. Mereka lebih suka melancong keluar negeri daripada memperjuangkan nasib rakyat yang katanya diwakilinya itu.
Jaman sekarang lebih banyak pejabat yang dipilih hanya karena “kroni dan koalisi”, bukan karena keahlian atau profesinya. 
Padahal Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Apabila sebuah pekerjaan diberikan kepada orang YANG BUKAN AHLINYA, maka tunggu saja KEHANCURANNYA”.
Dan banyak lagi penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, yang jadi bukti nyata para pemimpin telah kehilangan amanah dan hati nurani.
Mungkin para pemimpin itu lupa bahwa Allah SWT telah berfirman akan memberikan azab yang sangat pedih pada sebuah negeri yang para pemimpinnya bertindak durhaka kepada rakyatnya. 
(Lihat Surah Al Israa, QS 17:16, yang pernah dihubung-hubungkan dengan gempa Padang, yang kebetulan saja terjadi pada pukul 17:16 WIB)). 

Dengan menyimak tanda-tanda jaman (yang menurut istilah pujangga Ronggowarsito disebut ”jaman edan”) itu, tidak salah kalau kemudian dapat disimpulkan bahwa  tampaknya memang “KIAMAT SUDAH DEKAT” !
    Adapun tentang kapan terjadinya hari kiamat itu, dalam salah satu surah di Al-Qur’an Allah SWT telah berfirman bahwa hanya Dia (Allah) yang tahu pasti saat Kiamat itu datang:
“Innas saa’ata aatiyatun akaadu ukhfiihaa li tujzaa kullu nafsim bi maa tas’aa”
(Sesungguhnya kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (terjadi) nya supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa-apa yang diusahakannya). Surah Thaahaa, QS. 20:15

Dan kedahsyatan hari Kiamat itu juga banyak dilukiskan dalam Al-Qur’an. Salah satunya dalam surah Al Qaari’ah yang berarti sebuah “Peristiwa Besar” (QS. 101).

 Gambar imajinasi artis tentang kehancuran saat Kiamat
 
Diuraikan dalam ayat (3) s/d (5) tersebut: “Dan tahukah engkau apa peristiwa besar itu? (Yaitu) pada hari manusia seakan-akan anai-anai yang ditebarkan dan gunung-gunung seakan-akan bulu yang dihambur-hamburkan”.

    Demikianlah, maka pada hari Kiamat yang akan berlangsung sangat cepat, seluruh alam semesta dihancurkan atas kehendak Sang Maha Pencipta. Allah SWT akan mematikan semua jenis mahluk yang masih hidup. Beberapa saat kemudian Ia akan membangkitkan semua umat manusia dari kuburnya. Sang “Ahkamil haakimiin” (Hakim yang paling adil) pun kemudian akan mengadakan penghitungan (hisab) amal dan dosa masing-masing manusia. Setelah itu manusia (termasuk kita semua) akan memasuki alam akhirat yang kekal abadi. Entah berada di surga atau di neraka.
Demikian sedikit rangkuman tentang hari kiamat, semoga bisa menjadi bahan renungan dan pengingat bagi kita semua.

Wallaahu a’lam bishshawab.

(dirangkum dari beberapa sumber:
1. Al-Qur’an dan terjemahnya. Dep.Agama RI, tahun I Pelita V/1989-1990.
2. Kamus Al-Qur’an, Cet.II, Juli 2008. Pustaka Antara, Purwakarta.
3. Buku pintar Agama Islam, oleh Syamsul Rijal Hamid. Cet. I Mei 2007. Cahaya Alam. Bogor.
 4. Buku pintar hadits, oleh Syamsul Rijal Hamid.Cet.III, Sept.2007, PT.Bhuana Ilmu Populer Jakarta). 

bersambung......

Rabu, 21 Desember 2011

MENGAPA HARUS ADA "HARI IBU"?

Tulisan lepas:

Persembahan untuk almarhumah bunda tercinta:

 Ibu Hj. Soelarti binti H. Soelarso Hadiwisastro



Ibu, tiga kali lebih tinggi kehormatannya dari seorang Bapak.

Alkisah ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah, SAW:
“Ya Rasulullah, siapakah diantara anggota keluargaku yang paling berhak menerima baktiku?”
Rasulullah menjawab: 
“Ibumu”,
“Kemudian siapa?”
“Ibumu”
“Setelah itu siapa?”
“Ibumu”
“Lalu siapa lagi ya Rasul?”
“Bapakmu” (HR. Muslim, seperti diriwayatkan oleh Abu Huroiroh, RA).

Bahwa penghormatan kepada seorang Ibu tiga kali lebih utama daripada kepada seorang Bapak, itulah setidaknya yang diajarkan agama (Islam) kepada umatnya.
Mengapa demikian? 

Dilihat secara umum, Ibu menjalankan peran yang sangat besar artinya bagi seorang anak. Ibu lah yang mengandung janin anaknya selama sembilan bulan lebih sepuluh hari. Ibu pula yang menyusui anaknya setidaknya sampai usia dua tahun. Dan Ibu juga yang sehari-hari lebih dekat hubungan (terutama emosional) nya dengan anaknya. Karena tugas seorang Ibu yang harus merawat bayinya selama nyaris dua puluh empat jam dalam sehari.
Walaupun sekarang tentu banyak terjadi perkecualian karena tidak sedikit Ibu yang ikut bekerja.  Namun bekerja itu juga pasti untuk tambahan nafkah buat keluarganya.
Sedemikian besar jasa seorang Ibu, sehingga seorang Bapakpun harus rela mengakuinya. Sekalipun seorang Bapak membanting tulang bekerja keras mencari nafkah, namun hal itu masih belum sebanding dengan tugas seorang ibu.
Tidak heran bahwa kemudian ada niat atau keinginan untuk membuat satu hari yang khusus dipersembahkan bagi seorang Ibu. Keinginan itu bersifat universal. Karena lebih dari 75 negara didunia (termasuk Amerika Serikat) sepakat menetapkan minggu kedua bulan Mei sebagai “Hari Ibu” (Mother’s Day). 

Kecuali beberapa negara Eropa dan Timur Tengah yang memperingati “Hari Ibu” pada bulan Maret setiap tahunnya.

Dan ternyata Indonesia juga mempunyai "Hari Ibu" sendiri.
Sejak sebelum Indonesia merdeka, para perempuan ‘pribumi’ telah menyadari pentingnya kedudukan seorang perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Oleh sebab itu pada tanggal 22 – 25 Desember tahun 1928 diadakanlah “Konggres Perempoean Indonesia” yang pertama. 
Diikuti oleh 30 Organisasi Perempoean dari 12 kota di Jawa dan Sumatra, konggres dilangsungkan di nDalem Djajadipoeran, Yogyakarta (kini Kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, Jl. Brigjen Katamso). Hasil dari Konggres tersebut adalah terbentuknya “Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia” (PPPI). Inilah perkumpulan perempuan yang kelak menjadi KOWANI (Konggres Wanita Indonesia).
Merasa bahwa ‘Konggres Perempoean Indonesia’ pada tanggal 22 – 25 Desember 1928 adalah tonggak bangkitnya perempoean Indonesia, maka Presiden Soekarno kemudian menerbitkan Dekrit (Keputusan Presiden).  Dekrit atau Keppres no 316, tanggal 16 Desember tahun 1959 tersebut memutuskan bahwa tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai “HARI IBU”. Disebutkan juga bahwa HARI IBU adalah hari yang harus diperingati secara nasional meskipun bukan hari libur.

Bunga Melati lambang seorang Ibu

Sekuntum melati lambang kasih nan suci
Ibu Indonesia pembina tunas bangsa
Berkorban sadar cita tercapai dengan giat bekerja
Merdeka laksanakan bakti pada ibu pertiwi

Wanita Indonesia s'bagai Ibu Bangsa
Ibu Indonesia pembina tunas bangsa
Merdeka laksanakan darma 'tuk mencapai cita-cita
Indonesia nan jaya adil makmur merata


Itulah bait dari lagu "Hymne Hari Ibu", yang diciptakan oleh komponis N. Simanungkalit.
Jauh sebelum bunga Melati ditetapkan sebagai Puspa Bangsa, bunga berwarna putih bersih ini sudah dijadikan lambang Hari Ibu. Warna putih kita ketahui adalah lambang kesucian. Apalagi bunga Melati juga harum mewangi baunya. 
Namun sejatinya bunga Melati diambil sebagai lambang dari 3 hal yang sangat menonjol dari seorang ibu. 
Adapun 3 hal tersebut adalah:
Yang pertama: Kasih sayang kodrati antara ibu dan anak. Sudah banyak kita dengar tentang kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, yang kalau dikisahkan semuanya akan menjadi sangat panjang.
Yang kedua: melambangkan kekuatan, kesucian dan pengorbanan seorang ibu kepada anaknya.
Yang ketiga: perlambang dari kesadaran perempuan menggalang kesatuan dan persatuan serta ikhlas berbakti kepada bangsa dan negara.
Bukan dengan maksud akan merendahkan martabat para Bapak, karena tulisan ini hanyalah sebagai bentuk penghargaan kepada kaum Ibu Indonesia (dan juga kaum Ibu dimana saja).
Kita semua juga tahu, bahwa predikat sebagai seorang “IBU” hanya didapat karena ia adalah isteri dari seorang “BAPAK”. Tanpa kehadiran Bapak, apakah seorang perempuan layak disebut sebagai IBU? Secara normal, seorang perempuan hanya bisa melahirkan seorang anak (dan dengan demikian ia disebut sebagai seorang ‘ibu’) karena adanya seorang lelaki (yang setelah mempunyai anak disebut sebagai ‘bapak’). 
Namun kita semua tetap maklum, bahwa peran seorang ibu dalam mendidik anaknya, jauh lebih berat daripada peran seorang bapak. Apalagi dijaman sekarang ternyata banyak sekali Ibu yang berperan ganda dalam menopang nafkah keluarganya.
Dikota Yogya ada seorang istri yang karena suaminya jatuh sakit permanen, rela menggantikan peran suaminya. Walaupun peran yang digantikannya adalah....menarik becak. Peran itu dilakukannya tanpa pernah mengeluh. Dari usahanya menarik becak itulah ia membiayai anak-anaknya sekolah. Tentu juga sekaligus menghidupi keluarganya. Jadilah ia tiang keluarga dalam arti kiasan dan sesungguhnya. 

Dipasar tradisional yang ada dikota manapun juga, lebih dari setengahnya adalah para pedagang perempuan. Mereka berjualan sejak sebelum matahari terbit (terkadang) sampai senja tiba. Inilah sejatinya potret kaum perempuan Indonesia yang layak kita apresiasi keteguhan hatinya. Perempuan yang sepenuh hati mencari nafkah dengan jalan yang halal, untuk memenuhi nafkah keluarganya. Tanpa mengeluh, tanpa deraian airmata. Menerima nasibnya dengan ikhlas.

Hampir sama dengan yang terjadi dikota-kota besar. Banyak perempuan yang juga ikut membanting tulang untuk menegakkan tiang rumah tanggamya. Tantangan yang dihadapi dikota besar tentu juga jauh lebih besar. Karena kehidupan kota besar yang gemerlapan bisa menghancurkan sendi-sendi keimanan seorang wanita. Jauh lebih rentan daripada kendala dan godaan yang dihadapi kaum lelaki.

Kalau kita renungkan semua itu, sangat pantas kita memberikan penghargaan kepada kaum perempuan. Baktinya kepada anak-anak, keluarga dan andilnya dalam membangun sebuah bangsa sungguh tak ternilai. Rasanya pantas kalau ada sebuah hari (dalam satu tahun) yang kita persembahkan  kepada kaum perempuan. 
Diantara para perempuan itu adalah IBU yang melahirkan kita kedunia. 
Perempuan perkasa yang gigih menegakkan tiang keluarga, rumah tangga dan bangsanya.

Dirgahayu perempuan dan Ibu Indonesia. 

Selamat Hari Ibu.
 

Rabu, 30 November 2011

"DHAUP AGENG" (PERNIKAHAN AKBAR)


Tulisan lepas:
Bagian kedua (terakhir) dari dua tulisan.


“DHAUP AGENG”
KARATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT

 Acara "Bopongan" Penganten
.
Tamu Undangan berebut bus tumpangan........

Didalam undangan mewah dari Sri sultan HB X itu disebutkan bahwa para tamu undangan hanya diijinkan membawa kendaraan sampai ke Alun-alun utara saja. Selanjutnya kendaraan diparkir dan para tamu akan dibawa ke bangsal Kepatihan Danurejan dengan menggunakan beberapa buah bus dan kendaraan minibus yang khusus dipersiapkan oleh Panitia.
Saya pikir pengaturan seperti itu adalah keputusan yang tepat, karena tidak terbayangkan kalau ribuan tamu membawa sendiri kendaraan masing-masing ke Kepatihan Danurejan yang kapasitas tempat parkirnya sangat terbatas. Selain itu pasti juga akan menimbulkan kemacetan parah.
Semula saya agak ragu. Ada beberapa teman yang katanya diundang pukul 19.00 (tujuh malam). Saya sendiri mendapat undangan untuk pukul 20.00 (delapan malam). Padahal tempatnya jelas sama: Kepatihan Danurejan Jalan Malioboro. Tempat kumpulnya juga sama: Alun-alun Utara. Apakah undangan salah cetak? Pasti tidak! Apakah tamu dibuat bergiliran datang? Mungkin saja. Tapi bagaimana prosedurnya? Ah, repot amat mikirnya. Amat saja tidak repot mikir kaleeee......

"Ringin Kurung" di Alun-alun
Daripada bingung, selepas sholat magrib saya dan isteri sudah siap meluncur ke Alun-alun utara. Sampai disana ternyata sudah berjubel tamu undangan yang jelas satu tujuan. Dilihat dari busana dan lencana yang dikenakan didada kirinya. Semua pria terlihat gagah dalam balutan Pakaian Sipil Lengkap (PSL). Ibu-ibu mengenakan kebaya dan atau busana muslimah, kelihatan ayu, cantik serta gandes luwes. Semuanya sesuai dengan “dress code” seperti yang tertera di undangan. Masya Allah. Banyak sekali tamu yang menunggu bus pengangkut!
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih, tapi belum ada satupun bus yang datang. Ketika ada sebuah bus ukuran 30 an penumpang yang datang, saya tarik isteri saya untuk maju lebih mendekat. Ternyata semua berpikiran sama. Jadilah bus yang baru satu-satunya itu jadi ajang rebutan. Persis seperti orang yang rebutan kendaraan untuk pulang mudik! Padahal semua berpakaian rapi. Perebutan kekuasaan...eh, bus itu akhirnya selesai juga. Dan saya beserta isteri bisa ikut terangkut, walaupun harus rela berdiri berdesakan. Semua kursi sudah berhasil diduduki oleh mereka yang lebih  kuat dan ‘perkasa’. Lumayan karena meski terlihat kumuh, tapi busnya ternyata memakai pendingin udara juga. Alhamdulillah.

Tarian “Bedaya Manten” ciptaan Sri Sultan HB IX mengawali Resepsi

Turun dari bus di Gerbang Kepatihan, sayup-sayup sudah terdengar suara gamelan mendayu-dayu melantunkan gending pengiring tarian. Selesai menyerahkan kartu hadir, para tamu mendapat souvenir (cindera mata) berupa sebuah buku berjudul “Dhaup Ageng”.
Berwarna hijau mirip dengan warna undangan, buku souvenir itu bergambar kedua mempelai yang tersenyum bahagia, persis seperti yang dipasang pada spanduk-spanduk dipinggir jalan. Saya baru saja menggandeng isteri, ketika mendadak seorang gadis manis penerima tamu menangkupkan kedua tangannya seraya tersenyum manis dan mengucapkan ‘Sugeng Rawuh’. Lalu langsung berjalan mendahului didepan kami berdua untuk menunjukkan arah tempat duduk yang masih kosong. Saya sedikit terpana. Tidak menyangka akan mendapat kehormatan layaknya tamu Very Very Important Person. 
Padahal...... hmmmm....belum tahu dia......
 "Bedaya Manten"
Dibangsal Kepatihan terlihat serombongan gadis muda dan ayu sedang menarikan tari “Bedaya Manten” yang konon diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang tidak lain adalah kakek sang Pengantin Wanita. Rupanya itulah tarian andalan untuk menyambut para tetamu dalam setiap resepsi pernikahan kraton yang sakral itu.
Ketika telah mendapatkan tempat duduk, saya baru menyadari bahwa jam yang ditunjukkan dalam undangan ternyata memang dibedakan, sesuai dengan pangkat, harkat, martabat dan kedudukan yang diundang. Semakin awal diundang, berarti semakin terhormat tamu tersebut, karena akan mendapatkan tempat duduk terdepan. Yang mendapat undangan dengan jam paling akhir (jam 20.00 atau jam delapan malam) seperti yang saya dapatkan, itu berarti termasuk tamu yang (maaf) tentu paling rendah kedudukannya. Tempat duduknyapun berada dibarisan paling belakang.
Saya langsung teringat jaman masih suka menonton Wayang Orang di ‘Ngesti Pandowo’ dulu, semakin mahal karcis yang dibeli, semakin depan tempat duduk yang didapatkan. Yang duduk paling belakang didalam gedung pertunjukan Wayang Orang, artinya karcisnya paling murah dan disebut menduduki kursi “kelas kambing”.
Malam ini tampaknya saya juga mendapat jatah duduk di ‘kelas kambing’, maklum, saya hanya rakyat jelata. Tapi saya tetap merasa mendapat perlakuan yang tidak kurang terhormatnya. Dan memang sama sekali tidak ada perbedaan perlakuan pelayanan kerpada para tamu, kecuali masalah ‘tempat kedudukan’ itu.


Bangsal Kepatihan Danurejan,  tempat ‘Pasewakan’ yang penuh pesona...

Mendengar gending yang dilantunkan oleh para niyaga secara ‘live’ (langsung) dimalam hari disebuah bangsal seperti Kepatihan Danurejan ini, membuat bulu kuduk merinding saknalika.
Lampu-lampu ditenda tamu undangan dibuat redup dan hanya lampu dibangsal yang berupa chandellier (lampu robyong) berusia ratusan tahun yang dinyalakan kencar-kencar (sangat terang). Yang disebut sebagai “bangsal” itu adalah sebuah Pendopo Joglo berukuran sangat besar, ditengahnya empat soko guru tinggi menjulang. Lantainya terbuat dari pualam putih bersih nan mengkilat.

Dan  disitulah nampak Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta permaisurinya,  Gusti Kanjeng Ratu Hemas (baca: Emas), Gusti Kanjeng Ratu Bendara (Pengantin Wanita), Kanjeng Pangeran Harya Yudanegara (Pengantin Pria) dan kedua besan Sri Sultan duduk menghadap kearah para penari dan para niyaga. Para niyaga ini duduk bersimpuh dilantai, yang menghabiskan tempat hampir separuh dari luas bangsal itu sendiri.
Tenda para tamu undangan dibangun diluar pendopo, dan agak lebih rendah kedudukannya. Semua tamu (dari tiga arah: kanan, tengah dan kiri) menghadap kearah bangsal dimana Sri Sultan duduk. Para tetamu super VVIP terletak diarah kanan dari tempat duduk Sri Sultan HB X. Yang membedakan dari undangan yang lain adalah, khusus bagi para tamu super VVIP ini disediakan round table (meja bundar). Mereka duduk mengelilingi meja yang diatasnya sudah penuh dengan hidangan. Sedangkan bagi tetamu lain, hidangan disediakan secara prasmanan dalam gubug-gubug yang tak terhitung jumlah dan macamnya.
Iringan gending yang bertalu menghanyutkan membuat suasana temaram menambah sakralnya ‘Pasewakan Agung’ itu. Sesudah tari Bedaya itu selesai dipentaskan, ternyata masih ada satu lagi tarian yang dipersembahkan pada malam hari itu. Yaitu tari “Lawung” yang menggambarkan tarian seorang Ksatria yang akan berangkat menuju medan perang. Dua buah tarian itu menghabiskan waktu nyaris satu jam penuh. Oleh sebab itu ditengah tarian yang kedua ini, entah dapat komando dari mana dan siapa, para tamu undangan mulai ‘menyerbu’ hidangan yang sudah tertata rapi dimeja prasmanan  dan aneka makanan yang disajikan dipuluhan  ‘gubug’ yang tertata rapi. Tentu saja semua hidangan sangat lezat rasanya, mengingat yang mengundang adalah seorang Raja.

Antri untuk memberikan ucapan selamat, dan singgasana yang haram di’ungkuri’.....

Saya tidak tahu persis jumlah undangan yang hadir pada malam itu, tapi saya yakin jumlahnya pasti ribuan orang. Hal itu terlihat ketika tiba saatnya para hadirin dan tamu undangan dipersilakan memberikan ucapan selamat. Saking banyaknya tamu undangan, antrian yang terbentuk sampai menyerupai susunan beberapa huruf “S”. Semuanya tampak rapi berbaris. Tidak terlihat ada yang saling mendahului. Tertib dan khusyuk. Walaupun rata-rata seorang tamu undangan harus sabar menanti giliran sekitar setengah sampai tiga perempat jam lamanya. Kecuali tentu undangan VVIP yang tempat duduknya paling dekat dengan singgasana Raja dan dipersilakan untuk mendahului mengucapkan selamat.

Karena waktu menunggu dalam antrian lumayan lama, maka beberapa tamu undangan menggunakan kesempatan langka itu untuk berfoto ria dengan latar belakang Bangsal Kepatihan yang memesona. Saya dan isteri tentu saja termasuk dalam barisan “narsis” grup itu. Dengan bekal kamera saku digital murahan, saya bergantian dengan istri saling memotret dengan mengambil latar belakang yang saya anggap sangat bagus dan ‘dramatis’, yaitu barisan tamu undangan yang sedang bersalaman dengan Sri Sultan dan pasangan Pengantin Kerajaan. Tak terduga tiba-tiba saya dihampiri oleh seorang petugas berpakaian setelan jas gelap berambut cepak. Dengan suara rendah tapi jelas dan tegas dia melarang istri saya dan saya sendiri yang sedang berdiri membelakangi singgasana Sri Sultan HB X.

“Mohon maaf Bapak, Ibu, silakan mengambil gambar tapi nuwun sewu jangan ngungkuri  dampar kencana (berdiri membelakangi kursi emas, maksudnya tempat duduk atau singgasana Raja)”
Tentu dengan segera saya memohon maaf, karena memang tidak mengetahui aturan protokoler Karaton Ngayogyakarto Hadiningrat. Maklum rakyat jelata yang belum pernah masuk Istana Raja, apalagi ikut acara resminya. Kalau menurut kata Tukul Arwana: “Ndesooooo....!”

Akhirnya tiba juga giliran saya dan isteri berhadapan dengan Ngarso Dalem beserta Garwo Padmi (Permaisuri) dan sepasang Penganten beserta besan Sri Sultan HB X. Dengan tersenyum ramah Raja dan Ratu Yogya itu menerima uluran tangan kami berdua sembari mengucapkan terima kasih. Kemudian tiba giliran bersalaman dengan kedua mempelai dan besan Sri Sultan HB X yang memang sudah kami kenal baik sebelumnya. Momen yang tidak sampai dua menit itu serasa menghilangkan rasa lelah akibat berdiri dalam antrian panjang selama sekitar setengah jam lebih.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam lewat beberapa menit ketika kami berdua harus antri lagi menunggu bus atau kendaraan lain yang disediakan oleh panitia untuk kembali ke Alun-alun Utara tempat berkumpul semula.

Bagaimanapun juga, pengalaman malam hari itu, menjadi saksi mata langsung ‘Dhaup Ageng’ Karaton Ngayogyakarto Hadiningrat adalah pengalaman berharga yang tak terlupakan seumur hidup bagi saya dan isteri.

Senin, 24 Oktober 2011

"DHAUP AGENG" (PERNIKAHAN AKBAR)


Tulisan lepas:
Bagian pertama dari dua tulisan.

'Gawe' besar
KARATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT

 Buku Kenangan Resepsi "Dhaup Ageng"

Released by mastonie on Monday, October, 24, 2011 at 11.36 am



Warga Yogya yang selalu setia pada Rajanya......

Matahari bersinar sangat terik disiang hari menjelang sore dipertengahan bulan Oktober 2011. Hati saya nratap (berdesir), pemandangan yang tersaji didepan mata mengingatkan saya pada pemandangan yang nyaris sama pada bulan Oktober tahun 1988. Masyarakat Yogyakarta berbondong-bondong mendatangi alun-alun yang terletak dipusat kota. Tua muda, besar kecil, laki-laki dan perempuan segala usia seperti tak mengenal lelah dan tak takut terpaan sinar mentari yang menyengat mata dan kepala.

Hanya suasananya yang jauh berbeda. Bulan Oktober tahun 1988, masyarakat Yogyakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya sangat berduka karena wafatnya Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Wajah-wajah yang tampak disepanjang jalan adalah wajah yang muram, sembab dan banyak pula yang terus mengucurkan air mata. Kesedihan sangat mendalam terasakan dimana-mana. Mendung menggantung, semilir anginpun berhenti seperti menyiratkan duka nan mendalam. Sepasang Beringin kurung di alun-alun layu menguncup daunnya.
 
23 tahun kemudian, hari Selasa Wage, 20 Dulkaidah tahun 1944 atau tanggal 18 Oktober 2011, suasana tampak sangat bertolak belakang. Kini yang terlihat adalah wajah cerah ceria. Senyum menebar dimana-mana. Masyarakat Yogyakarta dan daerah sekitarnya begitu antusias menyerbu alun-alun dan sepanjang jalan Malioboro. Kemacetan pun tak terhindarkan. Mobil dan sepeda motor tampak diparkir dipinggir jalan, ratusan sepeda motor diparkir memenuhi gang-gang yang berada dekat dengan alun-alun karena Jalan Malioboro sejak pagi dinyatakan ditutup untuk semua jenis kendaraan. 


Pada hari itu ratusan pedagang kaki lima dan angkringan secara sukarela menyediakan masing-masing sekitar 200 makanan dan minuman yang dibagikan secara gratis kepada siapa saja. Tak terbayangkan kesetiaan, keikhlasan dan suka cita warga Yogyakarta menyambut pesta “Dhaup Ageng”  (Pernikahan Akbar) putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Undangan yang mengagetkan

Seminggu sebelumnya ada BBM masuk ke perangkat BlackBerry saya. Pengirimnya adalah dokter Maya Dewimayanti Rizadh. Isinya sangat mengejutkan:

“Mohon ijin memberitahukan bahwa bapak mendapat Undangan pernikahan Ubed. Harus segera ada konfirmasi kesediaan hadir. Kalau tidak undangan akan ditarik kembali. Trm ksh”.

Dokter Maya adalah teman sekolah satu angkatan dengan anak perempuan saya. Dia kakak ipar calon mempelai Pria yang sehari-hari biasa dipanggil “Ubed” (nama aslinya Ahmad Ubaidillah, SE, Msi yang sekarang bergelar Kanjeng Pangeran Harya Yudanegara). Kebetulan pula, suami dokter Maya adalah Drs. Rizky Adhari, SH (saat ini menjabat sebagai salah satu Lurah di Kebayoran Baru) yang pernah bertugas sebagai Ajudan Menteri Dalam Negeri semasa saya masih menjadi Sekretaris Pribadi Menteri Dalam Negeri. Pak Lurah Rizky ini adalah kakak laki-laki tertua dari Mas Ubed. Dialah yang akan menjadi pengganti ayahnya yang sudah wafat, untuk mendampingi Ibunya sebagai Besan Sri Sultan HB X. Sedangkan Mas Ubed (calon mempelai pria) sendiri sebelum menjabat salah satu Kasubid di Kantor Sekretariat Wakil Presiden, pernah pula bertugas sebagai staf Protokol di Depdagri, sehingga secara pribadi saya mengenal dengan baik mereka berdua beserta keluarga besarnya yang asli Lampung.
Tanpa berpikir panjang saya langsung membalas BBM  dari dokter Maya untuk menyatakan kesediaan hadir saya bersama isteri. Siapa yang mau melewatkan kehormatan bisa menyaksikan acara pernikahan Karaton Yogyakarta Hadiningrat yang pasti akan berlangsung secara megah itu. 
Dua hari kemudian Undangan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X sudah berada ditangan saya. 


Berupa sebuah buku setebal nyaris dua sentimeter, berwarna hijau dengan hiasan warna prada (emas) berlambang Sultan HB X yang sangat khas (warna merah menyala diselimuti warna emas), undangan itu dicetak sangat mewah. 
Apabila dibuka, dibagian sebelah kiri undangan “Dhaup Ageng” berwujud tiga lembar pemberitahuan (undangan dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan satu kartu parkir mobil). Disebelah kanan terbagi menjadi tiga bagian. Paling atas terdapat sebuah buku notes sebagai souvenir, dibagian tengan ada dua buah lencana berbentuk lambang Sultan HB X berwarna emas dengan pita berwarna hijau. Lencana berpita ini wajib dikenakan para tamu sebagai ‘tanda masuk’ ke tempat resepsi. Bagian paling bawah adalah sebuah kartu tanda hadir yang harus diisi nama dan alamat tamu undangan. Kartu ini dipergunakan sebagai pengganti buku tamu.

Gemetar tangan saya membaca undangan dari Ngarso Dalem Sri Sultan HB X. Disitu tertulis dengan jelas (sebagai awal kalimat) siapa pengundangnya:

“NGERSO DALEM SAMPEYAN DALEM INGKANG SINUWUN KANGJENG SULTAN HAMENGKU BUWONO SENOPATI ING NGALAGA, NGABDURRAKHMAN SAYIDIN PANATAGAMA, KALIFATULLAH, INGKANG JUMENENG KAPING X ING NGAYOGYAKARTA HADININGRAT  saha  GUSTI KANJENG RATU HEMAS” 

Ini adalah sebuah kehormatan bagi rakyat jelata seperti saya. Alhamdulillah. Kenangan saya surut kembali ke tahun 1988, dimana pada saat itu saya juga mendapat kehormatan bisa mengantar  jenazah almarhum Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono IX, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia yang masih menjadi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus Raja Yogyakarta. Saya bahkan duduk tepat disamping peti jenasah Sri Sultan HB IX yang dibawa kekota Yogyakarta dengan menggunakan pesawat C 130 Hercules AURI (TNI AU). Waktu itu saya mendapatkan jatah gratis sebuah surjan (jas Jawa, beskap) dan udheng wulung (ikat kepala warna hitam)  serta pinjaman kain jarik corak Yogya yang harus dipakai para peziarah untuk mengantar jenasah Ngarso Dalem sampai ke Makam Imogiri. Saat itulah saya menyaksikan betapa besarnya kecintaan rakyat Yogya terhadap rajanya yang mangkat di RS Walter Reed Amerika Serikat. Masyarakat berdiri takzim disepanjang jalan dari Karaton Yogyakarta sampai Makam Imogiri (Kabupaten Bantul) yang nyaris 20 km jauhnya.

Montor mabur yang harus terbang muter dan bermalam di Ndalem Gamelan

Saya dan isteri yang hanya mendapat undangan untuk hadir pada Resepsi Pernikahan Akbar (Dhaup Ageng), memutuskan untuk berangkat ke Yogya tepat pada hari “H” yaitu Selasa (18/10/11) pagi. Tentu hal ini menyangkut pertimbangan ‘ekonomi’, karena menyadari bahwa pasti seluruh hotel dan penginapan dikota Yogya akan fully booked  oleh tamu yang datang dari seluruh Indonesia. Saya yakin 'gawe besar' tersebut pasti akan membuat tarip hotel menjadi lebih mahal dibanding hari biasa.
Persiapan pergi ke kota Yogya memang sangat mendadak, semuanya datang secara tiba-tiba jadi harus bergerak cepat. Beberapa teman Fesbuk yang tinggal di Yogya saya hubungi, tapi semua menyatakan hotel dan penginapan sudah penuh. Beruntung adik bungsu saya mengelola sebuah home stay yang berada dikawasan njeron beteng (didalam beteng, Kraton), yaitu nDalem Gamelan, terletak dijalan Gamelan nomer 18. Kebetulan masih ada satu kamar yang kosong karena kamar mandinya berada diluar. Saya hanya butuh kamar tidur untuk semalam saja, bukan kamar mandinya, itu bukan masalah besar,  jadi saya putuskan untuk tinggal di nDalem Gamelan saja. 

Setelah menyibak kemacetan lalu lintas cukup parah di jalan tol dalam kota, hari Selasa pagi saya sudah berada di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta di kawasan Tangerang. Saya dan isteri mendapat kemudahan tiket pesawat Jakarta-Yogya PP secara gratis, karena anak laki-laki saya  adalah salah seorang ‘pengemudi’ di perusahaan penerbangan yang menerapkan sistem low cost (harga rendah) pertama di Asia. Maka terbanglah saya dengan percuma, naik montor mabur ke Yogyakarta.
Pesawat Airbus A-320 dengan nomor penerbangan QZ-7346 jurusan Yogyakarta yang saya naiki harus holding (terbang berputar-putar) diatas udara kota Yogya selama lebih kurang setengah jam sebelum mendarat. Ada apakah gerangan? Ternyata pada saat yang sama pesawat Kepresidenan sedang dalam proses tinggal landas, bertolak mengudara kembali ke Jakarta.  
Hmmmm.....beginilah nasib rakyat jelata yang (demi alasan keamanan dan keselamatan Presiden) selalu harus memberikan kemudahan dan prioritas kepada para pemimpinnya. 


Turun dari pesawat terbang, udara kota Yogyakarta sungguh sangat menyengat panasnya. Akan tetapi gairah kemeriahan menyambut Pernikahan Agung Putri Bungsu Sri Sultan HB X yang menjadi Rajanya “Wong Yogyakarta” sangat terasa disepanjang jalan menuju lingkungan Kraton. Spanduk besar bertulisan “Dhaup Ageng” yang dihiasi gambar pasangan mempelai Kerajaan sedang tersenyum cerah, terpajang dipinggir-pinggir jalan yang stategis.

“Dhaup Ageng” yang tidak kalah semaraknya dengan ‘the British Royal Wedding’

Sebenarnya rangkaian upacara Pernikahan Akbar putri bungsu Sri Sultan HB X berlangsung selama empat hari berturutan. Dimulai pada hari Minggu, 16 Oktober sampai dengan hari Rabu tanggal 19 Oktober 2011. Puncaknya adalah pada hari Selasa, 18 Oktober yang berupa Upacara Akad Nikah yang berlangsung pada pagi hari, Kirab Pengantin sepanjang jalan dari Karaton sampai Kepatihan Danurejan di sore hari dan Resepsi Pernikahan pada malam harinya. 
Resepsi “Dhaup Ageng” yang sakral dan agung berlangsung di bangsal Kepatihan Danurejan di Jalan Malioboro. Kepatihan sendiri sehari-harinya dipakai sebagai Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sore hari itu sebetulnya saya beserta isteri ingin sekali ikut menyaksikan acara Kirab Pengantin Kerajaan yang digelar disepanjang jalan dari Kraton ke Kepatihan Danurejan. Akan tetapi ternyata mobil yang saya naiki terjebak kemacetan dimana-mana, sehingga saya putuskan melihat acara tersebut di nDalem Gamelan, melalui siaran langsung dari TV Yogyakarta. 
Lebih nyaman dan tidak berebutan dan berdesakan, walaupun tentu ‘atmosfer’ nya sangat berbeda.
"Kiai Jong Wiyat"                                            repro: Kompas
Kirab Pengantin yang mempergunakan 5 (lima) Kereta Kuno milik Kraton Yogya yang rata-rata buatan abad 19 itu, memang terlihat dilayar TV sangat luar biasa. Kereta Kencana (berwarna kuning keemasan) bernama “Kiai Jong Wiyat” (Kw: Jong = Kereta, Wiyat = Angkasa) yang ditumpangi sepasang pengantin adalah kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda berkulit putih bersih. Diproduksi pada tahun 1880 oleh sebuah pabrik Kereta Kuda di negeri Belanda, kereta pusaka ini sudah sangat jarang dipakai karena usianya yang lebih dari 1 abad (tepatnya 130 tahun) dan dianggap sudah sangat uzur. 

Pasangan pengantin Kanjeng Pangeran Harya Yudanegara yang tampan gagah perkasa bersanding dengan Gusti Kanjeng Ratu Bendara yang mungil dan cantik jelita, tampil dengan wajah berseri-seri menimbulkan kekaguman siapapun yang menyaksikannya. Sungguh pasangan yang sangat serasi. 
Saya pribadi berpendapat, mereka berdua tidak kalah pesonanya dengan pasangan Pangeran William dan Kate Middleton, Pengantin Kerajaan Britania Raya!!  


bersambung......