Selasa, 19 April 2011

"DAPAT 'KAPLING' DARI JENDRAL.....DAPAT AIR MINUM DARI....'BRANWIR' !!!.."


 (cuplikan dari: "kisah2 spiritual" mastonie)

( 9 )


Released by mastonie on Tuesday, April 19, 2011 at 12.25 pm


MINA, tanah yang sanggup menampung jemaah berapa saja….. 

tenda2 di Mina, foto: mastonie
Hari Minggu, 16 Desember 2007 (7 Dzulhijjah 1428 H)  menjelang tengah hari yang panasnya semakin terik,  seluruh anggota rombongan jemaah calon haji PT Anubi Travel akhirnya telah terkumpul dan bersiap meninggalkan Masjidil Haram menuju Mina untuk Mabit (bermalam). Sepanjang jalan tampak iring-iringan puluhan bus besar dan kecil dengan tujuan yang sama.  Yang menarik perhatian saya adalah banyaknya bus yang atapnya  dibuat khusus agar bisa dipergunakan sebagai tempat duduk para jemaah. Konon kebanyakan jemaah calon haji dari Negara Timur Tengah yang menginginkan naik diatap bus. Alasannya? Biar doanya tidak terhalang atap bus! Ada-ada saja.
Pada siang hari itu  lalu lintas menuju Mina belum terlalu macet, sehingga menjelang ashar kita sudah masuk wilayah Mina dan langsung menuju tenda yang dikelola oleh Maktab 82.
Ini adalah kedua kalinya saya menginjak tanah Mina untuk melaksanakan salah satu rukun haji: Mabit.
Mina tahun 1992 sungguh berbeda dengan Mina tahun 2007. Sejauh mata memandang saya lihat hanya ada ribuan tenda permanen putih bersih yang konon dibuat dari bahan anti api. Tenda yang diperuntukkan jemaah calon haji non reguler (ONH Plus) juga dilengkapi dengan alat pendingin ruangan (AC). Dulu tenda-tenda di Mina beraneka warna dan bentuknya, sesuai dengan kemampuan Maktab masing-masing.
Sekarang tenda sudah nyaris seragam, setidaknya dari warnanya.
Saya tercenung didepan Maktab 82. Jalan-jalan sudah beraspal halus. Disekitar saya terparkir puluhan bis besar ber AC yang mengangkut ribuan jemaah calon haji dari berbagai Negara.
Inilah Mina sekarang.
Orang Arab sendiri menyebut tanah kosong yang hanya dipakai setahun sekali pada saat musim haji itu sebagai Muna. Artinya “pengharapan”. Konon ditanah inilah Nabi Adam AS sangat berharap dapat bertemu dengan Siti Hawa, istri yang telah terpisah selama 200 tahun.
Mereka memang akhirnya dipertemukan Allah Swt disatu tempat yang kini disebut sebagai ‘Jabbal Rahmah’ di padang Arafah.

 
Tentang Mina, Rasulullah Saw pernah bersabda:
“Sesungguhnyalah, (tanah) Mina itu seperti rahim seorang ibu, dimana pada saat terjadi kehamilan maka (ia) akan diluaskan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala”
Memang demikianlah kenyataannya. Dari tahun ke tahun jemaah calon haji yang Mabit (bermalam) di Mina tak pernah berkurang, justru semakin banyak jumlahnya. Padahal Mina yang hanya sekitar 3,5 kilometer persegi itu tidak pernah bertambah luasnya. Tapi toh jemaah yang jumlahnya jutaan orang itu tetap dapat tertampung diwilayahnya. Subhanallah.
Sejak jaman Rasulullah, Mina sudah diharamkan untuk dimiliki oleh perseorangan karena tanah ini dianggap sebagai salah satu tempat pelaksanaan ibadah haji.
Oleh sebab itu diluar musim haji, Mina akan menjadi ‘tanah tak bertuan’ lagi. 
Kosong nyaris tak berpenghuni.

Dapat “kapling” dari seorang Jenderal…

Sewaktu duduk duduk santai diteras hotel ‘Intercon’ tadi pagi, tak sengaja saya berkenalan dengan sesama jemaah calon haji Anubi tapi berlainan ‘kelas’nya. Karena lain kelas, tentu lain pula hotel dan busnya. Oleh sebab itu para penghuni bus (dari 1 sampai 4) baru bisa bertemu pada saat seluruh anggota rombongan berkumpul. Saya sempat ‘ngobrol ngalor ngidul’ dengan priyayi Jawa yang saya duga adalah seorang Pejabat Tinggi. Berpotongan rambut cepak, kumis tipis dengan sorot mata yang jernih tajam, tapi sangat ramah.
Entah bagaimana saya merasa ‘nyambung’ dengan beliau. Saking asyiknya ngobrol, kita malah tidak sempat saling memperkenalkan diri.
Pada saat berada di bus saya buka buku panduan haji yang dikeluarkan Anubi. Saya baru ‘ngeh’ kalau beliau ternyata seorang Perwira Tinggi yang bertugas di Mabes TNI AD, Dugaan saya tidak keliru.

inilah suasana dalam tenda di Mina
Nah, di Mina, pada saat berebut ‘kapling’ di tenda (satu tenda bisa berisi kapling untuk lebih dari 30 orang), saya bertemu lagi dengan Pak Jenderal yang ternyata dengan santai sudah menduduki 2 buah kapling. Yang saya sebut sebagai ‘kapling’ adalah tempat untuk tidur didalam tenda yang hanya beralaskan tikar ditutup permadani tebal. Hanya ada bantal dan selimut. Tanpa kasur.
“Sini saja pak, ini sudah saya siapkan tempatnya” kata beliau dengan tertawa lebar.
Saya terperangah. Subhanallah, tak terduga saya dipesankan tempat oleh seorang Jenderal! 
Ini sebuah karunia dan kemudahan dari Allah Swt. Alhamdulillah.
nikmatnya 'ngorok' ditenda
Kapling yang dipilih Pak Jenderal berada paling dekat dengan “pintu” tenda. Sangat strategis menurut penilaian seorang tentara., yang terbiasa dengan 'security approach' (pendekatan dilihat dari segi keamanan). Saya dipilihkan tempat yang paling pinggir dengan alasan agar mudah keluar masuk (kalau ada "apa-apa"), sekaligus juga tanpa mengganggu orang lain.
Maksud beliau memang bagus.
Tapi pada akhirnya nanti ternyata sayalah  yang  akan menanggung akibatnya……


Fasilitas berlimpah, air minum dari…..hidran pemadam kebakaran!

Pada waktu saya pergi haji yang pertama dulu, boleh dikata saya seperti ikut haji reguler (haji  ONH biasa) walaupun harus saya akui TPOH dapat  kemudahan lebih banyak daripada jemaah biasa. 
Antara lain pondokan, transportasi dan jatah makan yang lebih dari lumayan.
Tapi jangan lupa, pada tahun 1992 saya memang boleh dibilang masih 'tenaga muda'. Jadi dapat fasilitas apapun ‘hayo’ saja. Tak ada masalah bagi saya.
Limabelas tahun kemudian ketika saya pergi haji yang kedua, tentu kondisinya berbeda. Usia jelas sudah lebih tua, apalagi setahun lalu saya baru saja jatuh sakit agak serius.
Beruntung kali ini saya dapat pergi haji dengan fasilitas ONH non reguler, atau yang dikenal sebagai ONH Plus. 
PLUS artinya lebih. Lebih mahal ongkosnya sudah pasti.
Tapi memang kemudahan yang kita dapat juga agak sedikit lebih.
Di kota Jeddah, Mekah dan Madinah rencananya kita akan tidur dihotel berbintang.
Di Maktab 82 dimana saya mabit di Mina, fasilitas nya juga lebih dari lumayan. Tendanya pakai AC. Sayangnya MCK nya kurang banyak, walaupun airnya berlebih. 
Yang paling menonjol adalah 'seksi konsumsi' alias katering nya. Saya fikir ini adalah hal paling utama. Sebab pada saat menunaikan ibadah haji dibutuhkan tenaga  ekstra lebih juga.
Jadi harus diimbangi dengan makanan dan minuman bergizi serta yang setara jumlah kalorinya.
Makanan yang dihidangkan secara 'buffet' (prasmanan) 3 kali sehari cukup memuaskan menunya. 
Selain bervariasi juga cukup jumlahnya. Dan yang terpenting:  yang dihidangkan adalah menu masakan Indonesia. Lidah Indonesia kan terkenal agak susah berkompromi. Buah-buahan tersedia berlimpah. Jeruk, apel, pisang paling sering dihidangkan. Kadang-kadang ada anggur atau semangka. Tapi saya malah belum pernah melihat ada kurma dihidangkan sebagai pencuci mulut. Barangkali kurma harganya malah lebih mahal dibanding buah impor. Pokoknya soal "perut" sudah memenuhi standar "4 sehat 5 percuma" (gratis, walaupun sudah termasuk dalam ONH yang Plus itu)
Soal air minum juga tidak masalah. Tersedia banyak sekali lemari kaca berpendingin yang berisi air mineral dan minuman ringan berbagai merk. Persis kayak ditoko minuman itu. Ini juga gratis.
Selain itu juga tersedia termos air listrik berkapasitas besar yang menyala 24 jam.
Saya menghindari minum yang serba dingin. Cuaca di Mina pada saat itu tidak terlalu panas, tapi kalau malam berubah jadi dingin dan anginnya (yang juga sangat dingin) keras sekali menerpa.
Saya lebih memilih minuman hangat, karena tersedia air panas berlimpah dan persediaan teh, gula dan kopi plus krimer yang lebih dari cukup.
Awalnya saya sempat bertanya-tanya dalam hati, ditanah tandus seperti Mina ini, bagaimana orang Arab bisa mendapat air minum dan kebutuhan air untuk MCK yang lumayan berlebihan?
Pada suatu hari saya dapat jawabannya. Sewaktu hendak membuat kopi panas saya dapati termos air listrik dalam keadaan mati. Ternyata airnya habis. Segera saja saya menghubungi pengawas Maktab yang stand by 24 jam diposnya. Tak berapa lama kemudian datang petugas yang akan mengisikan air ke termos.
Tebak darimana air minum yang akan diisikan kedalam termos?
Alih-alih air dalam galon atau setidaknya dalam ember atau tong, yang dibawa oleh petugas itu adalah selang air pemadam kebakaran yang langsung dihubungkan ke hidran yang banyak terdapat disekitar tenda. Ujung selang pemadam kebakaran  itu langsung disemprotkan kedalam termos!
Astagfirullah. Jadi selama ini kita minum air dari hidran "branwir" (pemadam kebakaran), sama dengan air yang disalurkan untuk tempat MCK!



bersambung…..


Senin, 18 April 2011

"KISAH 'TAHALUL DINI' DAN SA'I GAYA POLISI......."



 (cuplikan dari: "kisah2 spiritual" mastonie)

( 8 )

- sambungan dari ..Subhanallah...saya pergi naik haji (lagi) -

 diruang tunggu Terminal Haji Jeddah  


Released by mastonie on Monday, April 18, 2011 at 04.46 pm    


Berangkat haji dengan rasa cemas…

Rentang waktu antara ibadah haji saya yang pertama (Mei 1992) sampai kepergian saya ketanah suci menunaikan rukun Islam kelima untuk yang kedua kali (Desember 2007) adalah lebih dari limabelas tahun.
Demikian pula dengan selisih umur saya, tentu saja.
Pertama kali pergi ketanah suci saya masih merasa muda belia. Nyaris tak ada yang terasa berat dilaksanakan. Bahkan saya merasa semua tugas sebagai TPOH maupun kewajiban rukun dan wajib haji bisa saya laksanakan dengan sangat ringan. Tidak ada kesulitan berarti termasuk dalam urusan kesehatan badan. Kalau hanya masuk angin dan  batuk itu masih wajar saja. Saya kan bukan termasuk species ‘Camelus’ (unta).
Siapa menyangka sehabis melaksanakan ibadah umroh pada bulan Mei 2006, beberapa bulan kemudian (Desember 2006) saya mengalami sedikit gangguan di jantung yang mengharuskan saya dirawat di RS Jantung Harapan Kita (kini Pusat Jantung Nasional).
Beberapa saat sesudah mengikuti sholat Idul Adha di Aula RS (walaupun masih dengan memakai kursi roda), saya mendapat ijin dari dokter untuk pulang kerumah. Alhamdulillah.
Justru dengan jatuh sakit itu keinginan saya untuk kembali ketanah suci semakin kuat. Ada rasa takut tidak punya ‘waktu’ lagi. Sebagai insan yang takwa kepada Allah Swt, saya yakin bahwa rahasia umur manusia hanya Sang Penciptalah yang mengetahui.
Istri saya juga sudah ingin sekali pergi menunaikan ibadah haji. Dengan syarat harus saya temani. Maka bulat sudah niat saya. Saya serahkan semuanya kepada kebesaran dan kehendak Allah Swt.
Proses sampai saya mendapatkan nomor porsi jemaah calon haji sudah saya tuliskan sebelum kisah ini.

Singkat kata pada suatu pagi yang indah di hari Jum’at Kliwon tanggal 14 Desember 2007, sekitar pukul 08.00 pagi   WIB, saya beserta istri termasuk dalam rombongan  jemaah calon haji PT. Anubi Travel terbang meninggalkan ibukota menuju Jeddah dengan memakai pesawat Boeing 747-300 milik Air Canada yang disewa oleh Garuda Indonesia.
Ini adalah perjalanan saya yang keempat menuju tanah suci.
Perasaan syukur bercampur cemas menyelimuti hati.
Bersyukur kepada Allah Swt yang telah berkenan mengundang saya ketanahnya yang suci lebih dari sekali. Bahkan kali ini saya bisa pergi naik haji bersama istri tercinta.
Akan tetapi saya juga mencemaskan kondisi kesehatan saya diusia yang semakin renta. Apalagi setahun lalu saya dirawat di RS karena ada gangguan jantung.
Namun saya pasrahkan saja semuanya kepada kehendakNya.


Dikejar wanita bercadar ….

Terminal Haji Jeddah          foto: google
Hari menjelang petang ketika pesawat mendarat di Terminal Haji Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Cuaca masih terang benderang, angin gurun yang panas terasa menerpa kulit.
Saya tidak merasa pangling (tak kenal lagi) dengan Bandara yang paling dirindukan umat muslim sedunia ini. Suasana Terminal Haji yang berbentuk replika tenda-tenda dipadang Arafah dan Mina tetapi dalam ukuran sangat besar ini pada musim haji sangat ramai, seluruh gate (pintu) kedatangan yang dibuka penuh sesak dengan jemaah calon haji yang datang dari seluruh penjuru dunia. 
Dan tibalah saatnya proses pemeriksaan imigrasi dan pabean Arab Saudi yang selalu membikin jemaah calon haji “sutris”. Apalagi bagi jemaah calon haji yang baru pertama kali pergi ketanah suci.
Petugas Pabean Kerajaan Arab Saudi terkenal paling ‘semau gue’ kerjanya. Konon inilah ujian kesabaran pertama bagi para jemaah calon haji.  Faktor ini pula yang membikin proses pemeriksaan berlarut-larut menjadi sangat lama.
Kurang lebih dua jam kemudian rombongan jemaah calon haji yang dikelola oleh PT. Anubi Travel telah selesai melalui pemeriksaan petugas Imigrasi.
Kini rombongan berkumpul diruang tunggu untuk menunggu keluarnya bagasi.
Setidaknya sampai tahun 2007, jemaah calon haji Indonesia sangat mudah dikenali dari seragam yang dipakai. Baik jemaah wanita maupun pria memakai jaket berwarna biru telur asin dengan logo bendera Indonesia didada. Ditambah dengan sebuah bendera merah putih yang dikibarkan sebagai tanda tempat berkumpulnya jemaah calon haji Indonesia. Jemaah calon haji dari Negara lain demikian pula, memasang bendera Negaranya. Oleh sebab itu dari jauh tampak kelompok-kelompok jemaah calon haji dari beberapa Negara dengan seragam masing-masing pula.
Entah mengapa sore itu pengeluaran bagasi jemaah calon haji Indonesia agak lambat.
Jadi daripada bengong menunggu saya putuskan untuk berjalan berkeliling sambil membuat dokumentasi video dan foto.
Saya membawa sebuah handycam dan sebuah kamera digital kecil yang gampang masuk saku. Dengan santai saya berkeliling mengabadikan gambar rekan-rekan serombongan yang menghabiskan waktu menunggu dengan seribu satu tingkahnya. 

Tiba-tiba mata saya menatap segerombolan wanita memakai seragam ‘abaya’ (rok panjang) berwarna hitam. Mereka juga mengenakan cadar berwarna hitam yang nyaris menutup seluruh wajah, yang tampak hanya kedua matanya saja. Dari jauh tampak bagus sekali, seolah kawanan burung gagak yang sedang istirahat bergerombol. Saya mendekat dan mulai mengambil gambar video setiap gerak langkah mereka. Setelah merasa cukup saya beranjak pergi untuk mengambil gambar ketempat lain.
Baru sekitar dua langkah saya berjalan, sekonyong terdengar teriakan seorang wanita. Suaranya melengking mengisyaratkan kekesalan. Karena merasa tidak ada urusan dengan wanita itu saya terus saja berjalan. Mendadak jaket seragam saya ditarik. Waktu saya berbalik saya lihat seorang wanita Arab berabaya hitam dan bercadar berteriak-teriak memakai bahasa Arab yang (tentu saja) tidak saya pahami maksudnya.
Tampaknya dia sangat marah karena muka saya ditunjuk-tunjuk sambil berusaha merebut tali kamera yang saya pegang. Tentu saja saya pertahankan kamera saya mati-matian.  Terjadi tarik menarik yang disaksikan oleh nyaris semua jemaah calon haji yang ada disekitar tempat itu. Seorang laki-laki Arab datang mendekat, barangkali suami wanita itu. Dia juga berbicara dengan bahasa Arab. Cepat sekali omongannya. Tapi sambil bicara dia juga memakai bahasa isyarat. Saya jadi agak sedikit faham maksudnya. Dia minta kamera saya karena saya telah mengambil gambar para wanita bercadar itu. Saya jelas mengelak.
“No, I DID NOT take your picture”  saya berteriak membalas tak kalah nyaring.
“Look!” Saya ambil kamera digital saya, kemudian saya tunjukkan padanya foto-foto yang ada didalamnya. Jelas saja tidak ada FOTO wanita-wanita itu didalam kamera saya, karena yang saya ambil tadi adalah gambar VIDEO dengan handycam yang sekarang saya simpan dalam saku saya. Tertipu dia! Tapi entah bagaimana si wanita Arab itu masih berteriak-teriak terus. Beruntung salah seorang staf Perwakilan Anubi yang fasih berbahasa Arab datang untuk menengahi. 
Saya tinggalkan tempat itu dengan wajah kecut, diiringi senyum rekan-rekan yang sempat melihat ‘drama satu babak’ yang nyaris membuat saya babak belur.
Kali ini saya benar-benar “kena batunya”.
Belakangan baru saya tahu dari Pak Afief, bahwa banyak wanita Arab bercadar yang mengharamkan dirinya difoto. Apalagi oleh orang yang tak dikenal. Pak Afief juga heran bagaimana saya bisa selamat dari Askar Bandara, karena nekat ‘beraksi’ didaerah yang seharusnya ‘verboden’  (terlarang) untuk diambil gambarnya itu.

“Tahalul dini” dan Sa’i gaya perwira polisi….

Setelah menginap semalam di Jeddah (ini sebuah perkecualian yang jarang diperoleh oleh Jemaah lain), maka pada suatu tengah malam berangkatlah rombongan menuju kota Mekah. Sudah dengan mengenakan pakaian ‘ihram’, rombongan berangkat mengendarai 4 buah bus yang full AC untuk melaksanakan Umroh sunah. Setiap bus berisi sekitar 30 orang jemaah calon haji, dengan 2 orang mutawwif  (pemandu tawaf), jadi seorang mutawwif  memimpin sekitar 15 orang. 
Jalan raya antara Jeddah – Mekah pada tengah malam itu sudah sangat padat. Beberapa kali bus berhenti di pos pemeriksaan untuk mencocokkan jumlah paspor dan penumpang bus. Sangat ketat.
Kota Mekah-al-Mukarromah sudah terlihat. Jalanan bertambah macet. Berkali-kali sopir bus menyumpah-nyumpah mencari jalan terdekat menuju Masjidil Haram, karena banyak jalan yang ditutup oleh Askar. Empat bus rombongan tercerai berai mencari jalan sendiri-sendiri.
Alhamdulillah, akhirnya bis nomor empat (yang saya naiki) justru menjadi bus pertama yang bisa mendekat ke Masjidil Haram. Tapi nanti dulu, yang disebut “dekat” itu masih sekitar satu kilometer lebih jaraknya dari Masjidil Haram. Dan itu harus ditempuh dengan jalan kaki dimalam yang anginnya bertiup kencang sekali. Saya berjalan terseok-seok sambil menenteng tas kecil berisi perlengkapan pribadi, termasuk obat-obatan. Istri saya tampak khawatir sekali dengan kondisi kesehatan saya. Saya memang sudah tidak bisa berjalan cepat lagi seperti dulu. Jadi selalu tertinggal dari rombongan. Tapi kekuatan tekad mengalahkan segalanya. Walau lelah menerpa tapi saya merasa baik-baik saja. Apalagi ketika sudah saya lihat menara-menara Masjidil Haram yang gemerlapan dengan sinar dimalam buta itu.
Kerinduan saya untuk menatap Baitullah semakin keras.  
Labbaik allahuma labbaik……..

usai Tawaf Qudum
Akhirnya malam itu terselesaikan sudah ibadah tawaf Qudum (tawaf pembukaan) dan sa’i. Selanjutnya tinggal menunggu datangnya shalat subuh berjamaah di Masjidil Haram. Ketika itulah baru ketahuan ada beberapa orang jemaah yang ‘tercecer’. Entah bagaimana mereka bisa terlepas dari rombongan. Tidak jelas apakah lepasnya pada waktu tawaf atau pada saat sa’i.
Kini rombongan yang masih ‘kompak’ hanya menunggu saja. Mudah-mudahan ditempat pertemuan yang ditentukan (yaitu didepan pintu Raja Fahd), bisa bertemu dengan mereka yang tercecer lagi. 

Area tempat pertemuan yang ditentukan itu berupa lapangan atau plasa didepan pintu nomor “69” yang dinamakan “King Fahd Gate” (Pintu Raja Fahd). Terbuat dari marmer putih bersih, plasa yang luas itu selalu terjaga kebersihannya karena ada mobil penyapu lantai yang secara rutin beroperasi. Saat itu banyak sekali jemaah calon haji dari berbagai Negara yang berkumpul diplasa. Sampai penuh sesak. Bahkan sebagian ada yang bertelekan tidur disitu. 
didepan pintu 'Raja Fahd'
Saya memilih untuk duduk santai diteras hotel “Intercontinental” yang menghadap langsung kearah Masjidil Haram.
Asyik juga membunuh waktu sambil  melihat ‘tingkah-polah’ ribuan jemaah yang lalu lalang diplasa. Termasuk juga menyaksikan ratusan burung merpati yang betul-betul ‘jinak-jinak merpati’, menunggu pemberian makanan dari para jemaah. Makanan burung (berupa butiran jagung) bisa dibeli disekitar masjid dengan harga 5 sampai 10 real sekantong.
Disaat itulah terjadi kegemparan. 
Tiga orang jemaah yang ‘tercecer’ tadi telah ditemukan kembali. Mereka kembali kerombongan dengan wajah cerah ceria tapi dalam keadaan “gundul plonthos” (kepala botak tanpa rambut)!
Astagfirullah, tentu saja kita semua terheran-heran. Padahal saat ini belum tiba waktunya untuk ber tahalul (mencukur rambut sebagian/seluruhnya sebagai tanda selesainya ibadah umroh/haji).
Merasa ‘tidak berdosa’, mereka langsung menceriterakan pengalamannya.
Setelah melakukan sa’i bersama rombongan, entah bagimana mereka bertiga kemudian terpisah pada saat membaca doa selesai sa’i dibukit Marwah. Tiba-tiba mereka ditarik oleh tiga orang pria (Arab tentu saja) yang menawarkan untuk memotong rambut. Bahkan dengan setengah memaksa mereka minta dibayar seorang 50 real untuk jasa memotong rambut itu! Padahal ongkos tahalul di ‘barber shop’ biasanya paling mahal hanya 5 sampai 10 real. Bahkan gratis kalau dilakukan dengan sesama teman.
Walaupun peristiwa ini jadi bahan ‘guyonan’, namun karena menyangkut masalah ibadah, akhirnya ustad pembimbing ibadah jemaah haji terpaksa turun tangan untuk mendudukkan persoalan sesuai rukun dan wajib haji. Mereka dianggap tidak tahu, tapi karena bagaimanapun itu melanggar rukun haji (larangan memotong rambut), jadi mereka dikenakan sanksi membayar denda yang disebut "dam takhyir takdir" Yaitu dengan masing-masing memotong seekor kambing.. 

jalur Sa'i di Masjidil Haram  
foto2: mastonie

Ternyata yang tercecer pada waktu sa’i  tidak hanya tiga orang. Ada seorang perwira menengah Polri yang juga terpisah bahkan sejak sebelum sa’i dimulai, yaitu pada saat selesai shalat sunah dua raka’at selesai tawaf.  Alhasil dia harus menjalankan ibadah sa’i seorang diri. Merasa sudah ikut manasik haji dengan lengkap maka dengan gagah berani (Polisi gituu lhooooh) diapun langsung melaksanakan sa’i seorang diri.
Yang dinamakan ibadah Sa’i adalah berjalan kaki dari bukit Safa ke bukit Marwah sebanyak 7 (tujuh) kali PP. Disinilah terjadi kerancuan penafsiran. Seharusnya perjalanan dari Safa ke Marwah dihitung satu kali, demikian juga dari Marwah ke Safa dihitung satu kali juga. Sehingga pada hitungan ke tujuh  Sa'i akan berakhir dibukit Marwah. Akan tetapi Pak Polisi melakukan Sa’i dengan versi nya sendiri: dia menghitung satu kali itu dari Safa sampai ke Safa lagi (jadi bolak balik Safa-Marwah-Safa). Akhirnya setelah tujuh kali, dia bingung sendiri, kenapa Sa’i yang seharusnya berakhir dibukit Marwah, koq ini berakhir dibukit Safa lagi? Tanpa pikir panjang maka dia berjalan lagi menuju bukit Marwah untuk mengakhiri Sa’i versi dirinya sendiri. 
Ya hitrung-hitung bonus, katanya sambil tertawa ngakak,sewaktu menceriterakan kisah 'heroik' nya itu.
Jadi ibadah Sa'i yang seharusnya hanya 7 kali,  telah dia laksanakan (dengan versi sendiri) sebanyak  15 kali dari Safa sampai ke Marwah.
Benar-benar Pak Polisi yang gagah berani……


"KISAH 'PASAR SENG' YANG LEGENDARIS ITU....."


(cuplikan dari: "kisah2 spiritual" mastonie)
( 7 )


Salah satu kios di "Pasar Seng" ( 2007)


Released by mastonie on Wednesday, May 5, 2010 at 10:15pm



 (Nama "Pasar Seng" barangkali hanya dikenal luas oleh Jemaah Haji atau Umroh yang berasal dari Indonesia saja. Pasar yang menjual nyaris segala macam barang kebutuhan ini dulu terletak persis bersebelahan dengan Masjidil Haram. Letaknya yang sangat strategis itulah yang membuat pasar ini selalu diserbu jemaah. Tentu karena harganya yang lebih 'miring' dibanding harga ditempat lain)


Pada saat  pertama kali mendapat kesempatan pergi ketanah suci dalam rangka Umroh Ramadhan  tahun 1992, saya sudah mendengar beberapa point of interest (tempat menarik) yang ‘wajib’ dikunjungi selama berada di Tanah suci. Tentu saja  selain kunjungan yang bersifat ibadah. 
Beberapa nama tempat yang disebutkan antara lain adalah Balad dan Makam “Siti Hawa” (di Jeddah), Pasar Seng (Mekah) dan Kebun serta Pasar Kurma (Madinah). 
Yang sangat menarik perhatian saya tentu saja adalah ‘Pasar Seng’. Dalam bayangan saya, Pasar Seng adalah pasar yang menjual material bahan bangunan (karena ada kata ‘seng’nya). 
Sayang pada kunjungan saya yang pertama ke tanah suci ini saya tidak sempat pergi mengunjungi Pasar Seng. Maklum waktu itu saya ikut dalam Rombongan Umroh Ramadhan Pejabat Tinggi Negara, jadi tidak bisa seenaknya sendiri membuat acara.
Namun pada bulan Haji tahun yang sama (1992 M), saya kembali mengunjungi tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Kali ini saya sungguh merasa puas karena bisa tinggal di tanah suci selama hampir 40 hari. 
Saya masuk dalam kloter (kelompok terbang) 106 HPK yang berangkat pada awal musim haji.
Walaupun anggota kloter yang lain langsung menuju Madinah,  namun saya dan seluruh anggota TPOH yang ditugaskan khusus oleh Menteri Agama untuk memantau penyelenggaraan haji, harus mulai bekerja dari kota Mekah dan tinggal di kota haram (suci) ini sampai selesai wukuf. Pemondokan saya berada di daerah Aziziah. Cukup jauh dari Masjidil Haram. Karena tinggal cukup lama di kota Mekah, maka saya punya banyak kesempatan untuk ‘pusing-pusing’ keliling kota. Tentu saja setelah selesai melakukan ibadah wajib. dan melaksanakan tugas-tugas TPOH. 
Sasaran utama saya (karena sudah lama saya impikan) adalah mengunjungi lokasi ‘Yang Terhormat Pasar Seng’ yang legendaris itu. Pada tahun 1992, kondisi Pasar Seng tampak masih ‘amburadul’. Banyak toko dan kios yang masih dalam kondisi gawat darurat. Kebiasaan ditanah suci, kalau adzan berkumandang, maka tidak peduli siapapun harus segera mendirikan salat. Yang berada disekitar Masjidil Haram tentu harus segera pergi ke masjid. Oleh sebab itu kalau para pemilik kios atau toko akan pergi ke masjid untuk mendirikan salat, mereka harus menutup kiosnya lebih dahulu. Beberapa diantaranya menutup kios begitu saja  dengan memakai seng. Nah, barangkali inilah yang menyebabkan Pasar ini lalu dijuluki sebagai "Pasar Seng". Wallahualam.
Walau tampaknya julukan Pasar Seng ini hanya populer dikalangan jemaah haji Indonesia saja.
Sudah sejak dari jaman dahulu kala jumlah jemaah haji Indonesia selalu sangat banyak. Saking dominan nya para jemaah haji dari Indonesia ini, maka banyak pedagang dan penjaga toko dan kios di Pasar Seng yang faham sedikit-sedikit bahasa Indonesia. Kata-kata “Andunisia toyib” (orang Indonesia baik-baik) dan “Soekarno” sering dilontarkan para pedagang kalau tahu orang yang belanja berasal dari Indonesia. 
Saya juga heran kenapa yang sering diucapkan malah kata “Soekarno”, padahal waktu itu Presiden RI sudah dijabat oleh HM Soeharto. Tampaknya Presiden pertama RI yang jago pidato itu sangat populer di Arab Saudi karena konon pada waktu Bung Karno naik haji, beliau membawa hadiah tanaman dari Indonesia untuk Raja Arab Saudi guna ditanam di tanah suci. (Sampai saat ini pohon-pohon hadiah Bung Karno yang sekarang sudah tumbuh besar dan rimbun itu masih ada dan dinamakan ‘Pohon Soekarno’).
Adapun posisi Pasar Seng ini memang sungguh sangat strategis. Sangat ‘mepet’ (dekat sekali) dengan Masjidil Haram (seingat saya pada tahun 1992, Pasar Seng malah menyatu dengan pelataran Masijidil Haram). Waktu pertama kali diajak teman untuk pergi ke Pasar Seng sesudah salat Isya berjamaah, saya sungguh kaget, karena baru saja melangkah keluar dari pintu Masjidil Haram sudah langsung ‘terperangkap’ dalam hiruk pikuk suara pedagang yang berteriak-teriak menawarkan barang dagangannya. 
Yang sangat unik adalah bahwa kegiatan jual beli di Pasar Seng akan  "kukut saknalika" (berhenti seketika) kalau terdengar adzan tanda waktu salat fardhu berkumandang. Semua pedagang tanpa kecuali langsung buru-buru menutup toko, lapak atau kiosnya dengan penutup seadanya (waktu itu banyak juga yang menutup lapaknya -nah ini dia- dengan seng). 
Begitu salat wajib selesai dilaksanakan, sontak ‘nyawa’ Pasar Seng hidup lagi. Konon ada Askar khusus yang mengawasi para pedagang ini untuk memantau kedisiplinan buka tutup toko pada waktu salat wajib ini. Sungguh sangat mengesankan. Rata-rata para pedagang (juga penduduk sekitar) di Pasar Seng sangat disiplin melaksanakan salat fardhu tepat waktu.
Pedagang Arab sok akrab.....                foto-2: mastonie
“Haji, komsah (lima) real, komsah real, haji, halal, halal” begitu yang sering saya dengar diteriakkan para pedagang Pasar Seng kepada siapapun yang lewat didepan toko/kiosnya. Tapi jangan keliru, di Pasar Seng ini anda wajib pandai menawar. Semua barang ternyata masih bisa di’nego’ harganya kalau anda pintar menawar. Jangan takut. Disini berlaku semua bahasa, termasuk ‘bahasa Tarzan’. Kalau pedagang berlagak pintar bahasa Indonesia, anda jangan kalah, harus juga berlagak pintar bahasa Arab. Meski cuma tahu angka saja! Kalau ‘mentok’, pakai bahasa isyarat juga boleh kok. Saya sendiri selalu nekat memakai bahasa Inggris (walau belepotan) untuk menawar, karena tahu tidak semua pedagang di Pasar Seng mahir bahasa ini. Jadi saya sudah ‘menang’ posisi duluan (cia elah). 
Alhamdulillah saya selalu berhasil mendapatkan barang dengan harga yang jauh lebih ‘miring’ dari harga yang didapat oleh teman-teman anggota TPOH yang lain. Maka sejak mereka tahu saya ahli menawar, teman-teman lalu sepakat menjuluki saya dengan sebutan “Boss Shopping”
Kalau mau belanja di Pasar Seng ataupun di tempat lain, mereka dengan rela akan menempatkan saya di garis depan untuk berperang, eh maksud saya untuk ‘perang mulut’ dengan para pedagang agar dapat harga miring. Pernah pada suatu hari saya berhasil membeli kamera foto asli ‘made in Japan’ (tahun 1992 belum ada kamera digital) di sebuah toko di Pasar Seng dengan harga yang sangat miring (jika dibandingkan dengan harga di Glodok Jakarta sekalipun). Kontan teman-teman se Kloter langsung minta kepada saya untuk mengantar mereka membeli barang serupa ditoko yang sama untuk mendapat harga yang sama murahnya. Alhasil, keesokan harinya kita semua nampang dengan kamera baru yang seragam! Ini lalu jadi kebiasaan. Kalau sang ‘Bos’ beli koper, semua ikut beli koper, sampai ke merek harus sama. 
Teman-teman sempat saya goda, pulang ke Indonesia nanti kita bisa dikira dari Panti Asuhan, karena barang yang dibawa mereknya semua sama! Hehehe.. mereka cuma ‘cengengesan’ saja.
Jadi itulah sedikit tentang ‘khas’nya Pasar Seng. Sekali anda masuk kesana, pasti sulit melupakan kenangannya. Dari hiruk pikuknya, sampai ke baunya! Jangan salah, Pasar Seng selalu menebarkan aroma khas ‘dupa Arab’, yang wanginya bisa ber simaharajalela kemana-mana, tapi sayang saya tidak tahu namanya. Hampir semua pedagang Pasar Seng kebanyakan melakukan kebiasaan ini. Entah untuk menarik pelanggan atau sekedar hanya untuk pewangi ruangan atau aroma terapi. Saya tidak tahu persis. 
Apalagi kalau anda masuk ke toko yang menjual parfum asli Arab seperti Hajar Aswad, Seribu Bunga atau Malaikat Subuh. Setahu saya merk ini adalah parfum yang banyak diburu jemaah haji Indonesia selain Misik. Parfum merek terkenal didunia juga banyak dijajakan di Pasar Seng, tapi saya selalu ragu akan keasliannya. Jadi biar aman kalau beli parfum merek terkenal ya sebaiknya di toko besar seperti Bin Dawood, misalnya.

Bulan Desember 2007 saya berkesempatan menunaikan ibadah haji yang kedua. Saat berada dikota Mekah, kebetulan saja saya mendapat tempat bermalam di hotel bintang empat bernama "Grand Saraya". 
Hotel ini terletak didekat ‘Masjid Kucing’ sekitar 100 – 150 meter dari Masjidil Haram. Tadinya saya heran, mengapa didekat Masjidil Haram masih ada mesjid lagi. Ternyata mesjid kecil ini digunakan oleh para pedagang untuk menunaikan salat wajib berjamaah. Memang jarak ke Masjidil Haram tidak terlalu jauh. Tapi bagi para pedagang yang kiosnya harus ditutup sementara untuk ditinggal menunaikan ibadah salat, kemudian nanti dibuka lagi sesudah selesai salat, berjalan ke ‘Haram’ (istilah untuk menyebut Masjidil Haram) pulang pergi tentu memakan waktu cukup lama.  Jadi agar praktis, mereka menunaikan salat wajib nya di Mesjid Kucing. Toh diluar musim haji mereka tentu sudah ‘kenyang’ ikut salat berjamaah di Masjidil Haram, yang konon pahalanya 10 ribu kali lipat dari salat di masjid manapun.
Hotel Grand Saraya -yang tepat berhadapan dengan mesjid kucing- berada diujung jalan Pasar Seng menuju Masjidil Haram. Subhanallah. Dari dalam kamar hotel (saya ada dilantai 3), saya bisa melihat -melalui jendela kamar- kegiatan Pasar Seng sehari-hari.

 Pasar Seng dilihat dari Hotel Grand Saraya (2007)   

Saya betul-betul ‘pangling’. Sekarang Pasar Seng telah berubah. Tidak seperti yang saya lihat lebih dari lima belas tahun silam. Kini (tahun 2007) Pasar Seng bukan lah kios kios kecil darurat yang -kadang- ditutup seng lagi. Pasar Seng telah berubah jadi deretan pertokoan yang semuanya dibangun permanen seperti yang kita lihat dipertokoan Glodok Plasa atau Blok M Mall di Jakarta. 
Hanya suasananya (istilah kerennya ‘atmosfer’nya) yang tidak berubah. Kini bahkan lebih ‘krodid’ (semrawut) lagi. Karena jalan yang melewati Pasar Seng adalah jalan yang menuju ke Ma’la dan Shi’b Amir, daerah dimana banyak pemondokan jemaaah haji. Termasuk hotel-hotel (berbintang maupun tidak) yang bertebaran disekitar Pasar Seng. Jika waktu menjelang saat salat wajib tiba, maka berduyun-duyun jemaah haji dari berbagai negara berjalan menuju ke Masjidil Haram melewati jalan yang membelah Pasar Seng, bercampur aduk dengan orang-orang yang sedang asyik belanja sampai lupa waktu. 
Demikian pula sebaliknya. Jika waktu salat wajib usai, maka jemaah yang bubaran keluar dari Masjidil Haram dengan  riuh rendah berduyun-duyun melewati lagi jalan ditengah-tengah Pasar Seng itu. Baik jemaah yang akan kembali ke pemondokan maupun jemaah yang siap menyerbu toko dan kios  dengan bekal uang real dikantongnya.
Meskipun saat waktu salat wajib tiba seluruh kegiatan pasar terhenti, namun tetap saja keramaian khas Pasar Seng masih terasa. Alunan suara pembacaan ayat suci dari alat perekam  kaset ditoko buku ditingkah percakapan -dalam bahasa Arab- yang saling berceloteh keras-keras (saya heran orang Arab kalau bicara biasa saja selalu berteriak seperti orang sedang berantem). Demikian pula semerbak harum mewanginya dupa Arab yang baunya sangat khas itu.
Pada saat makan siang di restoran hotel, saya mendengar cerita dari Pak Afief  (pemilik Anubi Travel) bahwa mungkin sebentar lagi Pasar Seng akan ‘musnah bin raib’, hilang ditelan rencana Pemerintah Kerajaaan Arab Saudi, yang akan memperluas area pelataran Masjidil Haram sampai radius 300 meter!.  
Masya Allah. Saya terhenyak. Bahkan katanya tidak hanya Pasar Seng. Hotel yang saat itu kita diami, juga akan diratakan dengan tanah guna perluasan Masjidil Haram. Jadi,  sekarang silakan berpuas diri belanja di Pasar Seng. Siapa tahu ini adalah saat saat terakhir melihat Pasar Seng dengan mata kepala sendiri. 
Entah mengapa saya jadi sedih. Bukan karena saya melankolis. Ingatan yang terpateri sangat dalam tentang segala macam barang souvenir yang hampir semuanya ada dan asyiknya seni tawar menawar di Pasar  Seng  sangat sulit saya hilangkan. Rasanya memang beda dengan suasana berbelanja di pasar yang lain. Sangat khas. Saya masih tidak percaya. Masa iya sih, pasar yang legendaris (setidaknya buat jemaah haji Indonesia) itu akan kena ‘gusur’?  
Ah, kayak nasib pasar tradisional di Jakarta saja nasib Pasar Seng ini. Ya tapi siapa sih yang bisa melawan kehendak Pemerintah Kerajaan yang sangat berkuasa?

Bulan Mei 2008 saya bertemu dengan seorang teman yang baru pulang menunaikan ibadah Umroh. 
Iseng saya tanyakan kepadanya apakah ‘oleh-oleh’ yang dibawanya dari Mekah dibeli di Pasar Seng. Singkat saja dia menjawab: ”Pasar Seng? Apaan tuh?” 
Walaupun saya sudah tahu  seperti apa nasib Pasar Seng nantinya setelah ada perluasan Masjidil Haram, jawaban teman saya itu tetap saja membuat saya ‘ngendelong’, merasa sedih karena ada sesuatu yang hilang dari khasanah ingatan saya. Ingatan tentang sebuah pasar yang seakan punya magnet yang dengan kuat menarik seseorang untuk datang dan berbelanja dalam suasana yang -seperti kata iklan mobil- MEMANG TAK ADA DUANYA. 
Tentu saja teman saya, yang baru pertama kali pergi ke tanah suci, tidak dapat bercerita tentang Pasar Seng. Lha wong pada waktu dia sampai di Mekah dan melakukan ibadah di Masjidil Haram, dia tidak melihat ada satupun kios atau toko yang berada diarah pintu Marwah, pintu keluar Masjidil Haram yang menuju Pasar Seng (dahulu). Yang dia lihat hanya hamparan tanah yang sedang diratakan oleh alat-alat berat. 
Bahkan -katanya- deretan Barber shop (kios tukang cukur) yang -dahulu- biasa diserbu jemaah haji untuk tahalul sampai gundul, kini tinggal kenangan belaka. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.
Betapapun saya tetap bersyukur. Saya sudah pernah menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri -bahkan lebih dari satu kali- sebuah legenda yang mungkin nanti akan tinggal jadi cerita untuk anak cucu saya: PASAR SENG.
Kalau masih ABEGE, barangkali saya akan meratap:
“Oh Pasar Seng, I really missed you, swear deeeh”

Walah sok mellow!

Minggu, 17 April 2011

"KISAH SEORANG 'WTS'...."

(cuplikan dari: "kisah2 spritiual" mastonie)

( 6 )
in action didepan Ka'bah
 
Released by mastonie on Monday, August 9, 2010 at 8:17pm

(Mohon jangan berprasangka buruk dulu. Singkatan yang saya jadikan judul pada tulisan ini adalah hadiah dari teman-teman saya yang merasa sangat ‘bahagia’ kalau sukses menjahili orang lain. ‘WTS’ yang ini adalah singkatan dari ‘Wartawan Tanpa Suratkabar’).


Predikat itu saya dapatkan dari teman-teman sesama jemaah calon haji Anubi. (Mungkin) karena kegemaran saya menenteng kamera foto kemana saja saya pergi. Sebetulnya banyak juga julukan lain yang saya dapatkan sebelumnya, antara lain: ‘Ceklek Boy’ yang saya dapat dari teman-teman Pramuka jaman ‘Noroyono’ dulu. Dari teman semasa kuliah di Publisistik, saya dijuluki: ‘Mat Krodit’ (dari bahasa Inggris ‘Crowded’, ruwet) yang lalu diplesetkan agar mirip ‘Mat Kodak’. 
Ini karena kehadiran saya katanya selalu bikin ruwet.
Tapi yang bisa ‘nyangkut’ dihati saya entah kenapa koq malah yang ‘we te es’ ini.
Padahal agak nyrempet-nyrempet sedikit ya?
Ah, kan istilah untuk yang satu itu sekarang sudah diganti dengan PSK.

Saya ingat betul sewaktu lepas dari SMA, saya suka sekali bidang yang berbau jurnalistik. Terutama fotografi. Namun “maksud hati memeluk gunung, apa daya kantong tak sampai”. Saya betul-betul tidak punya modal untuk bisa membeli kamera foto.
Apalagi jaman ‘sepeda onthel’ dulu (sekitar tahun 70 - 80an)) masih belum banyak merek kamera foto. Dan harganya? Ampun seribu ampun. Jelas tak terjangkau kantong saya yang untuk makan genap 3 kali sehari saja belum pasti. Tapi saya kan bisa minjam?
Nah, dari bekal nekat meminjam itulah jalan saya satu-satunya untuk bisa belajar jadi ‘ceklek boy’ tadi. Dengan semangat ‘bonek’ saya menekuni hobi yang sebetulnya mahal ini (mulai dari harga film sampai biaya cetaknya). Memakai bekal ‘tustel’ pinjaman (dari teman, dari saudara, dari kantor) mulailah saya sibuk jeprat-jepret diacara yang diadakan diingkungan keluarga, pesta teman-teman sampai akhirnya merambah kekantor dan acara resmi lainnya.
 foto dok kelahiran anak bungsu saya
Setelah menikah, saya juga selalu mendokumentasikan kelahiran anak-anak saya sejak mereka baru lahir (dalam gendongan suster sewaktu diumumkan kelahirannya) sampai beranjak remaja. Ternyata banyak gunanya lho. Kalau sekarang melihat album foto-foto lama itu, kita masih suka senyum-senyum bahkan ketawa ketiwi. Selain posenya lucu, sudut pengambilan gambarnya juga terlihat masih ‘amatiran’.
Pada bulan Ramadhan tahun 1992 sewaktu menunaikan ibadah Umroh, saya -dengan sedikit nekat- berhasil mengabadikan teman-teman dan juga diri sendiri berpose dengan latar belakang Ka’bah (beneran). Saya memergunakan kamera saku kecil (masih berisi film negatif, belum digital) yang saya sembunyikan dalam tas pinggang. Pada saat itu larangan untuk tidak memotret disekitar Masjidil Haram masih sangat ketat. Jemaah diperiksa oleh para askar dengan sangat teliti, sebelum bisa masuk melalui pintu masjid. 
Sewaktu pada bulan Dzulhijah tahun yang sama (1992) saya berangkat menunaikan ibadah haji, saya membeli kamera di Pasar Seng. Sebuah kamera ‘full otomatis’ merek terkenal buatan Jepang. Tapi kali ini saya tidak bisa bebas ber’aksi’. Saya hanya berani jeprat-jepret ditempat yang tidak terlarang saja. Walupun demikian toh saya punya dokumentasi foto sewaktu melaksanakan ibadah haji di tanah suci yang cukup lengkap (kecuali potret didepan Ka’bah).


 saya & istri 'mejeng' dgn latar belakang Ka'bah
Subhanallah, Allah SWT ternyata masih memberikan kesempatan kepada saya untuk mengunjungi tanah suci lagi. Bulan Mei tahun 2006 saya melakukan ibadah umroh. Kali ini saya melengkapi diri dengan sebuah kamera digital kecil dan dua buah ponsel berkamera. Semuanya bisa masuk dalam tas pinggang saya. 
Allahu Akbar, berkat lindungan Allah SWT, saya selalu lolos dari pemeriksaan askar baik di Masjidil Haram maupun di Masjid Nabawi. Padahal teman teman serombongan banyak yang terpaksa ‘balik kanan grak’ karena tertangkap tangan membawa kamera ataupun ponsel berkamera. 
Jadi, so pasti saya mempunyai dokumentasi yang sangat berharga pada saat umroh kali ini. Diantaranya saya berhasil berpose dengan back ground Ka’bah yang sangat dekat dibelakang saya. Foto ini saya ambil dengan Nokia komunikator 9500, yang hanya ber kamera VGA, namun menghasilkan gambar yang cukup bagus. Saya juga berhasil dengan bagus mengabadikan ‘Raudah’ (yang dijaga askar dengan sangat ketat) di masjid Nabawi, foto itu saya ‘curi’ dengan menggunakan ponsel Nokia 6230.

Pada bulan haji tahun 1428 H/2007 M saya kembali dapat melaksanakan ibadah haji, persiapan saya jauh agak lebih lengkap. Saya mulai dengan mendokumentasikan semua kegiatan sebelum hari keberangkatan ketanah suci. Selain ponsel berkamera (Nokia 6230, -yang juga saya bawa pada waktu umrah tahun 2006- dan N 73 dengan kartu memori 2GB), saya juga membawa handycam dan kamera digital kecil yang dapat dengan mudah ‘hilang’ dalam lipatan kain ihram atau tas pinggang saya. Doa saya kepada Allah SWT adalah, saya berniat membuat dokumentasi perjalanan ibadah haji ini bukan untuk ‘’riya”. 
Semua dokumentasi itu Lillahi Taa’la saya buat agar bisa dilihat oleh anak cucu saya, keluarga dan kerabat, baik yang sudah ataupun belum berkesempatan menunaikan ibadah haji, dengan maksud menggugah niat mereka untuk menunaikan rukun Islam yang kelima sesegera mungkin apabila telah mampu. 
Niat saya itu ternyata mendapat ujian berkali-kali. Setiap saya tampil ‘meliput’ dengan kamera ataupun handycam, ada saja yang bisik-bisik: “Nah ini dia WTS nya mulai beraksi”.

 didalam kabin Jumbo 747-300 Garuda menuju Jeddah 

Saya sih bersikap cuek beibeh saja. Saya abadikan semua momen sesuai dengan skenario yang ada dikepala saya. Saya sudah ‘in action’ sejak masih berada di lobby hotel Quality di Bandara Soekarno – Hatta, (tempat berkumpul jemaah Anubi), didalam pesawat terbang dan di ruang tunggu terminal haji Bandara King Abdul Aziz Jeddah.

foto wanita Arab bercadar
Diruang tunggu Terminal Haji Bandara Jeddah inilah saya dikejar-kejar oleh seorang wanita Arab, hanya gara-gara saya mengabadikan serombongan wanita berabaya hitam dengan cadar hitam yang menutup hampir seluruh wajah. Yang tampak hanya matanya saja. Dalam pandangan saya, wanita ‘hitam-hitam’ yang duduk bergerombol ini sangat eye catching. Mirip segerombolan burung gagak yang sedang 'me-rame' beristirahat. Saya sungguh tidak tahu, bahwa para wanita bercadar itu mengharamkan dirinya untuk difoto. Hampir saja handycam saya direbut wanita yang naik pitam itu kalau tidak ditolong oleh staf Anubi yang fasih berbahasa Arab. 
Memang saya akui terkadang keluar juga sifat ‘iseng’ dan ‘jail’ saya.
Selesai wukuf dan melempar Jumrah di Mina, rombongan Jemaah Haji Anubi kembali ke Mekah untuk melaksanakan Tawaf Ifadah, Tahalul dan Tawaf Wada’. Sang ‘WTS’ pun beraksi lagi. Semua kegiatan ziarah disekitar kota Mekah lengkap saya abadikan. Demikian juga dengan saat-saat beribadah di Masjidil Haram. Banyak yang heran dan tidak percaya melihat saya selalu ‘lolos’ dari pemeriksaan askar waktu masuk Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dengan membawa kamera dan handycam. Adapula yang sinis menilai saya tidak khusyu’ ibadah karena sibuk mengambil gambar.
Tapi saya bergeming. Hanya Allah SWT yang berhak menilai ibadah hambaNya.

Tawaf mengelilingi Ka'bah
Diantara liputan yang menurut saya sangat berharga yang dapat saya abadikan -paling tidak buat saya pribadi-, adalah ketika melakukan ‘Tawaf Wada". Saya dengan isteri melakukan tawaf pamitan itu sekitar pukul 07.30 waktu Arab. Cuaca sudah sangat terang. Dengan membaca kalimat “Bismillahir rahmanir rahim, Allahu Akbar” saya memulai tawaf.
Ketika saya lihat tidak ada askar didekat saya, dengan tenang saya keluarkan handycam dari tas pinggang saya. Dengan tangan kiri saya operasikan handycam untuk ‘meliput’ seluruh bagian Ka’bah dan kerumunan jemaah haji dari berbagai Negara yang sedang melakukan Tawaf. Tentu tetap dengan membaca doa-doa Tawaf yang saya tirukan melalui earphone dari alat perekam. Hampir seluruh putaran tawaf (7 kali) saya liput. Sebagian besar tanpa melihat layar monitor, karena handycam harus saya rendahkan posisinya ketika saya melihat ada askar.




 interior masjid Nabawi                              foto-2: mastonie
Sedangkan liputan saya yang paling berkesan di Masjid Nabawi adalah ketika saya mengambil gambar interior masjid Nabawi saat dikumandangkannya azan Duhur. Meski dengan hati berdebaran, saya mengambil gambar dari kalimat pertama azan: Allahu Akbar sampai kalimat terakhir Laillaha ilallah..
Sewaktu hasil rekaman (yang sudah saya transfer menjadi VCD) saya putar pada acara Temu Kangen Jemaah haji Anubi di Jakarta, maka langsung ‘gempar’ lah yang ikut menyaksikan rekaman itu. 
Banyak yang berkomentar bahwa saya orang ‘super nekat’. Saya memang ber-‘jibaku’ mengambil gambar ditempat dimana tidak semua orang berani atau bisa mengambil gambar. 
Apalagi mengingat ketatnya pengawasan askar di kedua Masjid Suci itu.
Tapi saya tak ingin menanggapi komentar kecuali hanya bisa berucap: “Laa chaula walaa quwwata illaa billaah” (tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)
Sejak awal niat saya bukan ‘riya’. Sebab saya haqul yakin,  jika tanpa ijin dan pertolongan Allah SWT, saya tak akan bisa berbuat apapun.
Akhirnya toh dokumentasi rekaman video dan foto yang saya buat itu kemudian diperbanyak oleh  PT. Anubi Travel untuk dibagikan -secara gratis- kepada para Jemaah Haji Anubi tahun 2007. 
Itu berarti hasil kerja saya sebagai ‘WTS’ dianggap bermanfaat dan bisa dinikmati oleh orang banyak.

Alhamdulillahi robbil 'alamin...

Jumat, 15 April 2011

"SUBHANALLAH...SAYA PERGI NAIK HAJI (LAGI)......"



 (cuplikan dari: "kisah2 spiritual" mastonie)

( 5 )


Saya didepan Baitullah

Released by mastonie on Friday, April 15, 2011 at 09.46 pm


Rejeki menjelang 'pangsiyun'…

Bukan dengan maksud riya’ kalau saya tuliskan pengalaman saya pergi haji untuk yang kedua kalinya. Kisah ini hanya untuk menggambarkan betapa sangat berbeda nya seorang yang pergi menunaikan ibadah haji sewaktu masih muda dibandingkan dengan ketika orang berangkat  pergi ketanah suci pada usia menjelang senja.
Pengalaman ini saya harapkan bisa menjadi semacam “kaca benggala” (cermin) bagi mereka (umat muslim) yang sudah "mampu" tapi masih saja belum tergerak hatinya untuk pergi menunaikan rukun Islam yang kelima. Walaupun semua syarat -moril dan materiil- seharusnya sudah terpenuhi.
Dan inilah kisah saya.
Setelah menjalani MPP (masa persiapan pensiun) selama 8 bulan (dari waktu MPP maksimal yang lamanya setahun), isteri saya mengatakan bahwa tabungannya sudah mencukupi untuk pergi berhaji ketanah suci.
Sejak pergi umroh pada bulan Mei 2006, isteri saya yang sangat ‘excited’ dengan pengalaman spritualnya ditanah suci, langsung memantapkan niat untuk pergi haji pada tahun berikutnya (tahun 2007). 
Oleh sebab itu mustahil untuk berangkat dengan cara reguler (ONH biasa). Karena ‘waiting list’ (daftar tunggu) jamaah calon haji reguler (untuk daerah Jakarta dan sekitarnya)  harus menunggu paling cepat  selama dua tahun. Itupun kalau sedang bernasib baik.
Awal bulan Maret 2007 saya menghubungi seorang teman baik  yang mempunyai PT. Anubi Travel (biro penyelenggara haji dan umrah). Namanya (Mas) Afief.
Pada waktu pergi umroh tahun 2006 saya dan isteri juga ikut rombongan PT. Anubi Travel ini.
“Yen pancen wis mantep tenan arep tindak haji taun iki, melu aku maneh wae mas (kalau memang sudah mantap mau pergi haji tahun ini, ikut saya lagi saja)” demikian Mas Afief menyarankan, sewaktu saya minta informasi sambil menyetir mobil dijalan.
“Dijamin mesti entuk kuota ya? (Dijamin pasti dapat kuota ya)” saya bertanya harap-harap cemas mengingat bulan haji yang tinggal beberapa bulan lagi.
“Tak jamin sewu persen mesti mangkat (saya jamin seribu persen pasti berangkat). Nanging Mas Tony ya kudu enggal maringi ‘depe’ telung puluh persen dhisik (Tapi Mas Tony harus memberikan uang muka 30 persen dulu). Iku aturan saka Depag lho ya? (Itu peraturan dari Departemen Agama). Wis pokoke nek njenengan niat tenan bisa  tak atur lah, angger  maringi tanda jadi pira wae ndisik (Sudah pokoknya kalau niat betul bisa saya atur, asal memberi tanda jadi berapa saja dulu)” begitu Mas Afief menjelaskan panjang lebar lewat telepon genggamnya.
Akhirnya saya mendapatkan harga sangat miring. Dengan membayar harga ONH Plus yang berlaku untuk sekamar empat orang, tapi saya mendapat fasilitas sekamar untuk berdua saja.
Itu gunanya teman.
Saya tahu persis Mas Afief tidak akan bohong. Soalnya saya tahu, saat ini (tahun 2007) dia punya hubungan sangat dekat dengan Pejabat tertinggi di Depag karena berasal dari satu perguruan.
Esok harinya saya dan isteri pergi ke bank untuk mentransfer sebagian kecil biaya ONH Plus untuk kami berdua. Yang pasti belum sampai 30 persen. Bukti transfernya siang itu juga saya kirim kekantor PT Anubi Travel lewat mesin faksimili. Sisanya akan saya bayar secara mengangsur sampai batas waktu sebulan sebelum bulan haji tiba (bulan Desember 2007)
Beberapa hari kemudian saya sudah mendapat kiriman balasan dari kantor PT Anubi (lewat faksimili juga) berisi pemberitahuan dari Bank Pemerintah yang resmi ditunjuk oleh Depag, bahwa saya dan isteri sudah dapat “NOMOR PORSI” (istilah bagi calon jemaah haji yang sudah masuk kuota dan pasti berangkat haji pada tahun yang sama saat nomor itu dikeluarkan).
Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar.
Tak henti-hentinya saya bersyukur kepada Allah Swt, karena akhirnya tahun ini juga  setelah  resmi jadi “pangsiyunan”, saya beserta isteri bisa pergi menunaikan ibadah haji.
Ini adalah ibadah haji saya yang kedua sesudah saya pergi haji sendirian sebagai petugas TPOH Departemen Agama pada tahun 1992.
Saya sungguh bahagia karena kali ini saya bisa pergi haji bersama isteri saya.
Masih terus terngiang doa saya didepan ‘multazam’  (yang konon merupakan tempat dimana semua doa Insya Allah akan terkabul) sewaktu pergi Umroh Ramadhan bersama Bapak dan Ibu Soepardjo tahun 1992 dulu:

(“Ya Allah ijinkanlah saya datang kembali memenuhi panggilan Mu baik untuk ber haji maupun ber umroh, baik sendiri maupun bersama keluarga. Dan dengan kebesaran kuasa Mu mohon ijinkan  kami sekeluarga untuk dapat mengunjungi tanah suci Mu bukan hanya untuk sekali saja. Amien Ya Rabbal Alamin”).

Dan saya merasa bahwa Allah Swt yang Maha Pengasih dan Pemurah telah berkenan mengabulkan doa saya itu.
Saya juga merasa bahwa Allah Swt telah memberikan banyak sekali berkah kemudahan dalam hidup saya, khususnya yang bersangkutan dengan kepergian ketanah suciNya.
Saya tidak pernah menyangka bahwa pada bulan Ramadhan tahun 1992 saya akan bisa pergi Umroh ketanah suci. Tak ada persiapan sama sekali, baik moril maupun onderdil, eh materiil. Ketika sedang berada di Paris dalam rangka mengikuti kunjungan dinas Pak Pardjo, tiba-tiba saja rombongan diberi tahu mendapat undangan Umroh Ramadhan dihari pertama puasa diluar negeri!    
Boleh dikata waktu itu saya pergi Umroh dengan modal ‘bonek’ (bondho nekat, asal berani). Beruntung perlengkapan umroh dengan segala fasilitasnya diberi dengan cuma-cuma oleh Yang Mulia Raja Arab Saudi. Maka pergi umrohlah saya! Dibulan Ramadhan lagi. Apa tidak huuueeebaaat?
Tidak sampai dua bulan kemudian, karena saya merasa sangat rindu kembali ketanah suci untuk beribadah lagi di Baitullah  (rumah Allah), saya nekat (lagi) minta ijin untuk pergi haji (kali ini haji “beneran”).
Alhamdulillah atas budi baik Menko Kesra, almarhum Bapak H. Soepardjo Roestam (tentu sebagai kepanjangan tangan dari ijin Allah Swt), saya bisa pergi menunaikan ibadah haji yang pertama, Bahkan dengan gratis, tis, tis, tis. Alias HAJI ABIDIN, karena saya mendapat mandat dari Pemerintah (d.h.i. Menteri Agama) untuk menjalankan tugas sebagai salah satu anggota TPOH (Tim Pemantau Operasional Haji) tahun 1992. Pada waktu itu usia saya masih 42 tahun. Relatif masih muda.
Oleh karena itu saya merasa semua tugas kewajiban sebagai TPOH maupun rukun dan wajib haji bisa saya kerjakan dengan sangat mudah.
Pada tahun 1992 itu, praktis dalam satu tahun saya pergi ketanah suci sebanyak DUA kali.


Merindukan tanah suci (lagi) setelah jatuh sakit....

Empatbelas tahun kemudian, tepatnya pada bulan Mei 2006, Alhamdulillah saya bisa pergi Umroh beserta isteri dan anak bungsu saya.
Kisahnya sudah saya tulis (dalam kisah2 spiritual) sebelumnya.
Sesudah pulang Umroh, tepat pada hari Natal tahun 2006 saya terkena gejala serangan jantung ringan yang menyebabkan saya harus menjalani perawatan katerisasi (CAT) di RS Jantung Harapan Kita. 

Bulan Desember 2006 kebetulan bertepatan dengan bulan haji. Saya  menjalani perawatan sangat intensif di RS. Alhamdulillah bertepatan dengan Sholat Idul Adha, sesudah ikut melaksanakan sholat Ied di RS (walau harus sholat diatas kursi roda) saya diijinkan dokter untuk pulang kerumah.  
Dalam proses penyembuhan dari sakit itulah,  tiba-tiba saja kerinduan saya pada tanah suci meruyak lagi. Sangat parah. Barangkali ada rasa ketakutan tidak bisa pergi ketanah suci lagi. 
Ternyata isteri saya (diam-diam) juga merasakan hal yang sama.
Oleh sebab itu saya sangat rajin menjalani proses rehabilitasi di RS Jantung Harapan Kita. Saya sungguh berharap bisa pergi ketanah suci lagi sesegera mungkin (dan itu berarti pada tahun 2007), karena merasa tidak tahu sampai kapan Allah Swt memberikan karunia umur kepada hambaNya.
Ternyata Allah Yang Maha Penyayang masih memberikan ijinNya.
Seperti yang saya tuliskan diatas, dalam waktu singkat saya beserta isteri dengan mudahnya berhasil mendapat jatah kuota untuk pergi ketanah suci melaksanakan ibadah haji pada tahun 2007.
Itu berarti limabelas tahun sesudah saya pergi haji untuk yang pertama kali!
Subhanallah, akhirnya saya pergi naik haji (lagi)..........



bersambung….