Jumat, 23 Desember 2011

"TENTANG KEBERSIHAN"


Tulisan lepas:

“BERSIH BAGIAN DARI IMAN?"

Spanduk himbauan menjaga kebersihan

Diriwayatkan oleh Abu Malik Al Asy’ariy RA bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Membersihkan diri adalah sebagian dari iman”  (HR. Muslim).

Barangkali hadits itulah yang mengilhami slogan “Kebersihan adalah bagian dari iman”.  
Tulisan seperti itu sering kita jumpai terpampang dijalan, didinding masjid atau mushola
Bahkan ditempat fasilitas umum lain.
Maksudnya tentu untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya arti kebersihan. 

Slogan 'Pepesan Kosong'
 
Cukupkah slogan atau tulisan itu menggerakkan hati kita dan anggota masyarakat lain untuk menjaga kebersihan, terutama yang menyangkut kebersihan lingkungan secara umum?
Jujur harus kita akui bahwa tulisan itu, mirip 'pepesan kosong'. Karena walaupun berisi tentang peringatan bagi khalayak untuk menjaga kebersihan, ternyata tak mempunyai dampak yang ‘signifikan’. Bahkan nyaris tidak bermakna apa-apa.
Marilah kita tengok  lingkungan disekitar kita. Tidak usah jauh-jauh.
Mungkin lingkungan disekitar perumahan dimana kita tinggal saja dahulu. 
Sudah cukupkah kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan disekitar lingkungan tempat tinggalnya?
Anda mungkin tak perlu berkecil hati. Tampaknya secara umum kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan memang masih rendah dan sangat memprihatinkan. Terutama -biasanya- kebersihan ditempat fasilitas sosial dan fasilitas umum seperti pasar tradisional, terminal atau tempat lain (termasuk tempat rekreasi) yang banyak dikunjungi oleh khalayak ramai.
Jikalau begitu darimana sebenarnya kesadaran tentang lingkungan hidup yang bersih harus dimulai? Kesadaran itu seyogyanya bisa dimulai dari unit terkecil dari masyarakat, yaitu keluarga atau rumah tangga.
Barangkali anda pernah mendengar kalimat ini:
“Kesadaran tentang arti kebersihan dari sebuah keluarga tampak dari kebersihan kamar mandinya”.

Jadi kalau ingin tahu apakah sebuah keluarga faham tentang arti menjaga kebersihan, tengok saja kamar mandinya. Mungkin ruang tamunya tampak bersih, karena itulah ruangan pertama yang akan dilihat oleh orang yang memasuki rumah. Jadi pasti akan dibersihkan setiap hari. Tapi kamar mandinya? Belum tentu.
Itu hanya sebuah ilustrasi saja tentang bagaimana seharusnya “ilmu” menjaga kebersihan itu diaplikasikan atau diterapkan sehari-hari.
Padahal sebagai seorang muslim yang (tentu saja) bertaqwa kepada Allah dan RasulNya, maka niscaya hal tentang menjaga kebersihan bukanlah sesuatu yang asing bagi kita. 
Sedikitnya 5 (lima) kali dalam sehari seorang muslim harus bersuci (berwudhu). Itu belum termasuk sholat sunah. Ditambah dengan mandi yang (biasanya) dua kali sehari.
Sejatinya untuk masalah kebersihan diri, Rasulullah SAW sudah memberikan tuntunan kepada umatnya tentang tata cara “thoharoh” (bersuci) dengan baik. Termasuk bagaimana caranya menghemat air.
Oleh karena itu sebuah keluarga muslim seharusnya bisa menjadi pelopor dalam meningkatkan kesadaran tentang kebersihan. Baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain dan lingkungan. 
Hal tersebut merupakan kesadaran seorang muslim untuk mengindahkan dan melaksanakan sabda Rasulullah:
“Membersihkan diri adalah sebagian dari iman”.
Bagi yang non-muslim, pasti mereka mempunyai pegangan dan aturan sendiri sesuai keyakinan masing-masing. Tak ada agama yang tidak mengajarkan kebersihan.  Rohani maupun jasmani. Semuanya jadi terpulang kembali kepada manusianya.

Harus diajarkan oleh orang tua sejak dini

Orang tua harus mulai mengajarkan kepada anak-anaknya tentang arti kebersihan sejak usia dini. Bagi pemeluk agama Islam bisa dimulai dari hal-hal sepele yang sering dilakukan dirumah. Misalnya berwudhu, sholat, mencuci tangan sebelum makan, sikat gigi, mandi.  
Yang tidak kalah penting adalah dalam hal menjaga kebersihan rumah dan lingkungan. Kalau perlu tata cara membersihkan diri dan buang hajat (toilet training) juga harus diajarkan. 
Termasuk didalamnya kesadaran untuk melakukan penghematan air. 
Anak-anak juga perlu diberikan pelajaran bagaimana makan dengan ‘tertib’ sehingga remah-remah sisa makanan tidak berceceran dimana-mana. Lalu dibuat aturan kemana mereka  harus membuang sampah.

Dijaman “Go Green” ini (artinya kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan agar tetap ‘hijau’) anak-anak juga sebaiknya diberitahu bahwa tempat sampah harus dipisah antara sampah organik dan sampah non-organik.
Tidak cukup hanya dengan mengajarkan, tapi orang tua juga harus memberikan contoh dan teladan tentang hal tersebut. Teladan itu sekaligus untuk menanamkan kesadaran bahwa memelihara kebersihan selain berarti menjaga iman dan takwa juga berarti melatih  kedisiplinan diri pribadi.  

Sebagai seorang muslim, menjaga kebersihan pada hakekatnya adalah cermin dari takwa kita kepada Allah dan RasulNya. Demikian pula dengan pemeluk agama lain.
Insya Allah “ilmu menjaga kebersihan” apabila diajarkan sejak usia dini, akan dibawa sampai anak menginjak dewasa dan berkeluarga. Begitulah untuk seterusnya.  Diharapkan mereka juga akan meneruskan “ilmu warisanitu kepada anak-anaknya.
Sayang seribu kali sayang. Kesadaran untuk memberikan pelajaran tentang kebersihan ini belum dilakukan oleh sebagian besar dari masyarakat kita. Walau keluarga muslim sekalipun! 
Mungkin karena kesibukan kedua orang tua yang harus bersama-sama mencari nafkah, sehingga pengasuhan anak hanya diserahkan kepada ‘orang belakang’ alias pembantu. Atau memang mereka termasuk orang tua yang tidak peduli. Mungkin karena menganggap bahwa pengetahuan tentang kebersihan akan diperoleh anak-anak lewat mata pelajaran disekolah.


Sampah menumpuk dipinggir sungai
Oleh sebab itu, wajar jika kesadaran tentang arti kebersihan lingkungan belum sepenuhnya dihayati oleh seluruh anggota masyarakat. Hal itu bisa terlihat dari banyaknya sampah yang menumpuk diselokan, kali atau bahkan sungai besar. Mereka masih menganggap bahwa selokan, kali atau sungai adalah tempat sampah yang paling dekat, mudah, murah dan praktis. Tinggal buang sampah byuuuur….habis perkara.
Mereka tidak menyadari (atau tidak mau tahu) akan akibat yang bisa ditimbulkan dengan perilaku yang tak terpuji itu.  

Padahal salah satu akibatnya adalah banjir yang sering melanda wilayah sekitar bantaran sungai. Sangat mungkin juga melanda daerah yang lebih luas lagi. Kita tahu bahwa kalau sampai terjadi banjir besar, tentu akan mengakibatkan kerusakan lingkungan yang sangat parah
Demikianlah yang terjadi dimana saja. Dikota kecil atau kota besar. Bahkan tidak terkecuali kota metropolitan seperti Jakarta.
Maka jangan heran jikalau kita masih melihat ada saja orang yang membuang sampah sembarangan. Orang-orang yang naik mobil mewahpun masih ada yang tega dengan enteng membuang sampah melalui jendela mobilnya. 

Belum tampak ada rasa ‘melu handarbeni’ (ikut memiliki)...

Jikalau anda adalah seorang pengguna kendaraan umum, anda pasti juga ‘akrab’ dengan keadaan kotornya angkutan umum kita. Halte yang  semrawut dan jorok, terminal bus, stasiun kereta api, bahkan Bandara! Terutama kebersihan toilet umumnya. 
 Tulisan jorok didalam toilet umum
Tentang semua yang berlabel “umum” ini, entah kenapa masyarakat kita cenderung abai atau tak peduli. Yang paling parah memang kondisi toilet umum. Selain penuh dengan coretan dan tulisan -yang biasanya jorok-, keadaan klosetnya seringkali juga sudah amburadul. Padahal kita harus membayar untuk mempergunakan toilet umum itu. 
Demikian pula dengan fasilitas untuk umum yang lain.
Seringkali kita dapati telepon umum yang sudah tidak berfungsi. Ada yang tombolnya sudah berlubang, lubang koinpun tersumbat. Yang lebih ‘sadis’ lagi, ada yang kabel berikut gagang telponnya sudah raib entah kemana. Padahal sebenarnya telepon umum adalah alat komunikasi yang disediakan oleh pemerintah untuk membantu masyarakat. Terutama bagi masyarakat yang masih belum mampu membeli ponsel agar dapat berkomunikasi dengan mudah dan murah.
 
Semua itu menunjukkan bahwa sesungguhnya masyarakat kita masih sangat rendah kesadarannya dalam menjaga kebersihan dan memelihara fasilitas umum yang  disediakan untuk kepentingan bersama.
Masyarakat kita seperti tidak mempunyai sense of belonging, rasa ‘melu handarbeni’ atau rasa ikut memiliki. Ketidak pedulian ini sesungguhnya memang sangat pribadi sifatnya. Karena sangat tergantung dari sikap hidup, kebiasaan dan latar belakang pendidikan masing-masing individu. Apabila dari ‘sono’nya memang tidak pernah mendapatkan pelajaran tentang pentingnya kebersihan, maka memang tak banyak yang bisa diharapkan dari sikap mereka. Jangan pula berharap mampu bersikap memelihara milik bersama.

Jadi tulisan “Jagalah kebersihan”  dan “Kebersihan adalah bagian dari iman” ataupun "Buang sampah pada tempatnya" yang ada dimana-mana seolah dianggap sebagai 'angin lalu' belaka.
Sebetulnya kita harus mau menengok dan belajar dari negeri jiran. Belajar tentang bagaimana masyarakat dinegeri tetangga menjaga kebersihan lingkungan. Akan kita lihat bahwa faktornya adalah displin, kebiasaan, dan latar belakang pendidikan warga negaranya. Namun adanya peraturan pemerintah tentang kebersihan lingkungan ternyata merupakan faktor utama. Dan yang paling penting adalah bahwa pemerintah negeri jiran membuat peraturan dengan memberlakukan ‘law enforcement’ (penegakan hukum) secara tegas, konsisten dan tidak pandang bulu. Istilah politisnya tidak ada tebang pilih.

Peraturan yang menyangkut kebersihan lingkungan dilaksanakan dengan sanksi denda yang diberlakukan ditempat. Meludah disembarang tempat didenda, membuang sampah sembarangan didenda. Bahkan membuang sisa permen karet juga akan dikenakan denda. Apalagi berani merokok ditempat yang ada tanda “dilarang merokok” nya.
Tak pernah terjadi ‘denda damai’ ditempat, TST (tahu sama tempe) atau sebangsa itu. Masyarakat dan aparat hukumnya sama-sama patuh dan taat pada hukum dan aturan.
Pertanyaannya adalah: Kalau dinegeri jiran peraturan menjaga kebersihan lingkungan bisa berjalan sangat bagus, mengapa hal itu tak bisa dilaksanakan dinegeri kita? 
Anda pasti maklum, kira-kira apa jawabannya.


"TENTANG KIAMAT" ( 1 )


Tulisan bersambung: (bagian pertama)

APAKAH  KIAMAT SUDAH DEKAT?

Imajinasi tentang Kiamat, Fotos: google

Released by mastonie on Wednesday, June 1, 2011 at 7:55pm


“Wa annas saa’ata aatiyatul laa raiba fiiha wa annallaaha yah’atsu man fil qubuur”
(dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya, dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang yang didalam kubur). Al-Hajj, QS. 22:07

    Itulah firman Allah tentang kepastian datangnya hari kiamat. Dalam surah yang lain (An-Naml), dijelaskan bahwa kedatangan kiamat itu akan ditandai dengan ditiupnya terompet atau sangkakala oleh Malaikat Isrofil.
 
(Barangkali masih segar dalam ingatan kita bencana alam gempa bumi yang melanda wilayah Provinsi Sumatra Barat pada tanggal 30 September 2009. Gempa bumi yang meluluh lantakkan beberapa kota di Sumbar itu menelan korban harta benda dan nyawa ribuan jumlahnya. Menarik untuk disimak bahwa pada tanggal yang sama 44 (empatpuluh empat) tahun yang silam (tahun 1965) juga pernah terjadi ‘malapetaka’ yang  juga menelan ribuan korban karena peristiwa G-30-S/PKI). 

Adapun gempa bumi di pulau Sumatera yang berkekuatan 7,6 SR itu juga seolah mengingatkan kita pada hari dimana kelak akan terjadi bencana yang amat sangat dahsyat. Bencana itu pasti jauh lebih hebat dan menghancurkan dibanding gempa bumi dimanapun. Dan bahkan pasti jauh lebih kuat dibanding gempa dengan kekuatan yang hanya 7,6 SR.
Bencana sangat dahsyat itu tak akan dapat dihindari oleh segenap umat manusia. 
Itulah bencana yang disebut sebagai Hari Kiamat

Foto fiksi meteor raksasa menghantam bumi

    Didalam kitab suci Al-Qur’an, hari kiamat setidaknya disebut dengan 32 nama yang tersebar dalam beberapa surah. Dibawah ini antara lain 5 (lima) sebutan atau nama yang paling sering ditemukan:

  1. Yaum al Qiamah, (hari kiamat). Paling banyak disebut (71 kali). Tersebar dalam ayat dibeberapa surah. Antara lain Al-Baqarah, Ali Imron dan An-Nisa’.
  2. Yaum al akhir, (hari kemudian/akhir). Disebut demikian karena memang itulah akhir kehidupan mahlukNya sebelum kembali kealam barzah. Terdapat antara lain dalam surah Al Ankabut, Al Ahzab dan Al Mumtahanah.
  3. Yaum al hisab, (hari perhitungan amal). Hari kiamat adalah hari pengadilan bagi semua umat manusia oleh Allah SWT. Terdapat disurah Ibrahim dan Shod.
  4. Yaum az zalzalah, (hari kegoncangan dan keruntuhan). Pada hari inilah bumi akan berguncang dengan sangat dahsyat. Surah al Hajj dan Az Zalzalah.
  5. Yaum al ghoosyiyah, berarti hari kejadian yang dahyat. Surah Al Ghoosyiyah.

    Lalu apakah kiamat memang sudah dekat? Menurut Anas RA, Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Jarak waktu (antara) aku diutus (oleh Allah) sampai dengan (kedatangan) hari kiamat adalah seperti ini”  dan Rasulullah merapatkan telunjuk dan jari tengahnya. (HR. Muslim).

Dalam  surah Asy-Syuuraa (QS. 42:17) Allah berfirman:

“……..wa maa yudriika la’allas saa’ata qariib”  (…dan tahukah engkau, boleh jadi kiamat itu -sudah- dekat?).

Maka masihkah kita sangsi akan hari kiamat yang (mungkin memang) sudah dekat itu?
Setidaknya kita sudah harus bersiap diri. Dan oleh karena itu mungkin kita perlu mengetahui beberapa tanda akan terjadinya kiamat.
Dibawah ini beberapa tanda-tanda kecil maupun tanda-tanda besar hari kiamat (tidak disebut semua) yang bersumber dari beberapa riwayat dan hadits Rasulullah SAW:
  1. Terjadi banyak pembunuhan.
  2. Kejahatan dan kedurhakaan meraja lela.
  3. Dua golongan besar saling berperang dengan menelan korban sangat besar.
  4. Orang-orang kembali menyembah berhala (Lata dan ‘Uzza), seperti pada masa Jahiliyah dahulu. 
  5. Muncul Dajjal yang jumlahnya hampir 30 orang. Mereka semua mengaku sebagai Rasulullah (utusan Allah).
  6. Matahari akan terbit dari sebelah barat dan tenggelam disebelah timur.
  7. Ka’bah atau Baitullah akan roboh.
  8. Muncul Ya’juj dan Ma’juj. Mereka ini adalah segolongan besar umat manusia yang berkuasa tapi berpikiran sesat.
  9. Turunnya Nabi Isa AS yang bersama Imam Mahdi akan memperjuangkan  kebenaran. Dialah yang akan menumpas Dajjal, menghancurkan salib dan mengajak umat manusia untuk menyembah Allah yang Maha Esa.
  10. Lenyapnya tulisan dari kitab suci Al-Qur’an, dan tak ada seorangpun yang masih dapat menghafal ayat-ayatnya.
  11. Umat manusia menjadi kafir. Inilah tanda paling akhir Kiamat semakin dekat.
Kalau melihat sebelas tanda tersebut, maka bencana alam memang bukan termasuk salah satu tanda akan terjadinya kiamat. Akan tetapi tanda-tanda ke 1 (pembunuhan) dan ke 2 (kejahatan dan durhaka meraja-lela) sudah sangat sering terjadi pada saat ini. Dan justru karena kejahatan dan kedurhakaan manusia pula yang antara lain bisa menyebabkan bencana alam. 

Hampir setiap hari dapat kita baca dan lihat di media cetak dan elektronik kasus pembunuhan. Betapa mudahnya dijaman sekarang orang ‘menghilangkan’ nyawa orang lain. Bahkan nyawa keluarga sendiri, tak terkecuali anak, isteri bahkan orang tua! Naudzubillahi min dzalik!
Kasus pembunuhan ini mempunyai begitu banyak motif dan latar belakangnya. Ada yang berlatar belakang sangat rumit, tapi tak kurang pula terjadi pembunuhan hanya gara-gara masalah yang sepele saja. Pelaku pembunuhan juga sangat beragam. Ada yang memang dari ‘sono’ nya asli penjahat. Tapi banyak pula pembunuh dari kalangan terhormat.
Lihat saja kasus yang menimpa seorang (mantan) Pimpinan Lembaga Negara yang lucunya adalah penegak hukum. Sekarang terdakwa sudah diganjar hukuman penjara 19 tahun karena terbukti mendalangi pembunuhan seseorang. Konon pembunuhan ini  berlatar belakang pemerasan dan cinta segitiga. Meskipun banyak pihak yang sangsi dan bahkan menganggap dakwaan itu sebagai rekayasa. Diduga karena motif cinta “segibanyak” ini pula seorang pejabat teras PSSI tega membunuh istrinya sendiri! Terbukti bahwa pembunuh tak selalu berasal dari kalangan “tidak terhormat” bukan?

Ada lagi yang membunuh karena masalah sangat pribadi. Misalnya karena dendam (?) seperti telah dilakukan oleh seorang anak berusia belasan tahun yang tega membunuh ibu angkatnya. Akhir-akhir ini juga tersiar kabar tentang orang yang tega membunuh temannya hanya gara-gara sangat sepele. Konon hanya karena korban kurang membayar hutang.
Selain itu banyak juga orang yang membunuh karena alasan ingin menguasai harta korban. Juga membunuh karena ingin melampiaskan nafsu syahwat. Betapa sering kita jumpai korban perkosaan yang dibunuh secara keji dan tak berperi kemanusiaan.  Termasuk rangkaian pembunuhan keji dan mutilasi beberapa anak laki-laki korban sodomi. Pembunuhnya ternyata adalah seorang kakek yang berwajah ‘tak berdosa’.

Adapun tentang kejahatan dan kedurhakaan, agaknya kita harus mengakui bahwa .jumlah dan ‘kualitas’ kejahatan semakin meningkat. Kejahatan makin lama semakin marak dan semakin canggih. Rasa tidak aman yang menjangkiti masyarakat sekarang sudah semakin tebal. Kini banyak orang yang takut bepergian sendiri pada malam hari.  Karena pada siang hari saja banyak yang jadi korban penjambretan, penodongan dan perampokan. Kawanan garong bersenjata api bahkan berani menyerbu bank pada siang hari bolong.  
Para pemegang amanah juga banyak yang berlaku durhaka. Termasuk mereka yang seharusnya adalah penegak hukum. Para pemimpin dan pejabat bertindak ‘semau gue’. Mereka lupa bahwa sejatinya jabatan adalah sebuah amanah. 
Seperti tak lagi punya rasa malu, korupsi meraja lela. Perbuatan tercela itu terjadi dikalangan eksekutif, legislatif dan yudikatif.  Banyak terjadi pencurian uang negara yang dilakukan secara “berjamaah”.  
Masya Allah.

Moral para pemimpin semakin meragukan. Itu semua adalah fakta yang tidak dapat kita pungkiri.
Banyak pemimpin yang lupa pada rakyat. Politisi membohongi konstituennya. Lupa pada janji-janjinya ketika kampanye, meminta rakyat untuk memilih dirinya. Setelah terpilih mereka ‘kembali’ ke sifat asalnya. Tamak, congkak, tak peduli lagi pada penderitaan rakyat.  Merekapun lebih mementingkan diri sendiri dan partai atau golongannya. Belum lama bekerja (untuk negara) sudah sibuk memperjuangkan kenaikan gaji. 
Belum lagi ulah para Anggota Dewan yang terhormat. Mereka lebih suka melancong keluar negeri daripada memperjuangkan nasib rakyat yang katanya diwakilinya itu.
Jaman sekarang lebih banyak pejabat yang dipilih hanya karena “kroni dan koalisi”, bukan karena keahlian atau profesinya. 
Padahal Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Apabila sebuah pekerjaan diberikan kepada orang YANG BUKAN AHLINYA, maka tunggu saja KEHANCURANNYA”.
Dan banyak lagi penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, yang jadi bukti nyata para pemimpin telah kehilangan amanah dan hati nurani.
Mungkin para pemimpin itu lupa bahwa Allah SWT telah berfirman akan memberikan azab yang sangat pedih pada sebuah negeri yang para pemimpinnya bertindak durhaka kepada rakyatnya. 
(Lihat Surah Al Israa, QS 17:16, yang pernah dihubung-hubungkan dengan gempa Padang, yang kebetulan saja terjadi pada pukul 17:16 WIB)). 

Dengan menyimak tanda-tanda jaman (yang menurut istilah pujangga Ronggowarsito disebut ”jaman edan”) itu, tidak salah kalau kemudian dapat disimpulkan bahwa  tampaknya memang “KIAMAT SUDAH DEKAT” !
    Adapun tentang kapan terjadinya hari kiamat itu, dalam salah satu surah di Al-Qur’an Allah SWT telah berfirman bahwa hanya Dia (Allah) yang tahu pasti saat Kiamat itu datang:
“Innas saa’ata aatiyatun akaadu ukhfiihaa li tujzaa kullu nafsim bi maa tas’aa”
(Sesungguhnya kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (terjadi) nya supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa-apa yang diusahakannya). Surah Thaahaa, QS. 20:15

Dan kedahsyatan hari Kiamat itu juga banyak dilukiskan dalam Al-Qur’an. Salah satunya dalam surah Al Qaari’ah yang berarti sebuah “Peristiwa Besar” (QS. 101).

 Gambar imajinasi artis tentang kehancuran saat Kiamat
 
Diuraikan dalam ayat (3) s/d (5) tersebut: “Dan tahukah engkau apa peristiwa besar itu? (Yaitu) pada hari manusia seakan-akan anai-anai yang ditebarkan dan gunung-gunung seakan-akan bulu yang dihambur-hamburkan”.

    Demikianlah, maka pada hari Kiamat yang akan berlangsung sangat cepat, seluruh alam semesta dihancurkan atas kehendak Sang Maha Pencipta. Allah SWT akan mematikan semua jenis mahluk yang masih hidup. Beberapa saat kemudian Ia akan membangkitkan semua umat manusia dari kuburnya. Sang “Ahkamil haakimiin” (Hakim yang paling adil) pun kemudian akan mengadakan penghitungan (hisab) amal dan dosa masing-masing manusia. Setelah itu manusia (termasuk kita semua) akan memasuki alam akhirat yang kekal abadi. Entah berada di surga atau di neraka.
Demikian sedikit rangkuman tentang hari kiamat, semoga bisa menjadi bahan renungan dan pengingat bagi kita semua.

Wallaahu a’lam bishshawab.

(dirangkum dari beberapa sumber:
1. Al-Qur’an dan terjemahnya. Dep.Agama RI, tahun I Pelita V/1989-1990.
2. Kamus Al-Qur’an, Cet.II, Juli 2008. Pustaka Antara, Purwakarta.
3. Buku pintar Agama Islam, oleh Syamsul Rijal Hamid. Cet. I Mei 2007. Cahaya Alam. Bogor.
 4. Buku pintar hadits, oleh Syamsul Rijal Hamid.Cet.III, Sept.2007, PT.Bhuana Ilmu Populer Jakarta). 

bersambung......

Rabu, 21 Desember 2011

MENGAPA HARUS ADA "HARI IBU"?

Tulisan lepas:

Persembahan untuk almarhumah bunda tercinta:

 Ibu Hj. Soelarti binti H. Soelarso Hadiwisastro



Ibu, tiga kali lebih tinggi kehormatannya dari seorang Bapak.

Alkisah ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah, SAW:
“Ya Rasulullah, siapakah diantara anggota keluargaku yang paling berhak menerima baktiku?”
Rasulullah menjawab: 
“Ibumu”,
“Kemudian siapa?”
“Ibumu”
“Setelah itu siapa?”
“Ibumu”
“Lalu siapa lagi ya Rasul?”
“Bapakmu” (HR. Muslim, seperti diriwayatkan oleh Abu Huroiroh, RA).

Bahwa penghormatan kepada seorang Ibu tiga kali lebih utama daripada kepada seorang Bapak, itulah setidaknya yang diajarkan agama (Islam) kepada umatnya.
Mengapa demikian? 

Dilihat secara umum, Ibu menjalankan peran yang sangat besar artinya bagi seorang anak. Ibu lah yang mengandung janin anaknya selama sembilan bulan lebih sepuluh hari. Ibu pula yang menyusui anaknya setidaknya sampai usia dua tahun. Dan Ibu juga yang sehari-hari lebih dekat hubungan (terutama emosional) nya dengan anaknya. Karena tugas seorang Ibu yang harus merawat bayinya selama nyaris dua puluh empat jam dalam sehari.
Walaupun sekarang tentu banyak terjadi perkecualian karena tidak sedikit Ibu yang ikut bekerja.  Namun bekerja itu juga pasti untuk tambahan nafkah buat keluarganya.
Sedemikian besar jasa seorang Ibu, sehingga seorang Bapakpun harus rela mengakuinya. Sekalipun seorang Bapak membanting tulang bekerja keras mencari nafkah, namun hal itu masih belum sebanding dengan tugas seorang ibu.
Tidak heran bahwa kemudian ada niat atau keinginan untuk membuat satu hari yang khusus dipersembahkan bagi seorang Ibu. Keinginan itu bersifat universal. Karena lebih dari 75 negara didunia (termasuk Amerika Serikat) sepakat menetapkan minggu kedua bulan Mei sebagai “Hari Ibu” (Mother’s Day). 

Kecuali beberapa negara Eropa dan Timur Tengah yang memperingati “Hari Ibu” pada bulan Maret setiap tahunnya.

Dan ternyata Indonesia juga mempunyai "Hari Ibu" sendiri.
Sejak sebelum Indonesia merdeka, para perempuan ‘pribumi’ telah menyadari pentingnya kedudukan seorang perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Oleh sebab itu pada tanggal 22 – 25 Desember tahun 1928 diadakanlah “Konggres Perempoean Indonesia” yang pertama. 
Diikuti oleh 30 Organisasi Perempoean dari 12 kota di Jawa dan Sumatra, konggres dilangsungkan di nDalem Djajadipoeran, Yogyakarta (kini Kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, Jl. Brigjen Katamso). Hasil dari Konggres tersebut adalah terbentuknya “Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia” (PPPI). Inilah perkumpulan perempuan yang kelak menjadi KOWANI (Konggres Wanita Indonesia).
Merasa bahwa ‘Konggres Perempoean Indonesia’ pada tanggal 22 – 25 Desember 1928 adalah tonggak bangkitnya perempoean Indonesia, maka Presiden Soekarno kemudian menerbitkan Dekrit (Keputusan Presiden).  Dekrit atau Keppres no 316, tanggal 16 Desember tahun 1959 tersebut memutuskan bahwa tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai “HARI IBU”. Disebutkan juga bahwa HARI IBU adalah hari yang harus diperingati secara nasional meskipun bukan hari libur.

Bunga Melati lambang seorang Ibu

Sekuntum melati lambang kasih nan suci
Ibu Indonesia pembina tunas bangsa
Berkorban sadar cita tercapai dengan giat bekerja
Merdeka laksanakan bakti pada ibu pertiwi

Wanita Indonesia s'bagai Ibu Bangsa
Ibu Indonesia pembina tunas bangsa
Merdeka laksanakan darma 'tuk mencapai cita-cita
Indonesia nan jaya adil makmur merata


Itulah bait dari lagu "Hymne Hari Ibu", yang diciptakan oleh komponis N. Simanungkalit.
Jauh sebelum bunga Melati ditetapkan sebagai Puspa Bangsa, bunga berwarna putih bersih ini sudah dijadikan lambang Hari Ibu. Warna putih kita ketahui adalah lambang kesucian. Apalagi bunga Melati juga harum mewangi baunya. 
Namun sejatinya bunga Melati diambil sebagai lambang dari 3 hal yang sangat menonjol dari seorang ibu. 
Adapun 3 hal tersebut adalah:
Yang pertama: Kasih sayang kodrati antara ibu dan anak. Sudah banyak kita dengar tentang kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, yang kalau dikisahkan semuanya akan menjadi sangat panjang.
Yang kedua: melambangkan kekuatan, kesucian dan pengorbanan seorang ibu kepada anaknya.
Yang ketiga: perlambang dari kesadaran perempuan menggalang kesatuan dan persatuan serta ikhlas berbakti kepada bangsa dan negara.
Bukan dengan maksud akan merendahkan martabat para Bapak, karena tulisan ini hanyalah sebagai bentuk penghargaan kepada kaum Ibu Indonesia (dan juga kaum Ibu dimana saja).
Kita semua juga tahu, bahwa predikat sebagai seorang “IBU” hanya didapat karena ia adalah isteri dari seorang “BAPAK”. Tanpa kehadiran Bapak, apakah seorang perempuan layak disebut sebagai IBU? Secara normal, seorang perempuan hanya bisa melahirkan seorang anak (dan dengan demikian ia disebut sebagai seorang ‘ibu’) karena adanya seorang lelaki (yang setelah mempunyai anak disebut sebagai ‘bapak’). 
Namun kita semua tetap maklum, bahwa peran seorang ibu dalam mendidik anaknya, jauh lebih berat daripada peran seorang bapak. Apalagi dijaman sekarang ternyata banyak sekali Ibu yang berperan ganda dalam menopang nafkah keluarganya.
Dikota Yogya ada seorang istri yang karena suaminya jatuh sakit permanen, rela menggantikan peran suaminya. Walaupun peran yang digantikannya adalah....menarik becak. Peran itu dilakukannya tanpa pernah mengeluh. Dari usahanya menarik becak itulah ia membiayai anak-anaknya sekolah. Tentu juga sekaligus menghidupi keluarganya. Jadilah ia tiang keluarga dalam arti kiasan dan sesungguhnya. 

Dipasar tradisional yang ada dikota manapun juga, lebih dari setengahnya adalah para pedagang perempuan. Mereka berjualan sejak sebelum matahari terbit (terkadang) sampai senja tiba. Inilah sejatinya potret kaum perempuan Indonesia yang layak kita apresiasi keteguhan hatinya. Perempuan yang sepenuh hati mencari nafkah dengan jalan yang halal, untuk memenuhi nafkah keluarganya. Tanpa mengeluh, tanpa deraian airmata. Menerima nasibnya dengan ikhlas.

Hampir sama dengan yang terjadi dikota-kota besar. Banyak perempuan yang juga ikut membanting tulang untuk menegakkan tiang rumah tanggamya. Tantangan yang dihadapi dikota besar tentu juga jauh lebih besar. Karena kehidupan kota besar yang gemerlapan bisa menghancurkan sendi-sendi keimanan seorang wanita. Jauh lebih rentan daripada kendala dan godaan yang dihadapi kaum lelaki.

Kalau kita renungkan semua itu, sangat pantas kita memberikan penghargaan kepada kaum perempuan. Baktinya kepada anak-anak, keluarga dan andilnya dalam membangun sebuah bangsa sungguh tak ternilai. Rasanya pantas kalau ada sebuah hari (dalam satu tahun) yang kita persembahkan  kepada kaum perempuan. 
Diantara para perempuan itu adalah IBU yang melahirkan kita kedunia. 
Perempuan perkasa yang gigih menegakkan tiang keluarga, rumah tangga dan bangsanya.

Dirgahayu perempuan dan Ibu Indonesia. 

Selamat Hari Ibu.
 

Rabu, 30 November 2011

"DHAUP AGENG" (PERNIKAHAN AKBAR)


Tulisan lepas:
Bagian kedua (terakhir) dari dua tulisan.


“DHAUP AGENG”
KARATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT

 Acara "Bopongan" Penganten
.
Tamu Undangan berebut bus tumpangan........

Didalam undangan mewah dari Sri sultan HB X itu disebutkan bahwa para tamu undangan hanya diijinkan membawa kendaraan sampai ke Alun-alun utara saja. Selanjutnya kendaraan diparkir dan para tamu akan dibawa ke bangsal Kepatihan Danurejan dengan menggunakan beberapa buah bus dan kendaraan minibus yang khusus dipersiapkan oleh Panitia.
Saya pikir pengaturan seperti itu adalah keputusan yang tepat, karena tidak terbayangkan kalau ribuan tamu membawa sendiri kendaraan masing-masing ke Kepatihan Danurejan yang kapasitas tempat parkirnya sangat terbatas. Selain itu pasti juga akan menimbulkan kemacetan parah.
Semula saya agak ragu. Ada beberapa teman yang katanya diundang pukul 19.00 (tujuh malam). Saya sendiri mendapat undangan untuk pukul 20.00 (delapan malam). Padahal tempatnya jelas sama: Kepatihan Danurejan Jalan Malioboro. Tempat kumpulnya juga sama: Alun-alun Utara. Apakah undangan salah cetak? Pasti tidak! Apakah tamu dibuat bergiliran datang? Mungkin saja. Tapi bagaimana prosedurnya? Ah, repot amat mikirnya. Amat saja tidak repot mikir kaleeee......

"Ringin Kurung" di Alun-alun
Daripada bingung, selepas sholat magrib saya dan isteri sudah siap meluncur ke Alun-alun utara. Sampai disana ternyata sudah berjubel tamu undangan yang jelas satu tujuan. Dilihat dari busana dan lencana yang dikenakan didada kirinya. Semua pria terlihat gagah dalam balutan Pakaian Sipil Lengkap (PSL). Ibu-ibu mengenakan kebaya dan atau busana muslimah, kelihatan ayu, cantik serta gandes luwes. Semuanya sesuai dengan “dress code” seperti yang tertera di undangan. Masya Allah. Banyak sekali tamu yang menunggu bus pengangkut!
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih, tapi belum ada satupun bus yang datang. Ketika ada sebuah bus ukuran 30 an penumpang yang datang, saya tarik isteri saya untuk maju lebih mendekat. Ternyata semua berpikiran sama. Jadilah bus yang baru satu-satunya itu jadi ajang rebutan. Persis seperti orang yang rebutan kendaraan untuk pulang mudik! Padahal semua berpakaian rapi. Perebutan kekuasaan...eh, bus itu akhirnya selesai juga. Dan saya beserta isteri bisa ikut terangkut, walaupun harus rela berdiri berdesakan. Semua kursi sudah berhasil diduduki oleh mereka yang lebih  kuat dan ‘perkasa’. Lumayan karena meski terlihat kumuh, tapi busnya ternyata memakai pendingin udara juga. Alhamdulillah.

Tarian “Bedaya Manten” ciptaan Sri Sultan HB IX mengawali Resepsi

Turun dari bus di Gerbang Kepatihan, sayup-sayup sudah terdengar suara gamelan mendayu-dayu melantunkan gending pengiring tarian. Selesai menyerahkan kartu hadir, para tamu mendapat souvenir (cindera mata) berupa sebuah buku berjudul “Dhaup Ageng”.
Berwarna hijau mirip dengan warna undangan, buku souvenir itu bergambar kedua mempelai yang tersenyum bahagia, persis seperti yang dipasang pada spanduk-spanduk dipinggir jalan. Saya baru saja menggandeng isteri, ketika mendadak seorang gadis manis penerima tamu menangkupkan kedua tangannya seraya tersenyum manis dan mengucapkan ‘Sugeng Rawuh’. Lalu langsung berjalan mendahului didepan kami berdua untuk menunjukkan arah tempat duduk yang masih kosong. Saya sedikit terpana. Tidak menyangka akan mendapat kehormatan layaknya tamu Very Very Important Person. 
Padahal...... hmmmm....belum tahu dia......
 "Bedaya Manten"
Dibangsal Kepatihan terlihat serombongan gadis muda dan ayu sedang menarikan tari “Bedaya Manten” yang konon diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang tidak lain adalah kakek sang Pengantin Wanita. Rupanya itulah tarian andalan untuk menyambut para tetamu dalam setiap resepsi pernikahan kraton yang sakral itu.
Ketika telah mendapatkan tempat duduk, saya baru menyadari bahwa jam yang ditunjukkan dalam undangan ternyata memang dibedakan, sesuai dengan pangkat, harkat, martabat dan kedudukan yang diundang. Semakin awal diundang, berarti semakin terhormat tamu tersebut, karena akan mendapatkan tempat duduk terdepan. Yang mendapat undangan dengan jam paling akhir (jam 20.00 atau jam delapan malam) seperti yang saya dapatkan, itu berarti termasuk tamu yang (maaf) tentu paling rendah kedudukannya. Tempat duduknyapun berada dibarisan paling belakang.
Saya langsung teringat jaman masih suka menonton Wayang Orang di ‘Ngesti Pandowo’ dulu, semakin mahal karcis yang dibeli, semakin depan tempat duduk yang didapatkan. Yang duduk paling belakang didalam gedung pertunjukan Wayang Orang, artinya karcisnya paling murah dan disebut menduduki kursi “kelas kambing”.
Malam ini tampaknya saya juga mendapat jatah duduk di ‘kelas kambing’, maklum, saya hanya rakyat jelata. Tapi saya tetap merasa mendapat perlakuan yang tidak kurang terhormatnya. Dan memang sama sekali tidak ada perbedaan perlakuan pelayanan kerpada para tamu, kecuali masalah ‘tempat kedudukan’ itu.


Bangsal Kepatihan Danurejan,  tempat ‘Pasewakan’ yang penuh pesona...

Mendengar gending yang dilantunkan oleh para niyaga secara ‘live’ (langsung) dimalam hari disebuah bangsal seperti Kepatihan Danurejan ini, membuat bulu kuduk merinding saknalika.
Lampu-lampu ditenda tamu undangan dibuat redup dan hanya lampu dibangsal yang berupa chandellier (lampu robyong) berusia ratusan tahun yang dinyalakan kencar-kencar (sangat terang). Yang disebut sebagai “bangsal” itu adalah sebuah Pendopo Joglo berukuran sangat besar, ditengahnya empat soko guru tinggi menjulang. Lantainya terbuat dari pualam putih bersih nan mengkilat.

Dan  disitulah nampak Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta permaisurinya,  Gusti Kanjeng Ratu Hemas (baca: Emas), Gusti Kanjeng Ratu Bendara (Pengantin Wanita), Kanjeng Pangeran Harya Yudanegara (Pengantin Pria) dan kedua besan Sri Sultan duduk menghadap kearah para penari dan para niyaga. Para niyaga ini duduk bersimpuh dilantai, yang menghabiskan tempat hampir separuh dari luas bangsal itu sendiri.
Tenda para tamu undangan dibangun diluar pendopo, dan agak lebih rendah kedudukannya. Semua tamu (dari tiga arah: kanan, tengah dan kiri) menghadap kearah bangsal dimana Sri Sultan duduk. Para tetamu super VVIP terletak diarah kanan dari tempat duduk Sri Sultan HB X. Yang membedakan dari undangan yang lain adalah, khusus bagi para tamu super VVIP ini disediakan round table (meja bundar). Mereka duduk mengelilingi meja yang diatasnya sudah penuh dengan hidangan. Sedangkan bagi tetamu lain, hidangan disediakan secara prasmanan dalam gubug-gubug yang tak terhitung jumlah dan macamnya.
Iringan gending yang bertalu menghanyutkan membuat suasana temaram menambah sakralnya ‘Pasewakan Agung’ itu. Sesudah tari Bedaya itu selesai dipentaskan, ternyata masih ada satu lagi tarian yang dipersembahkan pada malam hari itu. Yaitu tari “Lawung” yang menggambarkan tarian seorang Ksatria yang akan berangkat menuju medan perang. Dua buah tarian itu menghabiskan waktu nyaris satu jam penuh. Oleh sebab itu ditengah tarian yang kedua ini, entah dapat komando dari mana dan siapa, para tamu undangan mulai ‘menyerbu’ hidangan yang sudah tertata rapi dimeja prasmanan  dan aneka makanan yang disajikan dipuluhan  ‘gubug’ yang tertata rapi. Tentu saja semua hidangan sangat lezat rasanya, mengingat yang mengundang adalah seorang Raja.

Antri untuk memberikan ucapan selamat, dan singgasana yang haram di’ungkuri’.....

Saya tidak tahu persis jumlah undangan yang hadir pada malam itu, tapi saya yakin jumlahnya pasti ribuan orang. Hal itu terlihat ketika tiba saatnya para hadirin dan tamu undangan dipersilakan memberikan ucapan selamat. Saking banyaknya tamu undangan, antrian yang terbentuk sampai menyerupai susunan beberapa huruf “S”. Semuanya tampak rapi berbaris. Tidak terlihat ada yang saling mendahului. Tertib dan khusyuk. Walaupun rata-rata seorang tamu undangan harus sabar menanti giliran sekitar setengah sampai tiga perempat jam lamanya. Kecuali tentu undangan VVIP yang tempat duduknya paling dekat dengan singgasana Raja dan dipersilakan untuk mendahului mengucapkan selamat.

Karena waktu menunggu dalam antrian lumayan lama, maka beberapa tamu undangan menggunakan kesempatan langka itu untuk berfoto ria dengan latar belakang Bangsal Kepatihan yang memesona. Saya dan isteri tentu saja termasuk dalam barisan “narsis” grup itu. Dengan bekal kamera saku digital murahan, saya bergantian dengan istri saling memotret dengan mengambil latar belakang yang saya anggap sangat bagus dan ‘dramatis’, yaitu barisan tamu undangan yang sedang bersalaman dengan Sri Sultan dan pasangan Pengantin Kerajaan. Tak terduga tiba-tiba saya dihampiri oleh seorang petugas berpakaian setelan jas gelap berambut cepak. Dengan suara rendah tapi jelas dan tegas dia melarang istri saya dan saya sendiri yang sedang berdiri membelakangi singgasana Sri Sultan HB X.

“Mohon maaf Bapak, Ibu, silakan mengambil gambar tapi nuwun sewu jangan ngungkuri  dampar kencana (berdiri membelakangi kursi emas, maksudnya tempat duduk atau singgasana Raja)”
Tentu dengan segera saya memohon maaf, karena memang tidak mengetahui aturan protokoler Karaton Ngayogyakarto Hadiningrat. Maklum rakyat jelata yang belum pernah masuk Istana Raja, apalagi ikut acara resminya. Kalau menurut kata Tukul Arwana: “Ndesooooo....!”

Akhirnya tiba juga giliran saya dan isteri berhadapan dengan Ngarso Dalem beserta Garwo Padmi (Permaisuri) dan sepasang Penganten beserta besan Sri Sultan HB X. Dengan tersenyum ramah Raja dan Ratu Yogya itu menerima uluran tangan kami berdua sembari mengucapkan terima kasih. Kemudian tiba giliran bersalaman dengan kedua mempelai dan besan Sri Sultan HB X yang memang sudah kami kenal baik sebelumnya. Momen yang tidak sampai dua menit itu serasa menghilangkan rasa lelah akibat berdiri dalam antrian panjang selama sekitar setengah jam lebih.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam lewat beberapa menit ketika kami berdua harus antri lagi menunggu bus atau kendaraan lain yang disediakan oleh panitia untuk kembali ke Alun-alun Utara tempat berkumpul semula.

Bagaimanapun juga, pengalaman malam hari itu, menjadi saksi mata langsung ‘Dhaup Ageng’ Karaton Ngayogyakarto Hadiningrat adalah pengalaman berharga yang tak terlupakan seumur hidup bagi saya dan isteri.