Senin, 08 Agustus 2011

"ANEKA BOGA PENGGUGAH SELERA" (1)


Tulisan bersambung:

(Catatan tentang kuliner dari yang biasa sampai yang “aeng-aeng”)
-Bahan dan foto dari berbagai sumber-


Bagian Pertama


 Seporsi Gudeg komplit

“Didunia ini hanya diisi oleh dua tipe manusia saja: yang pertama tipe manusia yang makan untuk hidup dan yang kedua tipe manusia yang hidup untuk makan.”
(Bon Bon Saribon, tukang wisata kuliner)


Dari yang tak bergizi sampai yang diburu kaum lelaki.......

     Sepanjang hidup manusia, makanan akan selalu menjadi sesuatu yang penting dan utama untuk dicari. Kalau perlu bahkan untuk diperebutkan. Tapi itu duluuuuuuuuuuuuu….., sekarang dijaman modern, dimana manusia sudah sangat pandai ber inovasi, makanan telah berubah jadi komoditi yang sangat menguntungkan.
Tak pelak, makanan (apa saja, dari makanan ringan sampai berat) bisa mendapatkan  tempat yang sangat layak, sekiranya bisa memenuhi hajat dan selera orang banyak. Uniknya. Daerah dimana makanan itu pertama kali diperkenalkan bisa menjadi sebuah ‘trade mark’ yang abadi.
    Tak pernah ada penjual gudeg yang tidak menyertakan kata “Yogya” dibelakangnya, kalau tidak ingin gudegnya tak diminati pembeli.
Anda pasti malah akan heran kalau menemukan resto atau warung makan yang menjual “Gudeg Merauke”, misalnya. Kecuali anda seorang petualang kuliner yang justru ingin mencoba makanan-makanan  yang aneh bin ajaib. Tapi orang seperti itu sekarang pasti sangat langka.
Alhasil nama “Gudeg Yogya” seolah sudah jadi merek dagang yang tak tergoyahkan. Saya bahkan pernah menemukan menu itu di sebuah resto (yang menyajikan aneka menu Indonesia) dikota Amsterdam dan New York. Tidak jelas kokinya dapat nangka darimana. Sampai saat ini tak pernah ada yang meng’klaim’ nama ‘Gudeg Yogya’ sebagai miliknya, walaupun dipakai oleh siapa saja, dimana saja, kapan saja.
     Begitulah ‘nasib baik’ yang menimpa gudeg Yogya.
Bahan utama pembuat gudeg adalah buah nangka yang dimasak sangat lama sampai berubah warna jadi kecoklatan. Menurut pakar gizi, karena waktu masaknya yang sangat lama itu, gudeg termasuk makanan yang  sudah hilang nilai gizinya.
Tapi entah mengapa gudeg malah terbukti bisa membuat "judeg" (pusing). Penggemar gudeg akan pusing kalau lama tidak menyantap makanan yang bisa membikin lidah kebanyakan orang bergoyang itu.
Bahkan ada orang yang sampai ketagihan.Istilah kerennya "Gudeg addicted". Hehehehe....


Kalau anda bukan wong Yogya asli yang sedang berwisata kekota Yogyakarta, anda pasti akan bingung melihat begitu banyak resto atau warung yang menjual gudeg Yogya. Itu karena banyak macamnya nama yang bikin bingung.
Dari “Gudeg Yu Siyem” , “Gudeg Yu Djum” sampai Yu Yu yang lain. (“Yu” adalah potongan dari kata bahasa Jawa “mbakYU”, artinya kakak perempuan. Selain untuk memanggil kakak perempuan, juga biasa dipakai untuk memanggil para wanita yang profesinya berjualan apa saja).
Lalu, manakah resto atau warung yang gudegnya paling mak joossss? Ah, kalau soal selera (makan dan apa saja) sih jangan diperdebatkan. Yang pasti hampir semua warung gudeg Yogya (di kota Yogya) laris manis tanjung kimpul. Lauk yang rasanya agak manis dan sangat khas itu didaerah asalnya sendiri konon telah menghidupi banyak sekali keluarga.

 Soto Kudus
     Demikian pula dengan “Soto”. Makanan sejenis sup berisi (sedikit) tauge dan daging (sapi, ayam atau kambing) ini sangat terkenal. Yang paling umum dan banyak dicari adalah yang bernama “Soto Kudus” dan atau “Soto Madura”.
Walaupun koki atau warungnya ada dikota mana saja.
Namun ternyata di Jawa masih banyak terdapat jenis soto-soto lain yang tak kalah lezat dan populernya. Sebut saja “Soto Betawi” (Jakarta) yang kuahnya penuh santan atau susu dengan daging (atau kaki) kambing atau sapi.

     Ada juga soto asli Pekalongan yang kuahnya pekat karena dicampur “tauco” sehingga namanya terpeleset jadi “Tauto”, (padahal konon tauco yang terbuat dari kedelai dan dibuat jadi seperti pasta itu yang paling enak berasal dari daerah Cianjur). Seperti soto Kudus, tauto Pekalongan didaerah asalnya selalu memakai daging kerbau. Didaerah lain disesuaikan dengan selera masyarakat setempat.
Mungkin biar terdengar agak lain, orang Banyumas menyebut sotonya dengan “Sroto”. Yang paling terkenal berlabel “Sroto Sokaraja” (kota kecil didaerah Banyumas yang juga beken dengan makanan “gethuk goreng”nya).
     Untuk membedakan siapa koki atau yang menjual soto, maka biasanya dibelakangnya akan ditambahkan nama daerah, nama koki atau si empunya resto dan warung.
Yang lucu, di Semarang paling banyak ditemukan “Soto Kudus Pak No”, walaupun satu sama lain tidak bersaudara. Bahkan tidak saling mengenal. Tak perlu ribut dan bertikai, karena nama orang Jawa memang banyak yang berakhiran dengan kata “NO”.  
Jadi No Problem lah.
Tapi yang paling melegenda di ibukota Provinsi Jawa Tengah itu adalah soto yang berlabel: “Soto Bangkong”, karena warungnya (yang pertama) terletak di jalan Bangkong, Semarang.
Soto yang resep aslinya juga berasal dari soto kudus ini sekarang sudah membuka puluhan cabang diberbagai kota di Indonesia.

Soto Madura
Kalau soto Kudus biasanya memakai daging ayam sebagai bahan dasarnya, maka Soto Madura justru kebanyakan memakai bahan dasar daging sapi. Disajikan dengan nasi ditambah beberapa iris telor rebus (bagi yang suka), soto Madura terasa sangat sedap dengan kuahnya yang berwarna kuning keemasan itu.
Demikian pula soto Padang, soto Medan dan coto Makasar (mungkin orang Makasar lebih suka huruf "C" daripada huruf "S"?) yang memakai bahan daging ‘sandung lamur’ (sapi). Masing-masing punya ciri khas sendiri.
Jadi mana yang lebih sedap? Sekali lagi, kalau soal selera jangan dipertentangkan, bah!
Agaknya melihat selera rata-rata masyarakat Indonesia terhadap soto yang tak pernah surut, maka bermunculanlah nama soto-soto gaya baru, seperti Soto Lamongan, Soto Ambengan, dan lain lain. 
Rasanya hampir semua kota besar di Indonesia merasa punya resep soto khas yang dijadikan “unggulan” kota masing-masing.

Sate Ayam

     Makanan lain yang juga sangat digemari sebagian besar masyarakat dari Sabang sampai Merauke (bahkan sampai luar negeri) adalah “sate”.
Menu berupa daging (ayam, kambing atau sapi) yang dimasak dengan cara dibakar diatas bara arang ini begitu ‘meraja-lela’.
Anehnya yang konon terkenal paling disukai (karena rasanya cocok hampir disemua lidah orang Indonesia) adalah “Sate Madura”, “Sate Ponorogo”, “Sate Cirebon” serta “Sate Tegal”.
Kecuali sate Tegal yang bahannya dari daging kambing, sate lainnya berbahan dasar daging ayam.
     Sate Madura berpeluang paling kondang dan jadi juara karena biasa dijajakan keliling kampung oleh para ‘pejuang’ berkaos loreng bercelana komprang hitam dengan teriakan khasnya: “Teeee…. sateeeee…”.  
Dek remah sampiyaaaan cak.
Nyatanya selama ini saya belum pernah bertemu penjual sate Ponorogo atau sate Cirebon dan sate Tegal yang jualan berkeliling, baik memakai gerobak ataupun dengan cara dipikul.
     Satu lagi sate yang sangat disukai masyarakat, utamanya orang Minang (Sumatera Barat),  adalah “Sate Padang”. Sate dengan bumbu penuh rempah-rempah dan (biasanya) sangat pedas rasanya ini terbuat dari bahan ‘jerohan’ (bagian dalam) sapi, antara lain paru, usus, limpa, hati dan lain-lain. Oleh sebab itu walaupun dibeberapa daerah ada juga tukang sate Padang yang berjualan keliling, tapi karena  ada sebagian orang yang menganggap sate ini “full cholesterol” , maka mereka memilih untuk lebih baik tidak membelinya. 

Sate Kambing
     Adapun sate  (yang berbahan dasar daging) kambing, yang paling kondang adalah “Sate Tegal” yang katanya selalu memakai daging kambing muda. Didaerah asalnya (Tegal, Slawi dan sekitarnya), sate kambing muda tidak dijual per sepuluh tusuk seperti lazimnya ditempat lain, tapi dijual per‘kodi’. Satu kodi jumlahnya 20 tusuk. Konon sate kambing muda ini sangat disukai, sampai diburu para lelaki karena menurut  'kabar burung' bisa mendongkrak libido pria yang loyo.
Sate Tegal disajikan dengan nasi atau lontong dan teh melati asli yang diseduh dalam poci plus gula batu. 
Benar-benar bisa bikin lelaki jadi terbayang-bayang wajah isteri, tapi malah lupa dengan mertua.
Alamaaak....


bersambung....

Rabu, 03 Agustus 2011

"TENTANG HEWAN YANG SETIA"


Tulisan lepas:

(secuil kenangan pada hewan peliharaan dimasa kecilku)


Patung "Hachiko"

 
 released by mastonie, on Wednesday, August 3, 2011, at 9.15 am


Saya beruntung sekali mempunyai seorang Ibu yang pandai menyanyi dan mendongeng. Masa kecil saya penuh dengan “dongeng sebelum bobo”, yang selalu diceritakan ibu dengan penuh penghayatan. Saya (dan kakak perempuan saya satu-satunya) sering begitu terkesimanya sampai kadang terharu hingga menitikkan airmata mendengar dongeng Ibu, sebelum akhirnya jatuh terlelap ke alam mimpi. 

Kisah tentang kesetiaan seekor anjing.

     Ada beberapa dongeng yang betul-betul membekas sangat dalam disanubari saya sebagai balita, yang bahkan terpateri dalam ingatan sampai saat ini. Secara kebetulan saja dua diantara dongeng  mencekam itu mengisahkan tentang kesetiaan seekor anjing kepada majikannya.
    Dongeng pertama adalah tentang seorang wanita petani yang mempunyai seekor anjing kampung yang sangat setia. Ketika suatu waktu wanita tersebut melahirkan bayi perempuan yang sangat jelita, si anjing rupanya juga sangat suka kepada bayi tersebut. Hampir setiap hari anjing tersebut dengan setia berbaring disamping si bayi yang diletakkan diatas tikar dilantai rumah, seolah ingin menjaganya dari siapapun yang berniat jahat.

     Pada suatu hari wanita tersebut berniat pergi kepasar untuk membeli keperluan sehari-hari dan untuk keperluan bayinya. Dengan kepercayaan penuh kepada sang anjing, ditinggalkannya rumahnya untuk beberapa waktu. Alangkah kaget dan terkesiapnya wanita itu sewaktu pulang dari pasar  mendapati sang anjing sedang asyik mengunyah daging merah dengan mulut penuh dengan darah segar didepan pintu rumah. Dengan kalap sambil berteriak-teriak histeris wanita tersebut menghajar anjingnya yang sama sekali tidak melawan, dengan sebilah kayu sampai akhirnya si anjing tewas seketika.

     Penuh dengan perasaan cemas iapun berlari kekamar bayinya. Didalam kamar ia dapati bayinya tidur pulas dengan menyunggingkan senyum. Sehat wal afiat tak kurang suatu apapun. Disamping bayi itu  tergeletak bangkai seekor ular sanca sebesar lengan yang telah hilang kepalanya!
Kini wanita itu menjerit untuk yang kedua kalinya. Ia telah membunuh anjingnya yang setia, anjing yang telah menyelamatkan nyawa anaknya dari serangan seekor ular sanca. Wanita itu telah salah sangka terhadap anjing yang begitu setia dan perwira. Tapi penyesalan selalu datang terlambat dan tak ada gunanya.
Hachiko
     Dongeng kedua barangkali anda telah pernah mendengar atau bahkan menontonnya digedung bioskop. Yaitu kisah seekor anjing sangat setia bernama “Hachiko” yang bertahan bertahun-tahun duduk didepan sebuah stasiun kereta api menunggu kedatangan majikannya,  yang tidak akan pernah datang karena sang majikan telah meninggal dunia. Hachiko, anjing yang setia itupun akhirnya menemui ajalnya dalam sebuah badai salju, ia tewas ditempat sehari-hari ia duduk bersetia menunggu sang majikan.
     Untuk memperingati kesetiaan Hachiko (‘Hachi’ dalam bahasa Jepang artinya delapan, sebuah angka lambang keberuntungan), kini didirikan sebuah patung disebuah taman yang menggambarkan Hachiko yang sedang duduk setia menanti majikannya yang tak akan pernah tiba.

Anjing koq sebesar 'belo' (anak kuda)........



     Sewaktu berusia sekitar lima atau enam tahun, saya mendapat hadiah seekor anak anjing dari Pakde saya yang menjadi Wedana didaerah Demak. Umur anak anjing jantan itu barangkali baru beberapa minggu dan terpaksa dibuang karena induknya melahirkan anak terlalu banyak.
Berbulu warna cokelat terang, anak anjing ‘buangan’ itu tampak sehat dan lucu menggemaskan. Ekornya tak pernah berhenti dikibaskan jika ada yang mendekatinya. Gonggongannya kecil melengking dan sangat suka menggigit apa saja yang ditemuinya.  Nyaris semua bantalan kursi, kaos kaki, sandal dan sepatu kain (kets) serta ‘welcome’ (keset) dirumah kami jadi dedel duel, hancur berantakan.

Entah mendapat ide darimana, Bapak saya memberikan nama ‘Soni’ kepada anak anjing jantan itu. Padahal nama saya (satu-satunya anak laki-laki Bapak pada saat itu) adalah Tony!
Perkembangan tubuh dan keterampilan Soni ternyata sangat luar biasa. Walaupun induknya adalah seekor anjing ‘Gladaker’ atau anjing kampung biasa, tapi dengan  melihat bentuk dan ciri tubuhnya bisa saya pastikan bapaknya adalah seekor Herder. Jadi Soni adalah anjing “indo” (peranakan).
Ayah saya mendidik dan melatih Soni dengan keras, kalau tidak boleh saya katakan agak kejam. Namun hasilnya memang sangat menakjubkan. Anjing keturunan Herder yang aslinya merupakan anjing penjaga itu nyaris mengerti semua percakapan dan perintah orang kepadanya.
Kalau hanya perintah ‘duduk’, ‘berdiri’ atau ‘tidur’, itu masalah kecil baginya. Soni bahkan bisa mengacungkan kaki depan kanannya kalau dia diminta untuk memperkenalkan diri, tabik (menghormat sekaligus bersalaman) atau kalau dia mau meminta sesuatu. Soni juga mampu berdiri dengan  dua kaki belakangnya serta menguasai hampir semua kode yang diajarkan oleh Bapak saya.

     Umur satu tahun, badan Soni sudah setinggi anak kuda, dengan perawakan tegap, telinga mendongak keatas dan ekor berbulu tebal yang selalu dikibaskannya kalau ‘mood’nya sedang ceria. Kalau kami sekeluarga jalan-jalan keliling kampung Soni akan mengikuti dengan lari-lari kecil dibelakang atau didepan. Banyak orang yang ketakutan melihat postur tubuhnya begitu besar, seperti 'belo' (anak kuda). Padahal Soni sangat jinak. Kecuali jika instingnya mencium sesuatu yang ‘tidak beres’, ia akan menggonggong dengan keras. Gonggongannya dijamin akan membuat orang yang berniat jahat lari tunggang langgang.

     Kami keluarga yang sangat sederhana, jadi makanan untuk Soni juga tidak istimewa. Apa yang kami makan, itulah yang juga dimakan Soni. Yang sangat mengherankan, Soni sangat suka sekali makan ‘pohung’ (singkong) rebus. Kalau kebetulan Mbok Yem (nama pembantu ibu saya) sedang merebus singkong, dimanapun Soni sedang berada, dia akan langsung lari pulang kerumah. Dia akan duduk dan tak mau beranjak dari dapur sebelum diberi satu atau dua potong singkong rebus. Bahkan kadang dia meminta lebih. Soni akan duduk sambil mengacungkan kaki kanannya keatas, dengan mengeluarkan suara seolah merengek, sampai mendapat tambahan jatah ekstra lagi. 

Beberapa kali mengalami percobaan pembunuhan.

     Rumah (sewa/kontrakan) keluarga saya pada saat Soni dihadiahkan kepada kami, adalah di kampung Bulu Setalan (bukan selatan) didaerah Lemah Gempal, dekat dengan pinggir Kali (sungai) Banjir Kanal Semarang. Setiap ada waktu luang, Bapak mengajar Soni untuk berenang dikali yang pada waktu itu airnya belum sekeruh dan sedangkal sekarang. Semua tetangga tahu kalau ada anjing yang pandai berenang dikali, itulah Soni anjing kami.

     Tetapi entah karena iri atau ada yang sakit hati karena niat jahatnya (mungkin) pernah digagalkan oleh Soni, maka dalam sejarah hidupnya, Soni pernah beberapa kali mengalami percobaan pembunuhan.
Pada suatu pagi Bapak bangun tidur dan tidak menemukan sosok anjing setia itu dikandangnya. Tidak ada yang tahu kemana dia pergi, karena biasanya Soni tak pernah beranjak dari kandang pada malam hari. Selama ini kalau Soni tak berada dikandang, Bapak hanya berdiri diluar pagar dan berteriak: ”Soniiii!!”, maka tak butuh waktu lama Soni akan terlihat berlari pulang dan langsung menubruk dengan mengangkat kedua kaki depannya kebahu Bapak. Kalau tidak dilarang, dia akan menciumi wajah Bapak. Soni tak pernah berbuat begitu kepada saya, karena agaknya dia maklum, kalau dia berdiri mengangkat dua kaki depannya, maka dia jauh lebih tinggi dari tubuh saya yang belum genap berumur tujuh tahun.
Tiba-tiba ada beberapa tetangga datang memberitahu, bahwa mereka melihat Soni dengan tubuh penuh darah berlarian dari kali Banjir Kanal. Sontak kami sekeluarga panik dan mencari sambil meneriakkan namanya berulang kali. Ternyata kami dapati Soni tergeletak dipinggir rumah dengan tubuh bersimbah darah. Tak terdapat tanda kehidupan karena lehernya nyaris putus dengan luka menganga lebar. Pagi itu kami semua bertangisan. Tidak membuang waktu Bapak melarikan Soni dengan naik becak ke RST (Rumah Sakit Tentara) yang terletak tidak terlalu jauh dari rumah.
Alhamdulillah, Soni bisa melewati masa kritisnya dan akhirnya bisa pulih kembali.
Bekas jahitan dilehernya akhirnya ditutup Bapak dengan sebuah kalung terbuat dari kulit dengan hiasan kenop logam berwarna putih mengkilat. Soni malah tampak jauh lebih gagah sekarang.

Jadi kurir dan bertahan tak mau pindah rumah.

     Sebelum saya beranjak besar, hubungan antara Soni dengan Bapak memang lebih akrab. Mungkin karena selama ini Bapaklah yang mengajar hampir semua keahlian yang dia miliki. Kemana saja Bapak pergi, Soni akan mengikuti. Bahkan kalau tidak dilarang, dia akan mengikuti sepeda Bapak sampai kekantornya di ”Lawang sewu” dekat Tugu Muda.
Suatu ketika Bapak jatuh sakit yang mengharuskannya di rawat di RST. Soni ikut kerumah sakit dan bertahan tidur dibawah ranjang dimana Bapak berbaring. Tak seorangpun bisa mengusirnya pergi. Dokter dan perawat di RST tidak ada yang berani menghadapi anjing yang sebesar 'belo”  itu.

     Pada jaman itu (pertengahan tahun 50 - 60 an) belum banyak sambungan telepon rumah. Apalagi telepon genggam. Tapi Bapak punya “kurir” khusus yang setia. Setiap membutuhkan sesuatu dari rumah, Bapak akan menulis surat, kemudian surat itu diletakkan dikalung yang ada dileher Soni. Dengan membisikkan perintah ketelinga Soni dan sedikit tepukan, maka anjing pandai itu akan melesat lari pulang kerumah dan langsung menemui Ibu sambil menggosok-gosokkan lehernya. Ibu tahu ada sesuatu dan kemudian akan menemukan surat Bapak. Itulah Soni, kurir sekaligus penjaga setia Bapak selama sakit.
     Menjelang masuk kekelas dua Sekolah Rakyat (SR), Bapak dan Ibu memutuskan pindah rumah kedaerah Tegal Wareng (kini Jalan Sriwijaya), didekat Kebun Binatang. Namanya kampung Genuk Krajan.
Kami pindah rumah secara berangsur-angsur dengan mengangkat perabotan memakai mobil dinas Bapak dan sebagian dengan becak. Jarak dari rumah lama di Bulu Setalan ke Genuk Krajan lumayan jauh. Mungkin sekitar 15 kilometer lebih. Semua berjalan dengan lancar sesuai rencana kecuali satu hal: Soni tidak mau beranjak dari rumah lama kami.

     Anjing setia itu bersikukuh kembali lagi kerumah lama walaupun sudah diangkut dengan becak kerumah baru. Dia menerobos keluar dari rumah baru dan lari kembali pulang kerumah lama. Hebatnya, dia bisa menemukan rumah lama kami walaupun jaraknya begitu jauh.
Dirumah lama itu Soni memilih tidur didepan pintu dan mengancam dengan menggeram siapa saja yang mendekati rumah yang sekarang sudah kosong itu! Dia mampu bertahan berhari-hari walaupun tak ada yang memberinya makan. Butuh kesabaran untuk bisa membujuk Soni pindah kerumah baru.
Ada beberapa kali dia terus saja ‘menghilang’ karena lari kembali kerumah lama. Setelah bekas rumah kami mendapatkan penghuni baru, akhirnya Soni baru mau menetap dirumah kami di Genuk Krajan. 

Soni diracun orang dan menghilang.

     Di kampung Genuk Krajan Soni menjadi anjing paling populer karena tubuhnya yang besar dan bukan anjing yang galak. Hanya jika insting binatangnya merasa ada orang jahat, Soni bisa berubah menjadi bengis sekali. Ia akan menggonggong berkepanjangan sampai salah satu dari kami (Bapak, Ibu, saya atau kakak saya) turun tangan menenangkannya.

     Dan di kampung Genuk Krajan  ini pula  terjadi usaha pembunuhan terhadap Soni untuk yang kedua kalinya. Saya sudah kelas 4 SR waktu pada suatu sore hari Soni pulang dari ‘ngeluyur’ dengan moncong berbusa. Tubuhnya basah kuyup dan ekornya melipat kedalam diantara dua kaki belakangnya. Dia seperti melolong pelan seakan minta pertolongan. Kami sekeluarga menjadi sangat bingung. Soni muntah-muntah disembarang tempat. Busa putih keruh terus saja keluar dari moncongnya. Matanya kuyu dan telinganya yang biasanya tegak berdiri, kini layu menggelayut.
Tetangga terdekat mulai berdatangan mendengar kegemparan yang terjadi dirumah kami. Mereka berkesimpulan bahwa pasti ada orang yang memberikan racun kepada Soni. Padahal Soni bukan jenis anjing yang mudah makan disembarang tempat. Secara teratur dia makan dirumah sehari tiga kali pada waktu yang selalu sama. Tentu kami heran ada orang yang berniat jahat kepadanya.
Ada tetangga yang akhirnya memberi saran untuk mencari air kelapa hijau guna menetralkan racun ditubuh Soni. Tapi Soni terus saja gelisah. Dia merangkak-rangkak disepanjang sisi rumah kami dan akhirnya tersungkur dan tergeletak dibelakang rumah. Beberapa orang tetangga membantu memasukkan air kelapa hijau kemoncongnya yang terkatup rapat tapi masih terus mengeluarkan busa.

     Malam itu kami sekeluarga tidur dengan gelisah. Saya mulai menangis karena sedih membayangkan akhir hidup Soni, anjing kami yang sangat setia dan luar biasa itu mengalami hal yang sangat menyedihkan.
Pagi harinya kami terbangun mendengar kegaduhan diluar rumah. Terdengar suara Mbok Yem, pembantu kami yang berulang kali memanggil nama Soni. Saya meloncat turun dari tempat tidur dan lari keluar menemui Mbok Yem yang tampak panik.  Soni sudah tidak ada ditempatnya lagi. Saya menangis sambil ikut meneriakkan nama Soni berulang-ulang.
Bapak langsung mengambil sepeda dan berusaha mencari keliling kampung sampai ke Genuk Karanglo dan sepanjang jalan Tegalwareng. Tapi Soni seperti raib ditelan bumi. Sepanjang hari itu saya terus menangis sampai mogok tidak mau berangkat ke sekolah. Hati saya sedih sekali. Bertahun-tahun Soni menjadi binatang yang selalu setia menemani kami, kini ada orang yang berniat jahat yang menyebabkan Soni menghilang dari rumah.
Bayangan jelek menghantui saya. Saya membayangkan Soni tertabrak mobil yang lalu lalang disepanjang jalan Tegalwareng, atau barangkali Soni tewas hanyut dikali karena tubuhnya sangat lemah akibat racun yang masuk ketubuhnya.

     Akhirnya Soni betul-betul tidak kembali lagi kerumah. Bapak berusaha sekuat tenaga untuk mencarinya dengan membuat pengumunan diradio dan memasang iklan kehilangan binatang peliharaan di Koran (sesuatu yang belum lazim dimasa itu). Tapi Soni tetap tak berhasil diketemukan.
Saya betul-betul merasa kehilangan dan terus meratapi kepergian Soni. Pupus sudah harapan saya bisa menemukan Soni kembali. 

Kejutan dipagi hari …..

     Beberapa bulan kemudian disuatu subuh yang udaranya dingin karena musim penghujan, terdengar suara garukan dipintu depan rumah kami. Garukan berulang dipintu depan itu berirama sangat khas.
Kami serumah hafal betul, itu adalah suara garukan kuku kaki Soni kalau dia minta dibukakan pintu. Tapi kali ini tanpa suara menggeram pelan seperti biasanya. Mbok Yem yang selalu bangun paling awal segera bergegas kepintu depan.
Dipagi yang masih gelap itu kami semua tersentak bangun dan meloncat turun dari tempat tidur ketika mendengar suara Mbok Yem berteriak-teriak nyaris histeris: “Ya Allah..Soni….Soni kamu pulang kembalii..!!!” Disusul suara ringikan anjing yang sudah sangat kami kenali.

     Kami berebut lari kepintu depan dan mendapati Mbok Yem sedang bergumul dilantai dengan Soni! Astagfirullah!! Saya seperti mimpi. Soni betul-betul kembali. Anjing peranakan Herder itu menghambur kearah kami sambil mengibaskan ekornya kekanan kiri. Tubuhnya kurus dan kulitnya kusam seperti anjing kampung yang tak terawat. Kami semua bertangisan bahna gembira.
Hari itu Soni dimandikan Ibu dengan air kembang setaman, sebagai bentuk ucapan syukur atas kepulangan Soni, anjing kami yang setia itu.

Siapa bilang anjing selalu jadi musuh kucing?

Kampung Genuk Krajan berada dilereng bawah daerah Candi, kota Semarang bagian atas (highland) yang kebanyakan dihuni orang-orang kaya, termasuk sisa-sisa warga Belanda yang akhirnya diusir oleh Pemerintah RI agar pulang kembali kenegerinya.
Saya mendapat ‘berkah’ dari kepulangan mereka. Suatu pagi saya mendapati seekor anak kucing terbaring lemah didepan pintu rumah kami. Berwarna abu-abu keperakan, bayi kucing berjenis kelamin jantan itu terlihat lain daripada kucing biasa. Ekornya berbulu lebat dan tampak mengembang kalau dia terusik.
Pada dasarnya sejak kecil saya suka merawat dan memelihara binatang. Jadi saya putuskan untuk merawat anak kucing malang itu. Saya tahu dirumah kami sudah ada Soni, anjing kami yang setia itu tentu akan merasa cemburu. Tapi pasti bisa diatur nanti.

     Walaupun dalam keadaan sangat tidak terawat, kucing jantan kecil ini berwajah manis sekali. Saya langsung memberikan nama untuknya: “Manis”. Secara naluri alamiah, konon anjing dan kucing tidak akan pernah bisa akur. Pada awal kedatangan si Manis, Soni juga sudah memperlihatkan rasa permusuhannya dengan menggeram ketika melihat saya sedang membersihkan tubuh bayi kucing itu sambil memberinya secawan susu hangat. Saya perintahkan Soni untuk duduk dan diam. Dia menurut dengan agak malas-malasan. Tapi sepanjang saya memberi minum Manis, Soni bisa diam meskipun matanya ‘ketap-ketip’ mengikuti semua gerakan saya. Untuk beberapa waktu Soni masih menggeram jika bertemu dengan Manis.

     Saya tak mengira Manis tumbuh dengan pesat. Kucing kecil itu sekarang bahkan berani menantang Soni dengan raungan meong kecilnya.  Mungkin dia merasa saya akan selalu melindunginya.
Akhirnya tampak bahwa Manis memang bukan kucing biasa. Jelas dia keturunan kucing Anggora. Bulu tubuhnya sangat lebat berwarna abu-abu putih keperakan. Ekornya mengembang sangat besar, terutama jika dia sedang marah atau senang. Mukanya imut dan manis sekali.

     Saya terus mencoba menjadi juru damai antara Soni dan Manis. Saya meniru gaya Bapak sewaktu mendidik Soni dahulu, yaitu dengan sedikit memakai kekerasan. Saya mulai dengan pendekatan perut. Kalau saat memberi makan tiba, saya paksa Soni dan Manis makan dari satu piring. Awalnya terjadi keributan. Tapi saya tahu kalau Soni selalu terlihat ‘ngeper’ jika melihat gagang (tangkai) kemoceng yang biasa dipakai Bapak untuk menghukum saat dia nakal. Oleh sebab itu saya intimidasi Soni dengan alat itu.

     Akhirnya usaha saya berhasil juga. Soni dan Manis bisa akur saat makan bersama. Kini bahkan terlihat kalau Soni berusaha mengalah. Dia akan menunggu sampai Manis (yang jatah makannya hanya sedikit) selesai makan. Kemudian Soni akan menghabiskan sisa makanan dalam piring yang sudah ditinggalkan Manis. Lucu dan terharu juga melihatnya.
Lama-lama keakraban mereka sampai juga ketempat tidur. Manis akan tidur menggelendot ketubuh Soni yang sesekali bahkan berbaik hati menjilati tubuh Manis. Mereka jadi sangat rukun akhirnya.
Harus saya akui bahwa Soni adalah anjing jantan yang setia dan ternyata juga punya rasa setia kawan yang sangat besar.
     Disamping Soni dan Manis, saya juga punya Bagong, ayam jantan (jago) Bangkok bertubuh bongsor dan kekar. Bagong saya pelihara sejak masih piyik (bayi) jauh sebelum saya menemukan Manis. Ketiga binatang berlainan jenis tapi sama-sama jantan itu bisa menjadi teman akrab.
Bahkan Soni akan selalu bertindak sebagai “the Godfather”.
Jika Manis atau Bagong berkelahi dengan kucing atau ayam jago tetangga, maka Soni akan langsung ‘turun tangan’ melabrak musuh sampai lari terbirit-birit.


Tragedi mengiringi akhir kisah hidup Soni……

     Pada saat saya sedang menghadapi ujian akhir kelas 6 SR, tanpa tahu asal muasal dan sebab yang pasti, Bapak dan Ibu memutuskan untuk berpisah. Seperti biasa yang sangat terpukul adalah anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Saya merasa paling terpukul karena saya sedang akan mengikuti ujian akhir Sekolah Rakyat. Sementara itu kakak perempuan saya sudah berada dikelas 2 SMP.
Tapi perpisahan itu juga tampaknya menghancurkan nasib hewan-hewan kesayangan kami.

     Sejak Ibu meninggalkan rumah untuk bergabung bersama Simbah kakung, kami hidup bertiga dirumah sewa itu tanpa semangat lagi. Mbok Yem pun minta berhenti dan Soni, Manis serta Bagong jadi tak terawat lagi. Bagong mati tak lama kemudian. Manis hilang entah kemana rimbanya.
Kesedihan akibat perceraian orang tua adalah teman hidup saya sehari-hari. Semangat saya nyaris terbang dan tak sempat bersedih lagi kehilangan hewan peliharaan tercinta.

     Ketika akhirnya Bapak memutuskan pindah kerumah Eyang putri di Pandean Lamper, kisah yang lalu terulang kembali. Soni, anjing setia kami bersikukuh tak mau meninggalkan bekas rumah kami di Genuk Krajan. Berulang kali dia dibawa ke Pandean Lamper, tapi berulang kali pula dia melarikan diri pulang ke Genuk Krajan lagi. Kali ini Bapak seperti tak peduli.
Dan dalam keadaan putus asa, saya hanya merasa tak berdaya.
Saya mendengar dari tetangga di Genuk Krajan,  Soni jadi anjing kampung yang berkeliaran untuk mencari makan dari satu tempat ketempat lain.
Hati saya seperti teriris-iris mendengar akhir kisah hidup Soni yang mati dalam penderitaan karena tak punya induk semang lagi.


Sabtu, 30 Juli 2011

"TENTANG SALAH (YANG) KAPRAH....."


Tulisan lepas:



(sebuah catatan kecil  menjelang bulan Romadhon dan Syawal setiap tahun)

 Ziarah kubur menjelang Romadhon


released by mastonie, on Friday, August 20, 2010 at 9.15 pm

Tentang istilah "Lebaran"
 
     (Hari Raya) Idul Fitri, yang jatuh pada setiap tanggal 1 Syawal  tahun Hijriyah atau tanggal berapapun dibulan dan tahun Masehi, akan segera datang dan segera pula akan berlalu.
Mungkin atmosfer ‘Minal aidin wal faizin, maaf lahir batin’ dan ‘Taqobalallahu minna wa minkum’ masih terasa kental disekeliling kita.
Baju baju baru juga mungkin baru saja dicuci. Kita kembali hidup ‘seperti biasa’ lagi.
Artinya, kita mesti berpijak ‘kebumi’ lagi dalam arti yang sesungguh-sungguhnya.
Jadi, apakah kehidupan kita pada bulan (Romadhon) yang lalu tidak membumi?
Hanya Allah SWT dan anda yang tahu dan bisa menilai sendiri.
Bukankah Allah SWT pernah berfirman:
“Puasa itu untuk KU, maka AKU SENDIRI lah yang akan memberikan PAHALAnya”
(HR. Bukhori-Muslim)
    Ada beberapa hal yang mengganggu pikiran saya tentang adanya sesuatu yang salah tapi kaprah. Mungkin pendapat yang saya sampaikan dalam catatan kecil ini tidak seratus persen benar.
Tapi lebih baik berpendapat daripada hanya menggerutu dibelakang bukan?
    Idul Fitri dikalangan masyarakat kita (meski awalnya berasal dari istilah orang Jawa} lebih terkenal dengan sebutan “Lebaran” (‘lebar’ dalam bahasa Jawa berarti -telah- selesai). Begitu populernya kata Lebaran ini, sehingga sekarang istilah itu malah sudah ‘diadopsi’ resmi masuk dalam  kosakata Bahasa Indonesia.
Padahal menurut saya,  istilah LEBARAN ini  kurang tepat, kalau tidak boleh disebut sebagai keliru. Tapi ilmu kelirumologi kan memang sudah jamak dinegeri kita (begitu kata bung Jaya Suprana, si pakar ilmu keliru itu). Malahan sudah ‘kaprah’ (terlanjur biasa dilakukan).
Terjemahan bebas “Idul Fitri” (bahasa Arab) adalah “Hari Raya (kembali ke) Fitrah”.
Artinya, kalau kita tadinya penuh bergelimang  kesalahan dan kekhilafan (sebuah hal yang wajar saja, karena kita semua adalah manusia biasa), maka setelah melaksanakan ibadah shaum atau puasa Romadhon sebulan penuh, Insya Allah dosa-dosa kita akan diampuni Nya.
Dalam salah satu hadist, Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa berpuasa -pada- bulan Romadhon dengan beriman dan mengharap ridha Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya pada masa lalu”  (HR. Bukhori-Muslim).

     Jadi setelah kita melaksanakan puasa sebulan penuh, maka pada Hari Raya Fitri itu, Insya Allah -seperti sabda Nabi-, kita akan ‘terlahir kembali’ sebagai mahluk yang tanpa dosa, alias suci kembali. Aamiin. Insya Allah.
Lalu bagaimana hari raya yang sebetulnya berarti “kembali ke fitrah” disebut hanya sebagai “lebaran” saja? Lebaran itu kan maksudnya -sudah- selesai berpuasa. Begitu thok. Oleh sebab itu saya rasa lebaran itu -sebetulnya- bukan istilah yang tepat. Tapi apa daya, nasi sudah jadi bubur, kata pepatah. Jadi ya tinggal diberi cakue sama telor mata sapi saja biar lebih enak.
Maksud saya, ya karena sudah kaprah (terlanjur), maka istilah itu kita ikhlaskan saja masuk dalam KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan uraian begini: Lebaran n hari raya umat Islam sehabis menjalankan ibadah puasa (tanggal 1 Syawal), Idulfitri.
Sudah resmi walaupun  kaprah kan?

Tentang ziarah kubur dan kebiasaan menjelang Lebaran
  
ziarah kubur
Seminggu sebelum bulan Romadhon tiba, masyarakat ramai berbondong memadati TPU untuk melakukan ‘ziarah kubur’. Begitu pula seusai shalat Ied. Kebiasaan ziarah kubur ini pada jaman Rasulullah dahulu pernah dilarang karena seringnya terjadi penyimpangan ajaran agama.
Bahkan oleh sebagian ulama disebut sebagai bid’ah, karena ada kecenderungan ritual yang keliru, antara lain: bukannya mendo’akan arwah, tapi malahan meminta do’a dari yang telah meninggal dunia.
     Demikian pula dengan banyaknya orang yang menjual jasa membaca ayat-ayat Al-Qur’an di pekuburan atau TPU, yang merupakan kebiasaan yang tak ada dasarnya dalam ajaran agama Islam.
Sampai saat inipun masih banyak kita jumpai hal seperti itu bukan? Sudah terlanjur kaprah sih.


    Dalam melaksanakan ibadah puasa Romadhon, disunahkan bagi kita untuk melaksanakan shalat sunah malam yang lazim kita sebut dengan shalat tarawih selama sebulan penuh. Menurut para Ustad dan Da’i (yang sering kita dengar diacara Tabligh Akbar), bulan Romadhon dibagi menjadi 3 bagian: 10 hari pertama adalah hari penuh rohmah (berkah) Allah, 10 hari kedua adalah hari penuh maghfiroh (ampunan) dan 10 hari terakhir adalah hari ‘pembebasan’ dari api neraka. 

Akan tetapi apa yang sering kita lihat dan jumpai di masjid-masjid seputar kediaman kita?
Ini dia: 10 hari pertama, jemaah shalat tarawih penuh sesak, kadang luber sampai keteras dan halaman masjid.
10 hari kedua shaf mulai berkurang. 10 hari terakhir shaf makin ‘maju’, artinya yang melaksanakan shalat tarawih makin sedikit.
Lalu kemanakah gerangan mereka (para jamaah tarawih) itu?
Mereka -maaf, terutama ibu-ibu- (mudah-mudahan anda tidak termasuk golongan ini) ternyata malah sibuk memersiapkan segala hal yang berhubungan dengan akan datangnya hari yang fitri itu.
Dari mulai memasak kue, penganan khas ‘lebaran’ dan menjahit baju baru (bagi yang bisa menjahit sendiri). Ada pula yang sibuk keliling ‘safari dari mal ke mal’ untuk memborong kue dan penganan serta segala perlengkapan rumah dan baju. Tentu agar pada hari raya fitri nanti semua tampak baru ‘kinyis-kinyis’. Makananpun disediakan serba berlimpah ruah.

     Ada pula yang sudah sibuk bersiap untuk ‘mudik’ dengan (tak lupa) memborong ‘tetek bengek’ untuk oleh-oleh buat sanak saudara dan handai taulan nun jauh di kampung halaman sana.
Itu artinya harus ada dana lebih. Dari mana dana itu? Memang ada orang yang sejak jauh-jauh hari sudah menabung -khusus- untuk menyambut idul fitri. Tapi orang (yang rela dan mau menabung) seperti itu pasti termasuk ‘barang langka’. Betul?
Yang menjadi pegawai atau karyawan dan buruh biasanya dapat THR. Tapi nilai THR paling banyak kan hanya sebulan gaji.  Tentu masih kurang dong. Lalu? Banyak solusi yang bisa dipilih: pergi ke “PAKDE” alias pegadaian, atau ambil kredit berjangka. Tawaran kredit ini (celakanya) banyak dilakukan oleh bank-bank (Pemerintah maupun Swasta), bahkan jauh sebelum bulan puasa tiba.
Dengan agresif bank memasang iklan besar-besar di media massa: “Bahagiakanlah keluarga anda di hari raya, manfaatkan dana pinjaman kami, proses mudah dan cepat, bunga ringan, tanpa agunan dst…” dan sebagainya.
Nah,  bukannya menuntaskan ibadah di 10 hari terakhir, agar terbebas dari api neraka, eeeh ternyata malah banyak yang sibuk dengan hal-hal yang hanya menyangkut masalah ‘keduniawian’ belaka.

Tentang tradisi "Mudik"
 Rame2 mudik naik Kereta Api
     Kebiasaan yang terakhir ini malah sanggup membikin ‘heboh’ orang se Nusantara. Yaitu kebiasaan dari sebagian besar masyarakat kita yang selalu harus mudik’ setiap tahun bertepatan dengan hari raya. Kata ‘mudik’ ini jelas asli Jakarta dan  merupakan adopsi dari bahasa Betawi, yang maksudnya adalah ‘pulang ke udik’.Di kalangan masyarakat Betawi, kata udik adalah kata yang menunjukkan tempat dipelosok kampung atau desa.

     Konon istilah mudik ini (dahulu kala} muncul dari banyaknya kaum pendatang dari kota-kota kecil di Jawa yang merantau ke Jakarta untuk mencari nafkah. Para perantau inilah yang setiap Idul Fitri selalu harus pulang kampung atau mudik untuk mengunjungi sanak keluarga.  

     Hebatnya, kegiatan ‘mudik’ atau pulang kampung ini kemudian menjalar dan mewabah.
Lalu berubah menjadi sebuah acara ‘ritual massal’. Begitu massalnya sehingga pada  waktu sekarang kegiatan ini malah  bagaikan sebuah “Agenda Tahunan Nasional”. Resmi dan diakui oleh pemerintah. Ditandai dengan kebijaksanaan Pemerintah (walau sedikit menimbulkan polemik karena kontroversial) untuk membuat 'merah' tanggal di kalender dengan catatan "Cuti Bersama".
Kebijaksanaan ini  makin membuka peluang masyarakat untuk pulang kampung alias mudik rame-rame.
     Sudah susah kalau sekarang harus merunut kebelakang, sejak kapan sebenarnya ritual mudik ini dimulai.
Nyatanya sekarang ini mulai dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan Para Pengusaha (jamu, produsen kendaraan bermotor dll) setiap setahun sekali dapat dipastikan ikut sibuk mempersiapkan agar ‘hajatan nasional’ ini bisa terselenggara dengan meriah, sukses dan tertib.
Dari aparat keamanan sampai instansi yang mengurus masalah transportasi maupun prasarana jalan, semua sibuk pusing. Kalau mau bicara jujur, sebenarnya jarak antara kegiatan mudik ke mudik berikutnya adalah setahun penuh. Tapi entah kenapa perbaikan jalan raya dan prasarana transportasi lain biasanya baru dilakukan oleh pihak berwenang pada saat menjelang atau bahkan terkesan mepet dari hari H nya Lebaran.
Apabila kita mau menelusur lagi lebih jauh, sejatinya mudik atau pulang kampung ini timbul karena maraknya urbanisasi yang merata hampir kesemua kota besar di Indonesia.

     Seperti yang telah lazim diketahui, masyarakat kita mempunyai rasa ikatan kekeluargaan yang tertanam kuat untuk saling kunjung mengunjungi, juga untuk berziarah kemakam para leluhur ditanah kelahiran sebelum atau tepat pada waktu Lebaran tiba. Hal itulah yang mendorong kegiatan pulang kampung menjadi tradisi setahun sekali yang walau seberat apapun resikonya harus tetap dijalani. Akhirnya kegiatan itu malahan berkembang seolah-olah menjadi sebuah ‘kewajiban’.
Memang harus diakui, bahwa tradisi mudik sejalan atau setidaknya tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam yang mengutamakan dan menjunjung tinggi silaturahim. Namun tetap perlu diingat bahwa tradisi pulang kampung (mudik) -sebenarnya- bukan ajaran agama.
Kegiatan mudik sebenarnya adalah sebuah tradisi yang berakar dari adat istiadat masyarakat kita saja. Tradisi (mudik) ini tidak akan kita temukan dinegara Islam manapun (bahkan di Arab Saudi, tempat lahirnya agama Islam).
    Sesungguhnyalah, kegiatan pulang kampung atau mudik itu  sah-sah saja dilakukan, karena intinya adalah untuk menjalin tali silaturahim antar keluarga dan kerabat.  Namun pada kenyataannya, kegiatan mudik ini lalu berkembang jadi semacam ajang untuk ‘unjuk eksistensi’ (istilah modern untuk pamer).
Juga seakan menjadi simbol keberhasilan seseorang  yang pergi merantau untuk mencari ‘sesuap nasi dan segenggam berlian’ diperantauan (baca: kota-kota besar yang konon ‘katanya’  menjanjikan penghasilan dan kehidupan yang jauh lebih baik).

     Sayang seribu sayang tradisi yang pada awalnya mulia ini, seiring berlalunya waktu dan pengaruh perkembangan jaman,  lalu berkembang jadi kegiatan konsumtif yang nyaris tak terkendali.
Lihat saja dari iklan kredit sepeda motor dan mobil. Iklan yang (setiap menjelang hari raya) membuat orang berbondong-bondong pergi ke show room  untuk membeli (secara tunai maupun kredit) kendaraan idaman yang akan dipakai untuk mudik. Bagi yang belum mampu membeli, ya menyewa. Maka jadilah mereka menyerbu tempat penyewaan kendaraan bermotor yang juga tumbuh subur menjelang lebaran.
     Tak dapat dipungkiri memang, dua jenis alat transportasi modern (motor dan mobil) inilah primadona yang seakan merupakan simbol status keberhasilan seorang perantau dimata sanak saudara dan kerabat sekampung halamannya.   

Mudik naik sepeda motor
Coba kita simak. Selain menggunakan moda transportasi biasa, seperti bus atau kereta api dan pesawat terbang, dari tahun ketahun semakin banyak pemudik yang menggunakan sepeda motor.
Jumlahnya bisa mencapai puluhan ribu dan membuat aparat keamanan jalan raya jadi pusing tujuh keliling. Karena  sepeda motor sebenarnya bukanlah moda transportasi jarak jauh, apalagi antar kota. Kalau dipaksakan (dengan alasan apapun juga), hal itu bisa sangat membahayakan pengendara sepeda motor itu sendiri dan bahkan orang lain.
Belum lagi ditambah  dengan ribuan keluarga pemudik yang "me rame" pulang kampung memakai mobil pribadi (atau dinas).
Itulah sebabnya jalur utara pantai Jawa (Pantura} dan jalur selatan pulau Jawa selalu macet berkepanjangan menjelang atau sesudah hari raya tiba.
     Statistik juga menunjukkan bahwa kegiatan arus mudik ini melibatkan pula arus ‘rupiah’ dari kota-kota besar yang terdistribusikan sampai ke pelosok-pelosok desa, dalam jumlah yang cukup signifikan besarnya. Sayangnya dana sebesar itu (jumlahnya bisa mencapai ratusan miliar rupiah!) kebanyakan hanya ‘menguap’ untuk urusan yang sifatnya "hura-hura" dan konsumtif saja.
Bayangkan  kalau seandainya dana sebesar itu dipakai untuk sesuatu yang lebih produktif, seperti membangun sekolah, tempat ibadah atau membantu kaum duafa, misalnya.
Nah, (menurut saya pribadi) bukan tradisi mudik itu yang keliru, tapi niat dan perilaku orang yang akan mudik itulah yang seharusnya diluruskan.

Tentang 'ekses' sesudah Lebaran
 
    Sebenarnya yang ingin saya kemukakan dan garis bawahi dalam catatan kecil ini adalah ekses atau akibat dari salah kaprah tadi. Terutama salah kaprah yang terakhir, yang menyangkut usaha untuk “unjuk eksistensi” pada sanak saudara dikampung halaman.
Sudah banyak kita jumpai  anggota masyarakat (saya berharap anda tidak termasuk diantaranya), yang sesudah merayakan ‘hari kemenangan’, ternyata tidak menang tapi malah ‘kalah K.O’ dan jatuh bangkrut alias pailit bin ‘tongpes’.
Karena apa? Ya tentu saja karena tuntutan harus membayar cicilan kendaraan, menebus barang yang dititipkan dirumah ‘PakDe’ atau melunasi hutang di bank yang menurut iklan ‘katanya’ bisa membahagiakan keluarga  itu.

    Kalau sudah terjadi ‘kebangkrutan lokal’ seperti itu, maka siapa yang harus disalahkan jika setelah hari raya berlalu, kemudian banyak muncul profesi baru: ‘tukang gali lubang’? Maksud saya orang yang kerjanya ‘gali lubang, tutup lubang’, alias masuk ‘lingkaran setan’. Lingkaran yang membuat orang harus hutang disana untuk menutup hutang disini dan begitu seterusnya.
Padahal inti atau pokok masalah dari semua itu hanya gara-gara ingin merayakan hari yang fitri, tapi dengan cara yang kurang bijaksana.
Saya jadi teringat peribahasa yang jadi terasa perih bahasa nya:
“Sesal  dahulu pendapatan, sesal kemudian pengeluaran, eh bukan, sesal kemudian tak berguna”.

    Maka oleh karena itu saudaraku, janganlah anda mudah ikut latah terhadap hal-hal yang  sebenarnya kurang pada tempatnya, tapi sudah terlanjur jadi kaprah.
Waspadalah, WASPADALAH!



Jumat, 01 Juli 2011

KERIPIK TEMPE RENYAH 'RASA KANTONG PLASTIK'


Tulisan lepas: 

(Sebuah catatan tentang perilaku pedagang yang tak bertanggung jawab)

Bagian Pertama



released by mastonie, on Friday, July 1, 2011 at 09.56 pm



Jauh sebelum Muhammad ditetapkan sebagai Nabi dan Rasul Allah, semenjak masih muda belia, beliau telah menjadi seorang wiraniaga (pedagang) yang sangat berhasil dan mempunyai banyak sekali pelanggan. Hal tersebut tidak lain  karena perilaku, moral dan etika beliau (yang mendapat julukan “Al-Amin”: orang yang dapat dipercaya) dalam melakukan transaksi jual beli. Padahal saat itu (tentu saja) Al-Qur’an yang merupakan ‘buku panduan hidup manusia’ belum diturunkan oleh Allah Swt.
Oleh sebab itu sangat wajar apabila setelah beliau ditahbiskan sebagai Nabi terakhir dan mendapat wahyu Allah (yang kemudian dirangkum menjadi Kitab Suci Al-Qur’an), maka didalamnya termasuk pula tata cara dan hukum berniaga yang diawali dengan sebuah ayat  didalam surah kedua yang bunyinya:

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”  (Al-Baqarah, QS. 2 : 275)

Secara umum itulah pathokan yang (seharusnya) dipakai oleh kaum muslim apabila hendak melakukan pekerjaan jual beli, berniaga, berdagang atau berwiraswasta. Selanjutnya dalam surah yang sama pula ditetapkan rukun jual-beli sangat rinci yang secara garis besar antara lain sbb:
Syarat bagi pembeli dan penjual: keduanya harus berakal, dalam arti tidak gila atau tidak waras dan harus terjadi tanpa dipaksa atau secara suka sama suka. Disyaratkan pula seorang penjual sebaiknya sudah baligh (dewasa, umur 15 tahun keatas), karena dikhawatirkan anak-anak belum cukup nalarnya untuk berdagang. Bahkan ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa anak kecil yang berdagang tidak sah jual belinya.

Tentang barang dagangan itu sendiri disyaratkan harus suci. Barang yang najis atau haram tidak sah diperjualbelikan. Barang atau benda yang dijual juga harus bermanfaat. Tidak boleh menjual barang yang tidak atau belum ada ujudnya, karena bisa menjadi ajang penipuan. Barang yang dijual harus disepakati oleh kedua belah pihak (penjual dan pembeli) sebelum dilakukan transaksi atau disebut juga sebagai ijab qobul. 

Dan masih banyak syarat lain yang sangat rinci termasuk antara lain larangan mengurangi takaran/timbangan atau jumlah barang yang diperjual belikan dan memberikan keterangan yang tidak benar atas barang yang dijualnya. Intinya adalah, bahwa Islam menjaga agar jual beli atau perdagangan bisa terlaksana dengan baik, ber etika dan tidak merugikan kedua belah pihak.

Apakah panduan dagang Islami itu yang dipakai sebagai acuan oleh para usahawan (muslim maupun non muslim) di Indonesia? 
Mari kita lihat fakta sejarah ini:
Walaupun Indonesia adalah negeri dengan penduduk yang mayoritas beragama Islam, namun kita tentu tidaklah khilaf, bahwa selama lebih dari tiga abad, Bumi Nusantara (yang kelak dinamakan Indonesia) telah dijajah oleh tidak kurang dari empat bangsa Asing. 
Yang terlama bercokol di tanah ‘Rayuan Pulau Kelapa’ adalah Belanda. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau hampir seluruh Peraturan Perundangan  dan Hukum yang diterapkan di Indonesia adalah warisan dari negeri kincir angin itu. Setidaknya setelah Indonesia merdeka, maka peraturan dan hukum yang dipakai adalah adaptasi kitab hukum  kolonialis Belanda yang biasa disebut sebagai hukum ciptaan 'orang Barat’.
Dengan demikian maka dunia perdagangan di Indonesia pada hakekatnya menganut hukum dagang ‘a la’ bangsa Barat juga. Namun setelah proklamasi kemerdekaan, kemudian disesuaikan dengan situasi dan kondisi Indonesia yang telah merdeka. 

Secara umum kita ketahui bahwa sifat dasar dari perdagangan pada hakekatnya adalah untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya (jika perlu) dengan memakai modal yang sekecil-kecilnya, nyaris tanpa ada aturan etikanya.
Itulah yang terjadi dinegeri kita sekarang. Betapa moral dan etika berniaga sudah menjadi hal yang lumrah kalau dikesampingkan. Ada kecenderungan para pedagang (dalam skala besar maupun kecil) berniat mengeruk keuntungan yang setinggi-tingginya, walaupun dengan berbuat sesuatu hal yang kurang terpuji. Mereka menyadari bahwa yang mereka lakukan  sangat besar kemungkinannya akan berakibat buruk (bahkan fatal) bagi para pembeli atau konsumennya. Tapi mereka tak peduli.
Dinegara maju, hak konsumen sangat dijunjung tinggi. Oleh sebab itu selalu ada semacam Institusi yang akan menjaga dan membantu para konsumen sekiranya terjadi tindak kecurangan yang dilakukan oleh pedagang dan atau produsen serta hal-hal negatif lain yang ditengarai bisa berakibat buruk atau merugikan para konsumen. Di Indonesia sudah lama dikenal adanya Lembaga Konsumen yang tugasnya kurang lebih sama seperti yang tersebut diatas tadi. Namun apakah Lembaga itu berfungsi secara efektif atau tidak, adalah sebuah pertanyaan yang jawabannya masih bisa diperdebatkan. Sebagai Lembaga yang independen dan tidak bergantung kepada anggaran yang diberikan oleh Pemerintah, maka kita sangat maklum kalau Lembaga Konsumen menjadi sebuah insitusi mandiri yang gencar berjuang menyuarakan hak-hak yang seharusnya diperoleh  konsumen. Akan tetapi sayang, kegarangan itu hanya  menjadi semacam “macan kertas”. Ompong lagi. Sama sekali tak berdaya menghadapi  tingkah para pedagang dan produsen yang seakan selalu dilindungi oleh para birokrat.
Dengan semangat menguak fakta kebenaran dijaman teknologi informasi yang sangat maju, beberapa stasiun televisi swasta pernah melakukan penyiaran laporan investigasi (investigation report) yang hasilnya cukup mencengangkan. Ternyata telah terjadi berbagai macam kecurangan dalam melakukan kegiatan usaha yang dilakukan oleh para pedagang secara sadar dan sengaja. Hal tersebut semata didorong oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan yang besar hanya dengan modal yang kecil saja. Walaupun rata-rata pelaku juga menyadari bahwa akibat dari tindakannya tersebut dapat berakibat buruk bagi konsumen, tapi mereka terkesan tidak peduli. Dalam wawancara ‘gelap’ yang disamarkan itu mereka bahkan mengakui bahwa tindakan tidak terpuji tersebut sebenarnya bisa disebut sebagai tindakan kriminal dan melawan hukum.
Walaupun fakta yang diungkap oleh stasiun televisi itu menyajikan perbuatan orang per orang dan dalam skala kecil, namun akibat yang ditimbulkannya justru langsung menimpa para konsumen yang rata-rata adalah golongan menengah bawah sampai menengah atas. Bahkan bisa jadi akan menimpa pula seluruh masyarakat dari semua golongan. Yang sangat memrihatinkan adalah kenyataan bahwa penyimpangan yang dilakukan oleh para pedagang itu yang terbanyak adalah menyangkut penjualan makanan. Baik makanan siap saji maupun makanan yang harus diolah lebih dahulu.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebanyakan makanan yang dijual dipasaran adalah berasal dari bahan dasar yang kemudian diberi pelezat rasa,  pengawet dan pewarna. Ketiga bahan itu dipakai untuk 'mendongkrak'  rasa, daya tahan makanan sekaligus untuk menarik perhatian konsumen. Tidak ada seorang penjual makananpun (mulai dari tukang penjual gorengan kaki lima, bakso keliling sampai restoran mahal bertaraf internasional) yang tidak berusaha untuk membuat sajian makanannya terasa enak dan nikmat serta membuat lidah bergoyang. Itulah satu-satunya cara agar tidak ditinggalkan para pelanggannya. 
Dan itu artinya mereka harus selalu menggunakan “penambah cita rasa” yang lebih dikenal sebagai mecin, vetsin, atau moto yang sejatinya mempunyai bahan yang sama yaitu MSG (Mono Sodium Glutamat). Yang terkenal paling ‘royal’ memakai atau menambah mecin dalam masakannya adalah para koki restoran Chinese food, baik  kelas kali lima maupun kelas hotel berbintang. Dari sinilah kemudian muncul istilah “Chinese food syndrome” yang merupakan gejala tidak enak badan setelah makan masakan Cina. Memang MSG adalah bahan kimia yang menurut penelitian para ahli kesehatan bisa mengakibatkan dampak buruk bagi kesehatan manusia apabila dikonsumsi dalam jumlah tertentu dan dalam kurun waktu berkelanjutan. Apakah si Abang Tukang Bakso dan para Koki restoran tidak tahu akibat buruk itu? Bisa ya bisa tidak. Tapi yang jelas mereka akan tetap memilih memakai pelezat makanan (yang notabene mendapat sertifikasi ‘halal’) itu daripada kehilangan pelanggan yang berarti mengurangi keuntungan atau bahkan bisa mematikan mata pencaharian mereka. Perkara kesehatan para pelanggannya? Sekali lagi: siapa peduli?
Untuk mempertahankan agar makanan yang dijual tidak cepat basi atau busuk, maka tentu makanan harus diawetkan atau diberi bahan pengawet. Cara tradisional untuk mengawetkan makanan sebenarnya sudah ada sejak jaman ‘kuda gigit besi’ tempo doeloe. Yang paling mudah diantaranya adalah dengan menggoreng  atau mengukus, menggarami dan mengeringkan , mengasamkan, atau mencampur dengan bahan makanan lain yang berfungsi mengawetkan seperti cabe dan lain-lain. Tapi seiring dengan perjalanan waktu, cara kuno tersebut dianggap masih kurang efektif dan kurang tahan lama. Oleh sebab itu dibutuhkan bahan pengawet lain yang harus ditambahkan. 
Ternyata para pedagang bisa menemukan solusi ‘cerdas’, walaupun jelas tidak bertanggung jawab. Bahan pengawet yang diperlukan memang murah meriah dan mudah didapatkan karena dijual bebas. Tapi yang membuat bergidik adalah bahwa bahan pengawet yang rata-rata berbentuk senyawa kimia ini sejatinya bukan bahan untuk mengawetkan makanan! 

 Yang pertama kali membikin heboh adalah ketika diketahui bahwa para pedagang memilih boraks sebagai pengawet tahu dan bakso. Boraks adalah kristal lunak yang mengandung boron, tidak berwarna dan mudah larut dalam air. Bahan kimia bernama ilmiah natrium tetraborat dekahidrat ini memang bisa membuat makanan jadi bertekstur padat, kenyal dan tidak mudah basi. Sangat cocok untuk tahu dan bakso. Selain itu ternyata ada pedagang yang membuat bakso dan ‘kawan-kawan’ nya (siomay, batagor dll) dengan tambahan bahan lain selain daging sapi. Demikian pula dengan saus pelengkapnya (saus tomat, saus cabe dsb).  Ada pedagang yang mengakui bahwa bahan  pencampur untuk bakso dan siomay adalah daging ikan sapu-sapu yang hidup diparit-parit, atau daging hewan lain yang harganya lebih murah karena apkiran. Sedangkan bahan untuk saus cabe dibuat dari cabe apkiran  dan cabe busuk yang bisa didapat tanpa membeli dipasar tradisional. Sedangkan saus tomat dibikin dari ubi busuk dan pepaya  yang tidak laku dijual.  Semua bahan murah meriah itu kemudian dicampur dengan pengawet dan pewarna sintetis sehingga menghasilkan warna yang seindah aslinya. Apakah bahan campuran lain itu halal atau tidak, bukan hal penting bagi mereka. Yang terpenting adalah bisa mendapat keuntungan yang lebih banyak, karena bahan-bahan campuran itu biasanya jauh lebih murah harganya bahkan ada yang bisa diperoleh secara cuma-cuma.


Belakangan terungkap pula kasus yang membuat masyarakat gempar, yaitu dipakainya formalin sebagai bahan pengawet ikan, daging dan makanan lain. Formalin adalah cairan formaldehida  yang dilarutkan dalam air dan bersifat antiseptik (antikuman). Larutan ini biasa dipakai untuk mensuci-hamakan peralatan kedokteran dan laboratotium. Tapi formalin juga dipakai untuk mengawetkan mayat! Tentu saja ikan (kering atau segar), daging dan makanan apa saja bisa menjadi sangat tahan lama. Bayangkan kalau zat kimia seperti itu masuk kedalam perut manusia.
Dalam reportase investigasi itu juga terungkap taktik lain yang lumrah dipakai para pedagang untuk membuat makanan buatannya tampil dengan warna memikat. Maksudnya jelas agar supaya menarik minat konsumen. Yang terbanyak adalah para pedagang makanan kecil yang biasa mangkal didepan sekolah. Merasa pangsa pasarnya adalah anak-anak sekolah yang uang sakunya tidak besar (kecuali anak konglomerat dan anak koruptor), maka para pedagang makanan itu berusaha membuat dagangannya tampil memikat dengan cara seirit dan sehemat mungkin, sehingga mereka tetap bisa menjual makanan itu dengan harga ‘miring’. Akan tetapi rupanya taktik itu segera pula diikuti oleh para pedagang makanan kecil (biasanya berupa kue basah ataupun kering) yang biasa menjajakan kue-kue itu dipasar-pasar tradisional. 
Memang ‘kunci’ untuk menarik minat pembeli adalah tampilan dari makanan yang dijajakan. Warna adalah unsur yang paling mudah memikat mata. Oleh sebab itu para pedagang akan berupaya membuat makanan yang berwarna-warni menggugah selera. Untuk itu diperlukan zat pewarna. Karena harus menjual dengan harga serendah mungkin (mengingat persaingan yang makin ketat) tapi harus tetap mendapat untung, maka dicarilah zat pewarna yang paling murah dan mudah didapat. Dan itu adalah wenter ! Wenter adalah bahan kimia yang biasa dipakai untuk mewarnai pakaian dan sama sekali bukan bahan pewarna makanan untuk dikonsumsi manusia!
Namun menurut investigasi itu pula, rupanya masih ada lagi  bahan kimia yang dipakai oleh para pedagang untuk membuat makanan berwarna cerah sekaligus tahan lama. Barangkali tertarik dengan fungsinya yang bisa menjernihkan air, maka para pedagang makanan lalu menggunakan tawas (bahan kimia terbuat dari bauksit yang mengandung aluminium oksida). Tawas terbukti  bisa membuat bahan makanan berwarna cerah terang dan ternyata juga bisa membuat makanan jadi tahan lama. 
Para pedagang makanan siap saji memang tak henti-hentinya berimprovisasi. Barangkali karena semakin sengitnya persaingan usaha yang berpotensi mengurangi keuntungan, mereka lalu memakai segala macam daya dan usaha untuk membuat makanan yang dijualnya terasa enak, awet, menarik dan disukai pembeli. Para pedagang makanan gorengan ternyata telah menemukan “metode” baru untuk membuat gorengannya renyah, garing dan tidak mudah melempem. Mereka berhasil membuat resep yang pasti akan membelalakkan mata siapa saja. Inilah rahasia resepnya: setelah minyak goreng mendidih, maka mereka akan memasukkan beberapa lembar kantong PLASTIK transparan (yang biasa dipakai untuk mengemas kue), dan menunggu sampai plastik tersebut ‘hilang’ larut tercampur dalam minyak yang mendidih. Setelah itu baru tempe atau tahu atau pisang dimasukkan kedalam minyak yang kini sudah mengandung plastik itu. Tentu saja hasil gorengannya akan menjadi renyah, garing dan tidak mudah melempem! Gorengan campur plastik gitu lhoooh! Anda tak percaya? Silakan mencoba resep hebat itu dirumah, kalau anda punya nyali dan berani menanggung resikonya.
Apakah para pedagang itu merasa bersalah dengan tindakannya? Ternyata tidak, mereka sama sekali tak peduli. Bahkan mereka tak pernah memikirkan akibat buruk yang mungkin  saja terjadi kalau manusia makan gorengan “rasa kantong plastik” itu. Yang terpikir oleh para pedagang itu hanya bagaimana membuat makanan gorengan yang terasa renyah dan tidak mudah melempem, serta bayangan keuntungan yang akan didapatnya.
Inti persoalan disini adalah: para pedagang tersebut sama sekali tidak peduli dan tidak mau tahu akan akibat buruk yang menimpa para konsumen. Yang penting mereka bisa mendapatkan keuntungan besar dari tindakan yang sesungguhnya (mereka ketahui) tak terpuji itu.
Mereka sepertinya juga menafikan adanya peraturan, bahkan hukum yang berlaku. 
Ada anekdot yang sangat kondang: “ Bukankah peraturan dan hukum dibuat untuk dilanggar?”.
Dari penelusuran investigasi wartawan televisi itulah kita tahu bahwa moral dan etika berniaga seperti yang diuraikan dalam hukum niaga secara Islami tak terpakai lagi.
Lalu bagaimana dengan nasib para konsumen kita? Apa yang sudah dilakukan oleh Lembaga Konsumen? Apakah sudah ada usaha menempuh jalur hukum untuk masalah yang menyangkut ‘hajat hidup orang banyak’ itu?
Payung hukum untuk menindak para pedagang curang itu tampaknya tidak ‘berkembang’ dengan semestinya. Dimana saja bisa kita temukan solusi mudah apabila terjadi pelanggaran hukum: “jalan damai”. Tak peduli masalah hukum yang besar atau kecil, jalan damai itu tampaknya lebih disukai oleh masyarakat kita saat ini.
Para pelanggar hukum ternyata memang lebih taat kepada UUD (Ujung Ujungnya DUIT). 
Mungkin orang-orang yang gemar melanggar (hukum dan aturan) itu tak pernah sadar bahwa diakhirat kelak mereka akan berjumpa dengan Ahkamil haakimiin, “Sang Hakim atau Pengadil Sejati”. 
Wallahu a'lam bissawab.....