Sabtu, 02 April 2011

"SEJARAH BERULANG......PAK PARDJO NAIK OJEK LAGI...!!"



(dari draft buku: "Catatan seorang mantan Ajudan" oleh mastonie)
Tulisan bersambung (45)

      “Benang kusut” di Konggres III PDI di Medan.

Pada sekitar bulan April 1986, terjadi semacam ‘kisruh’ politik yang diakibatkan oleh gagalnya pemilihan Ketua Umum Partai pada Konggres III Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Medan..
Sesuai UU yang berlaku pada waktu itu,  kedudukan Mendagri adalah sebagai Pembina Politik Dalam Negeri. Sehingga dengan dalih untuk menjaga stabilitas politik nasional, Mendagri berhak ikut turun tangan menengahi apabila terjadi keributan atau konflik di internal sebuah Partai Politik. 
Pada suatu hari dibulan April 1986 itu Mendagri diundang untuk menghadiri acara Pekan Kesenian di Denpasar Bali. Acara dilaksanakan pada sore sampai malam hari. Seperti biasa kalau dinas ke Denpasar, Pak Pardjo selalu memilih bermalam di “Pertamina Cottage” Kuta, karena letaknya yang sangat dekat dengan Bandara Ngurah Rai.  Malam hari itu Pak Hari Sugiman (Dirjen Sospol Depdagri) menelepon saya dari Jakarta, minta disambungkan ke Pak Menteri karena belaiu ingin melapor tentang situasi “benang kusut” yang terjadi saat pemilihan Ketua Umum PDI pada Konggres III PDI di Medan. Malam itu juga Pak Mendagri langsung memerintahkan agar secepatnya mengadakan rapat tertutup dengan tokoh-tokoh senior PDI yang bertikai. Beliau minta Rapat diadakan besok pagi pukul 10.00 disebuah hotel ternama didaerah Semanggi. Akan tetapi Pak Pardjo minta diadakan rapat staf lebih dahulu pada pukul 09.00, bertempat ikediaman Mendagri di Widya Chandra untuk mendengar laporan dan paparan dari Dirjen Sospol. 
Akhirnya Pak Pardjo memutuskan untuk membatalkan acara yang masih tersisa di Denpasar Bali, agar bisa pulang ke Jakarta secepat mungkin dengan flight pertama Garuda esok pagi pukul 06.00.
Keesokan harinya ternyata pesawat Garuda flight pertama mengalami delay (penundaan terbang) karena kerusakan teknis, sayangnya tidak ada penerbangan lain ke Jakarta pada pagi hari itu. Sebagai seorang yang sangat disiplin soal waktu, Pak Pardjo kelihatan sekali sangat kesal. Penundaan ini jelas mengacaukan jadwal acara rapat yang akan diadakan di Jakarta. 
Ternyata pesawat baru bisa lepas landas pada pukul 07.30!  Saya lihat wajah Pak Pardjo sudah mulai berubah. Saya membuat ‘kalkulasi’. Pesawat paling cepat mendarat di Cengkareng pada pukul 09.15. Pada tahun 1986 jalan tol dari Bandara baru sampai perempatan Pluit. Padahal pada pagi hari daerah Pluit sampai Grogol dan Semanggi terkenal sangat macet. Perjalanan dari Bandara sampai kediaman di Widya Chandra saya perkirakan bisa lebih dari satu jam! Jadi kemungkinan pukul 10.30 Pak Pardjo baru tiba dirumah. Bisa lebih malah. Wah, bakal kacau semua jadwal acara Mendagri hari ini. 
Rupanya Pak Pardjo diam-diam juga sudah mengadakan perhitungan sendiri.

      Mendagri naik ‘ojek’...!!

Pukul 09.10 pesawat baru mendarat di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Tanpa berhenti di VIP Room, Pak Pardjo segera meloncat masuk kedalam mobil. Begitu masuk ke sedan Volvo langsung minta kepada Kasem (sopir Mendagri) untuk ngebut pulang. Situasi jadi sangat menegangkan. Saya lihat Kasem juga sama tegangnya. Entah kenapa pagi itu jalan tol Bandara juga padat sekali. 
Keluar dari pintu tol Pluit jalanan tidak kalah  padatnya. Karena (pada tahun 1986) jalan tol dalam kota Pluit-Semanggi belum dibikin, jadi silakan bayangkan macetnya! Saya lirik dari kaca spion Pak Pardjo terus saja melihat arloji ‘Breitling’ nya. Wajahnya keruh sekali!  
Ditambah lagi pada masa itu belum 'jaman'nya telepon genggam, yang ada baru telepon mobil. Itupun masih dimonopoli oleh  telepon mobil merk INTI yang hanya dimiliki oleh anggota Kabinet (jatah resmi dari Sekretariat Negara) dan pejabat atau orang kaya tertentu saja. Sedihnya,  dipagi hari 'kelabu' itu pesawat telepon mobil INTI ikut ‘meramaikan’ dan menambah tegang suasana. 
Jaringan telepon INTI sibuk terus. Susah sekali untuk mencoba menelepon keluar. 

(Bagi anda yang belum pernah mengoperasikan telepon mobil “INTI” yang berwarna orange, baiklah saya beritahu caranya: setiap mengangkat handset, kita harus menekan sebuah tombol untuk mengaktifkan jaringan. Ada dua lampu kecil berwarna merah dan hijau. Bila kita tekan tombol, lampu menyala merah, artinya jaringan penuh, kita belum bisa membuat panggilan. Harus menunggu sampai lampu hijau menyala. Nah kalau kondisi jaringan sedang “crowded”, maka lampu hijau itu susah sekali menyala. Artinya? Wasalam!).
 
Saya tambah ‘senewen’ karena tugas saya adalah memberitahu Pak Hari Sugiman tentang keterlambatan ini, sekaligus minta agar rapat yang diadakan di hotel diundurkan waktunya. Walaupun Protokol Pemda Bali sudah diminta untuk memberitahukan keterlambatan Pak Pardjo, saya yakin Pak Hari Sugiman juga sudah ‘senewen’  menunggu dirumah dinas Pak Menteri.
Sekarang sudah pukul 09.25! Mobil baru saja keluar dari perempatan Pluit. Jalanan semakin padat. Merayap saja susah. Tiba-tiba saja Pak Pardjo berteriak: 
“Minggir Sem. Berhenti disini saja, cari tempat yang aman”.
Saya dan Kasem saling berpandangan, belum faham maksud perintah Pak Pardjo.
“Minggir Sem! Berhenti!” Pak Pardjo membentak.
Astagfirullah. Saya kaget sekali, Kasem tidak kurang pula kagetnya. Dia banting setir kekiri diantara bunyi klakson mobil dan sepeda motor yang kaget karena ada sedan Volvo yang tiba-tiba nyelonong kejalur lambat.
“Coba turun Ton, cari ojek sepeda motor. Saya mau naik ojek saja” Kata Pak Pardjo. Welhadalah, sejarah akan terulang nih. Dulu Gubernur Jawa Tengah naik ojek, sekarang Mendagri! Orangnya sama: Soepardjo Roestam!
Begitu mobil berhenti saya melompat turun. Lihat kanan kiri mencari tukang ojek sepeda motor. Sekonyong-konyong saya melihat Pak Pardjo juga sudah turun dari mobil. Tangannya melambai-lambai, menghentikan seorang pengendara motor yang lewat didekatnya. Saya jelas panik. Sipengendara motor berhenti bengong.
“Saya Pak Pardjo, Menteri Dalam Negeri. Minta tolong saya diboncengin kearah Semanggi ya?” Tanpa menjawab ‘ba’ atau ‘bu’, Si “tukang ojek amatir” itu mengangguk, dan ‘bablas’ lah Pak Pardjo diboncengkan seorang pemuda yang entah siapa dia. Bahkan saya tidak tahu nama dan identitasnya!
Tinggallah saya dengan Kasem yang kini bingung bin bengong.
Mendagri kabur naik ‘ojek amatir’! Kalau terjadi apa-apa dijalan, siapa yang harus bertanggung jawab?
“Ayo cepat Sem, kita ikuti sepeda motor itu”
Maka sedan Volvo bernomor Polisi B-19 itupun meluncur lagi. Dijalanan yang macet seperti ini, mobil jenis apa saja (bahkan mobil balap) jelas kalah lincah dibanding sepeda motor. Mata saya ‘jelalatan’ mencoba mencari sepeda motor yang dapat “rejeki nomplok” memboncengkan salah seorang anggota terpenting di Kabinet itu. Tapi Pak Pardjo dan tukang ojeknya seakan lenyap.
Sementara itu saya terus mencoba peruntungan untuk memakai telepon mobil ‘INTI’ guna menghubungi kediaman Pak Mendagri. Orang rumah juga harus tahu kalau Menterinya kabur dengan tukang ojek, dong! Eh, bukan. Yang paling penting saya harus bicara dengan Pak Dirjen Sospol untuk menjelaskan duduk berdirinya perkara ini.
“Terus saya harus menjemput Pak Pardjo kemana dong Dik?” tanya Pak Hari Sugiman ketika saya sudah berhasil menghubunginya.
Waduh, saya sendiri juga bingung nih Pak, saya tidak tahu posisi Bapak sekarang ada dimana. Tadi kejadiannya cepat sekali, saya bahkan belum sempat tanya identitas sipemilik motor” jawab saya dan telepon terputus lagi. Jabang bayi!
Komplit sudah penderitaan saya. Ini untuk pertama kalinya saya “kehilangan” Pak Pardjo, tanpa tahu harus berbuat apa.
Mobil berjalan merayap. Pikiran saya menerawang jauh.
Pak Pardjo adalah seorang yang sangat besar rasa tanggung jawabnya. Beliau pasti merasa bahwa kalau kericuhan yang terjadi didalam tubuh PDI tidak cepat terselesaikan, beliau akan kehilangan muka. Presiden Soeharto telah memberikan mandat sebagai Pembina Politik Dalam Negeri kepadanya, jadi kericuhan politik atau apapun itu namanya berada dalam wewenang dan tanggung jawabnya. Dan kericuhan itu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Makin cepat selesai makin baik.
Sebagai mantan Diplomat, Pak Pardjo juga terkenal sebagai ‘negosiator’ atau pelobi ulung. Banyak politisi senior di Komisi II DPR-RI (partner kerja Depdagri) mengakui hal itu. Pendekatan persuasif yang dilakukan Pak Pardjo, membuat orang-orang yang keras kepala sekalipun jadi melunak. 
Salah satu jurus ampuh yang sering digunakan Pak Pardjo adalah mengadakan pertemuan dihotel yang restorannya sudah terkenal enak masakannya. Sebelum mengadakan rapat atau pertemuan, mereka dijamu makan siang atau makan malam lebih dahulu. Dan hasilnya selalu positif. Ada yang menamakan itu sebagai jurus “pendekatan perut”. Oleh sebab itu kalau menjumpai hal-hal yang krusial (rumit) atau bahkan dead lock sekalipun, Pak Pardjo akan mengundang rapat dihotel atau direstoran dengan didahului jamuan makan sebelumnya. Saya sampai hafal diluar kepala, nama-nama hotel dan restoran enak yang jadi favorit beliau untuk menjamu kawan dan lawan-lawan politik pemerintah.
Termasuk rapat dengan tokoh-tokoh senior PDI dan fihak yang sedang bertikai, yang akan diadakan dihotel pada hari ini juga direncanakan begitu. 
Pertemuan biasanya diawali dengan ramah tamah sambil saling melobi, dilanjutkan makan siang, lalu rapat lagi. Biasanya gool!! Masalah terselesaikan dan case closed”!
“Pak Tony, itu kayaknya Bapak, tapi koq sekarang yang mboncengin tentara?” Saya terkejut tiba-tiba, Kasem membuyarkan lamunan saya.
Mobil sudah berada disekitar jembatan Slipi. Kemacetan mulai agak berkurang. Dikejauhan tampak seorang laki-laki yang diboncengkan oleh seseorang yang berbaju seragam hijau tentara tapi tak bertopi. Rambut keduanya tampak awut-awutan, berkibaran diterpa angin. 
Saya hafal sekali PSH (Pakaian Sipil Harian, biasa disebut ‘Safari’) yang dikenakan Pak Pardjo. Tapi saya bingung, kenapa sekarang ‘tukang ojek’ nya ganti?
Saya perintahkan Kasem untuk membuntuti sepeda motor butut itu perlahan-lahan dari belakang. Sekedar untuk meyakinkan apakah betul itu Pak Mendagri yang sedang menikmati  “berkelana keliling kota"….naik ojek.
“Kamu salip saja nanti ditempat yang aman, lalu berhenti didepannya” perintah saya lagi.
“Siiiip, Bos” jawab Kasem. Mukanya sudah tidak kusut lagi sekarang.
Sedan Volvo jatah Menteri itu kini berhenti kurang lebih 25 meter didepan sepeda motor yang terus melaju. Saya kira Pak Pardjo juga sudah melihat ketika kita menyalipnya tadi. Saya bergegas turun untuk menyongsong beliau.
Sepeda motor berhenti tepat dibelakang mobil. Pak Pardjo turun dari boncengan.
“Terima kasih ya, sudah diboncengkan, ini untuk beli bensin” kata Pak Pardjo.
“Siap Jenderal, tapi maaf, saya tidak menerima bayaran” kata si tentara dalam sikap sempurna. Tentara berpangkat Pelda (Pembantu Letnan Dua) itu bersikukuh tidak mau dibayar. Sekali ini rupanya uang Pak Pardjo tidak laku.
“Bagaimana Ton, sudah bisa kontak Pak Hari?” tanya Pak Pardjo ketika sudah berada didalam mobil lagi menuju pulang.
“Sampun (sudah) Pak, beliau sekarang sudah menunggu dikediaman” jawab saya.
“Rapatnya sudah diundurkan waktunya?”
“Sudah Pak”
Jam tangan saya menunjukkan pukul 10.35 waktu mobil memasuki halaman rumah dinas Menteri di Widya Chandra..
Pak Hari Sugiman menyambut didepan pintu sambil tertawa-tawa:
Wah Bapak tadi sempat nitih (naik) ojek ya?”
“Iya, saya pikir bisa lebih cepat, ternyata sama saja” jawab Pak Pardjo.
Semua yang mendengar jawaban beliau ikut tertawa. Saya cuma nyengir kuda. Teringat betapa kalut dan paniknya kehilangan ‘momongan’ tadi.
Akhirnya terlaksana juga rapat dengan para tokoh senior PDI yang sedang berseteru itu di hotel bintang lima berlian dikawasan Semanggi.
Saya tidak ikut masuk kedalam, tapi beberapa hari kemudian saya tahu hasilnya.
Drs. Surjadi akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum PDI.
Mendagri Soepardjo Roestam sukses mengurai “benang kusut” Konggres III PDI di Medan yang nyaris mengalami “dead lock” (jalan buntu) dan berpotensi mengganggu stabilitas politik nasional.
Walaupun untuk meraih kesuksesan itu ternyata harus dibayar sangat mahal.



bersambung.....





"TERBANG KEMBALI KE JAKARTA VIA.......SYDNEY!!..."



(dari draft buku: "Catatan seorang mantan Ajudan" oleh mastonie)
Tulisan bersambung (44)

 Melewati 'Sydney Opera House'

      Released  by mastonie, Tuesday, June 29, 2010 at 11.05 pm


 Pulang ke Jakarta lewat.......Sydney!

Bukan Pak Pardjo kalau tidak membuat kejutan.
Setelah rapat perbatasan JBC selesai, Pak Pardjo memanggil staf Protokol dan Konsuler KBRI yang mengurus tiket pesawat Delegasi JBC-RI. Beliau ternyata mau mengubah rute (re-route) pesawat dari rute semula Port Moresby – Manila – Jakarta, menjadi Port Moresby – Sydney – Jakarta, dengan memakai pesawat Qantas.  Dan yang diubah rutenya ternyata hanya tiket Pak Pardjo dan tiket saya! Anggota Delegasi JBC-RI yang lain tetap kembali ke Jakarta melalui rute semula. Mendengar rencana perubahan rute yang diminta Pak Pardjo itu, saya hanya bengong saja. Kali ini tak terduga saya bahkan harus pergi kenegara yang lain lagi: Australia. Visa masuk Australia ternyata sangat mudah didapat dari PNG. Apalagi yang mengurusnya  bagian konsuler KBRI.
Diam-diam saya bersyukur kepada Allah SWT yang berkat perkenan Nya melalui tangan Pak Pardjo, saya bisa pergi keluar negeri untuk yang kedua kali. Bahkan kepergian yang kedua ini langsung masuk ke tiga Negara: Singapura, Papua Nugini dan Australia. Alhamdulillah.
Hari Selasa, 24 September 1985 pagi hari. Waktu pulang ketanah air tibalah sudah. Delegasi JBC-RI harus berpisah di Bandara Jacksons Port Moresby. Anggota Delegasi pulang ke Jakarta dengan rute tetap lewat Singapura,  memakai pesawat SIA. Sedangkan Mendagri selaku Ketua Delegasi  JBC-RI bersama ajudannya pulang ke Jakarta lewat Sydney dengan memakai pesawat Qantas. Saya pikir kalimat ‘dari Port Moresby ke Jakarta LEWAT Sydney’ itu tidak tepat. Karena letak Sydney adalah di Benua Australia yang artinya semakin jauh dari Jakarta. Yang lebih tepat (mungkin) adalah ‘ke Jakarta, tapi MAMPIR dulu di Sydney’. Tapi itulah ‘gaya’ Pak Pardjo.

Boeing 737 Qantas         foto: googleuser
Penerbangan dari Port Moresby ke Sydney ternyata menyusuri pantai Samudra Pasifik di sebelah timur Benua Australia. Pesawat  Boeing 737 Qantas melakukan ‘stop over’ di Brisbane, untuk menurunkan penumpang yang bertujuan pergi kekota ini, sekaligus untuk melakukan refuel. Saya minta ijin turun sebentar dari pesawat untuk melihat-lihat keadaan Bandara Brisbane sambil membeli minuman ringan.
Mendarat di Bandara Internasional ‘Kingsford Smith’ Sydney, Pak Pardjo telah dijemput oleh Konsul Jenderal RI di Sydney beserta stafnya. Pak Konjen mewakili Pak Dubes RI untuk Australia yang berkedudukan di Melbourne, masih sekitar 900 kilometer kearah pantai selatan Australia.
Di Sydney Pak Pardjo menginap di Hotel “Holiday Inn”. Saya tentu saja ikut mendapat kamar standar di hotel yang berbintang 5 itu.

     “Uji nyali” : dilepas di Sydney sendirian.

Hari pertama berada di Sydney, Mendagri juga mengadakan kunjungan resmi ke Kantor Konsulat Jenderal RI di Sydney. Saya baru mengerti kalau staf Konjen ataupun KBRI diluar negeri akan senang sekali jika mendapat kunjungan dari seorang Pejabat Tinggi Negara setingkat Menteri. Para Menteri yang datang biasanya akan diminta untuk   memberikan pengarahan tentang situasi terakhir di Indonesia. Demikian pula dengan Pak Pardjo, apalagi beliau adalah Mendagri, pejabat paling bertanggung jawab soal-soal dalam negeri. Oleh karena itu malam harinya Pak Pardjo mendapatkan undangan untuk berceramah sekaligus jamuan makan malam di Kantor Konjen RI.
Hari kedua Pak Pardjo minta bantuan Konjen untuk meminjam mobil sekaligus pengemudi dan staf Konjen yang faham seluk beluk Australia. Rupanya beliau ingin pergi menemui salah seorang keponakannya. Di kota Sydney ini ada seorang putri dari Pak Sungkono (kakak sulung Ibu Soepardjo) yang sudah beberapa tahun kuliah di Australia.
Sepulang dari kunjungan itu,  tiba-tiba Pak Pardjo bertanya:
“Ton, kalau jij saya tinggal sendiri di Sydney berani nggak?”
Karena mengira beliau sedang menguji ‘nyali’ saya, langsung saja saya menjawab:
Wantun (berani) Pak, lajeng bapak badhe tindak pundi malih  (lalu bapak mau pergi kemana lagi)?”
“Besok saya mau ke Tokyo. Ada perlu. Kita check out dari hotel ini pagi-pagi. Setelah itu terserah jij mau cari penginapan dimana. Zak geld (Bld: uang saku) mu masih cukup kan? Tonny saya beri ijin beberapa hari tinggal di Sydney. Tapi jangan lupa konfirmasi tiket pulangmu. Minta bantuan ke Konjen saja”
“Inggih pak matur sembah nuwun (Ya pak, terima kasih)” jawab saya tak terlalu semangat. Ini benar-benar “uji nyali” gaya Pak Pardjo.
Bayangkan. Saya baru kedua kali ini pergi keluar negeri. Dan Pak Pardjo dengan santai saja melepas saya ‘menggelandang’ sendirian di kota Sydney. Mengapa tidak beliau biarkan saja saya pulang bersama anggota Delegasi JBC di Port Moresby? Saya pasrah sekaligus berusaha menguatkan hati. Pak Pardjo memang terkadang ‘unpredictable’. Lalu keluar arogansi (atau barangkali kenekatan) saya: Ah masa, Ajudan Mendagri tidak berani pergi keluar negeri sendiri. Malu-maluin dong!
Que sera sera, what ever will be will be……apapun yang akan terjadi, terjadilah. Gusti Allah ora sare (Allah tidak tidur). Semua ini pasti adalah kehendak Nya.
Keesokan harinya saya ikut mengantar Pak Pardjo ke Bandara Kingsford Smith. Pulang dari Bandara ada rasa seperti orang yang ‘terbuang’. Staf bagian konsuler yang ditugaskan oleh Sekretaris Konjen bertanya kepada saya, dimana saya mau menginap malam ini. Astagfirullah, saya baru sadar bahwa saya harus mencari hotel. Tapi pasti bukan di “Holiday Inn”, mana kuat saya membayarnya. Dalam hati saya menghitung-hitung lagi sisa uang saku yang masih ada. Waktu itu saya belum mengenal uang plastik alias kartu kredit. Untung (untung lagi) Pak Pardjo biasa memberikan uang representasi beliau sebanyak beberapa ratus dolar untuk saya simpan guna membayar hal-hal sepele atau tak terduga. Jadi saya agak besar hati juga. Akhirnya saya dicarikan penginapan setaraf dengan losmen kelas melati (kalau di Indonesia). Ya, bagaikan bumi dengan langit perbedaannya dibandingkan Holiday Inn. Tapi yang penting saya bisa sekedar istirahat.
Saya rasa satu hal yang membuat saya berani ‘berkelana’ sendirian dinegeri orang. Karena saya adalah seorang kapiten, eh, maksud saya seorang Pramuka. Pramuka memberikan dasar-dasar kehidupan yang bersifat ‘long life education’.
Di arena kepramukaan saya biasa berkemah dimana saja. Ditempat yang kata orang ‘wingit’ dan angker sekalipun. Seorang Pramuka juga diajari ilmu survival, bagaimana bertahan hidup dengan bekal seadanya.
Dan kota Sydney jelas jauh lebih menyenangkan dibanding dengan “camping ground” (bumi perkemahan) dimanapun didunia

     Tower of Sydney,  Sydney Harbour Bridge, dan Opera House …

Dengan didampingi seorang home staff  yang khusus diperintah oleh Sekretaris Konjen RI,  sayapun menjelajahi kota Sydney, yang merupakan ibukota dari Negara bagian New South Wales.
Meskipun benua Australia sudah ditemukan oleh James Cook sekitar tahun 1770, akan tetapi kota Sydney sendiri konon baru ‘ditemukan’ pada tanggal 28 Januari 1788 oleh kapten Arthur Phillip, pelaut Inggris yang mendarat disebuah teluk dipantai Samudra Pasifik yang kemudian dijadikannya sebagai kota dengan nama “Sydney”, diambil dari nama salah seorang Pejabat Tinggi Kerajaan Inggris, Viscount Sydney.  Itu sebabnya sebagian besar penduduk Sydney adalah keturunan orang Inggris. Orang Aborigin (pribumi Australia) sendiri malah merupakan penduduk minoritas saja.
Sebagai negara persemakmuran Inggris, Australia menganut sistem lalu lintas  “right hand drive”, (setir kanan) sama dengan yang berlaku di Inggris dan (anehnya) juga Indonesia. Oleh karena itu saya pasti juga tidak akan ‘kagok’ seandainya harus menyopir sendiri di Sydney. 


Di Loby KJRI Sydney        foto: dokpribadi
Mengendarai mobil Mercedes station wagon milik pribadi, Pak Pratomo yang merupakan salah seorang home staff di KJRI Sydney, adalah seorang lelaki penyabar yang dengan tekun menjadi special tour leader saya. Semua point of interests (daerah tujuan wisata) di Sydney ditunjukkannya kepada saya yang kali ini betul-betul seperti “si Kabayan saba kota”!
Berawal dari ‘China town’  yang suasananya persis seperti daerah pecinan di Glodok. Di Sydney banyak sekali imigran Cina, yang merantau (tentu saja) lengkap dengan membawa kebudayaan dan kulinernya. Selain berbahasa Mandarin (kalau berbicara sesama mereka), orang-orang Cina juga banyak yang fasih bicara dengan bahasa Inggris beraksen Australia. Segala macam ‘chinese food’ dijual disini. Yang mengherankan ada juga restoran yang menjual ‘gado-gado’! Konon bumbu dapur a la Indonesia juga bisa dengan mudah dibeli disini.
Kata orang, belum ke Sydney kalau tidak pergi ke Harbour Bridge, Opera House dan Sydney Tower. Oleh sebab itu saya juga minta diantar ke tiga tempat terkenal itu. Sebelum menuju Sydney Tower, Pak Pratomo mengajak saya ke “Kings Cross”, daerah hiburan malam dan perjudian yang sangat terkenal di Sydney.  Beruntung saya diajak datang pada siang hari. Jadi ‘gegap gempita’ nya belum mulai. Kings Cross menawarkan segala macam ‘kesenangan duniawi’. Selain tempat perjudian, disini banyak kios menjual benda pornografi dan tempat hiburan yang menawarkan pertunjukan ‘strip tease’ (tarian telanjang), sampai dengan prostitusi terselubung maupun terang-terangan.
Di Kings Cross inilah saya diajak kesebuah ‘kios’ kecil yang terletak didepan sebuah Bank. Pak Pratomo memasukkan semacam KTP ke lubang yang ada disebuah kotak segi empat dilengkapi layar monitor dan panel yang ada tombol angkanya. Kemudian mulailah ia menekan beberapa tombol dan …….….. Bim salabim!! Tiba-tiba kotak itu mengeluarkan beberapa lembar uang dolar Australia! Melihat saya bengong, Pak Pratomo menjelaskan:
“Pak Tony, ini alat yang disebut ATM (Automated Teller Machine). Sebuah alat yang bisa mengeluarkan sejumlah uang sesuai permintaan kita. Tapi syaratnya kita harus punya tabungan atau rekening dengan jumlah saldo yang cukup di Bank yang punya mesin ini”.
Jadi begitu rupanya, saya manggut-manggut berlagak faham. (Harap maklum pada tahun 1985-an,  belum ada ATM di Jakarta). Jadi harap maklum juga kalau saya terheran-heran pada “kotak ajaib penghasil duit” itu. 

Tower of Sydney          foto: googleusitinfo
Siang itu sampailah saya ke “Tower of  Sydney”. Menara kebanggaan kota Sydney yang konon menjulang setinggi 305 meter dari permukaan tanah itu berdiri dengan gagah. Tidak banyak antrian orang membeli tiket masuk. Jadi sebentar saja saya dan Pak Pratomo sudah berada dalam lift menuju ke bagian atas menara dimana ada ruangan untuk melihat pemandangan kota Sydney. Disitu ada sebuah ruangan yang sekeliling dindingnya terbuat dari kaca lebar. Terlihat ada beberapa teleskop yang harus diisi koin 25 sen dolar Australia untuk mengaktifkannya. Dengan teleskop itu seantero kota Sydney bisa kita lihat dengan jelas. Saya sebetulnya bukan penderita fobia ketinggian. Akan tetapi melihat kota Sydney dari ketinggian lebih dari 300 meter dalam sebuah ruangan tertutup, sekonyong-konyong timbul kegamangan. Apalagi saya seperti merasakan menara itu seolah bergoyang kekiri dan kekanan! Ternyata perasaan saya benar adanya. Menara Sydney itu dirancang tahan terhadap terpaan angin (bahkan angin topan sekalipun!). Untuk itulah dia didisain mempunyai kelenturan sampai hampir 30 sentimeter kesegala arah, tergantung arah tiupan angin. Pantas saja saya merasa bergoyang-goyang. Dipuncak Menara Sydney ini juga terdapat sebuah “revolving restaurant” (restoran berputar) dimana pengunjung bisa menikmati makanan sambil melihat pemandangan kota Sydney.

 Sydney Harbour Bridge and Opera House by night, foto: useitinfo

Dari menara Sydney perjalanan diteruskan ke tepi pantai (Sydney memiliki lebih dari 30 pantai tujuan wisata yang membentang sepanjang 32 kilometer). Salah satu pantainya yang paling masyhur adalah yang mempunyai ‘menu wajib’ dikunjungi: Sydney Harbour Bridge dan Opera House. Dua buah bangunan yang terkenal diseantero dunia ini sudah merupakan ‘landmark’ kota Sydney.

Diatas kapal melewati 'Sydney Harbour Bridge'
Jembatan di pelabuhan Sydney letaknya berdekatan dengan Opera House (Gedung Teater Opera), sehingga dengan naik ferry yang sebagian besar tempat duduknya berada digeladak terbuka, kita bisa menyaksikan keduanya dalam jarak yang relatif dekat, sambil menikmati makanan yang bisa kita beli direstoran yang ada didalam ferry. Angin laut berhembus cukup kencang, suhu udara terasa sangat sejuk. Tapi saya masih bisa bertahan hanya dengan mengenakan sweater diluar pakaian yang saya kenakan. Saya menganggap Jembatan Pelabuhan Sydney tidak terlalu istimewa. Jembatan berwarna abu-abu keperakan itu malah mengingatkan saya pada salah satu jembatan buatan kolonial Belanda yang dibangun diatas kali Serayu didaerah Banyumas. Tapi jembatan Sydney berukuran lebih besar. 

foto2: dok.pribadi

Gedung Opera jauh lebih menarik. Pusat kesenian dan pentas teater ini mempunyai arsitektur yang menarik dan sangat ‘eye catching’ (menyolok). Bangunan yang terdiri dari beberapa gedung itu dirancang oleh arsitek Joern Utzon dari Denmark. Atapnya berbentuk kerucut segitiga saling bertumpuk dan berlapis tiga. Sangat khas dan unik. Apalagi gedung itu dibangun ditepi pantai dan agak menjorok ketengah laut.
Banyak sekali pengalaman yang saya dapat di Sydney, yang kelak kemudian hari baru terdapat di Indonesia. Selain ATM tadi, saya juga baru melihat bahwa pompa bensin (BBM, bahan bakar minyak) di Sydney dimiliki oleh bermacam perusahaan minyak Mereka saling bersaing dengan memasang harga BBM yang setiap hari bisa berubah. Disetiap pompa bensin akan dipasang harga BBM hari itu dengan tulisan yang dibuat mudah terlihat dari jauh. Dengan demikian para pembeli bisa memilih harga BBM termurah. Disini pula saya pertama kali melihat orang yang membeli bensin secara swalayan. (Pada waktu itu -tahun 85an- di Indonesia hanya ada pompa bensin yang dimiliki atau dikelola oleh satu perusahan milik pemerintah saja: Pertamina). Saya iseng membayangkan, kalau di Indonesia ada orang membeli bensin dengan cara swalayan begini, bisa-bisa sesudah mengisi, alih-alih membayar, dia langsung…..kabuurrr….
Selama dua hari dua malam ‘keluyuran’ di Sydney, saya merasa bahwa saya telah berhasil menempuh “uji nyali” yang diberikan oleh Pak Pardjo. Bahkan saya banyak sekali mendapatkan pengalaman baru yang sangat berharga. Saya sungguh banyak berhutang budi kepada Pak Pratomo dan Sekretaris Konjen RI di Sydney, yang telah banyak membantu ‘petualangan’ saya di kota Sydney.
Saya tidak pernah tahu berapa nilai yang saya dapat dalam “uji nyali”  itu. Saya kira hanya Pak Pardjo sendiri yang tahu. Sayangnya beliau tidak pernah bertanya dan berkomentar masalah itu.

      Kembali ke Jakarta ‘melabrak’ Pramugari.

Hari Sabtu, 28 September 1985, saya kembali ke Jakarta dengan pesawat 747-200 milik Garuda Indonesia, yang ternyata penuh dengan penumpang wisatawan ‘bule’ Australia yang akan pesiar ke Denpasar Bali. Rute Sydney – Denpasar – Jakarta PP waktu itu termasuk rute ‘gemuk’ yang menguntungkan Garuda.
foto: Rob Finlayson/GarudaIndonesia

Inilah saatnya saya mewujudkan impian naik pesawat “Jumbo Jet “. Disebut sebagai ‘Jumbo’ (gajah) karena ukuran pesawat buatan Boeing ini memang serba besar. Ketika pertama kali diperkenalkan kepada publik, pesawat yang sejak semula dirancang untuk bisa mengangkut 550 penumpang,  mempunyai rentang sayap sepanjang 200 kaki dengan panjang badan hampir 230 kaki dan mempunyai berat total saat ‘take off’  300 ton! Pesawat berbadan lebar (wide body) ini dilengkapi dengan 4 buah mesin turbofan buatan Pratt & Whitney JT9D-7A. Terbang perdana secara komersial oleh Pan Am pada 22 Januari 1979.

Nampang sebelum boarding di B-747 Garuda
foto: dok pribadi

Rasa kagum dan kebanggaan saya ketika pertama kali memasuki kabin pesawat terbesar yang pernah saya naiki ini kemudian seakan pupus dalam sekejap mata.
Walaupun Garuda adalah Maskapai Penerbangan milik pemerintah Indonesia, tetapi saya mendapat pengalaman yang cukup tidak menyenangkan ketika berada didalam pesawat Jumbo 747 Garuda ini. Sewaktu Pramugari menyajikan hidangan kepada penumpang, saya mendapat perlakuan sangat diskriminatif. Saya duduk bersebelahan dengan seorang ‘bule’ Australia. Si  Pramugari dengan ramah tamah  memberikan sekaleng minuman ringan kepadanya dengan penuh senyum. Ketika tiba giliran memberikan minum kepada saya, yang diberikannya adalah minuman ringan yang sama tapi dalam gelas plastik kecil saja.  Tentu saja saya protes keras. Saya duduk bersebelahan dengan ‘bule’ itu dalam satu kelas di pesawat, jadi tentu saya membayar tiket dengan harga yang sama dengan si ‘bule’ itu. Saya minta jatah yang sama, satu kaleng. Tapi apa jawaban yang diberikan Pramugari itu?
“Maaf pak, penumpang lain masih banyak”!
Tentu saja saya naik pitam. Saya hardik dia. Tidak pantas dia sebagai sesama orang Indonesia memperlakukan penumpang bangsanya sendiri dengan perlakuan seperti itu. Saya datangi “Purser” yang memimpin ‘Cabin Crew’ diatas pesawat.  Saya laporkan perlakuan tidak senonoh itu kepadanya. Rupanya dia agak kaget juga mendapatkan protes dari penumpang yang notabene adalah bangsanya sendiri. Dia minta maaf dan berjanji akan memberitahu dan menegur Pramugari yang telah berlaku tidak pantas itu. Sejak saat itu saya dilayani Pramugari (lain) dengan lebih baik. Hal seperti itu kelihatannya sepele. Tapi perlakuan diskriminatif kepada penumpang (siapapun saja) sangat tidak pantas dilakukan. Apalagi dilakukan oleh seorang Pramugari dari Maskapai Penerbangan yang merupakan “Flag Carrier” Negara Republik Indonesia.
Saya tiba kembali di Jakarta dengan selamat dan perasaan lega. Saya telah menjalani sebuah ‘ujian’ yang berhasil saya lalui dengan ‘baik-baik’ saja. Dan itu adalah pengalaman yang sangat berharga dalam sejarah perjalanan hidup saya.
Tiga Negara (Singapura, Papua Nugini dan Australia) inilah yang menjadi kisah pembuka ‘petualangan’ saya (nantinya) ke berbagai Negara diberbagai benua dibelahan dunia.
Alhamdulillah.



bersambung.....


Jumat, 01 April 2011

"TERBANG KE PNG (LAGI)....VIA SINGAPURA"



(dari draft buku: "Catatan seorang mantan Ajudan" oleh mastonie)
Tulisan bersambung (43)


      Bandara Changi yang ‘ruaaar biasaaa’…
  
Foto Interior Bandara Changi, Singapura     
















                               foto : airliners.net


                                              
Setahun kemudian disekitar bulan September tahun 1985, ada pertemuan JBC lagi di Port Moresby. Dan Mendagri sebagai ketua JBC harus hadir disana. Kali ini Pak Pardjo membawa Delegasi cukup banyak, sehingga memutuskan untuk terbang nmemakai pesawat komersial biasa. Meski hubungan diplomatik RI dengan PNG telah berjalan cukup lama, tapi belum ada satupun rute penerbangan pesawat yang langsung (direct flight) dari Jakarta ke Port Moresby PP. Jadi harus melalui Singapura atau Manila.
Saya kurang tahu persis alasannya, waktu itu Pak Pardjo memilih rute terbang ke PNG (sendirian) melalui Manila. Sedangkan rombongan kecil Pejabat JBC Indonesia (termasuk saya) diminta terbang ke PNG lewat Singapura.
Hari Minggu pagi tanggal 22 September 1985 saya menuju Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Bandara Internasional yang terletak sekitar 20 kilometer diluar kota Jakarta (masuk wilayah Tangerang), ini baru saja  diresmikan pemakaiannya tanggal 13 Agustus 1985 oleh Presiden RI Soeharto. Meskipun baru satu gedung terminal yang sudah jadi yaitu Terminal I, yang dibagi menjadi tiga bagian A, B dan C, namun secara keseluruhan bangunan Terminal Bandara Internasional ini sudah cukup mengagumkan dan membuat bangga Bangsa Indonesia. Bagaimanapun Bandara Cengkareng adalah pintu gerbang masuk dan keluarnya orang dari dan ke Indonesia. 
Yang akan saya naiki pagi hari ini adalah pesawat DC-10 Garuda Indonesia. (Sekedar untuk diketahui, semua pemegang Paspor Dinas RI pada waktu itu apabila pergi keluar negeri diharuskan oleh Sekretariat Negara untuk  terbang dengan pesawat Garuda, kecuali untuk rute yang tidak diterbangi oleh Garuda).
 

foto: airliners.net
       
DC-10 adalah pesawat buatan     Mc’Donnell Douglas (Amerika Serikat) yang terbang perdana pada tahun 1972.  Pesawat terbang jenis ‘wide body’  (berbadan lebar) ini mempunyai 3 buah mesin, dua disayap dan satu di ekor pesawat.  Pada tahun 1980-an, DC-10 termasuk pesawat laris yang terkenal aman dan banyak dipakai oleh Maskapai Penerbangan diseluruh dunia.

Dengan beberapa staf JBC dari Ditjen PUOD Depdagri (kini Ditjen Otda) dan dari Direktorat Asia Pasifik Deplu, akhirnya tibalah kita di Bandara Changi Singapura. Dengan demikian Singapura adalah Negara tetangga kedua yang saya kunjungi. Bandara Cengkareng (yang menurut saya sudah hebat itu) ternyata bukan tandingannya. Fasilitas Bandara Changi yang diresmikan penggunaannya pada tanggal 1 Juli 1981 sungguh luar biasa modern. Dibangun dengan mereklamasi pantai didekat lokasi bekas lapangan udara militer Changi, Bandara baru ini menggantikan Bandara Paya Lebar yang sudah beroperasi sejak tahun 1955. Paya Lebar selanjutnya dipakai sebagai lapangan AU Singapura.  Sebagai Bandara Internasional, Changi dibangun dengan sarana dan prasarana yang sangat modern, terutama kemudahan yang bisa didapat oleh para penumpang pesawat yang tiba maupun yang hanya sekedar transit untuk berpindah pesawat menuju Negara lain. Disepanjang jalur kedatangan tampak ‘Shopping Area’ yang berisi ratusan toko ‘duty free’ dan barang-barang elektronik serta souvenir yang sangat mencolok mata. Betul-betul menggoda iman. Kalau tak ingat masih harus pergi ke PNG cukup lama, mungkin sudah habis uang saku buat beli oleh-oleh di Bandara Changi.

      Dijamu makan di Port Moresby dengan lauk…..kepala babi!

Setelah menunggu beberapa jam di Bandara Internasional Changi Singapore, malam harinya delegasi JBC-RI terbang dengan pesawat SIA (Singapore Airlines) menuju Port Moresby, ibukota Papua Nugini (PNG). Jarak Singapore – Port Moresby ditempuh dengan pesawat selama kurang lebih 7 jam non stop. Ditambah dengan perbedaan waktu sekitar 3 jam, maka pesawat diperkirakan mendarat pada sekitar pukul 8 pagi waktu setempat.
Ini untuk kesekian kalinya saya naik pesawat terbang yang memakan waktu begitu lama. Termasuk dengan pesawat G-III carteran  yang juga terbang ke Port Moresby. Sewaktu ikut Latgab ABRI tahun 1981 dulu, saya pernah naik Hercules VVIP AURI dari Biak ke Jakarta, tapi pakai mampir ‘stop over’ di Ambon dan Makasar. Beruntung penerbangan menuju Port Moresby dilakukan pada malam hari, jadi sepanjang perjalanan saya pergunakan waktu untuk tidur. Daripada bosan melihat pemandangan diluar pesawat lewat jendela. Yang terlihat hanya kegelapan malam dan kelap kelipnya lampu diujung sayap pesawat.
Hari Senin tanggal 23 September 1985 sekitar pukul 8 pagi, pesawat SIA mendarat di Bandara Jacksons Port Moresby.
Delegasi JBC-RI langsung menuju tempat menginap di hotel Hilton Port Moresby, yang terletak diantara perbukitan.  Kondisi hotelnya lumayan bagus. Termasuk pelayanannya. Pada siang hari itu juga diadakan rapat JBC di kantor PM PNG yang berlangsung sampai menjelang senja. Lalu pada malam harinya diselenggarakan jamuan santap malam disebuah rumah makan yang tidak jelas namanya. Semua Pejabat JBC dari kantor PM PNG hadir. Termasuk beberapa menterinya. Yang mengherankan adalah busana yang mereka pakai. Kebanyakan pria memakai semacam sarung yang dipakai agak pendek dibawah lutut. Dikombinasi bagian atasnya dengan pakaian semacam PSH (jas lengan pendek). Saya kurang jelas, apakah yang mereka kenakan itu memang  pakaian nasional mereka. Sedangkan rombongan Delegasi JBC Indonesia memakai kemeja batik lengan panjang. Ini adalah jamuan santap malam sekaligus penutupan rapat JBC.
Saya duduk satu meja dengan Pak Malikus Suamin, Pejabat JBC dari Deplu. Disebelah saya duduk Menteri Pendidikan PNG, seorang pria muda pribumi berkulit gelap dan berambut keriting. Didepan saya duduk seorang wanita muda (pribumi juga) yang berpakaian cukup modis, berpotongan bahu terbuka. Dia adalah petugas LO yang ditugaskan mendampingi Delegasi RI. Wajahnya lumayan manis, kalau dibanding dengan para pelayan restoran yang berbusana ala kadarnya. Dimeja makan disediakan gelas kosong dengan beberapa botol air mineral, tapi lebih banyak lagi botol….Bir! Orang PNG ternyata gemar sekali minum bir. Kalau perlu sampai mabuk. Tak kapanpun, tak dimanapun. Tak peduli di jamuan santap malam resmi sekalipun mereka dengan santainya minum bir dan….mabuk!
Setelah acara sambutan resmi dari kedua belah pihak, tibalah saatnya jamuan makan malam dimulai.   
Disinilah mulai “drama” satu babak. Judulnya: “The drunken Minister”. Seorang pejabat tinggi PNG yang sejak awal saya perhatikan sibuk minum bir, tampak berdiri. Lalu dia mulai “berpidato”. Padahal acara sambutan dari kedua fihak sudah berakhir. Tanpa rasa bersalah sedikitpun, dia terus berorasi dengan suara keras. Entah berbicara mengenai topik apa. Suasana agak sedikit tegang. Beberapa Menteri PNG saya lihat saling pandang. Saya merasa ada sesuatu yang aneh. Kalau melihat tingkah lakunya, bisa dipastikan dia sedang mabuk. Hampir semua anggota Delegasi JBC-RI terlihat terheran-heran. Termasuk Mendagri.
Tapi berhubung status kita adalah tamu, maka jelas tidak berwenang menangani kasus “drama mendadak” itu. PM PNG yang merah padam mukanya saya lihat menggamit salah seorang stafnya,  terlihat dia membisikkan sesuatu. Beberapa petugas sekuriti kulit putih tampak bergerak masuk restoran. Dengan sedikit acara ‘tarik menarik” keributan kecil itu berakhir. Drama satu babak itu ditutup dengan teriakan-teriakan pejabat mabuk yang sedang diseret keluar ruangan. Suasana tegang mulai mencair.
Maka keluarlah hidangan utama pada malam itu.  Beberapa ‘tampah’ (nyiru) dibawa oleh para pelayan restoran dan diletakkan dimeja para tamu. Saya dan pak Malikus bertatapan. Di PNG ternyata ada tampah juga! Menteri Pendidikan PNG mencoba menjelaskan hidangan utama yang disuguhkan pada malam hari itu. Menurut Pak Menteri, inilah menu paling spesial yang selalu disajikan dalam acara-acara penting. Terdiri dari beberapa macam ubi yang dibakar, dihidangkan dengan aneka sayuran yang direbus dengan bumbu khusus.  Dan yang paling spesial dan spektakuler adalah makanan yang disajikan ditengah-tengah tampah itu. Sebuah kepala….Babi! ‘Full’ utuh! Saya terperangah. Pak Malikus yang seorang diplomat, juga tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Saya langsung teringat cerita Pak Gatot, staf Protokol Depdagri yang pernah bertugas lama di Irian Barat (sekarang Papua). Masyarakat Irian konon juga selalu menghidangkan kepala babi pada jamuan makan untuk menghormati para tamunya. Semakin terhormat tamunya, makin banyak babi yang dipotong. Itulah adat mereka. Saya bergidik melihat ‘kepala B2’ yang matanya setengah terpejam menatap kepada saya. Saya tahu persis, ini makanan yang jelas diharamkan dalam agama saya, Islam. Lalu bagaimana dengan makanan (ubi dan sayur) yang disajikan disekitarnya? Sebuah dilemma. Antara menghormati adat tuan rumah dan menaati ajaran agama. Beruntung (orang Jawa memang selalu untung), ternyata masih ada hidangan lain yang disajikan. Saya kira mereka pasti tahu, mayoritas orang Indonesia beragama Islam dan pasti pantang makan babi. Dan mereka mengambil jalan aman dengan tetap memelihara adat sekaligus tetap memberikan pilihan kepada tamunya. Tapi nafsu makan saya terus terang saja sudah merosot ketitik paling rendah. Saya mendadak kenyang “sak nalika” (seketika). Saya lirik ke meja makan Pak Pardjo. Beliau tampak bercakap asyik dengan PM PNG, sambil makan sesuatu. Entah apa. Tapi saya pastikan beliau juga tak akan menyentuh hidangan spesial itu.
Dalam perjalanan kembali ke hotel Pak Pardjo bertanya:
“Ton, jij tadi dapat jatah kepala “B”…juga?”
“Inggih , pak” jawab saya pendek.
“Tony ikut makan juga?”
“Wah…inggih temtu kemawon….mboten (wah, tentu saja…… tidak) Pak” jawab saya setengah bercanda.
Didalam kamar hotel Pak Malikus tertawa terbahak-bahak mendengar cerita tentang percakapan saya didalam mobil dengan Pak Pardjo.
Pak Malikus Suamin adalah pejabat Deplu di Direktorat Asia Pasifik (Aspas) yang memulai karirnya dari ‘Sandiman’ (petugas Sandi).  Selama ini bila ada rapat JBC, Pak Malikus bertindak sebagai Sekretaris JBC Indonesia. Di tahun 1985-an belum ada komputer, apalagi laptop. Jadi kemana-mana Pak Malikus selalu menjinjing mesin tulis portable. Pria periang dan pintar main gitar ini  setiap ada acara JBC di PNG selalu bekerja dalam satu tim bersama saya. Bahkan selalu tidur dalam satu kamar, yang lalu kita jadikan semacam ‘Sekretariat Darurat’ JBC Indonesia. 



bersambung.....